66
Paham ini membahas bentuk negara atas golongan demokrasi dan diktaktor.
Paham ini juga memperjelas bahwa demokrasi dibagi dalam demokrasi Konstitusional (liberal) dan demokrasi rakyat.
Dari teori-teori tersebut kemudian berkembang di zaman modern ini, yaitu bentuk Negara Kesatuan (unitarisme) dan Negara Serikat (Federalisme) yang dapat berbentuk sistem sentralisasi atau sistem desentralisasi. Negara kesatuan adalah negara yang tidak tersusun dari beberapa negara, melainkan hanya terdiri atas satu negara, sehingga tidak ada negara didalam negara. Dengan demikian dalam Negara Kesatuan hanya ada satu pemerintahan pusat yang mempunyai kekuasaan serta wewenang tertinggi dalam bidang pemerintahan negara, menetapkan kebijakan pemerintahan dan melaksanakan pemerintahan negara baik dipusat maupun di daerah-daerah.
Bentuk negara sesungguhnya berkaitan dengan kekuasaan tertinggi pada suatu negara yaitu kedaulatan. Dalam negara, kedaulatan merupakan esensi terpenting dalam menjalankan negara dan pemerintahan. Teori kedaulatan yang terkenal sampai sekarang, antara lain teori kedaulatan Tuhan (dikembangkan oleh Agustinus dan Thomas Aquinas), teori kedaulatan rakyat yaitu kekuasaan berasal dari rakyat (dikembankan oleh Johannes Althusius. Montesque, dan Jhon Locke), teori kedaulatan negara yaituteori kedaulatan tertinggi ada pada pemimpin negara yang melekat sejak negara itu ada (dikembangkan oleh Paul Laband dan George Jelinek), dan teori kedaulatan hukum yaitu teori kedaulatan dimana kekuasaan dijalankan oleh pimpinan negara berdasarkan asas hukum dan yang berdaulat adalah hukum (dikembangkan oleh Hugo De Groot, Krabbe, dan Immanuel Kant).3
Negara Indonesia adalah salah satu negara yang merupakan Negara Kesatuan seperti yang tertera didalam Undang-Undang Dasar Negara
3 Soehino, Ilmu Negara, (Yogyakarta: Liberty, 2000), h .224
Republik Indonesia tahun 1945, terdapat didalam Pasal 1 Ayat (1) ”Negara Indonesia adalah Negara Kesatuan yang berbentuk Republik” seperti yang kita ketahui didalam negara kesatuan hanya ada satu pemerintahan pusat yang mempunyai wewenang yang tertinggi dalam mengatur kebijakan negara serta melaksanakan pemerintahan negara baik di pusat maupun didaerah
Pemerintahan pusat mengatur semua kebijakan yang terdapat di pusat maupun yang dilimpahkan kepada daerah, pemerintah pusat mempunyai kedudukan dan wewenag yang tertinggi dalam membuat kebijakan serta untuk mengatur jalannya pemerintahan agar dapat terlaksana dengan baik. Dalam pemerintahan pusat yang berwenang dalam menjalankan kebijakan ialah Presiden. Indonesia adalah negara kesatuan yang berbentuk Republik maka sebutan untuk kepala negaranya adalah Presiden Republik Indonesia. Presiden Indonesia adalah kepala negara yang merangkap menjadi kepala pemerintahan.
Menurut Jimmliy Assidiqie, Presiden adalah organ lapis pertama atau dapat disebut sebagai lembaga tinggi negara, Bagir Manan mengategorikan 3 (tiga) jenis lembaga negara yang dilihat berdasarkan fungsinya, yakni:4
a. Lembaga Negara yang menjalankan fungsi negara secara langsung atau bertindak untuk dan atas nama negara, seperti Lembaga Kepresidenan, DPR, Lembaga Kekuasaan Kehakiman. Lembaga-lembaga yang menjalankan fungsi ini disebut alat kelengkapan negara.
b. Lembaga Negara yang menjalankan fungsi administrasi negara dan tidak bertindak untuk dan atas nama negara. Artinya, lembaga ini hanya
4 http://www.hukumonline.com/klinik/detail/lt55f97e4ed1e36/perbedaan-lembaga-negara- dan- alat-negara, diakses tanggal 28 Agustus 2019, Pukul 21.00 WIB
menjalankan tugas administrative yang tidak bersifat ketatanegaraan.
Lembaga yang menjalankan fungsi ini disebut sebagai lembaga administrative.
c. Lembaga Negara penunjang atau badan penunjang yang berfungsi untuk menunjang fungsi alat kelengkapan negara. Lembaga ini disebut auxiliary organ/agency.
Berdasarkan kategori tersebut, dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud pejabat negara adalah pejabat yang lingkungan kerjanya berada pada lembaga yang merupakan alat kelengkapan negara beserta derivatifnya berupa lembaga negara pendukung. Sebagai contoh pejabat negara adalah anggota DPR, Presiden, dan Hakim. Pejabat-pejabat tersebut menjalankan fungsinya untuk dan atas nama negara.
Menurut Jimly, hierarki antar lembaga negara penting untuk ditentukan, karena harus ada pengaturan mengenai perlakuan terhadap orang yang menduduki jabatan dalam lembaga negara. Untuk itu, ada dua kriteria yang dapat dipakai, yaitu kriteria hirarki bentuk sumber normative yang menentukan kewenanngannya, dan kualitas fungsinya yang bersifat utama atau penunjang dalam sistem kekuasaan negara. Sehubungan dengan itu, maka dari segi fungsinya, ada yang bersifat utama atau primer, dan ada pula yang bersifat sekunder atau penunjang (auxiliary).5 Sedangkan dari segi hirarkinya, dapat dibedakan kedalam tiga lapis. Organ lapis pertama dapat disebut sebagai lembaga tinggi negara. Organ lapis kedua disebut sebagai lembaga negara, sedangkan lapis ketiga merupakan lembaga daerah. Organ lapis pertama atau lembaga tinggi negara, yaitu:
5 Jimly Asshiddiqie, Menuju Negara Hukum yang Demokratis, (Jakarta: Bhuana Ilmu Populer, 2009). h.467
1. Presiden dan Wakil Presiden;
2. Dewan Perwakilan Rakyat;
3. Dewan Perwakilan Daerah;
4. Majelis Permusyawaratan Rakyat;
5. Mahkamah Konstitusi;
6. Mahkamah Agung;
7. Badan Pemeriksa Keuangan.
Organ lapis kedua atau lembaga negara, ada yang mendapatkan kewenangannya dari Undang-Undang Dasar, adapula yang mendapatkan kewenanagannya dari undang-undang. Walaupun kewenangannya diberikan oleh Undang-Undang Dasar (memiliki constitutional importance) tapi belum tentu merupakan lembaga negara utama, karena:6
1. Fungsinya hanya bersifat supporting atau auxiliary terhadap fungsi utama;
2. Pemberian kewenangan konstitusional yang eksplisit hanya dimaksudkan untuk menegaskan kedudukan konstitusionalnya yang independen;
3. Penentuan kewenangan pokoknya dalam UUD 1945 hanya bersifat by implication, bukan dirumuskan secara tegas. Lembaga-lembaga negara sebagai organ konstitusi lapis kedua itu adalah:
1. Menteri Negara;
2. Tentara Nasional Indonesia;
3. Kepolisian Negara;
4. Komisi Yudisial;
5. Komisi Pemilihan Umum;
6. Bank Sentral.
Lembaga-lembaga daerah adalah:
1. Pemerintahan Daerah Provinsi;
6 Jimly Asshiddiqie, “Lembaga Negara” dalam http://www.jimly.com/pemikiran/view/13 diakses tanggal 28 Agustus 2019, Pukul 21.00 WIB
2. Gubernur;
3. DPRD Provinsi;
4. Pemerintah Daerah Kabupaten;
5. Bupati;
6. DPRD Kabupaten;
7. Pemerintah Daerah Kota;
8. Walikota;
9. DPRD Kota.
Presiden sebagai lembaga tertinggi negara didalam suatu negara kesatuan mempunyai wewenang yang begitu luas, kewenangan itu semua diatur dalam suatu peraturan-peraturan nya tersendiri, contohnya dalah hal pengangkatan Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri), Presiden mempunyai hak untuk memilih siapa anngota polisi yang sudah memenuhi berbagai macam persyartaan menduduki posisi tersebut, hal ini sesuai dengan Pasal 11 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia berbunyi: “Kapolri diangkat dan diberhentikan oleh Presiden dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat”. Dalam hal pengangkatan Presiden mempunyai kewenangan untuk mengangkat Kapolri setelah mendapat pertsetujuan oleh DPR.
Presiden sebagai lembaga tinggi negara mempunyai hak untuk mengangkat dan juga memberhentikan Kapolri, hal itu sesuai dengan isi Pasal 11 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 Tentang Polri, jadi dapat dipahami Polri adalah lembaga yang berada dibawah Presiden dan bertanggung jawab langsung kepada Presiden, dalam Pasal 8 Ayat (1) dan Ayat (2) Undang – Undang Nomor 2 Tahun 2002 Tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia disebutkan bahwa dalam Pasal 8 Ayat (1): “Kepolisian Negara Republik Indonesia berada di bawah Presiden. Ayat (2): “Kepolisian Negara Republik Indonesia dipimpin oleh Kapolri yang dalam pelaksanaan
tugasnya bertanggung jawab kepada Presiden sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2017 Tentang Perubahan Atas Peraturan Presiden Nomor 52 Tahun 2010 Tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Kepolisian Negara Republik Indonesia di Pasal 1 Ayat (1) dan 2 yang berbunyi: Pasal 1 Ayat (1):”Kepolisian Negara Republik Indonesia, yang selanjutnya disebut Polri, adalah Kepolisian Nasional yang merupakan satu kesatuan dalam melaksanakan peran memelihara kemanan dan ketertiban masyarakat, menegakkan hukum, serta memberi perlindungan, pengayoman dan pelayanan kepada masyarakat dalam rangka terpeliharanya keamanan dalam negeri”, kemudian didalam Pasal 1 Ayat (2) berbunyi:”Polri sebagaimana dimaksud pada Ayat (1) berkedudukan dibawah Presiden”.
seperti yang diungkapkan oleh bagair manan Kepolisian Republik Indonesia adalah lembaga negara yang bersifat supporing axualiry atau sebagai lembaga negara penunjang, Kepolisian Republik Indonesia mempunyai tugas untuk memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat, hal ini sesuai dengan bunyi Pasal 13 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 Tentang Polri, tidak hanya masalah mengenai keamanan serta ketertiban masyarakat, terdapat beberapa tugas Polri lainnya seperti yang tercantum didalam Pasal 13 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 Tentang Polri yaitu:
a. Memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat;
b. Menegakkan hukum; dan
c. Memberikan perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat.
Untuk menjalankan tugasnya Kepolisian Negara Republik Indonesia membentuk Kepolisian di tingkat daerah, yang disebut dengan Polisi Daerah (Polda), guna untuk memaksimalkan tugas keamanan dan juga menjaga ketertiban masyarakat, kepolisian membagi dalam daerah hukum menurut kepentingan pelaksanaan tugas Kepolisian Republik Indonesia,
sesuai dengan Pasal 6 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 Tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia, sebagai berikut:
Pasal 6 Ayat 2: “Dalam rangka pelaksanaan peran dan fungsi kepolisian, wilayah negara Republik Indonesia dibagi dalam daerah hukum menurut kepentingan pelaksanaan tugas Kepolisian Negara Republik Indonesia.
Ayat 3: “Ketentuan mengenai daerah hukum sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) diatur dalam Peraturan Pemerintah.
Tujuan dibentuk dan pembagian daerah hukum dalam Kepolisian Negara Republik Indonesia ialah untuk melaksanakan peran dan fungsinya secara efektif dan efisien, wilayah Negara Republik Indonesia dibagi dalam daerah hukum menurut kepentingan pelaksanaan tugas dan wewenang Kepolisian Negara Republik Indonesia dengan memeperhatikan luas wilayah keadaan penduduk, dan kemampuan Kepolisisan Negara Republik Indonesia.
Pembagian daerah hukum tersebut diusahakan serasi dengan pembagian wilayah administrative pemerintahan di daerah dan perangkat sistem peradilan pidana terpadu.
Dalam hal pembentukan daerah hukum Kepolisian Republik Indonesia telah diatur didalam Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2007 Tentang Daerah Hukum Kepolisian Negara Republik Indonesia, dikatakan bahwa pertimbangan dikeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2007 ini untuk melaksanakan ketentuan dari Pasal 6 Ayat (3) Undang- Undang Nomor 2 Tahun 2002 Tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia, yang dimaksud dengan daerah hukum Kepolisian Negara Republik Indonesia adalah wilayah yuridiksi Negara Kesatuan Republik Indonesia yang meliputi wilayah darat, wilayah perairan dan wilayah udara dengan batas-batas tertentu dalam rangka melakasanakan fungsi dan peran kepolisian sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Dalam hal pembagian daerah hukum Kepolisian diatur di dalam Pasal 2 Ayat (1), Ayat (2), Pasal 3 Ayat (1), Ayat (2) dan Pasal 4 Ayat (1), Ayat (2), Ayat (3) dan Ayat (4) Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2007 Tentang Daerah Hukum Kepolisian Negara Republik Indonesia, bunyi dari pasal-pasal tersebut ialah:
Pasal 2:
1. Daerah hukum kepolisian dibagi berdasarkan kepentingan penyelenggaraan fungsi dan peran kepolisian.
2. Pembagian daerah hukum kepolisian sebagaimana dimaksud pada Ayat (1) dapat dilakukan berdasarkan pembagian wilayah administrasi pemerintahan daerah dan perangkat sistem peradilan pidana terpadu.
Pasal 3:
1. Pembagian dan perubahan daerah hukum kepolisian ditetapkan dengan mempertimbangkan kepentingan, kemampuan, fungsi dan peran kepolisian, luas wilayah, serta keadaan penduduk.
2. Ketentuan lebih lanjut mengenai syarat dan tata cara penetapan pembagian daerah hukum kepolisian sebagaimana dimaksud pada Ayat (1) diatur dengan Peraturan Kapolri.
Pasal 4:
1. Daerah hukum kepolisian meliputi:
a. Daerah hukum kepolisian markas besar untuk wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia;
b. Daerah hukum kepolisian daerah untuk wilayah Provinsi;
c. Daerah hukum kepolisian resort untuk wilayah Kabupaten/Kota;
d. Daerah hukum kepolisian sektor untuk wilayah Kecamatan.
2. Berdasarkan pertimbangan kepentingan, kemampuan, fungsi dan peran kepolisian, luas wilayah serta keadaan penduduk, Kapolri dapat menentukan daerah hukum kepolisian ketetuan sebagaimana dimaksud pada Ayat (1) huruf b, huruf c dan huruf d.
3. Selain darerah hukum kepolisian sebagaimana dimaksud pada Ayat (1) dan Ayat (2), daerah hukum kepolisian meliputi pula kawasan diplomatik, yaitu Kedutaan Besar Indonesia serta kapal laut dan pesawat udara berbendera Indonesia di luar negeri.
Selanjutnya daerah Kepolisian Republik Indonesia mempunyai penanggung jawabnya sendiri-sendiri hal ini didalam Pasal 7 Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2007 Tentang Daerah Hukum Kepolisian Negara Republik Indonesia yang berbunyi:
Pasal 7: “penanggung jawab darah hukum kepolisian adalah:
a. Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia untuk wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia;
b. Kepala Kepolisian Daerah untuk wilayah Provinsi;
c. Kepala Kepolisian Resort untuk wilayah Kabupaten/Kota;
d. Kepala Kepolisian Sektor untuk wilayah Kecamatan.
Kepala Kepolisian Daerah yang selanjutnya disebut Kapolda adalah pimpinan Polri di daerah Provinsi dan bertanggung jawab kepada Kapolri, sesuai dengan ketentuan Pasal 7 huruf (a) Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2007 Tentang Daerah Hukum Kepolisian Negara Republik Indonesia.
dalam hal mengenai pengangkatan Kepala Kepolisian Daerah telah diatur dalam Pasal 11 Ayat (8) Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 Tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia, yang berbunyi: “Ketentuan mengenai pengangkatan dan pemberhentian dalam jabatan selain yang dimaksud dalam Ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Keputusan Kapolri, yang berhak langsung mengangkat Kapolda menurut Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 ialah Kapolri sendiri, sebagai Kepala Kepolisian Negara Kesatuan Republik Indonesia ia berwenang dalah pengangkatan Kepala Kepolisian ditingkat Provinsi.
Kapolda adalah jabatan eselon IIA setinggi-tingginya eselon IB sesuai dengan isi Pasal 54 Ayat (4) Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2017 Tentang Susunan Organisasi Dan Tata Kerja Kepolisian Negara Republik Indonesia, kemudian didalam hal pengangkatan Kapolda sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2017 diatur dalam Pasal 57 Ayat (1) yang berbunyi: “Pengangkatan dan Pemberhentian pejabat pada jabatan Kepangkatan Perwira Tinggi (PATI) bintang dua keatas atau yang termasuk dalam lingkup jabatan eselon IA dan IB ditetapkan oleh Kapolri setelah dikonsultasikan dengan Presiden”.
Kapolri dalam pengangkatan Kapolda sesuai dengan Pasal 57 Ayat (1) Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2017 harus berkonsultasi terlebih
dahulu kepada Presiden. Presiden sebagai kepala pemerintahan mempunyai wewenang dalam menentukan siapa calon yang dapat diangkat untuk menjadi Kepala Kepolisian Daerah, hal ini mejadi intervensi dari pemerintah pusat dalam hal bidang keamanan dan juga ketertiban masyarat. Dalam hal keamanan dan juga ketertiban serta pertahanan negara, semua diserahkan kepada pemerintah pusat untuk menentukan atau mengeluarkan kebijakan, tidak adanya unsur campur tangan daerah dalam menentukan kebijakan pengangkatan Kepala Kepolisian Daerah, itu semua diserahkan kepada Pemerintah Pusat yang mempunyai wewenang menurut peraturan perundang undangan yang berlaku.
Hal ini sesuai dengan bunyi Pasal 30 Ayat (4) Undang –undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 bahwa: “Kepolisian Negara Republik Indonesia sebagai alat negara yang menjaga keamanan dan ketertiban masyrakat bertugas melindungi, mengayomi, melayani masyarakat, serta menegakkan hukum”, fungsi kepolisian sebagai alat negara tercantum didalam Pasal 5 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 Tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia sebagai berikut: “Kepolisian Negara Republik Indonesia merupakan alat negara yang berperan dalam m[emelihara keamanan dan ketertiban masyarakat, menegakkan hukum, serta memberikan perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat dalam rangka terpeliharanya keamanan dalam negeri.
B. Inkonstitusional Pengangkatan Kapolda Di Aceh Dalam Otonomi Khusus Negara kesatuan Republik Indonesia yang terbagi atas daerah- daerah provinsi mengakui dan menghormati satuan-satuan pemerintahan daerah yang bersifat khusus atau bersifat istimewa yang diatur dalam Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945, yang terdapat didalam Pasal 18B Ayat (1), ketentuan ini mendukung keberadaan berbagai satuan pemerintahan yang bersifat khusus atau istimewa, contoh dari satuan
pemerintahan daerah yang bersifat khusus dan istimewa adalah Daerah Istimewa (D.I.) Yogyakarta, Daerah Khusus Ibu Kota (DKI) Jakarta, Otonomi Khusus (Otsus) Papua dan Nanggroe Aceh Darussalam (NAD).
Kemudian didalam pasal 18B Ayat (2) dijelaskan bahwa: “Negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang diatur dalam undang-undang.
Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) dalam terbitan resminya mengenai Panduan dalam memasyarakatkan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 menyatakan bahwa ada 7 prinsip yang menjadi paradigma dan arah politik yang mendasari Pasal 18, Pasal 18A, dan Pasal 18B Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945, yaitu:
1. Prinsip daerah mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan Pasal 18 Ayat (2)
2. Prinsip menjalankan otonomi seluas-luasnya Pasal 18 Ayat (5);
3. Prinsip kekhususan dan keragaman daerah Pasal 18A Ayat (1);
4. Prinsip mengakui dan menghormati kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak- hak tradisionalnya Pasal 18 B Ayat (2);
5. Prinsip mengakui dan menghormati Pemerintahan Daerah yang bersifat khusus dan istimewa Pasal 18B Ayat (1);
6. Prinsip badan perwakilan dipilih langsung dalam suatu Pemilihan Umum Pasal 18 Ayat (3);
7. Prinsip hubungan pusat dan daerah dilaksanakan secara selaras dan adil Pasal 18A Ayat (2).
Dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan daerah sesuai dengan amanat Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 maka
kebijakan politik hukum yang ditempuh oleh pemerintahan terhadap pemerintahan daerah yang dapat mengatur dan mengurus urusan pemerintahan, menurut asas otonomi dan tugas pembantuan, diarahkan untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan pelayanan, pmberdayaan dan peran serta masyarakat, serta peningkatan daya saing daerah, dengan mempertimbangkan prinsip demokrasi, pemerataan, keadilan, keistimewaan dan kekhususan suatu daerah dalam system Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Berdasarkan ketentuan Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945, Ketetapan MPR dan Undang-Undang, sistem pemerintahan kita telah memberikan keleluasan yang sangat luas kepada daerah untuk menyelenggarakan otonomi daerah. Penyelenggaraan otonomi daerah menekankan pentingnya prinsip-prinsip demokrasi, peningkatan peran serta masyarakat dan pemerataan keadilan dengan memperhitungkan berbagai aspek yang berkenaan dengan potensi dan keanekaragaman antar daerah.
Menurut M Busrizalti7 dalam bukunya, Kewenangan daerah mencakup kewenangan dalam seluruh bidang pemerintahan kecuali kewenangan dalam bidang politik luar negeri, pertahanan keamanan, peradilan, moneter dan fiscal, agama serta kewenagan bidang lain mencakup kebijakan tentang perencanaan nasional dan pengendalian pembangunan nasional secara makro, dana perimbangan keuangan, sistim administrasi dan lembaga perekonomian negara, pembinaan dan pemberdayaan sumber daya manusia, pendayaguaan sumber daya alam serta teknologi tinggi yang strategis, konservasi dan standarnisasi nasional.
Provinsi Aceh adalah salah satu provinsi yang ada didalam Negara Kesatuan Republik Indonesi, perjalanan sejarah pembentukan Provinsi Aceh
7 M. Busrizalti, Hukum Pemda Otonomi Daerah dan Implikasinya, (Yogyakarta: Total Media, 2013), h. 122-123.
sangatlah panjang. Aceh merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang mempunyai status “Otonomi Khusus” pada tahun 2001 melalui Undang- Undang Nomor 18 Tahun 2001 Tentang Otonomi Khusus bagi provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Nanggroe Aceh Darussalam merupakan kawasan yang paling bergejolak dengan potensi kepada disintegritas dari Republik Indonesia. Sejak awal kemerdekaan, Aceh menghendaki menjadi kawasan dengan perlakuan khusus, kehendak ini diperjuangkan dengan sejumlah alasan penting, dari semua alasan yang berkembang alasan yang paling kuat adalah alasan kesejarahan.
Disatu sisi pemberian otonomi khusus pada Provinsi Aceh memberikan sebuah dampak yang positif bagi pemerintah Indonesia, namun pemberian otonomi khusus pada aceh juga memberikan kewenangan daerah yang sangat luas pada Aceh dalam menjalankan fungi pemerintahan daerah, hal ini terlihat dari Pasal 205 Undang-Undang nomor 11 Tahun 2006 Tentang Pemerintahan Aceh, sebagai berikut: “ Pengangkatan Kepala Kepolisian Aceh dilakukan oleh Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia dengan Persetujuan Gubernur” ini menjadi sebuah polemik didalam Negara Kesatuan Republik Indonesia, hal ini berkaitan mengenai pengangkatan Kepala Kepolisian Daerah yang harus mendapatkan persetujuan Gubernur dalam pengangkatannya.
Pasal 18 Ayat (5) Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 mengamanatkan pemerintah daerah dapat menjalankan otonomi seluas- luasnya, kecuali urusan yang oleh undang-undang ditentukan sebagai urusan Pemerintah Pusat. Kewenanagan yang didapat Aceh dalah hal pengangkatan Kapolda sudah melanggar dari prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia hal ini karena Aceh sudah mencampuri kewenagan dari pemerintah Pusat dalah hal keamanan.
Jika dilihat dari yang dikemukakan M. Busrizalti bahwa kewenangan pemerintahan pusat terletak kepada politik luar negeri,
pertahanan, keamanan, peradilan, moneter dan fiscal, dalam hal pengangkatan Kapolda atas persetujuan Gubernur telah melebihi kewenangan dari pemerintah daerah, dalam teori stufenbow theory, atau teori hierarki perundang-undangan maka penggangkatan Kapolda ini sudah melanggar norma dasar , yaitu Undang-Undang Dasar, karena didalam Undang-Undang Dasar pemerintah daerah dapat menjalankan otonomi seluas-luasnya namun terdapat batasan mana yang menjadi kewenanagan urusan pemerintah pusat dan juga yang mana menjadi kewenangan pemerintah daerah, penjabaran lebih lanjut mengenai pembatasan mengenai urusan yang menjadi kewenangan dari pemerintah pusat terdapat didalam Pasal 10 Undang- Undang Nomor 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintah daerah, urusan yang menjadi kewenangan dari pemerintah pusat.
Dari hal ini perlunya pengaturan pembatasan mengenai kewenagan pemberian otonomi kepada daerah. Kemudian dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 Tentang Kepolisian Republik Indonesia dinyatakan bahwa pengangkatan Kapolda berada di bawah kekuasaan Kapolri, sesuai dengan ketentuan Pasal 11 Ayat (8) “Ketentuan mengenai pengangkatan dan pemberhentian dalam jabatan selain yang dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan keputusan Kapolri”.
Kemudian didalam hal pengangkatan Kapolda sesuai dengan Peraturan Pasal 57 Ayat (1) Presiden Nomor 5 Tahun 2017 yang berbunyi:
“Pengangkatan dan Pemberhentian pejabat pada jabatan Kepangkatan Perwira Tinggi (PATI) bintang dua keatas atau yang termasuk dalam lingkup jabatan eselon IA dan IB ditetapkan oleh Kapolri setelah dikonsultasikan dengan Presiden”.
Kapolri dalam pengangkatan Kapolda sesuai dengan Pasal 57 Ayat (1) Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2017 harus berkonsultasi terlebih dahulu kepada Presiden, Presiden sebagai kepala pemerintahan mempunyai wewenang dalam menentukan siapa calon yang dapat diangkat untuk menjadi
Kepala Kepolisian Daerah, hal ini mejadi intervensi dari pemerintah pusat dalam hal bidang keamanan dan juga ketertiban masyarat. Dalam hal keamanan dan juga ketertiban serta pertahanan negara, semua diserahkan kepada pemerintah pusat untuk menentukan atau mengeluarkan kebijakan, tidak adanya unsur campur tangan otonomi daerah dalam menentukan kebijakan pengangkatan Kepala Kepolisian Daerah, itu semua diserahkan kepada Pemerintah Pusat yang mempunyai wewenang menurut peraturan perundang undangan yang berlaku.
Hal ini sesuai dengan bunyi Pasal 30 Ayat (4) Undang –undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 bahwa: “Kepolisian Negara Republik Indonesia sebagai alat negara yang menjaga keamanan dan ketertiban masyrakat bertugas melindungi, mengayomi, melayani masyarakat, serta menegakkan hukum”, fungsi kepolisian sebagai alat negara tercantum didalam Pasal 5 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 Tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia sebagai berikut: “Kepolisian Negara Republik Indonesia merupakan alat negara yang berperan dalam memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat, menegakkan hukum, serta memberikan perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat dalam rangka terpeliharanya keamanan dalam negeri.
Selain bertentangan denagan peraturan perundang-undangan diatas Pasal 205 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 Tentang Pemerintahan Aceh juga terdapat kontradiksi pengaturan didalam undang-undang ini karena pada Pasal 7 Ayat (1) dan Ayat (2) diatur mengenai kewenangan dari pemerintah Aceh, sebagai berikut, Pasal 1” Pemerintahan Aceh dan kabupaten/kota berwenang mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dalam semua sektor kecuali urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan Pemerintah”. Pasal 2” Kewenangan Pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi urusan pemerintahan yang bersifat nasional, politik luar