• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sejarah Pemberian Otonomi Khusus DKI Jakarta

A. Sejarah Pemberian Otonomi Khusus di Indonesia

4. Sejarah Pemberian Otonomi Khusus DKI Jakarta

daerah yang bersifat istimewa. Namun hal tersebut tidak diikuti dengan peraturan yang bersifat komprehensif mengenai substansi keistimewaan sebuah daerah. Kehadiran sebuah undang-undang tentang keistimewaan Yogyakarta yang komprehensif ssangat diperlukan guna memberikan jaminan hukum bagi pelaksanaan pemerintahan di Yogyakarta.

d. Alasan Sosio-Psikologis

Dalam beberapa puluh tahun terakhir ini, Yogyakarta bisa dipastikan akan terus mengalami perubahan sosial yang sangat dramatis. Perkrmbangan tersebut tidak secara otomatis meminggirkan sentralisasi Kesultanan dan Pakualaman sebagai sumber rujukan penting bagi mayoritas warga Yogyakarta. Sebagian besar masyarakat tetap memandang dang mengakui Kesultanan dan Pakualaman sebagai Pusat Budaya Jawa dan simbol pengayom.

e. Alasan akademis-Komparatif

Pemberian otonomi yang berbeda atas satu daerah atau wilayah dari beberapa daerah meruapakan praktek enyelenggaraan pemerintahan yang cukup umum ditemui dalam pengalaman pengaturan politik di banyak negara.

Rasionalitas bagi pemberian status keistimewaan bagi Yogyakarta sebagai wujud konkret dari kebijakan desentralisasi yang bercorak asimetris mendapatkan pembenarannya.

Dengan berbagai pertimbangan dan alasan yang antara lain telah dikemukakan di atas, serta melalui proses yang cukup panjang, akhirnya Undang-Undnag Nomor 13 Tahun 2012 Tentang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta (UUK DIY) disahkan oleh DPR dalam Sidang Paripurna yang diselenggarakan pada hari Kamis, 30 Agustus 2012. Berbeda dengan Peraturan-Peraturan sebelumnya, undang-undang yang terdiri atas 16 bab dan 51 pasal ini mengatur keistimewaan DIY secara lebih menyeluruh.

Sejarah Kota Jakarta terkait erat dengan perjuangan bangsa telah ada sejak tanggal 22 Juni 1527, yaitu pada saat Fatahillah mengalahkan armada asing, dan kemudian mengganti nama Sunda Kelapa menjadi Jayakarta. Peristiwa ini selanjutnya diperingati sebagai hari jadi kota Jakarta. Perkembangan selanjutnya Jakarta mempunyai peranan penting dalam sejarah perjuangan bangsa. Banyak momentum penting dalam sejarah kebangkitan nasional, kesatuan dan persatuan bangsa, serta sejarah kebangkitan Indonesia yang terjadi di Kota Jakarta, seperti lahirnya Boedi Oetomo, Sumpah Pemuda, Proklamasi Kemerdekaan serta penetaan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945. Nilai-nilai sejarah tersebut sangat besar artinya bagi usaha pembinaan bangsa dan pengembangan lebih lanjut Kota Jakarta.

UUD 1945 tidak menyebut secara spesifik mengenai pemerintahan Jakarta.

Pengaturan tentang Jakarta justru muncul di dalam Konstitusi RIS 1949 Pasal 50 Ayat (1), yang antara lain menetapkan bahwa pemerintahan atas distrik daerah- daerah yang di luar lingkungan daerah sesuatu daerah Republik Indonesia Serikat menurut aturan-aturan yang akan ditetapkan dengan Undang-Undang Federal.

Sesuai dengan ketentuan ini Pemerintah RIS menetapkan Undang-Undang Darurat Nomor 20 Tahun 1950 (LN RIS 1950 Nomor 31. Penjelasan dalam TLN Nomor 15) yang dinamakan Undang-Undang Pemerintahan Jakarta Raya.

Undang-Undang Darurat ini mengatur hal-ikhwal pemerintahan atas ibukota Jakarta sesuai dengan ketentuan dalam konstitusi Republik Indonesia Serikat tersebut diatas. Dalam Undang-Undang Federal itu sekaligus diatur juga kedudukan Kota Jakarta sebagai suatu daerah yang mengurus rumah tangganya sendiri.

Undang-Undang Darurat Pasal 2 Nomor 20 Tahun 1950 ditetapkan bahwa pemerintahan daerah dengan wilayah baru sebagaimana ditentukan dalam Keputusan Presiden Nomor 125 Tahun 1950 dinamakan Kotapraja Jakarta Raya.

Pemerintahannya dijalankan atas nama Pemerintahan Republik Indonesia Serikat oleh seorang Walikota. Walikota Jakarta menjalankan tugas pemerintahan itu

dengan memperhatikan petunjuk-petunjuk menteri dalam negeri Republik Indonesia Serikat. Penyelenggaraan pemerintahan daerah itu masih tetap menurut perautan perundang-undangan desentralisasi yang sampai saat itu masih berlaku, yaitu Stadsgmeente-ordanantie dan Ordonantie Tidjdelijke Voorzieningen Bestuur Stadgemeenten Java. Selanjutnya ditetapkan bahwa kekuasaan-kekuasaan, kewajiban-kewajiban, dan pekerjaan-pekerjaan yang menurut peraturan perundang yang dahulu berada di tangan aparatur provincie West Java dan Secretaris van Staat voor Binnenlandse Zaken (ini adalah tugas- tugas yang bersifat pengawasan) kini semuanya dijalankan olh menteri dalam negeri RIS. Dengan demikian pemerintahan daerah Kotapraja Jakarta Raya berada di wilayah pengawasan kementrian Dalam Negeri RIS. Undang-undang Darurat ini mulai berlaku pada hari diumumkan, dan berlaku surut sampai pada tanggal 31 Maret 1950. Undang-Undang Darurat ini ditetapkan di Jakarta pada tanggal 13 Mei 1950 oleh Presiden RIS Soekarno dan Perdana Menteri Moh.

Hatta serta Menteri Dalam Negeri Ide Anak Agoeng Gde Agoeng.

Perubahan struktur negara dari Republik Indonesia Serikat menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) pada tanggal 17 Agustus 1950 tidak mempengaruhi status Kotapraja Jakarta Raya karena negara kesatuan ini bukanlah suatu negara bentukan baru, melainkan merupakan kelanjutan Negara RIS yang diubah bentuknya dari suatu federasi, menjadi bentuk kesatuan yang meliputi seluruh Indonesia.

Pemerintahan Daerah ketika itu diatur dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1948 Tentang Pemerinthan Daerah. Menurut Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1948, provinsi merupakan Daerah tingkat teratas dan langsung berada dibawah pengawasan pemerintah pusat (Menteri Dalam Negeri). Dalam prakteknya, Pemerintahan Pusat memperlakukan Kotapraja Jakarta Raya sebagai daerah otonom yang sejajar dengan provinsi. Demikian pula, Walikota Jakarta Raya sebagai pejabat Pamongpraja pusat mempunyai kedudukan yang setingkat dengan para gubernur dari segenap provinsi di seluruh Indonesia.

Dalam hubungannya dengan kota-kota lainnya yang berhak mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri, Kota Praja Jakarta Raya selain mempunyai derajat yang setingkat lebih atas daripada kota besar (dan bahkan 2 tingkat lebih atas daripada kota kecil) juga memiliki suatu kelainan tersendiri, yaitu satu- satunya kota otonom yang memakai sebutan “Kotapraja”.

Ketika pemerintahan pada tanggal 17 Januari mengesahkan Undang- Undnag Nomor 1 Tahun 1957 Tentang Pokok-Pokok Pemerintahan Daerah, pertumbuhan pemerintahan daerah Kotapraja Jakarta Raya memasuki babaj baru.

Di dalam Bab VIII Peraturan Peralihan Pasal 73 ayat (3) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1957 dinyatakan Kotapraja Jakarta Raya yang berhak mengurus rumah tangganya sendiri berdasarkan Undang-Undang Nomor Tahun 1956 tidak perlu dibentuk lagi sebagai Kotapraja menurut ketentuan Pasal 3 UU Tentang Pokok- pokok Pemerintahan Daerah 1956, akan tetapi daerah tersebut, sejak mulai berlakunya Undang-Undang ini, menjadi Kotapraja Jakarta Raya termaksud dalam pasal 2 undang-undang ini. Di dalan penjelasan Pasal 73 ditegaskan, pembentukan daerah swntra berdasarkan undang-undnag ini sudah barang tentu tidak dapat diadakan dengan sekaligus untuk semua daerah di wilayah Indonesia.

Begitu pula peraturan-peraturan penyelenggaraan menghendaki waktu yang cukup. Pada waktu mulai berlakunya undang-undnag ini (Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1957) di Indonesia terdapat daerah-daerah swantantra yang berdasarkan atas berbagai jenis peraturan perundangan pokok, misalnya Kotapraja Jakarta Raya berdasarkan atas Stadsgemeente-oronantie (SGO) dan Tijdelijke voorningennya junto Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1957.