BAB 10 PENGELOLAAN MODAL KERJA DAN RISIKO
B. Pengelolaan Modal
Ketersediaan modal menjadi faktor penting bagi berdiri dan bertahannya perusahaan. Usaha kecil sering kali memiliki modal yang terbatas sehingga sulit mengembangkan usahanya. Jenita dan Herispon (2022) menyebutkan bahwa pengelolaan modal terdiri dari 3 fungsi yaitu:
1. Fungsi perencanaan dana.
Perencanaan keuangan meliputi aktivitas apa (what) yang rencananya akan didanai, dari mana (where) dana berasal, kapan (when) pendanaan harus diperoleh dan dikeluarkan, siapa (who) yang berwenang mengambil keputusan pendanaan, mengapa (why) perlu melakukan perencanaan pendanaan, dan berapa jumlah (how) dana yang diperlukan oleh perusahaan.
2. Fungsi mendapatkan dana
Dalam mengisi kebutuhan modal perusahaan, perusahaan harus mempertimbangkan berbagai sumber dana. Menurut Asmarantaka et.al (2021), sumber dana dapat dibagi menjadi dua yaitu pembiayaan eksternal dan pembiayaan internal.
Pembiayaan internal terdiri dari setoran para pemilik yang disebut sebagai modal sendiri (equity) dan bagian laba yang tidak dibagikan kepada pemilik atau laba ditahan. Modal sendiri dan laba ditahan merupakan sumber pembiayaan utama karena bersifat jangka Panjang
dan tidak menimbulkan beban tetap (seperti bunga pinjaman). Proporsi pembiayaan dengan sumber internal sebaiknya lebih dari 50 persen.
Pembiayaan eksternal atau hutang dibedakan menjadi hutang jangka Panjang dan hutang jangka pendek. Setiap hutang, akan menimbulkan beban dalam bentuk bunga, margin, dan beban lainnya. Sehingga pilihan menambah modal dari eksternal perlu pertimbangan yang matang.
Adapun alternatif hutang jangka pendek antara lain:
Pos-pos aktual seperti hutang upah, hutang pajak
Hutang usaha, misal hutang ke pemasok input
Kredit jangka pendek dari bank atau Lembaga keuangan
Surat dagang yaitu hutang jangka pendek tanpa jaminan
Penggunaan sekuritas jangka pendek dengan agunan
Penjaminan piutang atau anjak piutang
Bukti penerimaan Gudang
Sedangkan sumber hutang jangka Panjang antara lain:
Kredit jangka Panjang dari bank atau Lembaga keuangan dengan masa lebih dari 5 tahun, tujuan peminjaman adalah untuk memperoleh barang yang tidak bergerak yaitu untuk peralatan, tanah dan bangunan
Obligasi merupakan utang jangka Panjang yang digunakan oleh pemerintah dan perusahaan untuk mendapatkan dana jangka Panjang
Leasing. Sebagai contoh perusahaan dapat melease atau menyewa Gudang, pabrik, toko, kantor, peralatan atau kendaraan seperti truk.
Modal ventura. Model venture capital merupakan sistem kerja sama yang bersifat equity financing yakni memberikan pembiayaan dalam bentuk penyertaan modal dalam suatu perusahaan atau di Indonesia dikenal sebagai perusahaan pasangan usaha (PPU) untuk jangka waktu tertentu dan bersifat sementara.
3. Fungsi penggunaan dana
Fungsi penggunaan dana harus dilakukan secara efektif dan efisien agar mengalokasikan dana benar-benar mencapai sasaran yang diinginkan, sehingga tujuan perusahaan tercapai. Dana yang tertanam harus dapat memaksimalkan tingkat keuntungan yang diharapkan.
Untuk mengevaluasi penggunaan dana, perusahaan perlu menyusun laporan keuangan yang menggambarkan situasi keuangan sebuah perusahaan dalam satu periode tertentu. Laporan keuangan memperlihatkan kinerja perusahaan dan akan berpengaruh terhadap kebijakan perusahaan. Laporan keuangan umumnya terdiri dari neraca keuangan dan laporan laba/rugi. Arifin, J (2008) menyebutkan pula laporan arus kas dan catatan atas laporan keuangan sebagai tambahan laporan keuangan. Laporan arus kas merupakan laporan keuangan yang menginformasikan perubahan kas yang terdiri dari saldo awal kas, sumber penerimaan kas, pengeluaran kas dan saldo akhir kas pada periode tertentu. Catatan atas laporan keuangan menyajikan pengungkapan- pengungkapan yang memuat perlakuan akuntansi dan pengungkapan informasi lain. Pada buku ini, kita akan membahas neraca keuangan dan laporan laba/rugi.
Neraca Keuangan
Neraca keuangan berisi informasi jumlah aset, kewajiban (hutang) dan modal perusahaan pada waktu tertentu1, sekurang-kurangnya dilaporkan selama satu tahun sekali. Persamaan dasar neraca yaitu sebagai berikut:
Nilai aktiva harus sama dengan pasiva atau dikatakan balance/seimbang. Hal ini menjadi prinsip dasar akuntansi entri ganda.
Ketika suatu barang dibeli, barang tersebut dapat dikapitalisasi atau dibebankan. Jika dikapitalisasi, nilainya akan muncul di sisi aset neraca, dan jika dibebankan, nilainya akan menyebabkan pengurangan pendapatan atau ekuitas pemilik. Entri ganda untuk pembelian ini adalah pengurangan dalam kas (yaitu, penurunan aset) atau komitmen (yaitu, kewajiban) kepada vendor (yaitu, peningkatan kewajiban). Menurut aljabar akuntansi, aset dan sumber daya (ekuitas dan kewajiban) selalu
AKTIVA = PASIVA
AKTIVA = HUTANG (KEWAJIBAN) + MODAL (EKUITAS)
memiliki tanda yang berlawanan, sehingga ekuilibrium neraca selalu terjaga (Quiry et. al, 2005). Adapun ilustrasi neraca keuangan dapat dilihat pada gambar 10.1.
Aset tetap
Ekuitas
Kewajiban Aset lancar
Gambar 10.1 Ilustrasi Neraca Keuangan Sumber: Quiry et. al (2005)
Aktiva disebut pula sebagai aset. Berdasarkan waktunya, aset dibagi menjadi:
a) Aset lancar yaitu aset yang dapat segera dikonversi menjadi kas dalam jangka waktu kurang dari 1 tahun. Contoh aset lancar yaitu kas, setara kas, piutang usaha, persediaan dan utang dibayar dimuka.
b) Aset tetap yaitu aset yang relatif sulit dikonversi menjadi kas dan berumur lebih dari 1 tahun. Contoh aset tetap yaitu bangunan, peralatan pabrik, peralatan kantor.
Pasiva disebut sebagai sumber daya yang dimiliki oleh perusahaan.
Sumber daya dapat berasal dari luar disebut sebagai hutang atau kewajiban. Sumber daya juga dapat berasal dari dalam yang disebut sebagai modal. Kewajiban merupakan hutang yang wajib dibayarkan kepada pihak lain. Berdasarkan waktunya, kewajiban dibagi menjadi 2 yaitu:
a) Hutang jangka pendek (lancar) yaitu hutang yang jatuh tempo kurang dari satu tahun.
b) Hutang jangka Panjang yaitu hutang yang jatuh temponya lebih dari satu tahun.
Tabel 10.1 Neraca Keuangan CV. XYZ Tahun 2022
AKTIVA PASIVA
Aktiva lancar Nilai (juta) Hutang Lancar Nilai (juta)
Kas 20,000,000 Hutang dagang 5,000,000
Bank 15,000,000 Hutang bank (8 bulan) 8,000,000 Surat-surat berharga 25,000,000 Total hutang lancar 13,000,000
Piutang 8,000,000 Hutang Jangka Panjang
Persediaan 5,000,000 Hipotek 50,000,000
Total aktiva lancar 73,000,000 Obligasi 25,000,000 Aktiva Tetap Hutang bank (5 tahun) 65,000,000 Tanah 70,000,000 Total hutang jangka panjang 140,000,000
Bangunan 30,000,000 Ekuitas
Mesin-mesin 17,000,000 Modal disetor 29,000,000
Peralatan 10,000,000 Laba ditahan 18,000,000
Total aktiva tetap 127,000,000 Total Ekuitas 47,000,000 Total AKTIVA 200,000,000 Total PASIVA 200,000,000
Laporan Laba Rugi
Laporan laba rugi menyajikan informasi mengenai penjualan perusahaan dikurangi biaya-biaya yang dikeluarkan dan diakhiri dengan perhitungan pendapatan perusahaan untuk melihat apakah pada periode tersebut perusahaan mengalami kerugian atau keuntungan. Penjualan menunjukkan nilai semua produk dan jasa yang terjual yang dinyatakan dengan nilai uang. Jika konsumen mengembalikan produk yang sudah dibelinya sehingga perusahaan harus mengembalikan sejumlah uang atau perusahaan menetapkan potongan harga, maka penjualan bersih dapat dihitung melalui rumus berikut:
Penjualan bersih = Penjualan – Retur – Potongan dan pengurangan harga
Tabel 10.2 Penjualan bersih CV XYZ bulan Januari-Maret 2022 Keterangan Nilai
Penjualan
Penjualan 185,000,000 Potongan harga 8,200,000 Penjualan bersih 176,800,000
Selain penjualan bersih, dalam laporan laba rugi, kita juga perlu menghitung harga pokok penjualan. Harga pokok penjualan adalah jumlah biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan produk yang terjual pada periode tertentu. Pada perusahaan yang melakukan reseller, harga pokok produksi hanya meliputi biaya pembelian barang ditambah biaya angkut/
transportasi. Pada perusahaan yang melakukan pengolahan, maka perhitungan harga pokok penjualan akan melibatkan nilai persediaan dan pembelian bahan baku. Jika terdapat biaya tenaga kerja langsung, biaya bahan mentah, biaya angkut atau transportasi untuk pembelian persediaan, maka dapat pula ditambahkan pada perhitungan harga pokok penjualan. Adapun rumus perhitungan harga pokok penjualan adalah sebagai berikut:
Harga Pokok Penjualan = Persediaan awal − Persediaan akhir + Pembelian Tabel 10.3 Perhitungan harga pokok penjualan CV. XYZ
bulan Januari-Maret 2022
Keterangan Nilai
Persediaan awal 32,560,000
Persediaan akhir 18,000,000
Pembelian 18,600,000
Biaya tenaga kerja langsung 9,000,000 Harga pokok penjualan 42,160,000
Setelah diketahui nilai penjualan bersih dan harga pokok penjualan, kita dapat menghitung marjin kotor dengan cara mengurangkan nilai
penjualan bersih dengan harga pokok penjualan. Marjin kotor menggambarkan jumlah uang yang tersisa untuk menutupi biaya operasional (tetap) dan keuntungan (laba). Contoh biaya operasional (tetap) antara lain biaya pemasaran (promosi, biaya angkut, upah bagian pemasaran) dan biaya administrasi (honor karyawan, gaji manajer, penyusutan, pajak, asuransi, sewa, biaya perbaikan mesin dan biaya lainnya).
Tabel 10.4 Perhitungan biaya operasional (tetap) CV. XYZ bulan Januari-Maret 2022
Keterangan Nilai
Biaya pemasaran 4,500,000
Biaya administrasi dan gaji 21,000,000 Biaya operasional (tetap) 25,500,000
Biaya lain yang perlu diperhitungkan adalah beban bunga dan pajak.
Beban bunga akan muncul ketika perusahaan melakukan pinjaman ke bank maupun lembaga keuangan lainnya yang menetapkan Bunga pinjaman.
Tabel 10.5 Laporan Laba/Rugi CV. XYZ bulan Januari-Maret 2022
Keterangan Nilai
Penjualan bersih 176,800,000
Harga pokok penjualan 42,160,000
Laba kotor 134,640,000
Biaya operasional (tetap) 25,500,000 Laba sebelum bunga dan pajak 109,140,000
Bunga 0
Laba sebelum pajak 109,140,000
Pajak (1% terhadap penjualan bersih) 1,768,000
Laba bersih 107,372,000
Ilustrasi pada tabel 10.5 mengasumsikan bahwa dalam penyediaan modalnya, perusahaan tidak melakukan pinjaman ke bank maupun Lembaga keuangan manapun sehingga beban bunga sama dengan nol.
Berdasarkan perhitungan, laba bersih yang diperoleh sebesar Rp 107,372,000 selama 3 bulan. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa dalam menjalankan usahanya CV. XYZ mendapatkan keuntungan sebesar Rp 107,372,000 atau sebesar Rp 35,790,666 per bulan.