BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
B. Pengelolaan Sampah
Trewart dan Newport dalam Lily Tangke Padang (2009:23) mengemukakan bahwa pengelolaan adalah proses yang mencakup kegiatan
perencanaan, pengorganisasian, penggerakan serta pengawasan aktifitas suaru organisasi dalam pencapain tujuan secara efektif dan efesien.
Pengelolaan pada dasarnya adalah merencanakan, melaksanakan dan mengawasi sumberdaya yang dimiliki oleh organisasi, Irawan (2007:7) menyatakan bahwa “pengelolaan sama dengan manajemen yaitu untuk
merencanakan, pengorganisasian, menggunakan atau melaksanakan dan pengawasan atau pengendalian usaha manusia untuk memanfaatkan secara optimal potensi yang menjadi sarana, prasarana dan fasilitas untuk mencapai tujuan organisasi sesuai fokus kegiatan perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan sebagai upaya optimalisasi kegiatan pengelolaan.
Pengelolaan sampah adalah semua kegiatan yang dilakukan dalam menangani sampah sejak ditimbulkan sampai dengan pembuanagan akhir. Secara garis besar, kegiatan di dalam pengelolaan sampah meliputi pengendalian timbulnya sampah, pengumpulan sampah, transfer dan transport, pengolahan dan pembuanagan akhir (Kartikawan, 2007).
Kegiatan yang dimulai dari sumber penghasilan sampa-sampah dikumpulkan untuk diangkut ketempat pembuanagan untuk memusnakan atau sebelumnya dilakukan suatu proses pengelolaan untuk menurunkan volume dan berat sampah. Secara tidak langsung harus memelihara kesehatan masyarakat serta memanfaatkan suatu lingkungan bersih, baik dan sehat. (Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia: 2008) kata pengelolaan , memiliki arti yaitu: proses, cara dan pembuatan mengolah.
Menurut peraturan Menteri Nomor 33 Tahun 2010 tentang pedoman pengelolaan sampah, pengelolaan sampah adalah kegiatan yang sistematis, menyeluruh dan berkesinambungan yang meliputi perencanaan, penguranagan dan penanganan sampah.
Mengenai pengertian dasar dari pengelolaan adalah dapat disamakan dengan manajemen, yang berarti pengaturan atau pengurusan (Suharsimi Arikunto 2002:31). Jadi pengelolaan di artikan sebagai pengurusan, yaitu menjual sesuatu hingga menjadi baru yang memiliki nilai-nilai yang tinggi dengan demikian pengelolaan yang mengundang makna sebagai pembaharuan, yaitu melakukan usaha-usaha untuk membuat sesuatu menjadi lebih sesuai atau cocok dengan kebutuhan menjadi lebih baik dan bermanfaat.
Pengelolaan kebersihan merupakan permasalahan yang di hadapi oleh setiap pemerintah daerah Indonesia. Permasalahan tersebut terjadi di sebabkan oleh pemahaman masyarakat itu sendiri yang beranggapan bahwa sampah merupakan suatu yang di pandang tidak berguna, tidak terpakai, tidak di senangi dan sebaiknya di buang sehingga tidak mengganggu kebersihan lingkungan sekitar mereka. Peran serta pemerintah dalam mengelolah sampah diwilayahnya saat ini menjadi sangat penting guna mereduksi jumlah sampah yang dari tahun ke tahun mengalami peningkatan, salah satu cara penanganan sampah yang mengendapkan peran serta pemerintah di masyarakat adalah dengan menyediakan fasilitas pengelolaan sampah secara “breakdown area” artinya sampah yang dapat diolah langsung oleh para penghasil utama sampah harus diberikan ruang dan dikembangkan secara tepat guna, tepat teknologi, dan tepat terapan.
Berdasarkan peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 33 Tahun 2010 tentang pedoman pengelolaan sampah Pasal 1 Ayat 9 menyatakan bahwa “
pengelolaan sampah adalah kegiatan yang sistematis, menyeluruh, dan berkesinambungan yang meliputi perencanaan, penguranagan, dan penanganan sampah”.
Pengelolaan sampah suatu lingkungan/tempat bertujuan untuk melayani penduduk terhadap sampah yang dihasilkan yang secara tidak langsung turut memelihara kesehatan masyarakat serta menciptakan suatu lingkungan yang bersih, baik dan sehat. Pada awalnya permukiman seperti pedesaan yang kepadatan penduduknya masih rendah secara alami tanah alam masih mengatasi sampah yang timbul, tetapi makin padat penduduk suatu pemukiman dengan segala aktivitasnya. Permasalahan sampah semakin perlu untuk dikelolah secara profesional, untuk dapat mengelolah sampah pemukiman yang sampahnya semakin banyak dengan masalah yang kompleks, diperlukan: suatu lembaga atau institusi yang dilengkapi dengan :
1) Peraturan.
2) Pembiayaan/pendanaan.
3) Peralatan penunjang.
4) Kesadaran masyarakat yang cukup tinggi.
Dalam pengelolaan sampah dituntut suatu pelayanan yang cepat dengan kapasitas yang besar untuk proses pengumpulan dan pengangkutan sampah, khususnya dari daerah urban. Pengelolaan inipun perlu dilaksanakan secara efektif, efesien, dan dengan program yang terencana agar dapat menekan biaya.
Penenganan kebersihan semacam ini baru akan berhasil baik bila masyarakat juga terlibat langsung atau berperan serta secara aktif terutama dalam mengikuti peraturan kebersihan umum, pembayaran retribusi maupun cara-cara menangani sampah yang diproduksinya secara baik dan benar.
2. Indikator Pengelolaan
Kegiatan pengelolaan menurut George R Terry (2001: 2 ) terdiri atas : a. Perencanaan (Planning)
Perencanaan merupakan fungsi terpenting dari funsi manajemen sehingga harus dilakukan terlebih dahulu sebelum funsi-fungsi manajemen lainnya. Dalam perencanaan dilakukan dalam pengambilan keputusan mengenai :
1) Apa yang akan dikerjakan 2) Bagaimana pembagian kerjanya 3) Kapan mengerjakannya
4) Siapa yang akan mengerjakannya b. Pengorganisasian (Organizing)
Pengorganisasian adalah kegiatan pengaturan para karyawan dan sumber-sumber lain dengan cara yang konsisten agar semua pekerjaan yang dilakukan terarah pada suatu tujuan. Untuk itu, dalam pengorganisasian harus dibuat suatu struktur tugas dan wewenang demi mempermudah tercapainya hasil yang telah direncanakan. Dengan demikian, fungsi pengorganisasian menjembatangi antara kegiatan perencanaan dan pelaksanaannya.
c. Actuating (Pengarahan)
Pengarahan atau pelaksanaan merupakan suatu langkah untuk membuat semua anggota kelompok agar mau bekerja sam dengan bekerja secara ikhlas serta bergairah untuk mencapai tujuan sesuai dengan perencanaan dan usaha- usaha pengorganisasian.
d. Pengawasan (Controling)
Pengawasan merupakan kegiatan yang dilakukan oleh para manajer dalam mengawasi dan mengevaluasi hasil yang telah dicapai. Jadi, melalui fungsi pengawasan dapat diukur seberapa besar hasil yang telah direncanakan.
Dalam melakukan evaluasi tugas, standar dapat pula diterapkan pada jumlah produksi, jumlah biaya, jumlah keuntungan, dan jumlah penjualan.
3. Faktor Pendukung Pengelolaan Sampah
Menurut Said dalam Lily Tangke Padang (2009: 24) ada lima faktor yang dapat mempengaruhi pengelolaan sampah yaitu :
a. Faktor Masyarakat
Masyarakat adalah merupakan faktor yang mempengaruhi sistem pengelolaan sampah karena pada hakekatnya timbulnya sampah akibat produk sampingan dari kegiatan masyarakat. Masyarakat seharusnya bertanggung jawab atas sampah yang dihasilkan dengan cara pengelolaanya sehingga tidak mencemari lingkungan.
b. Faktor Sampah
Sampah merupakan produk sampingan dari kehidupan manusia dapat berbentuk padat, cair maupun gas. Sampah dalam konteks pengelolaan
sampah pada saat ini masih merupakan sampah padat. Sampah padat itu sendiri merupakan barang atau bahan yang sudah dianggap tidak diperlukan.
Di dalam pengkajian sistem pengelolaan sampah, jenis sampah merupakan faktor yang terpenting dalam pemilihan sistem maupun teknologi yang digunakan.
c. Faktor Organisasi Atau Manajemen
Faktor ini merupakan faktor untuk meningkatkan daya guna dan hasil guna dari sistem pengelolaan sampah. Dengan organisasi dan manajemen yang tepat, maka keterpaduan pengumpulan dan pengangkutan yang mempergunakan sarana yang ada akan dapat dicapai seoptimal mungkin sebaliknya jika organisasi dan manajemen kurang baik, maka hasil yang optimal dari pengumpulan dan pengangkutan sampah yang mempergunakan sarana yang ada, tidak akan tercapai.
d. Faktor Ekonomi
Faktor ini dalam pengelolaan sampah terfokus pada masalah pendanaan yang bersumber dari pemerintah maupun masyarakat. Titik utama dari faktor ini diharapakan datang dari masyarakat karena jasa pengumpulan dan pengangkutan sampah merupakan jasa langsung berhubungan dengan salah satu kebutuhan dasar manusia dan masyarakat, yaitu kebersihan. Untuk itu diperlukan tata laksana pengumpulan retribusi sampah yang memadai dan sederhana, sehingga dana yang berasal dari masyarakat dapat terhimpun dan dikembalikan membiayai pengelolaan sampah. Sehingga demikian dana yang berasal dari pemerintah sifatnya hanya sebagai pancingan atau perangsang
bagi terkumpulnya dana yang berasal dari masyarakat . faktor ekonomi yang lain adalah analisis biaya untu pengelolaan sampah secara keseluruhan mulai dari pengumpulan, pemindahan, pengangkutan dan pembuangan akhir.
e. Faktor Hukum
Sebagaimana yang kita ketahui bahwa negara kita adalah negara yang berhukum. Untuk itu segala kegiatan yang berupa pengelolaan sampah harus dapat di pertanggung jawabkan secara hukum. Atas dasar itulah hukum sebagai landasan gerak formal baik yang menyangkut organisasi, retribusi, dan sebagainya, sebaiknya dikukuhkan dalam suatu peraturan daerah yang diikuti oleh prtunjuk pelaksanaan. Dengan demikian agar landasan hukum tersebut terealisasi dan dapat diterapkan dalam organisasi pengelolaan atau masyarakat harus diawali dengan suatu kajian yang mendalam. Dengan demikian landasan hukum tersebut tidak hanya merupakan aturan formal belaka, namun dapat diwujudkan dalam pelaksanaannya.
4. Macam-Macam Pengelolaan Sampah
Pada dasarnya pengelolaan sampah ada dua macam yaitu pengelolaan atau penanganan sampah setempat (individu) dan pengelolaan sampah terpusat untuk suatu lingkungan, pemukiman atau kota :
a. Pengelolaan/penanganan sampah setempat (individu) dimaksudkan penanganan yang dihasilkan sendiri oleh penghasil sampah dengan menanam dalam galian tanah pekarangannya atau dengan cara lain yang masih dapat dibenarkan. Hal ini dimungkinkan bila daya dukung masih cukup tinggi, misalnya bersedianya lahan dan lain-lain.
b. Pengelolaan/penanganan secara terpusat, khususnya dalam teknis operasional adalah suatu proses atau kegiatan penanganan sampah yang terkordinator untuk melayani suatu pemukiman atau kota.
5. Langkah Penanganan Sampah
Penanganan sampah dari sumber sampah dimulai dari pewadaan atau penyimpanan pada sumber sampah, kegiatan pengumpulan, pengangkutan serta pembuangannya disuatu tempat yang aman serta tidak mengganggu lingkungan baik manusia, flora dan fauna atau sumber lainnya.
a. Pewadahan/Penyimpanan Sampah
Untuk mencegah sampah yang berserakan yang akan memberi kesan serta untuk mempermudah proses kegiatan pengumpulan sampah yang dihasilkan perlu disediakan tempat untuk menyimpan pewadahan sambil menunggu kegiatan pengumpulan. Tempat sampah ini juga harus direncanakan dengan pertimbangan kemudahan dalam proses pengumpulan.
Hyegenis untuk penghasil sampah maupun petugas pengumpul kuat dan kreatif tahan lama serta juga mempertimbangkan segi estetika.
b. Pengumpulan
Pengumpulan merupakan kegiatan operasi pengambil sampah yang dimulai dari sumber penghasil sampah atau dari titik-titik pewadahan komunal sebelum diangkut ketempat penampungan akhir (TPA).
c. Pengangkutan
Pengangkutan merupakan operasi yang dimulai dari sumber sampah atau transfer/TPS ketempat pengelolahan/tempat pembuangan akhir. Bentuk
pengangkutan tergantung pada jenis peralatan yang digunakan diantaranya adalah pengangkutan dengan sistem transfer defo dan pengangkutan dengan sistem kontainer.
d. Pengelolahan
Pengelolahan sampah merupakan salah satu tahapan dalam pengangkutan sampah yang bertujuan untuk mengurangi volume sampah.
Ditinjau dari proses pengelolahannya ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut diantaranya adalah :
1) Pengemposan (composting), merupakan upaya mengurangi sampah secara biologi.
2) Pembakaran (inceneration), merupakan upaya mengurangi sampah secara kimiawi
3) Penghancuran (sheredding), merupakan upaya mengurangi volume sampah dengan cara memotong/mencaca sampah.
4) Pemisahan, merupakan upaya mendaur material-material untuk ditingkatkan manfaatnya atau diubah menjadi prosedur-prosedur lain atau energi
5) Pengeringan, merupakan upaya pengurangan kadar air dengan maksud mengurangi volume berat sampah.
6) Pemadatan (compecting), merupakan upaya mengurangi volume sampah secara mekanis.
e. Pembuangan Sampah
Pembuangan akhir merupakan kegiatan operasi tahap akhir dimana sampah diamankan disuatu tempat agar tidak menimbulkan gangguan terhadap lingkungan sekitarnya, baik alam maupun manusia beberapa metode pembuangan akhir sampah sebagai berikut :
1) Metode penimbungan sampah terbuka (open dumping), merupakan suatu sistem pembuangan akhir yang paling sederhana, dimana sampah hanya dibuang disuatu tempat tanpa ada tindak lanjut berikutnya.
Timbunan sampah terbuka dapat menimbulkan gangguan terhadap lingkungan berupa bau, pencemaran air dan lain-lain.
2) Metode lahan urung terkendali (controiler landfat), merupakan perbaikan dari open dumping, dimana sampah secara bertahap ditutup dari open dumping, dimana sampah secara bertahap ditutup dengan lapisan tanah untuk mengurangi kemungkinan gangguan pencemaran terhadap lingkungan sekitarnya.
3) Metode lahan urung sander (sanitari landiful), penutupun dengan lapisan tanah dilakukan pada tahap akhir hari operasi, sihangga setelah operasi berakhir tidak akan terlihat adanya timbunan sampah. Selain itu pengendalian leachate dan gas lebih baik/aman dari sebelumnya.
4) Metode improvet santari landfull, merupakan pengembangan lebih lanjut dari sanitari landifull, dimana seluruh leachate (air sampah), yang dihasilkan akan disalurkan dan diolah disuatu tempat sebelum dibuang secara aman.
6. Faktor Penghambat Pengelolaan Sampah
Adapun masalah-masalah yang sehubungan dengan pengelolaan sampah di wilayah pantai Bira kecamtan Bontobahari kabupaten Bulukumba dapat diidentifikasikan berdasarkan beberapa aspek (Kodoatie, 2005) sebagai berikut :
1. Aspek organisasi/institusi, meliputi struktur organisasi yang sudah ada terbentuk belum berjalan secara efektif dan efesien sesuai dengan fungsi masing-masing sumber daya manusia khususnya tenaga-tenaga profesional atau tingkat pengetahuan dibidang persampahan masih sangat terbatas 2. Aspek operasional, meliputi :
a. Pola operasional yang ada sekarang belum berjalan efektif dan efesien.
Hal ini disebabkan karena kurangnya koordinasi petugas lapangan, sehingga penumpukan sampah di tempat penampungan sementara dan ceceran sampah di jalan kurang tertangani.
b. Pola penanganan sampah dari sumber atau dari rumah ke rumah sampai ketempat penempungan sementara belum berjalan dengan baik, hal ini disebabkan karena kurangnya sarana dan prasarana yang dimiliki dan peralatan yang kurang terawat dengan baik.
c. Sistem pembuangan akhir secara controlled landfill belum diterapkan, hal ini disebabkan karena kurangnya sumberdaya manusia dan peralatan yang dimiliki khususnya alat berat
3. Aspek pembiayaan, meliputi dana yang terhimpun dari retribusi pelayanan kebersihan/persampahan masih rendah dan tidak sebanding dengan biaya
operasional yang dikeluarkan dan sumber penghasilan/nilai tambah selain retribusi belum ada.
4. Aspek hukum, meliputi peraturan yang ada belum berfungsi secara optimal dan masih perlu disosialisasikan.
5. Aspek peran/partisipasi masyarakat, meliputi peran serta partisipasi masyarakat dalm penanganan sampah masih kurang.