• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengelolaan Zakat Berbasis Kepanitiaan Musiman

BAB VII

C. Strategi Pengelolaan Zakat Berbasis Komunitas

3. Pengelolaan Zakat Berbasis Kepanitiaan Musiman

benar keluar dari kemiskinan barulah target penyaluran dialihkan ke daerah lain. Kalau sekarang masyarakat uang diberikan zakat hampir tak berubah.

Baihaqi juga punya riwayat yang tak berbeda dengan tambahan dari Aisyah ra : “rasulullah SAW jika masuk bulan Ramadhan membebaskan setiap tawanan dan memberi setiap orang yang meminta.”Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Allah SWT membuka keran seluas- luasnya dengan menebar kemurahan dengan mebagi bulan Ramadhan menjadi tiga bagian keutamaan yaitu rentang 10 hari pertama sebagai curahan kasih saying (rahmat), sepuluh hari kedua merupakan masa ampunan (mughfirah), dan sepuluh hari terakhir menjadi ajang pembebasan dari api neraka (‘itqu min al-nair). Anugerah lain yang diturunkan Allah SWT adalah hadirnya sebuah malam yang sangat istimewa yaitu malam Lailatul Qadar (yang memiliki bobot kenaikan sama dengan seribu bulan). Dengan tentetan keunggulan di atas setiap muslim diharapkan mampu mencapai satu titik untuk menggapai sebuah derajat yang disebut insane fitri (kesucian).

Nash-nash di atas itulah yang lantas menjadi magnet yang sangat kuat bagi ummat Islam guna meningkatkan kualitas amal dan ibadah. Karena pada sebelas bulan lainnya Allah SWT tidak memberi ‘previlege’ yang begitu rupa sebagaimana yang melekat pada bulan Ramadhan. Ini pun hanya diberikan pada ummat nabi Muhamad SAW dan tak pernah berlaku pada umat sebelumnya. Maka wajar tatkala Ramadhan tiba banyak orang yang berusaha berlomba-lomba menggenjot kualitas dan kuantitas amal ibadah. Yang paling nyata dan mudah dijumpai sedikitnya tercermin melaui sikap kedermawanan sosial yang muncul hampir secara serentak di seluruh seantero penjuru kota hingga pelosok desa, di mana umat Islam menggunakan Ramadhan sebagai waktu yang tepat menunaikan zakat, baik berupa zakat wajib (zakat mal dan zakat fitrah) maupun sedekah sunnah (infaq dan shadaqah).

Kedua hal itu sepertinya mendadak menjadi trend.

Di Indonesia khususnya di saat masyarakat tengah bergairah menunaikan zakat bersama itu pula biasanya muncul gerakan pengolaan zakat musiman yang selalu mengiringi bulan Ramadhan, yaitu menjamurnya sekelompok masyarakat yang membentuk panitia dadakan (ad hoc). Keberadaan kepanitian itu seraya mendapuk dirinya sebagai amil zakat, yakni satu diantara delapan asnaf (golongan) penerima zakat.

Hampir di setiap masjid maupun mushalla secara serentak akan membentuk kepanitiaan zakat. Bahkan hingga di pelosok-pelosok kampung-kampung masjid maupun mushalla juga menjadikan kepanitian sebagai basis utama tempat pengumpulan zakat, infaq dan sedekah. Hebatnya, kepanitiaan ini bukan saja menerima penyaluran zakat fitrah, namun

juga menerima penyaluran zakat maal. Radius cakupannya juga tidak cukup warga sekitar atau jamaah masjid tempat dimana lokasi mereka berada, tapi secara agresif berusaha mengepakkan sayap menyasar masyarakat muslim secara umum. Bahkan sebagian besar diantaranya berani memasang spanduk di pinggir-pinggir jalan yang isinya mengajak masyarakat muslim untuk menyalurkan zakat, infaq dan sedekah kepada panitia yang dibentuk oleh mushalla atau masjid tersebut. Fenomena seperti ini makin tak terbendung tatkala hal yang mereka lakukan ‘dilindungi’ dan tidak pernah ada aturan yang mengatur mereka, karena dianggap sebagai tradisi yang telah puluhan tahun mengakar, dan dianggap menyalahi peraturan yang telah ada.

Selanjutnya, hal-hal yang terkait dengan pengelolaan zakat berbasis kepanitiaan musiman, akan dijelaskan sebagai berikut:

a. Antara Panitia dan Amil Zakat

Amil dan panitia semestinya dua kata tersebut perlu diperjelas. Karena baik kata amil maupun panitia tentu mempunyai konsekuensi hukum yang berbeda. Dalam literatur fiqih amil adalah orang yang mempunyai kriteria tertentu dan memenuhi persyaratan dalam hal pengumpulan, pengadministasian dan penyaluran zakat. Tugasnya tidak mudah. Karena harus mencatat, mengadministrasikan dan menyalurkan zakat kepada orang yang tepat sesuai yang disebutkan di dalam Al-Qur’an, yakni kepada fakir, miskin, amil, muallaf, riqab, gharim, sabilillah dan ibnu sabil. Oleh karena amil haruslah dipandang sebagai orang yang memiliki kriteria khusus dan tanggung jawabnya berat, maka barulah amil boleh mengambil hak dari zakat yang dikumpulkan itu. Hak yang diperbolehkan untuk diambil oleh amil, sebagian besar ulama mengatakan sebesar atau satu perdelapan bagian atau 12,5%. Dengan asumsi masing-masing bagian dari 8 golongan itu mendapatkan bagian sebesar seperlapan.

Jumlah ini sangat besar. Bahkan lebih besar jika dibandingkan dengan pengelolaan dana di lembaga keuangan, seperti bank, yang hanya mengambil untung sebesar lima persen. Karena jumlah yang besar itulah, maka seorang amil disyaratkan orang yang harus benar-benar menguasai tentang fiqih zakat, memahami tentang manajemen baik penghimpunan maupun penyaluran zakat dan mengetahui tentang pengorganisasian dan pengadministrasian zakat.

Jika seseorang amil tidak amanah dan belum mempunyai bekal keilmuan yang cukup di bidang-bidang terkait lansung dengan zakat, sementara ia sudah mengambil bagian seperdelapan dulu, maka jelas tidak imbang antara kapasitas dan hak yang mereka ambil itu.

Begitu juga akan sangat dikhawatirkan terjadinya penyelewengan dana yang dikumpulannya itu.

Sementara sebuah kepanitiaan zakat, belum tentu mempunyai kriteria yang di persyaratkan di dalam pengumpulan zakat. Panitia tak ubahnya sekelompok orang yang ditunjuk untuk bertanggungjawab atas suatu kerugian (dalam hal pengumpulan zakat).

Mereka hanya ditunjuk oleh pengurus tanpa mempertimbangkan kriteria dan kapasitas sebagai seorang amil yang dipersyaratkan. Mereka bekerja mengumpulkan zakat saat bulan Ramadhan saja (temporer) setelah bulan Ramadhan berlalu maka kepanitiaan ini dengan sendirinya bubar. Tentu sangat sukar mengukur sejauh mana akuntabilitas dan kreditabilitas kepanitiaan semacam ini. Hal ini sangat mengancap terhadap keberadaan mustahik yang semestinya menjadi proiritas utama. Sebab dua hal tersebut sangat mutlak untuk menjadi fondasi utama bagi pengorganisasian zakat. Yang kegiatan utamanya mengumpulkan donasi dari kantong ummat dan menyalurkannya kepada orang-orang yang seharusnya menerima.

Belum lagi pengelolaan zakat ini sangat beririsan dengan nilai-nilai yang bukan saja profan (duniawi) melainkan memiliki dimensi keakhiratan (profektif). Tanggung jawabnya bukan hanya di dunia saja. Tuntutan pertanggungjawaban di akhirat pun akan dimintai.

Jika kepanitian zakat yang ada di masjid-masjid salah dalam pengelolaan, seperti contoh mereka tidak selektif dalam memilih anggota kepanitiaan maka bisa jadi orang-orang yang tidak faham tentang fiqih zakat akan turut serta dilibatkan dalam kepanitiaan, sementara mereka tidak tahu apa-apa tentang bagaimana mengelola zakat. Begitu juga bisa terjadi kurang hati-hatinya panitia dalam menentukan kriteria warga atau msutahik yang berhak menerima zakat. Fenomena ini sangat mengkhawatirkan. Orang yang tidak berhak menerima zakat malah diberi zakat, sedangkan orang yang berhak menerima zakat justru tidak menerima haknya itu.

Di pihak lain sudah cukup banyak organisasi pengelola zakat resmi yang bermunculan dimana-mana bahkan memiliki jejaring di berbagai wilayah. Organisasi pengelola zakat ini ada yang dikukuhkan, adapula yang dibentuk pemerintah. Artinya secara legal formal telah diakui dan disahkan oleh pemerintah keberadaannya. Andai saja zakat yang dikumpulkan oleh kepanitiaan tadi disalurkan melalui lembaga zakat resmi tentu jumlahnya sangat besar. Manfaatnya juga sangat besar. Terutama untuk membantu masyarakat miskin yang jumlahnya saat ini terus bertambah. Mestinya, antara organisasi

pengelola zakat dengan kepanitiaan zakat di masjid bisa bekerja sama dan bersinergi. Di antaranya, dengan mengajukan kepanitiaan sebagai mitranya dalam mengumpulkan zakat.

Dengan mengajukan sebagai mitra, maka kepanitiaan akan mendapatkan pembekalan terlebih dahulu sebelum mereka terjun mengelola zakat. Kepanitiaan akan bekerja sepanjang waktu.

Tidak hanya musiman di bulan Ramadhan saja. Sekaligus mensosialisasikan zakat secara kontinyu kepada masyarakat luas, terutama kepada warga di sekitar masjid berada. Dengan demikian, kesadaran warga akan menunaikan zakatnya tidak hanya muncul di bulan Ramadhan saja, melainkan di bulan-bulan lainnya mereka juga sadar akan zakat yang harus mereka keluarkan. Karena zakat dikeluarkan tiodak hanya di bulan Ramadhan, tapi di bulan lain ketika syarat wajib mengeluarkan zakat sudah terpenuhi, maka seseorang wajib mengeluarkan zakatnya.

Oleh karena itu, antara amil zakat dan panitia zakat Ramadhan, tidak bisa di samakan.

Karena keduanya memiliki kapasitas, fungsi, dan implikasi yang berbeda. Seseorang dapat ditunjuk sebagai panitia zakat tidak harus memiliki kriteria serta kecakapan yang ketat sehingga bisa sembarang orang terlibat. Berbeda dengan amil zakat harus ada syarat-syarat tertentu sebelum seseorang memegang mandat mulia tersebut. Pendapat ini disampaikan oleh Nasrun Haroen. Guru besar Ushul Fikih dan pernah menjabat sebagai Direktur Pemberdayaan Zakat Kementerian Agama ini membedakan antara amil dan panitia zakat.

Panitia zakat bisa sembarang orang tapi amil zakat mempunyai kriteria khusus. “syarat jadi amil itu rumit, dia harus muslim, profesional, akuntabel, dan transparan,” katanya. Selain itu ada dua syarat lainnya yaitu amanah dan jujur. Amanah artinya bahwa harta zakat benar- benar terlindungi sedang jujur mengandung pengertian bahwa zakat tersalur kepada mereka yang berhak.

Pendapat tersebut selaras dengan apa yang di sampaikan Yusuf Qardawi (1997:545) yang menyatakan bahwa amil zakat adalah mereka yang melaksanakan segala kegiatan urusan zakat, mulai dari pengumpul sampai kepada bendahara dan penjaga. Demikian juga mulai dari pencatat, sampai kepada para penghitung yang mencatat keluar masuknya zakat dan membagi kepada para mustahiknya. Ditambahkan oleh Qardawi bahwa mereka hendaknya diangkat oleh pihak Negara dan digaji darinya.

Dalam UU No 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat, yang dipertegas dengan Keputusan Menteri Agama Nomor 581 tahun 1999 sangat jelas disebutkan siapa yang disebut

amil. Ada BAZ (Badan Amil Zakat) ada juga LAZ (Lembaga Amil Zakat). Dengan mengacu pada peraturan ini, maka konsekuensinya, kepanitiaan sebagaimana yang dimaksudkan dalam konteks pengelolaan zakat di Indonesia tidak bisa disebut sebagai amil zakat serta memiliki kesempatanmenjadikan mereka lantas mendapat bagian dari dana zakat yang mereka kumpulkan itu. Apalagi saat ini baik BAZ maupun LAZ sudah dibentuk dan berada di mana-mana.

b. Pemerintah Harus Mengangkat Amil

Sementara pakar tafsir M.Quraish Shihab dalam bukunya Membumikan Al Quran menyebutkan seorang amil haruslah mereka yang diangkat sebagai petugas oleh pemerintah.

Namun pendapat ini, menurut Quraish dilonggarkan oleh beberapa ulama khususnya almuta’akhirin semacam Abu Zahrah. Menurutnya, amil adalah mereka yang bekerja untuk mengelola zakat, menghimpun, menghitung, mencari orang-orang yang butuh (asnaf), serta membagikan kepada mereka. Di sini tidak terlihat adanya syarat pengangkatan Imam.

Namun demikian, Abu Zahrah tidak meniadakannya, tapi melonggarkan, yang terlihat pada pernyataannya : “pada dasarnya zakat dikumpulkan semuanya oleh pemerintah atau yang mewakilinya”

Salah satu bentuk pengorganisasian zakat yang diusulkan dia adalah melalui organisasi kemasyarakatan tetapi yang diwasi oleh pemerintah. Tapi, meski beberapa ulama berpendapat bahwa amil tidak harus diangkat atau ditunjuk penguasa, namun semua ulama sependapat bahwa keterlibatan imam dalam pengelolaan zakat merupakan suatu kebijaksaan yang terpuji. Mengacu pada pendapat Abu Zahrah ini, panitia zakat dapat dikategorikan sebagai amil zakat. Dalam operasionalisasinya, mereka harus diawasi oleh pemerintah.

Pengawasan oleh pemerintah bisa dilakukan oleh pemerintah di tingkat yang paling bawah semacam pemerintah desa. Sementara untuk menjamin ke-amanah-an dan kemampuan amil dalam pengelolaan zakat, mereka harus dipilih oleh orang yang bisa dipercaya. Panitia zakat harus ditunjuk oleh wakil-wakil atau tokoh (ahlul halli wal aqdi) dari seluruh unsur yang ada dalam masyarakat. Sebelum dilakukan penunjukan, kriteria panitia zakat harus ditentukan juga. Agar tidak sembarangorang bisa ikut terlibat dalam kepanitiaan ini.

Proses ini dilakukan untuk menjamin akurasi dan kehati-hatian dalam menunjuk seseorang sebagai panitia zakat di bulan Ramadhan. Jangan sampai zakat jatuh dikelola tangan pihak yang tidak memiliki kapasitas dan kemampuan yang cukup, baik secara fiqih

maupun secara manajemennya. Memang, pada masa awal Islam, para amil diangkat langsung oleh Rasulullah SAW tetapi pada masa pemerintahan Ustman bin Affan, kebijaksanaan pengumpulan zakat diubah. Harta yang dizakati dibagi dalam dua kategori yaitu amwal zhahirah (harta benda yang dapat diketahui jumlah data nilai oleh pengamat, seperti kekayaan yang berbentuk binatang atau tumbuh-tumbuhan) ; dan amwal bathiniyah (harta yang tidak dapat diketahui oleh pemiliknya sendiri) pada masa Nabi SAW, para sahabat menyerahkan amwal bathiniyah itu kepada beliau untuk kemudian beliau serahkan kepada amil agar dibagian sesuai dengan petunjuk agama. Tetpi pada masa Usman, Karena harta kekayaan sedemikian melimpah, dan demi kemaslahatan bersama.

Pendapat lainnya disampaikan Fathurrahman Djamil, Wakil Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah dalam menyikapi panitia zakat ‘Ad Hoc.’ Dia menyoroti kepanitiaan zakat yang muncul di bulan Ramadhan ini umumnya bersifat pasif. Hanya menunggu muzaki yang datang ke masjid dan tidak mau mensosialisasikan secara aktif kepada warga. Guru Besar yang juga menjabat sebagai Ketua STIE Ahmad Dahlan ini bersandar dengan dalil pembukaan surat At-Taubah ayat 103. Dalam makna kata ‘khudz’

yang berarti ‘ambillah’ mengandung arti aktif. Artinya tatkala kepanitiaan hanya Cuma menunggu kedatangan muzaki pada saat Ramadhan hal ini tak dapat dibenarkan.

Bahkan pada masa Rasulullah sendiri dikenal adanya kepanitiaan khusus yang bertugas mengumpulkan dan menyalurkan zakat yang disebut su’at, pemungut zakat. Pada masa itu mereka yang bekerja menjadi su’at adalah orang-orang yang telah mendapatkan mandat dan ‘SK’ secara khusus dari Rasulullah SAW sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan. Jika hal tersebut dijadikan sebagai pedoman maka seyogyanya kepanitiaan musiman yang muncul dalam jangka waktu temporer tersebut mestinya tidak perlu ada.

Memang, jika dilihat dengan menggunakan kacamata fiqih an sich mereka bisa dikategorikan sebagai amil karena telah memenuhi dua unsur fundamental yaitu melakukan kegiatan pemgumpulan dan penyaluran. Tetapi gejala ini tak bisa lama-lama dibiarkan.

Lebih-lebih gejala semacam itu juga mulai merambah bukan saja zakat fitrah namun wilayah zakat mal yang jika dibiarkan tentu sangat berbahaya bagi perkembangan masa depan dunia zakat secara keseluruhan. Karena bisa mempengaruhi kepercayaan masyarakat terhadap amil yang bekerja secara serius. Mula-mula nilainya kecil tetapi lambat laun akan menggelinding besar seperti bola salju yang akan memporak-porandakan tatanan yang sudah ada.

c. Panitia Zakat Amilin Ad Hoc

Pendapat berbeda disampaikan oleh Amin Suma. Guru Besar dan dekan Fakultas Syariah dan Hukum UIN Jakarta ini meminta arif dan realistis dalam menyikapi fenomena amil musiman seraya menekankan tiga hal penting. Pertama dari sisi historis, keberadaan amil musiman itu sudah menjadi kebiasaan bahkan tradisi yang sudah sekian lama berurat akar di tengah masyarakat. Saking lamanya maka sampai-sampai tak tahu pasti kapan pertama kali tradisi seperti itu mulai tumbuh. Sebab pada zaman penjajahan pun kegiatan pengumpulan zakat seperti itu sudah bermunculan dimana-mana.

Kedua, lahirnya UU No 23 Tahun 2011 yang mengatur tentang pengelolaan zakat baru muncul belakangan. Itu artinya sebelum UU tersebut lahir tidak ada regulasi yang mengatur terkait dengan pengelolaan zakat, lebih utamanya terkait dengan ke-amilannya.

Ketiga, problem lain yang paling nyata adalah disatu sisi ada kesadaran yang tumbuh dikalangan ummat Islam bahwa zakat wajib dikeluarkan, tetapi mereka kebingungan untuk menyalurkannya kepada siapa. Maka dari pandangan tersebut bisa diambil benang merah bahwa munculnya amil musiman tersebut lahir karena dua faktor yaitu tuntutan keadaan dan panggilan keagamaan.

Argumentasi syariatnya pun bisa menggunakan berbagai macam kaidah misalnya al- adah muhakkamah, bahwa adat bisa dijadikan sebagai pedoman hukum. Khudzil ‘afwa wa’mur bil ma’ruf. Lebih-lebih budaya di masyarakat kita masih banyak wa’mur bil ma’ruf belum banyak yang melakukan wanha ‘anil munkar dalam hal ini pemerintah. Jika dilarang malah akan banyak menimbulkan konsekwensi dan ekses-ekses negative. Sederhananya kegiatan kepanitiaan ini adalah kreativitas masyarakat. Seyogyanya memang hal semacam ini diberikan perhatian oleh pemerintah. Akan tetapi pada faktanya sebelum munculnya UU Pengelolaan Zakat yang menjadi pada pemerintah adalah melakukan pembiaran. Sehingga masyarakat mencoba untuk melakukan kreasi sendiri yang tentu dengan cara dan metode masing-masing. Jika sudah begitu maka ditinjau dari segi fiqih apa yang dilakukan oleh amil musiman tersebut menjadi sah karena bisa dikategorikan dalam keadaan dharurat.

Karenanya, Amin Suma menegaskan bahwa panitia zakat tetap disebut sebagai alimin, tapi amilin ad hoc (sementara). “Untuk sementara ini panitia zakat di bulan Ramadhan dapat disebut amilin, tapi ad hoc,” tegas Dekan Fakultas Syariah UIN Jakarta.

Hukum semacam ini bisa dianalogikan dengan mengacu pada persoalan pernikahan, sebelumnya lahirnya UU Perkawinan nikah tetap sah. Dengan kata lain praktik pengumpulan zakat amil musiman menjadi sah adanya tentu dengan segala kekurangan dan keterbatasannya. Lalu bagaimana melihat persoalan ini pasca munculnya UU Pengelolaan Zakat? Ternyata dalam UU tersebut tidak secara jelas mengatur persoalan ini. Sebaliknya karena pengumpulan zakat musiman seperti itu juga sebagai sesuatu yang makruf maka seyogyanya jika kelak akan ada peraturan mestinya dianggap sah sampai kemudian ada ada keputusan yang mengatakan bahwa kegiatan semacam itu tidak sah atau ada upaya untuk menata secara baik.” Pengumpulan kegitan zakat sederhana apapun tetap bisa dikategorikan sebagai kegiatan amil. Termasuk tatkala terjadi kegiatan musilamn menjelang Idul Fitri,”

tandas profesor yang juga aktif sebagai Wakil Ketua Komisi Fatwa MUI ini. Dengan begitu orang-orang yang menjadi pegiat dalam kepanitiaan zakat juga berhak mendapat bagian sesuai dengan kategori amil, sebab Islam tak membolehkanad anya perlakuan aniaya. Hanya saja perlu ditegaskan adanya pertanggungjawaban yang jelas.

Dukungan atas pendapat ini juga datang dari Huzaimah Tahido Yanggo. Pakar Fikih perbandingan ini menandaskan pada masa Rasulullah yang disebut amil adalah orang yang mengumpul dan membagikan zakat. “Yang namanya panitia itu kerjanya sama saja dengan amil. Semua urusan yang terkait dengan kegiatan pengumpulan zakat disebut amil. Itu dua sebutan yang memiliki pengertian yang sama. Termasuk yang di kampung-kampung,” papar Direktur Pasca Sarjana Institute Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta ini. Meski demikian Huzaimah memberikan catatan yang cukup penting dalam melihat perkembangan dunia zakat sekarang ini. Sebab pada zaman sekarang ada otang-orang yang bergiat hanya melakukan pengumpulan zakat saja tanpa melakukan distribusi. Begitu pula dengan panitia menurutnya ada dua jenis yaitu panitia yang sudah digaji sebagai mereka tak patuh disejajarkan dengan amil alias tak mendapat bagian zakat. Dalam kategori ini misalnya saja yang terjadi dengan BAZIS DKI Jakarta, para petugas yang melakukan pengumpulan zakat adalah pegawai Pemda yang sudah digaji (PNS). Jika dilakukan di luar jam dinas kerja tentu aka nada hitungan. Tetapi kalau kegiatan tersebut dilakukan pada jam kerja maka akan dianggap sebagai pegawai Pemda. Karena mereka adalah orang-orang yang sengaja ditempatkan di pos tersebut. Kedua, ada kepanitiaan yang memiliki kesamaan derajat dan fungsi dengan amil yaitu orang-orang yang tak mendapat gaji yang bertugas mengumpulkan menyalurkan zakat

sebagai mereka berhak disebut sebagai mustahik. “Panitia yang ada di kampung-kampung sana masuk dalam kategori ini. Tentunya mereka lebih sederhana dalam membentuk panitia,”tegasnya.