BAB VII
B. Strategi Pengembangan Sumber Daya Manusia Amil
Setelah mengerti dan memahami strategi pendayagunaan zakat, strategi berikutnya yang harus dibahas dalam buku ini adalah strategi pengembangan sumber daya manusia
zakat atau amilin. Organisasi pengelola zakat (BAZ dan LAZ) merupakan organisasi yang melibatkan sumber daya manusia yang tidak sedikit karena program yang dicanangkan atau didesain oleh organisasi pengelola zakat biasanya diperuntukan bagi umat atau msayarakat.
Untuk itu, keberhasilan program organisasi pengelola zakat juga akan ditentukan oleh sumber daya manusianya baik secara kuantitas maupun kualitas. Untuk strategi pengembangan sumber daya manusia zakat menjadi salah satu yang diperhatikan dan dilaksanakan secara tepat dan menyeluruh. Pada bagian ini, banyak disarikan oleh tulisan Ahmad Juwaini (2011) berjudul “Strategi Pengembangan Sumber Daya Manusia Zakat Indonesia” yang menyatakan bahwa strategi pengembangan sumber daya manusia diawali dengan bagaimana tantangan dunia perzakatan di masa yang akan datang.
Kita patut bersyukur, bahwa perkembangan zakat di Indonesia, dari waktu ke waktu terus mengalami peningkatan. Sejak masa penjajahan dan masa orde baru, upaya masyarakat muslim untuk mengamalkan syariat zakat terus dilakukan, meskipun dengan cara-cara tradisonal dan lingkupnya sangat terbatas. Dengan adanya Undang-Undang No. 23 tahun 2011, pertumbuhan Organisasi pengelola Zakat (OPZ) mengalami percepatan. Bagai cendawan di musim hujan, di mana-mana berdiri OPZ untuk menyambut dan mengimplementasikan UU terkait zakat tersebut. Bagi OPZ yang sudah berdiri sebelum kelahiran UU, maka berlakunya UU pengelolaan zakat dijadikan sebagai momentum untuk melakukan perbaikan dan peningkatan perannya dalam masyarakat.
Sampai dengan akhir tahun 2011, telah hadir puluhan ribu organisasi, baik besar maupun kecil yang terlibat dalam pengelolaan zakat. Berikut ini adalah data jumlah organisasi yang terlibat dalam pengelolaan zakat di Indonesia :
Tabel 7.1
Organisasi Pengelola Zakat di Indonesia
No Organisasi Jumlah
1 BAZNAS 1
2 BAZDA Provinsi 33
3 BAZDA Kabupaten / kota 434
4 BAZ Kecamatan 4800
5 BAZ Kelurahan 24000
6 LAZNAS 18
No Organisasi Jumlah
7 LAZ Provinsi 16
8 LAZ Kabpaten / kota 31
9 UPZ 8680
Total 38013
Sumber : Depag, FOZ, diolah
Selain OPZ formal seperti tersebut pada tabel di atas, sesungguhnya masih ada ribuan OPZ tidak formal seperti masjid, pesantren, panti asuhan, ormas, majelis taklim, dan lian sebagainya. OPZ tidak formal ini juga turut membantu mewujudkan keberhasilan pengelolaan zakat.
Dari banyaknya OPZ formal yang beroperasi di Indonesia, besarnya penghimpunan dana yang berhasil dikumpulkan ternyata masih jauh dari potensinya. Hasil penelitian PEBS UI & IMZ tahun 2009 menyebutkan bahwa potensi zakat di Indonesia adalah sebesar 15 triliun per tahun, sementara penelitian PBB UIN tahun 2005 menyebutkan bahwa potensi sumbangan masyarakat per tahun adalag 19,3 triliun. Dari potensi sebesar itu, realisasi penghimpunan zakat yang di peroleh OPZ formal pada tahun 2009 hanyalah Rp 1,12 triliun.
Ini menunjukkan bahwa realisasi penerimaan zakat melalui OPZ kurang dari 10 % jika dibandingkan dengan potensinya.
Tabel 7.2
Penghimpunan Dana Zakat Melalui OPZ Tahun 2009
Organisasi Pengelola Zakat Jumlah Dana Dihimpun (rupiah)
BAZ 630,900,046,036.80
BAZNAS 37,173,711,836.00
UPZ BAZNAS 20,756,610,437.95
LAZ 434,227,359,250.00
Total 1,123,057,727,560.75
Sumber : FOZ, Baznas,diolah
Dengan melihat angka potensi dan realisasi, terlihat bahwa lebih dari 90 para wajib zakat (muzakki) di Indonesia yang membayarkan zakatnya langsung kepada mustahik (orang yang berhak menerima zakat). Dari data tersebut juga dapat disimpulkan bahwa masih
banyak potensi zakat yang belum teroptimalkan oleh OPZ formal. Ini bisa menjadi peluang bagi OPZ di masa yang akan datang untuk meningkatkan penghimpunan dana zakat.
Berkaitan dengan SDM zakat, maka kita dapat menghitung jumlah SDM (amil) zakat dengan melakukan proyeksi atas banyaknya jumlah OPZ di Indonesia. jika jumlah OPZ formal di Indonesia adalah sebanyak 38.013, maka dengan mengasumsikan rata-rata setiap OPZ melibatkan 3 orang amil, maka jumlah SDM zakat di Indonesia adalah sebanyak 114.039 orang. Sedangkan apabila kita mengasumsikan bahwa 10% di antara SDM zakat itu adalah amil tetap (full timer), maka jumlahnya adalah sebanyak 11.403 sedangkan sisanya sebanyak 102.636 (part timer) orang adalah amil tidak tetap, yaitu orang-oramg yang mengelola zakat di OPZ, tapi waktu yang digunakan adalah paruh waktu atau sambil mengerjakan tugas lain yang lebih diprioritaskan. Tabel selengkapnya mengenai SDM zakat disajikan berikut ini :
Tabel 7.3
Jumlah Sumber Daya Manusia Zakat di Indonesia Jenis Sumber Daya Manusia Jumlah (orang)
Amil Tetap (Full Timer) 11.403
Amil Tidak Tetap (Part Timer) 102.636
Total 114.039
Sumber : diolah penulis dari berbagai sumber
Amil zakat di Indonesia juga menghadapi permasalahannya sendiri. Beberapa permasalahan SDM zakat di Indonesia antara lain adalah :
1. Minimnya kompetensi yang diakibatkan karena banyak diantara amil zakatitu yang direrut dari anggota masyarakat atau profesional yang tidak memiliki latar belakang pengetahuan atau keahlian tentang pengelolaan zakat sama sekali.
2. Minimnya balas jasa yang diberikan kepada amil zakat tetap yang berakibat daya tawar OPZ terhadap alumni perguruan tinggi yang berkualitas atau profesional potensial menjadi rendah.
3. Minimnya pengembangan kualitas amil yang berakibat tidak seimbangnya antara tantangan permasalahan dan tuntutan pelaksanaan tugas dengan kemampuan amil.
Selanjutnya akan dijelaskan beberapa hal yang terkait dengan strategi pengembangan amil zakat, yaitu:
1. Tantangan Zakat Pada Masa Depan
Jika kita menelaah perkembangan kehidupan saat ini, termasuk juga yang berdampak terhadap pengelolaan zakat, maka ada beberapa tantangan besar yang patut kita cermati dan respon dengan baik, yaitu:
a. Globalisasi
Tak terhindarkan bahwa dari waktu ke waktu arus globalisasi semakin kuat dan menyentuh semua aspek kehidupan kita. Informasi yang menyebar cepat di seluruh dunia, menjadikan setiap lembaga bergerak dan berubah sedemikian cepatnya mengikuti alur perubahan dunia. Setiap peristiwa yang terjadi di sebuah tempat, maka akan segera diketahui dan direspon oleh seluruh penduduk bumi. Ini semua akan menjadikan setiap lembaga zakat dihadapkan oleh warna perubahan dunia yang begitu cepat. Setiap lembaga zakat dituntut untuk memiliki kemampuan respon cepat dalam menyikapi setiap perubahan apapun di dunia.
b. Transparansi
Salah satu arus besar yang berkembang di dunia dan di Indonesia saat ini adalah masalah transparansi. Setiap pejabat publik yang memiliki kekayaan di tuntut untuk transparan terhadap kekayaannya. Setiap perusahaan yang telag go public dituntut untuk transparan atas kinerja perusahaannya. Setiap lembaga yang mengelola dana publik, maka menjadi kewajiban lembaga tersebut untuk transparan kepada masyarakat, khususnya kepada donaturnya. Setiap OPZ harus berusaha untuk transparan dalam pengelolaan dananya.
Transparansi menjadi salah satu syarat penting dari terwujudnya akuntabilitas publik.
c. Digitalisasi
Arus besar yang juga melanda dunia adalah proses digitalisasi, yaitu sebuah dunia yang ditulang punggungi oleh perkembangan teknologi informasi yang sedemikian cepatnya.
Lompatan penemuan teknologi informasi mengakibatkan revolusi perilaku dan budaya masyarakat yang dahsyat. Dampak dari perkembangan teknologi informasi ini mempengaruhi seluruh aspek kehidupan, termasuk dalam pengelolaan zakat. Perusahaan atau lembaga apapun akan ditinggalkan oleh masyarakat, manakala tidak mampu memanfaatkan perkembangan teknologi informasi dalam praktek pengelolaan perusahaan atau lembaganya. OPZ sebagai salah satu entitas yang banyak berhubungan dengan
masyarakat sudah semestinya apabila memanfaatkan teknologi informasi untuk peningkatan kinerja organisasinya.
b. Personalisasi
Semakin banyak masyarakat yang dilayani oleh OPZ, maka cara pelayanan massal semakin banyak dilakukan oleh OPZ. Meskipun cara pelayanan massal yang lebih banyak dilakukan, akan tetapi pola pendekatan personel semakin diperlukan. Setiap orang harus diperlakukan sebagai seseorang yang spesifik dan unik. Pada saat ini, sensitivitas setiap orang (apalagi donatur) untuk diperhatikan dan dilayani secara personel semakin terasa. Menjadi tugas OPZ untuk senantiasa melayani masyarakat dengan sentuhan yang lebih personel.
2. Kompetensi Sumber Daya Manusia Zakat yang Diperlukan
Menghadapi berbagai tantangan yang saat ini dihadapi, maka tersedianya SDM yang memiliki kompetensi mumpuni sangat diperlukan. OPZ harus diisi dengan orang-orang yang memiliki kompetensi memadai dalam menjawab semua tantangan dan permasalahan zakat yang ada saat ini. Adapun kompetensi SDM zakat yang diperlukan saat ini adalah :
a. Berwawasan global, yaitu :
1. Memiliki kemampuan berkomunikasi dalam bahasa asing.
2. Memiliki jaringan (relasi) internasional.
3. Memiliki kemudahan dalam akses informasi, peluang dan aktivitas tingkat internasional.
b. Amanah dan terbuka, yaitu : 1. Disiplin dan memiliki integritas 2. Bertanggungjawab terhadap pekerjaan
3. Senantiasa bersedia dikoreksi dan memperbaiki diri c. Penguasaan fikih zakat kontemporer, yaitu :
1. Memahami dan menguasai perhitungan zakat profesi, zakat perusahaan dan zakat saham.
2. Memahami dan menguasai praktek penggunaan atau berinvestasi dari harta zakat.
3. Memahami dan menguasai cara mendistribusikan dan mendayagunakan dana zakat, termasuk pengertian mustahik (penerima zakat) pada masa kini.
d. Mahir menggunakan perangkat dan piranti multi media, yaitu :
1. Mahir menggunakan PC, Laptop, gadget dan perangkat koneksi internet.
2. Mahir menggunakan aplikasi kantor standar (seperti microsofr office, ubuntu linux, atau macintosh apple).
3. Mahir menggunakan internet, blog, media sosial dan salah satu software yang mampu membantu pekerjaan amil.
e. Kreatif dan inovatif, yaitu :
1. Mampu membuat dan melaksanakan program baru.
2. Mampu berkreasi dalam melakukan promosi dan menggalang sumber daya.
3. Mampu memanfaatkan kesempatan yang ada untuk meningkatkan kinerja.
f. Keterampilan dalam berinteraksi dan melayani masyarakat, yaitu : 4. Kemampuan komunikasi personal dan komunikasi publik.
5. Kemapuan pendekatan dan negosiasi.
6. Kemampuan dalam melayani dan menciptakan relasi yang berkelanjutan.
3. Strategi Pengembangan Sumber Daya Manusia Zakat
Untuk dapat memenuhi kompetensi SDM zakat yang diperlukan, guna menjawab tantangan dan permasalahan yang akan dihadapi, baik pada masa kini, maupun nanti, maka diperlukan serangkaian tindakan dan usaha secara sistematis untuk mengembangkan kualitas SDM zakat Indonesia. Upaya sistematis yang kita lakukan tersebut adalah strategi dalam rangka pengembangan SDM zakat. Adapun strategi pengembangan SDM zakat ini dapat dirinci sebagai berikut :
a. Penyiapan standar kompetensi sumber daya manusia zakat
Dalam rangka menetukan apakah suatu kompetensi amil zakat itu telah dipenuhi oleh seseorang, maka diperlukan suatu standar penilainnya. Standar kompetensi ini akan diberlakukan dan dijadikan sebagai pengukur ujian untuk menilai seseorang telah mencapainya atau belum. Misalnya saja, standar kompetensi itu terdiri atas: (a) standar kompetensi amil dasar, (b) standar kompetensi fundraising, (c) standar kompetensi keuangan, d) standar kompetensi pendayagunaan dan (e) standar kompetensi kepemimpinan.
b. Pengembangan pendidikan bidang zakat di sekolah formal
Untuk mempercepat perluasan sosialisasi zakat, maka sosialisasi dan pengembangan tahapan kompetensi dilakukan melalui sekolah-sekolah formal (dari SD sampai perguruan tinggi). Perlu disiapkan kurikulum terpadu, berjenjang dan terangkai pada setiap level pendidikan. Perlu juga dibuka program studi khusus zakat di perguruan tinggi sebagai alternatif bagi setiap orang yang ingin mendalami dan betul-betul ingin mencapai tingkatan ahli atau mahir dalam pengelolaan zakat. Program studi khusus zakat ini bisa diberikan pada jenjang S1 Atau S2.
c. Pengembangan pelatihan berjenjang bagi Sumber Daya Manusia zakat
Setiap amil yang sudah bergabung di dalam suatu OPZ diharapkan untuk senantiasa mendapatkan pengembangan dalam bentuk pelatihan untuk meningkatkan kualitas keamilannya. Pelatihan ini diberikan secara terus menerus dan berjenjang sehingga senantiasa dapat menyesuaikan dengan tingkat kesulitan pekerjaan yang diperlukannya.
Pelatihan ini dapat dilaksanakan secara in house training ataupun aout house training.
Pelatihan ini juga dapat dilakukan untuk kepentingan satu OPZ saja, atau bersama-sama OPZ lain melalui kerjasama dengan asosiasi (Forum Zakat).
d. Penyelenggaraan seminar dan workshop mengenai isu-isu terkini tentang zakat Penyelenggaraan seminar dan workshop dalam rangka mengembangkan kualitas SDM zakat Indonesia harus senantiasa dilakukan. Seminar dan workshop ini terutama mengambil tema bahasan mengenai isu-isu terkini dari perkembangan zakat. Hal ini dilakukan dalam rangka terus mengembangkan kompetensi terkini dan wawasan teraktual dalam dunia zakat.
e. Penerbitan buku, modul dan bahan bacaan dalam rangka peningkatan kualitas SDM zakat secara massal.
Yang tidak kalah pentingnya adalah dilakukan penerbitan buku, modul (pendidikan atau pelatihan) dan bahan bacaan untuk mempercepat perluasan pemahaman masyarakat dan amil zakat. Bagi siapapun yang memiliki pengetahuan atau keterampilan serta wawasan perkembangan zakat diharapkan untuk menuliskannya menjadi buku, modul dan bahan bacaan yang memudahkan bagi amil zakat lainnya dalam mendapatkan transfer pengetahuan dan keterampilan secara cepat
.
f. Pengiriman sumber daya manusia zakat dalam berbagai event zakat di luar negeri Setiap OPZ diharapkan untuk senantiasa memberikan kesempatan penugasan kepada amilnya untuk melaksanakan kegiatan di luar negeri. Penugasan ke luar negeri ini akan memberikan pengalaman baru dan peningkatan wawasan yang akan mendorong peningkatan kualitas SDM zakat di Indonesia. Bentuk penugasan ke luar negeri ini akan semakin terasa penting, apabila event di luar negeri adalah bentuk pengembangan amil zakat secara langsung, seperti seminar, pelatihan, workshop dan sejenisnya.
g. Sertifikasi kompetensi sumber daya manusia zakat
Setelah semua tahapan pengembangan kompetensi amil tersebut dilalui, maka tahap selanjutnya adalah dilakukan sertifikasi kompetensi SDM zakat Indonesia. siapa saja amil zakat yang telah memenuhi standar kompetensi yang di persyaratkan, maka kepada yang bersangkutan akan diberikan sertifikat kompetensi. Proses sertifikasi kompetensi akan terus mendorong peningkatan kualitas SDM zakat. Tentu saja dalam jangka panjang, secara bertahap standar kompetensi SDM zakat juga akan ditinjau dan diperbaiki dalam rangka mencapai perbaikan secara berkelanjutan.
Dengan segala upaya dan tindakan yang tersebut di atas, maka kita harapkan kualitas SDM zakat akan mencapai kualitas prima, sehinggs dapat diuji dan dibandingkan untuk dapat bersaing dengan amil zakat dari berbagai negara lainnya. Kita pun berharap bahwa pada suatu saat nanti, kualitas SDM zakat Indonesia akan dijadikan sebagai rujukan bagi perbaikan kualitas SDM zakat negara lain.