BAB II KAJIAN PUSTAKA
D. Konsep Budaya Beragama (Religious Culture)
1. Pengertian Budaya Beragama (Religious Culture)
Religious Culture terdiri dari dua kata yakni religious dan culture.
Dalam bahasa Indonesia religious dikenal dengan istilah religius yang
119 Endang Turmudi, Perselingkuhan Kiai Dan Kekuasaan (PT LKiS Pelangi Aksara, 2004), 96.
120 Robby Darwis Nasution, “Kyai Sebagai Agen Perubahan Sosial Dan Perdamaian Dalam Masyarakat Tradisional,” Sosiohumaniora 19, no. 2 (2017): 183.
berarti bersifat religi atau keagamaan atau yang bersangkut paut dengan religi.121
Religius yaitu sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk agama lain.122 Al-Qur’an menggambarkan religius dalam surat Al-Baqarah ayat 208 sebagai berikut.
ٗهَّنِا ِۗن ٰطْي َّشلا ِتٰو ُط ُخ اْو ُعِبَّتَت ا َ ل َّوۖ ًة َّفۤا َ
ك ِم ْ
ل ِ سلا ىِف ا ْو ُ
ل ُخ ْدا اوُن َم ٰ ا َنْي ِذ َّ
لا اَهُّي َ آٰي و ُد َع ْم ُ
ك َ ٌنْيِب ُّم ل
Artinya: Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu.
Dalam Tafsir Jalalin disebutkan bahwa ayat ini diturunkan berkaitan dengan Abdullah bin Salam dan kawan-kawannya tatkala mereka membesarkan hari Sabtu dan membenci unta sesudah masuk Islam. (Hai orang-orang beriman! Masuklah kamu ke dalam agama Islam), ada yang membaca 'salmi' dan ada pula 'silmi' (secara keseluruhan) 'hal' dari Islam artinya ke dalam seluruh syariatnya tanpa kecuali, (dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah) atau jalan-jalan (setan), artinya godaan dan perdayaannya untuk membeda-bedakan,
121 Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam: Upaya Mengefektifkan Pendidikan Agama Islam Di Sekolah (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2008), 288.
122 Anas Salahudin and Irwanto Alkrienciehie, Pendidikan Karakter: Pendidikan Berbasis Agama & Budaya Bangsa (Pustaka Setia, 2013), 54.
(sesungguhnya ia musuhmu yang nyata), artinya jelas permusuhannya terhadapmu.123
Quraish Shihab menyatakan bahwa ayat tersebut adalah pesan kepada kaum beriman agar cenderung berdamai dan jangan menumbuhkan sikap fanatisme yang merupakan karakter masyarakat jahiliyah, dan semisalnya yang memancing timbulnya permusuhan dan perpecahan.124
Quraish Shihab juga menjelaskan bahwa ayat ini merupakan perintah kepada kaum Muslimin untuk mencintai perdamaian.
Peperangan dan permusuhan digambarkan sebagai mengikuti jalan setan. Hidup damai antar sesama Muslim atau dengan kelompok lain menjadi ajaran terpenting Islam. Karenanya peperangan inter dan antar umat sedapat mungkin dihindari.
Muhaimin menjelaskan bahwa kata religius memang tidak selalu identik dengan agama. Kata religuis lebih tepat diterjemahkan sebagai keberagamaan. Keberagamaaan lebih melihat aspek yang di dalam lubuk hati nurani pribadi, sikap personal yang sedikit banyak merupakan misteri bagi orang lain karena menapaskan intimitas jiwa, citra rasa yang mencakup totalitas ke dalam pribadi manusia, bukan pada aspek yang bersifat formal.125
123 Lihat di: https://tafsir.learn-quran.co/id/surat-2-al-baqarah/ayat-208 diakses pada 15 Januari 2022
124 Lihat di: https://tafsiralquran.id/tafsir-surat-al-baqarah-ayat-208-makna-islam-kaffah/
diakses pada 15 Januari 2022
125 Paradigma Pendidikan Islam: Upaya Mengefektifkan Pendidikan Agama Islam Di Sekolah, 288.
Adapun istilah budaya (culture) pada awalnya berasal dari disiplin ilmu antropologi sosial dan memiliki cakupan yang sangat luas. Istilah budaya dapat diartikan sebagai totalitas pola perilaku, kesenian, kepercayaan, kelembagaan dan semua produk lain dari karya dan pemikiran manusia yang mencirikan kondisi suatu masyarakat atau penduduk yang ditransmisikan bersama.126
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), budaya diartikan sebagai pikiran, adat istiadat, sesuatu yang sudah berkembang, sesuatu yang menjadi kebiasaan yang sulit diubah.127 Istilah kebudayaan atau culture dalam bahasa Inggris, berasal dari kata kerja dalam bahasa Latin colere yang berarti bercocoktanam (cultivation) dan bahkan di kalangan penulis pemeluk agama Kristen istilah cultura juga dapat diartikan sebagai ibadah atau sembahyang (worship).
Dalam bahasa Indonesia, kata kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta buddhayah, yaitu bentuk jamak dari kata buddhi (budi atau akal) dan ada kalangannya juga ditafsirkan bahwa kata budaya merupakan perkembangan dari kata majemuk budi-daya yang berarti daya dari budi, yaitu berupa cipta, karsa dan rasa. Karenanya ada juga yang mengartikan bahwa kebudayaan merupakan hasil dari cipta, karsa dan rasa.
126 John P. Kotter and James L. Heskett, Dampak Budaya Perusahaan Terhadap Kinerja/John P. Kotter, James l. Heskett; Alih Bahasa, Benyamin Molan; Penyunting Bahasa, Kosasih Iskandarsyah (Jakarta: Prenhallindo, 1997), 4.
127 Poerwadarminta, “Kamus Besar Bahasa Indonesia,” 149.
Dalam pemakaian sehari-hari, orang biasanya mensinonimkan definisi budaya dengan tradisi. Tradisi dalam hal ini diartikan sebagai ide-ide umum, sikap dan kebiasaan dari masyarakat yang nampak dari perilaku sehari-hari yang menjadi kebiasaan dari kelompok dalam masyarakat tersebut.
Padahal tradisi dan budaya itu berbeda, budaya dapat memasukkan ilmu pengetahuan kedalamnya, sedangkan tradisi tidak dapat memasukkan ilmu pengetahuan ke dalam tradisi tersebut.
Fathurrohman menjelaskan bahwa budaya merupakan suatu kesatuan yang unik dan bukan jumlah dari bagian-bagian suatu kemampuan kreasi manusia yang immaterial, berbentuk kemampuan psikologis seperti ilmu pengetahuan, teknologi, kepercayaan keyakinan, seni dan sebagainya.128
Dengan demikian, Religious Culture atau budaya beragama tidak dapat dipisah kata per kata dalam memahaminya. Dibutuhkan keluasan dan kedalaman pengetahuan, sehingga religious culture dapat diartikan sekumpulan ajaran dan nilai-nilai agama yang melandasi perilaku, kebiasaan keseharian, dan simbol-simbol yang dipraktikkan oleh kepala sekolah, guru, petugas administrasi, siswa, dan masyarakat sekolah.129
Religious Culture atau budaya beragama dalam hal ini memiliki makna yang sama dengan suasana religius atau suasana keagamaan.
128 Muhammad Fathurrohman, Budaya Religius Dalam Peningkatan Mutu Pendidikan (Yogyakarta: Kalimedia, 2015), 44.
129 Asmaun Sahlan, Mewujudkan Budaya Religius Di Sekolah: Upaya Mengembangkan PAI Dari Teori Ke Aksi (UIN-Maliki Press, 2010), 77.
Adapun makna suasana keagamaan menurut Muntasir adalah suasana yang memungkinkan setiap anggota keluarnga beribadah, kontak dengan tuhan dangan cara-cara yang telah ditetapkan agama, dengan suasana tenang, bersih, hikmah. Sarananya adalah selera religius, selera etis, estetis, kebersihan, itikat religious dan ketenagan.130
Namun budaya religius bukan hanya sekedar terciptanya suasana religi, tetapi kegiatan yang biasa diciptakan untuk menginternalisasikan nilai-nilai religius ke dalam diri peserta didik sehingga telah menjadi kebiasaan sehari-hari. Jadi budaya religius harus didasari tumbuhnya kesadaran dalam diri civitas akademika di lokasi penelitian, tidak hanya berdasarkan perintah atau ajakan sesaat saja.131
Budaya beragama di sekolah merupakan cara berfikir dan cara bertindak warga sekolah yang didasarkan atas nilai-nilai religius (keberagamaan). Budaya beragama disekolah merupakan sekumpulan nilai-niai agama yang diterapkan di sekolah, yang meliputi: perilaku, tradisi, kebiasaan, keseharian dan simbol-simbol yang dipraktikkan oleh seluruh warga sekolah, atau perilaku-perilaku juga pembiasaan- pembiasaan yang diterapkan dalam lingkungan sekolah sebagai salah satu usaha untuk menanamkan akhlak mulia dan karakter yang baik pada diri anak.
130 M. Saleh Muntasir, Mencari Evidensi Islam (Jakarta: Rajawali, 1995), 120.
131 Fathurrohman, Budaya Religius Dalam Peningkatan Mutu Pendidikan, 44.
Dengan demikian, budaya religius pada hakikatnya adalah terwujudnya nilai-nilai ajaran agama sebagai kebiasaan dalam berperilaku dan budaya organisasi yang diikuti oleh seluruh warga sekolah. Dengan menjadikan agama sebagai kebiasaan berperilaku dalam kehidupan di sekolah maka secara sadar maupun tidak ketika warga sekolah mengikuti budaya yang telah tertanam tersebut sebenarnya warga sekolah sudah melakukan ajaran agama.