• Tidak ada hasil yang ditemukan

Faktor yang mempengaruhi hasil belajar

BAB II KAJIAN TEORI DAN KERANGKA PIKIR

G. Konsep hasil belajar

3. Faktor yang mempengaruhi hasil belajar

Belajar adalah suatu proses untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Adapun faktor yang mempengaruhi hasil belajar diantaranya yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri siswa, sedangkan faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar diri siswa. Menurut Makmun (2012:158) terdapat beberapa perilaku belajar yang dapat diidentifikasi dari beberapa perubahan, yaitu:

1) Bahwa perubahan intensional, dalam .arti pengalaman atau praktik latihan itu dengan sengaja dan disadari dilakukannya.

dan bukan secara kebetulan; dengan demikian, perubahan karena. kemantapan dan kematangan atau keletihan atau karena penyakit tidak dapat dipandang sebagai perubahan hasil belajar.

2) Bahwa perubahan itu positif, dalam arti sesuai seperti yang diharapkan (normatif) atau kriteria keberhasilan (criteria of success) baik dipandang dari segi siswa (tingkat abilitas dan bakat khususnya, tugas perkembangan dan sebagainya) maupun dari segi guru (tuntutan masyarakat orang dewasa sesuai dengan tingkatan standar kulturnya).

3) Bahwa perubahan itu efektif, dalam arti membawa pengaruh dan makna tertentu bagi pelajar itu (setidak-tidaknya sampai batas waktu tertentu) relatif tetap dan setiap saat diperlukan dapat direproduksi dan dipergunakan seperti dalam pemecahan masalah (problem solving), baik dalam ujian, ulangan dan sebagainya maupun dalam penyesuaian diri dalam kehidupan sehari-hari dalam rangka mempertahankan kelangsungan hidupnya.

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa terdapat dua faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa yaitu faktor internal dan faktor eksternal dimana terdapat dalam diri siswa itu

sendiri seperti Kondisi Kesehatan, sikap, minat dan motivasi.

Sedangkan yang berasal dari luar diri siswa meliputi kondisi lingkungan disekitar siswa baik lingkungan keluarga, masyarakat maupun sekolah.

4. Kaitan antara pembelajaran online Melaui Google Classroom dan Whatsapp terhadap Hasil Belajar

Dalam kasus ini dapat dipaparkan hubungan antara pembelajaran daring melalui google classroom dan Whatsapp. Hasil belajar merupakan perubahan tingkah laku baik pengetahuan, pemahaman, sikap, dan ketrampilan siswa sehingga menjadi lebih baik. Keberhasilan belajar dapat dinyatakan berupa hasil belajar yang diukur, yang kemudian dinyatakan dalam bentuk nilai sebagaimana pencerminan prestasi yang diperoleh seseorang dari pendidikan serta proses belajar yang telah dialami” (Sudjana, 2016:

3). Berdasarkan definisi yang telah di uraikan maka hasil belajar merupakan perubahan tingkah laku baik pengetahuan, pemahaman, sikap dan keterampilan dalam mempelajari materi pelajaran di sekolah yang dinyatakan dalam bentuk nilai.

Google Classroom adalah..layanan berbasis internet yang disediakan sebagai sebuah sistem e-learning. Layanan ini didesain untuk membantu pengajar membuat dan membagikan tugas kepada pelajar secara paperless (Hakim 2016: 2). Pengguna layanan ini harus mempunyai..akun di Google. Google classroom

sendiri bisa kita gunakan di komputer atau laptop. Dengan demikian pembelajaran daring melalui Google Classroom merupakan program penyelenggaraan kelas dalam jaringan dengan menggunakan Google Classroom yang dapat diselenggarakan dimanapun dan dapat memberikan kemudahan untuk.guru dan siswa dalam proses pembelajaran berlangsung. serta memberikan pengalaman belajar yang efektif menuju capaian belajar yang diinginkan.

Whatsapp merupakan sebuah aplikasi perpesanan (messenger) instan dan lintas platform pada smartphone yang memungkinkan pengguna mengirim dan menerima pesan seperti SMS tanpa menggunakan pulsa melainkan koneksi internet.

WhatsApp memiliki basic yang mirip dengan BlackBerry Messenger. Dengan adanya WhatsApp, kita dapat berkirim pesan dengan pengguna lain baik teks, audio, file dokumen, foto dan video. Bukan hanya personal chat saja, tetapi kita juga bisa membuat group chat yang berisi beberapa pengguna WhatsApp lainnya.

Proses pembelajaran daring melalui google classroom mempunyai beberapa tujuan, “Secara umum pembelajaran daring (dalam jaringan) bertujuan memberikan layanan pembelajaran bermutu yang bersifat masif dan terbuka untuk menjangkau audien yang lebih banyak dan lebih luas (Bilfaqih & Qomarudin, 2015: 4).

Melalui Google Classroom tujuan pembelajaran akan lebih mudah direalisasikan dan sarat kebermaknaan, karena dengan Google Classroom akan mempermudah guru dalam mengelola dan menyampaikan informasi secara tepat dan akurat kepada siswa”

(Sabran & Sabara 2019:122). Dengan demikian pembelajaran daring melalui google classroom memiliki tujuan untuk memberikan layanan pembelajaran bermutu yang bersifat masif dan terbuka sehingga dapat memudahkan guru dan siswa dalam proses pembelajaran berlangsung. Selain memiliki tujuan, pembelajaran daring melaui Google Classroom mempunyai fungsi sebagai sarana yang efektif bagi para pelajar dalam mempelajari ilmu tanpa batas.

Berdasarkan uaraian diatas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran online melalui aplikasi Google Classroom siswa dilibatkan secara langsung pada kegiatan belajar untuk dapat meningkatkan kemampuan dan pengetahuannya sehingga dapat mempengaruhi hasil belajar. Hal ini di dukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Agustin (2019:75) yang berjudul “Pengaruh Blended Learning Berbantuan Google Classroom Terhadap Hasil Belajar Siswa SMA Pada Konsep Gerak Lurus” bahwasannya pembelajaran blended learning berbantuan google classroom berpengaruh terhadap hasil belajar siswa. Sama halnya dengan penelitian yang dilakukan Darmawan (2019, hlm. 8) yang berjudul ”Penggunaan Aplikasi Google Classroom Dalam Upaya Meningkatkan Hasil

Belajar Matematika Pada Siswa Kelas X SMA Jurusan IPS”

bahwasanya terdapat peningkatan hasil belajar melalui penggunaan aplikasi Google Classroom.

H. Pembelajaran IPS di SD 1. Pengertian IPS

IPS Merupakan program pendiikan pada tingkat pendidikan dasar dan menengah yang banyak di sorot. IPS lahir dari keinginan para pakar pendidikan, untuk membekali para siswa supaya nantinya mereka mampu menghadapi menangani kompeleksitas kehidupan di masyarakat yang sering kali berkembang secara tidak terduga, kompeleksitas kehidupan yang akan di hadapi oleh siswa itu nantinya bukan hanya kompeleksitas akibta tuntunanperkembangan ilmu dan teknologi, belaka, melainkan juga oleh kompeleksitas kemajemukan masyarakat. Oleh karena itu kajian IPS bukan hanya mengembangkan pengetahuan dan keterampilan yang berhubungan dengan manusia saja, melainkan juga tentang tindakan-tindakan empatik yang melahirkan pengetahuan tersebut.

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa peran guru dalam melakasanakan pembelajaran aktif yang utama adalah fasilitator, motivator, dan evaluator. Sebagai fasilitator guru berperan untuk memfasilitasi dan membantu siswa agar memperoleh keterampilan-keterampilan sesuai tujuan pembelajaran seperti menyampaikan informasi, menggunakan

metode yang tepat, mengadakan sumber belajar yang relevan, dan membimbing siswa mencari kesimpulan. Sebagai motivator, guru berperan untuk memotivasi siswa agar mau belajar dan memberikan bimbingan kepada siswa yang memerlukan. Sebagai evaluator, guru berperan menilai dan mengevaluasi keberhasilan program belajar.

2.

Tujuan Pembelajaran IPS di SD

IPS adalah telaah tentang manusi dan dunia. Manusia selalu hidup bersama dengans esamanya. Mereka harus mampu mengatsi rintangan-rintangan yang mungkin timbul dari sekelilingnya maupun akibat dari hidup bersama. IPS merupakan salah satu wahana pengajaran yang member sumbangan kepada pendidikan social secara positif. Untuk mengkongkretkan tujuan pengajaran IPS, kita ikuti tujuan pendiidkan yang meliputi ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Dalam ranah kognitif, dapatlah dikatakan bahwa hal- hal manusia dan dunianya itu harus dapat di nalar supaya dapat dijadikan sebagai alat pengambilan keputusan yang rasional dan tepat.

Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi dan Kompetensi Lulusan menjelaskan bahwa tujuan pembelajaran IPS, yaitu agar siswa memiliki kemampuan, sebagai berikut.

a. Mengenal konsep-konsep yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat dan lingkungannya.

b. Memiliki kemampuan dasar untuk berpikir logis dan kritis, rasa ingin tahu,inkuiri, memecahkan masalah dan keterampilan dalam kehidupan sosial.

c. Memiliki komitmen, kesadaran terhadap nilai-nilai sosial dan kemanusiaan.

d. Memiliki kemampuan berkomunikasi, bekerjasama, berkompetisi dalam masyarakat yang majemuk di tingkat lokal, nasional dan global.

Berdasarkan pendapat para ahli di atas, peneliti menyimpulkan bahwa IPS memiliki tujuan mempersiapkan siswa agar mampu menghadapi masalah sosial yang berada di lingkungan lokal, nasional dan global, memiliki kemampuan sosial untuk hidup bermasyarakat seperti bekerjasama, berkomunikasi, tanggung jawab dan mengembangkan pengetahuan siswa secara kognitif dalam memecahkan masalah sosial. Tujuan tersebut nantinya akan bermuara pada tujuan utama pembelajaran IPS yaitu untuk mempersiapkan siswa menjadi warga negara yang baik.

I. Penelitian Relevan

Untuk menunjukkan penelitian yang berkaitan dengan penggunaan media pembelajaran online pada Google Classroom dan Whatsaap, maka peneliti menggunakan kajian penelitian yang relevan sebagai berikut;

Tabel 2.1 Penelitian Sebelumnya

No Nama Temuan

1

2

3

4

Suci Pratiwi Agustin

Lina Rihatul Hima

Yuda Darmawan

Hamdani,dkk

1. Terdapat pengaruh pembelajaran blended learning berbantuan google classroom Pengaruh Blended Learning Berbantuan Google Classroom Terhadap Hasil Belajar Siswa SMA Pada Konsep Gerak Lurus.

2. menghasilkan bahwa penerapan pembelajaran bauran (blended learning) ini terbukti dapat meningkatkan motivasi belajar peserta didik dalam mengikuti pembelajaran matematika.

3. Terdapat peningkatan hasil belajar melalui penggunaan aplikasi google classroom terlihat dari peningkatan peresentase hasil belajar siswa dari sebelum tindakan dan setelah Tindakan.

4. Minat Belajar Mahasiswa dengan menggunakan Blended Learning

5

Gunawan Saleh, dkk

melalui Google Classroom pada Pembelajaran Konsep Dasar Bahasa Indonesia. Teknik blended learning juga telah banyak dibuktikan dapat meningkatkan minat belajar siswa.

Pengaruh Media Sosial Instagram dan WhatsApp Terhadap Pembentukan Budaya “Alone Together” Media sosial Instagram dan WhatsApp berpengaruh terhadap pembentukan budaya

“Alone Together” di Universitas Riau.

Penggunaan model pembelajaran media online mampu menciptakan hubungan positif antara model pembelajaran dengan peserta didik, sehingga peserta didik dapat mempelajari materi yang belum dipahami dengan mengakses materi dan bisa bertanya kapan saja dimana saja. Dapat disimpulkan bahwa pembelajaran berbasis online dapat membantu proses pembelajaran di kelas. Guru memiliki waktu banyak untuk memberikan materi kepada peserta didik di waktu yang sama tetapi bisa di tempat yang berbeda.

J. Kerangka Pikir

Pembelajaran IPS di uji bagaimana pembelajaran tidak monoton dengan penjelasan materi yang sebagian besar anak hanya mengerti bukan paham. Kurangnya waktu dalam pemberian materi sehingga pada evaluasi pemberian soal, sebagian siswa tidak memahami apa yang akan diselesaikan dalam soal tersebut. Dalam pembelajaran berbasis dua arah yaitu online dan langsung bermanfaat untuk menambah jam pelajaran diluar kelas. Untuk mencapai tujuan pembelajaran secara maksimal, penyajian materi berbasis digital akan membantu peserta didik mengakses materi dimana pun dan kapan pun serta dapat berbagi ke teman yang lain. Hal ini akan dibuktikan apakah penggunaan media pembelajaran online melalui google classroom dan Whatsapp dapat memberikan perbedaan terhadap minat dan hasil belajar siswa kelas IV SD Islam Khairu Ummah. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dari skema kerangka pikir dibawah ini:

Gambar 2.12 Kerangka Pikir

K. Hipotesis Penelitian

Hipotesis merupakan jawaban sementara dari rumusan penelitian sebagai berikut:

Ho: Tidak terdapat perbedaan minat dan hasil belajar pada pelajaran IPS melalui penggunaan media pembelajaran online siswa kelas IV SD Islam Khairu Ummah Kecamatan Manggala Kota Makassar.

Hi: Terdapat perbedaan minat dan hasil belajar pada pelajaran IPS melalui penggunaan media pembelajaran online siswa kelas IV SD Islam Khairu Ummah Kecamatan Manggala Kota Makassar.

Minat belajar Hasil Belajar

Pelajaran IPS di SD Islam Khairu ummah

Perbedaan Minat dan Hasil Belajar pada pelajaran IPS melalui penggunaan media pembelajaran online siswa kelas IV SD Islam

Khairu Ummah Kecamatan Manggala Kota Makassar

BAB III

METODE PENELITIAN A. Jenis dan Desain Penelitian

1. Jenis Penelitian

Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kuantitatif, dimana metode kuantitatif dinamakan metode tradisional, karena metode ini sudah cukup lama digunakan sehingga sudah mentradisi sebagai metode untuk penelitian.

Sedangkan Jenis penelitian ini adalah quasi eksperimen (eksperimen semu), jenis penelitian ini lebih baik digunakan dibandingkan dengan jenis penelitian pra-eksperimen.

2. Desain Penelitian

Desain penelitian yang digunakan adalah Quasi Eksperimental Design. Dalam desain ini kelompok eksperimen tidak secara random.

Pada kelas eksperimen A akan diberikan perlakuan menggunakan Whatssap, sedangkan untuk kelas eksperimen B diberikan pembelajaran menggunakan aplikasi Google Classroom. Desain penelitian ini hanya menggunakan kelas eksperimen sehingga tidak memerlukan kelompok kontrol. Dapat disajikan pada static group comparison design seperti berikut :

X O1 --- O2

45

Keterangan :

X :Perlakuan pada kelompok eksperimen

O :Pengukuran setelah diberikan perlakuan menggunakn Google Classroom

O2 :Pengukuran setelah diberikan perlakuan menggunakan Whatssap

B. Lokasi dan Waktu penelitian

Penelitian ini dilakukan di SD Islam Khairu Ummah di Kecamatan Manggala kota Makassar pada bulan Mei 2021.

C. Populasi dan sampel penelitian 1. Populasi

Populasi dalam penelitian ini seluruh siswa kelas IV SD Islam Khairu Ummah Kecamatan Manggala Kota Makassar yang terdiri dari 2 kelas yang berjumlah 52 siswa. Teknik sampling dalam penelitian ini adalah sampling jenuh ini termasuk dalam Nonprobability Sampling. Sampling jenuh merupakan teknik pengambilan sampel yang semua anggota populasi digunakan sebagai sampel. Sampel pada penelitian ini yaitu kelas IV SD Islam Khairu Ummah Kecamatan Manggala Kota Makassar. (Nurul Komariah, dkk .2019). Berdasarkan tabel dibawah Jumlah keseluruhan siswa SD Islam Khairu Ummah Kecamatan Manggala Kota Makassar yaitu

Tabel 3.1 SD Islam Khairu Ummah

Berdasarkan pendapat di atas, maka yang menjadi populasi dari penelitian ini adalah seluruh siswa kelas IV SD Islam Khairu Ummah.

2. Sampel

Sampel adalah Sebagian atau wakil dari populasi yang diteliti.

Untuk memperoleh sampel yang repsentatif, maka berdasarkan pendapat Arikunto (2010) bahwa apabila subjeknya kurang dari 100 orang, lebih baik diambil secara keseluruhan. Berhubung karna jumlah populasi berjumlah 52 orang siswa maka semuanya ditarik menjadi sampel.yaitu sebagai berikut:

Tabel 3.2 Sumber Data SD Islam Khairu Ummah

Eksperimen A Eksperimen B

26 siswa 26 siswa

Kelas 1a 29 siswa

Kelas 1b 30 siswa

Kelas 2a 24 siswa

Kelas 2b 23 siswa

Kelas 3 29 siswa

Kelas 4a 26 siswa

Kelas 4b 26 siswa

Kelas 5 29 siswa

Kelas 6 24 siswa

Jumlah 240 siswa

D. Defenisi Operasional Variabel

Variabel penelitian berkenaan dengan apa yang diteliti dalam suatu penelitian. Sugiyono (2017: 38) variabel penelitian pada dasarnya adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari, sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulannya. Terdapat dua macam variabel dalam penelitian ini, yaitu variabel terikat dan variabel bebas.

1. Variable dependen disebut variable terikat sebagai variabel output, kriteria dan konsekuen. Sugiyono (2017: 39) variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel bebas. Dalam penelitian ini yang menjadi variabel terikat yaitu minat belajar dan hasil belajar IPS siswa, disebut sebagai Y.

2. Variabel Independen disebut variabel bebas sebagai stimulus predictor dan antecdent. Sugiyono (2017: 39) variabel bebas merupakan variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen (terikat). Dalam penelitian ini yang menjadi variabel bebas yaitu penggunaan media pembelajaran online disebut sebagai X.

Untuk memperoleh gambaran dalam penelitian ini dianggap perlu untuk mendefinisikan variabel penelitian kedalam bentuk rumusan yang operasional, yang dapat diukur. Variabel yang dimaksud adalah:

1. Media pembelajaran online

Dalam pembelajaran online media pembelajaran sangat dibutuhkan siswa untuk membantu proses belajarnya yang tidak maksimal pada saat di sekolah, Blended Learning dapat didefinisikan sebagai model pembelajaran yang menggabungkan model pembelajaran tradisional (tatap muka) dengan model pembelajaran online (e-learning) dengan aplikasi Google Classroom dan Whatsaap. Oleh karena itu penulis akan menanyakan pada responden tentang metode pembelajaran online yang menggunakan google classroom dan Whatssap.

2. Minat belajar

Minat belajar merupakan sebuah perhatian, ketertarikan, kesenangan, keinginan dalam hati yang tidak disengaja yang sifatnya membangun untuk menerima sesuatu yang disampaikan dari luar (lingkungan). Oleh karena itu penulis akan menanyakan pada responden tentang minat belajar siswa terhadap penerapan media pembelajaran online dengan menggunakan google classroom dan whatsapp.

3. Hasil belajar

Menurut Sudjana (2016:3) “Hasil belajar merupakan perubahan tingkah laku baik pengetahuan, pemahaman, sikap, dan ketrampilan siswa sehingga menjadi lebih baik setelah mengikuti pembelajaran dengan mengunakan media pembelajaran yang

menggabungkan antara pembelajaran tatap muka dengan pembelajaran online.

E. Variabel penelitian

Variabel adalah konsep yang mempunyai bermacam-macam nilai berdasarkan defenisi variabel, maka yang menjadi variabel dalam penelitian ini adalah media pembelajaran online dengan menggunakan Google Classroom dan Whatssap (X), minat belajar (Y1), dan hasil belajar (Y2).

F. Instrumen Penelitian

Instrumen pembelajaran yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) menggunakan kurikulum 2013 sesuai dengan kurikulum yang digunakan oleh SD Islam Khairu Ummah.

1. Instrumen Tes Tertulis (Penilaian)

Penilaian kemampuan pemahaman atau hasil belajar siswa dilakukan dengan menggunakan posttest. posttest digunakan untuk mengetahui adanya peningkatan hasil belajar siswa setelah melalui proses pembelajaran. Soal posttest masing-masing terdiri dari 5 soal.

2. Instrumen Angket

Angket adalah kegiatan pengumpulan data berupa pertanyaan yang telah diisi oleh responden untuk memperoleh informasi yang ingin diketahui (Suparno, 2014). Dalam penelitian ini angket yang digunakan adalah jenis angket tertutup dan terbuka.

Pada angket tertutup siswa bebas memberikan jawaban sesuai dengan dirinya, sesuai dengan kategori yang telah ditentukan. Yang akan diukur dengan menggunakan angket ini adalah respon siswa setelah menggunakan pembelajaran yang menggabungkan antara pembelajaran online dan tatap muka dalam keterlibatan siswa selama proses pembelajaran.

Kategori penilaian yang digunakan dalam angket tertutup penelitian ini terbagi menjadi 4 kategori, yaitu sangat setuju (SS), setuju (S), tidak setuju (TS), dan sangat tidak setuju (STS). Dengan nilai skor sebagai berikut:

Tabel 3.3 Kategori skor pada angket tertutup

Tabel 3.4 Kategori Persentase tanggapan siswa

3. Validasi Instrumen Penelitian

Validitas dilakukan untuk mengukur atau menentukan apakah suatu instrumen yang digunakan sungguh mengukur apa yang mau

Kategori Skor

Positif Negatif

Sangat Setuju 4 1

Setuju 3 2

Tidak Setuju 2 3

Sangat Tidak Setuju 1 4

Persentase Kategori 0% - 20% Sangat Rendah

21% - 40% Rendah

41% - 60% Sedang

61% - 80% Tinggi

81% - 100% Sangat Tinggi

diukur, yaitu apakah sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan (Suparno, 2014). Kesimpulannya valid bila sesuai dengan tujuan penelitian. Terdapat 3 macam validitas, yaitu content validity (validitas isi), criterion-related evidence of validity, construct-related evidence.

Penelitian ini menggunakan validitas isi (content validity).

Validitas isi digunakan untuk mengukur apakah isi dari instrumen yang akan digunakan sungguh mengukur isi dari domain yang mau diukur. Apakah item tes sungguh mempresentasikan isi yang mau dites (Suparno, 2014).

Menurut Suparno (2014: 66) untuk melihat apakah tes kita valid secara isi dapat ditentukan minimal dengan dua cara, yaitu:

1) Dengan minta penilaian ahli, apakah tes itu sungguh sesuai dengan isi yang mau dites.

2) Dengan menggunakan kisi-kisi yang menunjukkan bahwa instrumen itu memang memuat semua isi yang mau dites, bukan hanya sebagian saja.

Dengan demikian instrumen yang akan divaliditasi adalah instrumen dalam bentuk soal pretest dan posttest serta angket, yang akan diberikan pada siswa.

G. Teknik pengumpulan data

Teknik pengumpulan data pada penelitian ini bisa di lakukan dengan berbagai cara sebagai berikut;

a. Observasi

Observasi adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara melihat langsung ke lapangan terhadap objek yang diteliti (populasi atau sampel). Teknik ini dilakukan peneliti menggunakan indra penglihatan secara langsung.

b. Dokumentasi

Dokumentasi merupakan suatu teknik pengumpulan data dengan menghimpun dan menganalisis dokumen, berupa dokumen tertulis, gambar, maupun elektronik untuk memperkuat data penelitian. Teknik ini digunakan dalam penelitian untuk mengetahui nilai hasil belajar siswa dan memperoleh gambar/foto peristiwa saat kegiatan penelitian berlangsung.

c. Angket

Angket atau kusioner merupakan Teknik pengumpulan data yang dilakukan denngan cara memberikan beberapa pertanyaan mengenai karakteristik dan variabel yang diteliti. Pertanyaan untuk variabel yang diteliti disajikan dalam bentuk pertanyaan yang disusun dalam bentuk yang lebih mudah dipahami, menggunakan skala likert 1-4. Formulasi skala likert dirancang agar memungkinkan responden memberikan jawaban secara lebih leluasa menurut

kondisi yang disarankan dan dialami oleh masing-masing responden (Bachri, 2007 dalam nurnaningsih 2009).

Tingkatan penilaian jawaban melalui prosedur pemberian skala, jika responden mendukung pernyataan tersebut maka responden akan memberikan jawaban pada skor yang lebih tinggi dengan kriteria, sangat setuju (SS) , setuju (S), Tidak setuju (TS), Sangat tidak setuju (STJ). Dengan niai skort sebagai berikut:

Tabel 3.5 Kategori skor pada angket

d. Tes

Dengan memberikan tes tertulis kepada siswa dapat mengetahui dan melihat hasil belajar siswa yang di peroleh dengan mengikuti pembelajaran IPS tentang peristiwa dalam kehidupan.

Adapun bentuk tes tersebut untuk mengukur kemampuan siswa berupa essay.

H. Teknik analisis data

Adapun teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu sebagai berikut

Kategori Skor

Sangat setuju 4

Setuju 3

Tidak setuju 2

Sangat tidak setuju 1

1. Analisis Statistik Deskriptif

Pada analisis deskriptif data yang diolah yaitu data posttest, dimana analisis deskriptif digunakan untuk memberikan gambaran tentang skor pengetahuan pada mata pelajaran IPS siswa yang diperoleh berupa skor tertinggi, skor terendah, skor rata-rata (mean) dan standar deviasi yang bertujuan untuk mengetahui gambaran umum tentang perbandingan hasil belajar yang diajar dengan media pembelajaran online menggunakan google classroom dengan aplikasi whatssap. biasa dengan langkah-langkah sebagai berikut:

a. Ukuran Tendensi Central

1) Membuat tabel distribusi frekuensi 2) Mean (nilai rata-rata)

X̅ = ∑ − fi xi fi

Keterangan : 𝑋̅ : Rata-rata

𝑓𝑖 : Frekuensi

∑ 𝑓𝑖 𝑋𝒊 : Jumlah seluruh data

3) Simpangan Baku atau Standar Deviasi (Sd)

Standar deviasi atau simpangan baku adalah nilai yang menunjukkan tingkat variasi kelompok data atau ukuran standar penyimpangan dari nilai rata-ratanya.

𝑠𝑑 =

√∑ fi (Xi − X̅)2 n − 1

Dokumen terkait