BAB 2 IDENTITAS NASIONAL
A. Pengertian Identitas Nasional
Perubahan-perubahan dalam berbagai bidang yang terjadi sebagai akibat adanya proses globalisasi serta adanya krisis ekonomi yang terja- di di akhir abad ke-20 telah menumbuhkan kesadaran negara-negara, termasuk Indonesia untuk membangun dan memperkuat kembali identitas nasional masing-masing. Identitas nasional merupakan kon- sep yang bersifat dinamis dan dalam proses menjadi, selalu menyesuai- kan dengan perubahan sosial tingkat lokal, nasional, maupun global.
Penyegaran dan penguatan identitas nasional sebuah negara dan bang- sa tetap dilakukan, dengan tetap menghormati dan menghargai iden- titas nasional negara lain. Penyegaran identitas nasional adalah peng- ungkapan unsur-unsur positif yang mendukung kiprah sebuah bangsa di tengah pergaulan internasional1, bukan untuk mengembangkan na- sionalisme sempit (chauvinisme). Hal ini berlandaskan pada sebuah pemahaman, bahwa tidak ada satu bangsa pun di dunia ini yang dapat maju tanpa kerja sama dengan bangsa-bangsa lain.
Identitas nasional sebagai sebuah istilah dibentuk dari dua kata ya- itu “identitas” dan “nasional”2. Identitas dipahami sebagai ciri, tanda, atau jati diri3 yang melekat pada seseorang yang membedakannya de- ngan orang lain4. Nasional dalam konteks ini dapat dipahami sebagai
“kebangsaan”. Kata ini melekat pada kelompok-kelompok yang lebih besar yang diikat oleh kesamaan-kesamaan, baik fisik seperti budaya, agama, bahasa maupun non fisik seperti keinginan, cita-cita dan tu- juan. Berdasarkan arti dua kata yang menyusun tersebut, identitas na- sional diartikan sebagai “jati diri” atau “kepribadian nasional”5. Iden- titas nasional melahirkan tindakan kelompok (collective action yang di-
1 Chamim, hal. 92.
2 A Rozak, W Sayuti, dan M. A Salim GP, Pendidikan Kewargaan (Civic Education):
Demokrasi, Hak Asasi Manusia, dan Masyarakat Madani (Jakarta: Kerjasama ICCE UIN Syarif Hidayatullah dengan Prenada Media, 2005), hal. 23.
3 Chamim, hal. 92.
4 Rozak, Sayuti, dan Salim GP, hal. 23.
5 Chamim, hal. 93; Rozak, Sayuti, dan Salim GP.
beri atribut nasional) yang diwujudkan dalam bentuk-bentuk organi- sasi atau pergerakan-pergerakan yang diberi atribut-atribut nasional6.
Pada hakikatnya identitas nasional adalah manifestasi nilai-nilai budaya yang tumbuh dan berkembang dalam aspek kehidupan satu bangsa (nation) dengan ciri khas masing-masing. Ciri-ciri khas setiap bangsa berbeda, karena kehidupannya juga berbeda7. Ciri khas terse- but pada umumnya terdapat dalam nilai-nilai budaya bangsa. Nilai- nilai budaya yang menjadi ciri khas tersebut bukanlah barang jadi yang sudah selesai, yang bersifat tetap dan dogmatis, melainkan sesua- tu yang terbuka yang cenderung dinamis terus menerus, sesuai dengan kemajuan yang terjadi dalam masyarakat. Implikasinya adalah identi- tas nasional merupakan sesuatu yang terbuka untuk diberi makna ba- ru agar tetap relevan dan fungsional dalam kondisi aktual yang ber- kembang dalam masyarakat. Artinya, bahwa identitas nasional meru- pakan konsep yang terus menerus direkonstruksi atau dekonstruksi tergantung dari jalannya sejarah.
Secara terminologi, istilah identitas nasional adalah ciri-ciri yang dimiliki oleh suatu bangsa, yang membedakan bangsa tersebut dengan bangsa lainnya. Dengan demikian setiap bangsa memiliki identitas sendiri-sendiri sesuai dengan keunikan, sifat, ciri-ciri serta karakter da- ri bangsa tersebut. Identitas nasional juga ditentukan oleh proses bangsa tersebut terbentuk secara historis. Berdasarkan hakikat identi- tas nasional sebagaimana dijelaskan di atas, maka identitas nasional suatu bangsa tidak dapat dipisahkan dengan jati diri suatu bangsa atau yang lebih popular disebut sebagai kepribadian suatu bangsa.
1. Faktor pendukung kelahiran identitas nasional
Identitas nasional suatu bangsa yang di dalamnya memuat sifat, ciri khas, serta keunikan masing-masing, kelahirannya ditentukan oleh beberapa faktor. Faktor yang mendukung kelahiran identitas
6 Rozak, Sayuti, dan Salim GP, hal. 25.
7 Kaelan dan Ahmad Zubaidi, Pendidikan kewarganegaraan untuk perguruan tinggi (Yogyakarta: Paradigma, 2016).
nasional bangsa Indonesia meliputi faktor objektif dan faktor sub- jektif.
a. Faktor objektif, meliputi faktor geografis-ekologis dan demo- grafis. Kondisi geografis-ekologis membentuk Indonesia sebagai wilayah kepulauan yang beriklim tropis dan terletak di persim- pangan jalan komunikasi antara wilayah dunia Asia Tenggara, memiliki andil mempengaruhi perkembangan kehidupan de- mografis, ekonomis, sosial dan kultural bangsa Indonesia.
b. Faktor subjektif, yaitu faktor historis, sosial, politik, dan kebu- dayaan yang dimiliki bangsa Indonesia8. Faktor historis Indone- sia (pengalaman perjuangan melawan penjajah, pengalaman mempertahankan kemerdekaan, pengalaman masa kerajaan) ju- ga mempengaruhi proses pembentukan masyarakat dan bangsa Indonesia beserta identitasnya, melalui interaksi berbagai faktor yang ada di dalamnya. Hasil interaksi berbagai faktor tersebut melahirkan proses pembentukan masyarakat, bangsa dan nega- ra, beserta identitas bangsa Indonesia yang muncul pada saat na- sionalisme berkembang di Indonesia awal abad ke-21.
Robert de Ventos mengemukakan teori tentang munculnya identitas nasional suatu bangsa sebagai hasil interaksi antara empat faktor penting, yaitu factor primer, faktor pendorong, faktor pena- rik, dan faktor reaktif9.
a. Faktor primer
Faktor ini mencakup etnisitas, teritorial, bahasa, agama dan yang sejenisnya. Bangsa Indonesia tersusun atas berbagai ma- cam etnis, bahasa, agama wilayah serta bahasa daerah. Semua itu, merupakan suatu kesatuan meskipun berbeda-beda dengan kekhasan masing-masing. Beraneka ragam unsur dengan ciri
8 Manuel Casstells, The Power of identity: The information ages: Economy, society, and culture (Amerika Serikat: Blackwell Publishing Ltd, 1997).
9 Casstells.
khasnya masing-masing tersebut menyatukan diri dalam suatu persekutuan hidup bersama yaitu bangsa Indonesia. Kesatuan tersebut tetap menghormati keberanekaragaman, dan hal inilah yang dikenal dengan Bhinneka Tunggal Ika.
b. Faktor pendorong
Faktor pendorong terdiri dari pembangunan komunikasi dan teknologi, lahirnya angkatan bersenjata modern dan pemba- ngunan lainnya dalam kehidupan negara. Dalam konteks ini, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta pembangunan negara dan bangsanya juga merupakan suatu identitas nasional yang bersifat dinamis. Oleh karena itu bangsa Indonesia, dalam proses pembentukan identitas nasional yang dinamis ini sangat ditentukan oleh tingkat kemampuan dan prestasi bangsa Indo- nesia dalam membangun bangsa dan kesatuan bangsa, serta ada- nya langkah yang sama dalam memajukan bangsa dan negara Indonesia.
c. Faktor penarik
Faktor ini terdiri dari kodifikasi bahasa dalam gramatika yang resmi, tumbuhnya birokrasi, dan pemantapan sistem pendidik- an nasional. Bagi bangsa Indonesia, Bahasa Indonesia merupa- kan bahasa persatuan dan kesatuan nasional, sekaligus merupa- kan bahasa resmi negara dan bangsa Indonesia. Bahasa Melayu telah dipilih sebagai bahasa antar etnis di Indonesia. Meskipun masing-masing etnis atau daerah di Indonesia telah memiliki bahasa daerah masing-masing, namun Bahasa Indonesia mam- pu mempersatukan bangsa Indonesia dan memberikan ciri khas bangsa Indonesia. Dalam hal birokrasi dan pendidikan nasional, sampai saat ini Bahasa Indonesia masih terus diupayakan untuk dikembangkan kualitasnya, sehingga mampu memberikan ke- khasan bagi bangsa Indonesia.
d. Faktor reaktif
Faktor ini meliputi penindasan, dominasi, dan pencarian iden- titas alternatif melalui memori kolektif rakyat. Memori kolektif rakyat Indonesia sangat kuat karena adanya pengalaman selama tiga setengah abad melawan kaum penjajah. Penderitaan, dan kesengsaraan hidup serta semangat bersama dalam memperju- angkan kemerdekaan merupakan faktor yang sangat strategis dalam membentuk memori kolektif rakyat. Semangat perjuang- an, pengorbanan, menegakkan kebenaran merupakan identitas untuk memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa dan negara Indonesia.
Keempat faktor tersebut tercakup dalam proses pembentukan identitas nasional Indonesia, yang telah berkembang dari masa se- belum bangsa Indonesia mencapai kemerdekaan dari penjajahan bangsa lain. Pencarian identitas nasional Indonesia pada dasarnya melekat erat dengan perjuangan bangsa Indonesia untuk memba- ngun bangsa dan negara dengan konsep nama Indonesia. Bangsa dan negara Indonesia ini dibangun dari unsur-unsur masyarakat la- ma dan dibangun menjadi satu kesatuan bangsa dan negara dengan prinsip nasionalisme modern. Oleh karena itu pembentukan iden- titas nasional Indonesia melekat erat dengan unsur-unsur lainnya seperti sosial, ekonomi, budaya, etnis, agama serta geografis, yang saling berkaitan dan terbentuk melalui suatu proses yang cukup panjang.
2. Identitas Nasional Indonesia
HAR Tilaar menyatakan bahwa identitas nasional sebagai sesua- tu yang ditransmisikan dari masa lalu dan dirasakan sebagai pemi- likan bersama, sehingga kelihatan di dalam keseharian tingkah laku
seseorang dalam komunitasnya10. Identitas nasional bersifat buatan dan sekunder. Bersifat buatan karena identitas nasional itu dibuat, dibentuk dan disepakati oleh warga bangsa sebagai identitasnya se- telah mereka bernegara. Sedangkan bersifat sekunder karena iden- titas nasional lahir setelah berkembangnya kesukubangsaan yang memang telah dimiliki warga bangsa jauh sebelum bangsa Indone- sia memiliki identitas nasional.
Proses pembentukan identitas nasional umumnya membutuh- kan waktu perjuangan panjang di antara warga bangsa-negara yang bersangkutan. Hal ini disebabkan identitas nasional adalah hasil kesepakatan masyarakat bangsa itu. Dapat terjadi sekelompok war- ga bangsa tidak setuju degan identitas nasional yang hendak diaju- kan oleh kelompok bangsa lainnya. Setiap kelompok bangsa di da- lam negara, umumnya menginginkan identitasnya dijadikan atau diangkat sebagai identitas nasional yang belum tentu dapat diteri- ma oleh kelompok bangsa lain. Inilah yang menyebabkan sebuah negara-bangsa yang baru merdeka mengalami pertikaian internal yang berlarut-larut demi untuk saling mengangkat identitas kesu- kubangsaan menjadi identitas nasional. Setelah bangsa Indonesia bernegara, mulai dibentuk dan disepakati apa yang dapat menjadi identitas nasional Indonesia. Bangsa Indonesia relatif berhasil da- lam membentuk identitas nasionalnya, kecuali pada saat proses pembentukan ideologi Pancasila sebagai identitas nasional yang membutuhkan perjuangan dan pengorbanan di antara warga bang- sa.
Unsur-unsur identitas nasional adalah suku bangsa, agama, ke- budayaan, dan bahasa. Pertama, suku bangsa yaitu golongan sosial yang khusus yang keberadaannya sejak lahir (bersifat askriptif). Di Indonesia terdapat banyak sekali suku bangsa atau kelompok etnis dengan tidak kurang 300 dialek bahasa. Kedua, bangsa Indonesia
10 HAR Tilaar, Mengindonesia Etnisitas dan Identitas Bangsa Indonesia: Tinjauan dari Perspektif Ilmu Pendidikan (Jakarta: Rineka Cipta, 2007), hal. 27.
dikenal sebagai masyarakat yang agamis. Agama yang tumbuh dan berkembang di Indonesia adalah agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Kong Hu Cu. Agama Kong Hu Cu resmi di- akui sejak pemerintahan Presiden KH Abdurrahman Wahid. Pada masa itu pula istilah agama resmi negara dihapuskan. Ketiga, kebu- dayaan adalah pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial, yang berisi perangkat-perangkat atau model-model pengetahuan yang digunakan manusia untuk menafsirkan dan memahami lingkung- an, serta sebagai pedoman dalam bertindak. Keempat, bahasa dipa- hami sebagai sistem perlambang yang dibentuk atas unsur-unsur bunyi ucapan manusia dan yang digunakan sebagai sarana berinte- raksi antar manusia.
Berdasarkan unsur-unsur identitas nasional tersebut dapat diru- muskan pembagiannya menjadi tiga bagian sebagai berikut:
a. Identitas fundamental, yaitu Pancasila yang merupakan falsafah bangsa, dasar negara, dan ideologi bangsa.
b. Identitas instrumental, yang berisi UUD 1945 dan tata perun- dangannya, bahasa Indonesia, lambang negara, bendera negara, dan lagu kebangsaan “Indonesia Raya”.
c. Identitas alamiah, yang meliputi negara kepulauan (archipelago) dan pluralisme dalam suku, bahasa, budaya, serta agama dan ke- percayaan.
Secara lebih rinci beberapa bentuk identitas nasional Indonesia adalah sebagai berikut:
a. Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional atau bahasa persatuan.
Bahasa Indonesia berawal dari rumpun bahasa Melayu yang di- pergunakan sebagai bahasa pergaulan yang kemudian diangkat sebagai bahasa persatuan pada tanggal 28 Oktober 1928. Bang- sa Indonesia sepakat bahwa Bahasa Indonesia merupakan baha- sa nasional sekaligus sebagai identitas nasional Indonesia.
b. Sang Merah Putih sebagai bendera negara. Warna merah berarti berani dan putih berarti suci. Lambang merah putih sudah dike- nal pada masa kerajaan di Indonesia yang kemudian diangkat sebagai bendera negara. Sang merah putih dikibarkan pertama kali pada tanggal 17 Agustus 1945, dan telah ditunjukkan pada peristiwa Sumpah Pemuda tahun 1928.
c. Indonesia Raya sebagai lagu kebangsaan Indonesia. Lagu Indo- nesia Raya pertama kali dinyanyikan pada tanggal 28 Oktober 1928 dalam Kongres Pemuda II.
d. Burung Garuda yang merupakan burung khas Indonesia dijadi- kan sebagai lambang negara.
e. Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan negara yang berarti berbeda-beda tetapi satu jua. Menunjukkan kenyataan bahwa bangsa Indonesia heterogen, tetapi tetap berkeinginan untuk menjadi satu bangsa, yaitu bangsa Indonesia.
f. Pancasila sebagai dasar falsafat negara yang berisi lima dasar yang dijadikan sebagai dasar filsafat dan ideologi bangsa Indo- nesia. Pancasila merupakan identitas nasional yang berkedu- dukan sebagai dasar negara dan pandangan hidup (ideologi) bangsa.
g. UUD 1945 sebagai konstitusi (hukum dasar) negara. UUD 1945 merupakan hukum dasar tertulis yang menduduki ting- katan tertinggi dalam tata urutan peraturan perundangan dan dijadikan sebagai pedoman penyelenggaraan bernegara.
h. Bentuk negara adalah Kesatuan Republik Indonesia yang berke- daulatan rakyat. Bentuk negara adalah kesatuan, sedang bentuk pemerintahan adalah republik. Sistem politik yang digunakan adalah sistem demokrasi (kedaulatan rakyat). Saat ini identitas negara kesatuan disepakati untuk tidak dilakukan perubahan.
i. Konsepsi wawasan nusantara sebagai cara pandang bangsa Indo- nesia mengenai diri dan lingkungan yang serba beragam dan memiliki nilai strategis dengan mengutamakan persatuan dan
kesatuan bangsa, serta kesatuan wilayah dalam penyelenggaraan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara untuk mencapai tujuan nasional.
j. Kebudayaan nasional sebagai puncak-puncak dari kebudayaan daerah. Kebudayaan daerah diterima sebagai kebudayaan nasio- nal. Berbagai kebudayaan dari kelompok-kelompok bangsa di Indonesia yang memiliki cita rasa tinggi, dapat dinikmati dan diterima oleh masyarakat luas sebagai kebudayaan nasional. In- donesia yang memiliki cita rasa tinggi, dapat dinikmati dan dite- rima oleh masyarakat luas sebagai kebudayaan nasional.