A. Latar Belakang
2. Pengertian Moral menurut Emile Durkheim dan Lawrence Kohlberg
Moralitas, bagi Durkheim, dibagi ke dalam tiga komponen.
Pertama, moralitas melibatkan disiplin, yaitu proses moralisasi anak melalui disiplin kolektif. Anak harus diajarkan untuk menerima nilai- nilai dominan dari masyarakatnya supaya ia menyesuaikan dirinya sendiri dan demi kelangsungan hidup masyarakatnya. Disiplin adalah masyarakat yang dilihat sebagai sesuatu yang menuntut anak. Kedua, moralitas menghendaki keterikatan dengan masyarakat karena masyarakat adalah sumber moralitas. Moralitas ini menghendaki ketulusan terhadap kelompok sosial dan kerelaan pada kelompok yang bukan berdasarkan pada kewajiban eksternal. Keterikatan adalah
19 The World Book Encyclopedia, Vol.13, Moral Education, World Book, Inc., 2001, hal. 799-800
60 | Teknologi Informasi dan Komunikasi
masyarakat yang dilihat sebagai bagian dari diri anak. Moralitas disiplin dan keterikatan saling mendukung dan menyempurnakan satu sama lain karena keduanya merupakan aspek yang berbeda dalam masyarakat.
Ketiga, melibatkan otonomi, suatu konsep tentang individu yang bertanggung jawab atas tindakan mereka. Konsep ini ingin berbicara mengenai sekelompok manusia yang mempunyai alat fisik berupa ilmu pengetahuan sebagai ide yang bersifat ilmiah sehingga dunia tidak lagi berada di luar diri mereka dalam mempelajari hubungan manusia dengan dunianya.20
Lawrence Kohlberg, seorang psikolog klinis menyetujui apa yang dipikirkan oleh Emile Durkheim. Ia menandaskan, bahwa itulah yang merupakan dasar pemikiran yang konsisten secara logis bagi pendidikan moral yang diadakan secara sengaja atas dasar relativitas budaya dan historis dari nilai-nilai moral. Kohlberg menegaskan arti dari kehidupan sosial berdasarkan struktur-struktur mentalnya sendiri yang secara berangsur-angsur muncul dari diri anak sebagai tahap dalam interaksi organisme dengan lingkungannya. Anak yang sedang bertumbuh dilatih untuk berperilaku dalam cara yang sedemikian rupa sehingga ia menyesuaikan diri dengan aturan-aturan dan nilai masyarakat.21 Pernyataan di atas diperjelas di dalam buku Human Development:
Another way to explain the development of conscience is to say that children learn the moral values of their culture principally by identifying with or modeling themselves after their own parents.22
20Pengertian tersebut diambil dari subjudul “Moralitas” di dalam buku Teori Sosiologi karya George Ritzer terbitan tahun 2008, hal.113.
21 Kohlberg, Lawrence, Tahap-tahap Perkembangan Moral, Kanisius, 1995, hal. 125.
22Papalia, Diane E. and Olds, Sally Wendkos, Human Development, p.268.
Teknologi Informasi dan Komunikasi | 61 Ada 3 tingkat perkembangan moral dari Lawrence Kohlberg, yaitu:23
1. Premoral (usia 4 – 10 tahun) : yang mengontrol adalah orang lain dengan menghindari hukuman atau dengan memberikan reward.
Tahap ini terdiri dari:
a. Tahap 1 : Punisment and Obedience Orientation: What will happen to me? Anak menjalankan aturan-aturan untuk menghindari hukuman.
b. Tahap 2 : Naive Instrumental Hedonism: You scratch my back, I’ll scratch yours. Anak melakukan balik apa yang mereka terima.
2. Morality of Conventional Role Conformity (usia 10 – 13 tahun):
Anak ingin disenangi dan dianggap “baik” oleh orang lain. Ia akan mencari panutan agar dapat diterima. Tahap ini terdiri dari:
a. Tahap 3 : Maintaining Good Relations, approval of others:
Am I a good girl (boy)? Anak membangun pemahamannya sendiri tentang pengertian orang yang baik.
b. Tahap 4 : Authority – Maintaining Morality: We need law and order. Anak sadar akan kewajibannya melakukan tugas-tugas yang diberikan dan menunjukkan rasa hormat pada kebijakan yang lebih tinggi.
3. Morality of Self-Accepted Moral Principles (usia 13 – dewasa):
Seseorang mengakui adanya konflik aturan-aturan yang ada dalam masyarakat dan untuk itu ia harus mengambil keputusan sesuai dengan hati nuraninya, baik atau salah. Tahap ini terdiri dari:
23Ibid hal. 269.
62 | Teknologi Informasi dan Komunikasi
a. Tahap 5 : Morality of Contract, of Individual Rights and of Democratically Accepted Law: Meskipun akan menimbulkan konflik antara kebutuhan manusia dengan hukum, mereka meyakini adalah lebih baik mematuhi hukum.
b. Tahap 6 : Morality of Individual Principles of Conscience:
Seseorang melakukan apa yang dianggap benar tanpa memperhatikan batasan-batasan yang legal atau pendapat orang lain. Jika mereka tidak bertindak maka mereka merasa bersalah, contohnya: Gandhi dan Martin Luther King.
Bagi Kohlberg, riset membuktikan, bahwa standard moral pada anak adalah berawal dari rumah, dari kedua orangtuanya. Bukan berarti orangtua tidak mengajarkan nilai-nilai moral kepada anak secara verbal, namun moral juga berhubungan dengan tingkah laku kedua orangtuanya.
Anak akan bertindak sesuai dengan apa yang dia terima dari rumah, dan itu adalah sikap moral seorang anak.
Sears, Maccoby and Levin (1957) noted that children who are praised frequently for good behavior and isolated or deprived of love for bad behavior are more likely to develop strong consciences than those who are disciplined by spanking. Psychological techniques are most efficient in homes with a loving atmosphere. If there is no love withdraw, this cannot be an effective means of discipline.24
Jika anak di rumahnya hidup dalam suasana cinta kasih maka hati nuraninya akan kokoh untuk melakukan hal-hal yang baik. Sebaliknya, jika disiplin dibangun dengan kekerasan, seperti tamparan, maka disiplin yang berlaku tidak akan efektif. Oleh karena itu sangat penting tehnik- tehnik psikologis, seperti kata-kata pujian, penghargaan dan penguatan serta sikap yang membangun diterapkan di dalam rumah.
24 Ibid hal. 270.
Teknologi Informasi dan Komunikasi | 63 B. Penggunaan TIK di bidang Pendidikan
Teknologi Informasi dan Komunikasi adalah payung besar terminologi yang mencakup seluruh peralatan teknis untuk memproses dan menyampaikan informasi. TIK mencakup dua aspek yaitu teknologi informasi dan teknologi komunikasi. Teknologi informasi meliputi segala hal yang berkaitan dengan proses, penggunaan sebagai alat bantu, manipulasi, dan pengelolaan informasi. Sedangkan teknologi komunikasi adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan penggunaan alat bantu untuk memproses dan mentransfer data dari perangkat yang satu ke lainnya. Oleh karena itu, teknologi informasi dan teknologi komunikasi adalah dua buah konsep yang tidak terpisahkan. Jadi Teknologi Informasi dan Komunikasi mengandung pengertian luas yaitu segala kegiatan yang terkait dengan pemrosesan, manipulasi, pengelolaan, pemindahan informasi antar media. Istilah TIK muncul setelah adanya perpaduan antara teknologi komputer (baik perangkat keras maupun perangkat lunak) dengan teknologi komunikasi pada pertengahan abad ke-20. Perpaduan kedua teknologi tersebut berkembang pesat melampaui bidang teknologi lainnya. Hingga awal abad ke-21, TIK masih terus mengalami berbagai perubahan dan belum terlihat titik jenuhnya.
Indonesia pernah menggunakan istilah telematika (telematics) untuk arti yang kurang lebih sama dengan TIK yang kita kenal saat ini.
Encarta Dictionary mendeskripsikan telematics sebagai telecommunication + informatics (telekomunikasi + informatika) meskipun sebelumnya kata itu bermakna science of data transmission.
Pengolahan informasi dan pendistribusiannya melalui jaringan telekomunikasi membuka banyak peluang untuk dimanfaatkan di
64 | Teknologi Informasi dan Komunikasi
berbagai bidang kehidupan manusia, termasuk salah satunya bidang pendidikan. Ide untuk menggunakan mesin-belajar, membuat simulasi proses-proses yang rumit, animasi proses-proses yang sulit dideskripsikan sangat menarik minat praktisi pembelajaran. Tambahan lagi, kemungkinan untuk melayani pembelajaran yang tak terkendala waktu dan tempat juga dapat difasilitasi oleh TIK. Sejalan dengan itu mulailah bermunculan berbagai jargon berawalan e, mulai dari e-book, e-learning, e-laboratory, e-education, e-library, dan sebagainya.
Awalan e bermakna eletronics yang secara implisit dimaknai berdasar teknologi elektronika digital.
Pemanfaatan TIK dalam pembelajaran di Indonesia telah memiliki sejarah yang cukup panjang. Inisiatif menyelenggarakan siaran radio pendidikan dan televisi pendidikan merupakan upaya melakukan penyebaran informasi ke satuan-satuan pendidikan yang tersebar di seluruh nusantara. Hal ini adalah wujud dari kesadaran untuk mengoptimalkan pendayagunaan teknologi dalam membantu proses pembelajaran masyarakat. Kelemahan utama siaran radio maupun televisi pendidikan adalah tidak adanya feedback yang seketika. Siaran hanya bersifat searah yaitu dari narasumber atau fasilitator kepada pembelajar. Introduksi komputer dengan kemampuannya mengolah dan menyajikan tayangan multimedia (teks, grafis, gambar, suara, dan gambar bergerak) memberikan peluang baru untuk mengatasi kelemahan yang tidak dimiliki siaran radio dan televisi. Bila televisi hanya mampu memberikan informasi searah (terlebih jika materi tayangannya adalah materi hasil rekaman), pembelajaran berbasis teknologi internet memberikan peluang berinteraksi baik secara sinkron (real time) maupun asinkron (delayed). Pembelajaran berbasis internet
Teknologi Informasi dan Komunikasi | 65 memungkinkan terjadinya pembelajaran secara sinkron dengan keunggulan utama bahwa pembelajar maupun fasilitator tidak harus berada di satu tempat yang sama. Pemanfaatan teknologi video conference yang dijalankan dengan menggunakan teknologi internet memungkinkan pembelajar berada di mana saja sepanjang terhubung ke jaringan komputer.
2. Dilema Moral yang dialami Siswa dalam menggunakan TIK25