48
49 Gambar 4.5 Penggunaan Lahan Pada Sektor Perkebunan Kabupaten
Wonosobo
Sumber : myedisi.com
Pada penggunaan lahan sektor pertanian di Kabupaten Wonosobo sangatlah terkenal, terutama pada sektor pertanian pangan. Lahan digunakan untuk bercocok tanam padi, jagung, kedelai, kacang hijau dan sayuran lainnya.
Kabupaten Wonosobo juga terkenal dengan produksi kopi di dataran tinggi seperti Dieng.
Lahan persawahan merupakan area atau lahan yang digunakan untuk budidaya tanaman padi atau tanaman air lainnya. Lahan persawahan seringkali memiliki kondisi khusus yang disesuaikan untuk pertumbuhan dan pengairan tanaman padi. Luas sawah di Wonosobo pada tahun 2020 adalah 12.038,25 ha, dengan 10.164,11 ha yang diusulkan untuk sawah LP2B. Dibandingkan dengan semua kecamatan, Kecamatan Selomerto memiliki sawah paling luas, dan Wadaslintang memiliki usulan LP2B paling banyak.
50 Gambar 4.6 Penggunaan Lawah Persawahan
Sumber : Data Lahan Baku Sawah
Sebagian lahan yang berada di wilayah Wonosobo juga digunakan sebagai permukiman penduduk, terdapat kota-kota kecil, desa, dan perkampungan yang tersebar di seluruh Kabupaten Wonosobo. Lahan industri juga banyak digunakan, terutama industri pengolahan hasil pertanian seperti pabrik pengolahan kopi dan pengolahan makanan.
Bagian wilayah Kabupaten Wonosobo juga ditutupi oleh hutan dan kawasan lindung. Beberapa kawasa hutan di Wonosobo adlah Taman Nasional Gunung Sindoro-Sumbing, Hutan Lindung Wonosobo, dan Hutan Produksi Wonosobo. Lahan tersebut memiliki nilai penting sebagai pelestarian keanekaragaman hayati dan ekosistem alam.
Wonosobo juga memiliki potensi wisata yang menarik, seperti Kawah Dieng, Telaga Warna, Telaga Pengilon, dan Sikunir menjadi tujuan wisata
51 populer, sehingga penggunaan lahan dalam sektor pariwisata meliputi pengembangan infrastruktur pariwisata seperti hotel, villa, dan tempat-tempat wisata lainnya. Sejumlah lahan di Wonosobo juga digunakan sebagai pengembangan infrastruktur seperti jalan raya, terminal, dan stasiun kereta api.
Penggunaan lahan di Wonosobo dapat berubah seiring dengan perkembangan ekonomi, kebijakan pemerintah, dan kebutuhan masyarakat Kabupaten Wonosobo.
52 Gambar 4.7 Peta Penggunaan Lahan
Sumber : Rekam BIG Kabupaten Wonosobo Thn 2019
53 2. Perubahan Penggunaan Lahan di Kabupaten Wonosobo
Perubahan pergunaan untuk lahan di Kabupaten Wonosobo dapat terjadi seiring dengan perkembangan waktu, pertumbuhan populasi, perubahan kebijakan, dan dinamika ekonomi.
Beberapa contoh perubahan pergunaan lahan yang mungkin terealisasikan di Kabupaten Wonosobo yaitu: (1) Konversi lahan pertanian menjadi pemukiman. Dalam perkembangan urbanisasi, beberapa lahan pertanian dikonversikan menjadi pemukiman untuk mengakomodasi pertumbuhan populasi dan kebutuhan perumahan, (2) Alih fungsi lahan pertanian menjadi sektor industri. Seiring dengan pengembangan sektor industri, beberapa laha pertanian dialihkan untuk pembangunan pabrik, pusat perdagangan, dan fasilitas industri lainnya, (3) Perubahan lahan hutan menjadi perkebunan atau pertanian. Peningkatan permintaan komoditas perkebunan atau pertanian tertentu dapat menyebabkan lahan hutan dikonversi menjadi perkebunan atau lahan pertanian, hal tersebut mengakibatkan deforestrasi dan perubahan ekosistem, (4) Rehabilitasi lahan terdegredasi. Seperti lahan kritis atau bekas pertambangan, dapat direhabilitasi untuk mengembalikan produktivitasnya, misalnya melalui program restorasi hutan atau agroforestri, (5) Perubahan penggunaan lahan pertanian tradisional menjadi agrowisata. Beberapa petani atau pemilik lahan mungkin beralih ke sektor agrowisata, yaitu mengubah ladanag pertanian tradisional menjadi tempat wisata petik buah, kebun bunga, atau kegiatan agroturisme lainnya, (6) Pengembangan infrastruktur pariwisata.
Untuk mendukung sektor pariwisata yang berkembang, sejumlah lahan dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur pariwisata, (7) Peningkatan perlindungan dan konservasi. Beberapa lahan dialihkan menjadi kawasan lindung, taman nasional, atau cagar alam.
54 Gambar 4.8 Tabel Perubahan Penggunaan Lahan Sektor Pertanian 2019 Sumber : IKPLHD, 2019
Setiap tahun, luas lahan bertani di Wonosobo berkurang.
Pemukiman dan area kebun berkembang dari sawah. Luas pemukiman meningkat 5 ha dari 19.346 ha menjadi 19.351 ha, dan luas perkebunan meningkat 40 ha dari 2.780 ha menjadi 2.820 ha. Kedua area ini dianggap memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi. Untuk mengendalikan alih fungsi, pemerintah Kabupaten Wonosobo harus memperhatikan kondisi ini.
Penetapan LP2B dan pemberian insentif kepada petani mungkin merupakan solusi.
3. Kesesuaian Lahan untuk Berbagai Jenis Tanaman di Kabupaten Wonosobo
Contoh kesesuaian lahan untuk beberapa jenis tanaman di Wonosobo adalah sebagai berikut:
a. Tanaman Sayuran: Wonosobo memiliki iklim yang sejuk dengan suhu rata-rata tahunan sekitar 20-25 derajat Celsius. Tanah yang subur dan kondisi iklim ini membuat Wonosobo cocok untuk pertanian sayuran seperti kubis, wortel, brokoli, bayam, selada, kentang, dan to mat.
b. Tanaman Buah-Buahan: Wonosobo memiliki ketinggian yang cukup tinggi, yang membuatnya cocok untuk beberapa jenis tanaman buah-buahan. Tanaman buah seperti apel, stro.beri, anggur, jeruk, alpukat, dan persik dapat tumbuh dengan baik di daerah ini
55 c. Tanaman Padi: Wonosobo memiliki sejumlah daerah dataran tinggi yang cocok untuk pertanian padi. Tanah yang subur dan ketinggian yang sesuai memungkinkan pertumbuhan padi yang baik. Berbagai varietas padi, seperti padi gogo dan padi sawah, dapat ditanam di daerah ini.
d. Tanaman Hortikultura: Wonosobo juga cocok untuk budidaya tanaman hortikultura, termasuk bunga potong seperti mawar, krisan, dan lili. Tanaman hias seperti anggrek, kaktus, dan sukulen juga bisa tumbuh dengan baik di daerah ini
Berikut adalah ordo kesesuaian lahan yang umumnya digunakan untuk mengklasifikasikan tingkat kesesuaian lahan untuk pertanian :
1. Ordo Kesesuaian Lahan Sempurna (Class S), yaitu lahan yang sesuai untuk pertanian tanaman tertentu tanpa memerlukan perubahan kondisi atau pembenahan tertentu.
2. Ordo Kesesuaian Lahan Baik (Class N), yaitu lahan yang cukup sesuai untuk pertanian tanaman tertentu dengan beberapa persyaratan yang harus dipenuhi, seperti perbaikan drainase atau pengendalian erosi.
3. Ordo Kesesuaian Lahan Sedang (Class M), yaitu lahan yang memerlukan modifikasi dan perbaikan yang lebih signifikan untuk menjadi sesuai untuk pertanian. Biasanya melibatkan perbaikan fisik tanah, irigasi, atau drainase.
4. Ordo Kesesuaian Lahan Kurang (Class O), yaitu lahan yang memiliki keterbatasan fisik dan kimia yang signifikan sehingga memerlukan pembenahan yang ekstensif untuk membuatnya sesuai untuk pertanian.
5. Ordo Kesesuaian Lahan Sangat Kurang (Class P): Lahan yang secara alami memiliki keterbatasan serius yang membuatnya tidak cocok untuk pertanian. Misalnya, lereng yang terlalu curam, kekeringan ekstrem, atau tanah yang terlalu miskin nutrisi.
56 4. Lahan Kritis di Kabupaten Wonosobo
Lahan yang kritis adalah lahan yang memiliki masalah serius yang mempengaruhi kesuburan tanah atau kemampuan lahan untuk mendukung pertanian. Beberapa jenis lahan kritis yang ada di Wonosobo antara lain: (1) Lahan Erosi, Kabupaten Wonosobo memiliki topografi yang berbukit-bukit, sehingga rentan terhadap erosi tanah. Lahan dengan erosi yang parah dapat mengakibatkan hilangnya lapisan tanah yang subur dan menyebabkan kerusakan pada lahan pertanian. (2) Lahan Tercemar, adanya aktivitas industri, pertambangan, atau penggunaan pestisida yang tidak tepat dapat menyebabkan pencemaran tanah di beberapa area di Wonosobo.
Pencemaran tanah dapat mengganggu kualitas dan kesuburan tanah serta dapat berdampak negatif pada tanaman yang tumbuh di lahan tersebut. (3) Lahan Rawan Longsor, Kabupaten Wonosobo memiliki beberapa daerah dengan lereng yang curam, terutama di daerah pegunungan. Hal ini dapat menyebabkan risiko longsor tanah yang berpotensi merusak lahan pertanian dan infrastruktur di sekitarnya. (4) Lahan Tercemar Air Tanah, beberapa daerah di Wonosobo mengalami masalah pencemaran air pada tanah akibat limbah dari rumah tangga, dan juga limbah pada industri, atau pada penggunaan pupuk sekaligus pestisida yang berlebihan. Pencemaran air tanah dapat mempengaruhi kualitas air yang digunakan untuk irigasi pertanian dan berpotensi merusak tanaman.
57