Asal mula nama "Wonosobo" asalnya dari bahasa Jawa, yang terdiri dari dua istilah, yaitu "wono" dan "sobo".
Kata "wono" pada kamus bahasa Jawa mempunyai beberapa makna tergantung konteksnya. Salah satu artinya adalah "sengsara" atau "kesedihan".
Dalam konteks nama Wonosobo, "wono" diartikan sebagai "kesedihan" atau
"dukacita". Konon, nama ini terkait dengan cerita legenda yang telah disebutkan sebelumnya, yakni Legenda Rara Jonggrang. Dalam legenda tersebut, kata "wono" mengacu pada kesedihan Raja Boko akibat penolakan Rara Jonggrang dan kutukan yang diberikannya.
Sedangkan kata "sobo" dalam bahasa Jawa berarti "kelaparan" atau
"kemarau". Dalam konteks nama Wonosobo, "sobo" diartikan sebagai
"kelaparan" atau "daerah kering". Hal ini menggambarkan kondisi geografis Wonosobo yang terletak di pegunungan dengan iklim yang cenderung kering dan tandus.
87 Dengan menggabungkan kedua kata tersebut, "Wonosobo" diartikan sebagai "daerah yang penuh kesedihan" atau "daerah yang kering dan tandus".
Nama ini mencerminkan baik legenda maupun kondisi geografis yang melatarbelakangi nama kabupaten ini.
Meskipun teori-teori ini memberikan beberapa penjelasan tentang asal mula nama Wonosobo, sebenarnya tidak ada penjelasan pasti yang bisa dipastikan. Nama tersebut telah menjadi bagian terpenting dari identitas dan sejarah kabupaten tersebut, yang harus dihargai dan dirayakan oleh masyarakat setempat.
Kabupaten Wonosobo bergantung pada cerita tentang 3 pengembara yang datang ke daerah ini pada awal abad ke-17. Kyai Kolodete, Kyai Karim, dan Kyai Walik kemudian berpisah dan membangun tanah mereka sendiri. Kyai Walik memilih wilayah yang sekarang menjadi Kota Wonosobo, Kyai Karim membangun tanah di Dataran Tinggi Dieng, dan Kyai Kolodete membangun tanah di sekitar Kalibeber. Ketiga orang itu berasal dari nenek moyang yang kemudian berkuasa di Wonosobo. sama seperti salah satu cucu Kyai Karim, atau Ki Singowedono. Ki Singowedono kemudian bergelar Tumenggung Jogonegoro setelah mendapatkan wilayah di Selomerto dari Keraton Mataram.
Jejak Tumenggung Jogonegoro dimakamkan di Desa Pakuncen, Selomerto.
Sebagian orang percaya bahwa nama Wonosobo berasal dari Selomerto, mungkin dari sebuah dusun di Desa Polobangan, Selomerto. Sejarah Kabupaten Wonosobo terkait dengan perang Diponegoro. Orang-orang masih tinggal di dusun kecil Wanasaba, di mana mereka berdoa di makam Kyai Wanasaba, Kyai Goplem, Kyai Putih, dan Kyai Wan Haji.
Dari tahun 1825 hingga 1830, Wonosobo menjadi lokasi pertahanan penting bagi pasukan yang mendukung Pangeran Diponegoro. Dengan nama Tumenggung Kertosinuwun, Tumenggung Mangkunegaran, dan Gajah Permodo, Kyai Muhammad Ngarpah berjuang melawan pendudukan Belanda
88 di wilayah Wonosobo bersama Imam Misbach. Dia menang dalam pertempuran dan diberi gelar Tumenggung Setjonegoro.
Tumenggung Setjonegoro memindahkan pusat pemerintahan ke Ledok, Selomerto setelah menjadi bupati Wonosobo pertama. Seusai dibicarakan dalam sebuah seminar pada 28 April 1994 oleh Tim Peneliti Fakultas Sastra UGM bersama Musyawarah Pimpinan Daerah, sesepuh, dan beberapa tokoh, termasuk pimpinan dewan perwakilan rakyat, diputuskan bahwa pusat pemerintahan akan pindah pada 24 Juli 1825. 24 Juli adalah Hari Jadi Kabupaten Wonosobo yang diselenggarakan setiap tahun.
Ada beberapa tokoh pelaku sejarah yang berperan penting di daerah Wonosobo. Berikut beberapa di antaranya: (1) Raden Mas Soerjo Slamet:
Raden Mas Soerjo Slamet atau dikenal juga sebagai Pahlawan nasional Indonesia Ki Gede Sebayu yang berasal dari Wonosobo. Ia aktif dalam perjuangan melawan penjajahan Belanda. Raden Mas Soerjo Slamet juga dikenal sebagai pendiri dan pimpinan organisasi perjuangan PETA (Pembela Tanah Air) di Jawa Tengah; (2) Ki Hajar Dewantara, juga dikenal sebagai Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, adalah seorang tokoh pergerakan nasional Indonesia yang berkontribusi besar pada kemajuan pendidikan. Meskipun ia lahir di Yogyakarta, dia berasal dari Wonosobo. Sekolah Taman Siswa, yang didirikan oleh Ki Hajar Dewantara, memiliki cabang di Wonosobo selama masa kolonial Belanda. Kontribusinya dalam bidang pendidikan dan perjuangan kemerdekaan sangat dihargai dalam sejarah Indonesia; (3) Raden Tumenggung Setyobudi: Raden Tumenggung Setyobudi adalah seorang pejuang kemerdekaan dan tokoh nasional dari Wonosobo. Ia aktif dalam perjuangan melawan penjajahan Belanda, terutama dalam gerakan BKR dan juga gerakan TKR Raden Tumenggung Setyobudi juga merupakan tokoh pendiri dan pimpinan BPRI (Barisan Pemberontakan Rakyat Indonesia) di Wonosobo; (4) Raden Mas Suryo Kartiko: Raden Mas Suryo Kartiko adalah seorang pejuang kemerdekaan dan tokoh nasional yang berasal dari Wonosobo. Ia aktif dalam
89 perjuangan melawan penjajahan Belanda. Selain itu, Raden Mas Suryo Kartiko juga terlibat dalam pemerintahan daerah sebagai Bupati Wonosobo pada periode 1946-1948.
Beliau semua merupakan beberapa tokoh pelaku sejarah yang memiliki kontribusi penting dalam perjuangan kemerdekaan dan perkembangan daerah Wonosobo. Melalui peran dan kontribusi mereka, mereka telah meninggalkan warisan yang berharga dalam sejarah dan mempengaruhi perkembangan sosial, politik, dan budaya di daerah Wonosobo.
2. Peristiwa Bersejarah di Kabupaten Wonosobo
Peristiwa bersejarah terjadinya Pemekaran Kabupaten Wonosobo pada tanggal 11 April 1946, pada tanggal tersebut Wonosobo secara resmi dimekarkan dari Kabupaten Banjarnegara. Pemekaran ini dilakukan untuk memperluas pemerintahan daerah dan mempercepat pembangunan di wilayah Wonosobo. Sebelum pemekaran, Wonosobo merupakan kecamatan di Kabupaten Banjarnegara. Namun, karena pertimbangan geografis, sosial, dan administratif, kebutuhan akan otonomi daerah menjadi semakin penting.
Dengan demikian, Kabupaten Wonosobo didirikan sebagai entitas administratif yang terpisah.
Setelah pemekaran, Wonosobo menjadi sebuah kabupaten yang mandiri dengan Kota Wonosobo sebagai ibu kotanya. Kabupaten Wonosobo terus berkembang dalam berbagai sektor, termasuk ekonomi, pendidikan, pariwisata, dan infrastruktur. Pemerintah daerah bekerja keras untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan pembangunan wilayah. Pemekaran Kabupaten Wonosobo memberikan kesempatan bagi pemerintah daerah untuk lebih fokus dan mengelola potensi lokal dengan lebih efektif. Sejak itu, Kabupaten Wonosobo telah menjadi entitas yang penting dan aktif dalam perkembangan Jawa Tengah.
90 3. Tempat-tempat Bersejarah
Banyak tempat bersejarah yang menarik di Wonosobo, berikut ini adalah beberapa contohnya:
• Candi Arjuna
Di dataran tinggi Dieng, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, Indonesia, ada Candi Arjuna, atau Candi Setyaki. Candi Arjuna adalah salah satu dari banyak candi Hindu-Buddha di Dieng.Candi Arjuna adalah candi Hindu yang diperkirakan dibangun dari abad ke-7 hingga ke-8 Masehi. Nama "Arjuna" diambil dari tokoh pewayangan dalam kisah Mahabharata, Arjuna, yang juga merupakan tokoh penting dalam agama Hindu.
Gambar 6.1 Candi Arjuna di Wonosobo Sumber : visitjawatengah.jatengprov.go.id
Candi Arjuna memiliki arsitektur yang indah dan rumit. Candi ini terdiri dari beberapa bangunan, termasuk candi utama yang dikelilingi
91 oleh candi-candi satelit. Bangunan utama candi memiliki bentuk persegi panjang dan didekorasi dengan relief-relief yang menampilkan kisah Hindu dan karakter pewayangan.
• Candi Gatotkaca
Candi ini merupakan candi Hindu yang didedikasikan untuk menghormati tokoh pewayangan Gatotkaca, putra dari Bima dalam kisah Mahabharata.
Gambar 6.2 Candi Gatotkaca di Dieng Wonosobo Sumber : javatravel.net
Candi Gatotkaca memiliki bentuk yang khas dengan atap berlapis batu dan relief-relief yang menghiasi dindingnya. Candi ini berdiri tegak dengan empat sisi terbuka dan memiliki struktur arsitektur yang kokoh.
Salah satu fitur menarik dari Candi Gatotkaca adalah relief- relief yang menggambarkan kisah-kisah dari kehidupan dan perjuangan Gatotkaca. Relief-relief ini menggambarkan adegan-adegan seperti perang, pertempuran, dan aksi kepahlawanan dari Gatotkaca.
92
• Candi Dwarawati
Candi ini merupakan candi Hindu yang memiliki nilai sejarah dan keagamaan yang penting. Candi Dwarawati diduga berasal dari abad ke-8 dan merupakan candi dengan ukuran kecil dibandingkan dengan candi-candi lain di kompleks candi Dieng. Namun, meskipun ukurannya kecil, candi ini memiliki keunikan dan keindahan tersendiri.
Gambar 6.3 Candi Dwarawati di Dieng Sumber : indonesiakaya.com
Bangunan candi ini terdiri dari ruangan utama yang dikelilingi oleh sejumlah relief yang menghiasi dindingnya. Relief-relief tersebut menggambarkan adegan-adegan dari kisah-kisah agama Hindu, seperti dewa-dewi, tokoh-tokoh pewayangan, dan hewan-hewan mitologis.
93 Meskipun Candi Dwarawati mengalami kerusakan pada bagian atap dan beberapa dindingnya, beberapa relief yang masih bertahan memberikan gambaran tentang keindahan dan kekayaan seni yang pernah ada di candi ini.
• Kompleks Batu Ratapan Angin
Kompleks Batu Ratapan Angin, atau Batu Ratapan Angin Dieng, adalah situs arkeologi di Dataran Tinggi Dieng, Wonosobo, Jawa Tengah, Indonesia. Kompleks Batu Ratapan Angin Dieng terdiri dari empat puluh hingga lima puluh batu berukiran wajah manusia atau hewan yang disusun secara berjejer dan menghadap ke arah angin. Masyarakat setempat menghormati batu-batu ini karena mereka dianggap memiliki kekuatan magis.
Gambar 6.4 Batu Ratapan Angin Sumber : travelkompas.com
94 Nama "Batu Ratapan Angin" berasal dari kebiasaan masyarakat setempat yang meyakini bahwa batu-batu tersebut "berratap" atau
"berkeluh kesah" ketika angin bertiup melalui celah-celahnya. Beberapa batu memiliki ukiran yang cukup jelas, sementara yang lain memiliki ukiran yang lebih samar.
• Waduk Wadaslintang
Waduk Wadaslintang dibangun pada tahun 1980-an sebagai bagian dari proyek irigasi yang bertujuan untuk menyuplai air bagi pertanian di sekitar Wonosobo dan daerah sekitarnya. Waduk ini dikelola oleh Perusahaan Listrik Negara (PLN) dan berfungsi juga sebagai pembangkit listrik tenaga air dengan daya listrik sekitar 85 MW.
Gambar 6.5 Waduk Wadaslintang di Wonosobo Sumber : sikidang.com
Selain manfaat irigasi dan pembangkit listrik, banyak pengunjung yang datang ke waduk ini untuk menikmati keindahan
95 alamnya, berjalan-jalan di sekitar waduk, atau sekadar duduk bersantai sambil menikmati pemandangan.
• Makam Kyai Juru Martani
Makam Kyai Juru Martani adalah sebuah makam berada di Ds.
Wonoharjo, Kec. Kalikajar. Makam ini merupakan tempat peristirahatan terakhir dari seorang tokoh agama yang dihormati di wilayah Wonosobo.
Kyai Juru Martani adalah seorang wali atau tokoh agama yang memiliki pengaruh dan kehadiran penting dalam sejarah agama Islam di daerah Wonosobo. Dia dikenal karena ajaran dan penyebaran Islam yang dilakukan di masa lalu, serta pengabdiannya kepada masyarakat setempat.
Gambar 6.6 Makam Kyai Juru Martani di Wonosobo Sumber : laduni.id
Makam Kyai Juru Martani menjadi tempat suci bagi masyarakat setempat, dan seringkali menjadi tujuan peziarah yang datang untuk berziarah, berdoa, dan memohon berkah. Makam ini menjadi pusat
96 spiritual bagi mereka yang percaya pada kekuatan dan keberkahan yang terkait dengan figur tersebut.
Ketika mengunjungi Makam Kyai Juru Martani, disarankan untuk memperhatikan etika dan tata cara yang berlaku dalam tradisi dan kepercayaan setempat. Menghormati tempat suci dan menjaga ketenangan adalah hal yang penting dalam kunjungan seperti ini.
Tempat-tempat bersejarah di Wonosobo memberikan wawasan tentang sejarah, budaya, dan kekayaan arkeologi di wilayah ini.
Mengunjungi tempat-tempat ini dapat memberikan pengalaman yang berharga dalam memahami warisan sejarah dan kekayaan budaya Kabupaten Wonosobo.
B. Keragaman Suku, Budaya, dan Agama Kabupaten Wonosobo