II.2.2.1 Mutual Evaluation Review 2017
Indonesia melaksanakan Mutual Evaluation Review (MER) yang dilakukan oleh Financial Action Task Force (FATF) melalui salah satu organisasi regionalnya yaitu Asian Pacific Group (APG) on Money Laundering untuk mengetahui sejauh mana kepatuhan rezim anti pencucian uang dan pencegahan pendanaan terorisme di Indonesia terhadap 40 Rekomendasi FATF. Pemenuhan dan pelaksanaan rekomendasi-rekomendasi FATF tersebut dinilai atau dievaluasi secara “peer-to-peer review” oleh sesama anggota APG, yang mencakup aspek technical compliance terhadap 40 Rekomendasi FATF dan penilaian terhadap efektifitas pelaksanaannya (11 Immediate Outcomes).
Hasil penilaian MER yang menunjukkan kepatuhan Indonesia terhadap Rekomendasi FATF akan berdampak positif bagi perkembangan ekonomi. Terdapat tiga dampak positif apabila Indonesia meraih hasil positif, yaitu: (a) Indonesia sejajar dengan negara-negara G-20; (b) hasil evaluasi yang baik mendorong peningkatan rating investment grade Indonesia; dan (c) memberikan sinyal kuat tentang komitmen Indonesia terhadap upaya pencegahan dan pemberantasan TPPU dan TPPT.
Sebagai rangkaian pelaksanaan MER terhadap Indonesia yang menilai kecukupan peraturan dan ketentuan terkait APU PPT terhadap Rekomendasi FATF dan Technical Compliance (TC) serta menilai efektivitas implementasi atau Immediate Outcome (IO) terhadap peraturan dan ketentuan APU PPT yang diterapkan di Indonesia, OJK melaksanakan kegiatan pre-MER dan on site visit MER. OJK bersama-sama dengan Penyedia Jasa Keuangan secara
komprehensif terkait perijinan, pengawasan, penegakan hukum dan pelaksanaan program APU PPT di Sektor Jasa Keuangan yang dilakukan dengan prinsip pendekatan berbasis risiko. Secara umum tim assessor menilai bahwa pelaksanaan rezim APU PPT sangat meningkat dibandingkan saat pelaksanaan MER sebelumnya. Hal ini disebabkan oleh terpenuhinya rekomendasi FATF terkait penyusunan peraturan perundang-undangan di bidang TPPU dan TPPT.
Dari segi efektivitas, secara umum pemenuhan rekomendasi diterapkan dengan efektif pada Sektor Jasa Keuangan. Hal ini didukung oleh peran OJK dalam mendukung pelaksanaan program APU PPT baik dari penerbitan peraturan maupun upaya mendorong industri jasa keuangan untuk dapat menerapkan program APU PPT serta peran aktif dari PJK dalam menerapkan program APU PPT berbasis risiko secara efektif.
II.2.2.2 Financial Sector Assessment Program (FSAP) Indonesia 2016/2017
Indonesia sebagai anggota G-20 berkomitmen melaksanakan Financial Sector Assessment Program (FSAP) setiap lima tahun.
FSAP merupakan joint program antara Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia yang bertujuan mengevaluasi kondisi stabilitas sistem keuangan dan perkembangan sektor keuangan suatu negara.
Tahun 2016/2017 merupakan pelaksanaan FSAP yang kedua bagi Indonesia setelah tahun 2009/2010. Pelaksanaan FSAP kedua berjalan efektif dan efisien dengan dibentuknya Tim Kerja Nasional FSAP yang beranggotakan OJK, Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Bank Indonesia (BI), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dengan OJK sebagai koordinator.
Tim FSAP IMF-Bank Dunia melakukan dua kali kunjungan ke Indonesia dalam rangka FSAP yaitu 19 September-4 Oktober 2016 (Mission I) dan 30 Januari-16 Februari 2017 (Main Mission). Selama kedua mission tersebut, tim FSAP IMF-Bank Dunia selain bertemu dengan anggota Tim Kerja Nasional FSAP juga berdiskusi dengan industri jasa keuangan, asosiasi industri jasa keuangan, lembaga jasa penunjang, dan lembaga terkait lainnya untuk memperoleh gambaran yang komprehensif atas kondisi stabilitas sistem keuangan dan perkembangan sektor keuangan Indonesia. Sesuai kesepakatan, FSAP difokuskan pada tujuh workstreams (WS) atau gugus tugas, yaitu WS1-Risk Analysis & Stress Testing, WS2-Macroprudential Policy, WS3-Liquidity Management, WS4- Microprudential Oversight, WS5-Financial Safety Nets, Crisis
financial services sector, OJK disclosed comprehensive information and data regarding licensing, oversight, legal enforcement and implementation of the risk-based anti-money laundering and combatting terrorism financing program in the financial services sector. In general, the team of assessors confirmed that implementation of the anti-money laundering and combatting terrorism financing regime had improved considerably since the last Mutual Evaluation Review (MER), as evidenced by Indonesia fulfilling the FATF Recommendations concerning the prevailing anti- money laundering and combatting terrorism financing regulations and laws in Indonesia.
In terms of the effectiveness, the recommendations were effectively satisfied in the financial services sector, backed by OJK’s role in supporting anti-money laundering and combatting terrorism financing program implementation through promulgation of regulations and efforts to encourage the financial services industry to apply the program, coupled with the active role of financial services providers to effectively implement the risk-based anti- money laundering and combatting terrorism financing program.
II.2.2.2 Indonesia Financial Sector Assessment Program (FSAP) 2016/2017
As a G20 member, Indonesia is committed to the Financial Sector Assessment Program (FSAP) conducted every five years. FSAP is a joint program between the International Monetary Fund (IMF) and World Bank to evaluate financial system stability and financial sector developments in a particular country. 2016/2017 was the second time FSAP has been implemented in Indonesia, after 2009/2010.
FSAP implementation in 2016/2017 was effective and efficient, aided by the National FSAP Team created specifically with members from OJK as coordinator, the Ministry of Finance of the Republic of Indonesia, Bank Indonesia, and the Deposit Insurance Corporation (LPS).
The IMF-World Bank FSAP Team visited Indonesia twice, on 19th September – 4th October 2016 (Mission I) and 30th January – 16th February 2017 (Main Mission). During the Main Mission, besides meeting the National FSAP team, the IMF-World Bank FSAP Team were also holding discussions with the financial services industry, financial services industry associations, supporting institutions and other relevant parties to obtain a comprehensive representation of financial system stability conditions and financial sector developments in Indonesia. As agreed, FSAP focused on seven workstreams:
WS1-Risk Analysis & Stress Testing; WS2-Macroprudential Policy;
WS3-Liquidity Management; WS4-Microprudential Oversight; WS5- Financial Safety Nets, Crisis Management and Resolution; WS6- Financial Deepening; and WS7-Financial Inclusion. The results of
FSAP were subsequently published on the official IMF website as the Financial System Stability Assessment (FSSA) as well as on the official Bank Indonesia website as the Financial Sector Assessment (FSA)
In general, the IMF-World Bank FSAP Team expressed its appreciation for the effective way Indonesia has reformed the financial services sector because financial system stability has been maintained, accompanied by a sound banking system and solid capital base.
Systemic risk was low and the banking system was resilient to shocks that could potentially undermine the economic system. The Government and relevant authorities have implemented numerous efforts to accelerate financial market deepening, while strengthening financial services sector oversight and crisis management.
Nevertheless, the FSAP also exposed a few areas that need to be improved, including: (i) refining regulations, in particular stipulating the division of duties and responsibilities in relation to financial system stability and legal protection; (ii) the supervision of financial conglomerates; and (iii) a more effective crisis management and resolution framework.
II.2.2.3 Reports on the Observance of Standards and Codes in Accounting and Auditing (ROSC A&A) Indonesia
The Reports on the Observance of Standards and Codes in Accounting and Auditing (ROSC A&A) is an initiative implemented in conjunction with the International Monetary Fund (IMF) and World Bank since 1999 to help members countries strengthen their financial system through the development, dissemination, adoption and application of international standards and codes. Of the 12 areas included in the initiative, the World Bank focused on three, namely Accounting and Auditing (A&A), Corporate Governance as well as Insolvency and Creditor Rights.
Considering the rapid development of practices when compiling the financial statements of companies in Indonesia, the corresponding ROSC A&A was updated in 2017. Indonesia first implemented ROSC A&A in 2010. The update is expected to improve the evaluation of Indonesia by domestic and non-resident investors. Through ROSC A&A Indonesia 2017, a World Bank team assessed the application of International Financial Reporting Standards (IFRS) and International Standards on Auditing (ISA), while specifically focusing on increasing direct investment and expanding financial access for micro, small and medium enterprises (MSME).
Management and Resolution, WS6-Financial Deepening, dan WS7-Financial Inclusion. Laporan hasil asesmen FSAP selanjutnya dipublikasikan dalam website IMF dalam bentuk Financial System Stability Assessment (FSSA) serta website Bank Dunia dalam bentuk Financial Sector Assessment (FSA).
Secara umum, Tim FSAP IMF-Bank Dunia mengapresiasi keberhasilan Indonesia melaksanakan reformasi di Sektor Jasa Keuangan karena stabilitas sistem keuangan terjaga dengan baik dan sistem perbankan sehat dengan kapitalisasi bank yang kuat. Risiko sistemik rendah dan sistem perbankan menunjukkan ketahanan terhadap beberapa gejolak yang mengganggu sistem perekonomian. Pemerintah dan otoritas melaksanakan berbagai agenda dalam rangka percepatan pendalaman pasar keuangan serta penguatan pengawasan Sektor Jasa Keuangan dan manajemen krisis. FSAP mencatat area yang harus ditingkatkan kualitas pelaksanaannya, antara lain: (i) penyempurnaan regulasi khususnya mengenai pembagian tugas dan tanggung jawab terkait stabilitas sistem keuangan serta perlindungan hukum, (ii) pengawasan terhadap Konglomerasi Keuangan, dan (iii) kerangka manajemen krisis dan resolusi yang lebih efektif.
II.2.2.3 Reports on the Observance of Standards and Codes in Accounting and Auditing (ROSC A&A) Indonesia
Reports on the Observance of Standards and Codes (ROSC) merupakan inisiatif bersama Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia sejak 1999 untuk membantu negara-negara anggota memperkuat sistem keuangannya melalui pengembangan, diseminasi, adopsi, serta penerapan standar dan kode internasional.
Dari 12 area yang masuk dalam inisiatif tersebut, Bank Dunia berfokus pada tiga area yaitu Accounting and Auditing (A&A), Corporate Governance, dan Insolvency and Creditor Rights.
Memperhatikan pesatnya perkembangan praktek penyusunan laporan keuangan perusahaan di Indonesia, dilakukan update ROSC A&A Indonesia pada 2017. Indonesia melaksanakan ROSC A&A pertama di 2010. Diharapkan hasil update dapat meningkatkan penilaian investor domestik dan asing atas Indonesia. Dalam ROSC A&A Indonesia 2017, tim Bank Dunia secara umum akan menilai penerapan International Financial Reporting Standard (IFRS) dan International Standard on Auditing (ISA). Selain itu, secara khusus berfokus pada peningkatan direct investment serta perluasan akses keuangan bagi Usaha Mikro, Kecil, Dan Menengah (UMKM).
Dalam rangka mempermudah koordinasi dan kerjasama para pihak yang terlibat dalam pelaksanaan ROSC A&A Indonesia 2017, telah dibentuk Tim Kerja Nasional (TKN) ROSC A&A yang beranggotakan OJK sebagai koordinator dan sekretariat TKN, Kementerian Keuangan, Kementerian Perdagangan, Institut Akuntan Publik Indonesia (IAPI), dan Ikatan Akuntan Indonesia (IAI), TKN ROSC A&A aktif berkoordinasi dengan tim Bank Dunia, baik selama kunjungan ke Indonesia untuk Scoping Mission di September 2017 dan Main Mission di Desember 2017 maupun untuk memenuhi semua informasi dan data yang dibutuhkan. Scoping Mission dimaksudkan memperoleh gambaran awal atas kondisi Indonesia selain memberikan penjelasan atas diagnostic tools. Sementara itu, dalam Main Mission tim Bank Dunia berdiskusi dengan berbagai pihak dan narasumber untuk mengonfirmasi data dan informasi yang disampaikan oleh Indonesia. Selain anggota TKN ROSC A&A, tim Bank Dunia juga berdiskusi dengan kementerian dan lembaga, asosiasi profesi, universitas, dan lembaga jasa keuangan.
Sebagai tindak lanjut Main Mission, tim Bank Dunia menyusun konsep laporan hasil ROSC A&A Indonesia untuk kemudian dikonfirmasi dan ditanggapi otoritas Indonesia sebelum disetujui untuk dipublikasikan. Diharapkan laporan hasil ROSC A&A Indonesia dapat dipublikasikan pada pertengahan 2018.
II.3 Optimalisasi SJK dalam Percepatan Pertumbuhan Ekonomi