• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengujian Beton Basah a Pengujian Slump

Dalam dokumen panduan teknik pelaksanaan jembatan (Halaman 78-86)

DAFTAR TABEL

1. PERSIAPAN

2.2 Beton .1 Umum

2.2.3 Rancangan Campuran Beton

2.2.3.3 Pengujian Beton Basah a Pengujian Slump

Panduan Teknik Pelaksanaan Jembatan 2-14

Menurut SNI 03-2493-1991, prosedur pembuatan campuran percobaan di laboratorium mengijinkan mencampur agregat dalam kondisi kering udara, bila penyerapannya kurang dari 1,0 % dengan kemungkinan diserapnya air dari beton yang belum menjalani proses pengikatan (unset concrete). Disarankan oleh SNI 03-2493-1991 bahwa jumlah yang diserap dapat dianggap sebesar 80

% dari perbedaan antara jumlah air sebenarnya yang terdapat dalam pori-pori agregat (kondisi kering udara) dan penyerapan jumlah nominal 24 jam yang ditentukan dalam SNI 03-1969-1990 atau SNI 03- 1970-1990.

Untuk agregat dengan penyerapan lebih besar, SNI 03-2493-1991 mensyaratkan pengondisian sebelumnya untuk memenuhi syarat penyerapan dengan pengaturan berat agregat yang didasarkan pada jumlah kadar air dan pengaturan termasuk air permukaan sebagai bagian dari air pencampur yang disyaratkan.

Panduan Teknik Pelaksanaan Jembatan 2-15

tersebut dan di lokasi penyerahan mencapai slump maksimum 200 mm setelah bahan campuran tambahan tersebut ditambahkan, kecuali disyaratkan lain.

2 Peralatan Pengujian Slump

Adapun alat yang digunakan untuk slump test adalah:

a). Alat Uji

Alat uji harus berupa sebuah cetakan yang terbuat dari bahan logam yang tidak lengket dan tidak bereaksi dengan pasta semen. Ketebalan logam tersebut tidak boleh lebih kecil dari 1,5 mm dan bila dibentuk dengan proses pemutaran (spinning), maka tidak boleh ada titik dalam cetakan yang ketebalannya lebih kecil dari 1,15 mm.

Cetakan harus berbentuk kerucut terpancung dengan diameter dasar 203 mm, diameter atas 102 mm, tinggi 305 mm. Permukaan dasar dan permukaan atas kerucut harus terbuka dan sejajar satu dengan yang lain serta tegak lurus terhadap sumbu kerucut. Batas toleransi untuk masing-masing diameter dan tinggi kerucut harus dalam rentang 3,2 mm dari ukuran yang telah ditetapkan.

Cetakan harus dilengkapi dengan bagian injakan kaki dan untuk pegangan.

Bagian dalam dari cetakan relatif harus licin dan halus, bebas dari lekukan, deformasi atau mortar yang melekat. Cetakan harus dipasang secara kokoh di atas pelat dasar yang tidak menyerap air. Pelat dasar juga harus cukup luas agar dapat menampung adukan beton setelah mengalami slump.

b). Cetakan Dengan Material Alternatif

Cetakan yang terbuat selain dari bahan logam diperbolehkan bila persyaratan berikut dipenuhi. Cetakan harus memenuhi persyaratan ukuran. Cetakan harus cukup kaku untuk menjaga ukuran yang telah ditetapkan dan toleransi selama penggunaan, tahan terhadap gaya tumbuk dan harus tidak menyerap air. Cetakan harus diuji coba untuk mendapatkan hasil-hasil yang dapat dibandingkan dengan hasil-hasil yang diperoleh jika menggunakan cetakan logam sesuai persyaratan. Uji banding harus dilakukan oleh laboratorium yang independen atas nama pembuat cetakan. Uji banding harus terdiri minimum 10 sampel pada masing-masing dari tiga nilai slump yang berbeda dengan rentang dari 50 mm sampai 125 mm.

Tidak boleh ada hasil-hasil uji slump individual yang berbeda lebih dari 15 mm dari hasil yang diperoleh dengan menggunakan cetakan logam. Hasil uji rata- rata dari masing-masing pengujian slump yang diperoleh dengan menggunakan cetakan material alternaif tidak boleh berbeda lebih dari 10 mm dari hasil uji rata-rata yang diperoleh dengan cetakan logam. Bila ada perubahan material atau metode pembuatan, pengujian untuk uji banding harus diulangi.

Bila kondisi cetakan individual diduga telah menyimpang dari toleransi kondisi fabrikasinya maka suatu uji perbandingan tunggal harus dilakukan. Bila hasil- hasil pengujian berbeda lebih dari 15 mm (0,5 in) dari yang dihasilkan cetakan logam, maka cetakan tidak boleh digunakan.

Panduan Teknik Pelaksanaan Jembatan 2-16

c). Batang Penusuk

Batang penusuk harus merupakan suatu batang baja yang lurus, penampang lingkaran dengan diameter 16 mm dan panjang sekira 600 mm, memiliki salah satu atau kedua ujung berbentuk bulat setengah bola dengan diameter 16 mm.

3 Pelaksanaan Pengujian Slump

a). Basahi cetakan dan letakkan di atas permukaan datar, lembab, tidak menyerap air dan kaku. Cetakan harus ditahan secara kokoh di tempat selama pengisian, oleh operator yang berdiri di atas bagian injakan. Segera isi cetakan dalam tiga lapis, setiap lapis sekira sepertiga dari volume cetakan.

Sepertiga dari volume cetakan slump diisi hingga keketebalan 67 mm, dua pertiga dari volume diisi hingga ketebalan 155 mm.

b). Padatkan setiap lapisan dengan 25 tusukan menggunakan batang pemadat.

Sebarkan penusukan secara merata di atas permukaan setiap lapisan. Untuk lapisan bawah akan ini akan membutuhkan penusukan secara miring dan membuat sekira setengah dari jumlah tusukan dekat ke batas pinggir cetakan, dan kemudian lanjutkan penusukan vertikal secar spiral pada seputar pusat permukaan.

Padatkan lapisan bawah seluruhnya hingga kedalamannya. Hindari batang penusuk mengenai pelat dasar cetakan. Padatkan lapisan kedua dan lapisan atas seluruhnya hingga kedalamannya, sehingga penusukan menembus batas lapisan di bawahnya.

c). Dalam pengisian dan pemadatan lapisan atas, lebihkan adukan beton di atas cetakan sebelum pemadatan dimulai. Bila pemadatan menghasilkan beton turun dibawah ujung atas cetakan, tambahkan adukan beton untuk tetap menjaga adanya kelebihan beton pada bagian atas dari cetakan. Setelah lapisan atas selesai dipadatkan, ratakan permukaan beton pada bagian atas cetakan dengan cara menggelindingkan batang penusuk di atasnya.

Lepaskan segera cetakan dari beton dengan cara mengangkat dalam arah vertikal secara-hati-hati. Angkat cetakan dengan jarak 300 mm dalam waktu 5±2 detik tanpa gerakan lateral atau torsional. Selesaikan seluruh pekerjaan pengujian dari awal pengisian hingga pelepasan cetakan tanpa gangguan, dalam waktu tidak lebih dari 2 ½ menit.

d). Setelah beton menunjukkan penurunan pada permukaan, ukur segera slump dengan menentukan perbedaan vertikal antara bagian atas cetakan dan bagian pusat permukaan atas beton. Bila terjadi keruntuhan atau keruntuhan geser beton pada satu sisi atau sebagian massa beton, abaikan pengujian tersebut dan buat pengujian baru dengan porsi lain dari contoh. Bila dua pengujian berturutan pada satu contoh beton menunjukkan keruntuhan geser beton pada satu sisi atau sebagian massa beton, kemungkinan adukan beton kurang plastis atau kurang kohesif untuk dilakukan pengujian slump.

4 Ketelitian dan Penyimpangan Nilai Slump a). Ketelitian

Tidak perlu pengujian antar laboratorium yang dilaksanakan dalam metode pengujian ini, karena tidak mungkin mendapatkan beton yang setara pada tempat yang berbeda-beda, bebas dari kesalahan kecuali berdasarkan pengujian nilai slump. Data lapangan yang ekstensif mengizinkan suatu

Panduan Teknik Pelaksanaan Jembatan 2-17

pernyataan berkenaan dengan ketelitian beberapa teknisi dari metode pengujian ini.

1). Rentang pengujian, 38 hingga 70 mm.

2). Jumlah total contoh,

3). Deviasi standar kemampuan pengulangan (1S), 8 mm.

4). Batas kemampuan pengulangan 95 persen (D2S), 21 mm

Jadi, hasil dari dua pengujian yang dilaksanakan secara benar oleh teknisi- teknisi yang berbeda dalam laboratorium yang sama pada material yang sama tidak boleh lebih dari 21 mm. Karena keterbatasan rentang nilai slump dalam beton yang digunakan dalam pengujian ini, harus hati-hati dalam menerapkan nilai-nilai ketelitian ini.

b). Penyimpangan

Metode pengujian ini tidak memiliki penyimpangan karena nilai slump ditetapkan berkaitan dengan metode pengujian ini. Data yang akurat didasarkan atas penggunaan kerucut-kerucut dari bahan logam. Tidak ada data spesifik yang tersedia untuk hasil-hasil pengujian beberapa teknisi menggunakan kerucut dari bahan alternatif selain logam.

b Pengujian berat isi beton 1 Peralatan

a). Timbangan

Timbangan dengan ketelitian 45 g atau 0.3% dari berat benda uji, atau lebih besar berdasarkan rentang yang digunakan. Rentang yang digunakan berdasarkan timbangan yang dapat digunakan untuk menimbang wadah ukur kosong sampai wadah ukur yang telah terisi beton sekitar 2600 kg/m3.

b). Batang Penusuk

Batang penusuk terbuat dari baja yang lurus dengan diameter 16 mm dan panjang 600 mm, dengan bagian ujungnya dibulatkan setengah bola dengan diameter 16 mm.

c). Penggetar Internal

Penggetar internal harus memiliki permukaan yang halus dan rapat pada bagian penggetarnya serta digerakkan dengan motor listrik. Frekuensi getaran harus 7000 getaran per menit atau lebih. Diameter terluar dari bagian penggetar tidak kurang dari 19 mm dan tidak lebih dari 38 mm. Panjang bagian penggetar tidak kurang dari 600 mm.

d). Wadah Ukur

Wadah ukur berbentuk silinder, dapat terbuat dari baja atau logam lain (sesuai CATATAN 1). Kapasitas minimum dari wadah silinder harus sesuai dengan persyaratan yang tercantum dalam Tabel 2.12 yang berdasarkan pada ukuran agregat dalam beton yang akan diuji. Semua wadah ukur, kecuali wadah ukur pada pengukur kadar udara (air meter) yang digunakan pada pengujian TEST METHOD C 138, harus sesuai dengan persyaratan TEST METHOD C 29/C 29M. Wadah ukur yang digunakan pada pengukur kadar udara (air meter)

Panduan Teknik Pelaksanaan Jembatan 2-18

harus sesuai dengan persyaratan TEST METHOD C 231, dan harus dikalibrasi untuk volumenya sebagaimana dijelaskan pada TEST METHOD C 29/C 29M. Permukaan atas dari wadah ukur pada pengukur kadar udara (air meter) harus mulus dan rata dalam batas 0.3 mm (sesuai CATATAN 2).

Penandaan ukuran wadah ukur digunakan untuk pengujian beton dengan ukuran maksimum nominal agregat yang sama atau lebih kecil dari yang tertera dalam tabel. Volume aktual wadah ukur minimal 95 % dari volume nominal sebagaimana tercantum dalam Tabel 2.12.

Tabel 2.12 - Kapasitas Wadah Ukur

Nominal Maximum Size Capacity of MeasureA of Coarse Aggregate

in. Mm ft3 L

1 25.0 0.2 6

11¤2 37.5 0.4 11

2 50 0.5 14

3 75 1.0 28

41¤2 112 2.5 70

6 150 3.5 100

CATATAN 1 Logam tidak boleh bereaksi terhadap pasta semen. Bagaimanapun, bahan reaktif seperti aluminium mungkin dapat digunakan dimana terdapat konsekuensi pada reaksi inisial. Permukaan film yang terbentuk akan melindungi logam dari serangan korosi.

CATATAN 2 Permukaan atas cukup datar jika 0.3 mm gage tidak dapat dimasukkan di antara bibir gelas dan pelat kaca 6 mm atau lebih tebal diletakkan di bagian atas dari wadah.

e). Alat Perata

Pelat logam persegi empat dengan ketebalan 6 mm atau pelat acrylic atau kaca dengan ketebalan 12 mm, lebar 50 mm dan panjang yang disesuaikan dengan wadah silinder yang digunakan. Permukaan pelat harus rata dan mulus dengan toleransi penyimpangan 2 mm

f). Palu Karet

Untuk wadah ukur dengan volume tidak lebih dari 14 liter, gunakan palu karet dengan berat (600 ± 200) g, sedangkan untuk wadah ukur dengan volume lebih dari 14 liter, gunakan palu karet dengan berat (1000 ± 200) g.

2 Prosedur

a). Pemilihan Metode Pemadatan

Pemilihan metode pemadatan berdasarkan nilai slump dilakukan jika tidak ditentukan dalam spesifikasi. Metode pemadatan dilakukan degan cara penusukan dan getaran internal. Untuk nilai slump yang lebih besar dari 75 mm pemadatan dilakukan dengan cara penusukan. Untuk nilai slump yang terletak di antara 25 mm sampai 75 mm pemadatan dapat dilakukan dengan cara penusukan atau penggetaran internal. Apabila nilai slump lebih kecil dari 25 mm maka pemadatan hanya boleh dilakukan dengan cara penggetaran.

Panduan Teknik Pelaksanaan Jembatan 2-19

Beton nonplastis, seperti yang biasa digunakan pada pabrik pembuatan pipa dan pekerjaan menembok, tidak termasuk dalam cara uji ini.

b). Pemadatan

Beton ditempatkan dalam tiga lapis dengan volume yang sama pada setiap lapis. Untuk wadah ukur yang digunakan dengan volume 14 liter atau lebih kecil, tusuk-tusuk setiap lapis dengan 25 tusukan batang penusuk, 50 tusukan bila volume wadah ukur yang digunakan 28 liter, dan satu tusukan untuk setiap 20 cm2 dari permukaan untuk wadah ukur yang lebih besar. Tusukan lapisan bawah tidak menyentuh wadah ukur bagian bawah. Penusukan dilakukan secara merata di atas penampang melintang wadah ukur dan untuk dua lapis di atasnya, tusukan menembus lapisan di bawahnya sedalam 25 mm. Setelah setiap lapis ditusuk, pukul-pukul setiap sisi sebanyak 10 sampai 15 kali dengan menggunakan palu (sesuai Bab 2.2.3.3 b). 1). f.) untuk mengurangi jumlah pori dalam beton. Tambahkan lapis terakhir dan hindari pengisian yang terlalu penuh.

c). Penggetaran Internal

Isi dan getarkan wadah ukur dalam dua lapis yang sama. Tempatkan semua beton dalam setiap lapis dalam wadah ukur sebelum penggetaran dimulai pada lapis tersebut. Masukkan alat penggetar pada tiga tempat yang berbeda di setiap lapis. Untuk pemadatan lapis bawah, alat penggetar diusahakan tidak mengenai bagian bawah wadah ukur. Dalam pemadatan lapis terakhir, alat penggetar harus menembus setiap lapis yang di bawahnya kira-kira 25 mm. Alat penggetar harus ditarik secara hati-hati agar tidak ada udara yang terperangkap dalam beton. Waktu penggetaran yang diperlukan akan tergantung dari tingkat kemudahan pekerjaan beton dan efektifitas penggetar (Vibrator) (sesuai CATATAN 3). Penggetaran menerus hanya boleh dilakukan untuk mendapatkan beton yang padat (sesuai CATATAN 4). Amati lamanya waktu penggetaran yang diperlukan untuk berbagai jenis beton, penggetar dan alat ukur yang digunakan.

CATATAN 3 Biasanya, penggunaan penggetar dilakukan sampai permukaan beton menjadi relatif mulus.

CATATAN 4 Penggetaran berlebih mungkin menyebabkan segregasi dan kehilangan kuantitas udara yang terperangkap.

d). Penyelesaian Pemadatan

Pada penyelesaian pemadatan, wadah ukur tidak boleh dalam keadaan kekurangan atau kelebihan beton. Jumlah maksimum kelebihan beton kira- kira 3 mm di atas wadah ukur. Beton dapat ditambahkan dalam jumlah yang sedikit untuk menutupi kekurangan. Jika dalam wadah ukur terdapat kelebihan beton pada saat penyelesaian pemadatan, maka pindahkan kelebihan beton tersebut dengan menggunakan sendok semen atau sekop secepatnya seiring penyelesaian pemadatan dan sebelum wadah ukur diratakan.

e). Perataan

Setelah pemadatan, ratakan permukaan atas beton sampai batas atas wadah ukur dengan alat perata hingga permukaan beton benar-benar rata. Perataan sebaiknya dilakukan dengan menekan alat perata pada permukaan atas

Panduan Teknik Pelaksanaan Jembatan 2-20

wadah ukur untuk menutupi sekitar 2/3 dari permukaan dan gerakkan pelat perata dengan gerakan menyapu sampai benar-benar tertutup. Kemudian letakkan pelat perata pada permukaan atas wadah ukur untuk menutupi 2/3 permukaan lainnya dan lakukan dengan tekanan vertikal dan gerakan menyapu untuk menutupi semua permukaan wadah ukur dan lanjutkan sampai permukaan wadah ukur benar-benar rata. Lakukan tusukan akhir dengan menggunakan pelat perata sampai permukaan mulus.

f). Pembersihan dan Penimbangan

Setelah diratakan, bersihkan semua kelebihan beton yang terdapat pada bagian luar wadah ukur, lalu tentukan berat beton dan wadah ukur dengan timbangan sesuai dengan persyaratan pada Bab 2.2.3.3.b).1).a untuk hasil yang akurat.

3 Perhitungan a). Berat Isi

Menghitung berat isi adalah sebagai berikut :

D = Mc - Mm ………(1)

Vm

Dengan :

D = berat isi beton, kg/m3

Mc = wadah ukur yang diisi beton, kg Mm = berat wadah ukur, kg

Vm = volume wadah ukur, m3 b). Volume Produksi Campuran

Menghitung volume produksi campuran adalah sebagai berikut :

Y = M ………(2) D

Dengan :

D = berat isi beton, kg/m3

M = berat total material dalam campuran, kg Y = adalah volume produksi campuran, m3 c). Volume Produksi Campuran Relatif

Menghitung volume produksi campuran relatif adalah sebagai berikut :

Ry = Y ………...(3)

Yd

Dengan :

Ry = perbandingan volume produksi campuran relative Y = volume produksi campuran, m

Yd = volume beton yang dirancang untuk diproduksi, m3

Nilai Ry yang lebih besar dari 1,00 menunjukkan suatu kelebihan beton yang diproduksi sedangkan untuk nilai yang lebih kecil menunjukkan campuran kurang dari volume desain.

Panduan Teknik Pelaksanaan Jembatan 2-21

d). Kadar Semen

Menghitung kadar semen aktual adalah sebagai berikut :

C = Cb ………(4)

Y Dengan :

C = kadar semen aktual, kg/m3 Cb = berat semen dalam campuran, kg Y = volume produksi campuran, m3 e). Kadar Udara

Menghitung kadar udara adalah sebagai berikut :

A = {T – D} x 100………(5) T

Atau

A = {Y – V} x 100………(6) Y

Dengan :

A = kadar udara dalam beton (%) D = berat isi beton, kg/m3

T = berat isi teoritis beton, kg/m3 Y = volume produksi campuran, m3 V = volume absolut total, m3

*sumber ASTM C 138 atau SNI 1973:2008 2.2.3.4 Pembuatan Benda Uji

a Penempatan Cetakan

Cetak benda uji sedekat mungkin ke tempat penyimpanan selama 24 jam pertama.

Jika tidak memungkinkan untuk mencetak benda uji dekat tempat penyimpanan, pindahkan benda uji ke tempat penyimpanan sesegera mungkin setelah diratakan.

Letakkan cetakan pada permukaan kaku, bebas dari getaran dan gangguan lainnya.

Hindarkan dari gangguan, benturan atau goresan permukaan benda uji saat pemindahan benda uji ke tempat penyimpanan. Lindungi benda uji dari sinar matahari langsung dan hujan.

b Penempatan Benda Uji

Tempatkan beton ke dalam cetakan menggunakan sekop beton tumpul. Pilih penyendokan beton dari wadah pengaduk untuk menjamin bahwa beton merupakan perwakilan dari campuran. Mungkin perlu untuk mengaduk kembali beton dalam wadah pengaduk dengan sekop untuk menghindari segregasi selama pencetakan benda uji.

Gerakan sekop sekeliling sisi atas cetakan saat beton diisikan untuk meyakinkan penyebaran beton secara merata dan untuk mengurangi segregasi agregat kasar dalam cetakan. Selanjutnya sebarkan beton dengan menggunakan tongkat penusuk

Panduan Teknik Pelaksanaan Jembatan 2-22

sebelum mulai pemadatan. Pada penempatan lapisan terakhir operator harus mencoba untuk menambah jumlah beton yang akan mengisi secara tepat cetakan setelah dipadatkan. Jangan tambahkan benda uji yang tidak mewakili ke cetakan yang sedang diisi.

c Jumlah Lapisan

Buat benda uji dengan lapisan seperti yang ditunjukkan pada Tabel 2.13 berikut:

Tabel 2.13 - Jumlah Lapisan Yang Diperlukan Untuk Benda Uji

Dalam dokumen panduan teknik pelaksanaan jembatan (Halaman 78-86)