DAFTAR TABEL
1. PERSIAPAN
2.2 Beton .1 Umum
2.2.10 Pengendalian Produksi Beton Di Lapangan .1 Pengambilan Benda Uji
2.2.10.6 Pengujian Beton Kering
a Pengujian Kuat Tekan Beton Silinder
Pengujian kuat tekan beton silinder mengacu pada SNI 1974:2011 1 Ketentuan Peralatan Pengujian
Perencanaan peralatan mesin penguji harus meliputi hal-hal penting berikut:
a). Mesin harus dioperasikan dengan tenaga listrik serta harus menggunakan pembebanan yang terus menerus dan tanpa kejut. Jika mesin hanya memiliki satu kecepatan pembebanan sesuai persyaratan, mesin harus dilengkapi dengan alat tambahan untuk pembebanan pada kecepatan beban yang sesuai untuk keperluan verifikasi. Alat tambahan untuk pembebanan ini dapat dioperasikan dengan tenaga listrik maupun secara manual.
b). Kehancuran silinder beton dengan kuat tekan tinggi, pada umumnya memiliki daya sebar pecahan yang lebih tinggi dibandingkan dengan silinder beton dengan kuat tekan normal. Untuk keselamatan disarankan melengkapi alat uji dengan peralatan pelindung (semacam terali penutup di sekeliling benda uji).
c). Ruang yang disediakan untuk benda uji harus cukup luas memberikan tempat bagi alat kalibrasi, semacam alat kalibrasi elastis dengan kapasitas yang mencakup batasan beban yang mungkin terjadi pada mesin tekan serta sesuai dengan persyaratan. Alat kalibrasi harus ditempatkan pada posisi yang dapat dibaca. Tipe alat kalibrasi elastis yang umum tersedia dan yang umum digunakan adalah proving ring atau sel pembebanan (load cell).
2 Langkah Pelaksanaan Pengujian a). Perlakuan Benda Uji
Uji tekan benda uji yang dirawat lembab harus dilakukan sesegera mungkin setelah pemindahan dari tempat pelembaban. Benda uji harus dipertahankan dalam kondisi lembab dengan cara yang dipilih selama periode antara pemindahan dari tempat pelembaban dan pengujian. Benda uji harus diuji dalam kondisi lembab pada temperatur ruang.
b). Toleransi Waktu Pegujian
Semua benda uji untuk umur uji yang ditentukan harus diuji dalam toleransi waktu yang diizinkan seperti yang ditunjukan pada Tabel 2.21.
Tabel 2.21 - Toleransi Waktu Yang Diizinkan
Panduan Teknik Pelaksanaan Jembatan 2-54
c). Penempatan benda uji
Letakkan landasan tekan datar bagian bawah, dengan permukaan kerasnya menghadap ke atas pada meja atau bidang datar mesin uji secara langsung di bawah blok setengah bola. Bersihkan permukaan landasan tekan atas, landasan tekan bawah dan permukaan benda uji kemudian letakkan benda uji pada landasan tekan bawah
1). Lakukan verifikasi nilai nol dan dudukan landasan sebelum pengujian, pastikan penunjuk beban sudah menunjukkan nol. Dalam hal penunjuk tidak sempurna menunjukkan nol, atur penunjuk. Pada saat landasan atas yang didudukan pada setengah bola diturunkan untuk membebani benda uji, putar bagian yang dapat bergerak perlahan-lahan dengan tangan sehingga dudukan yang rata tercapai.
2). Teknik yang digunakan untuk melakukan verifikasi dan mengatur penujuk beban nol akan beragam tergantung pada pembuat mesin. Pelajari manual atau alat kalibrasi mesin tekan untuk mendapatkan teknik yang benar.
d). Pembebanan
Lakukan pembebanan hingga benda uji hancur, dan catat beban maksimum yang diterima benda uji selama pembebanan. Catat tipe kehancuran dan kondisi visual benda uji beton.
b Pengujian Beton Inti
Pengujian beton inti mengacu pada SNI 03-2492-2002 1 Cara Pengambilan Beton Inti
a). Perbandingan ukuran agregat maksium dalam beton dengan diameter beton inti harus lebih besar dari 1:3, atau diameter benda uji beton inti untuk benda uji kuat tekan harus lebih dari tiga kali ukuran nominal maksimum dan agregat kasar dalam beton keras. Benda uji beton iti yang akan digunakan utuk pengujian kekuatan harus diambilkan dari beton keras yang umumnya tidak boleh kurang dari 14 hari. Sebelum memutuskan untuk melakukan pengeboran beton inti, perlu mempertimbangkan terlebih dahulu tujuan pengujian dan penginterpretasian data.
b). Implikasi struktural hasil dari pengambilan beton inti terdahulu harus dipertimbangkan, dan beton inti harus diambil:
1). Pada titik yang jauh dan sambungan dan tepid an elemen struktur dari pada tempat – tempat yang sedikit mungkin atau tidak ada tulangan.
2). Tegak lurus pada komponen struktur beton yang posisinya horizontal atau vertikal, harus dipilihkan pada tempat yang tidak boleh membahayakan struktur, yaitu tidak boleh terlalu dekat dengan sambungan.
2 Cara Pengeboran Beton Inti
Jika tidak ditetapkan, pengeboran beton inti harus tegak lurus pada permukaan sedemikian rupa sehingga tidak merusak beton inti. Posisi alat bor harus dijaga agar tidak berubah posisi atau bergoyang selama pengeboran.
Panduan Teknik Pelaksanaan Jembatan 2-55
3 Penentuan Panjang Beton Inti
Dalam menentukan panjang beton inti yang akan diambil untuk uji kuat tekan harus memperhitungkan:
a) Diameter beton inti dengan ukuran minimum 100 mm.
b) Pengukuran beton inti, sesuai metode uji ASTM C 174.
c) Faktor perbandingan perlu ditentukan, apakah terhadap kuat tekan kubus atau terhadap kuat tekan silinder.
4 Penandaan dan Identifikasi
Segera setelah pengeboran, pada setiap beton inti harus dibersihkan dan diberi tanda. Lokasi dan orientasi pada elemen beton tempat pengeboran harus dicatat.
Bila telah dihasilkan sejumlah benda uji beton inti secara berturut-turut, harus diberi tanda pada setiap benda uji yang menunjukan posisi dan orientasinya.
5 Tingkat Pemuatan Beton Inti
Dalam pemuatan beton inti, terapkan beban secara terus menerus dan tanpa goncangan.
a). Beban harus diterapkan pada laju gerakan (pelat) untuk pengukuran judul bab) yang sesuai dengan tingkat stres pada spesimen 35 6 7 psi / s [0,25 6 0,05 MPa / s] (Lihat Catatan 10). Tingkat pergerakan yang ditentukan harus dipertahankan pada setidaknya selama paruh terakhir dari fase pemuatan yang diantisipasi.
CATATAN 10 — Untuk mesin uji yang dikendalikan sekrup atau yang dikendalikan perpindahan, pengujian pendahuluan akan diperlukan untuk menetapkan tingkat yang diperlukan gerakan untuk mencapai tingkat stres yang ditentukan. Tingkat yang diperlukan dari gerakan akan tergantung pada ukuran spesimen uji, elastis modulus beton, dan kekakuan mesin uji.
b). Selama penerapan setengah pertama dari yang diantisipasi fase pemuatan, tingkat pemuatan yang lebih tinggi harus diizinkan. Itu tingkat pemuatan yang lebih tinggi harus diterapkan secara terkendali bahwa spesimen tidak.
c). Tidak membuat penyesuaian ke tingkat pergerakan sebagai beban maksimum yang mendekati dan tingkat tegangan yang berkurang karena retak pada spesimen.
d). Jika rasio panjang spesimen beton inti dengan diameter sebesar 1,75 atau kurang, perbaiki hasil yang diperoleh dengan mengalikannya dengan faktor koreksi yang sesuai ditunjukkan pada tabel berikut Catatan 11:
L / D : 1,75 1,50 1,25 1,00 Faktor : 0,98 0,96 0,93 0,87
Gunakan interpolasi untuk menentukan faktor koreksi untuk L / D nilai antara yang diberikan dalam tabel.
CATATAN 11 — Faktor koreksi tergantung pada berbagai kondisi seperti kondisi kelembaban, tingkat kekuatan, dan modulus elastis. Nilai rata-rata adalah diberikan dalam tabel. Faktor koreksi ini berlaku untuk beton kepadatan rendah beratnya antara 100 dan 120 lb / ft3 [1600 dan 1920 kg / m3 ] dan untuk beton dengan kerapatan normal. Mereka berlaku untuk beton kering atau direndam waktu pemuatan dan untuk kekuatan beton nominal dari 2000 hingga 6000 psi [14 hingga
Panduan Teknik Pelaksanaan Jembatan 2-56 42 MPa]. Untuk kekuatan lebih tinggi dari 6000 psi [42 MPa] faktor koreksi mungkin lebih besar dari nilai yang tercantum di atas.
6 Toleransi
Benda uji dipersiapkan dengan toleransi sebagai berikut:
a). toleransi untuk kerataan permukaan bagian ujung disiapkan dengan cara menggerinda atau cara kaping, menggunakan semen alumunium tinggi atau belarang menurut ASTM C 617.
b). Untuk menjamin kesikukan, toleransi untuk kerataan permukaan bagian ujung yang telah dipersiapkan, harus sesuai standar yang berlaku.
c). Untuk kelurusan, toleransi terhadap garis sumbu harus maksimum 3% dan diameter ratarata beton inti.
7 Pengujian
Pengujian harus dilakukan sesuai dengan SNI 1974:2011 Metode Pengujian Kuat Tekan Beton. Beton inti tidak boleh diuji dalam keadaan retak, atau lepas lapisan kapingnya. Bersihkan permukaan benda uji dan pasir dan kotoran lain.
Jika benda uji yang akan diuji masih basah, keringkan permukaannya. Catat kondisi permukaan pada saat di uji.