Tabel 3.16 Perencanaan Total Benda Uji
Bentuk Cetakan Umur Perendaman Total Benda Uji
Kubus 28 Hari 36
Interlock 28 Hari 36
Setelah mencetak adonanan menggunakan cetakan interlock, mendiamkan adonan dalam cetakan selama sampai tiga hari sampai mengeras, setelah itu melepaskan benda uji dari cetakan. Untuk benda uji kubus dilakukan dengan memotong benda uji dari cetakan interlock dengan dimensi sisi x sisi x sisi yaitu 0,15 m x 0,15 m x 0,15 m untuk selanjutnya diuji kuat tekan. Untuk pengujian bobot isi dilakukan dengan memotong benda uji dari bentuk interlock dengan dimensi 0,15 m x 0,15 m x 0,15 m. Setelah material mulai mengeras dan berumur 28 hari barulah bisa disebut benda uji dan dilakukan pengujian.
b. Timbangan dengan ketelitian 0,1 gram c. Cawan sebanyak 8 buah
d. Saringan Mekanik e. Oven
f. Talam sebanyak 2 buah
Prosedur pelaksanaan pengujian gradasi butiran sebagai berikut:
1. Memasukkan sejumlah agregat halus (pasir) ke dalam oven selama 24 jam dengan suhu (110±5) °C;
2. Menimbang berat masing-masing talam;
3. Mengambil agregat halus yang sudah kering oven sebanyak 1000gram dan menuangkan ke dalam masing-masing talam;
4. Menyiapkan saringan dengan urutan diameter dari diameter terbesar paling atas sampai diameter terkecil paling bawah; yaitu 9,6 mm; 4,8 mm; 2,4 mm; 1,2 mm;
0,60 mm; 0,30 mm; 0,15 mm; pan;
5. Menuang agregat halus ke dalam saringan yang paling atas;
6. Menyaring dengan menggunakan saringan mekanik selama 10 menit;
7. Mendiamkan selama ± 5 menit setelah proses penyaringan selesai guna memberikan kesempatan debu atau pasir yang sangat halus mengendap;
8. Menimbang masing-masing cawan;
9. Menuangkan agregat halus ke dalam masing-masing cawan;
10. Menimbang agregat halus yang tertahan di atas masing–masing saringan;
11. Mencatat hasil pengujian saringan dalam daftar tabel;
3.6.2 Pengujian berat jenis pasir
Prosedur pelaksanaan pengujian berat jenis pasir dalam kondisi SSD sebagai berikut:
a. Menimbangxpasir kondisi SSDxsebanyak 500 gram.
b. Menimbangxair sebanyak 500 cc dengan menggunakan picnometerxgelas yang sebelumnya di nol–kan beratnya terlebih dahulu. Kemudianxmengurangi air hinggaxmenunjukkan batas 300 cc.
c. Memasukkan benda uji seberat 500gram pasir SSD ke dalamxpicnometer gelas yang sudahxberisi air. Mengguncang picnometerxsampai tidak terlihatxgelembung udara di dalamnya.
d. Menambahkanxair ke dalam picnometerxgelas yang telah berisi pasir hingga menunjukkanxbatas 500 cc dan menimbangnya.
3.6.3 Pengujian kadar air pasir
Pori-pori pada permukaan bata ringan terjadi karena adanya kemampuan penyerapan air bata bata ringan. Menurut SNI 03-0349-1989 bata ringan yang layak digunakan apabila kemampuan daya serap airnya memiliki nilai kurang dari 25 %.
Kadar air dapat dicari dengan menghitung beratxbasah dan beratxkering dari agregat halus, untuk mengetahui besarnya serapan air dari pasir. Langkah pengujian kadar air dapat dilakukan sebagai berikut.
a. Mengambilxsampel pasir dengan kondisi jenuh kering permukaan luar sebanyak 1000 gram;
b. Mengeringkan pasir menggunakan oven dengan suhu (110 ± 5)℃ sampai memiliki berat yang tetap, kemudian menmbang beratnya;
c. Menghitung besarnya kadar air.
3.6.4 Pengujian berat satuan agregat
Pada pengujian berat satuan agregat halus/pasir dilakukan dengan bertujuan untuk menentukan berat satuan (unit weight) pasir dalam keadaan padat dan longgar. Beratxsatuan agregat halus/pasir adalah berat agregat pada kondisi padat ataupun pada kondisi lepas pada satu satuan tempat tertentu. Pengujian berat satuan agregat halus/pasir dilakukan pada kondisixberat isi asli dan berat isi basah atau ssd. Berat satuan ini dibedakan menjadi 2 keadaan yaitu, beratxsatuan gembur dan beratxsatuan padat. Pada pengujian berat satuan agregat menggunakan alat dan bahan di antara lain sebagai berikut.
a. Tabung baja silinder dengan diameter 15 cm, tinggi 30 cm;
b. Batangxbaja penusuk;
c. Pasirxkondisi asli;
d. Timbangan
e. Pasirxkondisi SSD.
Proses pengujianxberat isi dilakukan dengan pasir kondisi SSD gembur dan padat, tata cara pengujian antara lain sebagai berikut.
a. Pengujian Berat Isi Gembur
1. Menuangkan benda uji pasir dalam kondisi pasir asli atau SSD kexdalam tabung baja silinder sampai terisi penuh, kemudian meratakan permukaan bagian atas pasir hingga diperoleh volumexgemburxpasir;
2. Menimbang pasir yang telah dituang ke dalam tabung silinder.
b. Pengujian Berat Isi Padat
1. Menuangkan pasir ke dalam tabung silinder sampai terisi setengahnya;
2. Pasir yang sudah dituangkan kedalam silinder tabung tadi dipadatkan dengan cara menusuk–nusuk pasir dengan batang baja penusuk sebanyak 25 kali;
3. Menambah pasir kembali ke dalam tabung hingga terisi penuh;
4. Menusuk–nusuk kembali sampai padat terisi dengan menggunakan batang baja penusuk sebanyak 25 kali;
5. Menambah pasir hinggaxpenuh dan meratakanxpermukaannya, sehingga memperoleh volume padat pasir;
6. Menimbang pasir yang telah diperlakukan tadi yang terdapat di dalam tabung.
3.6.5 Pengujian kadar lumpur pasir
Pemeriksaan kadar lumpur agregat halus/pasir bertujan untuk menentukan persentasexkadar lumpur pada suatu agregat halus/pasir. Berdasar SK SNI S-04- 1989-F, kandungan lumpur harus kurang dari 5% untuk dapat digunakan sebagai bahan pengisi susun batako. Terdapat dua cara pengujian kadar lumpur yaitu pengujian berdasar volume dan berdasarkan berat.
Langkah-langkah pengujian kadar lumpur agregat halus/pasir adalah sebagai berikut.
a. Mempersiapkan benda uji yang diuji pasir yang telah disaring memakai saringan dengan ukuran maksimum 4,75 mm dan berat minimum benda uji yang digunakan seberat 500 grams.
b. Mengeringkan benda uji ke dalam oven pada suhu sekitar (110 ± 5) º C sampai beratnya tetap dan menimbang dengan timbangan dengan ketelitian 0,1 gram.
c. Meletakkan benda uji ke dalamxsaringan No. 200 dan mengalirkan airxdiatasnya.
d. Mengalirkan benda uji ke dalam saringan dengan menggunakan aliran air yang cukupxderas, sehingga pada bagian pasir yang halus dapat menembus saringan No. 200 dan pada bagian yang lebih kasar akan tertinggal diatasnya.
e. Melakukan kegiatan di atas secara berulang hingga air pada pencucian terlihat lebih jernih.
f. Mengeringkan benda uji ke dalam oven pada suhu sekitar (110 ± 5) º C sampai beratnya tetap dan menimbang dengan timbangan yang memiliki ketelitian 0,1 gram.
Tujuan pengujian kadar lumpur yaitu untuk mengetahui kandungan liat pada agregat halus/pasir. Syarat kandungan liat pada pasir yaitu 0,5% < 1%. Kandungan liatxyang terdapat pada agregat halus/pasir tidak boleh melebihi 1% (dari berat kering). Pada kadar air yang melebihi 1% maka pasir harus dicuci terlebih dahulu.
Pada pemeriksaan kadar lumpur bertujuan untuk menentukan persentase kadar lumpur pada suatu agregat halus/pasir. Berdasar SK SNI S-04-1989-F, kandungan lumpur harus kurang dari 5% untuk digunakan sebagai bahan susun batako..
3.6.6 Perencanaan campuran untuk benda uji
Perencanaan campuran pada pembuatan benda uji bata interlock ringan dilakukan berdasarkan perhitungan pada berat volume masing-masing material, dengan nilai FAS (Faktor Air Semen) 0,6. Untuk komposisi gipsum digunakan 0%, 2,5%, dan 5% dan kapur 0%, 5% dan 10% dari berat semen.