Melimpahnya material hasilxerupsi gunung berapixyang tertahan di sekitar badan gunungxditambah dengan derasnya hujan akan memengakibatkan risiko yang sedikit berbahaya dan dapat mengakibatkan adanya aliran lahar dingin. Hal tersebutxdapat juga mengakibatkan pendangkalanxsungai. Dalam upaya pemanfaatan jangka panjang material Merapi (abu dan pasir) serta dapat mendukung beberapa kegiatan dalam pembangunan infrastruktur dan peningkatan dalam aspek kehidupan ekonomi masyarakat juga dapat sebagai penanganan dan penanggulangan masalah di lingkungan, perlu adanya pemanfaatan material Merapi sebagai bahan konstruksi. Pasir gunung Merapi sangat baik jika digunakan untuk industri material beton. Ujung silika yang berbentuk runcing yang membentuk partikel bersudut. Pola yang membentuk partikel bersudut inilah yang akan membuat antara ikatan pasir gunung api dengan semen akan menjadi lebih kuat.
(Lasino, 2016).
Pada tahun 2017 terdapat penelitian tentang bata ringan dengan campuran Foaming agent dan gipsum yang dilakukan oleh Widodo (2015). Hasil dari penelitian tersebut adalah penambahan foaming agent dengan kadar 0,7 1t/m3 , 0,9 1t/m3, 1,1 1t/m3 dan serbuk gipsum 5% pada bataxbetonxringan dengan pengujianxkuat tekan, kuat tarik belah, kuatxlentur yang maksimal terjadi pada penambahan Foaming agent dengan kadar 0,7 1t/m3 dan serbuk persentase gipsum sebesar 5%. Kuat tekan rata-rataxtertinggi didapat pada beton ringanxmenggunakan
pasir kuarsaxsebesar 3,58 MPa, kuat tarik belahnya sebesar 0,34 MPa, kuat lentur balok beton pada posisi tegak didapat 0,523 MPa, kuat lentur balok beton pada posisi datar sebesar 0,269MPa.
Pada penelitian yang dilakukan Adnin (2020) benda uji yangxdigunakan dimensi ukuran 21 cm x 11 cm x 4,5 cm, xdengan jumlah 5 variasi penambahan persentasexgipsum yaitu sebesar 0%, 5%, 10%, 15% dan 20%. Pada setiap variasi terdiri dari 12 buah benda uji. Pengujian yangxdilakukan yaitu pengujian kuatxtekan, pengujian penyerapan air, pengujian kerapatan semuxdan berat jenis.
Hasil dari penelitian pada penggunaan kadar gypsum optimum terjadi pada variasi persentase 5% dengan hasil kuatxtekan bata berpasangan 3,566 MPa, kuat tekan bata individu maksimum yaitu 5,824 MPa, penyerapan minimumxsebesar 30,850%
dan kerapatan semu diperoleh sebesar 1,292 gram/cm3. Berdasarkanxhasil pengujian terhadapxkarakteristik pada bata, yakni menunjukkan bahwaxpenggunaan gipsum optimum yaitu terjadi pada variasi persentase 5%.
Pada penelitian yang dilakukan Jusi (2021) mengenai penambahan kapur sebagai pengganti dari sebagian semen pada bata ringan. Pada pengujian yang dilakukan penelitian ini adalah pengujian kuat tekanxbebas menggunakan Unconfined Compression Strength (UCS) denganxpersentase penambahan kapur sebesar 5%, 10%, 15%, dan 20% dari berat semenxyang digunakan. Hasil dari pengujian kuat tekan bata ringan yang dilakukan pada umur 28 hari maasing- masing variasi campuran dengan persentase kapur 5%, 10%, 15%, dan 20%
berturut-turut didapat kuat tekan 0.96 MPa, 0,81 MPa, 0,43 MPa, dan 0,32 MPa.
Kuat tekanxmaksimum yang direkomendasikanxterdapat pada campuran persentase kapur 5% yaitu 0.96 MPa
2.2 Landasan Teori 2.2.1 Dinding
Dinding adalah elemen bangunan yang fungsinya untuk memisahkan dan membentuk ruangan, selain itu dinding berfungsi sebagai pembatas ruangan, peredam suara, melindungi ruangan dari paparan sinar matahari, hujan, serangan binatang dan sebagainya (Setyawan dkk., 2017).
2.2.2 Klasifikasi dinding
Berikut ini terdapat beberapa macam material yang dapat digunakan sebagai bahan campuran pembuatan dinding :
1. Dinding batu bata merah
Batu bata merah merupakan material dinding yang bahan dasarnya terbuat dari tanah liat yang dibakar. Batu bataxmerah memiliki sifat daya tahan yang kuat sehingga mampu mereduksi panas, tidak terpengaruh oleh perubahan cuaca (tahan lama). Namun terdapat kekurangan dari material batu bataxmerah ini seperti membutuhkan waktu yang cukup lama untuk proses pemasangannya.
2. Dinding batako
Batako terbuat dari campuran pasir dan semen yang dicetak berbentuk balok. Terdiri dari campuran tras dan kapur (5:1) Kelebihan dari material batako adalah harganya yang relative lebih murah dibandingkan batu bata merah. Namun kekurangan dari batu batako ini adalah mudah retak dan daya tahan terhadap beban berat cenderung minim.
3. Dinding bata ringan
Bata ringan atau dikenal banyak sebagai bata hebel pada umumnya dibuat hanya secara masal di industri pabrik yang bahan dasarnya terbuat dari olahan bahanxcampuran pasir, semen, gipsum, kapur, dan alumunium pasta. Bata ringan memiliki karakteristik bobot yang ringan, permukaan halus dan rata. Pada umumnya dimensi bata ringan memiliki ukuran 60 cm x 20 cm dengan tebal yang bervariasi sekitar 7-15 cm (SNI Bata Ringan 8640-2018).
2.2.3 Bata ringan
Bata ringan merupakan material bahan bangunan yang berfungsi dalam pembuatan dinding sama halnya dengan fungsi batu bata merah. Bahan pembuat bata ringan berasal dari bahan campuran pasir, semen, kapur, gipsum, dan alumunium pasta. Bata ringan mempunyai sifat bobot yang ringan dibandingkan dengan bata konvensional biasa, permukaannya halus dan sangat rata. Umumnya bata ringan mempunyai dimensi ukuran 60 cm x 20 cm dengan tebal bervariasi sekitar 7 cm sampai 15 cm. Berat jenis kering bata ringan sekitar 530 kg/m3. Menurut (Goritman dkk., 2012) dari hasil penelitian didapatkan komposisi pekerja 0,1 OH mandor, 0,3 OH kepala tukang, 2 pembantuxtukang dan 3 tukang batu didapatkan rata-rataxpekerjaan perhari dapat memasang 43,62 m2 bata ringan.
Menurut Ningrum (2018), bata ringan merupakan bata yang mempunyai pori yang berat jenisnya lebih ringan dibandingkan dengan bata konvensional pada umumnya yaitu sebesar 600-1600 kg/m3. Kekuatan tekan bata ringan diantara 1 MPa sampai 15 MPa (Taufik, 2017).
Bata ringan mempunyai keunggulan diantaranya sebagai berikut (Goritman, 2012):
1. Beton ringan memiliki bobot lebih ringan dan kuat dibandingkan dengan bata merah sehingga tidak memberi beban pada struktur bangunan dan lebih tahan terhadap guncangan akibat gempa.
2. Lebih cepat dalam pengangkutan atau transportasi material karena bobotnya lebih ringan.
3. Tidak perlu plesteran yang tebal.
4. Sulit terbakar karena tahan terhadap perbedaan suhu tinggi dan cukup tahan api.
Selain kelebihan bata ringan juga mempunyai kekurangan, sebagai berikut (Goritman, 2012):
1. Diperlukan keahlian khusus untuk melakukan pemadangan bata ringan agar mencapai hasil yang baik, efesien dan maksimal.
2. Sulit didapat karena pada umumnya bata ringan hanya tersedia di toko material besar atau pabrik.
3. Harganya lebih mahal dibandingkan dengan bata merah konvensional.
4. Memiliki sifat daya serap air tinggi dibandingkan dengan bata konvensional.
2.2.3.1 Spesifikasi bata ringan
Bata ringan dibedakan menjadi dua yaitu bata ringan Autoclaved Aerated Concrete (AAC) dan Cellular Lightweight Concrete (CLC). Bataxringan jenis AAC dibuat menggunakan bahan kimia Foaming agent sehingga terdapat pori pada bata
ringan yang bertujuan untuk mengurangi berat jenis. Sedangkan bata ringan jenis CLC diproduksi dengan menggunakan alat dan teknologi yang lebih sederhana dibandingkan bata jenis AAC. (Ningrum, 2018).
Menurut LEIBEL (Leicht Beton Element), bata ringan CLC merupakan betonxselular yang dalam proses curing nya dilakukan secara alami, dan termasuk beton konvensional yang mempunyai ciri dalam pada proses pencampuran adonan menggunakan busa organik akan dihasilkan udara sebagai pengganti agregat kasar (kerikil) yang berfungsi sebagai media atau alat untuk membungkusxudara dengan digunakan busa yang sangat stabil dan tidak ada reaksi kimia. Pada tekanan atmosfer saja yang melalui kelembapan alamiah bata CLC akan mengalami kekuatannya bertambah seiring dengan waktu. Bata CLC lebih berat dibandingkan AAC tetapi CLC menawarkan kelebihan pada penurunan bobot yang cukup besarxdan isolasi termal mencapai persentase 500% nilainya terhadap lebih tinggi dan tahan api dibandingkan dengan beton konvensional.
Bata ringan jenis AAC dan CLC, terbuat dari bahan dasar seperti semen, pasir, dan air. Keduanya memiliki volume beton mengembang dari beton biasa karena menggunakan prinsip yang sama, yaitu dengan cara menambahkan gelembung-gelembung udara padasaat campuran beton dibuat, sehingga membuat bobot bata ringan akan lebih ringan dibandingkan dengan beton biasa, dan bahkan dapat mengapung di air.
Pada bahan campuran bata ringan jenis AAC digunakanxaluminium pastaxsebagai pengembang, danxpengerasan dilakukan di dalamxbilik yang
bertekanan danxbersuhu tinggi. Proses ini biasaxditerapkan pada industrixskala besar. Sedangkan untuk bata ringan jenis CLC, dalam penggunaannya menggunakan Foaming agent yang dicampurkanxdengan mixer padaxadukan beton untukxmemunculkan microxbubble di dalamxadukan beton. Pada proses pendinginanxdilakukan pada udara yang terbuka, sehinggaxbiasa diterapkan pada industrixbata ringan skala kecil. Beberapa perbedaan antara bata ringan jenis AAC dan CLC yang akan ditunjukkan pada Tabel 2.1 berdasarkan beberapa parameter (Hazim dkk, 2016).
Tabel 2.1Perbedaan Bata Ringan AAC dan CLC
No Parameter BataxRingan AAC BataxRingan CLC
1. BahanxDasar Semen, pasir, kapur, gipsum, alumunium pasta
Semen, pasir, busa senyawa, air
2. Proses produksi dan Set Up
Diproduksi di industri
pabrik dan
menggunakan alat seperti Oven Autoclave
Tidak memerlukan Oven Autoclave
3. Kepadata kering (kg/m3)
• 650
• 750
• 400-600
• 800-1000
• 1200-1800 4. KekuatanxTekan 28
hari (kg/m3)
• 40
• 40
• 10-15
• 20-30
• 60-250 5. Ukuran Block
Pracetak (mm)
625 x 250 x 100/200 500 x 250 x 90/190 6. Penggunaan • Mengingat beban
non-blok
• Diperkuat panel
• Isolasi
• Partisi non-beban bantalan
• Beban bantalan
Lanjutan Tabel 2.1 Perbedaan Bata Ringan AAC dan CLC
No Parameter BataxRingan AAC BataxRingan CLC
7. Sifat penuaan Tidak ada sifat penuaan Keuntungan pada kekuatan dengan usia seperti beton biasa
8. Konduktivitas
TermalxUnit (W/mk)
0,132-0,151xuntuk 650 kg/m3
• 0,098 untuk 400 kg/m3
• 0,151 untuk 700 kg/m3
• 0,238 untuk 1000 kg/m3
9. IsolasixSuara Unggul Unggul
10. Mudah Bekerja • Dipaku
• Dapat dipotong
• Dibor sebagai kayu
• Dipaku
• Dapat dipotong
• Dibor sebagai kayu 11. Eco-ramah Bebas terhadap polusi
dengan memiliki kebutuhan energi tingggi
Bebas terhadap polusi dengan memiliki kebutuhan energi minimal
(Sumber : (Hazim dkk, 2016) 2.2.3.2 Syarat mutu bata ringan
Syarat mutu bataxringan menurut (SNI Bata Ringan 8640-2018.Pdf, n.d.) tentang bata ringan diantaranya adalah sebagai berikut.
1. Permukaan luar
Permukaan bidang bata harus baik dan tidak cacat dengan toleransi masih bisa ditutup dengan pasangan mortar. Rusuk-rusuknya tidak mudah dirusak dan harus siku terhadap yang lainnya.
2. Syarat fisis
Berdasarkan kondisi dan fungsi bata ringan maka bata ringan harus memiliki syarat fisis khusus sesuai dengan Tabel 2.2.
Tabel 2.2Syarat Fisis Bata Ringan
Syarat Fisis Satuan Bata Struktural Bata Nonstruktural Terekspor
lingkungan (outdoor)
Tidak terekspos lingkungan
(indoor)
Terekspor lingkungan
(outdoor)
Tidak terekspos lingkungan
(indoor)
Kelas - IA IB IIA IIB
Kuat tekan rata-rata min.1
MPa 6 4 2
Kuat tekan
individu min MPa 5,4 3,6 1,8
Penyerapan
air, maks. 2 % Vol 25 - 25 -
Tebal, min. mm 98 98 73
Susut
pengeringan, maks.3
% 0,2
Sumber: (SNI Bata Ringan 8640-2018.) 2.2.4 Bata beton
Bataxbeton merupakan bata yang bahan dasarnya terbuat dari bahan utama semen portland, agregat dan air. Bata beton dibedakanxmenjadi dua yaitu bata betonxpejal dan bata betonxberlubang.
1. Bata beton pejal
Bata beton pejal merupakan bata yang mempunyai volume pejaldengan persentase lebih dari 75% volume bata seluruhnyaxdan memiliki
penampang pejalnya sebesar 75% atau lebih dari luas penampang seluruhnya.
2. Bata beton berlubang
Bata beton berlobang merupakan bata yang mempunyai volume lubang dengan persentase lebih dari 25% volume batas seluruhnya dan memiliki luas penampang lubang lebih dari 25% dari luasan penampang bata.
Syarat fisis yang harus dipenuhi menurut SNI 03 0349 1989 bata beton untuk pasanganxdinding dapatxdilihat pada Tabel 2.3.
Tabel 2.3 Persyaratan Fisik Bata Beton
SyaratxFisis Satuanx Tingkat Mutu Bata Beton Pejal
I II III IV
Kuatxtekanxbruto
rata-rata minimum kg/cm2 100 70 40 25 SyaratxFisis Satuan Tingkat Mutu Bata Beton Pejal Kuatxtekan bruto
masing-masingxbenda uji
kg/cm2 90 65 35 21
Penyerapanxair rata-
rata % 25 35 - -
(Sumber :SNI 03-0349, 1989) 2.2.5 Bata interlock
Bata interlock merupakan bata yang pemasangannya dengan cara menumpuk bersilangan sehingga bisa saling mengait, dapat menggunakan perekat semen ataupun yang tidak terbuat dari campuran semen, pasir dan air setelah itu dilakukan proses ress ke dalam cetakan interlock yang sesuai dengan standar.
Bata ini memiliki kemampuan interlocking dengan pengait yang berfungsi untuk mengunci pergerakanxyang diakibatkan oleh gaya. Bata interlock merupakan
salah satu pengembangan dari jenis batako yang pembuatannya dengan cara menambah lips tonjolan pada bagian sisi-sisinya yang berfungsi sebagai pengunci.
Pemasangan bata interlock ini dapat menghemat tenaga kerja, mortar dan waktu dan diharapkan dengan adanya bata interlock ini dapat mampu mengurangi kerusakan pada dinding yang diakibatkan gempa bumi.
2.2.6 Material penyusun bata ringan
Material penyusun bata ringan dapat ditentukan olehxbeberapa faktor seperti proses pembuatan, alat yang digunakan, bahanxdasar dan bahan tambah/pengganti. Saringan perkembangan bahan untuk penyusun bata ringan tidak hanya terbuat dari semen, pasir dan air. Ada beberapa variasi yang banyak ditemukan dan telah dilakukan pada beberapa penelitian. Bahan penyusun bata ringan antara lain terdiri dari:
2.2.6.1 Semen portland
Semenxportland merupakan semenxhidrolis yang dalam proses pembuatannya dengan caraxmenggiling terakxsemen portlandxyang bahan utamanyaxterdiri dari senyawa kalsium silikat yangxbersifat hidrolis dan digilingxbersama-sama denganxbahan tambahan berupaxsatu atau lebihxbentuk kristal senyawaxkalsium sulfat dan boleh ditambahxdengan bahanxtambahan lain (SNI 15-2049-2004, 2004).
Semen portland memiliki karakteristik sifat yaitu sifatxfisik dan sifatxkimia (Permana, 2017). Sifat fisik semen portland diantaranya sebagai berikut:
1. Semen mempunyai berat jenis antara 3 mg/m3 sampai dengan 3,20 mg/m3.
2. Waktuxikatan yang diperlukan yaitu dimulai pada adanya reaksi dengan air sehingga terbentuk pasta semen yang kaku, hal ini dapat menahanxtekanan yang disebut waktu ikatan.
3. Panas hidrasi yang terjadi pada silikatxdan alumuniat akan dapat bereaksi dengan air yang berupa media perekat yang akan memadat setelah itu akan berbentuk menjadi massa yang keras. Reaksi tersebut dinamakan hidrasi.
4. Kehalusan pada butir reaksi antar semen dengan air yaitu semakin luas permukaan di butir-butir semen pada permukaan butir semen, maka akan lebih cepat proses hidrasinya. Oleh karena itu proses hidrasi semen tergantung dari tingkat kehalusan pada butir semen, semakin halusnya butiran semen maka makin cepat proses hidrasinya, Pada semen yang mempunyai tingkat kehalusannya tinggi dapat mengurangi proses terjadinya air naik ke permukaan.
Sifat kimia yang terdapat pada komposisi semen portland memiliki 4 unsur paling penting (Arizki dkk, 2015), yaitu :
1. TrikalsiumxSilikat (3CaO.SiO2) atau C3S dengan berat 50%.
2. DikalsiumxSilikat (2CaO.SiO2) atau C2S dengan berat 25%.
3. TrikalsiumxAluminat (3CaO.Al2O3) atau C3A dengan berat 12%.
4. TetrakalsiumxAluminoferrit (4CaO.Al2O3Fe2O3) disingkat menjadi C4AF dengan berat 8%.
5. Gipsum (CaSO4.H2O) disingkat CSH2 dengan berat 3%.
Berdasarkan jenis dan penggunaannya semen portland pada Standar Nasional Indonesia (SNI 15-2049-2004, 2004), dibagi menjadi 5 jenis, yaitu :
1. Jenis I: Semen portland digunakan pada penggunaan beton secara umum biasanya tidak ada sifat persyaratan-persyaratan khusus.
2. Jenis II:xSemen portland dengan perubahan-perubahan tertentu yang penggunaannya harus tahan terhadap hidrasi kalor sedang atau sulfat.
3. Jenis III:xSemen portland yang pada penggunaannya dibutuhkan kekuatan yang tinggi pada proses awal setelah proses pengikatan yang terjadi. Semen ini berfungsi khusus untuk pembangunan struktur bangunan yang memiliki kekuatan yang tinggi dan akan muda mengeras.
4. Jenis IV:xSemen portland ini khusus digunakan untuk penggunaan yang membutuhkan panas hidrasi yang cukup rendah.
5. Jenis V: Semenxportland yang dalam penggunaannya digunakan pada bangunan yang membutuhkan ketahanan tinggi terhadap sulfat seperti di air yang memiliki kadar alkali yang tinggi atau di dalam tanah.
2.2.6.2 Agregat halus
Agregat halus (pasir) merupakan suatu batuan yang memiliki ukuran butir diantara 0,15mm sampai 5 mm. Agregatxhalus dapat diperoleh dari dalam tanah, tepi laut atau di dasar sungai (Permana, 2017)
Persyaratan pada pasir atau agregat halus yang memiliki karakeristik yang baik menurut Standar Nasional Indonesia (SNI-S-04-1989-F:28) sebagai bahan material bangunan adalah sebagai berikut:
1. Agregatxhalus dengan syarat butiran yangxbersifat tajam dan sedikit keras yang tingkat indeks kekerasan mencapai < 2,2.
2. Kandungan lumpur harus kurang dari 5% dan jika lebih dari 5% maka pasir harus diberi perlakuan seperti mencuci kembali pasir.
3. Untuk pembuatan beton tidak boleh menggunakan pasir laut kecuali dengan penggunaannya sesuai petunjuk dari lembaga pemerintahan bahanxbangunan yang diakui.
4. Pasir dibuktikan tidak mengandung bahan-bahan organik berlebihan dengan diuji melalui percobaanxwarna dari Abrans-Harderxdengan larutanxjenuh NaOH 3%.
5. Untuk pembuatan beton pada keawetan mutu tinggi proses reaksi pasir terhadap alkalixharus negatif.
6. Modulus kehalusan susunan besarxbutir pasir antara 1,5-3,8 yang terdiri beraneka ragam butir-butirnya.
7. Untuk plesteran dan spesi terapan menggunakan agregat halus yang memenuhi persyaratan pasir pasangan.
Pasir yang digunakan pada proses pembuatan bata ringan menurut standar ASTM E 11-70 adalah pasir yang lolosxayakan dengan diameter lebihxkecil dari 5 mm. Pasir berfungsi agar dapat mencegah adanya keretakan atau kerusakan pada beton ketika sudahxmengering.
2.2.6.3 Air
Air digunakan untuk mempercepat proses kimiawi semen pada pembuatan beton, untukx membasahixagregat dan berguna untuk kemmudahkan pada adukan beton. Air yang kurang mengakibatkan prosesxhidrasi tidak sempurna sedangkan jika air yang digunakan berlebihan akanxmenyebabkan campuran beton banyaknya
gelembung-gelembung air, sehingga kekuatan beton tidak optimal (Permana, 2017). Air digunakan sebagai bahan yang dipakai berfungsin untuk bereaksi dengan semen dan menjadi alat pelumas antara butir-butir agregatxagar mudah dikerjakan dan dipadatkan. Airxdiperlukan 25% dari beratxsemen untuk dapat bereaksi dengan semen (Widodo, 2015).
2.2.6.4 Gipsum
Gipsum adalah material galian dan air tanah yang didalamnya mengandung banyak ion-ion sulfida dan sulfat. Gipsum termasuk mineral sedimen kimiawi yang teruapkan dengan kadar kalsium yang lebih banyak dibandingkan dengan mineralnya. Umumnya gipsum banyak ditemukan atau digunakan yaitu gipsum jenis hidratxkalsium sulfat (CaSO42H2O) (Widodo, 2015). Keberadaannya gipsum di alam merupakan berwujud massa yang padat dan berbagai macam warna seperti abu-abu, coklat atau merah. Keberagaman tersebut dikarenakan adanya beberapa zat tambahan seperti karbohidrat, tanah liat,xanhidrat dan sedikit terdapat kandungan SiO2 atau oksidasi logam lain (Permana, 2017).
Gipsum mempunyai berat jenis diantara 2,31-2,35, Gipsum memiliki ciri seperti kilap lilin dan kilapxsutra, serta terdapat gores gipsum yang berwarna putih, mempunyai derajat transparan dari jenisxtransparan hinggaxtranslucent, dan juga memiliki sifat menolakxmagnet atau bisa disebut diamagnetic (Prayitno, 2021).
Gipsum (CaSO42H2O) adalah bahan tambahan pada pembuatan semen. Gipsum adalah batu putihxyang terbentuk karenaxpengendapan air laut, yang kemudian akan dipanaskan 175 ºC bisa disebut stucco. Keuntungan dari gipsum ketika digunakanxsebagai material dari suatu bendaxadalah : tahan api, ringan, meredam
suara. Kelemahan gipsum tidak tahan terhadap air ataupun kelembaban. (Balaka dkk, 2016)
Keuntungan penggunaan serbuk gipsum sebagai berikut (Wibawa dkk, 2015):
1. Gipsum yangxdicampur lempung dapatxmengurangi retak karenaxsodium pada tanah tergantikanxoleh kalsium pada gypsumxsehingga pengembangannya lebih.
2. Gipsumxdapat meningkatkanxstabilitas tanahxorganik karenaxmengandung senyawa kalsium yang dapat mengikat tanahxbermateri organik terhadap material lempung yang akan menjadikan agregat tanah tetap stabil.
3. Penambahan gypsum dapat meningkatkan kecepatan proses rembesan air, karena gipsum memiliki sifat lebih menyerap banyak air.
2.2.6.5 Kapur
Batu kapur adalah mineral yang sering digunakan dalam sector industri maupun sector konstruksi, yang diantaranya digunakan untuk bahan material bangunan, berfungsi sebagai bahan penstabilxjalan raya, dan dapat digunakan dalam proses pengapuran untuk sector pertanian(Jusi dkk, 2021). Kapur merupakan bahan yang berwarna putih dan permukaan halus yang berasal dari batuan sedimen lalu mengalami proses sedimentasi sehinnga membentuk batuan yang terdiri dari mineralxkalsium. Kapur dapat terbentuk dan ditemukan disekitar laut dalam yang dimana kondisi batuan didalamnya terkandung lempengan kalsium plates (coccoliths) yang terbentuk oleh adanya aktivitas mikroorganisme coccolithophores (Haryanti dkk, 2019).
Kapur memiliki 2 jenis yaitu, kapurxhidrolik dan kapur nonxhidrolik.
1. Kapur non hidrolik
Kapur non hidrolik memiliki sifat mengikat di dalam air dan tidak dapat mengeras, tetapi kapur ini dapat mengeras ketika berada di udara. Kapur putih merupakan kapur non hidrolik yang paling baik, karena pada kapur ini mengandung banyak kalsium oksida ketika bentuknya masih dalam bentuki kapur tohor (belum berhubunganxdengan air) dan ketika sudah bercampur dengan air akan banyak mengandung kalsium hidroksida. Kapurxputih ini sangat cocok digunakan sebagai bahan pembuat plesteran langit-langit terlihat jernih dan putih. Kapur putih akan menambah kekenyalan ketika digunakan untuk bahan tambah pembuatan campuran beton, dan dapat mempercepatn pengerjaan beton akan diperbaiki. Dengan campuran 1:3, kapur putih dapat memperhalus permukaanxbeton yang tidak mengandungxpori-pori. Dalam kekuatan pengikatnya kapur ini hanya mampu mencapaixsepertiga dari kekuatan semen portland. (Jusi dkk, 2021)
2. Kapur hidrolik
Kapur hidrolik merupakan jenis kapur yang memiliki kemampuan untuk mengeras dan mengikat di dalam air. Kapur hidrolik tidak cocok digunakan sebagai bahan bangunan-bangunan yang letaknya ada di dalam air, karena kapur ini membutuhkanxudara yang cukup dalam proses pengerasan (Jusi dkk, 2021). Kapur hidrolik mempunyai beberapa sifat diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Kekuatannyaxrendah
2. Beratxjenis rata-rata sebesar 1000 kg/m3 3. Bersifatxhidrolik
4. Dapat terbawa arus
Dalam penggunaannya kapur hidrolis digunakan sebagai adukan tembok, plesteran akhir, bahan pencampur semen, lapisan bawah plesteran dan berfungsi sebagai bahanxtambahan ketika beton akan diekspos. (Haryanti dkk, 2019)
Sifat batu kapur yang istimewa adalah jika batu kapurxdipanaskan maka akan berubahxmenjadi kalsium oksida (Ca0) melaluixproses dekarbonasi (pelepasan CO2) sehinggaxhasilnya merupakanxkapur tohor atau quick lime yang dapat mudahxmenjadi kapurxhydrant atau kalsiumxhidroksida (Ca(OH)2) dengan cara dihidrasi. Secara kimiawi pada proses hidrasi, air akan bereaksi dan akan diikat oleh CaO menjadi Ca(OH)2 dengan jumlahxperbandingan molekulnya sama.
Batu kapur (lime stone)/CaCO3, atau biasa disebut kapur tohor ataupunxkapur hidup (quick lime) memilikixrumus CaO merupakan batu kapur yang bukan CaO murni, namun tetap memiliki oksida-oksidaxlain dalamxjumlah tertentuxyang biasanya terjadi akibat adanya proses pengotoran dari batuanxkapur.
Berdasarkan sumber penggunaannya dibedakan menjadi dua macamxuntuk bahan bangunan, yaitu kapur bleaching dan kapur aduk. Yang berbentuk kapurxtohor ataupun kapurxpadam (Sebayang, 2018).
Kapur tohor atau quick lime merupakan kapur yang berasal dari proses pembakaran batuan kapur yang berasal dari senyawa kalsium atau magnesium berbentuk oksida (Jusi dkk, 2021).
1. Kapurxpadat atau hydrated lime merupakan bentukxhidroksida dari magnesium dan kalsiumxyang terbuat dari kapur keras yang diberi air akan