Diajukan Guna Melengkapi Salah Satu Pesyaratan untuk Mencapai Derajat Sarjana (S-1) pada Jurusan Teknik Sipil
Fakultas Teknik Universitas Tidar
Disusun Oleh:
ARINA SANVIANI NPM. 171.050.3060
JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS TIDAR
2022
ii
iii
iv
HALAMAN MOTTO
“NO CHALLENGE NO CHANGE”
v
HALAMAN PERSEMBAHAN
Skripsi ini saya persembahkan untuk:
1. Bapak Sanui dan Ibu Artinah, selaku orang tua yang selalu memberikan dukungan dari segala aspek serta doa yang tidak pernah hentinya dipanjatkan.
Kedua orang tua yang rela mengorbankan segalanya dan tetap sabar dalam membimbing hingga saat ini.
2. Anis Rakhmawati, S.T., M.T. dan Ali Murtopo, S.Pd., M.Eng, selaku dosen pembimbing I dan II, yang selalu memberi arahan , bimbingan dan dukungan serta meluangkan waktu untuk membagi ilmunya kepada penyusun.
3. Dr. Ir. Yudhi Arnandha, M.T., CIQnR, selaku dosen penguji yang selalu membimbing dan memberi masukan serta arahan dalam penyusunan skripsi ini.
4. Teman-teman teknik sipil angkatan 2017 yang saya banggakan, terimakasih atas kenangan yang pernah diberikan selama masa-masa perkuliahan ini.
5. Pihak-pihak yang terlibat yang telah membantu pada penyusunan skripsi ini dapat selesai.
vi
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT karena rahmat dan karunia-Nya sehingga penyusun dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul “Penambahan Gipsum Dan Kapur Pada Bata Interlock Ringan Dengan Bahan Pasir Merapi”. Skripsi ini dibuat sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana pada Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik.
Untuk itu penyusun menyampaikan terimakasih kepada:
1. Prof. Dr. Ir. Mukh Arifin, M.Sc., selaku Rektor Universitas Tidar.
2. Dr. Ir. Sapto Nisworo, M.T., IPU., selaku Dekan Fakultas Teknik, Universitas Tidar.
3. Muhammad Amin, S.T., M.T., selaku Ketua Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Tidar.
4. Anis Rakhmawati, S.T., M.T., selaku pembimbing I skripsi yang telah membimbing serta membantu kelancaran dalam penyelesaian skripsi.
5. Ali Murtopo, S,Pd., M. Eng., selaku pembimbing II skripsi yang dengan sabar memberikan pengarahan selama penyusunan skripsi.
6. Dr. Ir. Yudhi Arnandha, M.T., CIQnR., selaku dosen penguji yang selalu membimbing dan memberi masukan serta arahan dalam penyusunan skripsi ini.
Penyusun menyadari dalam penelitian ini tidak terlepas dari kesalahan dan kekurangan serta keterbatasan xdan pengalaman. PenyusunanxSkripsi penelitian ini selalu diberixbimbingan, bantuan dan dukungan darixberbagai pihak, khususnya kepada dosen pembimbing I dan II yang telah memberikan waktu,
vii
saran, semangat, pengetahuan dan nasehat yang sangat bermanfaat yang telah diberikan kepada penyusun. Oleh karena itu, pada kesempatan kali ini penyusun mengucapkan syukur atas kekuatan Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang telah melimpahkan anugerah-Nya dan juga ingin berterima kasih kepada semua pihak yang telah terlibat membantu dalam penyusunan skripsi ini.
Penyusun menyadari bahwa pada penyusunan skripsi ini masih jauh dari kata sempurna dikarenakanxterbatasnya pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki penyusun. Oleh karena itu, penyusunxmengharapkan segalaxbentuk saran serta masukanxserta kritik yang membangunxdari semua pihak. Semoga skripsi ini dapatxbermanfaat dan dapatxmenambah pengetahuan khususnyaxbagi penyusun dan pembacaxpada umumnya. Akhir kata dengan segala ketulusan dan kerendahan hati, penyusun mohon maaf apabila ada kesalahan dan kelemahan dalam skripsi ini.
Magelang, 20 April 2022
Arina Sanviani
viii DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL
... iii
HALAMAN MOTTO ... iv
HALAMAN PERSEMBAHAN ... v
KATA PENGANTAR ... vi
DAFTAR ISI ... viii
DAFTAR TABEL ... xii
DAFTAR GAMBAR ... xiv
DAFTAR NOTASI ... xvii
DAFTAR LAMPIRAN ... xix
INTISARI ... xx
ABSTRACT ... xxi
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 5
1.3 Batasan Penelitian ... 5
1.4 Tujuan Penelitian ... 6
1.5 Manfaat Penelitian ... 6
1.6 Keaslian Penelitan ... 6
1.7 Hipotesa Penelitian ... 12
BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI ... 13
2.1 Tinjauan Pustaka ... 13
... i
HALAMAN PERNYATAAN ... ii HALAMAN PENGESAHAN
ix
2.2 Landasan Teori ... 15
2.2.1 Dinding ... 15
2.2.2 Klasifikasi dinding ... 15
2.2.3 Bata ringan ... 16
2.2.4 Bata beton ... 21
2.2.5 Bata interlock ... 22
2.2.6 Material penyusun bata ringan ... 23
2.2.7 Pengujian pendahuluan agregat halus ... 32
2.2.8 Uji bata ringan interlock ... 37
BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 40
3.1. Diagram Alir Penelitian ... 40
3.2. Lokasi Penelitian ... 41
3.3. Metode dan Teknik Pengumpulan Data ... 41
3.3.1. Studi literatur ... 41
3.3.2. Teknik pengumpulan data ... 41
3.4. Bahan dan Alat ... 41
3.4.1 Bahan ... 41
3.4.2 Alat... 46
3.5 Benda Uji ... 53
3.6 Pengujian Pendahuluan ... 66
3.6.1 Pengujian gradasi butir pasir... 66
3.6.2 Pengujian berat jenis pasir ... 68
3.6.3 Pengujian kadar air pasir... 68
3.6.4 Pengujian berat satuan agregat ... 69
3.6.5 Pengujian kadar lumpur pasir ... 70
x
3.6.6 Perencanaan campuran untuk benda uji... 71
3.7 Pengujian Bata Interlock Ringan ... 72
3.7.1 Pengujian bobot isi... 73
3.7.2 Pengujian syarat mutu permukaan luar ... 75
3.7.3 Pengujian kuat tekan ... 75
3.8 Analisis Statistik ... 77
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 78
4.1 Hasil Penelitian ... 78
4.1.1. Pengujian kadar air pasir... 78
4.1.2. Pengujian gradasi butir pasir... 80
4.1.3. Pengujian berat jenis pasir ... 81
4.1.4. Pengujian kadar lumpur pasir ... 83
4.1.5. Pengujian berat satuan pasir ... 83
4.1.6. Pengujian kuat tekan bata interlock ringan ... 84
4.1.7. Pengujian bobot isi bata interlock ringan ... 94
4.1.8. Pengujian penyerapan air bata interlock ringan ... 97
4.1.9. Pengujian syarat mutu permukaan ... 100
4.1.10. Pengujian syarat fisis bata interlock ringan... 102
4.2 Pembahasan ... 107
4.2.1. Pemeriksaan kadar air pasir ... 107
4.2.2. Pemeriksaan gradasi butir pasir ... 107
4.2.3. Pemeriksaan berat jenis pasir ... 108
4.2.4. Pemeriksaan kadar lumpur pasir ... 109
4.2.5. Pemeriksaan berat satuan pasir ... 109
4.2.6. Kuat tekan bata interlock ringan memenuhi SNI 8640-2018 ... 109
xi
4.2.7. Bobot isi bata interlock ringan memenuhi SNI 8640-2018 ... 114
4.2.8. Penyerapan air bata interlock ringan memenuhi SNI 8640-2018 ... 120
4.2.9. Syarat mutu permukaan memenuhi SNI 8640-2018... 123
4.2.10. Syarat fisis bata interlock ringan memenuhi SNI 8640-2018 ... 124
4.3 Rencana Anggaran Biaya ... 132
4.3.1 Daftar harga satuan ... 132
4.3.2 Analisis harga satuan ... 133
BAB V ... 135
5.1. Kesimpulan ... 135
5.2. Saran ... 136
DAFTAR PUSTAKA ... 137
LAMPIRAN ... 141
xii
DAFTAR TABEL
Tabel 1.1 Penelitian Terdahulu ... 7
Tabel 2.1 Perbedaan Bata Ringan AAC dan CLC ... 19
Tabel 2.2 Syarat Fisis Bata Ringan ... 21
Tabel 2.3 Persyaratan Fisik Bata Beton ... 22
Tabel 2.4 Gradasi Agregat Halus/Pasir Menurut (SNI-03-2834-2000) ... 33
Tabel 2.5 Berat Minimum Benda Uji Pengujian Kadar Air ... 34
Tabel 2.6 Kategori Berat Bata Ringan ... 38
Tabel 3.1 Variasi Benda Uji ... 54
Tabel 3.2 Benda Uji ... 55
Tabel 3.3 Kebutuhan Satuan Material Variasi 1 (Bata Interlock) ... 55
Tabel 3.4 Kebutuhan Satuan Material Variasi 2 (Bata Interlock) ... 56
Tabel 3.5 Kebutuhan Satuan Material Variasi 3 (Bata Interlock) ... 57
Tabel 3.6 Kebutuhan Satuan Material Variasi 4 (Bata Interlock) ... 58
Tabel 3.7 Kebutuhan Satuan Material Variasi 5 (Bata Interlock) ... 59
Tabel 3.8 Kebutuhan Satuan Material Variasi 6 (Bata Interlock) ... 60
Tabel 3.9 Kebutuhan Satuan Material Variasi 7 (Bata Interlock) ... 61
Tabel 3.10 Kebutuhan Satuan Material Variasi 8 (Bata Interlock) ... 62
Tabel 3.11 Kebutuhan Satuan Material Variasi 9 (Bata Interlock) ... 63
Tabel 3.12 Tabel Kebutuhan Benda Uji ... 64
Tabel 3.13 Tabel Kebutuhan Material Benda Uji ... 64
Tabel 3.14 Mix Desain ... 65
Tabel 3.15 Tabel Kebutuhan Komulatif Benda Uji ... 65
xiii
Tabel 3.16 Perencanaan Total Benda Uji ... 66 Tabel 3.17 Kode Benda Uji Pengujian Kubus ... 72 Tabel 3.18 Syarat Fisis Bata Ringan ... 75
xiv
DAFTAR GAMBAR
Gambar 3.1 Diagram Alir Penelitian ... 40
Gambar 3.2 Semen PCC ... 42
Gambar 3.3 Pasir Merapi ... 43
Gambar 3.4 Air Sesuai dengan SNI 7974:2013 ... 44
Gambar 3.5 Foaming agent ... 45
Gambar 3.6 Gipsum ... 45
Gambar 3.7 Kapur ... 46
Gambar 3.8 Universal Testing Machine (JTM - CT 200) ... 46
Gambar 3.9 Cetakan Bata Interlock Ringan ... 47
Gambar 3.10 Alat Penghasil Busa Foaming Agent ... 48
Gambar 3.11 Bor Mixer ... 48
Gambar 3.12 Timbangan OHAUS T31P Cap.300kg/50gr ... 49
Gambar 3.13 Timbangan Skala ketelitian 0,01 ... 49
Gambar 3.14 Oven memmert UN750 ... 50
Gambar 3.15 Saringan Pasir ... 50
Gambar 3.16 Cetok ... 51
Gambar 3.17 Ember ... 51
Gambar 3.18 Sekop ... 51
Gambar 3.19 Cangkul ... 52
Gambar 3.20 Gergaji ... 52
Gambar 3.21 Saringan Mekanik ... 53
Gambar 3.22 Picnometer ... 53
xv
Gambar 3.23 Bata Interlock ... 54
Gambar 4.1 Pengujian Kadar Air Pasir ... 79
Gambar 4.2 Pengujian Gradasi Butir Pasir ... 81
Gambar 4.3 Pengujian Berat Jenis Pasir ... 82
Gambar 4.4 Uji Kuat Tekan Variasi 1 ... 85
Gambar 4.5 Setelah Diuji Kuat Tekan ... 86
Gambar 4.6 Uji Kuat Tekan Variasi 2 ... 87
Gambar 4.7 Setelah Diuji Kuat Tekan ... 87
Gambar 4.8 Uji Kuat Tekan Vaariasi 3 ... 88
Gambar 4.9 Setelah Diuji Kuat Tekan ... 88
Gambar 4.10 Uji Kuat Tekan Variasi 4 ... 89
Gambar 4.11 Setelah Diuji Kuat Tekan ... 89
Gambar 4.12 Uji Kuat Tekan Variasi 5 ... 90
Gambar 4.13 Setelah Diuji Kuat Tekan ... 90
Gambar 4.14 Uji Kuat Tekan Variasi 6 ... 91
Gambar 4.15 Setelah Diuji Kuat Tekan ... 91
Gambar 4.16 Uji Kuat Tekan Variasi 7 ... 92
Gambar 4.17 Setelah Diuji Kuat Tekan ... 92
Gambar 4.18 Uji Kuat Tekan Variasi 8 ... 93
Gambar 4.19 Setelah Diuji Kuat Tekan ... 93
Gambar 4.20 Uji Kuat Tekan Variasi 9 ... 94
Gambar 4.21 Setelah Diuji Kuat Tekan ... 94
Gambar 4.22 Proses Pengovenan Benda Uji... 95
xvi
Gambar 4.23 Proses Perendaman Benda Uji ... 98
Gambar 4.24 Pengamatan Kondisi Luar Bata Interlock Ringan ... 100
Gambar 4.25 Grafik Gradasi Butir Pasir ... 108
Gambar 4.26 Grafik Pengujian Kuat Tekan Rata-rata ... 110
Gambar 4. 27 Kuat Tekan (Variasi Gipsum 2,5% Kapur 5%)... 112
Gambar 4.28 Bobot Isi Kering Oven (Variasi KK10KG2,5) ... 114
Gambar 4.29 Bobot Isi Kering Oven (Variasi KK5KG5) ... 115
Gambar 4.30 Bobot Isi Kering Oven (KK10KG5) ... 115
Gambar 4.31 Bobot Isi Kering Oven (KK5KG2,5) ... 116
Gambar 4.32 Bobot Isi Kesing Oven (KK0KG0) ... 116
Gambar 4.33 Bobot Isi Kering Oven (KK5KG0) ... 117
Gambar 4.34 Bobot Isi Kering Oven (KK10KG0) ... 117
Gambar 4.35 Bobot Isi Kering Oven (KK0KG2,5) ... 118
Gambar 4.36 Bobot Isi Kering Oven (KK0KG5) ... 118
Gambar 4.37 Bobot Isi Kering Rata-rata ... 119
Gambar 4.38 Penyerapan Air Rata-rata ... 120
Gambar 4.39 Permukaan sisi bata interlock ringan ... 123
Gambar 4.40 Permukaan atas bata interlock ringan... 123
Gambar 4.41 Kondisi siku bata interlock ringan ... 123
xvii
DAFTAR NOTASI A = Luas penampang tekan (mm2)
Ao = Massa benda uji jenuh kering permukaan (gram) B = Massa benda uji kering oven (gram)
BA = Berat benda uji (kg) BI = Berat isi nominal (kg/m3) BIA = Bobot isi jenuh air (kg/m3) BIo = Bobot isi kering oven (kg/m3) F = Kuat tekan (MPa)
K(Air) = Kadar Air (%)
Mj = Massa benda dalam kondisi permukaan jenuh/ SSD (gram) Mk = Massa benda diudara (gram)
Pu = Beban maksimum (N) V = Volume bejana (cm3).
W1 = Berat bejana (gram);
W2 = Berat bejana+benda uji (gram);
W4A = Berat agregat kering masih mengandung lumpur (gram) W4B = Berat agregat kering bersih dari lumpur (gram)
WA = Water Absorption (%)
xviii Wbj1 = Berat piknometer kosong (gram) Wbj2 = Berat piknometer + agregat (gram) Wbj3 = Berat piknometer + agregat + air (gram) Wbj4 = Berat piknometer + air (gram)
xix
DAFTAR LAMPIRAN
LAMPIRAN 1 PERHITUNGAN KADAR AIR AGREGAT HALUS LAMPIRAN 2 PERHITUNGAN GRADASI BUTIR AGREGAT HALUS LAMPIRAN 3 PERHITUNGAN BERAT JENIS AGREGAT HALUS LAMPIRAN 4 PERHITUNGAN KADAR LUMPUR AGREGAT
LAMPIRAN 5 PERHITUNGAN BERAT SATUAN AGREGAT HALUS LAMPIRAN 6 PERHITUNGAN KUAT TEKAN
LAMPIRAN 7 PERHITUNGAN BOBOT ISI DAN PENYERAPAN AIR
LAMPIRAN 8 HASIL UJI LABORATORIUM AGREGAT HALUS PASIR MERAPI
LAMPIRAN 9 HASIL UJI LABORATORIUM BATA INTERLOCK RINGAN LAMPIRAN 10 DOKUMENTASI
xx INTISARI
Bata interlock ringan merupakan inovasi baru yang memiliki keunggulan dibandingan dengan bata konvensional biasa karena dapat mengurangi berat sendiri bangunan serta membuat pemasangan dinding lebih cepat. Penggunaan agregat halus pasir Merapi dengan bahan tambah gypsum dan kapur dalam pembuatan campuran bata interlock ringan dapat mempengaruhi kualitas bata interlock ringan.
Pengujian kuat tekan bata interlock ringan dilakukan pada benda uji yang dipotong menjadi bentuk kubus ukuran 150 mm x 150 mm x 150 mm, sesuai syarat SNI 8640-2018. Agregat halus menggunakan pasir Merapi dengan penambahan gipsum 0%, 2,5% dan 5% dan penambahan kapur 0% 5% dan 10% dari berat semen. Setiap variasi perbandingan berat semen dan pasir adalah 1:1 dengan nilai fas 0,6. Pengujian bata interlock ringan dilakukan di Laboratorium Struktur, Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Tidar, Magelang.
Hasil kuat tekan bata ringan pada umur 28 hari secara berurutan variasi campuran KK10KG2,5, KK5KG5, KK10KG5, KK5KG2,5, KK0KG0, KK5KG0, KK10KG0, KK0KG2,5, dan KK0KG5 didapat kuat tekan berturut-turut adalah 1,15 MPa; 1,76 MPa; 1,61 MPa; 2,21 MPa; 1,38 MPa; 1,83 MPa; 1,60 MPa; 1,96 MPa; dan 1,39 MPa. Nilai kuat tekan paling tinggi dan memenuhi SNI 8640-2018 pada variasi KK5KG2,5 dengan kuat tekan rata-rata 2,2 MPa, bobot isi sebesar 1049,10 kg/m3 dan penyerapan air 14,33%. Kategori bata interlock ringan termasuk pada kelas IIB pada kategori berat 900 – 1100 kg/m3. Penyerapan air seluruh variasi bata interlock ringan memenuhi syarat yaitu kurang dari 25%.
Kata kunci: bata interlock ringan, bata ringan, gipsum, kapur, kuat tekan
xxi ABSTRACT
Lightweight interlock brick is a new innovation that has advantages compared to ordinary conventional bricks because it can reduce the building's own weight and make wall installation faster. The use of fine aggregate of Merapi sand with gypsum and lime added in the manufacture of lightweight interlock brick mixtures can affect the quality of lightweight interlock bricks.
The compressive strength test of lightweight interlock bricks is carried out on test objects cut into cubes of size 150 mm x 150 mm x 150 mm, according to the requirements of SNI 8640-2018. Fine aggregate using Merapi sand with the addition of gypsum 0%, 2.5% and 5% and the addition of lime 0%, 5% and 10% by weight of cement. Each variation of the weight ratio of cement and sand is 1:1 with a fas value of 0.6. Light interlock brick testing was carried out at the Structural Laboratory of the Civil Engineering Department, Faculty of Engineering, Tidar University, Magelang.
The results of the compressive strength of lightweight bricks at the age of 28 days sequentially with mixed variations of KK10KG2,5, KK5KG5, KK10KG5, KK5KG2,5, KK0KG0, KK5KG0, KK10KG0, KK0KG2,5, and KK0KG5, the compressive strength was 1.15 MPa; 1 .76 MPa; 1.61 MPa; 2.21 MPa; 1.38 MPa;
1.83 MPa; 1.60 MPa; 1.96 MPa; and 1.39 MPa. The highest compressive strength value meets SNI 8640-2018 in the variation of KK5KG2,5 with an average compressive strength of 2.2 MPa, bulk density of 1049.10 kg/m3 and water absorption of 14.33%. The lightweight interlock brick category belongs to class IIB in the heavy category 900 – 1100 kg/m3. The water absorption of all variations of lightweight interlock bricks meets the requirements, which is less than 25%.
Keywords: lightweight interlock brick, lightweight brick, gypsum, lime, compressive strength
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Tingkat pembangunan infrastruktur dalam suatu negara menjadi salah satu indikator perkembangan suatu negara yang salah satunya terkait erat dengan kualitas dari hasil produk pembangunannya. Kualitas Infrastruktur yang baik menjadi salah satu pondasi utama dalam meningkatkan perekonomian nasional, selain itu merupakan cerminan sumber daya negara. Kualitas infrastruktur yang baik sangat dipengaruhi dari kualitas sumber daya manusia yang berkualitas, handal dan kompetitif. Sehingga perlu adanya pengembangan SDM sebagai faktor utama penggerak pembangunan dalam bidang konstruksi. Pembangunan di bidang konstruksi terus mengalami perkembangan yang pesat. Salah satunya material konstruksi yang digunakan pada dinding yang selalu mengalami perkembangan.
Ada beberapa jenis material pengisi dinding yang penggunaannya dapat digunakan dalam konstruksi bangunan gedung maupun bangunan rumah, diantara semakin pesatnya pertumbuhan ekonomi, pengetahuan dan teknologi di bidang konstruksi menghasilkan banyak inovasi pada pembuatan material dinding (Kafrain, 2018).
Dinding merupakan elemen yang pentingxdalam sebuah bangunanxyang memiliki fungsi diantaranya untuk memisahkan atau membentuk ruang. Pada proses pembangunan rumah atau bangunan lainnya banyak yang menggunakan bata, batako, dan bata ringan. Penggunaan bata konvensional seperti bata merah dan batako akan menjadi beban yang berat pada bangunan sehingga bebanxmati yang bekerja mengalami penambahan beban pada strukturxbangunan. Selain itu
penggunaan bata konvenional perlu menambahkan campuran mortar yang berfungsi untuk ikatan dinding, sehingga pengerjaan dinding membutuhkan waktu yang lama. Semakin tinggixbangunanxtersebut maka beratxbangunan itu sendiri akan semakinxbesar, hal ini akan menimbulkan banyakxsekali kerugian (Taufik, 2017). Untuk dapat mengurangi berat dari bangunan itu sendiri salah satunya adalah mengganti bataxmerah konvensional dengan bataxringan yang terbuat dari betonxringan. Bataxringan banyak digunakan pada pembangunan proyek dengan bangunan tinggi yang fungsinya dapat mengurangi berat sendiri bangunan tersebut.
Perkembangan teknologi dalam pekerjaan bangunan konstruksi akan semakin cepat dan menyebabkan pekerjaan akan lebih ekonomis. Salah satunya yang umumnya banyak digunakan adalah pekerjaan pemasanganxdinding bata interlock ringan.
Bata interlock ringan merupakan suatu inovasi yang pembuatannya bertujuan untuk mempermudah proses pengerjaan dinding sehingga lebih mudah dan cepat. Bata interlock ringan adalah bata ringan yang di desain khusus sehingga antar bata bisa saling kait satu sama lain. Kelebihan bata interlock diantaranya mudah dipasang, multidimensi, berkaitan permanen, lebih kedap suara, tahan gempa dan ramah lingkungan. Bata interlock mempunyai ciri khas dan kelebihan dibandingkan bata biasaxyaitu memiliki pengait atau pengunci (interlock). Sistem interlocking ini mempunyai dua fungsi yaitu: bata akan saling terkait sehingga bata dapat mengikat satu sama lain (selfaligning) dan mempunyaixpenguncian yang efektif sehingga memungkinkan terjadinya susunan dindingxlurus, tepat, danxstabil (Budiyani, 2020). Seiring perkembangan teknologi yang berkembang telah banyak ditemukan inovasi baru dalam pembuatan bata ringan untuk menaikan mutu dan
kualitas seperti halnya dengan menambahkan bahan tambahan seperti gipsum dan kapur.
Gips (gipsum) adalah bahan yang digunakan untuk membuatxadukan plesteran atauxpelapis lainnya yangxmengandung 66% berat senyawaxKalsium Sulfat hemihidrat (CaSO4 ½H2O) dalam Departemen Pekerjaan Umum, 1982- PUBBI. Gipsum mempunyai banyak kegunaan seperti digunakan pada pengganti kayu dalam material bahan bangunan, sebagai perekat, drywall, sebagai pengeras untukxbahan bangunan, dan sebagai salahxsatu bahan pembuatan baku kapur tulis serta pembuatan semen portland (Permana, 2017).
Pemanfaatan gipsum banyak digunakan untuk industri semen, dan hasil dari penelitian menggunakan metode Four Action Framework menghasilkan varian gipsum baru yang disebut Neutralized Purified Gysum (NPG) denganxnilai yang berbedaxdengan competitor sehinggaxmemberikan keunggulan dapat bersaing dalam kawasan industri bataxringan serta memberikan alternatix pasar baru dalam penjualan gipsum untuk industri bataxringan.(Wahyudi, 2015).
Penambahan kapur dilakukan untuk mendapatkan hasil bata ringan yang baik dan juga dengan ketersedian batu kapur sangat banyak di Indonesia dan hampir tersebarxmerata di seluruhxkepulauan Indonesia. Batu kapur pada umumnyaxbanyak ditemukan kapur masih dalamxbentuk batuan menyerupai bukit, sehingga untuk pengambilannya memerlukan penambangan agar dapat mendapatkan material batuxkapur. Batu kapur digunakan untuk bahan bangunan seperti pada industri semen, industri bata silika, industri kaca, pembuatan karbit, bendungan, rumah dan pondasi jalan. (Setyowati, 2019)
Penambahanxkapur dapat menghasilkan bataxbeton ringan yang lebih ringanxyaitu berkisar 0,6–0,7 kg lebih ringan dibandingkan bataxbeton ringan tanpa kapur. Pemilihan kapur dipilih sebagai pengganti sebagian semen dan juga karena memilikixsifat mengikat partikel-partikel yangxcukup baik. Harga kapur lebih murahxdibandingkanxdengan harga semen, sehinggaxpemakaian kapur tohor akan lebihxefesien dalam biayaxpembuatan bataxringan. (Jusi dkk., 2021)
Selain itu, salah satu bahan penyusun bata interlock ringan adalah agregat halus contohnya pasir. Pada penelitian ini digunakan pasir Merapi sebagai substitusi agregat halus bata ringan interlock. Pasir gunung Merapi sangatxbaik digunakan untuk campuran bahan beton. Partikel yang terbentuk dari ujung silika yang runcing dan memiliki sudut. Ikatan pasirxgunung Merapi dengan semen lebihxkuat karena pasir Merapi memiliki partikel polaxbersudut. (Lasino, 2016). Berdasarkan sifat dasarxyang dimiliki pasir Merapi tersebut, maka diharapkan dapat menghasilkan bata ringan interlock yang baik.
Penelitian ini merupakan uji eksperimen pembuatan bata interlock ringan menggunakan pasir Merapi dengan bahan tambah berupa komposisi gipsum dan kapur berbeda. Pengujian yang dilakukan pada bata interlock ringan dengan komposisi benda uji yangxberbeda ini dilakukan pengujian bobot isi, syarat permukaan luar, kuat tekan, dan daya serap air,untuk menentukan komposisi gipsum dan kapur yang tepat pada produksi bata interlock ringan. Dari penelitian ini diharapkan bahwa bata interlock ringan selanjutnya dapat menjadi sebuah alternatif pilihan baru material untuk dinding.
1.2 Rumusan Masalah
Permasalahan dalam penelitianxini adalah bagaimanaxpengaruh penambahan gipsum dengan komposisi 0%, 2,5% dan 5% dan penambahan kapur dengan komposisi 0%, 5% dan 10% dari berat semen terhadap pemanfaatan bata interlock ringan menggunakan agregat halus pasir Merapi dan mengetahui berapa besar persentase nilai optimum penambahan gipsum dan kapur dalam campuran, agar didapatkan bobot isi, syarat mutu permukaan luar, kuat tekan, dan penyerapan air yang sesuai SNI 8640-2018, SNI 03-0349-1989 tentang bata ringan.
1.3 Batasan Penelitian
Batasan penelitian berguna untuk menghindari perkembangan permasalahan yang terlalu luas. Batasan penelitian dalam penelitian ini adalah :
1. Semen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu semen portland Composite Cement.
2. Foaming agent yang digunakan sebagai pengembang.
3. Agregat halus yang digunakan yaitu pasir Merapi.
4. Perbandingan pasir dan semen adalah 1:1
5. Air yang digunakan diambil dari Laboratorium Struktur, Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Tidar, Magelang.
6. Fas (faktor air semen) digunakan yaitu 0,6.
7. Persentase pemakaian gipsum adalah 0%, 2,5%, dan 5% dari berat semen.
8. Persentase kapur yang dipakai adalah 0%, 5% dan 10% dari berat semen 9. Pengujian yang dilakukan yaitu uji bobot isi, syarat mutu permukaan luar,
kuat tekan, dan daya serap air.
10. Umur pengujian dilakukan pada 28 hari.
11. Standar pengujianxyang dilakukanxberdasarkan SNI 8640-2018 tentang bata ringan.
1.4 Tujuan Penelitian
Penelitian ini menggunakan bahan tambahan gipsum dan kapur pada campuran bata interlock ringan bertujuan sebagai berikut :
1. Mengetahui pengaruh penambahan gipsum dan kapur terhadap kuat tekan bata interlock ringan berdasarkan SNI 8640-2018 tentang bata ringan.
2. Mengetahui pengaruh penggunaan gipsum dan kapur dalam pembuatan bata interlock ringan terhadap bobot isi dan penyerapan air pada bata interlock ringan.
1.5 Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai salah satu sumber referensi untuk penelitian lanjutan bagi para peneliti lainnya serta sebagai sumber pengetahuan tentang bata interlock ringan yaitu berupa kuat tekan.
1.6 Keaslian Penelitan
Keaslian penelitian pada penelitian ini adalah sebagai berikut dapat dilihat pada Tabel 1.1.
Tabel 1.1 Penelitian Terdahulu
No Nama
Peneliti Judul Penelitian Masalah yang diteliti 1. Jusi dkk,
(2021)
Pengaruh Penambahan Kapur Tohor Terhadap Sifat Mekanis Bata Ringan
Pada penelitian ini membahas campuran kapur dengan xvariasi campuran yang xdigunakan adalah 5%, 10%, 15%, dan 20% dari volumexsemen. Hasil kuatxtekan bataxringan pada umurx 28 hari masing-masing variasixcampuran kapur 5%, 10%, 15%, dan 20%
didapat kuatxtekan sebesar 0,96 MPa, 0,81 MPa, 0,43 MPa, dan 0,32 MPa. Nilai kuatxtekan maksimum yang disarankan terdapat padaxcampuran kapur 5% yaitu 0.96 MPa.
2. Suryani dkk, (2020)
Batu Bata “U- Lock” Dengan Bahan Tambah Serbuk Limbah Gipsum
Penelitian ini membahas mengenai batuxbata U-Lock dengan bahan tambahxserbuk gipsum dengan variasixcampuran yang digunakan adalah 2,5%, 5%, 7,5% dan 10%.
Hasil dari pengujian nilai penyerapanxair batuxbata “U” yang memenuhixstandar SNI pada campuran 0% dan 2,5% sebesar 17,53% dan 19,18%. Nilaixkuat tekan tertinggi padaxpenambahan gypsum 2,5% sebesar 6,0262 MPa.
Penambahanxgipsum lebih dari 2,5% mengalamixpenurunan kuat tekan, karenaxsemakin banyak penambahanxyang dilakukan maka menyebabkan xikatan akan semakin renggangxdan penyerapan air akan semakin besar.
Lanjutan Tabel 1.1 Penelitian Terdahulu
No Nama
Peneliti
Judul Penelitian Masalah yang diteliti 3. Prayogo dkk,
(2019)
Pemanfaatan Limbah Gipsum Board Dan Batu Bata Merah Untuk Substitusi Semen Pada Pembuatan Beton
Hasil penelitian yang menggunakan limbah gipsum board dan batu bata merahxuntuk substitusixsemen pada pembuatan beton dengan menggunakan serbuk gipsum denganxvariasi campuran yang digunakan 5%,10%,15% adalah betonxdengan nilaixkuat tekan rata- rataxpaling tinggi pada beton denganxcampuran batu bata merah dan limbah gipsum masing-masing varian 10%xdengan nilai kuatxtekan sebesar 24,57 MPa dan untukxcampuran batu bata merah dan limbahxgipsum masing-masing 15% memilikixnilai kuat tekan palingxrendah yangxdimiliki beton denganxdengan nilai kuat tekan 19,77 MPa.
4. Adnin dkk, (2018)
Pengaruh Penambahan Gipsum Terhadap Karakteristik Bata Ringan Berbahan Dasar Tanah Diatomae
Penelitian ini menggunakan benda uji dengan dimensi 21 cm x 11 cm x 4,5 cm, jumlah variasi campuran penambahan gipsum 5 variasi yaitu 0%, 5%, 10%, 15% dan 20%. Untuk setiapxvariasi jumlah masing- masing bendaxuji sebanyak12 buah.
Pengujian yang xdilakukan yaitu kuatxtekan, beratxjenis, kerapatan semu, dan penyerapanxair. Hasil dari penelitian ini adalah pada penggunaan gipsum dengan variasi 5% memiliki kuatxtekan tunggal maksimum sebesar 5,824 MPa, kuat tekanxbata berpasangan yaitu 3,566 MPa, penyerapan minimum sebesar
Lanjutan Tabel 1.1 Penelitian Terdahulu
No Nama
Peneliti
Judul Penelitian Masalah yang diteliti
30,850% dan untuk xkerapatan semu sebesar 1,292 gram/cm3. 5. Widodo,
(2015)
Pengaruh
Foaming agent Dan Serbuk Gipsum Terhadap Kualitas Bata Ringan
Penelitian ini mengenai pembuatan bata ringan dengan penambahan variasi Foaming agent yang ditambahkan yaitu 0 lt/m3, 0,7 lt/m3, 0,9 lt/m3, dan 1,1 lt/m3 dan penambahan 5% xserbuk gipsum dari volume bata ringan. Hasil penelitian kuatxtekan rata-rata tertinggi didapat pada bataxbeton ringan dengan kandungan Foaming agent 0,7 lt/m3 dan 5% serbuk gipsum menggunakanxpasirxkuarsa sebesar 3,58 MPa,
6. Haryanti dkk, (2019)
Pengaruh Komposisi
Campuran Pasir Silika dan Kapur Tohor Pada Bata Ringan Berbahan Limbah Abu Terbang Batubara
Hasil pengujianxkuat tekan, bata ringanxdengan komposisi kapur tohorxrendah mempunyai kuat tekanxlebih tinggi dari pada komposisidenganxkadar kapur tohorxlebih tinggi. Sementara bata ringanxdengan variasixkomposisi pasir silikaxtinggi mempunyaixkuat tekan lebih tinggi. Semakin besar penggunaanxabu terbang batubara
danxkapur tohor akan
meningkatkanxabsorpsi dan porositasxtetapi akan menurunkan nilai beratxvolume bataxringan.
Semakin besarxporositas maka kuat tekan bataxringan akan berkurang.
Lanjutan Tabel 1.1 Penelitian Terdahulu
No Nama
Peneliti
Judul Penelitian Masalah yang diteliti 7. Lasino,
(2016)
Pemanfaatan Pasir Dan Abu Merapi Untuk Pembuatan Bata Beton (Conblock)
Penelitian ini melakukan pembuatan batakoxdengan menggantikan volumexagregat terhadap styrofoam sebesarx 15%, 30%, 45%, dan 60%.
Hasil penelitian ini dengan didapat sample yang paling baik adalah pada kadar penambahan styrofoam 45%
dan menghasilkan bata beton yang lebih ringan dan juga tergolong pada mutu klasifikasi III. Dengan penambahan kadar styrofoam pada campuran akan menurunkan kuat tekan dan kuat lentur. Hal ini dikarenakanxapabila semakin banyak penambahan styrofoam di dalam sampel bendaxuji maka porositasxdari sampel tersebutxakan menjadi semakinxbesar sehingga mutu darixbeton tersebut akan semakin menurun.
8. Goritman dkk, (2012)
Studi Kasus Perbandingan Berbagai Bata Ringan Dari Segi Material, Biaya, Dan Produktivitas
Penelitiani ini membandingkan kegunaan jenis bata ringan untuk menentukan pilihan konsumen pada jenis bata ringan AAC dan CLC.
Hasil penelitian pada bataxringan jenis AAC menghasilkan total pemasanganxrata-rata harian 43,62 m2 sedangkan bataxringan jenis CLC menghasilkan 37,75 m2 . Sedangkan pada biaya pembuatan, jenis bata ringan AAC memerlukan Rp. 77.850,- unuk xmenghasilkan 1 m2 dan Rp.57.704,- untukx bata ringan jenis CLC.
Lanjutan Tabel 1.1 Penelitian Terdahulu
No Nama
Peneliti
Judul Penelitian Masalah yang diteliti 9. Eko, (2021) Analisa Berat Isi
Dan Kuat Tekan Bata Ringan Menggunakan Foam Agent dengan Bahan Tambah Serbuk Gypsum
Penelitian ini mengenai pengaruh penambahan foam agent danxserbuk gypsum pada bata ringanx terhadap bobot isi dan kuat tekan. Hasil penelitianxberat isi bata ringanx campuran foamxagent 0,8
% denganxbahan tambahxserbuk gypsumxdiperoleh hasil sebesar 1231,47 kg/m3 sedangkanxkuat tekanxmencapai 10,83 MPa.
10. Winarno, (2013)
Pembuatan Bata Ringan
Menggunakan Limbah Penggergajian Batu Andesit
Hasil penelitian pada bataxringan menunjukkan bahwaxnilai kuat tekanxdari bataringan menggunakan pasirxhalus Merapi denganxberat volume 1196,5 kg/m3 adalah 36,75 MPa.
Berdasarkan penelitian terdahulu yang telah dilakukan memiliki karakteristik yangxrelatif memiliki tema kajian yang sama, meskipun sedikit berbeda pada subjek, jumlah variabel penelitian, maupun metode analisis yang digunakan. Berdasarkan Tabel 1.1 penelitian terdahulu dalam pengujian dilakukan dengan uji laboratorium. Sama hal nya dengan penelitian ini yang dilakukan pada Laboratorium Struktur, Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Tidar, Magelang dengan pembahasan yang berbeda yaitu mengenai bata interlock ringan.
Material penyusun berupa air, semen (jenis PCC), dengan agregat halus/pasir yang digunakan merupakan pasir Merapi, dan Foaming agent sebagai pengembang, tambahan kapur dengan variasi kadar 0%, 5% dan 10% serta gipsum menggunakan kadar 0%, 2,5% dan 5%.
1.7 Hipotesa Penelitian
Pada penelitian Suryani (2020) mengenai batu bata U-Lock yang menggunakan serbuk gipsum dengan penambahan gipsum 2,5% memiliki kekuatan tekan optimal sebesar 6,0262 MPa. Pada penelitian Jusi (2021) tentang pengaruh penambahan kadar kapur tohor terhadap sifatxmekanis bata ringan didapat pada penambahan kapur 5% memiliki kuat tekan tertinggi didapat sebesar 0,96 MPa.
Berdasarkan data yang didapatkan maka hasil hipotesis pada penelitian ini adalah pada bata interlock ringan dengan penambahan kadar gipsum 2,5% dan kapur 5% yang menghasilkan kuat tekan maksimal yang memenuhi syarat SNI 8640-2018 tentang Bata Ringan, serta penambahan gypsum dan kapur mempengaruhi nilai kuat tekan, bobot isi dan penyerapan air bata interlock ringan.
13 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI
2.1 Tinjauan Pustaka
Melimpahnya material hasilxerupsi gunung berapixyang tertahan di sekitar badan gunungxditambah dengan derasnya hujan akan memengakibatkan risiko yang sedikit berbahaya dan dapat mengakibatkan adanya aliran lahar dingin. Hal tersebutxdapat juga mengakibatkan pendangkalanxsungai. Dalam upaya pemanfaatan jangka panjang material Merapi (abu dan pasir) serta dapat mendukung beberapa kegiatan dalam pembangunan infrastruktur dan peningkatan dalam aspek kehidupan ekonomi masyarakat juga dapat sebagai penanganan dan penanggulangan masalah di lingkungan, perlu adanya pemanfaatan material Merapi sebagai bahan konstruksi. Pasir gunung Merapi sangat baik jika digunakan untuk industri material beton. Ujung silika yang berbentuk runcing yang membentuk partikel bersudut. Pola yang membentuk partikel bersudut inilah yang akan membuat antara ikatan pasir gunung api dengan semen akan menjadi lebih kuat.
(Lasino, 2016).
Pada tahun 2017 terdapat penelitian tentang bata ringan dengan campuran Foaming agent dan gipsum yang dilakukan oleh Widodo (2015). Hasil dari penelitian tersebut adalah penambahan foaming agent dengan kadar 0,7 1t/m3 , 0,9 1t/m3, 1,1 1t/m3 dan serbuk gipsum 5% pada bataxbetonxringan dengan pengujianxkuat tekan, kuat tarik belah, kuatxlentur yang maksimal terjadi pada penambahan Foaming agent dengan kadar 0,7 1t/m3 dan serbuk persentase gipsum sebesar 5%. Kuat tekan rata-rataxtertinggi didapat pada beton ringanxmenggunakan
pasir kuarsaxsebesar 3,58 MPa, kuat tarik belahnya sebesar 0,34 MPa, kuat lentur balok beton pada posisi tegak didapat 0,523 MPa, kuat lentur balok beton pada posisi datar sebesar 0,269MPa.
Pada penelitian yang dilakukan Adnin (2020) benda uji yangxdigunakan dimensi ukuran 21 cm x 11 cm x 4,5 cm, xdengan jumlah 5 variasi penambahan persentasexgipsum yaitu sebesar 0%, 5%, 10%, 15% dan 20%. Pada setiap variasi terdiri dari 12 buah benda uji. Pengujian yangxdilakukan yaitu pengujian kuatxtekan, pengujian penyerapan air, pengujian kerapatan semuxdan berat jenis.
Hasil dari penelitian pada penggunaan kadar gypsum optimum terjadi pada variasi persentase 5% dengan hasil kuatxtekan bata berpasangan 3,566 MPa, kuat tekan bata individu maksimum yaitu 5,824 MPa, penyerapan minimumxsebesar 30,850%
dan kerapatan semu diperoleh sebesar 1,292 gram/cm3. Berdasarkanxhasil pengujian terhadapxkarakteristik pada bata, yakni menunjukkan bahwaxpenggunaan gipsum optimum yaitu terjadi pada variasi persentase 5%.
Pada penelitian yang dilakukan Jusi (2021) mengenai penambahan kapur sebagai pengganti dari sebagian semen pada bata ringan. Pada pengujian yang dilakukan penelitian ini adalah pengujian kuat tekanxbebas menggunakan Unconfined Compression Strength (UCS) denganxpersentase penambahan kapur sebesar 5%, 10%, 15%, dan 20% dari berat semenxyang digunakan. Hasil dari pengujian kuat tekan bata ringan yang dilakukan pada umur 28 hari maasing- masing variasi campuran dengan persentase kapur 5%, 10%, 15%, dan 20%
berturut-turut didapat kuat tekan 0.96 MPa, 0,81 MPa, 0,43 MPa, dan 0,32 MPa.
Kuat tekanxmaksimum yang direkomendasikanxterdapat pada campuran persentase kapur 5% yaitu 0.96 MPa
2.2 Landasan Teori 2.2.1 Dinding
Dinding adalah elemen bangunan yang fungsinya untuk memisahkan dan membentuk ruangan, selain itu dinding berfungsi sebagai pembatas ruangan, peredam suara, melindungi ruangan dari paparan sinar matahari, hujan, serangan binatang dan sebagainya (Setyawan dkk., 2017).
2.2.2 Klasifikasi dinding
Berikut ini terdapat beberapa macam material yang dapat digunakan sebagai bahan campuran pembuatan dinding :
1. Dinding batu bata merah
Batu bata merah merupakan material dinding yang bahan dasarnya terbuat dari tanah liat yang dibakar. Batu bataxmerah memiliki sifat daya tahan yang kuat sehingga mampu mereduksi panas, tidak terpengaruh oleh perubahan cuaca (tahan lama). Namun terdapat kekurangan dari material batu bataxmerah ini seperti membutuhkan waktu yang cukup lama untuk proses pemasangannya.
2. Dinding batako
Batako terbuat dari campuran pasir dan semen yang dicetak berbentuk balok. Terdiri dari campuran tras dan kapur (5:1) Kelebihan dari material batako adalah harganya yang relative lebih murah dibandingkan batu bata merah. Namun kekurangan dari batu batako ini adalah mudah retak dan daya tahan terhadap beban berat cenderung minim.
3. Dinding bata ringan
Bata ringan atau dikenal banyak sebagai bata hebel pada umumnya dibuat hanya secara masal di industri pabrik yang bahan dasarnya terbuat dari olahan bahanxcampuran pasir, semen, gipsum, kapur, dan alumunium pasta. Bata ringan memiliki karakteristik bobot yang ringan, permukaan halus dan rata. Pada umumnya dimensi bata ringan memiliki ukuran 60 cm x 20 cm dengan tebal yang bervariasi sekitar 7-15 cm (SNI Bata Ringan 8640-2018).
2.2.3 Bata ringan
Bata ringan merupakan material bahan bangunan yang berfungsi dalam pembuatan dinding sama halnya dengan fungsi batu bata merah. Bahan pembuat bata ringan berasal dari bahan campuran pasir, semen, kapur, gipsum, dan alumunium pasta. Bata ringan mempunyai sifat bobot yang ringan dibandingkan dengan bata konvensional biasa, permukaannya halus dan sangat rata. Umumnya bata ringan mempunyai dimensi ukuran 60 cm x 20 cm dengan tebal bervariasi sekitar 7 cm sampai 15 cm. Berat jenis kering bata ringan sekitar 530 kg/m3. Menurut (Goritman dkk., 2012) dari hasil penelitian didapatkan komposisi pekerja 0,1 OH mandor, 0,3 OH kepala tukang, 2 pembantuxtukang dan 3 tukang batu didapatkan rata-rataxpekerjaan perhari dapat memasang 43,62 m2 bata ringan.
Menurut Ningrum (2018), bata ringan merupakan bata yang mempunyai pori yang berat jenisnya lebih ringan dibandingkan dengan bata konvensional pada umumnya yaitu sebesar 600-1600 kg/m3. Kekuatan tekan bata ringan diantara 1 MPa sampai 15 MPa (Taufik, 2017).
Bata ringan mempunyai keunggulan diantaranya sebagai berikut (Goritman, 2012):
1. Beton ringan memiliki bobot lebih ringan dan kuat dibandingkan dengan bata merah sehingga tidak memberi beban pada struktur bangunan dan lebih tahan terhadap guncangan akibat gempa.
2. Lebih cepat dalam pengangkutan atau transportasi material karena bobotnya lebih ringan.
3. Tidak perlu plesteran yang tebal.
4. Sulit terbakar karena tahan terhadap perbedaan suhu tinggi dan cukup tahan api.
Selain kelebihan bata ringan juga mempunyai kekurangan, sebagai berikut (Goritman, 2012):
1. Diperlukan keahlian khusus untuk melakukan pemadangan bata ringan agar mencapai hasil yang baik, efesien dan maksimal.
2. Sulit didapat karena pada umumnya bata ringan hanya tersedia di toko material besar atau pabrik.
3. Harganya lebih mahal dibandingkan dengan bata merah konvensional.
4. Memiliki sifat daya serap air tinggi dibandingkan dengan bata konvensional.
2.2.3.1 Spesifikasi bata ringan
Bata ringan dibedakan menjadi dua yaitu bata ringan Autoclaved Aerated Concrete (AAC) dan Cellular Lightweight Concrete (CLC). Bataxringan jenis AAC dibuat menggunakan bahan kimia Foaming agent sehingga terdapat pori pada bata
ringan yang bertujuan untuk mengurangi berat jenis. Sedangkan bata ringan jenis CLC diproduksi dengan menggunakan alat dan teknologi yang lebih sederhana dibandingkan bata jenis AAC. (Ningrum, 2018).
Menurut LEIBEL (Leicht Beton Element), bata ringan CLC merupakan betonxselular yang dalam proses curing nya dilakukan secara alami, dan termasuk beton konvensional yang mempunyai ciri dalam pada proses pencampuran adonan menggunakan busa organik akan dihasilkan udara sebagai pengganti agregat kasar (kerikil) yang berfungsi sebagai media atau alat untuk membungkusxudara dengan digunakan busa yang sangat stabil dan tidak ada reaksi kimia. Pada tekanan atmosfer saja yang melalui kelembapan alamiah bata CLC akan mengalami kekuatannya bertambah seiring dengan waktu. Bata CLC lebih berat dibandingkan AAC tetapi CLC menawarkan kelebihan pada penurunan bobot yang cukup besarxdan isolasi termal mencapai persentase 500% nilainya terhadap lebih tinggi dan tahan api dibandingkan dengan beton konvensional.
Bata ringan jenis AAC dan CLC, terbuat dari bahan dasar seperti semen, pasir, dan air. Keduanya memiliki volume beton mengembang dari beton biasa karena menggunakan prinsip yang sama, yaitu dengan cara menambahkan gelembung-gelembung udara padasaat campuran beton dibuat, sehingga membuat bobot bata ringan akan lebih ringan dibandingkan dengan beton biasa, dan bahkan dapat mengapung di air.
Pada bahan campuran bata ringan jenis AAC digunakanxaluminium pastaxsebagai pengembang, danxpengerasan dilakukan di dalamxbilik yang
bertekanan danxbersuhu tinggi. Proses ini biasaxditerapkan pada industrixskala besar. Sedangkan untuk bata ringan jenis CLC, dalam penggunaannya menggunakan Foaming agent yang dicampurkanxdengan mixer padaxadukan beton untukxmemunculkan microxbubble di dalamxadukan beton. Pada proses pendinginanxdilakukan pada udara yang terbuka, sehinggaxbiasa diterapkan pada industrixbata ringan skala kecil. Beberapa perbedaan antara bata ringan jenis AAC dan CLC yang akan ditunjukkan pada Tabel 2.1 berdasarkan beberapa parameter (Hazim dkk, 2016).
Tabel 2.1Perbedaan Bata Ringan AAC dan CLC
No Parameter BataxRingan AAC BataxRingan CLC
1. BahanxDasar Semen, pasir, kapur, gipsum, alumunium pasta
Semen, pasir, busa senyawa, air
2. Proses produksi dan Set Up
Diproduksi di industri
pabrik dan
menggunakan alat seperti Oven Autoclave
Tidak memerlukan Oven Autoclave
3. Kepadata kering (kg/m3)
• 650
• 750
• 400-600
• 800-1000
• 1200-1800 4. KekuatanxTekan 28
hari (kg/m3)
• 40
• 40
• 10-15
• 20-30
• 60-250 5. Ukuran Block
Pracetak (mm)
625 x 250 x 100/200 500 x 250 x 90/190 6. Penggunaan • Mengingat beban
non-blok
• Diperkuat panel
• Isolasi
• Partisi non-beban bantalan
• Beban bantalan
Lanjutan Tabel 2.1 Perbedaan Bata Ringan AAC dan CLC
No Parameter BataxRingan AAC BataxRingan CLC
7. Sifat penuaan Tidak ada sifat penuaan Keuntungan pada kekuatan dengan usia seperti beton biasa
8. Konduktivitas
TermalxUnit (W/mk)
0,132-0,151xuntuk 650 kg/m3
• 0,098 untuk 400 kg/m3
• 0,151 untuk 700 kg/m3
• 0,238 untuk 1000 kg/m3
9. IsolasixSuara Unggul Unggul
10. Mudah Bekerja • Dipaku
• Dapat dipotong
• Dibor sebagai kayu
• Dipaku
• Dapat dipotong
• Dibor sebagai kayu 11. Eco-ramah Bebas terhadap polusi
dengan memiliki kebutuhan energi tingggi
Bebas terhadap polusi dengan memiliki kebutuhan energi minimal
(Sumber : (Hazim dkk, 2016) 2.2.3.2 Syarat mutu bata ringan
Syarat mutu bataxringan menurut (SNI Bata Ringan 8640-2018.Pdf, n.d.) tentang bata ringan diantaranya adalah sebagai berikut.
1. Permukaan luar
Permukaan bidang bata harus baik dan tidak cacat dengan toleransi masih bisa ditutup dengan pasangan mortar. Rusuk-rusuknya tidak mudah dirusak dan harus siku terhadap yang lainnya.
2. Syarat fisis
Berdasarkan kondisi dan fungsi bata ringan maka bata ringan harus memiliki syarat fisis khusus sesuai dengan Tabel 2.2.
Tabel 2.2Syarat Fisis Bata Ringan
Syarat Fisis Satuan Bata Struktural Bata Nonstruktural Terekspor
lingkungan (outdoor)
Tidak terekspos lingkungan
(indoor)
Terekspor lingkungan
(outdoor)
Tidak terekspos lingkungan
(indoor)
Kelas - IA IB IIA IIB
Kuat tekan rata-rata min.1
MPa 6 4 2
Kuat tekan
individu min MPa 5,4 3,6 1,8
Penyerapan
air, maks. 2 % Vol 25 - 25 -
Tebal, min. mm 98 98 73
Susut
pengeringan, maks.3
% 0,2
Sumber: (SNI Bata Ringan 8640-2018.) 2.2.4 Bata beton
Bataxbeton merupakan bata yang bahan dasarnya terbuat dari bahan utama semen portland, agregat dan air. Bata beton dibedakanxmenjadi dua yaitu bata betonxpejal dan bata betonxberlubang.
1. Bata beton pejal
Bata beton pejal merupakan bata yang mempunyai volume pejaldengan persentase lebih dari 75% volume bata seluruhnyaxdan memiliki
penampang pejalnya sebesar 75% atau lebih dari luas penampang seluruhnya.
2. Bata beton berlubang
Bata beton berlobang merupakan bata yang mempunyai volume lubang dengan persentase lebih dari 25% volume batas seluruhnya dan memiliki luas penampang lubang lebih dari 25% dari luasan penampang bata.
Syarat fisis yang harus dipenuhi menurut SNI 03 0349 1989 bata beton untuk pasanganxdinding dapatxdilihat pada Tabel 2.3.
Tabel 2.3 Persyaratan Fisik Bata Beton
SyaratxFisis Satuanx Tingkat Mutu Bata Beton Pejal
I II III IV
Kuatxtekanxbruto
rata-rata minimum kg/cm2 100 70 40 25 SyaratxFisis Satuan Tingkat Mutu Bata Beton Pejal Kuatxtekan bruto
masing-masingxbenda uji
kg/cm2 90 65 35 21
Penyerapanxair rata-
rata % 25 35 - -
(Sumber :SNI 03-0349, 1989) 2.2.5 Bata interlock
Bata interlock merupakan bata yang pemasangannya dengan cara menumpuk bersilangan sehingga bisa saling mengait, dapat menggunakan perekat semen ataupun yang tidak terbuat dari campuran semen, pasir dan air setelah itu dilakukan proses ress ke dalam cetakan interlock yang sesuai dengan standar.
Bata ini memiliki kemampuan interlocking dengan pengait yang berfungsi untuk mengunci pergerakanxyang diakibatkan oleh gaya. Bata interlock merupakan
salah satu pengembangan dari jenis batako yang pembuatannya dengan cara menambah lips tonjolan pada bagian sisi-sisinya yang berfungsi sebagai pengunci.
Pemasangan bata interlock ini dapat menghemat tenaga kerja, mortar dan waktu dan diharapkan dengan adanya bata interlock ini dapat mampu mengurangi kerusakan pada dinding yang diakibatkan gempa bumi.
2.2.6 Material penyusun bata ringan
Material penyusun bata ringan dapat ditentukan olehxbeberapa faktor seperti proses pembuatan, alat yang digunakan, bahanxdasar dan bahan tambah/pengganti. Saringan perkembangan bahan untuk penyusun bata ringan tidak hanya terbuat dari semen, pasir dan air. Ada beberapa variasi yang banyak ditemukan dan telah dilakukan pada beberapa penelitian. Bahan penyusun bata ringan antara lain terdiri dari:
2.2.6.1 Semen portland
Semenxportland merupakan semenxhidrolis yang dalam proses pembuatannya dengan caraxmenggiling terakxsemen portlandxyang bahan utamanyaxterdiri dari senyawa kalsium silikat yangxbersifat hidrolis dan digilingxbersama-sama denganxbahan tambahan berupaxsatu atau lebihxbentuk kristal senyawaxkalsium sulfat dan boleh ditambahxdengan bahanxtambahan lain (SNI 15-2049-2004, 2004).
Semen portland memiliki karakteristik sifat yaitu sifatxfisik dan sifatxkimia (Permana, 2017). Sifat fisik semen portland diantaranya sebagai berikut:
1. Semen mempunyai berat jenis antara 3 mg/m3 sampai dengan 3,20 mg/m3.
2. Waktuxikatan yang diperlukan yaitu dimulai pada adanya reaksi dengan air sehingga terbentuk pasta semen yang kaku, hal ini dapat menahanxtekanan yang disebut waktu ikatan.
3. Panas hidrasi yang terjadi pada silikatxdan alumuniat akan dapat bereaksi dengan air yang berupa media perekat yang akan memadat setelah itu akan berbentuk menjadi massa yang keras. Reaksi tersebut dinamakan hidrasi.
4. Kehalusan pada butir reaksi antar semen dengan air yaitu semakin luas permukaan di butir-butir semen pada permukaan butir semen, maka akan lebih cepat proses hidrasinya. Oleh karena itu proses hidrasi semen tergantung dari tingkat kehalusan pada butir semen, semakin halusnya butiran semen maka makin cepat proses hidrasinya, Pada semen yang mempunyai tingkat kehalusannya tinggi dapat mengurangi proses terjadinya air naik ke permukaan.
Sifat kimia yang terdapat pada komposisi semen portland memiliki 4 unsur paling penting (Arizki dkk, 2015), yaitu :
1. TrikalsiumxSilikat (3CaO.SiO2) atau C3S dengan berat 50%.
2. DikalsiumxSilikat (2CaO.SiO2) atau C2S dengan berat 25%.
3. TrikalsiumxAluminat (3CaO.Al2O3) atau C3A dengan berat 12%.
4. TetrakalsiumxAluminoferrit (4CaO.Al2O3Fe2O3) disingkat menjadi C4AF dengan berat 8%.
5. Gipsum (CaSO4.H2O) disingkat CSH2 dengan berat 3%.
Berdasarkan jenis dan penggunaannya semen portland pada Standar Nasional Indonesia (SNI 15-2049-2004, 2004), dibagi menjadi 5 jenis, yaitu :
1. Jenis I: Semen portland digunakan pada penggunaan beton secara umum biasanya tidak ada sifat persyaratan-persyaratan khusus.
2. Jenis II:xSemen portland dengan perubahan-perubahan tertentu yang penggunaannya harus tahan terhadap hidrasi kalor sedang atau sulfat.
3. Jenis III:xSemen portland yang pada penggunaannya dibutuhkan kekuatan yang tinggi pada proses awal setelah proses pengikatan yang terjadi. Semen ini berfungsi khusus untuk pembangunan struktur bangunan yang memiliki kekuatan yang tinggi dan akan muda mengeras.
4. Jenis IV:xSemen portland ini khusus digunakan untuk penggunaan yang membutuhkan panas hidrasi yang cukup rendah.
5. Jenis V: Semenxportland yang dalam penggunaannya digunakan pada bangunan yang membutuhkan ketahanan tinggi terhadap sulfat seperti di air yang memiliki kadar alkali yang tinggi atau di dalam tanah.
2.2.6.2 Agregat halus
Agregat halus (pasir) merupakan suatu batuan yang memiliki ukuran butir diantara 0,15mm sampai 5 mm. Agregatxhalus dapat diperoleh dari dalam tanah, tepi laut atau di dasar sungai (Permana, 2017)
Persyaratan pada pasir atau agregat halus yang memiliki karakeristik yang baik menurut Standar Nasional Indonesia (SNI-S-04-1989-F:28) sebagai bahan material bangunan adalah sebagai berikut:
1. Agregatxhalus dengan syarat butiran yangxbersifat tajam dan sedikit keras yang tingkat indeks kekerasan mencapai < 2,2.
2. Kandungan lumpur harus kurang dari 5% dan jika lebih dari 5% maka pasir harus diberi perlakuan seperti mencuci kembali pasir.
3. Untuk pembuatan beton tidak boleh menggunakan pasir laut kecuali dengan penggunaannya sesuai petunjuk dari lembaga pemerintahan bahanxbangunan yang diakui.
4. Pasir dibuktikan tidak mengandung bahan-bahan organik berlebihan dengan diuji melalui percobaanxwarna dari Abrans-Harderxdengan larutanxjenuh NaOH 3%.
5. Untuk pembuatan beton pada keawetan mutu tinggi proses reaksi pasir terhadap alkalixharus negatif.
6. Modulus kehalusan susunan besarxbutir pasir antara 1,5-3,8 yang terdiri beraneka ragam butir-butirnya.
7. Untuk plesteran dan spesi terapan menggunakan agregat halus yang memenuhi persyaratan pasir pasangan.
Pasir yang digunakan pada proses pembuatan bata ringan menurut standar ASTM E 11-70 adalah pasir yang lolosxayakan dengan diameter lebihxkecil dari 5 mm. Pasir berfungsi agar dapat mencegah adanya keretakan atau kerusakan pada beton ketika sudahxmengering.
2.2.6.3 Air
Air digunakan untuk mempercepat proses kimiawi semen pada pembuatan beton, untukx membasahixagregat dan berguna untuk kemmudahkan pada adukan beton. Air yang kurang mengakibatkan prosesxhidrasi tidak sempurna sedangkan jika air yang digunakan berlebihan akanxmenyebabkan campuran beton banyaknya
gelembung-gelembung air, sehingga kekuatan beton tidak optimal (Permana, 2017). Air digunakan sebagai bahan yang dipakai berfungsin untuk bereaksi dengan semen dan menjadi alat pelumas antara butir-butir agregatxagar mudah dikerjakan dan dipadatkan. Airxdiperlukan 25% dari beratxsemen untuk dapat bereaksi dengan semen (Widodo, 2015).
2.2.6.4 Gipsum
Gipsum adalah material galian dan air tanah yang didalamnya mengandung banyak ion-ion sulfida dan sulfat. Gipsum termasuk mineral sedimen kimiawi yang teruapkan dengan kadar kalsium yang lebih banyak dibandingkan dengan mineralnya. Umumnya gipsum banyak ditemukan atau digunakan yaitu gipsum jenis hidratxkalsium sulfat (CaSO42H2O) (Widodo, 2015). Keberadaannya gipsum di alam merupakan berwujud massa yang padat dan berbagai macam warna seperti abu-abu, coklat atau merah. Keberagaman tersebut dikarenakan adanya beberapa zat tambahan seperti karbohidrat, tanah liat,xanhidrat dan sedikit terdapat kandungan SiO2 atau oksidasi logam lain (Permana, 2017).
Gipsum mempunyai berat jenis diantara 2,31-2,35, Gipsum memiliki ciri seperti kilap lilin dan kilapxsutra, serta terdapat gores gipsum yang berwarna putih, mempunyai derajat transparan dari jenisxtransparan hinggaxtranslucent, dan juga memiliki sifat menolakxmagnet atau bisa disebut diamagnetic (Prayitno, 2021).
Gipsum (CaSO42H2O) adalah bahan tambahan pada pembuatan semen. Gipsum adalah batu putihxyang terbentuk karenaxpengendapan air laut, yang kemudian akan dipanaskan 175 ºC bisa disebut stucco. Keuntungan dari gipsum ketika digunakanxsebagai material dari suatu bendaxadalah : tahan api, ringan, meredam
suara. Kelemahan gipsum tidak tahan terhadap air ataupun kelembaban. (Balaka dkk, 2016)
Keuntungan penggunaan serbuk gipsum sebagai berikut (Wibawa dkk, 2015):
1. Gipsum yangxdicampur lempung dapatxmengurangi retak karenaxsodium pada tanah tergantikanxoleh kalsium pada gypsumxsehingga pengembangannya lebih.
2. Gipsumxdapat meningkatkanxstabilitas tanahxorganik karenaxmengandung senyawa kalsium yang dapat mengikat tanahxbermateri organik terhadap material lempung yang akan menjadikan agregat tanah tetap stabil.
3. Penambahan gypsum dapat meningkatkan kecepatan proses rembesan air, karena gipsum memiliki sifat lebih menyerap banyak air.
2.2.6.5 Kapur
Batu kapur adalah mineral yang sering digunakan dalam sector industri maupun sector konstruksi, yang diantaranya digunakan untuk bahan material bangunan, berfungsi sebagai bahan penstabilxjalan raya, dan dapat digunakan dalam proses pengapuran untuk sector pertanian(Jusi dkk, 2021). Kapur merupakan bahan yang berwarna putih dan permukaan halus yang berasal dari batuan sedimen lalu mengalami proses sedimentasi sehinnga membentuk batuan yang terdiri dari mineralxkalsium. Kapur dapat terbentuk dan ditemukan disekitar laut dalam yang dimana kondisi batuan didalamnya terkandung lempengan kalsium plates (coccoliths) yang terbentuk oleh adanya aktivitas mikroorganisme coccolithophores (Haryanti dkk, 2019).
Kapur memiliki 2 jenis yaitu, kapurxhidrolik dan kapur nonxhidrolik.
1. Kapur non hidrolik
Kapur non hidrolik memiliki sifat mengikat di dalam air dan tidak dapat mengeras, tetapi kapur ini dapat mengeras ketika berada di udara. Kapur putih merupakan kapur non hidrolik yang paling baik, karena pada kapur ini mengandung banyak kalsium oksida ketika bentuknya masih dalam bentuki kapur tohor (belum berhubunganxdengan air) dan ketika sudah bercampur dengan air akan banyak mengandung kalsium hidroksida. Kapurxputih ini sangat cocok digunakan sebagai bahan pembuat plesteran langit-langit terlihat jernih dan putih. Kapur putih akan menambah kekenyalan ketika digunakan untuk bahan tambah pembuatan campuran beton, dan dapat mempercepatn pengerjaan beton akan diperbaiki. Dengan campuran 1:3, kapur putih dapat memperhalus permukaanxbeton yang tidak mengandungxpori-pori. Dalam kekuatan pengikatnya kapur ini hanya mampu mencapaixsepertiga dari kekuatan semen portland. (Jusi dkk, 2021)
2. Kapur hidrolik
Kapur hidrolik merupakan jenis kapur yang memiliki kemampuan untuk mengeras dan mengikat di dalam air. Kapur hidrolik tidak cocok digunakan sebagai bahan bangunan-bangunan yang letaknya ada di dalam air, karena kapur ini membutuhkanxudara yang cukup dalam proses pengerasan (Jusi dkk, 2021). Kapur hidrolik mempunyai beberapa sifat diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Kekuatannyaxrendah
2. Beratxjenis rata-rata sebesar 1000 kg/m3 3. Bersifatxhidrolik
4. Dapat terbawa arus
Dalam penggunaannya kapur hidrolis digunakan sebagai adukan tembok, plesteran akhir, bahan pencampur semen, lapisan bawah plesteran dan berfungsi sebagai bahanxtambahan ketika beton akan diekspos. (Haryanti dkk, 2019)
Sifat batu kapur yang istimewa adalah jika batu kapurxdipanaskan maka akan berubahxmenjadi kalsium oksida (Ca0) melaluixproses dekarbonasi (pelepasan CO2) sehinggaxhasilnya merupakanxkapur tohor atau quick lime yang dapat mudahxmenjadi kapurxhydrant atau kalsiumxhidroksida (Ca(OH)2) dengan cara dihidrasi. Secara kimiawi pada proses hidrasi, air akan bereaksi dan akan diikat oleh CaO menjadi Ca(OH)2 dengan jumlahxperbandingan molekulnya sama.
Batu kapur (lime stone)/CaCO3, atau biasa disebut kapur tohor ataupunxkapur hidup (quick lime) memilikixrumus CaO merupakan batu kapur yang bukan CaO murni, namun tetap memiliki oksida-oksidaxlain dalamxjumlah tertentuxyang biasanya terjadi akibat adanya proses pengotoran dari batuanxkapur.
Berdasarkan sumber penggunaannya dibedakan menjadi dua macamxuntuk bahan bangunan, yaitu kapur bleaching dan kapur aduk. Yang berbentuk kapurxtohor ataupun kapurxpadam (Sebayang, 2018).
Kapur tohor atau quick lime merupakan kapur yang berasal dari proses pembakaran batuan kapur yang berasal dari senyawa kalsium atau magnesium berbentuk oksida (Jusi dkk, 2021).
1. Kapurxpadat atau hydrated lime merupakan bentukxhidroksida dari magnesium dan kalsiumxyang terbuat dari kapur keras yang diberi air akan
mengalami reaksi dan dapat mengeluarkanxpanas. Kapur ini digunakan dalam pembuatan bahanxadukan bangunan yang berfungsi sebagai pengikat.
2. Kapur hydraulic yaitu kalsium dan magnesium yang tergabung secara kimiawi.
Dengan cara menambahkan air maupun dibiarkan di udara terbuka dapat secara mudah kapur ini terhidrasi, pada reaksi ini mengeluarkan panas.
Ada beberapa manfaat dari kapur diantaranya adalah:
1. Kapur dipergunakan untuk bahan bangunan seperti plester, pembuatan semen tras, adukan pasangan bata, dan pembuatan semen merah.
2. Kapur digunakan dalam bidang pemanfaatan fondasi jalan raya seperti halnya sebagai bahan penstabilan jalan raya. Kapur berfungsi sebagai material yang dapat mengurangi prnyusutan, plastisitas dan pemuaian pada fondasixjalan raya.
Kapur yang digunakan dalam pembuatan bata ringan harus dihaluskan terlebih daulu, kemudian setelah itu diayak dengan menggunakan saringanxNo.200, jika adanya reaksi kimia, kapur yang dicampur dengan Foaming agent maka akan dihasilkan berupa gelembung-gelembung H2, sehingga pada penambahan kapur dapatxmengurangi beratxbata/beton ringan yangxdihasilkan (Haryanti, 2019).
2.2.6.6 Foaming agent
Foaming agent merupakan senyawaxkimia yang umumnya dapat digunakan pada bahan pembuatan bata ringan sebagai pengembang adonan mortar.
Ketika foaming agent dicampurxdengan kalsium hidroksida yang terdapat pada
pasir dan airxakan bereaksi membentuk gas hydrogen. Hydrogen ini membentukxgelembung-gelembungxudara pada campuran beton. Gelembung udara inilah yang membuat volume menjadi lebih besar dari semula. Pada tahap terakhir dalam prosesxpembusaan atau pengembangan, hydrogen akan terlepas ke atmosfer dan diganti olehxudara. Rongga tersebut yang akan membuat ringan pada bata ringan .
2.2.7 Pengujian pendahuluan agregat halus
Pengujian pendahuluan agregatxhalus atau pasirxdilakukan beberapa pengujian seperti pengujian kadar air, gradasi agregat, kadar lumpur agregat, berat jenis agregat dan beratxsatuan agregat.
2.2.7.1 Uji gradasi agregat
Agregat halus dikategorikan sebagai agregat besar mempunyai butir-butir agregat dengan ukuran lebih besar dari 4,8 mm, dan agregat kecil memiliki ukuran butir lebih kecil dari 4,8 mm. Agregat harus mempunyai bentuk yang baik seperti bentuknya bulat mendekati kubus, keras, bersih, dan kuat. Pada pembuatan batako, yang digunakan hanya agregat halus, maka gradasi harus lebihxkecil dari 4,8 mm.
Untuk mengetahui suatu agregat halus memenuhi syarat atau tidak, perlu diketahui batasan gradasi agregat halus yang diperbolehkan oleh (SNI-03-2834-2000), persyaratan ini dapat dilihat pada Tabel 2.4.
Tabel 2.4 Gradasi Agregat Halus/Pasir Menurut (SNI-03-2834-2000) Ukuran
Saringan
% LolosxSaringan/Ayakan
PasirxKasar PasirxSedang Pasir AgakiHalus PasiriHalus mm SNI Gradasi No.1 Gradasi No. 2 Gradasi No. 3 Gradasi No. 4
9,5 9,6 100-100 100-100 100-100 100-100
4,75 4,8 90-100 90-100 90-100 95-100
2,36 2,4 60-95 75-100 85-100 95-100
1,18 1,2 30-70 55-59 75-100 90-100
0,6 0,6 15-34 35-59 60-79 80-100
0,30 0,3 5-20 8-30 12-40 15-50
0,15 0,15 0-10 0-10 0-10 0-15
(Sumber: SNI 03-2834-2000) Tata Cara Pembuatan Rencana Campuran Beton Normal
2.2.7.2 Uji kadar air agregat
Kadar air agregat adalah besarnyaxperbandingan antaraxberat airxyang dikandung dalam agregat denganxagregat dalam keadaanxkering, dinyatakanxdalam persen. Metode pengujian pada kadar air agregat telah diatur dalam (SNI 1971- 2011). Tujuan pengujianxadalah untuk memperolehxangka persentase dari adar airxyang dikandung oleh agregat. Kadar air agregat halusxyang ideal adalah kadar air yang berkisar 1%-2%. Benda ujixuntuk pemeriksaan agragat minimumxtergntung pada ukuran butir maksimum sesuai Tabel 2.5
Tabel 2.5 Berat Minimum Benda Uji Pengujian Kadar Air
Ukuran Nominal Maksimum Agregat Massa Minimum Benda Uji Agregat Normal kg
mm inci
4,75 0,187 (No.4) 0,5
9,5 3/8 1,5
12,5 ½ 2
19,0 ¾ 3
25,0 1 4
37,5 1 ½ 6
50 2 8
63 2 ½ 10
75 3 13
90 3 ½ 16
100 4 25
150 6 50
K (air) =𝐴−𝐵
𝐵 𝑋 100% ……… (2.1) Keterangan :
K(Air) = KadarxAir (%)
A = Massacbenda uji jenuh kering permukaan (gram) B = Massacbenda uji kering oven (gram)
2.2.7.3 Uji kadar lumpur
Pemeriksaan kadar lumpur agregat halus adalah untuk mengetahui persentase kadar lumpur pada suatu agregat halus. SK SNI S-04-1989-F, kandungan lumpur harus kurang dari 5% untuk digunakan sebagai bahan susun batako. Terdapat dua cara pengujian kadar lumpur yaitu pengujian berdasar volume dan berdasarkan berat. Penelitian ini menggunakan pengujian kadar lumpur yang dilakukan berdasarkan berat, dengan rumus kadar lumpur agregat yaitu: