• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penilaian Pemeriksaan Tulang Belakang

Dalam dokumen PANDUAN KETERAMPILAN KLINIS - Repository UMJ (Halaman 149-157)

REFERENSI

Boros M. Surgical Techniques Textbook for Medical Students. Ed. 1. University of Szeged Faculty of Medicine Institute of Surgical Research.

Brunicardi F.C., Andersen D.K., Billiar T.R. Schwartz’s Manual of Surgery. Ed. 9. McGraw Hill. 2011.

Russel R.G.C., Williams N.S. Bailey & Love’s Short Practice of Surgery, Ed. 26. London: Hodder Arnold. 2013.

Sjamsuhidajat, R., de Jong, W. Buku Ajar Ilmu Bedah, Ed. 4. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. 2012.

Stapert J, Kunz M. Skills in Medicinie: Minor Surgery.

Mediview: Maastricht University, Netherlands.

2009. p. 15, 41-47.

Penilaian Pemeriksaan

TEKNIK PEMERIKSAAN

1) Ucapkan salam dan perkenalkan diri

2) Jelaskan tujuan dan prosedur pemeriksaan kepada pasien, meminta izin/informed consent, dan meminta pasien untuk rileks

3) Lakukan pemeriksaan inspeksi, palpasi dan ROM dan kekuatan otot :

a. Mulai dengan inspeksi postur, termasuk posisi leher dan batang tubuh saat pasien memasuki ruangan

b. Jelaskan kepada pasien pemeriksaan yang akan dilakukan dan prosedurnya c. Cuci tangan 7 langkah

d. Minta pasien untuk berdiri dan membuka bajunya

e. Mulai pemeriksaan dari leher dengan meminta pasien menggerakan lehernya ke bawah, ke atas, samping kiri dan samping kanan, lihat apakah ada kekakuan gerak leher

f. Minta pasien untuk berdiri membelakangi pemeriksa dan mulai pemeriksaan dengan inspeksi dari belakang:

- Lihat prosesus spinosus (biasanya paling terlihat di C7 dan T1)

- Otot-otot paravertebral di kedua sisi garis tengah

- Spina iliaka (yang menonjol) - Posterior superior spina iliaka,

biasanya ditandai dengan adanya skin dimples

- Servikal bentuk lordosis, torakal bentuk kifosis, lumbal bentuk lordosis dan sakrum kifosis (dilihat dari samping)

(Sumber: https://www.researchgate.net/publication/228451628_A_Review_of_

Computational_Spinal_Injury_Biomechanics_Research_and_Recommendations_

for_Future_Efforts/figures?lo=1)

Gambar 123. Penampang sagital dari columna vertebra

https://www.researchgate.net/publication/228451628_A_Review_of_Computa- tional_Spinal_Injury_Biomechanics_Research_and_Recommendations_for_Fu-

ture_Efforts/figures?lo=1

Gambar 124. Aspek posterior dari tulang belakang 4) Palpasi tulang belakang dengan ibu jari; bisa

dengan posisi duduk atau posisi berdiri:

a. Palpasi otot-otot paravertebral untuk melihat apakah ada nyeri atau spasme otot.

b. Palpasi prosesus spinosus apakah ada step deformity (penurunan prosesus spinosus).

c. Periksa secara hati-hati di daerah lumbal apakah ada prosesus spinosus yang menonjol (gibus) atau tidak terlihat menonjol (normal) sehubungan dengan tulang diatasnya.

d. Palpasi daerah sakroiliaka, biasanya ada skin dimples di sepanjang posterior superior tulang iliaka.

(Sumber: https://stanfordmedicine25.stanford.edu/the25/BackExam.html)

Gambar 125. Palpasi otot-otot paraspinal

5) Perkusi tulang belakang dari daerah servikal hingga lumbal untuk melihat adanya nyeri;

dilakukan dengan menggunakan sisi medial kepalan tangan

6) Periksa Range of Motion (ROM). Pemeriksaan dilakukan secara aktif dan pasif.

a. Pemeriksaan aktif: meminta pasien melakukan gerakan secara mandiri, menirukan gerakan pemeriksa (sesuai instruksi pemeriksa)

b. Pemeriksaan pasif: pemeriksa yang menggerakkan ekstremitas pasien 7) Periksa Leher: nilai apakah ada nyeri atau

gangguan pergerakan

a. Gerakan fleksi: minta pasien untuk mendekatkan dagunya ke arah dada (rentang normal fleksi leher 50°)

b. Gerakan ekstensi: minta pasien untuk melihat ke atas (rentang normal ekstensi leher 60°)

c. Gerakan rotasi: minta pasien untuk melihat bahu kanan dan sebaliknya (rentang normal rotasi leher Ke kiri 80°

dan Ke kanan 80°)

d. Gerakan lateral bending: minta pasien untuk mendekatkan telinga ke bahu kanan dan sebaliknya (rentang normal lateral bending 45°)

(Sumber: https://www.treatingtmj.com/tmd-evaluation/)

Gambar 126. Periksa leher 8) Periksa ROM Kolumna Spinalis

a. Gerakan fleksi: minta pasien untuk membungkuk kedepan dan menyentuh jari-jari kaki (kelengkungan) lumbal menjadi lebih datar

b. Gerakan ekstensi: minta pasien untuk mendongak kebelakang

c. Gerakan rotasi: minta pasien berputar

ke arah kiri dan kanan (stabilkan pelvis pasien dengan menaruh kedua tangan pemeriksa di panggul kanan kiri pasien lalu putar batang tubuh ke kanan dan ke kiri; atau pasien dalam posisi duduk langsung memutar tubuh ke kanan dan d. kiriGerakan fleksi ke lateral: minta pasien untuk fleksi ke lateral dari pinggang

(Sumber: https://media.springernature.com/original/springer-static/image/chp%3A10.1007

%2F978-981-13-7677-1_48/MediaObjects/457552_1_En_48_Fig2_HTML.png)

Gambar 127. Periksa ROM kolumna spinalis

ANALISIS HASIL PEMERIKSAAN

· Adanya deviasi dari posisi leher dan batang tubuh (lateral atau putaran) menandakan kelainan, seperti tortikolis atau skoliosis

· Nyeri menandakan adanya fraktur atau dislokasi jika didahului oleh trauma, infeksi atau arthritis.

· Pergeseran pada spondilolistesis atau pergeseran sendi di satu vertebra kemungkinan dapat menekan medula spinalis. Didapatkan step deformity.

· Nyeri sendi sakroiliaka pada palpasi dapat menandakan adanya peradangan sendi (sakroiliitis). Spondilitis ankylosis kemungkinan juga menyebabkan nyeri.

· Nyeri pada perkusi dapat diakibatkan oleh fraktur pada osteoporosis, infeksi atau keganasan.

· Adanya peningkatan kifosis torakal perlu mencurigai adanya fraktur kompresi vertebra.

· Spasme otot dapat terjadi akibat cedera, overuse, dan proses inflamasi dari otot, atau kontraksi yang terus-menerus akibat postur yang abnormal.

· Nyeri nervus iskhiadikus kemungkinan akibat herniasi diskus atau massa lesi yang menekan nervus yang bersangkutan.

· Herniasi diskus intervertebralis sering terjadi di L5-S1 atau L4-L5, dapat menghasilkan nyeri dan spasme otot-otot paravertebral serta nyeri rujukan ke ekstremitas bawah.

· Nyeri pada sendi intervertebra dapat juga disebabkan artritis

· Nyeri pada sudut costovertebral perlu mencurigai adanya gangguan pada ginjal.

· Keterbatasan pada ROM mungkin diakibatkan oleh kekakuan akibat artritis, nyeri akibat trauma, atau spasme otot.

· Nyeri pada C1-C2 pada penderita artritis

reumatoid meningkatkan risiko untuk terjadinya subluksasi dan kompresi medula spinalis.

· Pengukuran gerakan fleksi tulang belakang (Tes Schober): tandai di sendi lumbosakral, lalu ukur 10 cm diatas dan 5 cm dibawah poin ini.

Peningkatan sekitar 4 cm diantara 2 tanda ini masuk dalam keadaan normal.

REFERENSI

Bickley, LS. Szilagyi PG: Bates’ Guide to Physical Examination and History Taking, 10th Edition.

Lippincott Williams & Wilkins. China. 2009.

Reider B. The orthopaedic physical examination. 2nd edition. Elsevier Saunders. Philadelphia. 2005.

Thompson JC. Netter’s concise of ortopedi. 2nd edition. Elsevier Saunders. Philadelphia: 2010.

Penilaian dan Stabilisasi

Dalam dokumen PANDUAN KETERAMPILAN KLINIS - Repository UMJ (Halaman 149-157)

Dokumen terkait