PENJAJAKAN KEBUTUHAN PELATIHAN CONTOH LANJUTAN
Penjajakan Kebutuhan Pelatihan
Dengan menganalisis ketiga dimensi dari kebutuhan pelatihan kita, telah menghasilkan hasil berikut:
BAHAN SERAHAN (HANDOUT)
Hubungan antara pekerja lapangan dan penduduk desa baik.
Pekerja lapangan berusaha mendukung kebutuhan penduduk desa.
Pekerja lapangan bekerja dengan dukungan cadangan terbatas dari projek.
Bos tidak mendukung KF.
Hubungan antara projek dan penduduk desa baik.
Mandat projek untuk memproduksi rencana
pengelolaan adalah satu kepentingan bersama.
Mengidentifikasi batasan dan kebutuhan pelatihan:
Batasan yang tidak bisa dilatihkan bagi pembelajar:
bos yang tidak mendukung dan dukungan cadangan yang terbatas, situasi yang kompleks mengakibatkan proses perkembangan yang sulit dari rencana pengelolaan hutan lokal.
Intervensi alternatif: tunggu pelatihan sampai bos yang baru datang, identifikasi pendukung pekerja lapangan.
Kebutuhan yang bisa dilatihkan: memahami prinsip dan konsep KF, memahami kondisi lokal, ketrampilan dalam melakukan penjajagan, negosiasi dan perencanaan KF.
Masyarakat
Pembelajar Organisasi
Studi Kelayakan
Identifikasikan keterbatasan dan Cara Pemecahan masalah alternatif
Dalam studi kelayakan kita menekankan pada dua keterbatasan utama yang, dalam padangan kita, akan sangat menghambat efektifitas pelatihan. Keterbatasan pertama adalah sikap yang tidak mendukung dari bos terhadap kehutanan masyarakat, dan yang kedua adalah kurangnya dukungan cadangan untuk pekerja lapangan selama bekerja dalam masyarakat.
Kita menyarankan bahwa projek menunggu sampai seorang bos baru tiba, dan sementara waktu, carilah seseorang untuk menyediakan dukungan cadangan terhadap pekerja lapangan.
Proposal program pelatihan untuk perencanaan tata guna lahan hutan partisipatif
Usulan program pelatihan ini diajukan karena situasi di dalam masyarakat yang kompleks dan kurangnya pemahaman pekerja lapangan. Karena program ini panjang, maka program dibagi menjadi beberapa lokakarya, yang masing-masing tidak lebih dari sepuluh hari. Waktu pelaksanaan semua lokakarya diusahakan terjadi dalam periode setengah tahun. Di antara lokakarya, pekerja lapangan akan memiliki kesempatan untuk berpraktek di desa mereka sendiri tentang apa yang telah mereka pelajari selama lokakarya.
Pelatihan didasarkan pada kenyataan bahwa konsep lingkungan, begitu juga pemanfaatan dan perlindungan sumber daya alam, memiliki makna yang berbeda untuk orang-orang yang berbeda, terutama mereka yang terlibat pada tingkat lokal. Contoh, bagi penduduk desa, lingkungan dipahami sebagai sumber bagi kelangsungan hidup mereka. Karenanya pendekatan pelatihan sepenuhnya didasarkan pada pertukaran pengetahuan dalam satu lingkungan ekologis dan sosial yang spesifik (pelatihan akan dilakukan di desa). Pelatihan akan melengkapai kemampuan peserta untuk:
menilai sumber daya alam,
mendapatkan gambaran yang beragam dari semua kelompok orang yang terlibat, dan mengetahui klaim (pengakuan) spesifik yang mereka buat terhadap sumber daya yang tersedia,
menentukan kecenderungan dalam dinamika penggunaan sumber daya dan mengembangkan ukuran yang diperlukan untuk mengurangi dampak negatif.
Dalam situasi yang sebenarnya, dukungan pelatihan akan menjadi dasar bagi proses-proses pengelolaan hutan yang garis besarnya dijelaskan dalam gambar dibawah ini. Ini akan mencakup proses penjajagan, serta langkah awal yang dibutuhkan dalam negosiasi untuk penyelesaian konflik. Perlu ditekankan bahwa langkah-langkah berikutnya (institusionalisasi, penetapan rencana pengelolaan) memerlukan satu pendekatan terbuka, yang akan dikembangkan saat proses berlangsung.
Proses untuk penetapan rencana pengelolaan Penilaian dasar
sumber daya alam dan pengakuan stakeholder
Negosiasi dengan masyarakat lokal dan lembaga pemerintah
Institusionalisasi Rencana pengelolaan
Bagian proses yang dicakup oleh pelatihan
BAHAN SERAHAN (HANDOUT)
PENJAJAKAN KEBUTUHAN PELATIHAN
Bagaimana Anda menjajaki kebutuhan pelatihan
Informasi yang dikumpulkan mengenai pembelajar, masyarakat dan organisasi kini harus dianalisis dan dikombinasikan. Diagram berikut ini bisa dipergunakan sebagai alat untuk menstrukturkan dan menganalisis informasi yang dikumpulkan. Ketiga tingkat menunjukkan tumpang tindih tertentu; organisasi dengan masyarakat, organisasi dengan pembelajar dan pembelajar dengan masyarakat. Analisis terhadap setiap tumpang tindih akan membawa Anda lebih dekat untuk menetapkan keterbatasan konteks pelatihan.
Begitu keterbatasan kontekstual pelatihan teridentifikasi, keterbatasan ini perlu dinilai.
Berapa banyak hal ini akan berpengaruh terhadap pelatihan? Bisakah suatu program pelatihan menyediakan solusi? Setelah konteks pelatihan dinilai, sekarang saatnya untuk fokus pada
BAHAN SERAHAN (HANDOUT)
Kondisi dalam masyarakat yang membatasi pembelajar untuk bekerja
Keperca- yaan masyarakat terhadap
organisasi
Komple-
mentasi sumber daya dalam organisasi versus kebutuhan masyarakat
Identifikasi keterbatasan solusi alternatif dan kebutuhan pelatihan:
identifikasi keterbatasan dan isu-isu yang berhubungan dengan pembelajar
identifikasi yang bisa diselesaikan dengan pelatihan
jika pelatihan bukan solusi kembangkan intervensi alternatif
fokus pada masalah pelatihan, identifikasi kebutuhan pelatihan dalam pengertian pengetahuan, ketrampilan dan sikap
kembangkan strategi pelatihan, tujuan-tujuan dan topik- topik yang mungkin, anggaran
Dukungan organisasional dan batasan bagi pembelajar untuk bekerja
Masyarakat
Pembelajar Organisasi
masalah dan kebutuhan pembelajar. Lagi, pertanyaan pertamanya adalah, masalah apa yang tidak bisa dipecahkan melalui pelatihan? Hal ini diikuti dengan proses penilaian yang sama:
untuk keterbatasan dan kebutuhan yang tidak bisa dilatihkan: nilailah kepentingannya dan sarankan solusi alternatifnya,
untuk kebutuhan yang bisa dilatihkan: nilailah pengetahuan, keterampilan, serta sikap yang dibutuhkan untuk masa kini dan masa depan.
Penjajakan kebutuhan pelatihan mungkin langkah yang paling sulit dalam keseluruhan latihan PKP, tetapi ini adalah hal yang paling penting. Pengalaman mengajari kita bahwa tantangan terbesar untuk setiap latihan PKP adalah untuk menjaga satu fokus yang jernih. Biasanya begitu Anda akan memulai penjajakan, Anda akan memiliki begitu banyak informasi, sehingga akan menyulitkan untuk melakukan identifikasi dan memilih informasi yang relevan dengan kegiatan pelatihan.
Hal lain yang perlu diingat sepanjang proses PKP, bahwa meskipun analisis masyarakat dan organisasi penting untuk menilai konteks dan keterbatasan, fokus utama latihan harusnya adalah analisis pembelajar dan identifikasi kebutuhan pelatihan yang sangat spesifik.
Langkah selanjutnya setelah kebutuhan pelatihan teridentifikasi, adalah analisis kelayakan di mana kelayakan satu program pelatihan dinilai dan penyampaian satu proposal pelatihan,
termasuk perkiraan anggaran.
Analisis Kelayakan
Selama analisis kelayakan, ditampilkan berbagai pilihan untuk memecahkan masalah yang beragam. Jika banyak keterbatasan yang tidak bisa diselesaikan melalui pelatihan, kita harus mempertimbangkan berbagai intervensi atau memutuskan untuk tidak meneruskan pelatihan sama sekali. Beberapa alternatif pelatihan mungkin termasuk rekrutmen, merubah jabatan dan
realokasi jabatan-jabatan atau tugas-tugas.
Proposal program pelatihan menampilkan strategi pelatihan secara keseluruhan, ruang lingkup program pelatihan, tujuan keseluruhan dan topik-topik utama yang akan dilatih.
Melakukan identifikasi biaya program pelatihan yang diajukan bisa menjadi bagian dari analisis kelayakan. Hal itu harus termasuk biaya tetap (tanpa mempertimbangkan jumlah peserta yang akan hadir) dan biaya tidak tetap (biaya tambahan per peserta), dan biaya langsung dan tidak langsung. Biaya langsung termasuk hal-hal seperti gaji, uang saku (allowances), logistik, penginapan, dan transportasi. Biaya tidak langsung mungkin termasuk penggunaan listrik, biaya kesempatan (opportunity cost) seperti gaji untuk periode pelatihan.
MELAKUKAN IDENTIFIKASI KEBUTUHAN PELATIHAN
Bacalah kasus berikut Latar Belakang
Anda diminta untuk melakukan penjajagan kebutuhan pelatihan untuk 15 penyuluh pertanian, semua bekerja untuk Organisasi Non-Pemerintah (ORNOP) yang sama. Anda
berkunjung ke tiga desa yang berbeda dengan menggunakan metode PRA untuk menjajagi minat, pengalaman dan masalah yang dihadapi petani ketika mempraktekkan pertanian berkelanjutan.
Anda melakukan beberapa wawancara dengan penyuluh individual dan pengelola ORNOP.
Temuannya dijelaskan di bawah ini.
Hasil Analisis Masyarakat
Tidak semua petani sadar tentang pertanian berkelanjutan. Dalam kenyataan hanya sebagian kecil petani yang benar-benar aktif menggunakan praktek pertanian berkelanjutan.
Petani tersebut telah mengorganisasikan dirinya dalam Asosiasi Petani Organik (APO). Organisasi ini tampaknya memonopoli dukungan ORNOP di desa. Karena keberadaan kami di desa adalah tugas dari ORNOP, maka kami banyak berbicara dengan petani-petani APO. Sulit untuk mendekati mayoritas petani yang tidak mempraktekkan pertanian berkelanjutan.
Petani-petani mengungkapkan bahwa masalah utama mereka berhubungan dengan pemasaran, dan kekurangan air. Pemasaran produk-produk pertanian berkelanjutan sepertinya lebih sulit daripada produk-produk pertanian biasa. Meskipun ORNOP mulai membantu petani dengan harga mahal untuk padi organik, bantuan ini kemudian ditarik pada tahap selanjutnya karena krisis ekonomi, dan akibatnya kepercayaan petani menjadi turun.
Sebagai tambahan selama tahun yang lalu, kekurangan air telah menjadi satu masalah yang semakin akut bagi mayoritas petani. Hanya petani kaya yang bisa memiliki pompa sumur dalam dan bisa menanam satu varietas sayuran pertanian berkelanjutan yang berhasil selama musim kering.
Petani-petani yang lain, yang tergantung pada pompa sumur dangkal dan air hujan, hanya bisa menanam padi di musim hujan. Mayoritas petani di desa-desa tidak memiliki tanah yang benar- benar mereka tanami dan karenanya tidak berminat untuk melakukan investasi jangka panjang yang diperlukan untuk banyak praktek pertanian terlanjutkan.
Hasil Analisis Organisasi
ORNOP-nya relatif masih muda, dan telah tumbuh pesat selama beberapa tahun yang terakhir. Selama waktu tersebut banyak penyuluh muda yang baru telah direkrut. Karena tekanan yang tinggi untuk membuat kegiatan berjalan, maka hanya sedikit waktu yang diinvestasikan untuk melatih staf baru mengenai ketrampilan penyuluhan atau praktek pertanian berkelanjutan.
Penyuluh harus melayani sendiri sejumlah desa-desa yang terpisah, tanpa dukungan apa pun dari ORNOP di lapangan.
Staf senior dari ORNOP, tidak terlalu banyak melakukan pelayanan lapangan lagi karena mereka terikat di kantor dengan semua jenis masalah menajemen meskipun mereka
berpengalaman baik dan memiliki latar belakang yang kuat dalam konsep dan praktek pertanian berkelanjutan. Sayangnya tidak ada mekanisme di tempat tersebut untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman antara staf ORNOP senior dan yunior.
Keluaran Analisis Pembelajar
STUDI KASUS
Penyuluh mengungkapkan ragam masalah yang luas dihadapi dalam pekerjaan mereka (lihat pohon masalah di bawah sebagai berikut). Mereka cenderung terlalu banyak mempergunakan waktu di kantor, sebab mereka tidak suka bekerja di lapangan. Mereka mengungkapkan bahwa mereka kurang percaya diri dalam bekerja dengan petani yang memiliki lebih banyak pengalaman pertanian daripada mereka. Mereka merasa kesulitan dalam meyakinkan petani untuk
menggunakan praktek pertanian berkelanjutan seperti keuntungan yang dialami dalam jangka panjang dan kepercayaan hanya muncul setelah melihat. Karena banyak petani tidak memiliki tanah, mereka menganggap terlalu berisiko untuk melakukan investasi yang diperlukan. Penyuluh menyadari bahwa petani-petani yang lain di desa yang sama bisa lebih berhasil dalam memajukan praktek-praktek berkelanjutan, hanya melalui percontohan di lahan mereka. Bagaimanapun, karena suasana kompetitif antara petani, mereka enggan untuk berbagi inovasi.
Petani sudah tertarik dengan praktek pertanian berkelanjutan, terutama meminta dukungan dalam penanaman sayuran. Penyuluh, meskipun begitu, mengungkapkan bahwa
pengalaman pelatihan mereka terutama dengan penanaman padi dan mereka tidak memiliki banyak hal untuk ditawarkan kepada para petani tersebut.
Pertanyaan
Setelah membaca studi kasus tersebut, diskusikan dan jawab pertanyaan berikut dalam kelompok Anda.
1. Faktor-faktor apa yang ada di dalam masyarakat yang kira-kira dapat menghambat keberhasilan penyuluh lapangan? Bagaimana?
2. Faktor-faktor apa yang ada di dalam ORNOP yang dapat menghambat keberhasilan penyuluh lapangan? Bagaimana?
3. Apakah masalah dan kebutuhan utama penyuluh lapangan?
4. Di antara faktor-faktor di atas (yang berhubungan dengan masyarakat, ORNOP dan penyuluh), faktor apa saja yang tidak bisa dilatihkan? Tipe intervensi seperti apa yang Anda usulkan untuk membantu penyuluh lapangan agar bekerja lebih baik?
5. Kebutuhan yang mana yang bisa dilatihkan? Tipe pengetahuan, ketrampilan dan sikap apa yang kurang dimiliki penyuluh lapangan?
6. Menurut opini Anda, akankah intervensi pelatihan berguna dalam situasi in? Tipe pelatihan yang seperti apa?
Persiapan untuk Berbagi
Persiapkan kertas singkap berikut untuk berbagi:
STUDI KASUS
Ketiga dimensi PKP yang terintegrasi
menunjukkan batasan dan kebutuhan
Tidak bisa dilatih-
kan
Tipe inter- vensi -
- - - - -
- - - - - -
Kebutuhan Pelatihan
P K S
Kelayakan intervensi
pelatihan ya/tidak Kenapa?