BAB 4 ANALISIS BREAK-EVEN DAN BIAYA VOLUME LABA
4.3 Apa dan Mengapa Penjualan Impas
Analisis titik impas, yang merupakan bagian dari analisis CVP, adalah proses menghitung penjualan yang diperlukan untuk menutupi biaya Anda sehingga tidak ada untung atau rugi. Titik impas yang dicapai dengan analisis tersebut penting untuk proses perencanaan laba.
Pengetahuan tersebut memungkinkan manajer untuk mempertahankan dan meningkatkan hasil operasi. Hal ini juga penting ketika memperkenalkan produk atau layanan baru, memodernisasi fasilitas, memulai bisnis baru, atau menilai kegiatan produksi dan administrasi.
Analisis titik impas juga dapat digunakan sebagai alat penyaringan, seperti upaya pertama untuk menentukan kelayakan ekonomi dari suatu proposal investasi. Juga, penetapan harga dapat dibantu dengan mengetahui titik impas untuk suatu produk. Situasi lain apa yang dapat Anda pikirkan di mana analisis titik impas berguna?
Asumsi analisis titik impas adalah sebagai berikut:
• Harga jual tetap.
• Hanya ada satu produk atau bauran penjualan yang konstan.
• Efisiensi manufaktur konstan.
• Persediaan tidak berubah secara signifikan dari periode ke periode.
• Biaya variabel per unit adalah konstan.
Pedoman untuk mencapai titik impas adalah:
• Kenaikan harga jual menurunkan penjualan impas.
• Kenaikan biaya variabel meningkatkan penjualan impas.
• Kenaikan biaya tetap meningkatkan penjualan impas.
Tujuan Anda tentu saja bukan hanya untuk mencapai titik impas, tetapi juga untuk mendapatkan keuntungan. Dalam memutuskan produk mana yang akan didorong, dilanjutkan, atau dihentikan, titik impas bukanlah satu-satunya faktor penting. Kondisi ekonomi, penawaran dan permintaan, dan dampak jangka panjang pada hubungan pelanggan juga harus dipertimbangkan. Anda dapat memperluas analisis impas untuk berkonsentrasi pada tujuan keuntungan yang diinginkan.
Penjualan impas dapat ditentukan dengan menggunakan pendekatan grafik dan persamaan. Menggunakan pendekatan grafik (lihat Gambar 4-1), pendapatan, biaya total, dan biaya tetap diplot pada sumbu vertikal dan volume diplot pada sumbu horizontal. Titik impas terjadi pada perpotongan antara garis pendapatan dan garis biaya total. Gambar 4-1 juga menggambarkan potensi keuntungan dari berbagai aktivitas. Ini menunjukkan bagaimana keuntungan meningkat dengan peningkatan volume.
Pendekatan persamaan menggunakan persamaan berikut:
S = VC + FC
dimana S = penjualan, VC = biaya variabel, dan FC = biaya tetap. Pendekatan ini memungkinkan Anda untuk memecahkan penjualan impas atau untuk hal-hal lain yang tidak diketahui juga.
Contohnya adalah harga jual.
Analisa Laporan Keuangan (Dr. Agus Wibowo)
Jika Anda menginginkan laba sebelum pajak yang diinginkan, selesaikan P dalam persamaan berikut:
S = VC + FC + P
Contoh 4-1. Sebuah produk memiliki biaya tetap Rp 4.050.000.000 dan biaya variabel 70% dari penjualan. Titik impas penjualan dapat dihitung sebagai berikut:
S = FC + VC
1 S = Rp 4.050.000.000 + .7S 0.3S = Rp 4.050.000.000 S = Rp 13.500.000.000
Jika harga jual per unit adalah Rp 1.500.000, unit impas adalah 9.000 (Rp 13.500.000.000/
Rp 1.500.000). Jika laba yang diinginkan adalah Rp 600.000.000, penjualan yang diperlukan untuk memperoleh laba tersebut (P) dapat dihitung sebagai berikut:
S = FC + VC + P
1S = Rp 4.050.000.000 + 0.7S + Rp 600.000.000 0.3S = Rp 4.650.000.000
S = 15.510.000
Gambar 4-1 Bagan Titik Impas
Contoh 4-2. Jika harga jual per unit adalah Rp 450.000, biaya variabel per unit adalah Rp 300.000, dan biaya tetap adalah Rp 6.000.000.000, unit titik impas (U) dapat dihitung sebagai berikut:
S = FC + VC
Rp 450.000U = Rp 6.000.000.000+ Rp 300.000U Rp 150.000U = Rp 6.000.000.000
U = Rp 600.000.000 Catatan:
Atau, titik impas dalam unit sama dengan biaya tetap dibagi dengan unit CM (harga jual - biaya variabel).
Karena itu,
Rp 6.000.000.000/( Rp 450.000 - Rp 300.000) = Rp 6.000.000.000/ Rp 150.000
= Rp 600.000.000 unit
Analisa Laporan Keuangan (Dr. Agus Wibowo)
Jumlah rupiah impas adalah:
40.000 unit x Rp 450.000 = Rp 18.000.000.000 Catatan:
Atau, titik impas dalam penjualan sama dengan biaya tetap dibagi dengan rasio margin kontribusi.
Rasio CM adalah Rp(Rp 450.000 - Rp 300.000)/ Rp 450.000 = Rp 150.000/ Rp 450.000 = 1/3
=33,33%
Jadi, Rp 6.000.000.000 /.3333 = Rp 18.000.000.000
Contoh 4-3. Anda menjual 800.000 unit barang. Biaya variabelnya adalah Rp 37.500 per unit.
Biaya tetap berjumlah Rp 11.250.000.000. Harga jual (SP) per unit harus Rp 51.600 untuk mencapai titik impas:
S = FC + VC
12.000.000.000SP = 11.250.000.000 + (Rp 37.500 x 12.000.000.000) 12.000.000.000SP = Rp 41.250.000.000
SP = Rp 51.600
Contoh 4-4. Asumsikan harga jual Anda adalah $40, volume penjualan Anda adalah 20.000 unit, biaya variabel Anda adalah Rp 600.000 per unit, biaya tetap Anda adalah Rp 1.800.000.000, laba setelah pajak Anda adalah Rp 900.000.000, dan tarif pajak Anda adalah 40%. Untuk menentukan berapa banyak yang Anda miliki untuk dibelanjakan untuk penelitian (R), pertimbangkan persamaan ini:
S = VC + FC + P + R
(Rp 600.000 x 20,000) = (Rp 225.000 x Rp 300.000.000) + Rp 1.800.000.000 + Rp 1.500.000.000* + R Rp 4.200.000.000 = R
Keuntungan setelah pajak: Rp 900.000.000 = 0,6 x Laba sebelum pajak Rp 900.000.000 = Keuntungan sebelum pajak
0.6
Rp 1.500.000.000 = Keuntungan sebelum pajak
Contoh 4-5. Asumsikan harga jual Anda adalah Rp 600.000, biaya variabel Anda adalah Rp 360.000, biaya tetap Anda adalah Rp 2.250.000.000, laba setelah pajak Anda adalah Rp 3.600.000.000, dan tarif pajak Anda adalah 40%. Untuk menentukan berapa banyak unit yang harus Anda jual untuk memperoleh laba setelah pajak, pertimbangkan persamaan berikut:
S = FC + VC + P
Rp 600.000U = Rp 2.250.000.000 + Rp 360.000 U + Rp 6.000.000.000*
Rp 240.000 U = Rp 8.250.000.000 U = Rp 6.000.000.000
Laba sebelum pajak x 0,6 = Keuntungan setelah pajak
Analisa Laporan Keuangan (Dr. Agus Wibowo)
Laba sebelum pajak x 0,6 = Rp 3.600.000.000
Keuntungan sebelum pajak = Rp 3.600.000.000 = Rp 6.000.000.000 0.6
Catatan: Sebagai alternatif, penjualan unit yang diperlukan untuk memperoleh laba yang diinginkan dapat dihitung dengan menggunakan rumus: (biaya tetap + laba yang diinginkan)/unit CM. Jadi (Rp 2.250.000.000 + Rp 6.000.000.000)/( Rp 600.000 - Rp 360.000) = Rp 8.250.000.000 /Rp 240.000 = Rp 515.625.000
Contoh 4-6. Asumsikan harga jual Anda adalah Rp 750.000 per unit, biaya variabel Anda adalah Rp 450.000 per unit, volume penjualan Anda adalah 60.000 unit, biaya tetap Anda adalah Rp 2.250.000.000 , dan tarif pajak Anda 30%. Untuk menentukan laba setelah pajak, gunakan persamaan berikut:
S = FC + VC + P
(Rp 750.000x 60, 000) = 150, 000 + (Rp 450.000 x Rp 900.000.000) + P 15.750.000.000 = P
Rp 15.750.000.000 x 0. 70 = Rp 11.025.000.000
Contoh 4-7. Anda sedang mempertimbangkan untuk membuat produk yang saat ini dibeli di luar seharga Rp 1.800 per unit. Biaya tetap adalah Rp 150.000.000, dan biaya variabel per unit adalah Rp 1.200. Gunakan persamaan berikut untuk menentukan jumlah unit yang harus Anda jual sehingga biaya tahunan mesin Anda sama dengan biaya pembelian luar.
Rp 1.800 U = Rp 150.000.000+ Rp 1.200U Rp 1.200U = Rp 150.000.000
U = 3.750.000.000