BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
C. Penyebab terjadinya konflik
Jadi berdasarakan hasil wawancara dari beberapa sumber informan atau responden maka dapat dikatakan bahwa adapun konflik yang terjadi pada komunitas nelayan di Kelurahan Mosso Kecamatan Sendana Kabupaten Majene yakni konflik antara para nelayan sawi dengan sawi lainnya serta konflik sistem bagi hasilpunggawa(bos)dansawi(anak buah).
banyaksementara datang juga mutabraki,jadi tambah bikin naik darah toh”.(wawancara 4 Juni 2016).
Penyebab konflik sosial komunitas nelayan diKelurahan Mosso Kecamatan Sendana Kabupaten Majene seperti konflik pada wilayah porappongan(wilayah perangkap ikan) tidak saja disebabkan karena aksi saling tabrak menabrak tetapi biasanya para pancingan dari mereka satu sama lain tersangkut dengan nelayan lainnya, seperti penuturan dari bapak Muhlis (48 tahun),sebagai berikut:
“ Karena kita mengikat diri pada rappong untuk memancing dengan pemancing lainnya ,saat kita lempar panccingan biasa sikoli- kolli(tersangkut) pas ditarek baru ditahu , kalau yang cepat naik emosinya marahmi karena maklum ini kan mau berebut hasil dari rappong.Yang banyak”(wawancara 21 Mei 2016).
Senada pernyataan tersebut diungkapkan oleh Pua’ Muslimin (60 tahun), mengatakan bahwa :
“Kalau melempar pancingan dekat-dekat dengan nelayan lainnya karena kita ini mendekatiki wilayah yang banyak terperangkap ikannya karena mau mendapatkan hasil banyak pula, jadi wajar kalau terjadi ketegangan- ketegangan.”(wawancara 2 Juni 2016).
Selain dari penyebab konflik rappong tentang tabrakan terbawa arus, dan alat pancing yang sama-sama tersangkut satu sama lain penyebab lainnyanya juga adalah nelayan yang melakukan penangkapan ikan dirappong yang dimana si pemancing tidak mengenal pemilik rappong sehingga jika bertemu di rappong nelayan yang merupakan dari anggota pemilik rappong biasa nelayan tersebut mengusirnya karena mengatakan bukan wilyahnya sehingga hal tersebutpun dibesar-besarkan yang akhirnya sering terjadi saling menyerang menunjukkan keberanian, seperti yang di uraikan oleh papa Nurdin (57 tahun) sebagai berikut:
“ Kalau melautka tidaak selamanya disana(dirappong) ketemu dengan para nelayan yang dikenal ada yang tidak dikenal ialah mereka nelayan orang jauh melakukan penangkapan ikan di rappong yang sama dengan saya padahal saya tahu persis bahwa orang itu tidak mengenal pemilik rappong,jadi otomatis pulang dari melaut itu hasilnya tidak akan nalapor.
Sehingga saya dan teman-teman yang lain sering mengancam bahkan kalau mereka atau nelayan lain tersebut menantang kami”(wawancara 1 Juni 2016).
Hal tersebut di pertegas pula oleh Bapak Sari (42 tahun) dengan penuturan sebagai berikut:
“ jika saya atau teman-teman lainnya bertemu nelayan yangmasekke-sekke (orang-orang berlaku curang) yang merupakan nelayan lain yang kami kenal bagaimana kelakauannya, saya dan teman-teman yang lain sering mengancam bahkan kalau mereka atau nelayan lain tersebut menantang kamai biasanya sama-sama menaikkan parang sebagai ancaman dan tanda keberanian.” (wawancara 2 Juni 2016).
Bahwa aturan- aturan dalam pengambilan hasil di rappong sangat diharapkan bagaimana aplikasinya karena dari pendapat-pendapat yang dijelaskan dari beberapa responden terutama dari pada sawi, sangat jelas bahwa pemicu terjadinya konflik dikarenakan kesalah pahaman dan adanya ketidak sadaran serta rasa penghormatan dan selain itu perlunya bendungan emosi saling menghargai antar sesama.
2. Sistem Bagi Hasil
Seperti yang telah dijelaskan bahwa adapaun dalam bagi hasil bahwa sistem bagi hasil yang diterapkan dalam komunitas nelayan yakni membagi setiap hasil yang didapatkan setiap selesai melakukan penangkapan ikan, dimana sistem bagi hasil yang dipergunakan yakni dimulai dari alat- alat seperti mesin, kapal / perahu, anak buah kapal dan bos atau sering disebut dengan punggawa lopi (bos
kapal) , masing-masing mendapatkan satu bagian dari tiap pembagian hasil, hal tersebut dimaksudkan untuk menjalankan prinsip dari sistem bagi hasil yang adil demi keuntungan bersama, namun hal tersebut tidak selalu sindah atau sesuai dengan ketatapan tersebut, sehingga memicu konflik dalam sistem bagi hasil.
Penyebab konflik yang terjadi pada sistem bagi hasil yakni konflik antara punggawa dan sawi terjadi karena perbedaan pendapat yang diakibatkan perbedaan pedapat bagi hasil dimana ketentuan yang telah ditentukan antara puggawa dan sawisebelum berangkat melakukan tangkap ikan yakni masing- masing satu bagian yang mana kemudian setelah penangkapan ikan dan pada saat pembagian hasil kesepakatan tersebut dirubah oleh punggawa dengan alasan tertentu, sehingga sawi merasa tidak dihargai karena punggawa telah mengingkari kesepekatan.
Seperti yang dikatakan oleh Bapak Rajab(45 tahun) salah seorang sawi, dengan penuturannya sebagai berikut:
” Biasa itu ketetapan pembagian seperti 1 (satu) bagian untuk sawi, 1 (satu) bagian untukpunggawa dan satu bagian untuk alat seperti mesin tapi pada saat di bagimi bagiannya satu ditarek menjadi dua itu kan tidak sejajar dengan ketetatapan” (wawancara 1 Juni 2016).
Hal tersebut juga dikatakan oleh Bapak Ilham (39 tahun), berikut adalah uraian dari penuturan bapak Ilham:
“ karena sudah dikatakan berangkatki ini masing-masing satu bagian, tapi pas dibagi mesin naminta punggawa dua bagian kan terlalu banyak diambil padahal setengah mati jaka juga bekerja, apalagi tidak akan rugiji itu punggawa kalau satu bagaian naambil karena sama semuami sepeti yang didipatkan dengan kami- kamisawi.”(wawancara 28 Mei 2016).
Selain penuturan dari bapak Ilham, dan bapak Rajab diatas pernyataan itu diperjelas juga oleh bapak Siraju (48 tahun) berikut uraian penuturannya:
“ itumi punggawa cepat sekali dia kaya karena banyak bagian nadapat kalau pembagian kalau sepertinya dia lihat banayak penghasilannya lagi ini, pasti itu mesinnya biar dua unit dia turunkan yang biasanya tetap dihitung satu bagaian kenapa tidak mau sekali kalau tidak ambil dua bagian juga itu untuk mesinnya.(wawancara 20 Mei 2016 ).
Sedangkan menurut bapak Sawwal (62 tahun) seorang punggawa yang lebih jauh menjelaskan adanya perubahan haluan dalam pembagian hasil dari selesainya menangkap ikan karena perubahan jumlah seperti mesin diturunkan tidak hanya satu unit saja tapi menurunkan dua samapi tiga unit sehingga pembagiannya ditambahkan pula sesuai jumlah mesin yang diturunkan.
Berikut uraian wawancara dari bapak Sawwal (62 tahun):
“ kalau masalah kesepakatan bagi hasil memang sebenarnya itu satu-satu bagian masing-masing, jadi kalau satu mesin satu punggawa dan sawi serta satu bagain kapal, kenapa bisa berubah karen mesin saya turunkan tidak hanya satu unit saja tetapi dua sampai tiga unit makanya kalau berubah kan wajar-wajar saja.”(wawancara 31 Mei 2016).
Hal tersebut juga diberlakukan oleh puaMarawis(52 Tahun) mengatakan bahwa:
“ ketentuan-ketentuan sebenanya tidak dirubah karena sesuaimi kesepakatan-kesepakatan, bahwa masing-masing satu bagaian jadi mesin kan tiga diturunkan gunanya agar bodi-bodi dapat berlari kencang sehingga mampu juga menghasilkan hasil banyak sangat membantu juga dalm proses melakukan penagkapan jadi wajarmi kalau harus juga sekianin bagiannya mesinku.i”(wawancara 20 Mei 2016).
Hal diatas juga diperjelas oleh pua’ Muslimin (60 tahun) terjadinya perubahan ketetapan atau ketentuan pembagian karena modalsebelum berangkat juga ditambah. Berikut uraian yang dituturkan bahwa
“ seperti sebelumnya mesin satu bagiannya kenapa saya minta lagi tambah bagian kerana saat melakukan penangkapan ikan saya turunkan satu unit mesin lagi maka otomatis itu bagian mesinku harus juga dikasi bagian”.(wawancara 2 Juni 2016).
Selain dari penyebab konflik sistem bagi hasil seperti diatas adapun yang termasuk konflik sistem bagi hasil, seperti adanya pemberian bonus yang tidak merata pada masing-masing sawi dari punggawanya, dalam sistem bagi hasil terkadang memberikan bonus kepada sawi tertentu yang menurut seorang punggawa dianggap lebih rajin, dan tekun dalam melaksanakan tugasnya sebagai seorang sawi sejak sebelum atau persiapan berangkat untuk melakukan penangkapan sampai selesai dan kembali kedaratan. Pemberian bonus tersebut dianggap sebagai pemberian penghargaan atau reward untuk memotifasi para sawi-sawi (anak buah kapal). Namun ternyata pemberian bonus tersebut menimbulkan rasa iri bagi sawi yang tidak mendapatkan walaupun terkadang pemberian bonus ada yang merahasiakannya dari sawi yang lain, hal tersebut sesuai pernyataan bapak Sawwal (62 tahun) salah seorang punggawa yang mengatakan bahwa:
“ adapun pemberian bonus kepada seorang sawi karena sawi tersebut sangat tekun dan rajin bekerja , yang mengerti akan tiap kondisi terjadi, artinya dia tahu langsung mengerjakan sesuatu yang memang benar-benar perlu dikerjakan”.(wawancara 31 Mei 2016).
Selain pernyataan dari bapak Sawwal (62 tahun) tersebut,salah seorang punggawa kapal juga mengakui terkadang memberikan bonus kepada sawinya yang dianggap rajin sehingga dapat memotifasinya untuk lebih rajin dan semangatlagi dalam bekerja, hal tersebut dipaparkan oleh Pua’ Marawis (52 tahun) yang mengatakan bahwa:
“ saya itu kalau kulihat sawiku rajin pada saat bagi hasilmi kukasi juga bonus-bonus sekedar pemebeli rokoknya.”(wawancara 20 Mei 2016).
Adanya pembagian hasil yang disertai dengan bonus-bonus yang dibagikan tidak semua pada kalangansawimemicu terjadinya konflik pada sistem bagi hasil kerana salah seorang sawi merasa pekerjaan yang dia lakukan sama sekali tidak dihargai, seperti penuturan dari bapak Sari (42 tahun), dengan penuturannya sebagi berikut:
“ punggawa memang biasa mmberikan bonus pada sawi tetapi tidak merata, jadi kalu seperti say tidaka dikasi bonus berarti naanggap enteng apa yang saya kerjakan, kalau begitu sekalian janganmi ada dikasi bonus apa tidak enak perasaanta”.(wawancara 2 Juni 2016).
Selain dari penyampaian yang disampaikan oleh beberapa orang responden yang tersebut diatas, adapula seorang punggawa nelayan yang telah senior yaitu Bapak Sirajuddin (66 Tahun) mengatakan bahwa :
“seringnya juga pertikaian yang terjadi karena punggawa menegur sawinya untuk tidak bermalas-malasan, amakany adalm pemberian bonus itu sekedar pembeli rokoknya saja tidak diberikan, sehingga dari sini pula timbul anggapan dari para sawi yang kurang untuk berpikir jernih bahwa pembagian hasilnya tidak merata.” (wawancara 21 Mei).
Dari berbagai penuturan yang disampaikan oleh beberapa responden diatas telah mengambarkan bahwa,ternyata adanya perselisihan atau pertentangan (konflik), dalam sistem bagi hasil disebabkan karena perbedaan pendapat antara nelayan seorang sawi dan punggawa, serta perlakuan punggawa yang sepertinya menggambarkan bagaimana selalu ingin memegang peranan yang sewenang- wenang akibat ketidakjelasan antara penyampaian mengenai tentang asumsi dalam membagi hasil seperti dalam penafsiran kalimat “ masing-masing mendapatkan satu bagian”.