BAB I. PENDAHULUAN
2.3. Peran Corporate Social Responsibility Untuk Pengembangan
Program Kemitraan adalah salah satu sebuah program yang dilahirkan di Perusahaan BUMN. Program kemitraan melalui Corporate Social Responsibility (CSR) dilakukan sebagai bentuk tanggung jawab yang diembankan kepada perusahaan oleh pemerintah. Dari program inilah perusahaan BUMN menunjukkan peranannya di tengah masyarakat.
Kemitraan usaha pada dasarnya mengacu pada pengertian hubungan kerjasama antar-pengusaha. Dalam perundang-undangan, kemitraan didefinisikan sebagai
“kerjasama antara Usaha Kecil dengan Usaha Menengah dan atau Usaha Besar dengan memperhatikan prinsip saling memerlukan, saling memperkuat, dan saling menguntungkan.” Dengan demikian, para pelaku bisnis berada dalam posisi yang setara, mitra sejajar – sekalipun secara ekonomis, mereka bekerja pada skala usaha yang berbeda. Pada dasarnya landasan hukum kemitraan di Indonesia telah dirumuskan dalam Undang-undang No. 9/1995 tentang Usaha Kecil dan Peraturan Pemerintah No.
44/1997, tentang kemitraan. Di samping itu terdapat beberapa kebijakan yang berpengaruh positif terhadap berlangsungnya pola kemitraan.
Secara konsepsional, sedikitnya ada enam manfaat yang dapat diperoleh dengan menerapkan pola kemitraan, yakni: (1) tercapainya produktivitas tinggi, (2) tercapainya efisiensi, (3) jaminan kualitas, kuantitas, dan kontinuitas, (4) penanganan risiko, (5) manfaat sosial, dan (6) ketahanan ekonomi. Di Indonesia telah diterapkan berbagai model kemitraan seperti yang dikembangkan oleh negara maju, terutama dalam sektor
industri dan jasa/perdagangan. Dalam perjanannya, terjadi penyesuaian untuk sektor pertanian, terutama dalam program kemitraan yakni program yang mengacu pada asas kepentingan dan kebutuhan bersama antara usaha kecil dengan perusahaan inti, serta melibatkan bank sebagai pemberi kredit, di mana terdapat keterkaitan yang “on-line”
antara usaha kecil dengan perusahaan inti dan saling menguntungkan.
Secara konseptual, pola kemitraan merupakan “koreksi” atas pola hubungan pengusaha inti dengan pengusaha kecil yang telah ada, yakni hubungan “anak-bapak angkat” – yang cenderung menempatkan hubungan keduanya dalam status quo, layaknya “bapak” dan “anak angkat”.
Hubungan semacam itu, misalnya, terjadi dalam pola “anak-bapak angkat”
dalam rangka pemanfaatan dana laba Badan Usaha Milik Negara (BUMN), yang diberlakukan sejak 1989 dan beberapa penyempurnaannya hingga 1994. Dalam konteks ini, istilah “mitra”terbatas untuk “mitra binaan” dan mengacu pada anak angkat, yakni para pengusaha kecil dan koperasi. Adapun “bapak angkat” adalah usaha besar, dalam hal ini BUMN. Sejak itulah berbagai BUMN (dan instansi terkait) melaksanakan pembinaan usaha kecil dan koperasi (dalam bentuk hibah ataupun kredit), tanpa memasalahkan apakah model kemitraan tersebut terkait langsung dengan bisnis masing- masing (on-line) atau tidak (offline). Bisa dimaklumi, karena tampaknya dasar dari kebijakan ini adalah kepedulian terhadap masyarakat di sekitar tempat usaha BUMN tersebut, terutama untuk menghindari kecemburuan sosial.
Unsur program kemitraan yang penting meliputi: (1) sosialisasi gagasan kepada pihak yang terkait, (2) jaminan pasar, (3) program pendampingan yang profesional dan
kontinu, (4) pembentukan kelompok usaha yang solid, (5) administrasi yang transparan, (6) pengaturan penggunaan dan penyaluran kredit yang baik, (7) pola pengembalian kredit disesuaikan dengan arus kas (cash flow) proyek, (8) penetapan bunga kredit yang berorientasi pasar, (9) adanya jaminan yang lengkap (jaminan pokok, jaminan tambahan, dan jaminan alternatif), (10) merintis simpan-pinjam dan mobilisasi tabungan, serta (11) pola kerjasama dituangkan dalam Nota Kesepakatan yang jelas, transparan, dan dalam bentuk tertulis. Dalam aspek perkreditan, dirumuskan: (a) pengajuan kredit, (b) penilaian proposal, (c) pencairan kredit, (d) cara penyaluran kredit, (e) jangka waktu kredit, (f) pengangsuran Kredit, dan (g) penjaminan kredit.
Untuk membentuk kemampuan mandiri yang berjangka panjang pada jasa pengembangan usaha yang berpartisipasi, ada beberapa kriteria pokok, yaitu: (a) Memiliki sumber dana independen/internal untuk menutup biaya operasi; (b) Memiliki misi atau kewajiban sosial yang jelas untuk mengembangkan UKM, atau memiliki kepentingan komersial dalam pengembangan UKM yang mempunyai on-line linkage dengannya; dan (c) Memiliki staf tetap dengan tingkat pendidikan atau pengalaman kerja yang cukup untuk menyerap-alih pengetahuan. Kriteria pokok ini akan menghasilkan kelompok sasaran jasa pengembangan usaha terpilih yang tidak memerlukan lagi pembinaan secara lengkap.
Model program kemitraan diharapkan dapat diperluas dengan cara pengenalannya terhadap Jasa Pengembangan Usaha (JPU), sehingga lembaga ini dapat menyiapkan program kemitraan untuk dipromosikan ke perbankan. Gagasan program kemitraan dapat berasal dari komponen program kemitraan itu sendiri, yakni: (a) Bank
yang mempunyai nasabah Usaha Besar yang terkait; (b) Usaha Besar yang mempunyai prospek kemitraan ke hilir maupun ke hulu usahanya; (c) Dinas/instansi maupun lembaga-lembaga terkait; serta (d) Koperasi dan atau kelompok Usaha Kecil.
Proses pengembangan program kemitraan cukup kompleks, karena bukan hanya menyangkut kelayakan bisnis (teknis, pemasaran, keuangan), tapi juga kemampuan rekayasa sosial (social engineering) atau pengembangan masyarakat (community development), sehingga proyek tidak terhambat karena dalam implementasinya tidak mendapat dukungan dari calon peserta proyek dan lingkungan di sekitarnya. Karena itu, memerlukan komitmen yang kuat dari para pelaku yang terlibat dalam kemitraan, termasuk pelibatan pihak perbankan secara dini. Sekalipun sangat kompleks, peranan jasa pengembangan usaha yang menonjol adalah pengorganisasian dan pengkoordinasian pihak yang mana untuk melaksanakan kegiatan apa, dengan batas- batas waktu yang tegas.
Jasa pengembangan usaha perlu mendapat pelatihan untuk memahami konsep program kemitraan secara menyeluruh, serta peranan yang harus dimainkannya dalam mempromosikan program kemitraan, termasuk memahami kondisi internal masing- masing pihak yang bermitra, yakni: Bank, Usaha Besar/Menengah, dan Usaha Kecil.
Untuk meningkatkan efektivitas pelatihan, maka produk pelatihan harus dikaitkan dengan kemungkinan mengimplementasikan program kemitraan pasca pelatihan oleh peserta. Karena itu, selain eligibilitas kelembagaannya, disyaratkan adanya prospek program kemitraan, yang mungkin saat itu sudah berada dalam pipeline lembaga mereka. Dengan demikian, pada akhir pelatihan mereka dapat menyiapkan suatu proyek
program kemitraan; yang dimungkinkan untuk langsung dipromosikan kepada perbankan. Sertifikasi peserta pelatihan diberikan secara berjenjang (pemeringkatan), yang dikaitkan dengan keberhasilannya mengimplementasi program kemitraan.
Seperti bisnis pada umumnya, dalam pola kemitraan pun pelaku bisnis haruslah memiliki dasar-dasar etika bisnis yang dipahami bersama, dan dianut sebagai titik-tolak dalam menjalankan kemitraan. Ada enam dasar etika bisnis; yaitu: (1) Karakter, integritas, dan kejujuran; (2) Kepercayaan; (3) Komunikasi yang terbuka; (4) Adil; (5) Keinginan pribadi dari pihak yang bermitra; dan (6) Keseimbangan antara insentif dan risiko.( John L. Mariotti, 1996).
Kalau diperhatikan, empat yang pertama dari keenam etika bisnis tersebut merupakan hubungan interaksi manusia; sedangkan dua lainnya merupakan perspektif bisnis.
Secara konsepsional, ada enam manfaat yang dapat diperoleh dengan menerapkan pola kemitraan, yakni:
1. Tercapainya produktivitas tinggi. Bagi usaha besar, peningkatan produktivitas dapat dilakukan dengan dua cara. Pertama, tingkat produksi (output) dicapai dengan mengurangi input. Kedua, peningkatan output dengan menggunakan sumberdaya yang tetap, baik jumlah maupun kualitasnya. Bagi UKM, misalnya petani individu, peningkatan produktivitas dapat dicapai secara simultan, yaitu dengan cara menambah input dalam jumlah tertentu (bibit unggul, obat-obatan, pupuk, dan lain-lain), sedangkan outputnya meningkat berkali lipat. Dalam bentuk kelompok UKM (misalnya kelompok tani), dapat meningkatkan produktivitasnya dengan cara mengurangi input, terutama
yang dimanfaatkan secara bersama, misalnya traktor, pemeliharaan irigasi, pembelian sarana produksi, penjualan produk, dan lain-lain.
2. Tercapainya efisiensi. Efisiensi dan produktivitas laiknya mata-uang dengan sisi yang berbeda, tetapi keduanya dapat ditingkatkan dengan meminimalkan penggunaan input. Beberapa literatur menyebutkan, bahwa efisiensi sudah dikaitkan dengan nilai (misalnya berbentuk rupiah), sedangkan produktivitas semata-mata bersifat fisik (misalnya: ton, meter). Dalam hal efisiensi, input tersebut dapat berbentuk waktu dan tenaga kerja. Dalam kemitraan, perusahaan dapat menghemat tenaga kerja internalnya, dan digantikan oleh UKM. Sebaliknya, bagi UKM, dapat menghemat waktu produksi melalui teknologi dan sarana produksi yang dimiliki perusahaan.
3. Jaminan kualitas, kuantitas dan kontinuitas. Produk akhir dari suatu kemitraan ditentukan oleh dapat-tidaknya diterima pasar, yang indikatornya adalah kesesuaian dengan kontinuitas, kuantitas, dan kualitas yang diinginkan oleh konsumen. Dalam era pasar bebas, standar kualitas sangat bervariasi tergantung sifat pasar masing-masing kawasan. Beberapa kawasan/organisasi menerapkan standar kualitas tidak hanya pada produknya, tapi juga proses produksinya. Pada kegiatan kemitraan di mana proses produksi tidak dikuasai oleh satu pihak, maka perlu ditetapkan suatu standar kualitas yang disepakati, sehingga dicapai jaminan mutu yang kontinu. Atau, karena tuntutan keterjaminan kualitas mulai dari hulu hingga hilir, maka satu-satunya alternatif adalah terjalinnya kemitraan industri hulu dengan industri hilir. Kualitas, kuantitas, dan kontinuitas sangat terkait dengan efisiensi dan produktivitas yang menentukan terjaminnya pasokan pasar, hingga menjamin keuntungan pihak yang bermitra. Karena
itu, perlu manajemen yang mantap, mulai perencanaan, pelaksanaan, hingga pemantauan dan evaluasinya.
4. Penanganan risiko sebagai konsekuensi logis dari kegiatan usaha. Dengan kemitraan, risiko usaha dapat ditanggulangi secara bersama (risk-sharing), secara proporsional. Bagi UKM, risk-sharing terlaksana apabila memperoleh mitra usaha yang betul-betul mampu menjamin penyerapan hasil produksi, sehingga risiko kerugian akibat kelebihan hasil dan penurunan harga dapat dihindarkan. Risiko yang ditanggung bersama ini mengandung makna lebih dalam, yaitu senasib-sepenanggungan. Eksistensi perusahaan yang bermitra menjadi besar, sehingga risiko usaha menjadi lebih ringan.
5. Manfaat sosial. Dengan kemitraan usaha, bukan hanya memberikan dampak positif dengan saling menguntungkan melainkan dapat memberikan dampak sosial (social benefit) yang cukup tinggi. Ini berarti negara terhindar dari kecemburuan sosial, yang dapat berkembang menjadi gejolak sosial akibat ketimpangan pendapatan yang terlalu mencolok. Demikian pula, kemitraan yang berlangsung dengan baik akan menciptakan persaudaraan antar-pelaku ekonomi yang berbeda status. Model “anak-bapak angkat”
untuk sebagian besar mengacu pada manfaat sosial semacam ini.
6. Ketahahan ekonomi nasional. Melalui peningkatan pendapatan yang diikuti tingkat kesejahteraan, sekaligus pemerataan yang lebih baik, maka akan mengurangi kesenjangan ekonomi antar-pelaku ekonomi yang terlibat dalam kemitraan, serta mampu meningkatkan ketahanan ekonomi secara nasional.
Sosialisasi gagasan program kemitraan secara transparan kepada semua pihak terkait, termasuk manfaat dan risiko yang mungkin terjadi sehubungan dengan
pelaksanaan program kemitraan. Bila program kemitraan menyangkut pihak yang lebih luas, maka perlu persiapan matang, bukan hanya dalam aspek teknis, tapi terutama aspek sosial, sehingga perlu rekayasa sosial (social engineering), pengembangan masyarakat (community development) untuk mendukung keberlangsungan dan kelancaran proyek di-kemudian-hari. Karena itu, perlu mempelajari karakteristik budaya dan sosial lingkungan proyek dan plasma yang akan mendapatkan pembiayaan. Adanya jaminan pasar dari perusahaan melalui jalur pemasaran yang mantap dan kontinu.
Semakin luas pasar untuk produk yang bersangkutan, semakin kuat proyek kemitraan yang dikembangkan. Karena itu, produk kemitraan mempunyai tingkat keunggulan yang relatif tinggi bilamana produk tersebut dapat dipasarkan secara luas di pasar-pasar lokal, nasional dan internasional (ekspor).
Adanya program pendampingan yang profesional dan konsisten dari perusahaan, yang mempunyai kemampuan memberikan bantuan teknis kepada usaha kecil. Bantuan teknis ini diberikan oleh perusahaan kepada usaha kecil melalui pelatihan mengenai proses produksi, penanganan hasil, aspek pemasaran, pengelolaan dana hasil penjualan, dan sebagainya.
Menurut Fluitman (ILO, 1989) ada perbedaan karakteristik yang mencolok antara pelatihan untuk usaha informal (usaha kecil) pelatihan formal umumnya (Levitsky, 1993). Perbedaan-perbedaan itu antara lain :
Tabel 2.1
Karakteristik Pelatihan Formal dan Informal
Ciri-ciri pelatihan formal Ciri-ciri pelatihan untuk usaha kecil Materi pelatihan terdefinisi secara khusus Materi pelatihan terdefinisi secara lebih
meluas Dilakukan untuk mendapatkan pekerjaan
atau pekerjaan yang lebih baik
Dilakukan untuk meningkatkan kemampuan usaha
Murid datang ke tempat latihan Pelatih datang ke muridnya Pelatihan dilakukan di kelas (di luar
pekerjaan)
Dilakukan di tempat kerja/usaha yang dilatih
Instruktur hanya melakukan supervisi Instruktur turut terlibat langsung Pelatihan dilakukan berdasarkan teori Dilakukan berdasarkan pengetahuan
praktis
Komunikasi terutama melalui tulisan Komunikasi terutama melalui visual/contoh
Pendekatan buku rujukan (textbook) Pendekatan paket pengetahuan
Sistematis dan baku Fleksibel
Waktu tetap dan relatif panjang Sesuai kemampuan dan prestasi serta umumnya dilakukan dalam waktu pendek
Ada kurikulum standar Disesuaikan dengan kemampuan dan masalah individual
Pelatihnya profesional Pelatih umumnya seorang praktisi Pelatih berasal dari luar lingkungan
peserta
Pelatih biasanya orang dari lingkungan yang sama atau mengenal lingkungan tersebut dengan baik
Pelatihan merupakan suatu upaya yang berdiri sendiri
Pelatihan merupakan bagian dari upaya bantuan usaha secara keseluruhan Biaya per orang tinggi tapi dirasakan
relatif murah bagi peserta
Biaya per orang rendah tapi dirasakan mahal bagi peserta
Fasilitas mencukupi Fasilitas sederhana
Hal yang tidak kalah pentingnya agar tujuan dari program kemitraan dapat berjalan dengan baik dan terarah, maka diperlukan metode yang sistematis seperti dibawah ini :
Tabel 2.2
Metode Sistematis Perencanaan Program Objektivitas Indikator
Pengukur
Makna Asumsi GOAL
Masalah yang meluas membantu memutuskan usaha apa yang akan dilakukan
Quantitative mengukur atau Qualitative mengatur hasil yang akan dicapai (goal)
Sumber dan Metoda hemat biaya untuk mengukur atau menilai indikator
(Goal to supergoal) Faktor eksternal diperlukan untuk mendukung sasaran hasil pada akhirnya PURPOSE/TUJUAN:
Dampak yang muncul baik untuk perubahan
Quantitative mengukur atau Qualitative
Sumber dan Metoda hemat biaya untuk
(Purpose to Goal) Kondisi-Kondisi eksternal yang
usaha yang dilakukan yang akan menjadi tujuan
menilai indikator tujuan proyek adalah berperan untuk mencapai hasil dari usaha OUTPUTS/KELUARA
N:
Hasil yang secara rinci diharapkan dapat dicapai untuk mencapai tujuan dari usaha
Quantitative mengukur atau Qualitative mengatur hasil yang akan dilakukan dalam produksi sebagai keluaran
Sumber dan Metoda hemat biaya untuk mengukur atau menilai indikator
(Outputs to purpose)
Faktor luar dari usaha yang dapat mengendalikan, hal ini dapat hadir, jika kemajuan dari outputs
merupakan tujuan dari keberhasilan usaha
ACTIVITIES/KEGIAT AN:
Hal-hal yang dilaksanakan dan menghasilkan keluaran (outputs)
INPUTS:
Ringkasan anggaran usaha
Laporan pengeluaran keuangan ketika dana disetujui
(Activity to output)
Faktor luar dari usaha yang dapat mengendalikan, hal ini dapat hadir, jika kemajuan dari aktivitas yang merupakan kemajuan bagian dari outputs
Keterangan : 1. Goal
Puncak permulaan dan menggunakan informasi dari sasaran yang perlu dicapai sebagai pertimbangan dari keseluruhan rancangan yang menjadi sasaran. Ketika rancangan akan dijalankan isu atau masalah apa sajakah yang dapat muncul ? Goal adalah kemungkinan yang akan tercapai diluar rancangan yang telah direncanakan.
Kemudian, hal-hal apa sajakah yang mendukung untuk mencapai sasaran terakhir ?
Goal merupakan suatu ringkasan yang akan dicapai, baik itu direncanakan maupun tidak direncanakan.
2. Tujuan
Yang dimaksud dengan tujuan adalah hal-hal apa saja yang kita gunakan untuk mencapai akhir suatu usaha itu agar berhasil.
3. Keluaran
Yang dimaksud dengan keluaran adalah hal apakah yang digunakan sebagai jalan keluar untuk mencapai tujuan dari usaha ?
4. Aktivitas
Daftar aktivitas yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan. Harus ada beberapa tindakan untuk mencapai masing-masing tujuan dari usaha. Tujuan yang sudah direncanakan harus segera ditindaklanjuti.
5. Pemasukan
Pemasukan dilakukan ketika diperlukan informasi tambahan. Untuk menyelesaikan apa saja yang menjadi bagian dari aktivitas maka diperlukan beberapa masukan. Mungkin ada beberapa masukan untuk masing-masing aktivitas dan akan memberikan jalan keluar kepada individu yang mempunyai usaha. Hal ini dapat menjadi ringkasan anggaran suatu usaha.
Berikut ini adalah berbagai model macam pendanaan kepada Usaha Kecil Menengah :
Tabel 2.3
Model Pendanaan Kepada Usaha Kecil Menengah
No Non Bank Model pendanaan Kepada UKM 1.
2.
3.
4.
Pemerintah
Pemerintah dan BUMN
Swasta Lain-lain
Freeder Point Dana Bergulir Model Pegadaian Model Kemitraan
- Kemitraan bunga rendah - Bantuan Peralatan - Bantuan manajemen - Bantuan pemasaran - Intiplasma
- Bapak - anak - Inkubator
Pinjaman tanpa anggunan Pinjaman dengan anggunan Model Tengkulak
Model Ijon
Sumber : Sadoko, Isono,dkk. 1995. Pengembangan Usaha Kecil; Pemihakan Setengah Hati.
Bandung : Yayasan Akatiga. Hal. 77
Adapun kelebihan dan kelemahan pada masing-masing model lebih menekankan pada prosedur dan anggunan. Untuk jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 2.4
Keunggulan dan Kelemahan Lembaga Keuangan Non-Bank Menurut UKM
Model Keunggulan Kelemahan
1. Feeder Point
2. Dana Bergulir
Tanpa anggunan Bunga ringan
Bunga ringan
Prosedur berbelit- belit Pinjaman kecil/minim Peminjam terbatas, mengantri dan waktu tunggu cukup lama
3. Kemitraan 4. Kemitraan bunga
rendah
5. Bantuan Peralatan 6. Bantuan
Pemasaran 7. Intiplasma
8. Bapak angkat 9. Inkubator
Pinjaman dapat besar Jangka waktu dapat disesuaikan
Bunga pinjaman terjangkau Bunga pinjaman terjangkau Bunga pinjaman terjangkau
Bunga pinjaman terjangkau Bunga pinjaman terjangkau
Prosedur berbeli-belit Waktu menunggu lama Mengantri/sulitmendapatkan Mengantri/sulit mendapatkan Mengantri/sulit mendapatkan
Mengantri/sulit mendapatkan Mengantri/sulit mendapatkan
Sumber : Pengembangan Usaha Kecil, Pemihakan Setengah Hati oleh Sadoko, Isono, dkk tahun 1995, Bandung : Penerbit Akatiga
Dari berbagai bentuk model Lembaga Keuangan Non-Bank (LKNB) yang ada ternyata model Freeder Point merupakan bentuk pendanaan yang diminati dan ditanggapi positif oleh UKM pelaku usaha. Selain itu, model penyaluran kredit lunak melalui koperasi seperti dalam bentuk dana bergulir sangat diminati namun jumlah penyaluran kepada UKM terbatas sehingga sulit diakses pelaku usaha yang jumlahnya sangat banyak. Model Freeder Point ini merupakan program pemberian pinjaman kredit lunak kepada pengusaha kecil (pengusaha industri kecil dan pedagang Kecil) yang dikembangkan Dinas Perindustrian Provinsi Jawa Timur dengan mengadopsi program Departemen Perindustrian. Program ini membantu pendanaan bagi pengadaan bahan baku dan modal kerja tanpa bunga dan anggunan. Walaupun terdapat program
pemerintah lainnya dalam bentuk kredit lunak seperti pola kemitraan namun dengan bunga 6% s/d 9% pertahun dan menggunakan anggunan. (www.smecda.com)
Dengan adanya berbagai pendanaan yang dilakukan oleh lembaga non-bank maka dapat terlihat di grafik perkembangan dari Januari hingga Desember 2008 yang menunjukkan peningkatan dalam usaha kecil masyarakat.
Grafik
Perkembangan Realisasi Penyaluran Kredit Usaha Rakyat (Januari-Desember 2008)
(Sumber : www.smecda.com)
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1. Jenis Penelitian
Adapun jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus (case study) karena mengacu pada objek studi yang diamati, situasinya dan perilakunya. Studi kasus digunakan untuk memperoleh pengamatan mendalam tentang mengapa dan bagaimana seorang individu atau suatu kelompok bertindak dengan suatu cara tertentu. Hal ini dikarenakan karena penelitian ini ingin melihat suatu permasalahan secara tajam.
Studi kasus adalah tipe pendekatan dalam penelitian yang penelaahannya terhadap suatu kasus dilakukan secara mendalam, mendetail dan komprehensif (Faisal, 1999:22). Seperti halnya strategi-strategi penelitian lain, studi kasus merupakan suatu cara penelitian terhadap masalah empiris dengan mengikuti rangkaian prosedur yang telah dispesifikasikan sebelumnya. Studi kasus sesuai digunakan bila perumusan masalah suatu penelitian menuntut “how” (bagaimana) atau “why” (mengapa).
Penelitian studi kasus dapat pula dibedakan atas eksplanatoris, eksploratif dan deskriptif (Yin, 2003:1). Dalam penelitian ini yang digunakan adalah tipe deskriptif.
Melalui pendekatan studi kasus, maka peneliti diharapkan akan mampu memberi jawaban atau menganalisis mengenai masalah yang akan diteliti. Hal ini dikarenakan peneliti ingin melihat dan mengetahui bagaimana implementasi CSR PT.Pertamina dan
program kemitraan dalam memberi dampak positif kepada pengusaha kecil menengah yang berada di daerah operasi PT. Pertamina secara mendalam dan komprehensif.
Selain itu, masalah yang akan diteliti adalah masalah empiris yang telah dispesifikasikan sebelumnya. Oleh karena itu peneliti akan berinteraksi langsung dengan para informan di lokasi penelitian guna memperoleh data serta informasi yang relevan terhadap permasalahan penelitian yang akan diteliti. Dan temuan-temuan di lapangan nantinya akan dituangkan secara deskriptif dalam laporan hasil penelitian.