BAB I. PENDAHULUAN
4.2. Peran CSR PT. Pertamina (Persero) dan Pengembangan
4.2.9 Peran Dalam Penataan Administrasi
Penataan administrasi adalah termasuk salah satu peranan dalam perkembangan suatu usaha. Hal ini dikarenakan penataan administrasi adalah tempat dimana usaha mengalami perkembangan. Dengan dimilikinya penataan administrasi yang diketahui semua pihak, maka tidak akan ada hambatan yang dialami oleh pengusaha kecil.
Setiap usaha proses penataan administrasi ini seringkali berbelit dan manfaatnya terbatas. Hal ini lebih nyata dirasakan oleh usaha berskala kecil, sementara dalam usaha
kecil sendiri juga terdapat perbedaan bobot kesulitan. Sektor industri kecil (manufaktur) lebih sulit menghindari proses penataan administrasi daripada sektor perdagangan.
Kendati demikian kedua sektor ini tidak dapat melepaskan diri dari politik penataan administrasi yang ada.
Pada sektor manufaktur industri kecil harus menanggung beban waktu dan biaya yang lebih besar daripada industri besar. Padahal manfaat yang dirasakan sebagai kompensasi dari ‘biaya’ yang telah dikeluarkan dalam proses penataan administrasi terbatas pada pemenuhan salah satu persyaratan untuk mendapatkan kredit bank.
Namun demikian, pemenuhan persyaratan itu tidak menjamin perolehan kredit bagi industri kecil karena ada syarat lain lagi yang justru sulit dan krusial untuk dipenuhi oleh usaha kecil. Pada sektor perdagangan, penataan administrasi memang bisa meningkatkan keamanan berusaha bagi usaha industri, namun bagi usaha perdagangan manfaat yang dirasakan pun sangat terbatas.
Usaha kecil dapat mengambil manfaat penataan administrasi jika prosedur disederhanakan, biaya murah serta aparat lebih bersifat melayani. Izin formal sebenarnya merupakan pengakuan pemerintah terhadap keberadaan usaha kecil.
Pengakuan ini sangat penting, utamanya bagi usaha kecil di perkotaan. Sifat informal usaha kecil di perkotaan sering dimanfaatkan oleh aparat untuk memungut retribusi tidak resmi.
Upaya penyederhanaan prosedur penataan administrasi serta pemungutan retribusi kota diharapkan sepadan dengan pelayanan terhadap usaha kecil. Kesepadanan
ini akan meningkatkan penerimaan daerah, karena pelayanan hanya akan diberikan sesuai dengan retribusi yang dibayar warga. Mekanisme itu juga mendorong efektivitas penggunaan dana sesuai dengan biaya yang dikeluarkan pihak penerima layanan. Dalam hal ini terdapat dua hal terdapat dua hal penting yang dapat dicatat, yakni (1) prinsip kesepadanan tidak perlu diterapkan secara kaku; (2) dalam konteks biaya perizinan dan pungutan lain, mekanisme pembiayaan silang masih mungkin dilakukan secara proporsional.
Izin usaha adalah salah satu manfaat positif yang diperoleh oleh para pelaku usaha kecil menengah. Dengan adanya keabsahan serta legalitas, maka usaha dapat berjalan lancar sebagaimana mestinya. Izin usaha mempermudah dalam memperoleh bantuan dari segi permodalan. Selain itu jenis usaha, khususnya barang-barang yang dihasilkan telah mendapat sertifikasi ataupun hak paten oleh pihak yang berwenang.
Dalam hal perizinan usaha, rata-rata para peminjam modal sudah memiliki izin usaha, hal ini seperti diungkapkan oleh informan berikut :
“…izin usaha sudah saya dapatkan dari dulu, mbak. Sejak usaha ini dibangun. Pengurusannya tidak sulit kok. Jadi bisa dikerjakan sendiri.
Tidak perlu bantuan. Biaya yang dikeluarkan hanya biaya administrasi saja…Jadi, Pertamina tidak membantu kalo mengenai izin usaha saya, karena saya sudah bisa ngurus sendiri…”(Sumber: Nyoman, data lapangan, 2008)
Hal yang tidak kalah pentingnya di dalam perkembangan suatu usaha adalah peningkatan keahlian yang dimiliki para pengusaha kecil. Peningkatan keahlian yang dimaksud dapat berupa keahlian dalam pembuatan barang maupun keahlian dalam pembuatan laporan keuangan serta administrasi usaha. Adanya peningkatan keahlian yang dimiliki para pengusaha kecil dan karyawannya adalah tidak terlepas dari
pembinaan-pembinaan yang dilakukan PT. Pertamina (Persero) terhadap mitra binaannya tersebut.
Dari hasil data lapangan, ditemukan beberapa poin peningkatan yang dirasakan oleh para informan yang merupakan bagian dari mitra binaan Pertamina. Dalam konteks penelitian ini parameter peningkatan yang diraih berdasarkan kurun waktu dua tahun.
Kurun waktu yang dijadikan patokan untuk mengukur bagaimana dampak positif yang dihasilkan dari keanggotaan informan sebagai mitra binaan Pertamina. Sebagai perbandingannya adalah bagaimana kondisi sebelum dan sesudah menjadi mitra binaan Pertamina.
BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan
Peran CSR PT. Pertamina (Persero) adalah tidak hanya sebagai pihak perusahaan yang melakukan pembiayaan atau permodalan terhadap usaha kecil menengah tetapi sebagai suatu pemberdayaan potensi guna menunjang peningkatan produktifitas dan kesejahteraan ekonomi. Wujud PT. Pertamina (Persero) melaksanakan CSR adalah melalui Program Kemitraan dan Bina Lingkungan.
Program Kemitraan terbentuk agar terjalin hubungan antara para pengusaha yang berada pada level kecil dan menengah yang dapat berdampak positif bagi eksistensi dunia usaha masyarakat yang memiliki ketidakstabilan. Peran yang dilakukan dalam program ini adalah adanya kemudahan memperoleh akses dalam hal pembiayaan atau permodalan, mengembangkan jaringan usaha dan meningkatkan produktifitas, memback-up segala kegiatan usaha dengan melakukan pelatihan dan pengembangan skill yang sangat penting bagi pengusaha.
Keunggulan dari CSR PT. Pertamina (Persero) dapat melakukan pinjaman dalam jumlah yang besar dan jangka waktu yang dapat disesuaikan dengan kemampuan pengusaha, prosedur atau proses peminjaman tidak berbelit-belit sehingga tidak memerlukan waktu yang lama Tetapi hal yang menjadi kendala dalam CSR PT.
Pertamina (Persero) adalah dalam memberikan bantuan baik itu dalam hal peralatan, manajemen, pemasaran membutuhkan waktu yang panjang karena harus bergantian
dengan para pengusaha kecil menengah lainnya yang lebih dahulu memanfaatkan CSR ini.
5.2 Saran
Adapun saran yang berkaitan dengan temuan penelitian ini adalah : Adapun saran yang berkaitan dengan temuan penelitian ini adalah :
1. Hendaknya program kegiatan corporate social responsibility yang ada tidak hanya untuk kepentingan citra perusahaan saja, tetapi lebih kepada kesadaran bahwa sesama umat manusia kita harus saling membantu. Dalam hal ini pengembangan usaha kecil masyarakat.
2. Dengan adanya program corporate social responsibility hal yang diharapkan adalah pembangunan negara yang terus berkembang pesat tidak hanya diharapkan dari kinerja pemerintah, tetapi juga kinerja dari perusahaan dan masyarakat sehingga semua pihak bisa berjalan seimbang berdasarkan fungsi pembagian kerja.
Pembentukan institusi swadaya dari bawah perlu diakui sebagai pelaksana berbagai fungsi, seperti perwakilaan, pertukaran informasi, pendidikan, pengawasan kualitas, serta arbitrase.
3. Kurangnya kemampuan kelembagaan seperti kemampuan merancang rencana kegiatan yang luwes, kemampuan manajemen dan administrasi secara profesional, kemampuan mengoperasionalkan dan mengimplementasikan tugas-tugas kelembagaan secara efektif dan meluas, serta kemampuan mempertahankan
kelanjutan pendanaan efisien dan mandiri. Dimana seharusnya dalam pengembangan usaha kecil keempat hal diatas tidak boleh diabaikan
4. Untuk memberikan kesempatan kepada masyarakat mengambil bagian dalam proses pembangunan diharapkan PT. Pertamina (Persero) melalui corporate social responsibillity dapat menghindari praktek nepotisme. Diperlukan suatu cara yang selektif dalam memilih UKM yang benar-benar kompeten dibidangnya agar program mitra binaan dapat berjalan dengan baik dan mencapai tujuan yang tepat sasaran.
5. Diharapkan tidak terlalu ikut campurnya pihak ketiga yang dianggap terlalu mengatur berbagai kegiatan, ketidakmampuan birokrasi melakukan koordinasi, atau menjalankan kebijakan bagi kepentingan elit secara konsisten.
6. Kurangnya konsistensi kebijakan berdasarkan perencanaan jangka panjang.
Inkonsistensi kebijakan melahirkan situasi yang memaksa banyak pengusaha berorientasi jangka pendek seperti deregulasi dan kebijakan uang ketat. Iklim kebijakan tidak berdampak bagi usaha kecil karena tingginya fleksibilitas usaha kecil, atau karena ruang gerak usaha yang terbatas. Ditambah lagi daya tahan permodalan yang minimum serta kepentingan dan hak hidup yang tidak diakui.
Maka hal yang harus dihilangkan adalah tindakan monopoli oleh industri besar.
DAFTAR PUSTAKA
Akroyd, D. (1995), 'The Logical Framework Approach and the post-evaluation of health sector projects by the, African Development Bank', Project Appraisal, 10 (4), Hal. 210-222.
Alexander. GJ and y Buchhloz, RA. 1997. 'Corporate social responsibility and stock market performance', Academy of Management Journal, 22, 501-515.
Allen Corporate Reputation Review: An International Journal. Henry Stewart Publications
Batten, Jonathan and Thomas A. Fetherston. 2003. Social Responsibility: Corporate Governance Issues. Diterbitkan oleh JAI.
Carrol, A.B. 1979. ”A three-dimensional conceptual model of corporate performance”, academy of management revies, 4 : 497-505
Ecosystems and Human Well-being Millennium Ecosystem Assessment Program. 2005.
Findings of the Condition and Trends Working Group of the Millenium Ecosystem Assessment"--V. Diterbitkan oleh Island Press.
Eeng Ahman dan Epi Indriani. Ekonomi dan Akuntansi: Membina Kompetensi Ekonomi. PT Grafindo Media Pratama
Elkington, J. 1997. Cannibals with Forks: The Triple Bottom Line of 21st Century Business, Capstone: Oxford.
Epstein, William M. 1997.Welfare in America: How Social Science Fails the Poor.
Univ of Wisconsin Press.
Faisal, Sanafsiah.1999. Format-format Penelitian Sosial, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Freeman, R.E. 1984. Strategic Management : A stakeholder approach, Pitman : Marshfield
Hermanson, Edwards and Maher. Accounting Principles. Diterbitkan oleh Freeload Press, Inc.
Ikatan Akuntan Indonesia Kompartemen Akuntan Manajemen. Rapat Anggota, Kompartemen Akuntan Manajemen, Ikatan Akuntan Indonesia, Kompartemen Akuntan Publik, Ikatan Akuntan Indonesia, Rapat Anggota. 2001. Peran
akuntan dalam mendorong terciptanya iklim bisnis yang ber-etika: prosiding.
Seminar Nasional Akuntan Indonesia dan Rapat Anggota IAI-KAP & IAI-KAM tahun 2001. Diterbitkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia.
Krick, Thomas, Maya Forstater, Philip Monaghan, Maria Sillapoa. 2005. From words to action “The stakeholder engagement”
Levitsky, J. 1993. Private Sector Organisations and Support for Small and Micro- enterprises in: A.H.J Helmsing and Th. Kolstee (eds.) Small Enterprises and Changing Policies. Structural adjustment, financial policies and assistance programmes in Afrika, hal 318-340, Exeter.
Mariotti, J. L., The Power of Partnerships, Blackwell Publisher, Massachussets, USA, 1996
Moleong, Lexy, 1993. Metode Penelitian Kualitatif, Bandung : Remaja Rosdakarya Muhaimin, Y. Bisnis dan Politik di Indonesia. Yogyakarta.
Muhandri, T. 2002. Kewirausahaan, Pengenalan Manajemen Usaha Kecil. Belum Diterbitkan
Nuryana, Mu’man, 2005. Corporate Social Responsibility dan Kontribusi Bagi Pembangunan Berkelanjutan, Bandung
Noor, Slamet B. 1985. Kamus Akuntansi. Penerbit Majalah Keuangan.
Pardede, F.R. 2000. Analisis Kebijakan Pengembangan Industri Kecil di Indonesia.
Tesis Magister Program Studi Teknik dan Manajemen Industri. Institut Teknologi Bandung.
Poloma, Margareth. 2004. Sosiologi Kontemporer. Jakarta: Rajawali Press.
Riahi-Belkaoui, Ahmed. 1999. Value added reporting and research : state of the art.
Diterbitkan oleh greenwood publishing group.
Ritzer, George. 2004. Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Prenada Media.
Rhonda F. 2006. Levine Social Class and Stratification: Classic Statements and Theoretical Debates Edition: 2, illustrated, revised. Diterbitkan oleh Rowman &
Littlefield.
Rudito, Bambang dan Famiola, Melia, 2007. Etika Bisnis dan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan, Yogyakarta : Rekayasa Sains
Sadoko, Isono,dkk. 1995. Pengembangan Usaha Kecil; Pemihakan Setengah Hati.
Bandung : Yayasan Akatiga
Saidi, Zaim dan Hamid Abidin, 2004. Menjadi Bangsa Pemurah : Wacana dan Praktek Kedermawanan Social di Indonesia, Jakarta : Piramedia
Schermerhorn, John R., 1993. Management for Productivity, New York : John Wiley &
Sons
Soekanto, Soerjono. 2002. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Suharto, Edi, 2006. Membangun Masyarakat Memberdayakan Rakyat: Kajian Strategis Pembangunan Kesejahteraan Sosial dan Pekerjaan Sosial (edisi ke-2), Bandung : Refika Aditama
Suharto, Edi, 2007. Pekerjaan Sosial di Dunia Industri : Memperkuat Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (Corporate Social Responsibility), Bandung : Refika Aditama.
Sunarto, Kamanto. 1999. Pengantar Sosiologi. Jakarta: Lembaga Penerbit FE UI.
Yin, Robert K (penerjemah M. Djauzi Mudjakir). 2003, Studi Kasus: Desain dan Metode. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Zeghal and M. Maingot. 1965. “The adjustments of corporate governance mechanisms in Canadian Banks following regulatory changes”, Corporate ownership &
Control journal, forthcoming. Dept. of Economics, Research School of Pacific Studies, Australian National University, Social Work in the Workplace: Practice and Principles
Jurnal
Bulletin of Indonesia Economic Studies, oleh Australian Natioonal University research school of pasific studies. Dept. Of Economics Australian National University, 1965, Vol.43
Haeruman, H. 2000. Peningkatan Daya Saing Industri Kecil untuk Mendukung Program PEL. Makalah Seminar Peningkatan Daya Saing, Graha Sucofindo. Jakarta.
Muhandri, T. 2002. Makalah Falsafah Sains ”Strategi Penciptaan Wirausaha (Pengusaha) Kecil Menengah Yang Tangguh”.Institut Pertanian Bogor