PRAKTIK PERADILAN PERDATA
A. Perihal Surat Gugatan (Contentiosa)
BAB III
pihak lainnya dan harus diperiksa menurut tata cara tertentu oleh pengadilan serta kemudian diambil putusan terhadap gugatan tersebut.
2. Syarat dan Isi Gugatan a. Syarat gugatan :
1) Gugatan dalam bentuk tertulis.
2) Diajukan oleh orang/pihak yang berkepentingan.
3) Diajukan ke pengadilan yang berwenang (kompetensi)
b. Isi Gugatan
1) Identitas para pihak Identitas para pihak 2) Posita / fundamentum petendi
3) Petitum
Ad.1). Identitas para pihak meliputi meliputi : menurut HIR minimal nama dan alamat atau lebih lengkapnya sesuai KTP adalah
a) Nama b) TTL/Umur c) Agama d) Pendidikan e) Pekerjaan f) Kebangsaan g) Alamat
Apabila menggunakan advokat sebagai penerima kuasa, maka disebutkan identitas Advokat penerima kuasa tersebut yang lengkap termasuk alamat prakteknya.
Contoh : identitas para pihak Penggugat dan Tergugat menggunakan Advkat sebagai penerima kuasa.
BASRI ONER Law Office
Advocates & Legal Consultant Jl. Sukaria No. 22 Makassar
Makassar, Januari 2023 Perihal : Gugatan
Kepada Yth :
Bapak Ketua Pengadilan Negeri Makassar Di
Makassar Dengan hormat,
Yang bertanda tangan dibawah ini :
BASRI ONER, S.H. advokat dari dari kantor BASRI ONER Law Office Advocates & Legal Consultant, beralamat Jl.
Sukaria No. 22 Makassar No. Hp. 081355233472, selanjutnya dipilih sebagai domisili hukum pemberi kuasa, berdasarkan surat kuasa khusus tanggal 3 Januari 2023 (terlampir), dalam hal ini bertindak untuk dan atas :
N a m a : EDDY LUKISTO
Tempat dan Tgl Lahir (umur) : Pontianak 11 November 1961
Agama : Kristen
Pekerjaan : Direktur Utama PT. JATI AGUNG ARSITAMA Jakarta
Kebangsaan : Indonesia
Alamat : Jln Dr. Sam Ratulangi No.
137 Lt. III Jakarta
Untuk selanjutnya disebut Penggugat.
Dengan ini ingin mengajukan gugatan harta bersama terhadap :
N a m a : JHONY LIMOWA LEWA Agama : Kristen
Pekerjaan : Swasta Kebangsaan : Indonesia
Alamat : Jalan Cendrawasih No. 168 E, Makassar Sulawesi - Selatan
Untuk selanjutnya disebut Tergugat.
Ad.2) Posita
Bagian ini menguraikan gugatan yang mencakup mengenai dasar dan alasan diajukannya gugatan.
Berisi uraian kejadian atau fakta-fakta yang menjadi dasar adanya sengketa yang terjadi dan hubungan hukum yang menjadi dasar gugatan. Posita gugatan dibuat dengan ringkas, jelas, dan terinci mengenai dalil-dalil yang berhubungan dengan perkara.
Antara posita satu dengan posita lainnya harus sinkron dan tidak boleh saling bertentangan.
Contoh Posita dalam perkara cerai
Adapun alasan atau dalil-dalil permohonan Pemohon Posita sebagai berikut :
1. Bahwa pada hari kamis tanggal 5 bulan mei tahun 2015 Pemohon dan Termohon telah melangsungkan pernikahan di Kelurahan Tompo Balang, Kecamatan Bontoala, Kota Makassar, sebagaimana termuat dalam Kutipan Akta Nikah Nomor : 223/17/V/2005 hari kamis tanggal 4 Mei 2015.
2. Bahwa Pemohon dan Termohon hidup rukun sebagaimana layaknya suami istri dengan baik, dan bertempat tinggal terakhir bersama di Jalan Veteran Utara No. 104, Kelurahan Gaddong, Kecamatan Bontoala,
Kota Makassar. dan dikaruniai keturunan 3 (tiga) orang anak, masing-masing bernama:
1. …….. bin/binti …….
2. …….. bin/binti …….
3. …… dst
3. Bahwa sejak tanggal 19 November 2020 sampai sekarang, antara Pemohon dan Termohon telah berpisah disebabkan Termohon pergi meninggalkan rumah (tempat kediaman bersama) tanpa alasan yang sah;
4. Bahwa selama berpisah 2 tahun 6 bulan, antara Pemohon dan Termohon tidak ada yang berusaha untuk kumpul kembali;
5. Bahwa dengan demikian permohonan Pemohon telah sesuai ketentuan Pasal 19 huruf (b) Peraturan Pemerintah No. 9 Tahun 1975 jo Pasal 116 huruf (b) INPRES Nomor 1 Tahun 1990 (Kompilasi Hukum Islam);
6. Bahwa berdasarkan hal-hal di atas, Pemohon merasa rumah tangga antara Pemohon dan Termohon tidak dapat dipertahankan lagi, dan berkesimpulan lebih baik bercerai dengan Termohon;
7. Bahwa untuk memenuhi ketentuan Pasal 84 ayat (1) Undang-undang No. 7 tahun 1989 yang diubah oleh Undang-undang No.3 tahun 2006 tentang Peradilan Agama serta SEMA No. 28/TUADA-AG/X/2002 tanggal 22 Oktober 2002 memerintahkan Panitera Pengadilan Agama Makassar untuk mengirimkan salinan putusan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap kepada kantor Urusan Agama Kecamatan Ujung Pandang Kota Makassar tempat perkawinan Pemohon dan Termohon untuk dicatat dalam register yang tersedia untuk itu;
8. Bahwa, terhadap biaya yang timbul akibat perkara ini agar dibebankan menurut peraturan perundang-
undangan;
Ad.3) Petitum
Petitum atau tuntutan berisi rincian apa saja yang diminta dan diharapkan penggugat untuk dinyatakan dalam putusan atau penetapan kepada para pihak terutama pihak tergugat dalam putusan perkara.
Tuntutan yang diminta untuk diputuskan harus berdasarkan posita yang diuraikan.
Tuntutan yang tidak berdasarkan posita sebelumnya mengakibatkan tuntutan tidak diterima (niet onvankelijke verklraard atau No).
Posita yang diuraikan ternyata tidak diajukan tuntutan maka gugatan akan menjadi sia-sia karena hakim tidak berwenang memutus apa yang tidak dituntut oleh para pihak yang berperkara yaitu melanggar asas ultra petita.
Untuk tuntutan asesoir (tambahan) berupa sita, Uit voorbaar bij vorraad, dwang soom dan lain sebaginya tetap mengacu pada posita. Tanpa ada posita tidak ada petitum.
Ada 2 jenis petitum :
1) Tuntutan pokok (primair) yaitu tuntutan utama yang diminta
Contoh : Menyatakan objek sengketa yang terletak di…….sah milik Penggugat
2) Tuntutan tambahan/pelengkap (subsidair) yaitu berupa tuntutan :
a. agar tergugat membayar ongkos perkara
b. agar putusan dinyatakan dapat dilaksanakan lebih dahulu (uit vierbaar bij vorraad)
c. agar tergugat dihukum membayar uang paksa (dwangsom)
d. ltuntutan akan nafkah bagi istri atau pembagian harta bersama dalam hal gugatan perceraian, dsb.
Contoh Petitum dalam perkara cerai
Berdasarkan alasan-alasan tersebut di atas, Pemohon mohon kepada Ketua Pengadilan Agama Makassar atau Majelis Hakim yang memeriksa perkara ini untuk menjatuhkan putusan yang amarnya sebagai berikut:
1. Mengabulkan permohonan Pemohon;
2. Memberi izin kepada Pemohon Rudi bin Hasan untuk menjatuhkan talak satu Raj’ie terhadap Termohon Irawati binti Zarimah di depan persidangan Pengadilan Agama Makassar;
3. Membebankan biaya perkara ini kepada Pemohon.
Atau
Apabila majelis hakim berpendapat lain mohon keputusan yang seadil-adilnya (et aquo et bono).
2. Penggabungan Gugatan atau Komulasi Gugatan, ada 2 : a. Kumulasi subjektif yaitu para pihak lebih dari satu
orang (Pasal 127 HIR/151 RBg). Penggugat atau beberapa penggugat melawan (menggugat) beberapa orang tergugat. Contoh Kumulasi subjektif : Kreditur A mengajukan gugatan terhadap beberapa orang debitur (B, C, D) yang berhuntang secara tanggung renteng (bersama). Atau beberapa penggugat menggugat seorang tergugat karena perbuatan melawan hukum (onrechtmatige daad). Syarat untuk kumulasi subjektif adalah bahwan tuntutan tersebut harus ada hubungan hukum yang erat satu tergugat dengan tergugat lainnya (koneksitas). Kalau tidak ada hubunganya harus digugat secara tersendiri.
b. Kumulasi objektif yaitu penggabungan beberapa tuntutan dalam perkara sekaligus (pengggabungan objek tuntutan). Contoh A menggugat B selain minta dibayar hutang yang belum dibayar juga menuntut
pengembalian barang yang tadinya telah dipinjam.
Penggabungan objektif tidak boleh dilakukan dalam hal : - Hakim tidak berwenang secara relatif untuk memeriksa
satu tuntutan yang diajukan secara bersama-sama dalam gugatan.
- Satu tuntutan tertentu diperlukan satu gugatan khusus sedangkan tuntutan lainnya diperiksa menurut acara biasa.
- Tuntutan tentang bezit tidak boleh diajukan bersama- sama dengan tuntutan tentang eigendom dalam satu gugatan.
Tujuan penggabungan gugatan :
1. Menghindari kemungkinan putusan yang berbeda atau berlawanan
2. Untuk kepentingan beracara yang bersifat sederhana, cepat dan biaya ringan.
4. Kompetensi / Wewenang mengadili
Kompentensi adalah kewenangan mengadili dari badan peradilan. Jika ingin menggugat seseorang, ke pengadilan mana gugatan tersebut diajukan.
Kompetensi ada 2 yaitu :
a. Kompetensi mutlak/absolut yaitu dilihat dari beban tugas masing-masing badan peradilan. Contoh Kompetensi absolut adalah kompetensi Pengadilan Negeri, Pengadilan Agama, Pengadilan Tata Usaha Negara, Pengadilan Militer, Pengadilan Niaga, Pengadilan Niaga.
b. Kompetensi relatif yaitu dari wilayah hukum masing- masing peradilan. Contoh kompetensi relatif Pengadilan Negeri Makassar, Pengadilan Negeri Maros, Pengadilan Negeri Sungguminasa, dan seterusnya.
• Menurut Pasal 118 HIR/142 RBg kompetensi relatif adalah pengadilan negeri di tempat tinggal tergugat (asas
Actor Sequitor Forum Rei),
Pasal 118 HIR/142 RBg mengatur juga pengecualiannya yaitu :
• Diajukan di tempat kediaman tergugat yang terakhir yang sebenarnya apabila tidak diketahui tempat tinggalnya.
• Apabila tergugat lebih dari satu orang diajukan di tempat tinggal salah satunya sesuai pilihan penggugat.
• Satu tergugat sebagai yang berhutang dan satu lagi penjamin diajukan di tempat tinggal yang berhutang, apabila tempat tinggal tergugat (berhutang) dan tempat turut tergugat (penjamin) berbeda maka diajukan dimana tempat tinggal tergugat.
• Jika tidak dikenal tempat tinggal dan kediaman tergugat diajukan kepada ketua pengadilan negeri di tempat tinggal penggugat atau salah seorang penggugat.
• Jika objeknya benda tetap diajukan di tempat benda tetap itu berada.
• Jika ditentukan dalam perjanjian (akta) ada tempat tinggal yang dipilih (domisili hukum) maka gugatan diajukan di tempat tinggal yang dipilih tersebut (pilihan domisili hukum), namun jika penggugat mau memilih berdasarkan tempat tinggal tergugat, maka gugatan juga dapat diajukan di tempat tinggal tergugat.
Pasal 133 HIR menyebutkan bahwa suatu gugatan tidak dengan sendirinya ditolak untuk diperiksa, meski diajukan ke Pengadilan yang di luar wilayah yurisdiksinya, sepanjang pihak Tergugat tidak mengajukan keberatan untuk diperiksa di luar kediamannya. Sehingga, aplikasi kewenangan relatif harus secara aktif dinyatakan oleh para pihak, karena apabila tidak ada eksepsi dari tergugat, maka hakim akan terus memeriksa permohonan tersebut dan mengabaikan adanya kewenangan relatif. Inilah yang
menjadi salah satu titik pembeda antara konsep kewenangan absolut dengan kewenangan relatif.