• Tidak ada hasil yang ditemukan

BASRI ONER Law Office

II. DAKWAAN DAN TUNTUTAN

2. Saksi FIRMAN MALIK

- Bahwa Saksi merupakan pimpinan proyek di kantor Yopi/pelapor, yakni CV. BERKAH MAULANA di Makassar.

- Bahwa Saksi mengetahui Terdakwa mengajukan kerjasasama proyek batu gajah pekerjaan pengendalian banjir sungai Palu dengan pembagian fee proyek 30 persen dan 70 persen, dan meminta suntikan modal sebesar Rp. 105.000.000; namun kenyataannya ketika Yopi/pelapor memasukan alat berat escavator, pihak PT. BUMI KARSA menolak alat berat itu, katanya tidak ada pekerjaan lanjutan proyek itu.

- Bahwa penyerahan uang sebesar Rp. 105.000.000, dilakukan pada tanggal 05 Agustus 2019.

Tanggapan Terdakwa:

- Bahwa Terdakwa tidak pernah mengajukan penawaran pekerjaan subkon pekerjaan pengendalian banjir sungai Palu pada PT. BUMI KARSA tahun 2019.

- Bahwa yang mengajukan penawaran pekerjaan subkon pengendalian banjir sungai Palu ke PT. BUMI KARSA, yaitu saksi FIRMAN MALIK sebagai Kuasa Direksi, PT. BARUGA JAYA MANDIRI milik Terdakwa.pada tahun 2019.

- Bahwa penawaran yang diajukan saksi FIRMAN MALIK, beberapa kali ditemani oleh Bapak Guntur teman dekat dengan Direksi PT. BUMI KARSA, Ir. Syarifuddin Barakati.

- Bahwa penawaran pekerjaan subkon yang diajukan oleh saksi FIRMAN MALIK untuk PT. BARUGA JAYA MANDIRI, sesungguhnya telah disetujui oleh Direktur PT. BUMI KARSA bapak Ir. H. Syarifuddin Barakati, seuai laporannya saksi FIRMAN MALIK ke Pak. Guntur di Jakarta.

- Bahwa ketika hendak dilakukannya penandatanganan subkon antara PT. BUMI KARSA dan PT. BARUGA JAYA MANDIRI, dari wawancara pihak PT. BUMI KARSA dengan saksi FIRMAN MALIK diketahui bahwa sesungguhnya penyedia dana (vendor) dari PT. BARUGA JAYA MANDIRI

adalah YOPI/Pelapor (anaknya mantan KAPOLDA Sulsel).

Atas informasi itu, Pihak PT. BUMI KARSA menyuruh mendatangkan YOPI/Pelapor, dan pada waktu YO- PI/Pelapor bertemu dengan pihak PT. BUMI KARSA, dimin- ta ia YOPI/Pelapor yang menandatangani kontrak, tetapi bukan lagi atas nama PT. BARUGA JAYA MANDIRI, tetapi memakai perusahaannya sendiri bernama CV. BERKAH MAULANA, dan sampai sekarang proyek tersebut masih dikerjakan oleh YOPI/Pelapor atas nama CV. BERKAH MAULANA.

- Bahwa uang Rp. 105.000.000; yang diterima Terdakwa dari YOPI/Pelapr pada tanggal 05 Agustus 2019, untuk pengu- rusan proyek subkon pengendalian banjir sungai Palu sebanyak pada PT BUMI KARSA, digunakan bersama, saksi FIRMAN MALIK dkk, selama pengurusan penawaran di PT.

BUKI KARSA, dengan memakai perusahaan PT. BARUGA JAYA MANDIRI, atas nama FIRMAN MALIK sebagai kuasa Direksi, dan didampingi oleh Pak Guntur, yang kenal baik dengan Direktur Utama PT. BUMI KARSA, Ir. Syarif Barakati, dengan rincian penggunaan sebagai berikut:

- Biaya BBM operasional FIRMAN MALIK; Rp. 3.000.000;

- Nota kontan FIRMAN MALIK; Rp. 500.000;

- Ransum FIRMAN MALIK Rp. 5.000.000;

- Kas Direksi FIRMAN MALIK; Rp. 4.000.000;

- FIRMAN MALIK buka rekening bank; Rp. 1.000.000;

- Sisa uang rumah/Direksi Rp. 3.000.000;

- Eppe Rp. 2.000.000;

- Tranfer ke keluarga Rp. 3.000.000;

- Menjamu tamu Rp. 5.000.000;

- Setor ke Pak Guntur di Jakarta untuk pengurusan penawaran subkon pada

PT. BIMI KARSA Rp.37.500.000;

- Bayar panjar batu pak Ilham sebagai

Leveransir Rp.15.000.000;

- FIRMAN MALIK ganti oli mobil

avanza + sewa mobil Billy Rp. 750.000;

- Uang THRPak Guntur sebagai

pengurus di PT. BUMI KARSA Rp. 2.000.000;

- Bayar pesuru Direksi, bernama Eko Rp. 1.500.000;

- FIRMAN MALIK (K3) Rp. 1.200.000;

- Bayar sewa mobil operasional pak

EBIET (Levaransir) Untuk dua bulan Rp. 13.000.000;

- Belanja pakaian lebaran bersama

FIRMAN M ALIK Di Mall Rp. 2.700.000;

- Pakai ongkos bersama pulang lebaran

Makassar-Palu Rp. 4.000.000;

Total Rp. 105.000.000;

(seratus lima juta rupiah) 3. Saksi A. ARSYAD alias ARSYAD

- Saksi kenal terdakwa karena pernah bekerja sama subkon dengan Terdakwa tahun 2018, tepatnya Desember 2018.

- Bahwa saksi tidak ada hubungan kerja dengan Terdakwa dalam bentuk subkon mapun kontrak kerja dengan Terdakwa.

- Bahwa selebihnya saksi tidak tau.

Mohon Perhatian Khusus:

- Bahwa Saksi YOPILEVI VOLIAN TENISIA Alias YO- PI/Pelapor selama pemeriksaan perkara ini, Jaksa Penuntut Umum tidak pernah menghadirkan di depan persidangan tanpa alasah hukum yang sah, oleh karena itu harapan Jaksa Penuntut umum untuk memperoleh kebenaran materiil dan kebenaran formil tidak terwujud.

Dengan tidak dihadirkannya pelapor/korban tanpa alasan yang sah menurut hukum sebagai pihak yang merasa diru- gikan oleh terdakwa, maka perkara perkara ini telah ke- hilangan legitimasi untuk menemukan kebenaran materiil sebagai syarat menjatuhkan pidana kepada terdakwa.

- Bahwa terdakwa tidak pernah menjanjikan pekerjaan kepada YOPI/Pelapor, yang benar adalah Terdakwa bekerjasa dengan YOPI/Pelapor, sebagai penyedia dana (vendor) untuk penawaran proyek subkon yang diajukan PT. BARUGA JAYA MANDIRI dengan kuasa Direksi Saksi FIRMAN MALIK, ke PT. BUMI KARSA, yang dituangkan dalam SURAT PERJANJIAN KERJASAMA Nomor:

05/VIII/SPK/Palu/ 2019, tanggal 5 Agustus 2019 (terlampir dalam pledoi ini), dengan kesepakatan pembagian keuntungan 25 persen dan 75 persen. Dengan demikian Hubungan antara Terdakwa dengan YOPI/Pelapor adalah murni hubungan perdata (bisnis), sehingga sangat keliru hubungan perdata yang berujung pada wanprestasi (ranah hukum perdata) ditarik keranah hukum pidana.

- Bahwa Kesepakatan Terdakwa dengan YOPI/Pelapr atas pembagian fee, dalam perjanjian dimaksud, adalah 25 persen dan 75 persen SURAT PERJANJIAN KERJASAMA Nomor : 05/VIII/SPK/Palu/2019, tanggal 5 Agustus 2019, bukan bukan 30 persen dan 70 perse seperti keterangan seragam para saksi.

B. Keterangan Terdakwa IV. Analisa Fakta

A. Tentang perjanjian Kerjasama Nomor : 05/VIII/SPK/Palu/2009.

Setelah diajukannya nota pembelaan ini, terungkap dalam persidangan bahwa hubungan hukum antara

Terdakwa dengan Yopi/Pelapor adalah hukum keperdataan di mana Perjanjian Kerjasama Nomor : 05/VIII/SPK/Palu/2009 antara Terdakwa denga Yopi/Pelapor dibuat atas dasar kesepakatan kedua belah pihak, yaitu Yopi/pelapor berinvestasi pada Terdakwa dalam pengajuan penawaran pekerjaan sebagai sub-Cont pada pekerjaan pengendalian banjir sungai Palu, Kota Palu Kabupaten Sigi Provinsi Sulawesi Tengah. Jika menelaah secara cermat Perjanjian Kerjasama Nomor : 05/VIII/SPK/Palu/2009 merupakan wujud dari sebuah perjanjian yang sah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- undangan pasal 1320 KHUPerdata tentang syarat sah perjanjian diperlukan empat syarat yaitu:

- Kesepakatan mereka yang mengikatkan dirinya;

- Kecakapan untuk membuat suatu perikatan;

- Suatu pokok persoalan tertentu;

- Suatu sebab yang tidak terlarang.

(analisa fakta-fakta) V. ANALISIS YURIDIS

Majelis Hakim Yang Mulia;

Rekan Jaksa Penuntut Umum yang terhormat;

Bahwa proses peradilan pidana adalah suatu proses persidangan yang sangat berbeda dengan proses persidangan lainnya, karena dalam suatu proses persidangan pidana haruslah dapat diukur seberapa jauh kesalahan (schuld) yang terdapat pada diri seorang terdakwa pada dugaan tindak pidana yang didakwakan tanpa ada sedikitpun keraguan pada Majelis Hakim pemeriksa suatu perkara tentang hal tersebut.

Untuk kemudian berdasarkan hal ini, dapat pula diukur dan

dimintakan seberapa besar pertanggungjawaban pidana yang bisa dilekatkan pada seorang terdakwa.

Hal ini pula yang disampaikan Curzon LB Curzon dalam bukunya “Criminal Law” (London; M & E Pitman Publishing;

1997) yang menjelaskan:

“Bahwa untuk dapat mempertanggung jawabkan seseorang dan karenanya mengena kan pidana terhadapnya, tidak boleh ada keraguan sedikitpun pada diri hakim tentang kesalahan terdakwa”

Hal serupa juga disampaikan oleh Prof. Moelijatno dalam bukunya “Asas-Asas Hukum Pidana” (Jakarta; Bina Aksara; 1987) yang menerangkan:

“Orang tidak mungkin mempertanggungjawabkan (dijatuhi pidana) kalau dia tidak melakukan perbuatan pidana”.

Perbuatan terdakwa yang dapat dipidana (strafbarehandeling) terletak pada wujud suatu perbuatan yang dirumuskan dalam ketentuan/pasal yang mengaturnya, bukan pada akibat dari perbuatannya sebagai bentuk dari delik materiil. Sebagai delik formiil, konsekuensi hukumnya adalah bahwa seorang penuntut umum wajib membuktikan unsur esensial dari “strafbarehandeling” atau perumusan ketentuan yang didakwakan tersebut, begitu pula pembuktian terhadap unsur yang merupakan “sarana” penggunaan dari strafbarehandeling tersebut. Berbicara pertanggung jawaban pidana, maka semuanya akan bergantung dengan adanya suatu tindak pidana (delik). Tindak pidana di sini, berarti menunjukkan adanya suatu perbuatan yang dilarang. Kata delik atau delictum memiliki arti sebagai perbuatan yang dapat dikenakan hukuman karena merupakan pelanggaran terhadap undang-undang, di mana dalam hal hukum pidana sendiri kita mengenal adanya dua jenis yaitu delik formil yang perumusannya menitikberatkan pada perbuatan yang dilarang dan diancam dengan pidana oleh undang-undang serta delik

materil yang perumusannya menitikberatkan pada akibat yang dilarang dan diancam dengan pidana oleh undang-undang.

Sementara itu Prof. Satochid Kartanegara sehubungan dengan pengertian delik ini sendiri menyebutkan, unsur delik terdiri atas unsur objektif dan unsur subjektif, unsur objektif adalah unsur yang terdapat di luar diri manusia, yaitu:

- Suatu tindakan;

- Suatu akibat, dan

- Keadaan (omstandigheid)

Kesemuanya itu dilarang dan diancam dengan hukuman oleh undang-undang. Sedangkan unsur subjektif adalah unsur-unsur dari perbuatan yang dapat berupa:

- Kemampuan yang dapat dipertanggungjawabkan (toerekenings vatbaarheid);

- Kesalahan (schuld).

Bahwa untuk melihat suatu tindak pidana (delik) tersebut tidaklah bisa berdiri sendiri karena maknanya baru akan muncul apabila ada suatu proses pertanggung jawaban pidana, artinya setiap orang yang melakukan suatu tindak pidana tidak dengan sendirinya harus dipidana atau dijatuhkan hukuman pada dirinya, karena agar dapat dijatuhi suatu pemidanaan atau hukuman terhadap diri seseorang maka pada diri orang tersebut harus ada unsur dapat dipertanggung jawabkan secara pidana yang dapat dimintakan ataupun dijatuhkan kepadanya sesuai dengan unsur-unsur perbuatan sebagaimana ditegaskan dalam suatu peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Bahwa rumusan delik dalam Pasal 378 Kitab Undang- Undang Hukum Pidana, pembuktiannya tidak hanya sekedar melihat pertanggung jawaban pidana berdasarkan “materiele feit”, tetapi tetap harus berpegang pada asas pertangung jawaban pidana yang berlaku secara universal (Geen Straf Zonder Schuld/tiada pidana tanpa kesalahan). Dalam hal ini,

apakah kesalahan tersebut berupa opzet (kesengajaan) maupun berupa culpa (kealaian) dengan mengaitkan adanya suatu prinsip “formeele wedderech telijkheid” dan adanya suatu alasan penghapusan pidana berdasarkan fungsi negative.

Bahwa Jaksa Penuntut Umum dalam uraian tuntutannya mengenai unsur “dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri secara melawan hukum” telah keliru dalam menerapkan unsur tersebut. Hubungan antara Terdakwa dengan Yopi/pelapor lahir berdasarkan perjanjian yang ditandatangani oleh kedua belah pihak (Perjanjian Kerjasama Nomor: 05/VIII/SPK/Palu/ 2019), dan berdasarkan kesepakatan. Menurut hemat saya, cara berlogika yang tepat adalah bahwa maksud dari kerja sama antara Terdakwa dan Yopi/pelapor adalah saling menguntungkan. Juga berdasarkan fakta persidangan, tidak ada satu pun saksi-saksi yang melihat, mendengar dan mengetahui secara langsung perbuatan yang diduga dilakukan oleh Terdakwa yang memenuhi unsur tersebut di atas.

Bahwa sebagaimana telah disebutkan di atas, hubungan hukum yang terjalin antara Terdakwa dengan Yopi/pelapor lahir berdasarkan kesepakatan yang dituangkan ke dalam Perjanjian Kerjasama Nomor: 05/VIII/SPK/Palu/2019, maka dari itu uraian unsur “dengan tipu muslihat ataupun rangkaian kebohongan, menggerakan orang lain untuk menyerahkan sesuatu kepadanya, atau supaya memberi hutang piutang”

dalam tuntutan rekan Jaksa Penuntut Umum adalah penerapan yang keliru dan seakan-akan memaksakan. Berdasarkan keterangan saksi-saksi dari YOPO/Pelapor, GILANG SUDRAJAT, dan saksi FIRMAN MANIK. Terdakwa memang mempunyai perusahaan yang bergerak di bidang konstuksi, namun karena nama Terdakwa tercatat di PT. NINDIA KARYA, yang juga pemegang kontak induk atas proyek pengendalian banjir sungai Palu, sehingga secara hukum tidak boleh merangkap,

maka perusahaan Terdakwa bernama PT. BARUGA JAYA MANDIRI, dan saksi FIRMAN MANIK sebagai kuasa Direksi.

Maka dari itu, jika memang alat berat eksavator yang dibawa YOPI/Pelapor di sekitar Lokasi proyek sebenarnya belum waktunya, karena belum ada kontrak antara PT. BUMI KARSA dan PT. BARUGA JAYA MANDIRI, dan saksi FIRMAN MANIK sebagai kuasa Direksi.

Majelis Hakim Yang Mulia;

Rekan Jaksa Penuntut Umum yan terhormat;

Serta hadirin sekalian;

Kita semua mungkin pernah mendengar dan membaca mengenai adanya Miscarriage of justice (kegagalan penegakkan keadilan) yang merupakan persoalan universal yang dihadapi oleh hampir seluruh Negara dalam penegakkan sistem peradilan pidananya. Menurut Clive Walker, terdapat empat hal penting yang terkandung dalam makna miscarriage of justice, yaitu:

a. Kegagalan penegakkan keadilan tidak hanya terbatas pada produk pengadilan atau dalam sistem hukum pidana, tetapi juga dapat terjadi di luar pengadilan, terbentuk dari kekuasaan penegak hukum yang bersifat memaksa (coercive power);

b. Kegagalan penegakkan keadilan dapat dilembagakan dalam hukum, misalnya dalam bentuk legalisasi biaya-biaya yang tidak resmi;

c. Kegagalan penegakkan keadilan harus pula mencakup kelemahan Negara ketika menjalankan tanggung jawabnya;

d. Kegagalan penegakkan keadilan harus ditegaskan pada hal- hal yang berkaitan dengan hak asasi manusia;

e. Istilah miscarriage of justice terus berkembang dan dipergunakan untuk menggambarkan bahwa dalam sistem hukum negara-negara di dunia terdapat kemungkinan terjadinya kesalahan dalam putusan pengadilan yang

menyebabkan seseorang harus menjalani hukuman atas kejahatan yang tidak dilakukannya.

Berdasarkan hal tersebut, dalam pemeriksaan perkara Terdakwa, patutlah kita semua, baik rekan Jaksa Penuntut Umum, Majelis Hakim Yang Mulia atau pun saya sendiri selaku Penasihat Hukum, harus berpegang teguh pada asas- asas yang terkandung dalam penegakkan keadilan serta harus menghindari tindakan-tindakan yang dapat merusak integritas sistem sebagai upaya menghindari miscarriage of justice pada perkara ini.

Dokumen terkait