BAB III KERANGKA KONSEP, HIPOTESIS, DAN VARIABEL PENELITIAN
B. Perilaku Perawatan Gigi Pada Anak Kelas V
saat mereka bermain dengan teman-temannya karena bau busuk yang keluar dari mulutnya (Willy, 2019).
Oleh sebab itu anak juga harus mengetahui penyebab dari munculnya berbagai tanda dan gejala penyakit pada rongga mulut akibat tidak menjaga kebersihan gigi dan mulut. Diantaranya yaitu kebiasaan makan-makanan yang terlalu manis yang menyebabkan bakteri di mulut menghasilkan lebih banyak asam yang dapat memicu kerusakan gigi, kurangnya mengonsumsi air mineral yang dapat menyebabkan produksi air liur di dalam mulut sedikit sehingga membuat gigi berlubang, tidak menyikat gigi sampai bersih yang dapat menyebabkan plak dan bakteri berkembangbiak di rongga gigi dan tidak memakai pasta gigi yang mengandung Fluoride. Fluoride merupakan mineral alami yang membantu mencegah gigi berlubang dan memperbaiki kerusakan gigi. (Unilever, 2021).
Pencegahan penyakit pada rongga mulut harus dilakukan sejak dini. Beberapa cara yang dapat dilakukan yaitu memelihara kebersihan gigi dan mulut dengan menggosok gigi secara rutin minimal 2 kali yaitu sesudah sarapan dan sebelum tidur malam, memperkuat gigi dengan menggunakan pasta gigi yang mengandung Fluoride dan menggunakan sikat gigi yang berbulu halus, menggosok gigi dan mulut dengan baik dan benar yaitu menyikat seluruh permukaan gigi selama kurang lebih 2 menit lalu berkumur dengan air yang bersih, mengurangi konsumsi makanan yang terlalu manis dan lengket, membiasakan konsumsi makanan yang berserat dan menyehatkan gigi seperti buah-buahan dan sayur-sayuran dan pemeriksaan secara rutin ke dokter gigi selama 6 bulan sekali. (Kemenkes, 2016).
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Na &
Adulhaq (2018) menunjukkan perilaku anak berusia 7-9 tahun di SD Islam Al Amal Jaticempaka sebanyak 53,2% dalam kategori baik. Hasil penelitian ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Silfia et al. (2019) yang menyatakan terdapat 67,8% anak SDN 36/IV Kota Jambi telah berperilaku dengan kriteria baik dalam perawatan gigi dan mulut. Perawatan gigi dan mulut sangat penting dilakukan agar anak terhindar dari penyakit gigi. Perawatan gigi merupakan usaha penjagaan untuk mencegah kerusakan gigi dan penyakit lainnya. Gigi yang sehat dilihat dari perilaku perawatan gigi dan mulut dari seseorang. Perawatan gigi yang dilakukan antara lain menyikat gigi, penggunaan fluoride, pemilihan makanan, dan pemeriksaan rutin ke dokter gigi.
Teori Skiner menyatakan perilaku dibedakan menjadi dua yaitu perilaku yang tidak tampak (cover behavior) dan perilaku yang tampak (over behavior).
Pengetahuan adalah salah satu perilaku yang tidak tampak. Menurut Ronger menyimpulkan bahwa individu mendapatkan perilaku baru melalui proses yang disadari oleh pengetahuan, kesadaran, dan sikap maka perilaku akan berlangsung lama, dan sebaliknya apabila perilaku baru diterima oleh individu dalam keaadaan tidak disadari oleh pengetahuan dan kesadaran maka tidak akan berlangsung lama. Menurut Bloom, status kesehatan gigi dan mulut individu atau masyarakat dipengaruhi oleh empat faktor utama yaitu keturunan, perilaku, pelayanan masyarakat, dan lingkungan (fisik maupun sosial budaya).
Dari faktor tersebut, perilaku memegang peran yang penting dalam mempengaruhi status kesehatan gigi dan mulut. Orang tua sangat dibutuhkan dalam membantu anak dengan memberikan edukasi, mengingatkan dan menyediakan fasilitas agar dapat meningkatkan perilaku untuk memelihara kesehatan gigi dan mulut dari anaknya (Silfia et al., 2019).
Bentuk perawatan gigi yang pertama adalah menyikat gigi dengan baik dan benar. Metode utama pencegahan berbagai penyakit mulut seperti karies, gingivitis, dan periodontitis adalah dengan menghilangkan plak dengan baik.
Cara pemeliharaan kebersihan rongga mulut dapat berupa menyikat gigi, menggunakan obat kumur dan dental floss. Seseorang penting untuk mengetahui teknik menyikat gigi yang benar agar dapat menjaga kebersihan mulut (Suhasini & Valiathan, 2020). Menyikat gigi adalah cara yang paling penting untuk membersihkan gigi dan menjaga kesehatan gingiva. Menyikat gigi sangat dipengaruhi oleh teknik dan waktu sikat gigi. (Gunjan et al., 2013).
Pada penelitian ini didapatkan murid telah mengetahui teknik menyikat gigi dan perawatan gigi yang baik dan benar. Meningkatnya rasa tanggung jawab terhadap tugas dan perilaku seorang anak akan lebih terlihat pada anak usia sekolah. Oleh karena itu anak lebih dapat diajarkan cara memelihara kesehatan gigi dan mulut secara lebih rinci disekolah dan dirumah, sehingga akan menimbulkan rasa tanggung jawab akan kebersihan dirinya sendiri. Pada penelitian yang dilakukan oleh Sari et al (2017), sebanyak 50% telah menyikat gigi secara mandiri tanpa diperintah oleh orang tua mereka. Peningkatan perilaku tersebut jika didasari dengan pengetahuan dan penerapan dalam bentuk sikap dan tindakan yang positif, perilaku tersebut dapat bertahan lama.
Setelah diberikan pengetahuan tentang cara menyikat gigi yang baik dan benar, seiring dengan berjalannya waktu responden yang masih diperintah untuk melakukan kegiatan menyikat gigi akan bisa melakukan kegiatan tersebut secara mandiri.
Berdasarkan hasil analisis, ditemukan pula masih banyaknya responden dengan tingkat perilaku cukup dan kurang. Hal ini dapat dilihat dari 10 pernyataan yang diajukan kepada responden terkait perilaku tentang perawatan gigi, dimana kesepuluh jawaban pada pernyataan tersebut terdapat persentase jawaban kadang dan tidak pernah (soal negatif) serta selalu dan sering (soal positif). Peneliti mengambil 5 jawaban dengan akumulasi persentase terbesar yang mewakilkan perilaku cukup dan kurang. Hasil kuesioner mengenai perilaku tentang perawatan gigi yang rendah didapatkan pada pernyataan sering mengkonsumsi makanan yang mengandung gula seperti coklat, permen, minuman bersoda, dan lain-lain (87,5%), menggosok gigi setelah makan
makanan manis (50%), tidak berbagi sikat gigi dengan orang lain (50%), menggosok gigi minimal selama 2 menit (30,2%), dan menggosok gigi dengan gerakan maju dan mundur secara lembut dengan gerakan pendek (19,8%).
Berdasarkan urutan pernyataan diatas, konsumsi makanan kariogenik atau makanan yang bersifat banyak mengandung karbohidrat, lengket dan mudah hancur di dalam mulut memiliki persentase terbesar. Gula yang berasal dari makanan nantinya akan diubah oleh bakteri dalam plak menjadi asam bersifat cukup kuat untuk merusak gigi. Plak memiliki konsistensi yang lunak sehingga cara mudah membersihkannya dengan menggosok gigi yang baik dan benar (Ramadhan et al., 2016). Menurut data Kemenkes RI (2013) kebiasaan menggosok gigi merupakan hal yang terpenting terutama berkaitan dengan, cara, frekuensi dan waktu menyikat gigi, namun data menunjukkan perilaku pemeliharaan diri masyarakat dalam kesehatan mulut masih sangat rendah, hal ini ditunjukkan oleh data bahwa 91,1% penduduk sudah menggosok gigi, namun hanya 7,3% yang berperilaku benar dalam menggosok gigi. Penelitian Talibo et al. (2016), menyatakan bahwa mengkonsumsi makanan kariogenik dengan frekuensi yang lebih sering akan meningkatkan kemungkinan terjadinya karies dibandingkan dengan mengkonsumsi dalan jumlah banyak tetapi dengan frekuensi yang lebih jarang.
Penanganan yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya karies adalah dengan peningkatan perilaku perawatan gigi yang baik dengan salah satu caranya adalah melakukan kebiasaan menggosok gigi dengan baik dan benar.
Kebiasaan merawat gigi yang baik yaitu dengan menggosok gigi minimal dua kali sehari pada waktu yang tepat dimulai pada pagi hari setelah sarapan dan malam hari sebelum tidur (Potter et al., 2021). Menyikat gigi sebelum sarapan akan mengurangi potensi erosi mekanis pada permukaan gigi yang telah demineralisasi, sedangkan menyikat gigi sebelum tidur untuk membersihkan plak karena ketika tidur aliran saliva akan berkurang sehingga efek buffer akan berkurang (Tarigan & Azizah, 2013).
C. Hubungan Tingkat Pengetahuan tentang Kesehatan Gigi dengan Perilaku