BAB II LANDASAN TEORI
B. PERNIKAHAN
1. Defenisi Pernikahan
Pernikahan merupakan gerbang pertama yang biasanya dilewati oleh periode dewasa muda untuk memulai kehidupan. Pernikahan di usia muda adalah pernikahan yang dilakukan oleh pasangan ataupun salah satu pasangannya masih dikategorikan remaja yang berusia kurang dari 19 tahun (WHO, 2006) atau pernikahan yang dilakukan sebelum usia 20 tahun (BKKBN, 2012). Menurut BKKBN (2012) Indonesia termasuk negara dengan persentase pernikahan usia muda yang tinggi di dunia (rangking 37). Beberapa alasan yang menyebabkan terjadinya pernikahan di usia muda adalah status sosial dan ekonomi yang rendah, tingkat pendidikan yang rendah, adanya budaya nikah muda, pernikahan yang dipaksa, dan seks bebas.
Menikah merupakan saat yang penting dalam siklus kehidupan manusia.Seperti halnya sebuah baju, pernikahan mempunyai tren mode yang terus berubah.Pada masa lalu kita mengenal kisah Siti Nurbaya
sebagai suatu penggambaran perjodohan di masa lalu sebagai sesuatu yang umum dilakukan. Sekarang mungkin kita akan mencibir jika ada orang tua yang menjodohkan anak‐anaknya karena sekarang tren telah berubah. Muda‐mudi jaman sekarang pada umumnya berpacaran sebelum memasuki jenjang pernikahan.
Ensiklopedia Indonesia (dalam Walgito 2017) memaparkan bahwa pernikahan adalah bersatunya dua orang sebagai suami istri. Menurut Khavari (2006) memaparkan perkawinan adalah sesuatu yang baik.
Sebagaimana hal-hal baik lainnya, perkawinan membutuhkan biaya.
Dalam hal ini pernikahan adalah bersatunya perempuan dan laki-laki dalam ikatan pernikahan yang bahagia.
Penjelasan lainnya oleh Latif (1996) memaparkan pernikahan adalah hubungan suci yang dimulai dengan aqad syar’i, dalam hal ini bukan saja terkandung kehalalan istimta’ yang diperkenankan syariat islam, tetapi juga mengandung hal-hal dan kewajiban-kewajiban yang harus dipatuhi mereka yang menikah. Selain itu, Ulfiah (2006) memaparkan pernikahan dalam pandangan Islam adalah salah satu syarat penyempurna keagamaan seseorang. Walaupun seseorang itu memiliki kesalehan keagamaan yang tinggi, namun jika belum menikah, maka orang tersebut baru menjalani separuh kewajiban agama.
Pernikahan dan agama karenanya identik dan saling melengkapi satu sama lainnya.
Undang-Undang perkawinan Nomor 1 Tahun 1974 pernikahan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga)
yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa (Walgito, 2017). Hal ini juga didukung oleh Hornby (dalam Walgito, 2017) memaparkan bahwa marriage: the union of two person as husband and wife, yang menjelaskan bahwa pernikahan adalah bersatunya dua orang sebagai suami dan istri yang bahagia. Selain itu, Kartono (2006) memaparkan pernikahan adalah suatu peristiwa dipertemukannya sepasang calon suami istri secara formal dihadapan kepala agama tertentu. Sehingga dapat diketahui, perkawinan merupakan suatu bentuk proklamasi yaitu secara resmi suami dan istri dinyatakan saling memiliki satu dengan yang lain, dan dua pribadi yang berlainan jenis dipatrikan untuk menjadi dwitunggal.
Dalam sebuah pernikahan, bahagia adalah dambaan bagi semua pasangan suami istri. Keinginan tersebut dapat terwujud jika disertakan dengan usaha sungguh-sungguh dari pasangan suami istri, dan apabila tidak terdapat upaya bersama maka kebahagiaan pernikahan akan mustahil dapat terwujud (Gotman, 1998). Pernikahan oleh Gotman (1998) meliputi pengetahuan yang dimiliki masing-masing pasangan, perasaan suka dan kagum yang terjaga, kedekatan, sikap terbuka terhadap pasangan, kemampuan memecakan masalah dan kemampuan menciptakan makna kebersamaan.
2. Usia Pernikahan
a. Pengertian Usia Pernikahan
Vaillant & Vaillant (1993) menjelaskan usia pernikahan adalah sebagai jumlah tahun sepasang suami istri yang telah menikah.
Menurut Igho, Grace &Ekojo (2015) usia pernikahan atau lamanya
pernikahan adalah waktu antara hari, bulan, dan tahun ketika pasangan menikah hingga pada saat sekarang ini. Durasi pernikahan sering diungkap dalam tahun.
Berdasarkan defenisi yang sudah dijelaskan diatas, dapat diketahui bahwa usia pernikahan digambarkan sebagai lamanya waktu antara hari, bulan dan tahun sepasang suami istri setelah menikah.
b. Faktor-Faktor Yang Memengaruhi Usia Pernikahan
Bastman (1995) memaparkan ada 7 (tujuh) faktor yang memengaruhi usia pernikahan pada pasangan suami istri yang berhasil mempertahankan perkawinan mereka secara baik dan bahagia dan menyatakan bahwa pernikahan mereka juga mengalami suka dan duka seperti pernikahan pada umumnya. Hanya saja dalam menjalani hidup pernikahan tersebut, mereka mengembangkan hal-hal seperti berikut ini:
1. Komitmen
kamus besar Indonesia (KBBI) online memaparkan komitmen adalah perjanjian (Keterikatan) untuk melakukan sesuatu kontrak, dimana niat dan tekad untuk mempertahankan rumah tangga mereka walaupun kuatnya masalah yang sedang dihadapi.
Sedangkan Setiono (2012) memaparkan bahwa komitmen adalah salah satu aspek keluarga yang kuat, komitmen tersebut mencakup kejujuran, kepercayaan, kebergantungan, kesetiaan, dan berbagi.
Komitmen yang kuat tidak hanya membuat orang untuk tetap bersama pasangannya, tetapi juga mendukung berbagai perilaku
pemeliharaan hubungan seperti kesediaan berkorban untuk kebaikan hubungan.
2. Harapan-harapan realistis
Pada awal pernikahan biasanya masing-masing pihak mengharapkan secara berlebihan mengenai tampilanya sikap dan tindakan yang ideal dari pasangannya. Namun kenyataannya, hal tersebut hampir tidak pernah terjadi, karena biasanya masing- masing pihak pada suatu saat akan menunjukkan beberapa sikap, tindakan, dan ucapan yang tidak disenangi atau tidak disetujui oleh pasangan. Pasangan-pasangan yang awet biasanya menerima kenyataan ini secara realistis yang disadari kesadaraan, kesediaan, dan pengalaman orang lain.
3. Keluwesan
Lestari (2012) memaparkan keluwesan adalah kesediaan suami dan istri untuk menyesuaikan diri dan meningkatkan toleransi terhadap perbedaan-perbedaan pada pasangan. Perbedaan- perbedaan tersebut yaitu dalam hal sikap, minat, sifat, kebiasaan- kebiasaan, serta pandangan masing-masing pasangan menggambarkan kemampuannya untuk berubah dan beradaptasi saat diperlukan. Hal tersebut berkaitan dengan tugas dan peran yang muncul dalam relasi suami-istri perlu adanya kejelasan dalam pembagian peran yang menjadi tanggung jawab suami dan menjadi tanggung jawab istri. Namun, pembagian peran tersebut sebaiknya tidak bersifat kaku dan dapat disesuaikan melalui kesepakatan yang
dibuat bersama berdasarkan situasi yang dihadapi oleh pasangan suami istri.
4. Komunikasi
Komunikasi merupakan kesediaan dan keberhasilan untuk memberi dan menerima pendapat, tanggapan, ungkapan, keinginan, saran, umpan balik dari satu pihak kepada pihak lain secara baik tanpa menyakitkan hati salah satu pihak. Lestari (2012) memaparkan bahwa komunkasi adalah aspek yang paling penting karena berkaitan dengan hampir semua aspek dalam hubungan pasangan. Ia menjelaskan bahwa hasil dari semua diskusi dan pengambilan keputusan dikeluarga yang mencakup keuangan, anak, karir, agama bahkan dalam setiap pengungkapan perasaan, hasrat, dan kebutuhan akan tergantung pada gaya, pola, dan ketrampilan komunikasi.
5. Menyisikan waktu untuk berduaan
Lestari (2012) memaparkan bahwa memanfaatkan waktu luang menjadi saran untuk melakukan aktivitas jeda (time out) dari rutinitas, baik rutinitas kerja maupun rutinitas pekerjaan rumah tangga. Runitas, terutama dengan tingkat stress yang tinggi, biasanya akan menimbulkan kejenuhan yang dapat menyebabkan berkembangnya emosi negatif. Pemanfaatan waktu luang ini berguna untuk memberikan energi dan semangat yang baru pada masing-masing pasangan.
6. Hubungan seks
Pada pasangan dengan pernikahan yang awet, ternyata hubungan seks tetap dilakukan dan dipertahankan.Dengan kesadaran masing-masing pasangan bahwa hal itu merupakan salah satu bentuk komunikasi dan kebersamaan yang paling intim dalam hubungan pernikahan. Hal tersebut yang akan membentuk komunikasi dalam pernikahan tetap positif.
7. Kemampuan untuk menghadapi berbagai kesulitan
Saat terjadi kesulitan dan masalah-masalah yang melanda rumah tangga, pasangan yang awet ini ternyata kompak menghadapinya. Mereka tetap saling berbagi duka dengan pasangannya. Menurut mereka, hal ini menyebabkan hubungan mereka semakin erat. Karena pada umumnya masing-masing pasangan memiliki kemampuan dan cara yang berbeda dalam menyikapi serta mengatasi kesulitan dalam keluarga mereka. Oleh karena itu, sikap yang kita lakukan sebaiknya tidak sekedar menghadapi kesulitan tetapi juga mengelola masalah-masalah tersebut dengan cara yang bijak dan cerdas agar tidak terulang lagi dikemudian hari.
3. Alasan Menikah
Alasan untuk melakukan pernikahan ada macam-macam Kartono(2006) menyatakan beberapa alasan orang menikah, yaitu:
a.
Distimulir oleh dorongan-dorongan romantikb.
Hasrat untuk mendapatkan kemewahan hidupc.
Ambisi besar untuk mencapai status sosial tinggid.
Keinginan untuk mendapatkan asuransi hidup dimasa tuae.
Keinginan untuk mendapatkan kepuasan seks dengan pasanganf.
Dorongan cinta terhadap anakg.
Keinginan untuk mengabadikan nama leluhurh.
Malu kalau sampai disebut gadis tuai.
Motif-motif tradisional, dan berbagai macam alasan lainnyaKartono (2006) memaparkan bahwa alasan-alasan diatas bisa dikatakan sebagai alasan kecil jika dibandingkan dengan alasan mendasar yaitu hasrat berdampingan hidup bahagia dengan pribadi yang dicintainya.Dengan menikah orang mengharapkan bisa mendapatkan pengalaman hidup bersama-sama dengan seseorang yang secara khusus menjadi miliknya untuk mendapatkan pengakuan social dan jaminan hidup sepanjang hayat. Dalam masyarakat modern yang materialistis pada zaman sekarang, motif-motif ekonomis memiliki peran dalam menentukan proses pernikahan. Pernikahan sering diekonomisasikan atau dikomersialkan, dijadikan suatu usaha yang secara ekonomis menguntungkan.
Pernikahan bisa menunjukan kehidupan yang intim pada suami- istri mengenai kehidupan dengan seseorang yang paling dicintai, dan didukung oleh pengakuan sosial serta sanksi-sanksi tertentu oleh masyarakat. Selanjutnya dengan menikah seseorang tidak hanya akan mendapatkan pengakuan sosial serta status sosial, akan tetapi juga jaminan keamanan material dan sosial. Dan yang paling mutlak diperlukan ialah: jaminan cinta kasih dari pribadi yang dicintai. Inilah yang menjadi alat pengkokoh perkawinan.Selain itu, orang menikah
juga bisa didorong oleh (1) sayang anak dan (2) naluri ingin melanggengkan generasi manusia sepanjang jaman (Kartono, 2006).
4. Tujuan Pernikahan
Pernikahan memiliki tujuan dan maksud-maksud tertentu. Jika dilaksanakan dengan penuh hati-hati, akan dapat menyelesaikan banyak masalah kehidupan yang cinta, kasih sayang dan keikhlasan.
Adapun tujuan-tujuan pernikahan yang terpenting sebagaimana dikemukakan Ali Qami (dalam Ulfiah 2016) sebagai berikut.
a. Memperoleh ketenangan
Tujuan pernikahan adalah memperoleh ketenangan jiwa, fisik, pikiran dan akhlak.Dalam kehidupan bersama, hendaklah suami-istri selalu berusaha meneguhkan keadaan tersebut, Sehingga memungkinkan keduanya tumbuh sempurna.
b. Saling mengisi
Pernikahan memberikan pengaruh yang sangat besar dan penting terhadap perilaku seseorang. Sejak itu, dimulailah fase kematangan dan kesempurnaan yang mampu menutupi ketidakharmonisan dalam beraktivitas dan bergaul didalam masing-masing pihak berusaha merelakan, meluruskan, dan menasehati satu sama lain. Sempurnalah hidup dalam rumah tangga kita, jika bisa melengkapi satu sama lainnya.
c. Memelihara agama
Pernikahan tidak hanya menyelamatkan seseorang dari lembah dosa. Bahkan lebih dari itu, memungkinkan dirinya
menghadap dan beribadah kepada Tuhan, sehingga menjadikan jiwanya tentram.
d. Kelangsungan keturunan
Tuhan telah menumbuhkan keinginan dalam diri seseorang untuk melanjutkan keturunan.Namun, ada kalanya manusia tidak mau direpotkan dengan anak.Oleh karena itu, dimensi spiritual dari pernikahan hendaknya dijadikan pegangan hidup agar rumah tangga dapat dibangun kejalan kesempurnaan.
5. Prinsip-Prinsip Pernikahan
Menurut Gottman (dalam Santrock, 2012) Berikut ini adalah prinsip-prinsip pernikahan, yaitu:
a. Membuat peta cinta
Dalam pernikahan yang baik, pasangan bersedia saling berbagi perasaannya satu sama lain. Mereka mengunakan peta cinta ini untuk mengekspresikan tidak hanya pemahamannya terhadap satu sama lain. Namun kasih sayang dan kekaguman mereka juga dibutuhkan dalam sebuah pernikahan.
b. Memelihara kasih sayang dan kekaguman
Dalam pernikahan yang berhasil, pasangan akan saling memberikan pujian. Lebih dari 90 persen, jika pasangan membuat sejarah pernikahan yang positif, maka pernikahan mereka juga cenderung memilki masa depan yang positif. Dan pernikahan dari masing-masing pasangan tetap awet dan selalu tercipta keharmonisan dari masing-masing pasangan suami istri.
c. Mengarahkan diri pada pasangan, bukan berpaling darinya Dalam pernikahan yang baik, pasangan mahir untuk mengarahkan diri satu sama lain secara teratur. Mereka melihat satu sama lain sebagai teman. Dalam persahabatan ini tidak berarti tidak terjadi perdebatan, namun perdebatan itu tidak sampai mendominasi relasi yang ada. Dalam pernikahan yang baik ini, pasangan saling menghormati satu sama lain dan menghargai sudut pandangan satu sama lain meskipun terjadi perbedaan pendapat hubungan pernikahan.
d. Membiarkan pasangan memengaruhi anda
Dalam pernikahan yang buruk, sering kali individu tidak bersedia membagikan kekuasaannya pada pasangannya.
Kesediaan untuk berbagi kekuasaan dan menghormati pandangan yang lain merupakan prasyarat untuk mencapai kompromi. Hal tersebut yang dibutuhkan dalam hubungan pernikahan.
e. Memecahkan konflik-konflik yang dapat dipecahkan
Ada dua tipe masalah yang terjadi dalam pernikahan: (1) masalah yang terus-menerus ada, dan (2) masalah yang dapat dipecahkan. Masalah yang terus menerus-menerus terjadi mencakup perbedaan pandangan tentang apakah ingin memiliki anak-anak atau tidak serta seberapa sering melakukan hubungan seks. Masalah yang dapat dipecahkan mencakup tidak saling membantu mengurangi stress seharian serta tidak
berbicara dengan hangat. Para terapis pernikahan telah menemukan bahwa pasangan sering kali tidak harus memacahkan masalah-masalah tersebut agar pernikahan mereka dapat terus berlangsung.
6. Pernikahan Dalam Tinjauan Teori Perkembangan
Vaillant (dalam Dariyo, 2004) mendeskripsikan tugas perkembangan pada masa dewasa awal salah satunya yaitu membentuk keluarga dengan pernikahan. Pada tahapan dewasa awal, merupakan masa dimana individu mulai mengkristalkan hubungan yang akrab dengan orang lain yang telah dibina sebelumnya baik itu persahabatan maupun rekan kerja. Mendukung hal itu, Papalia, Olds &
Feldman (dalam Dariyo, 2004) mengatakan bahwa terdapat tiga tipe dasar hubungan yang akrab, salah satunya adalah hubungan romantik atau pernikahan.
Berdasarkan teori perkembangan Hurlock (1980) dijelaskan bahwa pasangan yang hendak melaksanakan pernikahan pada umumnya tergolong dalam masa dewasa awal (18-40 tahun).Pada tahap perkembangan ini, individu lazimnya mulai bekerja, memilih pasangan, membina keluarga, mengasuh anak, dan mengelola rumah tangga.
Selain itu, teori perkembangan Papalia, Old & Feldman (2011) mengatakan bahwa pernikahan adalah sesuatu yang universal dan memenuhi kebutuhan dasar ekonomis, emosional, seksual, sosial, dan pengasuhan anak. Namun, terkadang pasangan suami istri juga memandang pernikahan mereka dengan sudut pandang yang berbeda- beda.
Pasangan yang menikah lebih sering melakukan hubungan seks dibandingkan dengan pasangan yang tidak hidup bersama (Santrock, 2012).Dalam hal ini, seks bebas lebih lazim dilakukan oleh individu yang beranjak dewasa dibandingkan dengan orang dewasa muda. Survei menunjukkan bahwa lebih dari 60% individu yang berada pada awal masa dewasa dengan rentang usia 18 tahun keatas, pernah melakukan hubungan seks. Oleh karena itu, masa beranjak dewasa awal adalah waktu dimana kebanyakan individu aktif secara seksual.Akan tetapi, orang dewasa kebanyakan melakukan aktivitas seksual dengan pasangannya dalam ikatan pernikahan (Santrock, 2012).
Pasangan yang menikahan adalah pasangan yang memiliki ketertarikan antara satu dengan yang lain. Jika ketertarikan mengawali suatu hubungan, maka akan timbul kemungkinan untuk memperdalam hubungan tersebut yaitu dengan beranjak ke tahap pernikahan.
ketertarikan adalah awal dari munculnya perasaan cinta kepada orang lain (Santrock, 2012). Cinta melibatkan wilayah perilaku manusia yang luas dan kompleks, menjangkau berbagai relasi yang mencakup persahabatan, cinta romantik, cinta efektif dan juga cinta yang sempurna.Diantara tipe tipe cinta tersebut hal yang paling penting adalah keintiman (Santrock, 2012).
Perkembangan dimasa dewasa awal sering kali melibatkan upaya untuk menyeimbangkan keintiman dan komitmen, karena pada masa tersebut individu berada pada upaya mengembangkan relasi yang intim dengan individu lain, yang biasa disebut dengan cinta bergairah atau cinta romantis. Cinta romantis memiliki komponen seksualitas dan
gairah yang kuat.Cinta yang romantis juga mengandung berbagai emosi yang saling bercampur seperti ketakutan, kemarahan, hasrat seksual, kegembiraan, dan cemburu (Regan dalam Santrock, 2012).
Terdapat tipe cinta yang lainya, yaitu cinta afektif.Tipe cinta ini memiliki sifat lebih dari sekedar gairah.Cinta afektif lebih dikenal dengan cinta karena kedekatan. Percintaan lebih banyak bernuansa romantik, bila cinta lebih matang maka perasaan cinta akan lebih afektif. Selain cinta romantis (bergairah) dan cinta afektif (kedekatan) terdapat tipe cinta yang sempurna.Tipe cinta yang sempurna mengandung unsur gairah, keintiman dan komitmen yang kuat. Pasangan yang menikah tergolong dalam tipe cinta yang sempurna.Karena memiliki daya tarik seksual terhadap pasangan, emosional yang mengandung kehangatan dan kedekatan terhadap pasangan serta memiliki komitmen untuk dapat mempertahankan hubungan meskipun hubungan itu memiliki masalah (Santrock, 2012).
Secara keseluruhan, pasangan yang menikah lebih banyak memiliki kesamaan dibandingkan dengan ketidaksamaan. Kesamaan- kesamaan tersebut meliputi sikap yang sama, nilai yang dianut, gaya hidup dan daya tarik fisik. Oleh karena itu, pasangan yang menikah merupakan orang yang saling memberikan cinta antara satu dan yang lainnya, seperti keromantisan maupun komitmen antar pasangan.
7. Perbedaan tingkat kepercayaan pasangan menikah yang menjalin hubungan jarak jauh berdasarkan jenis kelamin
Dalam penelitian ini, peneliti ingin melihat tingkat kepercayaan pasangan menikah yang menjalin hubungan jarak jauh. Menurut Undang-
Undang perkawinan Nomor 1 Tahun 1974 pernikahan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa (Walgito 2017). Selain itu juga Kartono (2006) memaparkan bahwa pernikahan adalah suatu peristiwa dipertemukannya sepasang calon suami istri secara formal dihadapan kepala agama tertentu, para saksi dan hadirin yang kemudian disahkan secara resmi sebagai suami dan istri dengan upacara tertentu.
Di balik itu kepercayaan merupakan salah satu tongkat yang dapat membantu pasangan dalam menjalin hubungan mereka. Seperti yang di kemukakan oleh (faturochman, 2018) bahwa kepercayaan merupakan salah satu modal sosial yang sangat penting dalam membangun relasi sosial. Dalam wacana ilmu sosial, kepercayaan sering kali dikaitkan sebagai keyakinan terhadap niat baik seseorang.
Seperti yang di kemukakan oleh Rempel, dkk (1985) menyatakan bahwa trust merupakan sebuah keyakinan, kepedulian terhadap pasangan dan kekuatan suatu hubungan. Keyakinan ini tidak hanya mencerminkan penilaian intelektual dari kemungkinan bahwa pasangan akan bertindak seperti yang diharapkan, tetapi juga pengalaman emosional dan jaminan pada perilaku dan motif pasangan.
Individu yang menjalin hubungan jarak jauh menggambarkan tentang situasi pasangan yang berpisah secara fisik, salah satu pasangan harus pergi ke tempat lain demi suatu kepentingan, sedangkan pasangan yang lain harus tetap tinggal di rumah (Pistole, 2010). Keadaan berpisah tempat tinggal ini menyebabkan individu mengalami berbagai kondisi
psikologis yang dirasakan seperti stres, merasa kesepian, cemas, emosi yang kurang stabil, dan ragu terhadap pasangan (Stafford, 2005).
Berdasarkan Penelitian pernikahan jarak jauh juga dilakukan oleh Amanah (2014) tentang Trustpada Pasangan Suami-Istri yang Menjalani Commuter marriage Tipe Adjusting dengan Usia Pernikahan 0-5 tahun.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan sebanyak 86% pasutri commuter marriage memiliki trustyang tinggi, sedangkan 14% pasangan lainnya memiliki trust -sedang.
Hal ini menunjukkan bahwa hampir seluruh pasangan commuter marriage tipe adusting yakin bahwa istri dan suaminya akan memunculkan perilaku positif seperti bisa diandalkan, peduli, dan tanggap akan kebutuhannya baik sekarang maupun di masa depan. Meskipun pasangan ini pernah mengalami kejadian-kejadian yang menurunkan trust-nya, tetapi mereka mampu menegosiasikannya dengan cara memperbaiki frekuensi dan kualitas komunikasi, saling instrospeksi diri, dan memahami satu sama lain. Tinggal terpisah dengan pasangannya tidak membatasi pasangan commuter marriage tipe adjustingini untuk tetap merespon positif, peduli dan tanggap akan pasangannya.
Hasil penelitian selanjutnya yang di kemukakan oleh Ratna Dyah Dharmawijati (2016) menunjukkan bahwa pada keempat subjek mempunyai ketiga aspek komitmen yaitu satisfaction, quality of alternatives, dan investment size. Pada subjek pertama DT, berkomitmen karena adanya kepuasan sudah merasa yakin dengan pasangannya, kemudian mengagumi sosok pacarnya, dan sudah memiliki tabungan bersama pasangannya. Subjek kedua EM, berkomitmen karena dirasa
sudah menjalani hubungan yang cukup lama, merasa nyaman dengan pasangannya, merasa hubungannya saat ini lebih baik dari sebelumnya, dan hubungannya sudah mengorbankan banyak waktu dan usaha.
Subjek ketiga RD, bekomitmen karena sudah merasa menemukan kecocokan dan menikmati hubungannya, sangat nyaman dan terbuka dengan pasangannya dibanding orang lain, berinvestasi berupa membuka rekening tabungan bersama untuk masa depan mereka. Subjek keempat HT berkomitmen karena merasa puas pasangannya telah menunjukkan keseriusan dengan ingin melamarnya, subjek berinvestasi berupa waktu yaitu qualitytime saat bertemu pasangannya, namun subjek pernah merasa tertarik dan mengagumi orang lain diluar hubungannya Berdasarkan hasil penelitian yang di lakukan oleh Made Ayu Yuli Pratiwi (2011), bahwa keempat subjek merupakan wanita dewasa awal yang mampu menjalin hubungan relasi dengan lawan jenis dan berhasil mempertahankan kepercayaan, komitmen dalam hubungan mereka walaupun harus menjalani hubungan jarak jauh. Keempat subjek telah memenuhi aspek-aspek komitmen berupa satisfaction (kepuasan), quality of alternatives (perbandingan pasangan dengan alternatif lain diluar hubungan) dan insvestment size (investasi yang tidak dikeluarkan dalam hubungan).
Berdasarkan hasil penelitian selanjutnya yang di paparkan oleh Yulastry Handayani (2016) yang Keempat subjek merupakan seorang wanita dewasa awal yang menjalani hubungan pernikahan jarak jauh dengan suaminya dan saling membentuk komitmen untuk menjaga hubungan mereka masing-masing. Dengan adanya komitmen yang