BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Teoritis
3. Persediaan Barang Dagangan
Persediaan dapat diartikan sebagai barang-barang yang disimpan untuk digunakan atau dijual pada masa atau periode yang akan datang. Persediaan terdiri dari persediaan bahan baku, persediaan barang setengah jadi dan persediaan barang jadi. Persediaan bahan baku dan bahan setengah jadi disimpan sebelum digunakan atau dimasukkan ke dalam proses produksi, sedangkan persediaan barang jadi atau barang dagangan disimpan sebelum dijual atau dipasarkan.
Dengan demikian setiap perusahaan yang melakukan kegiatan usaha umumnya memiliki persediaan.
Menurut Ristono (2009:2) Inventory atau persediaan adalah suatu teknik untuk manajemen material yang berkaitan dengan persediaan. Manajemen material dalam Inventory dilakukan dengan beberapa input yang digunakan yaitu:
permintaan yang terjadi (demand) dan biaya-biaya yang terkait dengan penyimpanan, serta biaya apabila terjadi kekurangan persediaan (shortage).
Secara teknis, Inventory adalah suatu teknik yang berkaitan dengan penetapan terhadap besarnya persediaan bahan yang harus diadakan untuk menjamin kelancaran dalam kegiatan operasi produksi,serta menetapkan jadwal pengadaan dan jumlah pemesana barang yang seharusnya dilakukan oleh perusahaan. Penetapan jadwal dan jumlah pemesanan yang harus dipesan merupakan pernyataan dasar yang harus terjawab dalam pengendalian persediaan.
Menurut Jusup (2005:99) Persediaan barang dagangan adalah elemen yang sangat penting dalam penentuan harga pokok penjualan pada perusahaan dagang eceran, maupun perusahaan dagang partai besar.
Persediaan berpengaruh terhadap neraca maupun laporan laba-rugi. Dalam neraca sebuah perusahaan dagang atau manafaktur, persediaan seringkali merupakan bagian yang sanagat besar dari keseluruhan aktiva lancar yang dimiliki perusahaan. Meskipun demikian, jumlah dan persentasenya berbeda-beda antara perusahaan yang satu dengan yang lainnya. Dalam laporan laba rugi, persediaan memegang peranan sangat vital dalam penentuan hasil operasi perusahaan untuk suatu periode. Angka laba kotor misalnya (penjualan dikurangi harga pokok penjualan), adalah sesuatu yang diamati terus-menerus oleh manajemen, pemilik, dan pihak-pihak lain yang berkepentingan.
Menurut Hermawan dan Masyhad (2006:169) Persediaan barang dagangan atau sering disebut sebagai persediaan terdiri atas barang-barang yang disediakan untuk dijual kepada para konsumen selama periode normal kegiatan perusahaan.
Jenis persediaan dalam perusahaan dagang bermacam-macam tergantung pada jenis perusahaan. Persediaan barang dagangan pada awal periode disebut persediaan awal dan persediaan pada akhir periode disebut persediaan akhir. Pada periode berjalan perusahaan bisa juga melakukan pembelian barang dagangan.
Persediaan akhir pada suatu periode akan menjadi persediaan awal pada periode berikutnya.
Untuk menentukan kuantitas harga pokok penjualan dan sistem persediaan dapat digunakan dua pendekatan yakni sistem persediaan periodik dan sistem persediaan perpetual. Pada sistem persediaan periodik, penentuan harga pokok penjualan dilakukan pada saat akhir periode dengan jurnal penyesuaian tetapi pada sistem perpetual, penentuan harga pokok penjualan dilakukan ketika terjadi transaksi penjualan.
Menurut Kieso (2008:402) Persediaan (inventory) adalah pos-pos aktiva yang dimiliki oleh perusahaan untuk dijuala dalam operasi bisnis normal, atau barang yang akan digunakan atau dikonsumsi dalam membuat barang yang akan dijual. Deskripsi dan pengukuran persediaan membutuhkan kecermatan. Investasi dalam persediaan biasanya merupakan aktiva lancar paling besar dari perusahaan barang dagang (ritel) dan manufaktur.
Menurut Harmono (2011:221) Ketika jumlah persediaan di gudang dalam jumlah yang besar, perusahaan kehilangan kesempatan untuk memanfaatkan dana untuk investasi produktif yang lain. Di sisi lain, jika pesanan persediaan terlalu sedikit, total biaya melebihi yang diakui perusahaan, maka diperlikan jumlah
kuantitas pesanan yang paling ekonomis yang sering disebut economic order quantity (EOQ).
Persediaan merupakan suatu model yang umum digunakan untuk menyelesaikan masalah yang terkait dengan usaha pengendalian bahan bakun maupun barang jadi dalam suatu aktifitas perusahaan. Ciri khas dari model persediaan adalah solusi optimalnya difokuskan untuk menjamin persediaan dengan biaya yang serandah-rendahnya.
Menurut Ristono (2009:4) Pengelolaan persediaan adalah kegiatan dalam memperkirakan jumlah persediaan (bahan baku/penolong) yang tepat, dengan jumlah yang tidak terlalu besar dan tidak pula kurang atau sedikit dibandingkan dengan kebutuhan atau permintaan.
Dari pengertian di atas, maka tujuan pengelolaan persediaan adalah:
1) Untuk dapat memenuhi kebutuhan atau permintaan konsumen dengan cepat (memuaskan konsumen).
2) Untuk menjaga kontunuitas produksi produksi atau menjaga agar perusahaan tidak mengalami kehabisan persediaan yang mengakibatkan terhentinya proses produksi.
3) Untuk mempertahankan dan bila mungkin meningkatkan penjualan dan laba perusahaan.
4) Menjaga agar pembelian secara kecil-kecilan dapat dihindari, karena dapat mengakibatkan ongkos pesan menjadi besar.
5) Menjaga supaya penyimpanan dalam emplacement tidak besar-besaran, karena akan mengakibatkan biaya menjadi besar.
Menurut PSAK dalam Mulya (2010:214) Persediaan adalah aktiva yang tersedia untuk dijual dalam kegiatan usaha normal perusahaan, aktiva dalam proses produksi dan atau dalam perjalanan atau dalam bentuk bahan atau perlengkapan (supplies) untuk digunakan dalam proses produksi atau pemberian jasa.
Bagi perusahaan umumnya, persediaan sangat penting untuk dipertahankan baik bagi perusahaan dagang maupun perusahaan manufaktur.
Persediaan diperlukan dalam rangka menjaga stabilitas permintaan konsumen untuk penjualan, dan penjualan tentunya diperlukan untuk menghasilkan laba. Di sisi lain, meskipun implikasi dari adanya persediaan adalah biaya persediaan, namun manfaat utama dari pembentukan persediaan adalah terlindunginya perusahaan dari kejadian dan gangguan yang tidak terduga dalam bisnis.
Menurut Jusup (2005:103) Dasar utama akuntansi untuk persediaan adalah harga perolehan (cost), harga perolehan meliputi semua pengeluaran yang diperlukan untuk mendapat barang dan menempatkannya dalam kondisi yang siap untuk dijual. Faktor-faktor yang mempengaruhi harga perolehan persediaan, nama rekeningnya, dan pengaruhnya terhadap harga perolehan persediaan nampak dalam tabel berikut:
Tabel 2.2
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Harga Perolehan Persediaan, Nama Rekeningnya, dan Pengaruhnya Terhadap Harga Perolehan Persediaan
Faktor Nama Rekening Pengaruh Terhadap
Harga Perolehan Harga faktur
Biaya angkut Potongan tunai - pembelian
Retur & potongan pembelian
Pembelian
biaya angkut pembelian potongan tunaipembelian
retur dan potongan pembelian
Menambah Menambah Mengurangi
mengurangi
Menurut Jusup (2011:418) Perusahaan jasa tidak memiliki persediaan karena perusahaan semacam itu tidak memperdagangkan barang. Dalam perusahaan dagang dan perusahaan manufaktur, persediaan kadang-kadang mencakup lebih dari 50% dari asset lancarnya. Perusahaan dagang hanya membutuhkan satu kelompok persediaan yang disebut persediaan barang dagangan yang di dalamnya tercakup berbagai macam atau jenis persediaan.
Menurut Mulya (2010:216) Metode penilaian persediaan atau penentuan biaya dapat dilakukan dengan beberapa metode seperti metode identifikasi khusus dan metode kronologi arus barang. Metode identifikasi khusus ini sulit untuk dilakukan apabila antara barang dagang yang dimiliki perusahaan tidak memiliki banyak perbedaan satu sama lainnya. Metode yang paling mungkin dan banyak digunakan dalam praktiknya adalah metode kronologi arus barang, antara lain:
Metode Pertama Masuk-Pertama keluar (first in first out-FIFO), Metode Terakhir Masuk-Pertama Keluar (Last in first out-FIFO) DAN Metode Biaya Rata-rata.
1. Metode penilaian persediaan menurut sistem persediaan perpetual
Pada sistem ini semua pembelian dan penjualan barang dagang dicatat dengan cara menggunakan stock card atau kartu persediaan.
1) Metode Pertama Masuk-Pertama Keluar (FIFO)
Sebagian besar perusahaan menjual barang sesuai dengan urutan pembeliannya, dimana barang yang dibeli lebih dahulu, maka akan dijual lebih dahulu dan seterusnya. Hal ini terutama untuk barang yang tidak tahan lama dan produk-produk yang modelnya cepat berubah.
2) Metode Terakhir Masuk-Pertama Keluar (LIFO)
Merupakan metode penilaian persediaan yang digunakan dalam akuntansi selain metode lainnya. Metode ini menganut prinsip bahwa barang yang terakhir masuk, maka pertama pula keluar atau dengan kata lain barang yang pertama masuk, maka terakhir dijual.
3) Metode Biaya rata-rata
Apabila metode rata-rata digunakan dalam sistem persediaan perpetual, biaya rata-rata per unit untuk masing-masing item dihitung setiap kali pembelian dilakukan. Biaya rata-rata per unit dihitung dengan cara menjumlahkan unit yang dibeli dengan unit saldo, dan total biaya pembelian dengan total biaya saldo. Setelah dapat total biaya saldo maka langsung dibagi dengan total unit, sehingga diperole biaya rata- rata per unit. Biaya rata-rata per unit akan digunakan untuk
menentukan harga pokok setiap penjualan sampai pembelian berikutnya dilakukan. Jadi setelah terjadi lagi pembelian berikutnya, maka biaya unit rata-rata dihitung lagi.
2. Metode penilaian persediaan menurut sistem persediaan periodikal 1) Metode Pertama Masuk-Pertama Keluar (FIFO)
Prinsip pelaksanaan konsep metode pertama masuk pertama keluar pada metode sistem periodikal persis sama dengan sistem perpetual.
Namun dasar data sebagai basis perhitungannya yang berbeda. Jika metode perpetual dasar datanya adalah mengkronologiskan aktivitas pembeliandan penjualan. Aktivitas pembelian harus menyertakan persediaan awal tahun sebagai dasar datanya.
2) Metode Terakhir Masuk-Pertama Keluar (LIFO)
Harga pokok penjualan dihitung dengan mengurangkan barang yang tersedia untuk dijual dengan persediaan akhir.
3) Metode Rata-rata
Metode ini juga disebut juga metode rata-rata/rerata tertimbang (weighted average method). Untuk menetapkan harga pokok persediaan di akhir periode digunakan harga pokok rata-rata tertimbang.
B. Kerangka Pikir
Perusahaan dagang dapat didefinisikan sebagai perusahaan yang membeli barang dari pihak lain kemudian dijualnya kembali kepada pihak lain yang
memerlukan atau langsung dijual kepada masyarakat umum, biasanya berupa retail atau grosir dan distributor.
Penjualan harus dikendalikan agar dapat dicapai hasil pengembalian sebaik-baiknya atas investasi. Laba bersih yang optimum akan dapat direalisir hanya bila terdapat hubungan ynag wajar di antara keempat factor ini: (1) investasi dalam modal kerja dan fasilitas-fasilitas, (2) volume penjualan, (3) biaya operasi (operating expenses) dan (4) laba kotor.
Transaksi penjualan selalu mengandung unsur laba atau rugi. Oleh karena itu, perusahaan tidak cukup hanya mencatat kenaikan suatu aktiva dan pengurangan aktiva yang lain, tetapi transaksi tersebut juga menyangkut pengakuan pendapatan dan unsur biaya, dan masing-masing unsr dicatat secara terpisah. Laba bersih diukur dengan mengurangkan biaya-biaya kepada pendapatan.
Sistem akuntansi dapat mengidentifikasikan dengan cepat jumlah penjualan, pembelian, penerimaan kas, dan pengeluaran kas. Karena setiap bagian-bagian tersebut akan dibuat secara terpisah sehingga memungkinkan untuk melihat saldo berjalan setiap saat. Dengan demikian maka sistem akuntansi akan memberikan manfaat yang besar terkait distribusi penjualan sehingga harus dirancang dengan baik.
Persediaan dapat diartikan sebagai barang-barang yang disimpan untuk digunakan atau dijual pada masa atau periode yang akan datang. Persediaan terdiri dari persediaan bahan baku, persediaan barang setengah jadi dan persediaan barang jadi. Persediaan bahan baku dan bahan setengah jadi disimpan sebelum
digunakan atau dimasukkan ke dalam proses produksi, sedangkan persediaan barang jadi atau barang dagangan disimpan sebelum dijual atau dipasarkan.
Dengan demikian setiap perusahaan yang melakukan kegiatan usaha umumnya memiliki persediaan.
Metode pencatatan persediaan barang dagangan yang digunakan pada PT.
Iswanto Makassar yaitu Metode yang paling mungkin dan banyak digunakan dalam praktiknya adalah metode kronologi arus barang, antara lain: Metode Pertama Masuk-Pertama keluar (first in first out-FIFO), Metode Terakhir Masuk- Pertama Keluar (Last in first out-FIFO) DAN Metode Biaya Rata-rata.
Gambar 2.1
Kerangka Pikir Analisis Sistem Akuntansi Distribusi Penjualan Berdasarkan Pengelolalan Persediaan Barang Dagangan Pada PT. Iswanto Makassar
Penjualan
Sistem Akuntansi terkait Distribusi Penjualan
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN A. Lokasi dan Waktu Penelitian
1. Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian merupakan tempat objek yang akan diteliti. Sehingga merupakan salah satu faktor yang berperan penting dalam penelitian demi mendapatkan data-data yang akurat dan relevan sesuai dengan objek yang akan diteliti. Dalam penelitian ini, lokasi penelitian yaitu PT. Iswanto Makassar.
2. Waktu Penelitian
Waktu penelitian dalam penelitian ini yaitu selama kurang lebih 1 bulan dengan melakukan penelitian langsung pada PT. Iswanto Makassar yang selanjutnya akan diolah dengan teknik olah data.
B. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data merupakan suatu pernyataan (statement) tentang sifat, keadaan, kegiatan tertentu dan sejenisnya yang dilakukan dalam rangka memperoleh informasi yang dapat menunjang penelitian yang dilakukan. Tentang metode pengumpulan data dan penggunaan instrument dalam penelitian ini dapat diuraikan sebagai berikut:
1. Penelitian Lapangan (Field Research)
Menurut Sangadji dan Sopiah (2010:28) “Penelitian lapangan adalah penelitian yang langsung dilakukan di lapangan atau kepada responden”. Kegiatan penelitian lapangan, dimana penulis mencari data yang menjadi objek penelitian,
36
untuk itu penulis melakukan kegiatan penelitian lapangan, dimana pengamatan setempat dan wawancara langsung dengan pimpinan serta beberapa karyawan/staff perusahaan dan mengumpulkan data berupa laporan-laporan yang disajikan dan mengumpulkan informasi yang dikumpulkan.
2. Studi Pustaka
Kajian pustaka (Library Research) merupakan metode yang dilakukan dengan memanfaatkan dokumen-dokumen dan referensi yang ada kaitannya dengan penelitian yang dilakukan. Menurut Sangadji dan Sopiah (2010:28)
“Penelitian kepustakaan adalah penelitian yang dilaksanakan dengan menggunakan literature (kepustakaan), baik berupa buku, catatan, maupun laporan hasil penelitian dari penelitian terdahulu”. Menganalisanya untuk dijadikan sebagai pembanding sekaligus penguat atas penelitian yang dilakukan. Serta dijadikan sebagai pembanding antara teori yang ada dengan realita yang peneliti peroleh di lapangan.
C. Jenis dan Sumber Data 1. Jenis Data
Untuk mendukung penelitian ini, maka data-data yang digunakan berupa:
a. Data Kuantitatif
Yaitu data-data berupa angka-angka yang dapat dihitung, antara lain data yang berhubungan dengan distribusi penjualan berdasarkan pengelolaan persediaan.
b. Data Kualitatif
Yaitu data-data non angka, baik melalui wawancara langsung maupun dari media. Menurut Sangadji dan Sopiah (2010:185) “Data kualitatif adalah data yang berupa pendapat atau judgement sehingga tidak berupa angka, tetapi berupa kata atau kalimat”. Sejarah, status dan pelimpahan kepengurusan, maupun struktuk organisasi perusahaan terkait.
2. Sumber Data
Dalam penelitian ini, sumber data yang digunakan oleh penulis berupa:
a. Data Primer
Menurut Sangadji dan Sopiah (2010:190) “Data primer adalah data yang dikumpulkan sendiri oleh peneliti langsung dari sumber pertama”. Data primer, berupa data yang diperoleh dari perusahaan baik berupa wawancara langsung dengan pihak-pihak yang terkait dengan penelitian yang dilakukan maupun data yang merupakan hasil olah manajemen perusahaan pada perusahaan terkait yang dijadikan sebagai objek yang diteliti.
b. Data Sekunder
Data sekunder yaitu data yang diperoleh dari luar kantor berupa referensi yang berasal dari literature yang berkaitan dengan penelitian yang dilakukan.
Menurut Sangadji dan Sopiah (2010:190) “Data Sekunder adalah data yang diterbitkan atau digunakan oleh organisasi yang bukan pengolahnya”. Data sekunder dalam penelitian ini diperoleh melalui data-data terkait dengan perusahaan. Serta melalui buku-buku yang menguatkan penelitian yang dilakukan demi terciptanya hasil penelitian yang akurat. Serta, dapat menguatkan hasil penelitian yang dilakukan.
D. Metode Analisis
Metode analisis yang dipakai dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif yang mendiskripsikan atau menggambarkan data yang berkaitan dengan kondisi objektif perusahaan.
BAB IV
GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN A. Gambaran Umum PT. Iswanto Makassar
1. Sejarah Singkat Perusahaan
PT. Iswanto Makassar adalah perusahaan swasta yang bergerak di bidang perdagangan. Kantor pusat PT. Iswanto Makassar beralamat di jalan Andi Pangeran Pettarani No. 21, Telp (0411) 832025 Makassar.
PT. Iswanto Makassar adalah perusahaan yang bergerak dalam bidang perdagangan umum dan keagenan, kecuali agen perjalanan. Pada saat pendirian, perusahaan ini bernama PT. Iswanto didirikan Pada tanggal 15 April 1985 berdasarkan akte pendirian No. 10606 di depan notaries Sitse Lamowa, S.H, yang disahkan oleh Menteri Kehakiman RI No. C2.5403HT.01.01 tahun1985 tertanggal 27 Agustus 1985 dengan modal awal yang diisetor sebesar Rp. 500.000.000,- yang terdiri dari 500 lembar saham dengan nilai nominal Rp. 1000.000,-. Pada awal berdirinya perusahaan ini berkedudukan di jalan Nusantara No. 70 makassar serta hanya terbatas pada bidang usaha di daerah Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara.
Namun pada perkembangan selanjutnya PT. Iswanto senantiasa terus mengadakan pembenahan dalam rangka memenuhi kebutuhan ekonomi di daerah Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara, maka berdasarkan pertimbangan manajemen agaknya perlu untuk mencari posisi yang lebih memudahkan pengangkutan guna mendukung kemungkinan ekspansi, sehingga pada tahun
40
1995 alamat kantor perusahaan dipindahkan ke jalan Andi Pangeran Pettarani No.21 Makassar menempati gedung berlantai tiga yang dijadikan ruang kantor dan costumer service hingga sekarang ini.
2. Gambaran Umum Kantor
Tingginya animo pelanggan untuk melakuakan transaksi pembeli barang- barang kebutuhan saat ini membuat PT. Iswanto Makassar yang berpusat di jalan Andi Andi Pangeran Pettarani No.21 Makassar. Memilih didaerah selatan kota merupakan pilihan yang tepat karena sangat strategis yang mana tempatnya berada ditengah-tengah kota. Mahasiswa dari kampus manapun yang melakukan praktek kerja atau penelitian selalu disambut posistif. PT. Iswanto Makassar memiliki tiga lantai yang dimana lantai pertama digunakan untuk tempat penerimaan data transaksi penjualan maupun pembelian dan sebagai ruang kantor kepala personalia dan lantai dua digunakan sebagai bagian ruang rapat dibagian pojok kanan dan masing-masing ruangan memiliki kamar mandi, dan bagian belakang lantai dua ada dapur, juga digunakan sebagai tempat tempat kantor dan lantai ke tiga digunakan sebagai tempat para petinggi Kantor dan para direktur maupun para manajer, dan memiliki masing-masing kamar mandi.
3. Visi dan Misi Perusahaan a. Visi
Menjadi mitra utama bagi semua pihak yang berkepentingan dalam memajukan dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia, agar mampu bersaing dengan bangsa-bangsa maju di dunia, khususnya dalam
pendistribusian produk, yang akan kami capai melalui kepemimpinan setiap segmen pasar tempat kami bersaing.
b. Misi
1) Memberikan solusi kepada setiap orang yang mencari dan menginginkan produk sesui keinginan.
2) Kami akan menyediakan produk dan layanan yang memenuhi standar yang mampu kami capai dalam industri dimana kami bersaing.
3) Kami ingin memastikan bahwa semua pihak yang berhubungan dengan kami dapat merasakan dan menerima mamfaat positif dengan kehadiran kami dalam bisnis ini.
4) Menghasilkan tingkat pengembalian yang wajar atas resiko modal dan investasi yang dihadapi oleh para pemegang saham, meningkatkan kekayaan perusahaan, menjadi sumber kemakmuran bagi orang-orang yang bekerja pada kami.
4. Tujuan Perusahaan
Komitmen PT. Iswanto Makassar tampak dengan misinya melayani pendistribusian produk, sebagai ”pelayan”. PT. Iswanto Makassar berupaya cepat tanggap terhadap arus reformasi penjualan. Untuk itulah revisi, pembaharuan, dan pendistribusian produk terus dilakukan.
Turut melaksanakan dan menunjang kebijakan serta program pemerintahan dibidang ekonomi dan pembangunan nasional pada umumnya, khususnya pendistribusian produk untuk memenuhi permintaan pasar.
Untuk mencapai maksud dan tujuan tersebut, perusahaan dapat melaksanakan kegiatan usaha sebagai berikut:
a. Mendistribusikan produk yang bersifat menyeluruh kepada pihak pelanggan.
b. Membuat surat jaminan penggunaan produk sesui dengan ketentuan yang berlaku.
5. Struktur Organisasi
Dalam menjalankan kegiatan perusahaan, maka salah satu syarat yang harus dipenuhi adalah struktur organisasi yang baik dan tersusun secara rapi demi kelancaran tugas dalam perusahaan.
Struktur organisasi merupakan pembagian tugas, wewenang dan tanggung jawab masing-masing. Cara pembagian tugas, wewenang dan tanggung jawab diperlihatkan dalam suatu bentuk tertentu berupa bagan atau skema struktur organisasi yang bersangkutan.
Adapun struktur organisasi PT. Iswanto Makassar adalah sebagai berikut:
Gambar 4.1
Struktur Organisasi Perusahaan PT. ISWANTO MAKASSAR
Sumber Data : PT. Iswanto Makassar.
RAPAT UMUM PEMEGANG SAHAM
DIREKTUR UTAMA
SEKRETARIS
MANAJER KEUANGAN
DEWAN KOMISARIS
GENERAL MANAJER ASISTEN DIREKTUR
PERSONALIA MANAJER PERSONIL & UMUM
SATPAM
KANTIN/DAPUR KASIR
WORKSHOP UMUM COLLECTOR
KEPALA CABANG MANAJER
DIVISI ROKOK MUTASI KAS
MANAJER DIVISI MINYAK KAS KECIL
PMG SAHAM
BUKU BANK
a. Rapat Umum Pemegang Saham
1) Merumuskan garis kebijakan perusahaan.
2) Menyetujui penambahan dan jenis modal saham.
3) Menetapkan besarnya pembagian deviden.
4) Menetapkan personil dan komisaris.
5) Menetapkan pejabat direktur.
6) Menyetujui perluasan usaha perusahaan.
7) Menyetujui usaha pembelian aktiva tetap dalam jumlah tertentu.
8) Menerima dan mengevaluasi dean komisaris.
9) Menerima/menolak pertanggungjawaban yang dibuat direksi.
10) Mengesahkan/menyetujui pembagian laba usaha.
b. Dewan Komisaris
Fungsi pokoknya adalah sebagai wakil dari pemilik saham dalam mengawasi jalannya perusahaan, menetapkan dan mengawasi garis-garis besar kebijaksanaan perusahaan. Berikut ini tugas dan tanggungjawabnya:
1) Bertanggungjawab kepada rapat umum pemegang saham.
2) Menetapkan dan mengawasi garis-garis besar kebijaksanaan perusahaan sesui dengan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga perusahaan.
3) Memberikan petunjukkan kepada direktur, baik secara langsug manapun tidak melaui laporan direktur secara periodik.
4) Mengadakan rapat apabila perlu.
Adapun wewenangnya adalah:
1) Mengesahkan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga.
2) Mengangkat dan memberhentikan direksi.
3) Menyetujui atau menolak laporan direktur.
c. Sekretaris
Adapun sekretaris adalah membantu direktur perusahaan dalam hal administrasi. Tugas dan tanggung jawabnya adalah sebagai berikut:
1) Mengatur hubungan dengan pihak luar perusahaan.
2) Melakukan hubungan dengan pihak luar.
3) Melakukan penilaian dan evaluasi serta melaporkan kegiatan perusahaan ke dewan komisaris.
4) Melakukan pengawasan atas pelaksanaan kegiatan perusahaan.
5) Melakukan tugas lainnya melalui anggaran dasar.
Adapun wewenangnya adalah:
1) Mewakili perusahaan secara hukum, baik didalam maupun diluar perusahaan.
2) Menandatangani kontrak dan perjanjian dengan pihak ketiga dan pihak diluar perusahaan.
3) Menyetujui pembelian aktiva tetap perusahaan dalam jumlah tertentu.
4) Menyetujui perjanjian pinjaman/kredit dalam julah tertentu.
5) Mengesahkan anggaran an laporan keuangan.
6) Menandatangani cek dan bilyet giro.
d. Direktur Utama