• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pertanyaan Penelitian atau Rumusan Masalah

Menyusun Rencana Penelitian Tindakan Kelas

A. Pertanyaan Penelitian atau Rumusan Masalah

Menyusun Rencana

1. Penetapan Masalah PTK

Sumardyono (2003:2) mengemukakan bahwa ada beberapa prinsip dalam melakukan pengidentifikasian dan mengumpulkan persoalan, yaitu:

a. Masalah yang ditentukan tidak kompleks, tetapi tidak juga sangat mudah.

b. Masalah dimungkinkan untuk dapat dilaksanakan siklus atau pengulangan tindakan.

c. Masalah harus dilakoni sendiri saat pembelajaran oleh guru dan anak, bukan pihak, guru, kelas, atau sekolah yang lain.

d. Masalah harus relevan dengan materi pembelajaran yang diampu guru, bukan materi di luar pembelajaran.

Hal penting yang harus diperhatikan dalam penentuan masalah PTK adalah suatu masalah bisa dianggap masalah oleh seorang guru, tetapi masalah tersebut tidak dianggap masalah oleh guru yang lain. Hanya saja, tiap-tiap guru pasti menemui masalah dalam kesehariannya saat melakukan pembelajaran.

Selain itu, ada dua prinsip yang harus dipegang oleh peneliti saat menentukan masalah, yaitu kepentingan (urgency) dan tingkat kegentingan (emergency) dan dari setiap masalah dengan beberapa prinsip (Sumardyono, 2003: 2).

a. Masalah disebut urgen apabila masalah tersebut berkaitan langsung dengan perkembangan dan kemajuan belajar anak.

b. Masalah disebut emergency apabila masalah itu dapat menyebabkan masalah baru atau memperparah keadaan jika tidak diselesaikan secepatnya.

Berdasarkan urgensi (urgency) dan tingkat kegentingan (emergency) dari masalah-masalah yang ditemui, peneliti melakukan pemilihan dengan melihat kesangatannya, sangat urgen, dan sangat penting untuk diselesaikan. Hal ini membutuhkan skala prioritas terhadap masalah-masalah yang didasarkan pada kemampuan, sarana yang harus tersedia, waktu, dan biaya.

2. Pemilihan Tindakan untuk Menyelesaikan Masalah

Menurut Sumardyono (2003: 3), ada beberapa hal yang bisa dilakukan peneliti dalam pemilihan tindakan untuk menyelesaikan suatu masalah dalam pembelajaran di kelas, yaitu:

a. Peneliti menyelidiki penyebab masalah dan semua hal yang terkait dengannya. Dengan demikian, penetapan tindakan itu dapat berterima secara akal dan tepat.

b. Peneliti mempelajari macam-macam tindakan dalam pembelajaran, baik kekurangan maupun kelebihannya.

c. Peneliti mencari informasi seputar hasil penelitian yang menyokong tindakan. Tindakan bisa berbentuk metode pembelajaran, teknik pembelajaran, cara interaksi dalam pembelajaran, cara mengelola kelas, dan cara mengelola sarana dan prasarana pendukung pembelajaran.

d. Peneliti menetapkan tindakan yang dimungkinkan untuk mampu menyelesaikan masalah. Tindakan tersebut harus masuk akal dan dapat dilaksanakan. Dalam menentukan tindakan, peneliti harus selektif dan akurat. Tindakan yang ditetapkan harus relevan dengan masalah, seperti memilih obat untuk menyembuhkan penyakit.

e. Peneliti merumuskan prosedur atau langkah-langkah dalam melakukan tindakan secara teknis dan rinci karena segala hal yang dilaksanakan guru sebagai peneliti, segala hal yang dilaksanakan anak, dan segala sarana atau prasarana yang harus dipergunakan tergambar dalam prosedur atau langkah-langkah tindakan. Peneliti akan menemui banyak kesulitan untuk melakukan identifikasi hal-hal yang harus ada perbaikan, apalagi jika dalam uji coba (siklus) pertama belum mendapatkan hasil yang memuaskan, jika tindakan tidak dipaparkan secara teknis-praktis.

3. Perumusan Masalah PTK

Ada dua hal yang harus diperhatikan peneliti dalam melakukan perumusan masalah, yaitu:

a. Rumusan masalah dinyatakan dalam bentuk kalimat tanya (interogatif).

b. Rumusan masalah dinyatakan tidak kurang dari dua. Satu rumusan masalah untuk mempertanyakan proses pelaksanaan tindakan dan satu rumusan masalah untuk mempertanyakan kondisi setelah dilakukan tindakan.

Contoh:

a. Bagaimana implementasi kegiatan menulis kata dalam meningkatkan kemampuan motorik halus anak kelompok B di TK PKK 98 Giriloyo Bantul pada Semester II Tahun Pelajaran 2019/2020?

b. Bagaimana kemampuan motorik halus anak kelompok B di TK PKK 98 Giriloyo Bantul pada Semester II Tahun Pelajaran 2019/2020 setelah melaksanakan kegiatan menulis kata?

Pada contoh di atas, terdapat dua variabel, yaitu variabel bebas dan variabel terikat. Variabel bebasnya adalah “kegiatan menulis kata”, sedangkan variabel terikatnya adalah “kemampuan motorik halus anak”, karena variabel ini bergantung pada kata

“meningkatkan” sebagai bentuk perubahan dan peningkatan dari variabel “kegiatan menulis kata”.

Kalimat tanya “bagaimana” pada dasarnya merupakan ciri rumusan masalah pada penelitian jenis kualitatif karena jawabannya bersifat deskriptif menggambarkan keadaan di lapangan. Hal ini membutuhkan data kualitatif, hanya saja variabel bebas terhubung dengan variabel terikat melalui kata “meningkatkan”. Untuk mengetahui adanya peningkatan, tidak cukup dengan data kualitatif, tetapi harus diperkuat dan dipertegas oleh data-data kuantitatif walaupun hanya bersifat kuantitatif deskriptif.

Menurut Sage (dalam Yaumi, 2016: 71), rumusan masalah dalam penelitian tindakan kelas harus memenuhi beberapa karakteristik, yaitu:

a. Menarik

Rumusan masalah yang baik harus menarik, bermakna, dan penting bagi guru sebagai peneliti. Rumusan masalah harus dapat menimbulkan gairah akademik dan keingintahuan yang kuat sehingga seluruh persoalan yang ditemui dapat dipecahkan dengan memuaskan.

b. Dapat dikelola (manageable)

Rumusan masalah yang baik adalah rumusan yang dapat dikelola atau dilaksanakan dengan baik oleh peneliti. Oleh karena itu, rumusan harus sejalan dengan profesi atau setidaknya keilmuan peneliti.

c. Penting bagi anak didik

Rumusan masalah dapat memberikan manfaat bagi anak didik dalam mencapai tujuan (kompetensi) yang diinginkan berdasarkan kurikulum, wawasan baru bagi anak didik, memperdalam wawasan, dan dapat meningkatkan prestasi pembelajaran.

d. Mengarahkan peneliti untuk melakukan tindakan, mencoba sesuatu, dan bertujuan untuk memperbaiki. Rumusan masalah harus dapat memotivasi peneliti dalam melaksanakan tindakan, menerapkan sesuatu untuk memperbaiki tindakan, mengimplementasikan tindakan yang dapat membawa perubahan bagi anak didik.

Setelah rumusan masalah selesai dilakukan, peneliti selanjutnya melakukan tindakan (aksi) aktivitas penelitian untuk memperoleh jawaban dari masalah-masalah yang telah diajukan sebelumnya.

Supaya tidak memunculkan masalah yang baru, jalannya penelitian harus benar-benar terpantau dan bila perlu ada perekaman. Semua komponen yang diperlukan, walaupun tidak terlalu penting dengan

jalannya penelitian sebaiknya juga dicatat dan diabadikan karena sewaktu-waktu dapat dibutuhkan. Hal itu akan mendukung bahwa PTK yang dilakukan, selain berhasil menuntaskan masalah juga tidak menimbulkan masalah baru. Komponen penting lain yang perlu diawasi dan mungkin dilaporkan antara lain prestasi belajar, motivasi belajar, dan disiplin belajar. Karena bukan fokus PTK maka data komponen-komponen lain ini dikumpulkan dengan menggunakan instrumen yang sederhana namun fokus (Sumardyono, 2003: 5).