• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pertentangan Islam dengan Sosialis-Komunis

Dalam dokumen i TAFSIR EKONOMI RAKYAT GUS DUR TESIS Oleh (Halaman 103-109)

BAB II EKONOMI ISLAM, SOSIALIS & KAPITALIS . 39

D. Sosialisme

4. Pertentangan Islam dengan Sosialis-Komunis

Pernah terjadi perdebatan seru di kalangan penulis Malaysia apakah Islam sesuai atau tidak dengan teori-teori sosialisme. Profesor Hussein Alatas161 mengatakan bahwa Islam sesuai dengan sosialisme. Sedangkan Kassim Ahmad mengatakan bahwa Islam bertentangan dengan sosialisme.

Sedangkan Amil Khalil mengatakan bahwa dalam tingkatan filosofis Islam tidak bertentangan dengan sosialisme, karena

160Nurcholish Madjid, artikel berjudul: “Kibarkan Bendera Keadilan Sosial” dalam Jurnal Prisma No 1 Februari 1976, (Jakarta:

LP3ES), 55.

161 Syed Hussein Alatas (1928-2007) merupakan intelektual Malaysia kelahiran Bogor, Indonesia. Ia adalah saudara kandung filsuf Islam Syed Naguib Alatas yang juga berkiprah di Malaysia. Hussein Alatas merupakan sosiolog, tokoh politik, dan salah satu pendiri Partai Gerakan Rakyat Malaysia.

Islam berisikan nilai-nilai egalitarian dan dalam Islam terdapat tradisi untuk berpihak kepada mereka yang terhisap dan tertindas.162

Mengarahkan perhatian sepenuhnya kepada orang miskin, yang terperas dan tertindas di dalam masyarakat;

mengendalikan penimbunan kekayaan dan keuasaan berlebih- lebihan di tangan segelintir orang; rasa hormat terhadap kerja dan menganggapnya sebagai sumber nilai; menolak kontrol monopolistik terhadap sumber-sumber sebuah negara, terutama sumber-sumber yang memuaskan dan kebutuhan pokok rakyatnya; keyakinan terhadap kesamaan fundamental manusia. 163

Namun nyatanya, terdapat aspek dalam Marxisme yang tidak dapat diterima oleh Islam yaitu mengenai doktrin-doktrin ateistik.164Aliran Marxisme menolak agama dan alam ghaib

162 Artikel Amil Khalil berjudul “Islam dan Sosialisme”, dalam Majalah Prisma edisi Februari 1982, 89.

163 Ibid. 90.

164 Misalnya kaum sosialis-Marxis, mereka berpendirian bahwa Tuhan itu tidak ada (ateis). Menurut mereka, ateisme adalah gagasan ilmiah yang didasarkan pada prinsip-prinsip pengetahuan ilmiah (paham materialisme), bukan sekedar gagasan doktrinik tanpa dasar. Mereka berpendapat," Sesungguhnya, yang nyata yang menciptakan sesuatu yang imajiner." Tuhan merupakan imajiner, sedangkan manusia adalah nyata.

Atas dasar itu, bukanlah Tuhan yang menciptakan manusia, akan tetapi

serta tidak mengakui kehendak atau keinginan di luar alam materi. Aliran ini berpedapat bahwa alam materi menguraikan dirinya sendiri tanpa membutuhkan bantuan kekuatan Tuhan yang mendahului keberadaan alam.165

Bahwa misalnya saja komunisme Marx yang tidak puas apabila hanya mengubah tatanan sosial, akan tetapi komunisme juga berambisi untuk mengubah manusia per individu, sehingga selama komunisme belum mampu menguasai jiwa dan kesadaran manusia, komunisme bisa dikatakan mengalami kegagalan.166 Karena menurut Marx, agama hanyalah candu dan dapat menghambat revolusi proletar, maka agama harus ditinggalkan, dan harus lepas dari tiap individu masyarakat

manusialah yang menciptakan Tuhan." Kaum sosialis-Marxis juga menganggap agama sebagai pelarian yang tidak produktif dan meninabobokkan manusia dari persoalan riil masyarakat. Mereka berpendapat bahwa agama adalah salah satu faktor yang memunculkan penindasan, seperti halnya kaum borjuis menindas kaum proletar. Atas dasar itu, kaum sosialis-komunis menganggap agama sebagai racun masyarakat. Lihat buku: Syamsuddin Ramadhan, Runtuhnya Sosialisme Marxisme: Filsafat Materialisme dan Sosialisme dalam Kritik Ilmiah.

165Musthafa Mahmud, Islam Kiri: Kebohongan dan Bahayanya, judul asli: Akdzuba>tu al-Yasa>ri al-Isla>mi>,(Jakarta: Gema Insani, 1999), 7.

166 Ignace Leep, Ateisme Dewasa Ini: Potret Kegagalan Manusia Modern, (Yogyakarta: Shalahuddin Press, 1985), 61.

sosialis-komunis.167Agama merupakan opium atau candu, membuat orang miskin pasrah, tidak produktif, rela, dan tidak berkenan mencari rezeki, demi menanti surga-surga di akhirat (yang mana surga dan akhirat hanya dianggap sebagai ilusi oleh Marxisme).168

167 Marx pada mulanya seorang Kristen, ia dibaptis di Gereja Evangelies pada usia enam tahun. Marx bukan datang dari keluarga dengan tradisi Nasrani. Ayahnya, Heinrich, merupakan anak seorang (rabi) Yahudi di Kota Trier. Memang pada akhirnya Heinrich masuk Kristen. Pada mulanya orang tua Marx memang bukan orang yang saleh: ia seorang deist yang percaya adanya Tuhan tetapi menampik agama, seorang pengagum Voltaire dan Rousseau.

Namun ada cerita lain di balik keputusan Marx untuk dibaptiskan.

Setahun sebelumnya, ayahnya Marx menulis sebuah memorandum kepada Gubernur Jenderal agar meniadakan peraturan yang melarang pemeluk agama Yahudi menjadi anggota majelis hukum. Memorandumnya tidak sepenuhnya didengarkan. Saat ia tetap dipaksa memilih antara “kedudukan di majelis itu” dan “iman masa kecilnya”, Heinrich memilih untuk melepaskan agamanya. Beberapa tahun kemudian, begitu pula yang dilakukan istrinya, Henriette Pressburg; ibu Marx ini juga dahulunya anak seorang rabi. Dari pengalaman seperti itu bisa dipahami, jika pada akhirnya Karl Marx menganggap agama bukan lagi sebagai sumber kebenaran dan keyakinan yang bersungguh-sungguh. Bahkan agama tampak bertaut dengan kekuasaan yang diskriminatif. Lihat artikel Goenawan Mohamad berjudul “Marxisme dan Aku” dalam buku: Goenawan Mohamad, Marxisme Seni Pembebasan, (Jakarta: Tempo & PT. Grafiti Pers, 2011), 136.

168 Musthafa Mahmud, Islam Kiri: Kebohongan dan Bahayanya, judul asli: Akdzubatu al-Yasaari al-Islami,(Jakarta: Gema Insani, 1999), 7.

Di Indonesia saat PKI belum dilarang, PKI melakukan propaganda untuk meninggalkan agama dan Tuhan, misalnya terjadi di Jombang. Dengan mengadakan pentas Ludruk yang diberi judul profokatif: “Tuhan Sudah Mati” atau “Gusti Allah Mantu”. Akibat dari pertunjukan-pertunjukan itu, terbukti membuat banyak masyarakat kepincut masuk bergabung ke Partai Komunis Indonesia yang merupakan partai komunis terbesar kedua setelah Partai Komunis Cina.169

Oleh karena itu, sudah jelas bahwa komunisme bertentangan dengan tujuan syariah untuk menegakkan hak dasar, karena itu komunisme merupakan bagian dari mad}arat, sementara dalam hukum fikih ditegaskan bahwa ad-d}ara>ru yuza>lu (bencana atau sesuatu yang membahayakan harus disingkirkan), maka komunisme sebagai sumber bencana harus disingkirkan. Penyingkiran, selain merupakan keharusan politik tetapi juga merupakan kewajiban shar'i.170

Sikap PKI atas Pancasila diketahui berbeda tatkala para pemimpinnya berpidato. Yaitu yang disampaikan di depan konstintuante semua partai (seolah menerima Pancasila)

169 Kurniawan et al., Pengakuan Algojo 1965: Investigasi Tempo Perihal Pembantaian 1965, (Jakarta: Tempo Publishing, 2013), 23.

170 Abdul Mun’im DZ, Benturan NU-PKI 1948-1965, (Depok:

PBNU Langgar Swadaya, 2014), 84.

berbeda dengan ketika disampaikan di hadapan kadernya sendiri, seperti pernyataan DN. Aidit berikut ini:"Pancasila sekadar alat pemersatu, jika rakyat sudah bersatu, maka Pancasila tidak diperlukan lagi. Jika PKI telah berkuasa mutlak rakyat akan bisa bersatu."

Pernyataan Aidit itu membuat NU misalnya, untuk semakin berhati-hati menghadapi tipu daya PKI terhadap Pancasila itu. Sikap itu dipertegas lagi oleh pernyataan yang disampaikan oleh Nyoto bahwa: "Partai Komunis Indonesia sebenarnya menganggap lebih bijaksana apabila rumusan Sila Ketuhanan Yang Maha Esa diganti dengan Kemerdekaan Beragama."171 Pernyataan itu semakin menjelaskan bahwa penerimaan PKI terhadap Pancasila itu bukan untuk mengukuhkan Pancasila sebagai dasar negara, tetapi sebagai langkah taktis untuk mengubah sila-sila dalam Pancasila agar sesuai dengan prinsip komunisme,172 yang mana kehidupan masyarakat tanpa didasari agama dan ketuhanan.

171 Saifuddin Zuhri, Berangkat dari Pesantren, (Yogyakarta: LKiS, 2013), 450.

172 Abdul Mun’im DZ, Benturan NU-PKI 1948-1965, (Depok:

PBNU Langgar Swadaya, 2014), 91.

Dalam dokumen i TAFSIR EKONOMI RAKYAT GUS DUR TESIS Oleh (Halaman 103-109)