• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pola Komunikasi Antar Budaya Dalam Menciptakan Toleransi Antar

BAB II. PAPARAN DATA DAN TEMUAN

B. Pola Komunikasi Antar Budaya Dalam Menciptakan Toleransi Antar

hidup berdampingan atara masyarakat yang beragama Muslim dan Hindu rukun, aman serta saling toleransi antar umat beragama.

B. Pola Komunikasi Antar Budaya Dalam Menciptakan Toleransi Antar Umat

orang yang bukan dari golongannya tanpa adanya suatu masalah maupun konflik yang terjadi.

Dari hasil observasi yang peneliti lakukan di lapangan yakni di Dusun Endut Desa Batu Mekar Kecamatan Lingsar Kabupaten Lombok Barat maka di temukan bagaimana Pola Komunikasi Antar Umat Beragama Dalam Menciptakan Toleransi dalam Keberagaman, sebagai berikut :

Komunikasi yang terjadi di Dusun Endut Desa Batu Mekar Kecamatan Lingsar Kabupaten Lombok Barat yang peneliti temukan dapat diamati dalam sebuah proses komunikasi yang terjadi yaitu komunikasi dalam kehidupan sehari- hari. Bahwa masyarakat yang tinggal di Dusun Endut Desa Batu Mekar ialah masyarakat Islam dan Hindu yang tinggal disana ialah mereka dari latar belakang budaya yang berbeda.

Proses komunikasi antar masyarakat islam dan hindu yang ada di Dusun Endut Desa Batu Bekar Kecamatan Lingsar Kabupaten Lombok Barat ialah komunikasi yang terjadi antar individu misalkan ketika mereka bertemu dijalan mereka saling meyapa maupun ada yang sengaja pergi bertamu kerumah langsung. Sebagaimana komunikasi yang peneliti temukan saat ada dilapangan, komunikasi yang dimulai dari warga masyarakat yang beragama islam meyapa warga yang beragama hindu ketika dia hendak lewat didepan rumah salah satu warga hindu. Dia mulai berkomunikasi dengan dengan cara meyapa dari isi rumah tersebut yang sedang duduk berjualan di depan rumah. Masyarakat yang beragama hindu itu pun membalas sapaan tersebut dengan sedikit terseyum dan mempersilahkan untuk mampir duduk di rumahya. Maka warga yang beragama

islam itupun kembali dengan mengucapkan terimakasih. Dan begitu seterusnya sehingga terciptalah percakapan komunikasi timbal balik antar umat beragama Muslim dan Hindu tersebut selama kurang lebih 2 menit.

Dari hasil peneliti pada saat mereka membangun komunikasi antar kedua warga yang memiliki budaya agama/keyakinan yang berbeda tersebut mereka terlihat lancar saat berkomunikasi tanpa ada rasa segan sekalipun, apalagi saat mereka berkomunikasi yang dibarengi sambil sedikit terseyum.Berikut percakapan antara masyarakat muslim dan hindu yang peneliti temukan saat melakukan observasi di Dusun Endut Desa Batu Mekar antara ibuk kadek dengan bapak udin.

Pak Udin : Buk bli miyak juluk.

(Buk beli miyak dulu).

Ibuk Kadek : Ooo Enggih silak, sambil terseyum.

(Ooo ya silahkan).

Pak Udin : Pire ajin miyak nike (Brapa harga miyak ni).

Ibuk Kadek : Ooo baluk ribu (Ooo 8 ribu) Pak Udin : Arak bapak te

(Ada bapak disini) Ibuk Kadek : Ooo enggih arak

(Ooo ya ada)

Pak Udin : Ndek lalo begawean (Ndak pergi kerja) Ibuk Kadek : Ndek, libur mangkin

(Ndak, libur sekarang) Pak Udin : Ooo mun menu silak

(Ooo kalo begitu ayok).

Ibuk Kadek : Tokol juluk maeh (Duduk dulu ayo) Pak Udin : Ndek, terimakasih

(Ndak, terimakasih).54

54.Observasi, Dusun Endut, tanggal 1 September 2018.

Ada juga percakan singkat antara I.Menah (warga beragama islam) dengan Ibuk nyoman (masyarakat beragama hindu) saat bertemu di jalan. “Mbe Wah Sithe Laik..? Wah Juk Kebon Rueng, Luek Gati Ruen Pontek Tie (sudah kemana sudah ke kebun rupaya bayak sekali pisangnya)”. Nyoman menjawab, “Enggih, tiang wah pete bande jari meken lemak aru. ( iya sudah cari buat dibawak besok buat jualan ke pasar)”. Kemudian Ibuk nyoman menjawab lagi “silak mun menu jak. (Ya sudah kalo begitu)”. I.Menah menjawab lagi “oo enggih silak. (oo ya silahkan, sambil terseyum berpamitan)”. 55

Komunikasi antar umat beragama yang ada di Dusun Endut tersebut ialah komunikasi yang berlangsung juga ketika mereka bertemu dijalan, bertamu, ataupun dalam ada kegiatan-kegiatan sosial. Walaupun disana mereka memiliki budaya ataupun kepercayaan agama yang berbeda itu tidak serta merta menjadikan sebuah penghalang untuk mereka menjalin hubungan sosial yang baik dan harmonis dengan ditengah-tengah perbedaan yang ia miliki. Seperti yang diungkapkan oleh salah satu warga asli yang ada di Dusun Endut yang beragama Islam.

“Olek te nu bau teparan tetep harmonis ite kace warge bali selain arak hubungan keluarge sengak sebenarne kesadaran masyarakat besar untuk meciptakan kedamaian lah menu. faktor utame emang faktor keluargelah sehingge sulitlah untuk terjadi konflik, sengak olek masih kodek olek te, misal arak kegiatan adat saling dukunglah menu pokok lek te jak alhamdulilh tetep ne aman sampe bedoe bai bedoe anak olek te ndek wah yak arak keributan ape-ape ndek ne arak tetep ne amanlah sengak olekte luek dengan saling bait bali kance selam, selam kance bali merarik.”

Artinya : “kalau disini bisa dikatakan tetap harmonis dengan warga Hindu selain arak hubungan keluarge karna juga kesadaran masyarakat yang

55Observasi, Dusun Endut, tanggal 1 September 2018.

besar untuk menciptakan kedamaian begitu. Faktor utame memang faktor keluarga sehingga sulit untuk terjadi konflik, karena dari masih kecil saya disini misalnya ada kegiatan adat kita saling mendukunglah begitu.

Pokoknya disini alhamdulillah tetap dia aman sampai saya puya cucu, anak disini ndak pernah ada keributan apa-apa tidak ada tetap dia aman.

Karena disini bayak orang saling ambil hindu dengan islam, islam dengan hindu menikah. 56

Hal yang tidak jauh berbeda juga yang disampaikan oleh warga yang ada di Dusun Endut sendiri yang beragam hindu.

“Ooo sak lek te ye pade aman ndk wah arak bedoe konflik-konflik nafi yambung wah ite lekte angkak amun tiang bedaet olek peken saling sapak ite, wah biase wah ndak arak napi-napi pokok marak saudara wah ite lekte, nyaman tiang sudah disini sudah berapa tahun tiang tinggal disini ndek arak bedoe konflik nafi-nafi saling tolong wah malahan ite lekte, pokok ndek arak nafi-nafi olek drike.

Artinya: ooo kalau disini itu dia selalu aman tidak ada pernah puya konflik-konflik apapun. Yambung sudah saya disini, makanya saya kalau ketemu dipasar saling sapa kita, karena sudah biasa tidak ada apa-apa pokoknya kayak saudara kita disini. Nyaman saya sudah disini sudah berapa tahun tinggal disini tidak ada puya masalah-masalah apa-apa bahkan kita saling tolong disini, pokoknya tidak ada saya puya konflik- konflik apapun disini. 57

Salah satu kegiatan sosial yang rutin dilakukan di Dusun Endut di rumah Kepala Dusun setiap satu bulan sekali juga ikut mendukung terjadinya proses komunikasi antara warga masyarakat Islam dan Hindu. Di lokasi posyandu ini mereka masyarakat Islam dan Hindu bertemu dan berlangsung proses komunikasi oleh masyarakat yang hadir pada acara posyandu tersebut. Disini terlihat di lokasi posyandu, masyarakat yang sesama Islam berkomunikasi menggunakan bahasa sasak seperti biasa yang digunakan oleh masyarakat Sasak/Lombok pada

56A.Made / Sahnan, Wawancara, warga Dusun Endut, Tanggal 05 September 2018.

57.Ni Kadek Wirti, Wawancara, warga Dusun Endut, tanggal 08 September 2018.

umumnya. Dan sedangkan masyarakat yang sesama Hindu, mereka berkomunikasi dengan menggunakan yang mirip dengan bahasa daerah Bali.

Sedangkan kalau masyarakat yang beragama Islam ketika berkomunikasi dengan masyarakat yang beragama Hindu, mereka menggunakan bahasa yang sama seperti ia berkomunikasi dengan masyarakat sesama beragama Islam. Akan tetapi dia tetap mereka menggunakan bahasa halusnya orang sasak seperti kata

“Enggih, (ya), tiang (saya), napi (apa) mangkin (sekarang). Dan bahasa-bahasa halus sasak lainnya.

Berikut salah satu percakapan antara masyarakat islam dan hindu di Dusun Endut Desa Batu Mekar Kecamatan Lingsar Kabupaten Lombok Barat, antara Ibuk Via petugas pasyandu dan Ibu Ayu peseta posyandu yang peneliti temukan di tempat diadakannya posyandu.

Ibuk Via : Ibu Ayu..?

(Ibu Ayu..?) Ibuk Ayu : Enggih, Tiyang (Iya, Saya)

Ibuk Via : Silak, pire bulan wah nike.?

(silahkan, brapa bulan sudah ni).?

Ibuk Ayu : Baruk due bulan (Baru 2 bulan)

Ibuk Via : Inges anak marak inak

(Cantik anaknya kayak ibunya) Ibuk Ayu : Terseyum.58

Seperti yang di ungkapkan oleh Kepala Dusun Endut, perbedaan keyakinan yang dimiliki oleh masyarakat yang ada di Dusun Endut ini tidak serta merta manjadikan suatu konflik. Walaupun warga yang ada disini itu ada yang menganut Agama / Kepercayaan yang berbeda di Dusun Endut ini.

58. Observasi, Dusun Endut, Tanggal 10 September 2018.

“Kami disini hidup berdampingan serta rukun, dan selalu aman dengan warga masyarakat antara umat hindu dan islam yang ada disini, sampai saat ini kami selalu aman tanpa ada suatu konflik apapun, saling toleransi.

Kita disini mencoba membangun toleransi serta saling menghargai mulai dari suatu hal yang terkecil contoh dalam upacara adat misalnya begawe kami disini saling mengundang baik Hindu atau Islam yang mengadakan acara, ataupun ada orang meninggal disini kami saling ikut berbela sungkawa warga disini pergi untuk melayat (belangar) ataupun kita sedang ada acara keagamaan misalnya pas hari lebaran kita disini saling mengamankan kondisi lingkungan sekitar begitupun sebaliknya jikalau dari pihak warga hindu ada acara keagamaan kita disinipun ikut untuk mengamankan acara tersebut. Kita mencoba untuk mengajarkan ke warga- warga untuk saling menghormati dan menghargai antar umat beragama yang ada disini”.59

Salah satu warga yang beragama islam yang peneliti temukan disaat melakukan obserpasi kelapangan juga mengatakan demikian, walaupun kita berbeda keyakinan dengan mereka kami disini selalu hidup aman dan sampai saat ini tidak pernah terjadi suatu konflik apapun disini.

“Ite lekte nu ite wah marak bekeluarge, misal arak acare dengan bali kan ngarakan acare olek perempatan taok ngarakan acare ritual agame bali, ite sak dengan islam ndek pade liwat olek to menu, kita saling toleransi ite ndek pade beganggu nie pun sebalikne, ngeno misalkan ite sak islam arak acare lebaran idul fittri, idhul adha ndek pade ngeributan, angkak ndek wah arak masalah olek te sampe saat ni”.

Artinya: kita disini sudah seperti keluarga, misalnya ada acara orang hindu dia mengadakan acara di perempatan, tempat dia mengadakan acara ritual adat agame bali, kita yang orang Islam ndak kita lewat jalan yang dipakai tersebut kita saling toleransi ndak kita mengganggu mereka, diapun sebaliknya begitu, misalkan kita orang Islam ada acara lebaran idul fittri, idhul adha ndak dia membuat keributan apapun, makanya ndak pernah terjadi masalah disini sampae dengan saat ini”.60

59. Dedi Irawan (Kepala Dusun Endut), Wawancara, Dusun Endut Tanggal 01 September 2018.

60. Hidayati Suwarna, Wawancara, Dusun Endut, Tanggal 05 September 2018.

Hal yang tidak jauh berbeda juga disampaikan oleh warga lainnya di Dusun Endut yang beragama Hindu, dia mengatakan walaupun kita disini berbeda keyakinan, atau bahasa yang kita pakai disini itu semua bukan suatau halangan untuk menjalin hubungan yang baik dengan warga masyarakat yang lain yakni masyarakat yang beragama islam.

“Walaupun kita disini memiliki perbedan keyakinan, itu semua bukan suatu penghalang bagi kami disini untuk menjalin hubungan yang baik dan tetap rukun antar umat beragama karna sebenarnya kita semua diajarkan untuk saling menghormati dan menghargai walaupun kita memiliki agama / kepercayan yang berbeda, ditengah-tengah sini ada musholla dekat rumah saya ini tetap saya dengar orang azan, saya sudah terbiasa, justru itu menjadi penanda waktu untuk saya, misalnya dia azan oo berarti sudah jam sekian, saya sudah biasa bergaul dengan orang Islam”. 61

Masyarakat yang ada di dusun Endut ini dia tidak haya memakai bahasa daerah saja yang ia pakai untuk melakukan komunikasi, terlihat juga ada yang memakai bahasa Indonesia yang ia gunakan untuk berkomunikasi.

Dari hasil penelitian selama berada dilapangan mulai dari awal observasi, wawancara, dan dokumentasi di Dusun Endut Desa Batu Mekar Kecamatan Lingsar Kabupaten Lombok Barat ialah masyarakatnya mempunyai kebudayaan yang berbeda dan masyarakat tersebut mampu menciptakan kehidupan bermasyarakat yang rukun serta saling toleransi di tengah kebergamana dan mempertahankannya. Kebudayaan yang berbeda tersebut yakni masyarakat Islam dan Hindu, yang dalam kesehariannya hidup berdampingan satu sama lain. Perbedaan agama/keyakinan yang ia miliki tidak menjadi penghalang baginya untuk menjalin suatu hubungan yang baik, serta

61. Ketut Kembar, wawancara,Dusun Endut, Tanggal 06 September 2018.

membangun komunikasi yang efektif dan mudah dipahami oleh lawan bicaranya yang dimana saat mereka berkomunikasi dengan sesama muslim mereka menggunakan bahasa sasak lombok pada umumnya akan tetapi ketika berkomunikasi antara muslim dan hindu mereka menggunakan bahasa sasak yang lebih halus dan di saat mereka berkomunikasi antara hindu dengan hindu mereka berkomunikasi persih seperti bahasa daerah bali. Kerukunan antara muslim dan hindu yang ada di Dusun Endut ini juga terlihat pada saat masyarakat yang hindu maupun yang muslim mengadakan acara keagaman, adat, maupun acara-acara lainnya mereka saling menghormati satu sama lain dan selain itu juga kerukuna antar umat beragama ini juga terlihat pada saat mereka mempuyai acara adat seperti resepsi pernikahan mereka saling undang, dan bahkan kalau ada salah satu warga yang meninggal dunia mereka ikut berbelasengkawa, kalau bahasa sasaknya belangar.

C. Faktor Pendukung Terciptanya Pola Komunikasi Antar Budaya Dalam

Dokumen terkait