BAB I PENDAHULUAN
F. Kerangka Teori
2. Pondok pesantren
a. Hakikat Pondok Pesantren
Pondok pesantren terdiri atas dua kata, yaitu kata pondok dan pesantren.Kata pondok asal katanya yaitu kata “funduq” berarti “penginapan” sedangkan kata pesantren berasal dari istilah “santri”sehingga pondok pesantrenmemiliki arti “tempat belajar sekaligus menjadi rumah para santri”.15
Sebagaimana yang dijelaskan oleh KH.Imam Zarkasyi yang dikutip oleh Nining Khurratul
15 Nining Khurratul Aini, “Model Kepemimpinan Treansformasional
21
Aini,16bahwa KH. Imam Zarkasyi mendifinisikan pesantren menjadi sebuah lembaga pendidikan islam yang didalamnya menjalankan pendidikan sistem asrama sebagai tempat tinggal kiayi serta para santri- santrinya, kiayi menjadi tokoh primer sekaligus tokoh sentral pada sebuah pesantren, masjid menjadi tempat untuk melakukan kegaiatan keagamaan, dan pengajaran perihal ilmu-ilmu agama islam dibawah naungan kiayi yang diikuti oleh para santri.
Pesantren dikalangan masyarkat dinilai menjadilembaga pendidikan yang berorientasi pada nilai-nilai keislaman, yang dalam hal ini masyarakat percaya sepenuhnya kepada lembaga pendidikan pesantren untuk membina serta membimbng anak- anaknya agar menjadi manusia yang berkepribadian islam. Sebagaimana yang di katakana oleh dapertemen pendidikan dan kebudyaan yang dikutip oleh Nining
16Ibid
Khurratul Aini 17 bahwa pesantren diartikan sebagai sebuah lembaga pendidikan atau asrama tempat para santri serta murid-murid yang lain belajar mengaji atau belajarperihal ilmu-ilmu agama islam.
Berdasarkan beberapa penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan islam yang memiliki peran sebagai tempat mempelajari ilmu-ilmu keagamaan yang memiliki tugas dan tanggung jawab sebagai pendidik utama dalam membentuk karakter anak bangsa yang berakhlakul karimah serta menjadi manusia yang mampu berguna bagi masyarakat maupun Negara.
b. Sejarah Pondok Pesantren
Pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam yang sudah ada jauh sebelum indonesia merdeka dan pesantren pula tercatat menjadi sebuah lembaga pendidikan tertua di Indonesia. Pesantren tidak dibentuk begitu saja tanpa adanya proses sejarah yang panjang,
23
oleh sebab itu banyak para ilmuwan tertarik untuk manggali sejarah tentang pondok pesantren.
Tumbuhnya pesantren di Indonesia telah melahirkan banyak kader-kader ulama dan menjadi tokoh-tokoh islam. Sebagaimana yang dikatakan oleh Prof. Dr. Mukti Ali bahwa ulama tidak ada yang lahir dari lembaga pendidikan selain dari pada lulusan atau keluaran lembaga pendidikan pesantren.18
Adabanyak sekali para ilmuwan yang mengemukakan tentang sejarah singkat dari berdirinya pesantren di Indonesia. Salah satunya ilmuan yang bernama Soebardi19 menyatakan bahwa pesantren tertua di Indonesia yaitu pesantren Giri yang berada di sebelah utara Surabaya, Jawa Timur yang di dirikan oleh wali Sunan Giri abad ke 17 M dimana pesantren tersebut lansung di pimpin oleh keturunan Nabi-Wali. Lalu beberapa ahli yang lainnya pula berpendapat (Dhafier,
18Imam Syafe’i, ”Pondok Pesantren:Lembaga Pendidikan Pembentukan Karakter”, Jurnal Pendidikan Islam, Volume 8, Mei 2017, hal.
87
19Ibid
1982)20bahwa pesantren di indonesiasudah ada sejak abad ke 16 bersamaan dengan masuknya islam ke Indonesia. Pada abad itu telah banyak pesantren- pesantren popular yang dijadikan sebagai lembaga pendidikan kepercayaan Islam di Indonesia.
Banyaknya para ilmuan yang mengemukakan tentang sejarah lahirnya pesantren di Indonesia dengan pendapat yang berbeda-beda, maka para sejarahwan setuju dan menyimpulkan bahwa sebelum abad ke 18 M pesantren atau lembaga pendidikan Islam belum terdapat di Indonesia yang kemudian ada di akhir abad 18 M dan awal 19 M. (Martin, 1995).21
Berdirinya pondok pesantren Bustanul Wa’zin NW Janggawana merupakan lembaga pendidikan Islam berbasis pondok pesantren yang didirikan pada tahun 2015.Pesantren ini didirikan oleh TGH. Nasrun Mahir QH. S.Pd.I As-Sholaty, beliau salahsatu alumni Ma’ahad Darul Qur’an Wal Hadits Anjani Lombok
20Ibid, hal. 88
25
Timur yang kemudian melanjutkan studinya di Madrasah Asshoulatiyah Mekkah Al-Mukarramah. Hingga saat ini pondok pesantren Bustanul Wa’izin NW Janggawana menjadi sejarah tersendiri bagi berdirinya pondok pesantren ditengah-tengah masyarakat.22
c. Tipologi Pondok Pesantren
Seiring berjalannya waktu, perkembangan pondok pesantren dari masa penjajahan sampai dengan saat ini menyebabkan banyaknya studi yang menjelaskan tentang tipe-tipe pesantren di Indonesia.Terdapa banyak sekali ahli-ahli yang mengemukakan tentang tipe-tipe dari pondok pesantren.
Mentri Agama mengeluarkan peraturan No 3 Tahun 1979 yang menjelaskan tentang bentuk-bentuk dari Pondok Pesantren diantaranya:23
1. Pondok pesantren tipe A
22Wawancara awal dengan pimpinan Pondok Pesantren Bustanul Wa’izin Nw Janggawana, 25 Desember 2021
23 Kompri, “Manajemen dan Kepemimpinan Pondok Pesantren”, (Jakarta: Pranadamedia Group, 2018), hal. 37-38
Dimana pondok pesantren tipe A ini, pembelajarannya dilakukan secara tradisional(Sorongan) dan para santrinya harus belajar dan menetap di asrama lingkungan pondok pesantren supaya segala bentuk pengajaran dapat dilakukan secara teratur.
2. Pondok pesantren tipe B
Dimana pondok pesantren tipe B ini menekankan para santrinya bertempat tinggal di asrama dan ligkungan pondok pesantren, pesantren ini juga melakukan pengajaran dengan caraklasik (madrasy), dan sistem pengajaran yang dipakai oleh kiai menggunakan aplikasi pada waktu-waktu tertentu.
3. Pondok pesantren tipe C
Dimana pesantren tipe C ini hanya merupakan asrama sebagai tempat tinggal para santri, dan tidak ada kegiatan belajar mengajar didalamnya (santrinya belajar diluar atau sekolah umum),
27
sedangkan kiai disini hanya berperan sebagai pegawas dan pembina bagi santri-santrinya.
4. Pesantren tipe D
Dimana pesantren tipe D ini merupakan pesantren yang menggunakan sistem pendidikan pesantren sekolah atau madrasah.
Jika dilihat dari bentuk dan perkembangan pesantren diatas, dapat kita tarik kesimpulan bahwa di Indonesia terdapat banyak sekali ragam dan bentuk pesantren.Indonesia memiliki pesantren dengan berbagai macam tipologi yang hitrogen dan sudah berkembang mulai sejak masa penjajahan sampai dengan saat ini.Beberapa sudi juga telah menjelaskan dan mengklasifikasi pondok pesantren berdasarkan tipenya masing-masing.Sehingga tidak dapat di hitung lagi berapa banyak pesantren di Indonesia dengan tipe yang berbeda-beda.
Dalam buku Kompri (2018)24 menjelaskan bahwa menurut Dapertemen Agama pondok pesantren dikategorikan berdasarkan tingkat konsistensinya mulai dari sistem lama ke
24Ibid hal. 38
sistem modern yang membuat pesantren di Indonesia memiliki tipe yang tidak sama tipe-tipe tersebut diantaranya:
1. Pondok Pesantren Salafiyah, dimana pondok pesantren jenis ini menyelenggarakan sistem pembelajaran yang berfokus pada kitb-kitab islam klasik yang memakai bahasa arab (sistem pendidikan tradisional)
2. Pondok Pesantren Khalafiyah (‘Ashriyah), dimana pesantren jenis ini menyelenggarakan pendidikan dengan sistem modern, yaitu menggunakan satuan pendidikan formal baik pada madrasah atau sekolah umum lainnya.
3. Pondok Pesantren Kombinasi/Campuran, dimana pesantren jenis ini diartikan sebagai pesantren yang memiliki rentang pengertian dari pengertian salafiyah dan khalafiyah.
d. Unsur-unsur Pondok Pesantren
Pada dasarnya sebuah lembaga pendidikan memiliki unsur-unsur tersendiri baru dapat dikatakan sebagai lembaga pendidikan, begitu juga dengan pondok pesantren, lembaga pendidikan yang berfokus kepada
29
pendidikan agama islam yang memiliki unsur-unsur tersendiri. Ada lima unsur pokok dari pondok pesantren menurut Zamaksari Dhofier (1990) tentang ulasannya mengenai pesantren:25
1. Kiai dalam pesantren merupakan tokoh yang memberikan pengajaran, kepada para santri sekaligus iasebagai pendiri dari pondok pesanren.
2. Santri merupakan unsur pokok dari suatu pesantren, mereka yang percaya sepenuhnya kepada kiai untuk dibimbing dan diajarkan tentang ilmu agama islam, dan merekalah orang-orang yang memiliki motivasi yang tinggi untuk belajar dan mengembangkan dirinya.
3. Kitab-kitab islam klasik, merupakan unsur pokok yang paling membedakan pesantren dengan lembaga pendidikan lainnya. Pesantren biasanya menekankan pada pembelajaran agama islam sesuai dengan ajaran dalam kitab-kitab yang dikarang oleh ulama terdahulu.
25Ibid, hal. 33
4. Masjid, merupakan tempat melaksanakan ibadah sholat berjamaah setiap lima waktu dan sebagai tempat belajar para santri sehari-hari.
5. Pondok, merupakan tempat tinggal kiai, ustads/ustadzah dan santri-santrinya untuk memudahkan proses belajar mengajar serta mengamalkan ilmu yang sudah di pelajari.
Pondok pesantren hingga saat ini sudah tersebar diberbagai daerah mulai dari perkotaan hingga ke pelosok desa. Banyaknya pesantren yang tersebar tidak akan merubah unsur-unsur dari lembaga pesantren itu sendiri, dan ada beberapa hal yang membedakan pesantren dengan pesantren lainnya yang dapat dilihat dari segi kemajuan dan perkembangan yang dimiliki oleh pondok pesantren.
e. Tujuan Pendirian Pondok Pesantren
Tujuan merupakan suatu hal yang dapat memuat seseorang terobsesi untuk mencapainya, dengan harapan apa yang menjadi tujuannya tersebut dapat diraih dengan melakukan berbagai cara atau suatu proses usaha.
31
Sebagaimanayang dikatakan oleh Drajat yang dikutip dariNining Khurrotul26 bahwa tujuan adalah sesuatu hal yang diharapkan dapat tercapai setelah berusaha.27 Tujuan diharapkan dapat menjadi acuan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan yang ingin di capai, dimana menurut Arifin dikutip oleh Nining Khurrotul28 tujuan juga bisa menunjukkan kepada masa depan yang berada pada suatu jarak yang tidak dapat dicapai kecuali dengan proses atau sebuah usaha.
Tujuan tidak akan tercapai kecuali seseorang berusaha agar apa yang menjadi tujuannya tersebut dapat di raih sesuai dengan yang di harapannya. Sejalan dengan pendapatan Ahmadi29 yang mngartikan tujuan itu sebagai sesuatu yang akan diraih dengan melakukan sesuatu tersebut. Jika seseorang hendak mencapai tujuan yang diinginkan maka ia harus berani melakukan sesuatu dengan cara berusaha an berproses.
26Nining Khurrotul Aini, “Model Kepemimpinan Transformasional Pondok Pesantren”, (Surabaya: CV.Jakad Media Publishing, 2021), hlm. 83
27Ibid
28Ibid
29Ibid
Dalam hal ini adapun tujuan dari pendirian pondok pesantren adalah;30
1. Tujuan umum, dimana pesantren memiliki tujuan umum sebagai lembaga pendidik yang membimbing anak didik (para santri) untuk menjadi manusia yang berkepribadian islam, menjadi manusia yang bertaqwa terhadap apa yang di perintahkan oleh Allah serta menjauhi apa yang dilarangnya, serta menjadi manusia yang menanamkan nilai-nilai keislaman dalam dirinya.
2. Tujuan khusus, adapun tujuan khusu dari pendirian pondok pesantren, yaitu mempersiapkan para santri untuk menjadi orang alim dan berilmu agama sesuai dengan apa yang diajarkan oleh kiai, ustad/ustadazah-nya, serta diharapkan apa yang sudah diajarkan dapat di amalkan dan mendakwahinya kepada masyarakat, serta dapat bermanfaat bagi kehidupannya baik didunia maupun diakhirat kelak.
30Kompri, Manajemen dan Kepemimpinan Pondok Pesantren,
33
Sebagai lembaga pendidikan islam, pesantren memiliki tanggung jawab yang besar dalam mensyi’arkan agama islam kepada masyarakat. Dalam hal ini, segala bentuk aktivitas yang dilakukan pondok pesantren semata-mata untuk mensejahterakan masyarakat khususnya bangsa.Aktivitas yang dilakukan oleh pondok pesantren sebagai bentuk untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat dalam beragama, serta melakukan ajara agama sesuai perintah Allah SWT.Sebagai lembaga keagamaan yang ikut berperan sebagai lembaga social, maka pesantren juga memiliki tanggung jawab dalam menangani masalah- masalah yang ada dilingkungan masyarakat.
Menurut Sudjoko Prasodjo yang dikutip oleh Zulhimma bahwa jasa besar pesantren terhadap masyarakat desa, yaitu:31
a. Kegiatan tabligh kepada masyarakat yang dilakukan dalam kompleks pesantren. Dalam hal ini pesantren
31Zulhimma,”Dinamika Perkembangan Pondok Pesantren Di Indonesia’,Jurnal Darul ‘Ilmi, Vol, 01, No. 02 Tahun 2013, hal. 169
akan melakukan kegiatan dalam bentuk tabligh kepada masyarakat hanya dilingkungan pondok pesantren.
b. Majelis Ta’lim atau pengajian yang bersifat pendidikan kepada umum. Pesantren akan melakukan berbagai kegiatan dalam bentuk majlis ta’lim yang di pimpin lansung oleh kiai atau pendiri pondok pesantren terkait dengan permasalahan umum yang tidak dipahami oleh masyarakat.
c. Bimbingan hikmah berupa masehat kyai. Kiai atau pendiri pondok pesantren juga akan selalu memberikan nasihat kepada masyarakat.
Dalam lingkungan pesantren, para santri selain diajarkan mengaji juga akandiajarkan bagaimana menjadi orang yang bertanggung jawab atas apa yangtelah dilakukannya32. Bertanggung jawab atas segala hal dan dapat mengamalkan serta menerapkan nilai-nilai agama yang baik dilingkungan masyarakat. Pesantren juga akan
32Nining Khurrotul Aini, “Model Kepemimpinan Transformasional Pondok Pesantren”, (Surabaya: CV.Jakad Media Publishing, 2021), hlm. 83
35
mengajarkan para santrinya tentang nilai-nilai kejujuran, kedisiplinan, kesederhanaan, solidritas yang tinggi, kerjasama, kemandirian dan rasa ikhlas yang besar.
Besarnya peran dan tanggung jawab pesantren dalam mendidik santri tak lepas dari keikhlasan kiai dan segenap pengurus pondok pesantren.Dengan keikhlasan kiayi dan para pengurus itulah yang menjadikan santri menjadi orang yang dapat bermanfaat di kalangan masyarakat.
f. Peran dan Fungsi Pondok Pesantren
Dilihat dari segi sejarah dan pengertiaannya, sangat jelas bahwa pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan islam yang mengajarkan tentang nilai-nilai keislaman. Jadi fungsi dan misi dari pendirian pondok pesantren adalah “mendidik”, oleh karena itu segala bentuk kegiatan atau tindakan yang dilakukan di dalam lingkungan pesantren akanmengandung nilai-nlai kependidikan.Pesantren juga dinilai oleh masyarakat sebagai lembaga pendidikan pembentukan akhlakkul karimah dan pembentukan karakter anak bangsa yang
bermoral dan berintelektual.Pesantren juga didirikan sebagai lembaga pendidikan yang memiliki peran dan fungsi yang dapat mempengaruhi suatu bangsa.
Mengantisipasi akan datangnya zaman modern dimasa yang akan datang, maka lembaga pendidikan pondok pesantren memiliki dua misi yang harus dilakukan, yaitu:33
1. Misi Umum dari lembaga pendidikan pesantren yaitu pesantren akan menjadi lembaga pendidikan yang dapat mempersiapkan sumber daya manusia yang berkualitas, berintelektual yang sesuai dengan nilai-nilai ajaran agama islam
2. Misi khusunya, yaitu mendidik dan mempersiapkan calon-calon ulama sebagai generasi penerus bangsa yang yang selalu menanamkan nilai-nilai keislaman.
Berdasarkan misi yang telah dipaparkan diatas, maka sangat jelas bahwa lembaga pendidikan pesantren berupaya untuk menjadi lembaga pendidikan yang sesuai dengan
37
aturan ajaran agama islam, serta berupaya menjadi lembaga pendidikan yang dipercaya oleh masyarakat dari masa kemasa.
Sedangkan menurut Mukermas ke-5 RMI (Rabithah al Ma’ahid) di probolinggo pada tahun 1996 yang dikrip oleh Nining Khurrotul Aini, menyebutkan bahwaada tiga peran dan fungsi pesantren yakni34.
1. Pesantren sebagai lembaga pendidikan dan pengajaran agama islam. Dalam hal ini pesantren akan ikut serta bertanggung jawab dalam menumbuhkan kecerdasan anak bangsa dan menyiapkan sumber daya manusia yang berilmu dan berakhlak, serta menjadi manusia yang dilandasi dengan ilmu, iman dan taqwa kepada Allah.
2. Sebagai lembaga perjuangan dan dakwah Islamiah.
Pondok pesantren dalam hal ini bertanggungjawab untuk menyampaikan atau memperluas agama Allah dan ikut berkontribusi untuk membangun kehidupan yang aman serta menciptakan kerukunan antar umat baik dalam
34Ibid
kehidupan individu, masyarakat, berbangsa ataupun dalam kehidupan bernegara.
3. Sebagai lembaga pemberdayaan dan pengabdian masyarakat. Artinya, bahwa pesantren diwajibkan menjalankan dan menjunjung tinggi nilai dari peran dan fungsi yang dimiliki serta diharapkan dapat meluruskan dan memperkuat kehidupan masyarakat demi mewujudkan masyarakat yangsejahtera.
Sebagai lembaga pendidikan islam yang diharapkan masyarakat dalam membentuk karakter bangsa yang berakhlakul karimah, maka peran dan fungsi pesantren sangat berpengaruhi terhadap masyarakat. Pesantren pada hakekatnya adalah sebuah lembaga pendidikan keagamaan yang memerankan fungsi sebagai institusi sosial. Sebagai sebuah institusi, maka pesantren memiliki dan menjadi pedoman etika dan moralitas bagi masyarakat.
3. Pengertian Pendapatan Masyarakat
Sebagai masyarakat yang tergolong kepada masyarakat yang berpendapatan rendah, maka segala hal atau pekerjaan
39
yang dapat mendatangkan penghasilan akan dilakukan. Oleh krena itu sekecil apapun pendapatan akan berguna untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sebagaimana yang dijelaskan oleh beberapa ahli yang tentang pengertian dari pendapatan diantaranya:
Menurut Raharja dan Manurung35 mengartikan pendapatan sebagai jumlah penerimaan yang di dapatkan oleh seseorang yang dapat berupa uang atau non uang atas prestasinya dalam bekerja selama satu periode.Seseorang yang menerima pendapatan dalam bentuk non uang dapat berupa pemberian beras,sandang, pangan, papan dan lain sebagainya.Sehingga pendapatan tidak hanya semata-mata berupa uang saja.
Sedangkan menurut Sukirno (2005;47)36 pendapatan diartikan sebagai sejumlah penghasilan yang diterima oleh seseorang atas prestasinya dalam berkerja yang dihitung
35Iskandar, “Pengaruh Pendapatan Terhadap Pola Pengeluaran Rumah Tangga Miskin Di Kota Langsa”, Jurnal Samudra Ekonomika, Vol 1, No. 2 Oktober 2017, hal. 128
36Ade Novalina dan Wahyu Indah Sari, “Analisis Dampak Kenaikan Harga BBM Terhadap Ketahanan Disposible Income Nelayan Desa Bagan Kecamatan Percut Seituan”, Jurnal Kerajinan dan Kebijakan Publik, Vol, 2 No 1 Januari 2017, hal. 4
selama satu periode, baik itu harian, mingguan, bulanan dan tahunan. Sukirno juga mengklasifikasikan pendapatan menjadi 3 bagian diantaranya :
1. Pendapatan pribadi, dimana pendapatan jenis ini diartikan sebagai pendapatan yang diterima oleh seeorang atau penduduk suatu negara tanpa melakukan kegiatan apapun. Bisa dalam bentuk penerimaan dari pemerintah, tunjangan pengangguran, hasil penyewaan bangunan dan lain-lain.
2. Pendapatan disposable, diamana pendapatan jenis ini diartikan sebagai sisa dari jumlah pendapatan pribadi yang dikurangi dengan pajak yang harus dibayar oleh orang yang menerima pendapatan. Dengan begitu sisa dari jumlah pendapatan inilah yang disebut dengan pendapatan disposable.
3. Pendapatan nasional, diartikan sebagai pendapatan/nilai dari seluruh barang-barang jadi dan jasa yang sudah diproduksi oleh negara dalam kurun satu tahun. s
41
Sedangkan untuk pengertian masyarakat, para ilmuwan dalam bidang sosial sepakat bahwa tidak ada definisi yang secara tunggal mengartikan masyarakat, karena sifat manusia yang selalu berubah dalam waktu tertentu.Hal ini membuat para imuwan di bidang sosial memberikan definisi yang berbeda-beda terkait pengertian masyarakat.
Berikut beberapa definisi masyarakat menurut pakar sosiologi (Setiadi, 2013: 36 ):37
1. Selo Soemardjan mendefinisikan masyarakat yaitu orang- orang yang hidup secara bersama-sama yang dengan kehidupannya itu dapat saling membutuhkan satu sama lain yang kemudian akan menimbulkan suatu kebudayaan yangditeruskan secara turun temurun.
2. Max Weber mendefinisikan masyarakat itu sebagai suatu bentuk tingkatan yang pada intinya akanditentukan oleh sebuah harapan hidup dari nilai-nilai yang dibentuk oleh warganya.
37 Bambang Tejokusumo, “DinamikaMasyarakat Sebagai Sumber Belajar Ilmu Pengetahuan Sosial”, Jurnal Geoedukasi, Volume III, Nomer 1, Maret 2014, Tejokusumo B.,Hal. 39-43
3. Menurut Paul B Horton dan C. hunt38 mengartikan masyarakat sebagai sekumpulan dari kelompok manusia yang didalamnya hidup secara bersama-sama dalam satu wilayah yang kemudian menghasilkan kebudayaan atau kebiasaan dari perkumpulannya tersebut. Masyarakat disini tidak bisa hidup secara sendiri karena tentu akan membutuhkan bantuan dari orang lain.
Masyarakat yang terdiri dari sekelompok orang yang menempati suatu wilayah tertentu akan hidup secara bersama- sama dan saling menjalin komunikasi antara satu dengan yang lainna. Hal ini sebagai aturan tertentu bahwa segala tindakan masyarakat akan dikontrol secara hukum, yang dimana masyarakat disini tidak dapat hidup secara sendiri-sendiri dan saling membutuhkan satu sama lainnya.
Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa pendapatan masyarakat merupakan pendapatan yang diterima oleh sekumpulan orang atau individu atas apa yang
38Suwari Akhmaddhian dan Anthon Fathanudien, “Partisipasi Masyarakat Dalam Mewujudkan Kuningan Sebagai Kabupaten Konservasi (Studi di Kabupaten Kuningan)”, Jurnal Unifikasi, Vol. 2 No. 1 Januari 2015,
43
sudah diperolehnya, baik melalui kerja keras yang sudah dilakukannya maupun dari yang lain. Biasanya pendapatan yang diterima oleh masyarakat berbentuk uang, hal ini sejalan dengan pemikiran Rosyidi (2006)39 yang mengartikan pendapatan masyarakat sebagai arus uang yang didapat dari pihak lain kepada masyarakat yang bekerja, pendapatannya tersebut bisa dalam bentuk upah, bunga bank, sewa menyewa, laba dan lain sebagainya.
Menurut Samuelson dan Nordhaus, (2007:205)40 mengatakan bahwa pendapatan digolongkan menjadi 3 bagian, diantaranya sebagai berikut:
1. Gaji dan upah
Merupakan imbalan yang terima oleh seseorang sebagai tanda balas jasa atas pekerjaan yang sudah dilakukannya kepada orang lain baik itu pada perusahaan pemerintah dan lain sebagainya.
39 Femy M. G. Tulusan dan Very Y. Londa, ”Peningkatan Pendapatan Masarakat Melalui Program Pemberdayaan Di Desa Lolah II Kecamatan Tombariri Kabupaten Minahasa”Jurnal LPPM Bidang EkoSosBudKum, Volume 1, Nomor 1, Tahun 2014, hal. 93
40Iskandar, “Pengaruh Pendapatan Terhadap Pola Pengeluaran Rumah Tangga Miskin Di Kota Langsa” Jurnal Samudra Ekonomika, Vol 1, No. 2 Oktober 2017, hal. 129
2. Pendapatan dari kekayaan
Pendapatan yang diterima dari usaha sendiri yang biasanya diartikan sebagai nilai total produksi yang dikurangi dengan biaya yang dukeluarkan baik dalam bentuk uang dan lain sebagainya, dalam hal ini tenaga keluarga dan nilai sewa kapita untuk diri sendiri tidak dapat dihitung.
3. Pendapatan dari sumber lain
Merupakan pendapatan yang diterima seseorang tanpa mengeluarkan tenaga kerja yang dalam hal ini bisa dalam bentuk penerimaan bantuan dari pemerintah, asuransi pengangguran, menyewakan aset bangunan, bunga bank ataupun sumbangan-sumbangan dalam bentuk lain.
Dimana tingkat pendapatan diartikan sebagai tingkat hidup yang dapat dinikmati oleh seorang atau keluarga berdasarkan atas penghasilan yang telah diperoleh atau dari sumber-sumber pendapatan yang lainnya.
a. Faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan
45
Besar atau tidaknya pendapatan yang diterima seseorang tentu akan ada faktor-faktor tentu yang dapat mempengaruhinya. Dalam hal ini ada banyak faktor yang mempengaruhi pendapatan menurut Kurniawaty (2009)41 diantaranya:
1. Modal
Merupakan hal yang paling berpengaruh terhadap pendapatan seseorang. Modal akan menjadi penentu seseorang dalam memperoleh pendapatan, karena semakin banyak modal yang dikeluarkan maka akan semakin besar pula peluang pendapatan yang diterimanya. Sejalan dengan hasil penelitian (Priyandika 2015)42 yang mengatakan bahwa modal yang dimaksud adalah modal yang berasal baik dari
41Ade Novalina dan Wahyu Indah Sari, Analisis Dampak Kenaikan HargaBBM Terhadap Ketahanan Disposible Income Nelayan Desa Bagan Kecamatan Percut Seituan,Jurnal Kerajinan dan Kebijakan Publik, Vol, 2 No 1 Januari 2017, hal. 4
42 Made Dwi Vijayanti,Pengaruh Lama Usaha Dan Modal Terhadap Pendapatan dan Efisiensi Usaha Pedagang Sembako Di Pasar Kumbasari,E- Jurnal Ekonomi Pembangunan Universitas Udayana, Vol.5, No.12, Tahun 2016., hal. 1547