• Tidak ada hasil yang ditemukan

Struktur manajemen personal Pondok Pesantren

BAB II PAPARAN DATA DAN TEMUAN

A. Kondisi objek Pondok Pesantren Bustanul Wa’izhin NW

6. Struktur manajemen personal Pondok Pesantren

Sebagaimana lembaga pendidikan lainnya, pondok pesantren Bustanul Wa’izhin Nw Janggawana ini juga memiliki struktur manajemen personalvsebagai berikut:

66Observasi, “Letak Geografis Pondok Pesantren Bustanul Wa’izhin NW Janggawana”, Janggawana, Selasa, 22 Maret 2022.

Gambar 2.1

Susunan Kepengurusan Yayasan Pondok Pesantren Bustanul Wa’izhin NW Janggawana.67

Terkait dengan sarana dan prasarana yang ada dilingkungan pondok pesantren Bustanul Wa’izhin NW Janggawawana maka dari hasil observasi dan dokumentasi peneliti menemukan data-datanya sebagai berikut:

67Dokumentasi, “Susunan Kepengurusan Pondok Pesantren Bustanul

73 Tabel 2.1

Sarana Dan Prasarana Pondok Pesantren Bustanul Wa’izhin NW Janggawana.68

No

Fasilitas

Banyak dan

kondisi keterangan Baik Rusak

1. Ruang kelas 5

2. perpustakaan 1 - -

3. Ruang Lab Komputer 1 - -

4. Ruang Pimpinan 1 - -

5. Ruang guru 1 - -

6. Ruang Kepala Sekolah 1 - -

7. Ruang Tata Usaha - -

8. Ruang Koseling 1 - -

9. Ruang UKS 1 - -

10. Jamban 3 - -

11. Asrama darurat 7 - -

12. Gudang 1 - -

13. Dapur umum 1 - -

14. Ruang Sirkulasi 1 - -

15. Tempat Olahraga 1 - -

16. Aula dan mushola 1 - -

17. Ruang Organisasi Kesiswaan

1 - -

18. Ruang Lainnya 3 - -

Pondok pesantren Bustanul Wa’izhin NW Janggawana ini juga memiliki data guru dan kepegawaian seperti pada lembaga pendidikan pada umumnya yang menjadi pendukung

68Dokumentasi, “Bangunan dan Fasilitas Pondok Pesantren Bustanul Wa’izhin NW Janggawana”, Janggawana, Rabu, 23 Maret 2022

berjalannya proses belajar mengajar dalam lembaga pendidikan adapun data-datanya sebagai berikut:

Tabel 2.2

Data Guru Dan Kepegawaian Yayasan Pondok Pesanren Bustanul Wa’izhin NW Janggawana.69

No Nama Jumlah

Pendidik

1. Guru PNS diperbentukkan Tetap

-

2. Guru Tetap Yayasan 11

3. Guru Honorer 13

4. Guru Tidak Tetap 14

Tenaga Kependidikan

1. KTU 1

2. Operator 4

3. Pembina 4

B. Kontribusi Pondok Pesantren Terhadap Pendapatan Masyarakat Sekitar Lingkungan Pondok.

Pondok pesantren Bustanul Wa’izhin NW Janggawana merupakan pondok pesanten yang tidak hanya menjadi lembaga pendidikan, namun juga dapat menjadi lembaga yang mampu mensejahterakan kehidupan ekonomi masyarakat disekitarnya.Pondok pesantren Bustanul

69Dokumentasi, “Data Guru dan Kepegawaian Pondok Pesanren

75

Wa’izhin NW Janggawana ini juga memiliki prinsip bahwa pondok pesantren harus bisa menciptakan lapangan kerja sendiri terlebih di zaman sekarang yang sangat sulit untuk mencari pekerjaan.Oleh karena itu pendiri pondok pesantren berinisiatif untuk mencipatakan lapangan kerja bagi para alumni pondok pesantren Bustanul Wa’izhin NW Janggawana.Pondok pesantren ini juga menerapakan sistem ilmu dan amal sebagai bekal bagi santriwan/ti dalam bekerja nanti, dimana pendiri pondok pesantren mengartikan ilmu sebagai pengetahuan sedangkan amalnya diartikan sebagai sebuah kreativitas.Bagi santri yang tidak mampu mengamalkan ilmunya dalam bidang pendidikan, setidaknya mereka memiliki keterampilan sebagai bekal dalam kehidupannya sehari-hari.

Berdasarkan hasil mewawancara yang dilakukan dengan TGH. Nasrun Mahir pada hari sabtu 19 Maret 2022, bahwa terkait dengan kontribusi yang diberikan oleh pondok pesantren Bustanul Wa’izhin NW Janggawana terhadap pendapatan masyarakat diantaranya:

1. Promosi

Salah satu bentuk kontribusi dari pondok pesantren Bustanul Wa’izhin NW Janggawana terhadap pendapatan masyarakat yaitu dengan melalui promosi. Semua hasil kerjinan tangan yang dibuat oleh para santriwan/ti yang berupa hiasan dinding, songkok, dan lain sebagainya, yang kemudian pendiri pondok pesantren mencoba untuk mempromosikannya kepada masyarakat setempat sebagai bentuk dukungan dan apresiasinya terhadap karya anak- anak madrasah.Hal ini sesuai dengan pernyataan TGH.

Nasrun Mahir pada wawancara 19 Maret 2022:

Hasil karya atau kerajinan tangan yang dibuat oleh anak-anak ini kita coba untuk bekerjasama dengan masyarakat sekitar untuk mempromosikannya melalui media sosial, masyarakat juga dalam hal ini memperoleh keuntungan dari hasil penjualan kerajinan tangan yang dibuat oleh anak-anak pondok pesantren Bustanul Wa’izhin Nw Janggawana.70

Diperkuat dengan pernyataan ibu Safitri selaku masyarakat yang membantu para santriwan/ti dalam mempromosikan hasil karya-karyanya:

70TGH. Nasrun Mahir QH.S.Pd.I As-Sholaty (Pendiri Pondok

77

Awalnya saya hanya iseng untuk upload hasil dari kreativitas anak-anak madrasah melalui facebook, namun ternyata ada beberapa orang yang tertarik dengan hasil kerajinan tangan anak-anak dan saya juga memperoleh upah dari hasil penjualan tersebut.71

Kegiatan promosi ini dilakukan sebagai bentuk pengenalan dari hasil karya anak-anak madrasah kepada masyarakat supaya masyarakat juga dapat membantu dan senantiasa mendukung segala bentuk aktivitas yang dilakukan di pondok pesantren tersebut.Kegiatan membuat kerajinan tangan ini dilakukan dua bulan sekali sebagai bentuk praktik dari mata pelajaran prakarya dan kewirausahaan.Kegiatan kerajinan tangan ini juga dilakukan dengan memanfaatkan bahan-bahan yang ada dilingkungan sekitar seperti kulit jagung, stik es krim, botol bekas, kayu yang sudah kering dan lain sebagainya.

Kegiatan membuat kerajinan tangan ini melibatkan semua santriwan/ti baik kelas 10 dan 11. Kegiatan membuat kerajinan tangan ini dilakukan rutin 3 bulan sekali atau 2 kali dalam satu semester, baik pada semester

71 Safitri, Wawancara, Janggawana, Jum’at, 25 Maret 2022

genap atau pada semester ganjil, kegiatan ini dilakukan dengan cara berkelompok yang setiap kelompoknya terdiri dari 3-4 santriwan/ti.72 Sebagaimana yang dikatakan oleh ibu Nurul Aini selaku guru prakarya dan kewirausahaan pada wawancara 31 Maret 2022 bahwa:

Kita mengajarkan untuk membuat kerjinan tangan ini rutin 3 bulan sekali untuk melatih kreativitas anak-anak madrasah supaya anak-anak ini juga ketika sudah lulus nanti dapat membuka peluang kerja sendiri dengan memanfaatkan apa yang ada dilingkungannya.73

Kegiatan praktik prakarya dan kewirausahaan ini tidak hanya membuat kerajinan tangan dalam bentuk barang-barang yang unik dan menarik, namun juga santriwan/ti khususnya yang kelas 12 dituntut untuk bisa membuat suatu memasak yang enak yang diharapkan untuk kedepannya santriwan/ti lulusan pondok pesantren Bustanul Wa’izhin NW Janggawana ini bisa membuka peluang usaha dalam bidang kuliner sebagai bentuk

72 Nurul Aini,“(Guru Prakarya) Pondok Pesantren Bustanul Wa’izhin NW Janggawana”, Wawancara, Janggawana, Kamis, 31 Maret 2022.

73Nurul Aini,“(Guru Prakarya) Pondok Pesantren Bustanul Wa’izhin

79

perkembangan ekonominya dimasa yang akan datang.

Sebagaimana yang dikatakan oleh ibu Nurul Aini selaku guru prakarya dan kewirausahaan pada wawancara kamis, 31 Maret 2022 yang mengatakan bahwa:

Kegiatan praktik memasak ini saya khususkan kepada kelas 12 saja, Karena mereka akan segera lulus dan tentu mereka nantinya akan membutuhkan sebuah pekerjaan, oleh karena itu saya ajarkan kepada anak-anak bahwa zaman sekarang orang-orang akan lebih senang membeli masakan yang siap saji, jadi manfaatkan waktu dan peluang yang ada untuk membuka peluang kerja sendiri sesuai bekal yang sudah diajarkan di pondok pesantren Bustanul Wa’izhin NW Janggawana ini.74

Berdasarkan pernyataan diatas maka dalam hal kegiatan membuat kerajinan tangan yang melibatkan santriwan/ti kelas 10 dan 11 hasil dari karya tersebut yang nantinya akan di jual, tentu melibatkan masyarakat sekitar untuk mempromosikan hasil dari karya santriwan/ti tersebut baik promosi melalui mulut ke mulut, menggunakan media sosial dan lain sebagainya. Dari beberapa hasil wawancara dan observasi diatas maka

74Ibid

dapat peneliti pahami bahwa pondok pesantren bukan hanya menjadi lembaga pendidikan saja, namun juga dapat menjadi lembaga yang mampu menopang perekonomian masyarakat melalui hal-hal kecil sekalipun.

Tabel 2.3

Penjualan Haskar Santriwan/ti Yayasan Pondok Pesanren Bustanul Wa’izhin NW Janggawana Oleh Masyarakat/September 2021.75

NO Nama Pembuat

Nama Haskar

Modal Harga Jual

Laku Keuntungan Masyarakat

Keuntungan Pondok 1

Rina &

Indriani

Cermin dinding

25.000 0

45.000/

pcs

2 pcs 16.000 24.000

2 Alfina &

Ayudia

Bunga kacang

10.000 25.000/

pcs

1 pcs 5.000 10.000 3 Atika &

Alkodari

Handbags 5.000 15.000/

pcs

3 pcs 9.000 21.000 4 Yola &

Auliatun

Stikwoll

10.000 20.000/

pcs

3 pcs 15.000 45.000 5

Nia Kartika

& Yunia

Bunga mawar

10.000 20.000/

pcs

4 pcs 20.000 60.000

6

Ernawati &

Puspadewi

Sakura rose

10.000 25.000 3 pcs 15.000 30.000

7 Ina &

Yuniarti

Gride foto

15.000 35.000 1 pcs 8.000 12.000 8 Zul &

Siti

Bingka i kayu

20.000 40.000 2 pcs 16.000 24.000

81

Masyarakat dan pondok pesantren dapat bekerjasama untuk saling menguntungkan satu sama lain yang dalam hal ini masyarakat dapat mendukung segala bentuk kreativitas santriwan/ti pondok pesantren Bustanul Wa’izhin NW Janggawana ini dengan berbagai kemampuan yang mereka bisa. Membantu dan mendukung segala bentuk kegiatan santriwan/ti dalam berimajinasi dan berkarya adalah salah satu bentuk untuk memperkenalkan keunggulan dan potensi dari pondok pesantren Bustanul Wa’izhin NW Janggawana, khusunya dalam hal mempromosikan hasil karya santriwan/ti, baik promosi melalui mulut kemulut, menggunakan media sosial dan lain sebagainya. Semakin banyak orang yang megenal maka akan semakin besar pula kesempatan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar, oleh karena itu masyarakat dalam hal ini sangat terlibat dan berperan penting untuk menopang perekonomian baik untuk pondok pesantren maupun untuk masyarakat itu sendiri.

2. Agrobisnis dalam bidang pertanian tanaman porang (Kesempatan Kerja)

Pondok pesantren Bustanul Wa’izhin NW Janggawana ini juga memiliki pertanian sendiri untuk melatih para santriwan/ti dalam hal bercocok tanam, baik mulai dari pembibitan, penanaman, sampai dengan panen.Disini para santriwan/ti dilatih untuk kesiapannya sebelum memasuki dunia kerja agar menjadi orang yang giat dan bertanggung jawab atas pekerjaanya.Hal ini sesuai dengan hasil wawancara yang dilakukan dengan TGH. Nasrun Mahir bahwa pondok pesantren ini bergelut dalam bidang pertanian porang dengan lahan mampu menampung 120.000 bibit porang yaitu dengan luas 200 m2,76 yang kemudian hasil panen dari porang ini di export ke jepang dengan melibatkan masyarakat sekitar, adapun pernyataan dari TGH. Nasrun Mahir :

Masyarakat juga banyak yang terlibat dalam penanaman porang ini mulai dari pengisian polibag karena kita upah berdasarkan perpolibag yang

76TGH. Nasrun Mahir QH.S.Pd.I As-Sholaty (Pendiri Pondok

83

mereka isi. Kita juga meminta masyarakat untuk mengumpulkan kotoran hewan ternak mereka baik berupa kotoran sapi, kambing atau kotoran ayam sebagai pupuk organik, kita tidak beli namun sistemnya kita upah dari hasil mengumpulkan kotoran hewan mereka, karena dari pada harus dibuang mending kita manfaatkan sebagai pupuk organik.77

Hal ini juga diperkuat dengan pernyataan bapak Parman selaku masyarakat yang terlibat dalam penanaman porang tersebut:

Saya selaku buruh tani juga bekerja dalam penanaman porang, karena selain bekerja disawah saya juga bekerja sebagai buruh dimanapun ada pekerjaan.Selagi ada peluang untuk menambah penghasilan ya harus saya kerjakan demi mencukupi kebutuhan sehari-hari anak dan istri saya.78

Hal yang sama juga dikatakan oleh ibu Lemen selaku masyarakat yang memberikan kotoran hewannya sebagi pupuk organik kepada pihak pondok pesantren:

Saya mengumpulkan kotoran sapi saya untuk diberikan kepada pendiri madrasah sebagai pupuk organik terhadap tanaman porang.Dan Alhamdulillah saya mendapat upah yang lumayan

77Ibid

78 Parman, Wawancara, Janggawana, Sabtu, 26 Maret 2022

dari hasil pengumpulan kotoran sapi, upahnya bisa untuk menambah belanja anak-anak saya sekolah.79 Penanaman porang ini dilakukan hanya 1 kali setahun, yaitu pada saat musim kemarau saja, dan untuk musim hujan lahan untuk tanaman porang ini dijadikan sebagai lahan penanaman padi,80 dalam hal ini masyarakat hanya terlibat dalam kegiatan tanaman porang pada musim kemarau sebagai peluang untuk meningkatkan pendapatannya, adapun masyarakat yang ikut terlibat sebagai pekerja hanya masyarakat yang memang tidak memiliki pekerjaan.

Adanya kesempatan kerja ini juga di manfaatkan oleh masyarakat sekitar untuk menambah penghasilannya, khususnya orang-orang dewasa yang tidak memiliki pekerjaan sama sekali. Karena mulai dari pengisian polibag melibatkan pekerja sebanyak 6-8 orang pekerja yang dibantu oleh para santriwan/ti pondok pesantren Bustanul Wa’izhin NW Janggawana.

79 Lemen, Wawancara, Janggawana, Sabtu, 26 Maret 2022

80TGH. Nasrun Mahir QH.S.Pd.I As-Sholaty (Pendiri Pondok

85

Kemudian untuk kegiatan pemupukan pendiri pondok pesantren mempekerjakan orang yang memang berpengalaman dalam hal memberi pupuk pada suatu tanaman, yang dalam hal ini untuk memberi pupuk pada tanaman porang pendiri pondok pesantren mempekerjakan 3-5 orang dalam satu kali pemupukan, sedangkan untuk panen pendiri pondok pesantren ini mempekerjakan lebih dari 8 orang pekerja saja81, kemudian untuk kegiatan ekspor pendiri pondok pesantren ini tidak melibatkan masyarakat sama sekali, pendiri pondok pesantren mengurus kegiatan eksport import ini bersama ketua yayasan yaitu bapak Mahrim yang dibantu juga dengan santri-santri yang lain.

Sebagaimana yang dikatakan oleh TGH. Nasrun Mahir pada wawancara Kamis, 31 Maret 2022 bahwa:

Jadi untuk kegiatan eksport porang ini saya lakukan bersama adik saya Mahirm yang dibantu

81TGH. Nasrun Mahir QH.S.Pd.I As-Sholaty, Wawancara, Janggawana, Kamis, 31 Maret 2022.

juga oleh beberapa santri-santri dan kami juga tidak melibatkan masyarakat dalam kegiatan ini.82 Kegiatan export ini memang murni tidak melibatkan masyarakat sekitar, pendiri pondok pesantren hanya melibatkan pengurus pondok beserta santri-santri madarasah dengan alasan bahwa kegiatan eksport ini adalah kegiatan yang cukup besar jadi hanya beberapa orang yang tergolong sebagai pengurus pondok saja yang dapat terlibat. Kegiatan eksport porang ini memang tergolong dalam kegiatan export yang cukup besar, karena kegiatan ini akan dilakukan sampai ke jepang sesuai dengan pernyataan TGH. Nasrun Mahir pada wawancara Sabtu, 19 Maret 2022:

Kegiatan export tanaman porang ini kita lakukan sampai ke jepang, dengan melatih anak-anak mulai dari pembibitan, penanaman dan lain sebagainya.83 Kegiatan export porang yang melibatkan para santri ini tentu dapat mengajarkan dan menambah pemahaman yang luas dalam dunia pertanian bagi para santri-santri

82Ibid

83TGH. Nasrun Mahir QH.S.Pd.I As-Sholaty, Wawancara,

87

pondok pesantren Bustanul Wa’izhin NW Janggawana.

Diamana dalam segala bentuk kegiatan yang dilakukan oleh pondok pesantren melibatkan santriwan/ti yang dalam hal ini dapat memberi pembelajaran khusus bagi santriwan/ti yang menimba ilmu di pondok pesantren ini dengan menerapkan sistem pendidikan dan sistem pengembangan perekonomian yang cukup besar.

Tabel 2.4

Nama-nama Pekerja Pada Tanaman Porang di Yayasan Pondok Pesanren Bustanul Wa’izhin NW.84

NO Jenis Pekerjaan Nama Pekerja

1. Pengisian Polibag 1. Alur 2. Zelin 3. Aminah 4. Minatih 5. Timah 7. Tika 8. Ipa 9. Elsa 10. Inggah

11. Win 12. Wir 13. Rina 14. Adi 15. Mis 16. Wahyu 17. Zaen 18. Danil 19. Nur 20. Dila

2. Pemupukan 1. Denis

2. Awal 3. Rido 4. Zaki

5. Hardi 6. Joeng 7. Endri

3. Panen 1. Tika

2. Dila

8. Zaen 9. Adi

84Ibid

3. Mis 4. Alur 5. Zelin 6. Elsa 7. Ipa

10.Win 11. Nur 12. Timah 13. Aminah 14. Minatih 15. Inggah

Masyarakat yang ikut terlibat dalam kegiatan tanaman porang ini tentu akan memperoleh upah dari pendiri pondok pesantren atas hasil kerjanya. Adapun sistem pengupahan yang dilakukan oleh pendiri pondok pesantren ini yaitu dengan sistem kerja perhari. Dimana setiap harinya pekerja ini akan digaji sesuai dengan jam kerjanya yaitu di hitung mulai dari pagi jam 8-11 kemudian siang mulai dari jam 13:30-17:00, setiap harinya pekerja akan memperoleh upah sebesar Rp 60.000 sedangkan untuk pekerja yang memang bekerja hanya setengah hari akan di gaji Rp 30.000.85 sedangkan untuk pengisian polibag sistem pengupahannya dihitung berdasarkan perpolibag yang para pekerja isi, dimana setiap polibag itu dihitung Rp 1000. Sebagaimana pernyataan pendiri pondok pesantren TGH. Nasrun Mahir yang mngatakan bahwa:

89

Kami mengupah masyarakat yang bekerja untuk penanaman dan pemupukan porang sama dengan pekerja petani pada umumnya yaitu dengan upah Rp. 60.000, sedangkan untuk pengisian polibagnya kami upah berdasarkan perpolibag, yaitu kami hitung Rp. 1000/polibagnya.86

Tabel 2.5

Upah Pekerja Tanaman Porang Yayasan Pondok Pesanren Bustanul Wa’izhin NW.87

No Jenis Pekerjaan Jam Kerja Jumah Upah 1 Pengisian

Polibag

Harian 1000/polibag

2 Pemupukan Harian 60.000

3 Panen Harian 60.000

Berdasarkan pernyataan diatas dapat peneliti pahami bahwa pendiri pondok pesantren menggunakan sistem pengupah perhari untuk masyarakat yang bekerja di penenaman porang tersebut. Diaman setiap pekerja akan digaji berdasarkan jam kerjanya, jika masyarakat bekerja hanya setengah hari tentu akan memperoleh upah setengah dari upah orang yang bekerja seharian. Sedangkan untuk masyarakat yang bekerja pada pengisian polibag akan diupah berdasarkan perpolibag yang mereka isi, diamana pendiri pondok pesantren menghitung satu

86Ibid

87Ibid

polibag dengan upah Rp. 1000. Jika masyarakat dalam setengah hari mampu mengisi 30 polibag, maka akan memperoleh upah sebesar Rp. 30.000.88

Sistem pengupahan perhari yang dilakukan oleh pendiri pondok pesantren ini, karena masyarakat sangat membutuhkan pemasukan setiap harinya untuk memebuhi kebutuhan hidup keluarganya. Jika tidak begitu banyak masyarakat yang tidak mau bekerja jika tidak lansung di gaji setelah bekerja, oleh karena itu setiap selesai jam kerja maka pendiri pondok pesantren akan lansung member uah kepada pekerja sesuai dengan jumlah jam kerjanya.

Masyarakat yang terlibat sebagai pekerja pada penanaman porang ini bukan hanya satu orang saja, melainkan beda-beda orang setiap musimnya.Baik pada pengisian polibag, penanaman atau pada pemupukan.Sedangkan untuk panen pendiri pondok pesantren ini tidak melibatkan masyarakat sebagai pekerja, melainkan hanya melibatkan santriwan/ti

88TGH. Nasrun Mahir QH.S.Pd.I As-Sholaty, Wawancara,

91

untuk membantunya dalam hal pemanenan.89Oleh karena itu, masyarakat tentu dapat merasakan manfaat positif dari adanya penanaman porang ini.

Pendiri pondok pesantren mempekerjakan masyarakat yang memang tidak memiliki pekerjaan dan mau bekerja pada penanaman porang tersebut. Masyarakat yang tidak memiliki pekerjaan akan diajak untuk bekerja dan akan di upah sama dengan orang yang bekerja disawah sebagai petani tembakau dan lain sebagainya. Jadi masyarakat yang tidak pernah bekerja sebagai penanam porang disitu akan diajarkan supaya masyarakat juga dapat menambah pengalaman dan menambah wawasan dalam hal bercocok tanam. Sesuai dengan pernyataan TGH. Nasrun Mahir yang mengatakan bahwa:

Kita mengajak semua masyarakat yang memang tidak memiliki pekerjaan dan belum pernah bekerja sebagai penanam porang, dengan tujuan supaya masyarakat desa Janggawana ini mampu bersaing dalam bidang pertanian dan kami harap dapat menambah wawasan

89Ibid

masyarakat untuk lebih luas lagi dalam bidang pertanian.90

Sesuai pernyataan diatas dapat peneliti pahami bahwa sekecil apapun peluang kerja itu sangat berarti bagi kehidupan masyarakat yang memiliki penghasilan rendah.

Apaun jenis pekerjaan selagi mendatangkan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari akan dikerjakan, hal seperti inilah yang diharapkan oleh masyarakat sebagai bentuk keperdulian dari lembaga tertentu untuk mensejahterakan perekonomian masyarakat walau dengan peluang kerja yang kecil.

Berdasarkan hasil wawancara diatas peneliti dapat melihat bahwa masyarakat kecil sangat membutuhkan peluang kerja sebagai mata pencaharian mereka sehari-hari walau dengan upah yang sedikit. Hadirnya pondok pesantren Bustanul Wa’izhin NW Janggawana ini mampu membantu masalah perekonomian masyarakat dengan cara melibatkan masyarakat sekitar melalui program yang diadakan oleh

90TGH. Nasrun Mahir QH.S.Pd.I As-Sholaty (Pendiri Pondok

93

pondok pesantren. Oleh karena itu, pesantren hadir sebagai lembaga yang membawa perubahan baik pada bidang keagamaan, sosial maupun pada perekonomian masyarakat.

3. Koperasi Pesantren

Dimana dalam lingkungan pondok pesantren Bustanul Wa’izhin NW Janggawana ini, pendiri pondok pesantren bekerjasama dengan masyarakat untuk menambah pendapatan dengan cara mengajak masyarakat untuk menitipkan hasil masakakannya baik berupa gorengan, donat dan lain sebagainya kepada koperasi yang dikelola oleh pihak pondok pesantren beserta para pengurus yang ada di pondok pesantren Bustanul Wa’izhin NW Janggawana tersebut.91 Oleh karena itu banyak sekali masyarakat yang kemudian menitipkan makananyna untuk dijual dikoperasi pondok pesantren tersebut. Dalam hal ini masyarakat akan mendapatkan keuntungan dari hasil penjualannya, terlebih disini banyak sekali santriwan/ti sebagai konsumen untuk dapat meingkatkan pendapatan

91TGH. Nasrun Mahir QH.S.Pd.I As-Sholaty, Wawancara, Janggawana, Sabtu, 19 Maret 2022

masyarakat sekitar. Sesuai dengan apa yang dikatakan oleh TGH. Nasrun Mahir bahwa:

Kita bekerjasama dengan masyarakat untuk saling membantu dalam hal pendapatan melalui koperasi yang dikelola oleh pihak pesantren. Banyak masyarakat yang menitipkan jajan, gorengan, donat dan lain-lain di koperasi madrasah, kita selaku pengelola pondok pesantren ikut membantu masyarakat untuk menambah penghasilannya sehari-hari sebagai bentuk membagi-bagi rizki kepada orang lain.92

Sesuai dengan pernyataan Ibu Nining selaku masyarakat penjual jajan yang menitipkannya ke koprasi pada wawancara 2 april 2022 bahwa:

Alhamdulillah saya memanfaatkan peluang dari hadirnya pondok pesantren ini untuk menambah pendapatan saya dengan cara berjualan jajanan 1000/2000an kepada anak-anak melalui koperasi madrasah, dan untung dari penjualan itu saya gunakan untuk membeli susu, pempers dan perlengkapan anak saya yang lainnya93

Koperasi madrasah ini dikelola oleh pengurus pondok pesantren Bustanul Wa’iztin NW Janggawana yaitu Ibu Wa’izh. Dimana prosedur untuk masyarakat

92TGH. Nasrun Mahir QH.S.Pd.I As-Sholaty (Pendiri Pondok Pesantren), Wawancara, Janggawana, Sabtu, 19 Maret 2022.

95

yang ingin menitipkan jualannya dikoperasi ini yaitu dengan meminta izin terlebih dahulu kepada pemimpin yayasan atau pendiri pondok pesantren, baru kemudian akan di urus oleh pengelola koperasi madrasah.94 Koperasi madrasah ini tergolong sederhana dan tidak terlalu besar, hanya cukup untk memenuhi keperluan santriwan/i saja, oleh karena itu masyarakat yang ingin menitipkan tong gas, kmudian jajanan atau yang lain sebagainya harus meminta izin terlebih dahulu, Karen jika untuk baran- barang yang terlalu besar dan banyak pihak koprasi dan pendiri pondok pesantren tidak mampu menerimanya, karena koperasi ini tergolong koprasi yang tidak terlalu besar.

Sebelum masyarakat menitipkan jualannya dikoperasi madrasah, pendiri pondok pesantren terlebih dahulu akan menyampaikan kepada masyarakat untuk menyisihkan 1000/2000 dari hasil penjualan masyarakat kepada pondok pesantren sebagai amal atau bantuannya

94TGH. Nasrun Mahir QH.S.Pd.I As-Sholaty (Pendiri Pondok Pesantren), Wawancara, Janggawana, Sabtu, 19 Maret 2022.

Dokumen terkait