• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

F. Teknik Analisis Data

Analisis data dimaksudkan untuk mengetahui pengaruh penerapan strategi belajar aktif tipe index card match terhadap hasil belajar matematika siswa. Jika hasil belajar siswa kelas eksperimen lebih tinggi dari pada kelas kontrol maka diyakini bahwa hasil ini akibat pengaruh dari perlakuan yang diberikan.

1. Aktivitas belajar siswa

Untuk menganalisis aktivitas belajar siswa digunakan lembar observasi, melihat sikap dan kemauan siswa, data hasil observasi dianalisis dengan menggunakan rumus presentasi yang dikemukakan oleh Sudjana (2002: 125) yaitu:

P = x100% N

F

Keterangan:

P = Persentase

F = Frekuensi jawaban masing-masing item/indikator N = Jumlah skor ideal seluruh item

Kriteria untuk aktivitas positif (Sudjana, 2002: 125) adalah:

75% < P ≤ 100% : Banyak Sekali 50% < P ≤ 75% : Banyak 25% < P ≤ 50% : Sedikit 0% < P ≤ 25% : Sedikit Sekali

Kriteria untuk aktivitas negatif adalah kebalikan dari kriteria untuk aktifitas positif.

2. Hasil belajar siswa a. Uji Normalitas

Uji normalitas data kedua sampel yang digunakan adalah uji Anderson- darling dengan bantuan software Minitab. Hipotesis yang diujikan adalah:

H0 : Sampel berdistribusi normal H1: Sampel tidak berdistribusi normal

H0 diterima jika nilai P > α (taraf nyata) yaitu 0,05, dan ditolak jika sebaliknya.

b. Uji Homogenitas Variansi

Uji homogenitas variansi bertujuan untuk melihat apakah data kelas sudah mempunyai variansi sama, homogen, atau tidak. Uji ini menggunakan uji-F dengan bantuan software Minitab. Dengan hipotesis statistiknya sebagai berikut:

H0 : 12 = 22 H1 : 12 22

H0 diterima jika nilai P > α yaitu 0,05, dan ditolak jika sebaliknya.

c. Uji Hipotesis

Untuk menentukan apakah hasil belajar kelas eksperimen lebih baik dari kelas kontrol. Berdasarkan hipotesis yang dikemukakan maka dilakukan uji-t satu pihak dengan hipotesis:

H0 :

H1 :

dan adalah rata-rata dari populasi dari hasil belajar matematika kelas eksperimen dan kelas kontrol. Kriteria pengujian adalah, terima H0 jika nilai P > α (taraf nyata) yaitu 0,05, dengan df = (n1 + n2 2) untuk harga lainnya maka H0 ditolak.

BAB IV

HASIL PENELITIAN

Pada bab ini diuraikan deskripsi data, analisis data dan pembahasan hasil penelitian yang telah dilaksanakan. Data diperoleh dari instrumen yang digunakan yaitu lembar observasi, dan tes hasil belajar.

A. Deskripsi Data

Pada bagian ini akan dideskripsikan data yang diperoleh dari lembar observasi, dan tes hasil belajar. Rincian dari masing-masing data sebagai berikut:

1. Hasil Observasi Aktivitas Siswa

Data tentang aktivitas siswa diperoleh melalui lembar observasi yang diisi oleh obsever. Data hasil observasi mengenai aktivitas siswa dapat dilihat pada Tabel 8 berikut ini:

Tabel 8. Prosentase Hasil Observasi Aktivitas Siswa No Aktivitas Siswa

Pertemuan

I II III IV V

f % f % f % f % f %

1 Siswa yang berdiskusi

dengan pasangannya 22 73,3 27 93,1 26 86,7 30 100 30 100 2

Siswa yang mengajukan pertanyaan kepada pasangan lain.

3 10 6 20,6 8 26,6 9 30 10 33,3 3

Siswa yang menjawab soal yang diterimanya dari pasangan lain

3 10 5 17,2 7 23,3 9 30 10 33,3

4

Siswa yang memberikan pendapat atau pertanyaan atas jawaban teman

3 10 5 17,2 9 30 10 33,3 12 40

Jumlah siswa yang hadir 30 29 30 30 30

Berdasarkan Tabel 8, terlihat bahwa setiap indikator aktivitas siswa memiliki perkembangan yang berbeda-beda selama lima kali pertemuan. Aktivitas yang

39

mengalami peningkatan pada setiap pertemuannya adalah mengajukan pertanyaan kepada pasangan lain, menjawab soal yang diterimanya dari pasangan lain, dan memberikan pendapat atau pertanyaan atas jawaban teman. Sedangkan aktivitas yang mengalami naik turun pada setiap kali pertemuan adalah siswa yang berdiskusi dengan pasangannya, pada pertemuan III mengalami penurunan kemudian pada pertemuan IV sampai pertemuan V mengalami peningkatan. Dari hasil penelitian tidak ada aktivitas yang mengalami penurunan setiap kali pertemuan.

Aktivitas yang paling banyak dilakukan adalah siswa yang berdiskusi dengan pasangannya dengan prosentase berkisar antara 73,3% - 100%. Aktivitas yang paling sedikit dilakukan adalah siswa yang menjawab soal yang diterimanya dari pasangan lain dengan prosentase berkisar antara 10% - 33,3%.

2. Hasil Belajar Matematika Siswa

Hasil belajar matematika siswa pada kedua kelas sampel diperoleh setelah diberikan tes akhir pada materi pokok Himpunan. Soal tes akhir dapat dilihat pada Lampiran XVII. Pelaksanaan tes akhir ini diikuti oleh 30 orang siswa pada kelas eksperimen dan 30 orang siswa pada kelas kontrol. Data hasil belajar dapat dilihat pada lampiran XVIII.

Dari nilai hasil belajar matematika pada lampiran XVIII diperoleh nilai rata-rata (x), standar deviasi (S), variansi (S2), nilai tertinggi ( X maks) dan nilai terendah (X min). Hasil perhitungan tersebut dapat dilihat pada Tabel 9 berikut ini:

Tabel 9. Hasil Analisis Data Tes Akhir

Berdasarkan Tabel 9, rata-rata nilai siswa dan prosentase ketuntasan kelas eksperimen lebih baik dibandingkan kelas kontrol. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa pemahaman siswa kelas eksperimen pada pokok bahasan Himpunan lebih baik dari kelas kontrol.

B. Analisis Data

1. Aktivitas Belajar Matematika Siswa a. Siswa yang berdiskusi dengan pasangannya.

Aktivitas ini diamati setelah siswa menemukan pasangannya. Jika siswa telah menemukan pasangannya mereka duduk bersama mendiskusikan masing- masing soal yang ada dikartu mereka dan tidak memberitahukannya kepada pasangan lain.

Berdasarkan kriteria aktivitas belajar, prosentase aktivitas dapat dilihat pada Tabel 10 berikut:

Tabel 10. Prosentase Jumlah Siswa yang Melakukan Aktivitas Berdiskusi Dengan Pasangannya.

Pertemuan

Jumlah siswa yang melakukan

aktivitas

Jumlah siswa

yang hadir Prosentase Kriteria

I 22 30 73,3% Banyak

II 27 29 93,1% Banyak Sekali

III 26 30 86,1% Banyak Sekali

IV 30 30 100% Banyak Sekali

V 30 30 100% Banyak Sekali

Kelas N x S S2 X

maks X min

Prosentase siswa yang tuntas Eksperimen 30 73,26 16,23 263,59 97,7 40 60%

Kontrol 30 65,08 15,62 244,23 90,6 41,9 33,3%

Dari Tabel 10, prosentase dapat disajikan dalam bentuk gambar sebagai berikut:

Gambar 1. Prosentase Jumlah Siswa yang Melakukan Aktivitas Berdiskusi dengan Pasangannya

Berdasarkan Tabel 10 dan Gambar 1 terlihat bahwa prosentase siswa yang berdiskusi dengan pasangannya mengalami prosentase yang naik turun. Pada pertemuan pertama merupakan prosentase yang terendah untuk aktivitas ini yaitu 73,3%, meningkat pada pertemuan kedua menjadi 93,1% dan mengalami penurunan pada pertemuan ketiga menjadi 86,1%. Pada pertemuan keempat mengalami peningkatan dan stabil di 100% pada pertemuan kelima. Rata-rata prosentase aktivitas ini 90,5 % yang dikategorikan banyak sekali.

b. Siswa yang mengajukan pertanyaan kepada pasangan lain.

Aktivitas ini diamati ketika siswa selesai berdiskusi dengan pasangannya masing-masing. Siswa akan dipilih secara acak untuk megajukan pertanyaan atau memberikan tantangan kepada pasangan lain.

Berdasarkan kriteria aktivitas belajar, prosentase aktivitas dapat dilihat pada tabel 11 berikut:

0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100

I II III IV V

Pertemuan ke-

Prosentase

Tabel 11. Prosentase Jumlah Siswa yang Melakukan Aktivitas Mengajukan Pertanyaan Kepada Pasangan Lain

Pertemuan

Jumlah siswa yang melakukan

aktivitas

Jumlah siswa

yang hadir Prosentase Kriteria

I 3 30 10% Sedikit sekali

II 6 29 20,7% Sedikit sekali

III 8 30 26,7% Sedikit

IV 9 30 30% Sedikit

V 10 30 33,3% Sedikit

Dari Tabel 11, prosentase dapat disajikan dalam bentuk gambar sebagai berikut:

Gambar 2. Prosentase Jumlah Siswa yang Melakukan Aktivitas Mengajukan Pertanyaan Kepada Pasangan Lain

Berdasarkan Tabel 11 dan Gambar 2 terlihat bahwa aktivitas siswa mengajukan pertanyaan kepada pasangan lain mengalami peningkatan pada setiap pertemuan. Prosentase pada pertemuan pertama dimulai dari 10% yang merupakan prosentase terendah untuk aktivitas ini dan kemudian mencapai presentase tertinggi pada pertemuan kelima dengan 33,3%. Rata-rata prosentase aktivitas ini 24,14 % yang dikategorikan sedikit sekali.

0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100

I II III IV V

Pertemuan ke-

Prosentase

c. Siswa yang menjawab soal yang diterimanya dari pasangan lain.

Siswa yang ditunjuk secara acak harus menjawab soal yang diterimanya dari pasangan lain di papan tulis. Berdasarkan kriteria aktivitas belajar, prosentase aktivitas dapat dilihat pada tabel 12 berikut:

Tabel 12. Prosentase Jumlah Siswa yang Melakukan Aktivitas Menjawab Soal yang Diterimanya Dari Pasangan Lain

Pertemuan

Jumlah siswa yang melakukan

aktivitas

Jumlah siswa yang

hadir

Prosentase Kriteria

I 3 30 10% Sedikit sekali

II 5 29 17,2% Sedikit sekali

III 7 30 23,3% Sedikit sekali

IV 9 30 30% Sedikit

V 10 30 33,3% sedikit

Dari Tabel 12, prosentase dapat disajikan dalam bentuk gambar sebagai berikut:

Gambar 3. Persentase Jumlah Siswa yang Melakukan Aktivitas Menjawab Soal yang Diterimanya Dari Pasangan Lain

Dari Tabel 12 dan Gambar 3 terlihat bahwa prosentase aktivitas menjawab soal yang diterimanya dari pasangan lain pada pertemuan pertama hingga pertemuan kelima mengalami peningkatan. Pada pertemuan pertama merupakan

0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100

I II III IV V

Pertemuan ke-

Prosentase

prosentase yang terendah untuk aktivitas ini yaitu 10%, dan terus meningkat pada pertemuan kedua, ketiga, keempat, dan pertemuan kelima di 33,3%. Rata-rata prosentase aktivitas ini 22,78 % yang dikategorikan sedikit sekali.

d. Siswa yang memberikan pendapat atau pertanyaan atas jawaban teman.

Aktivitas ini diamati ketika siswa memberikan pendapat atau pertanyaan atas jawaban teman. Berdasarkan kriteria aktivitas belajar, prosentase aktivitas dapat dilihat pada tabel 13 berikut:

Tabel 13. Prosentase Jumlah Siswa yang Melakukan Aktivitas Memberikan Pendapat atau Pertanyaan Atas Jawaban Teman

Pertemuan

Jumlah siswa yang melakukan

aktivitas

Jumlah siswa

yang hadir Persentase Kriteria

I 3 30 10% Sedikit Sekali

II 5 29 17,2% Sedikit Sekali

III 9 30 30% Sedikit

IV 10 30 33,3% Sedikit

V 12 30 40% Sedikit

Dari Tabel 13, prosentase dapat disajikan dalam bentuk gambar sebagai berikut:

Gambar 4. Prosentase Jumlah Siswa yang Melakukan Aktivitas Memberikan Pendapat atau Pertanyaan Atas Jawaban Teman

0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100

I II III IV V

Pertemuan ke-

Prosentase

Dari Tabel 13 dan Gambar 4 terlihat bahwa prosentase aktivitas memberikan pendapat atau pertanyaan atas jawaban teman. Pada pertemuan pertama hingga pertemuan kelima mengalami peningkatan. Pada pertemuan pertama merupakan prosentase yang terendah untuk aktivitas ini yaitu 10%, dan terus meningkat pada pertemuan kedua, ketiga, keempat, dan pertemuan kelima di 33,3%. Rata-rata prosentase aktivitas ini 26,11 % yang dikategorikan sedikit.

2. Data Hasil Belajar

Untuk menarik kesimpulan tentang data hasil belajar dilakukan analisis secara statistik yaitu uji-t. Sebelum melakukan uji-t terlebih dahulu dilakukan uji normalitas dan uji homogenitas.

a. Uji Normalitas

Uji normalitas bertujuan untuk melihat apakah data sampel berdistribusi normal atau tidak. Uji yang digunakan adalah uji Anderson-darling dengan bantuan software Minitab. Dari hasil uji normalitas diperoleh nilai P = 0,073 untuk kelas eksperimen dan nilai P = 0,070 untuk kelas kontrol. Karena pada kedua kelas sampel nilai P > 0,05, maka dapat dikatakan bahwa data hasil belajar kedua kelas berdistribusi normal. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada lampiran XIX.

b. Uji Homogenitas Variansi

Uji homogenitas variansi bertujuan untuk melihat apakah data kelas sudah mempunyai variansi sama, homogen, atau tidak. Uji ini menggunakan uji-F dengan bantuan software Minitab. Dari hasil uji homogenitas variansi diperoleh nilai P = 0,839. Karena nilai P > 0,05 maka dapat dikatakan bahwa hasil belajar

matematika kelas sampel tersebut homogen. Untuk lebih dapat dilihat pada lampiran XX.

c. Uji Hipotesis

Setelah dilakukan uji normalitas dan uji homogenitas variansi, dapat dikatakan kedua sampel berdistribusi normal dan memiliki variansi yang homogen. Jadi uji hipotesis yang akan digunakan adalah uji-t dengan bantuan software Minitab. Hasil uji-t pada kedua kelas sampel dapat dilihat pada Tabel 14 dibawah ini:

Tabel 14. Hasil Uji Hipotesis Pada Selang Kepercayaan 95%

DF Nilai P taraf nyata (α)

58 0,026 0,05

Berdasarkan hasil pengujian hipotesis terhadap nilai tes akhir belajar pada selang kepercayaan 95%, diperoleh nilai P = 0,026 dengan df = 58, karena nilai P

< taraf nyata (0,05), maka maka Ho ditolak, sehingga hipotesis penelitian diterima. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa rata-rata hasil belajar matematika siswa kelas eksperimen yang mengikuti strategi belajar aktif tipe index card match lebih baik dari rata-rata hasil belajar siswa kelas kontrol yang mengikuti pembelajaran konvensional pada kelas VII SMP Negeri 2 Batang Anai tahun pelajaran 2011/1012.

C. Pembahasan

Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data dapat dipaparkan hal-hal sebagai berikut:

1. Aktivitas Belajar Matematika Siswa

a. Siswa yang berdiskusi dengan pasangannya.

Aktivitas siswa yang berdiskusi dengan pasangannya mengalami prosentase naik turun. Pada pertemuan pertama merupakan prosentase yang terendah untuk aktivitas ini, karena siswa belum terbiasa untuk berdiskusi dengan pasangannya. Pada pertemuan pertama ini, siswa mengerjakan soal- soal kartu indeks secara sendiri-sendiri dan terlihat pula adanya siswa ang tidak mau berbagi dengan pasangannya. Pada pertemuan kedua mengalami peningkatan dan terjadi penurunan aktivitas pada pertemuan ketiga. Pada pertemuan keempat dan kelima mengalami peningkatan, siswa yang lebih pandai berusaha membantu teman dalam pasangannya. Selama pembelajaran ini, siswa saling membantu dalam menyelesaikan soal yang ada di kartu indeks .

b. Siswa yang mengajukan pertanyaan kepada pasangan lain.

Pada aktivitas siswa mengajukan pertanyaan kepada pasangan lain terlihat peningkatan yang signifikan dimana prosentase peningkatan semakin bertambah dari pertemuan pertama hingga pertemuan kelima. Hampir semua siswa ingin mengajukan pertanyaan yang ada pada kartunya kepada pasangan lain. Karena keterbatasan waktu, hanya beberapa siswa yang bisa mengajukan pertanyaan.

c. Siswa yang menjawab soal yang diterimanya dari pasangan lain.

Pada aktivitas siswa soal yang diterimanya dari pasangan lain terlihat peningkatan yang signifikan. Siswa sudah mulai berani untuk menjawab soal yang diterimanya di papan tulis. Pada pertemuan pertama, pertanyaan yang dilemparkan ada 3 soal, dan siswa yang mendapatkan soal-soal tersebut berani

mengerjakan di papan tulis. Pada pertemuan kedua dan ketiga ada siswa yang tidak mau menjawab soal yang diterimanya, dengan alasan siswa tidak mengerti. Setelah diberi sangsi bagi yang tidak mau mengerjakan pertanyaan yang diterimanya di papan tulis yaitu siswa diminta berdiri di depan kelas sampai ada temannya yang mengerjakannya, maka pada pertemuan keempat dan pertemuan kelima mengalami peningkatan. Banyak siswa yang mau mengerjakan soal yang diterimanya. Aktivitas menjawab soal yang diterima dari pasangan lain merupakan rata-rata prosentase terendah.

d. Siswa yang memberikan pendapat atau pertanyaan atas jawaban teman.

Pada waktu memberikan pendapat atau pertanyaan atas jawaban teman yang ada di papan tulis, sebagian besar siswa masih terlihat hanya menyampaikan pendapat dan pertanyaan yang ingin ditanyakan pada pasangannya tanpa disampaikan pada siswa yang menjawab soal yang diterimanya.

Secara umum prosentase rata-rata aktivitas siswa setiap pertemuan cenderung meningkat walaupun ada beberapa aktivitas yang mengalami penurunan. Perubahan prosentase disebabkan oleh tingkat kesulitan materi serta kemampuan siswa yang beragam.

Berdasarkan pengamatan selama penelitian, proses pembelajaran matematika dengan strategi belajar aktif tipe index card match dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa. Aktivitas siswa tidak hanya duduk, dengar, dan mengerjakan latihan, akan tetapi sudah mampu berperan serta dalam setiap kesempatan. Siswa lebih berani untuk mengajukan pertanyaan tentang hal yang tidak mereka pahami

kepada siswa lain ataupun guru. Berdasarkan seluruh aktivitas yang terjadi dapat disimpulkan bahwa siswa dapat berperan aktif dalam pembelajaran aktif tipe index card match ini.

Kepasifan siswa ketika pembelajaran berlangsung tidak terlihat lagi setelah penerapan pembelajaran aktif ini. Pada tahap diskusi, siswa dengan aktif bertanya kepada pasangan mereka mengenai hal-hal yang tidak dipahami. Tidak ada lagi siswa yang pintar yang tidak membantu teman lainnya ketika mengerjakan soal yang pada kartu indeks, karena mereka bertanggung jawab kepada pasangannya masing-masing untuk mendapatkan nilai. Dengan demikian beberapa masalah yang ada pada latar belakang telah dapat di atasi dengan penerapan pembelajaran ini.

Diakhir pertemuan peneliti juga memberikan pertanyaan kepada siswa yakni menanyakan bagaimana tanggapan siswa terhadap strategi pembelajaran aktif tipe index card match yang sudah dilakukan selama 5 kali pertemuan, dari jawaban siswa dapat disimpulkan bahawa siswa sangat senang belajar, dengan adanya kartu indeks mereka merasa belajar sambil bermain.

2. Hasil Belajar Matematika Siswa

Berdasarkan deskripsi dan analisis data yang telah didapatkan, maka terlihat perbedaan hasil belajar matematika siswa kelas eksperimen yang diterapkan strategi pembelajaran aktif tipe index card match dengan kelas kontrol. Hasil belajar kelas eksperimen lebih baik daripada kelas kontrol, hasil belajar ini dapat dilihat dari rata-rata nilai siswa masing-masing kelas. Rata-rata kelas eksperimen yaitu 73,27 dengan skor tertinggi 97,7 dan terendah 40, sedangkan kelas kontrol

nilai rata-ratanya 65,08 dengan skor tertinggi 90,6 dan skor terendah 41,9.Dilihat dari ketuntasan belajar siswa secara individu maka diperoleh pada kelas eksperimen nilai siswa di atas Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM), yaitu sebanyak 18 siswa. Pada kelas kontrol siswa yang tuntas sebanyak 10 orang.

Strategi belajar aktif tipe index card match dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa, karena dalam pembelajaran ini siswa dilibatkan langsung dalam pembelajaran sehingga pembelajaran lebih bermakna bagi siswa. Pada pembelajaran aktif tipe ICM siswa terlibat aktif dalam pembelajaran. Siswa berdiskusi dengan pasangannya dan berdiskusi lagi dengan siswa lainnya setelah diminta kepada pasangan lain untuk menjawab pertanyaan yang dilemparkannya di depan kelas. Melalui diskusi dapat terjalin komunikasi yang baik antar siswa.

Siswa saling berbagi informasi dan mengungkapkan pendapat mereka di kelas.

Aktivitas ini membuat siswa lebih mudah memahami konsep materi yang dipelajari. Sehingga semakin aktif siswa berbagi informasi maka semakin bagus pemahaman konsep siswa dan hasil belajar siswa juga akan semakin meningkat.

3. Kendala yang Dihadapi

Selama penelitian berlangsung terdapat beberapa kendala yang ditemui dalam pelaksanaan proses pembelajaran yaitu pada pertemuan pertama siswa mengalami kesulitan dalam mencari pasangannya. Diperlukan waktu yang lama untuk menunggu siswa mencari pasangannya dan mengatur tempat duduknya. Padahal sudah diberitahu sebelumnya memgenai tata cara mencari pasangannya. Kesulitan lainnya adalah dalam mengontrol kelas dan menanggapi pertanyaan siswa pada saat mereka membuat penyelesaian soal yang ada pada kartu indeks. Kendala lain

yang ditemui yaitu pada proses pembelajaran matematika yang dilaksanakan pada jam terakhir siswa terlihat kurang bersemangat. Soal yang bisa dibahas pada pertemuan pertama hanya sedikit.

Agar kendala yang terjadi pada pertemuan pertama tidak terjadi lagi maka dilakukan beberapa hal antara lain membimbing dan mengamati siswa dalam membuat penyelesaian soal. Kendala siswa dalam mencari pasangannya diatasi dengan menjelaskan prosedur pelaksanaan tipe ICM secara rinci agar mereka tidak kebingungan. Tulisan pada kartu indeks lebih diperjelas dan gambar pada kartu indeks lebih diperbesar. Sehingga kendala mencari kartu pasangan pada pertemuan pertama tidak terjadi lagi. Maka pada pertemuan kedua, ketiga, keempat, dan kelima mereka lebih mudah mencari kartu pasangannya dan hanya membutuhkan waktu paling banyak 4 menit. Karena kendala mencari kartu pasangan sudah teratasi, maka soal yang dibahas pada pertemuan kedua sampai pertemuan kelima menjadi lebih banyak dari pada petemuan pertama.

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, dapat diambil kesimpulan:

1. Selama diterapkan strategi belajar aktif tipe index card match aktivitas siswa dalam pembelajaran Matematika di kelas VII SMPN 2 Batang Anai menunjukkan bahwa tidak semua aktivitas siswa mengalami peningkatan dari setiap pertemuan, tetapi tidak ada aktivitas siswa yang cenderung menurun.

2. Hasil belajar matematika siswa dengan menerapkan strategi belajar aktif tipe index card match lebih baik dari hasil belajar siswa dengan menggunakan pembelajaran konvensional.

B. Saran

Berdasarkan kesimpulan diatas, maka disarankan hal-hal berikut:

1. Bagi guru dan peneliti lain yang ingin menerapkan strategi belajar aktif tipe ICM agar jangan berlama-lama di waktu siswa mencari pasangannya. Karena akan mengakibatkan waktu untuk membahas soal-soal yang ada pada kartu menjadi berkurang, sehingga pertanyaan yang ada pada kartu hanya sedikit yang bisa dibahas.

2. Bagi peneliti lain yang akan membuat kartu indeks agar memperhatikan tulisan dan gambar pada kartu. Tulisan pada kartu lebih diperjelas dan gambar pada kartu lebih diperbesar, sehingga siswa lebih mudah dalam mencari kartu pasangannya.

53

DAFTAR KEPUSTAKAAN

Doantara Yasa. (2008). Pembelajaran Konvensional.

http://ipotes.wordpress.com/2008/05/14/pembelajaran-konvensional. (di akses tanggal 1 Oktober 2011)

Erman Suherman. (2003). Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Edisi Revisi. Bandung: JICA. UPI Bandung.

Euis Kurniawati. (2009). Komparasi Strategi Pembelajaran.

http://myaghnee.Blogspot.com/komparasi-strategi-pembelajaran. (Diakses pada tanggal 30 Maret 2012)

Liza Afriani. (2006). Studi Tentang Pembelajaran Matematika yang Menggunakan Metode Belajar Aktif Tipe Index Card Match (ICM) Pada Siswa Kelas VII SMP Negeri Bonjol Tahun Pelajaran 2005/2006. Skripsi.

Padang: UNP.

Nana Sudjana. (2002). Dasar Proses Belajar Mengajar.Bandung: Sinar Baru Algesindo.

. (2002). Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung:

PT. Remaja Rosda Karya.

Pratiknyo Prawironegoro. (1985). Evaluasi Belajar Khusus Analisa Soal untuk Bidang Studi Matematika. Jakarta: CV. Fortuna.

Sardiman. (2001). Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Silberman, Melvin L. (2006). Active Learning. 101 Cara Belajar Siswa Aktif.

(Raisul Muttaqin. Terjemahan. rev. Ed). Bandung: Nusamedia dan Nuansa.

Buku asli diterbitkan tahun 1996.

Slameto. (1988). Evaluasi Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara Sudjana. (2005). Metode Statistika. Bandung: Tarsito.

54

Suharni. (2008). “Penerapan Strategi Belajar Aktif Tipe Index Card Match (ICM) dalam Pembelajaran Matematika XI IA SMA Negeri 4 Solok Tahun Pelajaran 2007-2008”. Skripsi. UNP.

Suharsimi Arikunto. (2002). Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

. (2002). Prosedur penelitian. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Sumadi Suryabrata. (2006). Metodologi Penelitian. Jakarta: Raja Grafindo Persada

Tim Penulis. 2009. Buku Panduan Penulisan Tugas Akhir/ Skripsi Universitas Negeri Padang. Padang: UNP

Lampiran I

Nilai Ujian Semester 1 Matematika

Siswa Kelas VII SMPN 2 Batang Anai Tahun Pelajaran 2011/2012

No Kelas

VII.1 VII.2 VII.3 VII.4 VII.5 VII.6

1 67.5 82.5 80 60 50 85

2 82.5 77.5 55 55 50 60

3 65 52.5 65 55 72.5 87.5

4 70 52.5 47.5 60 65 55

5 75 60 62.5 70 60 50

6 75 70 70 70 90 65

7 85 65 57.5 75 62.5 72.5

8 67.5 60 65 80 60 75

9 65 52.5 45 72.5 85 52.5

10 65 57.5 70 47.5 85 52.5

11 50 70 60 80 70 65

12 55 70 80 75 65 67.5

13 67.5 70 80 72.5 80 60

14 67.5 75 77.5 62.5 45 80

15 87.5 62.5 80 82.5 67.5 85

16 52.5 85 50 85 67.5 60

17 55 75 62.5 62.5 52.5 45

18 62.5 72.5 62.5 67.5 45 55

19 67.5 70 67.5 50 75 77.5

20 72.5 72.5 70 50 70 67.5

21 87.5 80 52.5 67.5 87.5 45

22 62.5 75 77.5 85 47.5 47.5

23 65 67.5 72.5 65 65 50

24 60 77.5 77.5 65 40 60

25 62.5 85 80 42.5 42.5 80

26 62.5 72.5 72.5 60 65 67.2

27 50 67.5 82.5 85 55 75

28 52.5 57.5 47.5 52.5 65 45

29 75 85 67.5 70 70 42.5

30 85 50 72.5 70 50 42.5

31 62.5 80 70

32 60 75

Lampiran II

Uji Normalitas Kelas VII.1 –VII.6 SMPN 2 Batang Anai

VII 1

Percent

90 80

70 60

50 40

99

95 90 80 70 60 50 40 30 20 10 5

1

Mean

0.091 66.88 StDev 10.57

N 32

AD 0.632

P-Value

Probability Plot of VII 1 Normal

Kelas VII 2

Percent

90 80

70 60

50 40

99

95 90 80 70 60 50 40 30 20 10 5

1

Mean

0.304 69 StDev 10.23

N 30

AD 0.421

P-Value

Probability Plot of Kelas VII 2 Normal

Kelas VII 3

Percent

100 90

80 70

60 50

40

99

95 90 80 70 60 50 40 30 20 10 5

1

Mean

0.106 67 StDev 11.19

N 30

AD 0.604

P-Value

Probability Plot of Kelas VII 3 Normal

VII.4

Percent

100 90

80 70

60 50

40

99

95 90 80 70 60 50 40 30 20 10 5

1

Mean

0.757 66.5 StDev 11.77

N 30

AD 0.240

P-Value

Probability Plot of VII.4 Normal

VII 5

Percent

100 90

80 70

60 50

40 30

99

95 90 80 70 60 50 40 30 20 10 5

1

Mean

0.481 64.38 StDev 13.84

N 32

AD 0.338

P-Value

Probability Plot of VII 5 Normal

VII 6

Percent

100 90

80 70

60 50

40 30

99

95 90 80 70 60 50 40 30 20 10 5

1

Mean

0.334 62.65 StDev 13.69

N 31

AD 0.405

P-Value

Probability Plot of VII 6 Normal

Dokumen terkait