BAGIAN 1-1
Kelimpahan Sumberdaya Hutan di Sekitar Desa Baru Pelepat
Novasyurahati dan Endah Sulistyawati
28 Belajar dari Bungo
Mengelola Sumberdaya Alam di Era Desentralisasi
Bujang, warga Dusun Lubuk Beringin, membutuhkan waktu seminggu untuk membalak kayu di hutan sekitar Desa Baru Pelepat. Dua tahun lalu, ia hanya menghabiskan empat hari. Selisih tiga hari terjadi karena ia harus berjalan lebih jauh ke dalam hutan. Kuris, Kepala Dusun Lubuk Pekan, mengaku kesulitan menemukan tumbuhan obat. Begitu pula ibu-ibu mengeluh sulit mendapatkan buah-buahan musiman.
Itu menggambarkan kelimpahan kekayaan alam di Baru Pelepat memang menurun.
Padahal masyarakat Desa Baru Pelepat masih bergantung pada sumberdaya hutan.
Kampung ini semula memiliki lebih dari 500 jenis tanaman, dan 300-an diantaranya dimanfaatkan untuk pangan, obat-obatan, dan bahan bangunan. Sebagian besar masyarakat di Dusun Lubuk Pekan mengenali sekitar 312 jenis tumbuhan dan manfaatnya. Dari jumlah itu, 115 jenis sebagai sumber makanan, 118 jenis obat- obatan dan 79 jenis bahan bangunan. Namun hanya 44 jenis dari jumlah tersebut yang ditemukan di lahan sekitar permukiman (Kotak 1).
KeTeRSeDIAAn TUmbUhAn SUmbeRDAyA
Sebagai masyarakat tradisional yang masih menjalankan sistem pertanian ladang berpindah, masyarakat Desa Baru Pelepat mengenal empat jenis lahan yang terdapat di hutan sekitar mereka, yaitu: ladang, sesap muda, sesap tua dan hutan.
Ladang sengaja dibuat oleh masyarakat dengan membuka hutan. Sementara itu, sesap muda, sesap tua dan hutan terbentuk karena proses suksesi setelah ladang ditinggalkan (diberakan).
Tumbuhan yang dibutuhkan masyarakat (selanjutnya digunakan istilah “tumbuhan sumberdaya”) tersedia di keempat jenis lahan tersebut, terutama tumbuhan obat dan bahan bangunan. Tumbuhan yang terdapat di ladang umumnya sengaja ditanam. Sementara tumbuhan yang diambil dan digunakan dari sesap muda, sesap tua dan hutan tumbuh secara alami melalui proses suksesi, dan menimbulkan keragaman vegetasi di lahan-lahan tersebut.
Ladang merupakan tempat pengambilan tumbuhan pangan utama bagi masyarakat.
Selain ditanami padi, ladang juga ditanami sayur, buah-buahan, rempah-rempah, dan karet. Dalam ladang juga terdapat tumbuhan obat dan anakan tumbuhan kayu yang tidak sengaja ditanam, namun bermanfaat bagi masyarakat, seperti
29 BAGIAN 1-1 • Novasyurahati dan Endah Sulistyawati
Kotak 1. Jumlah jenis sumberdaya yang dibutuhkan, dibandingkan dengan jumlah yang ditemukan
Wawancara dengan 12 responden penduduk dari Dusun Lubuk Pekan mencatat 312 jenis tumbuhan yang digunakan sebagai makanan, obat-obatan atau bahan bangunan. Dari jumlah tersebut hanya 44 jenis yang ditemukan di lahan sekitar permukiman (beberapa jenis di antaranya memiliki kegunaan lebih dari satu).
Gambaran mengenai perbandingan jumlah jenis tumbuhan yang digunakan dan yang ditemukan di lahan dapat dilihat pada Gambar 1.
Gambar 1. Perbandingan jumlah jenis tumbuhan yang digunakan dan yang ditemukan di sekitar permukiman
14 13 25
115 117 79
0 20 40 60 10080 120140
Makanan Obat Bahan bangunan
Kategori Kegunaan
Jumlah Spesies
Digunakan, namun tidak ditemukan di sekitar permukiman Digunakan dan ditemukan di sekitar permukiman
Sebagian besar hasil panen dari ladang, seperti padi dan sayuran, digunakan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Sebagian lainnya, terutama buah-buahan dan bumbu dapur, dijual di warung maupun di pasar.
Secara sepintas, sesap muda atau lahan belukar yang terbentuk setelah ladang diberakan selama 1 hingga 3 tahun tampak seperti lahan yang tidak berguna.
Namun sesungguhnya menawarkan manfaat yang besar bagi masyarakat.
Meskipun jenis tumbuhan yang terdapat di lahan ini paling sedikit, persentase jenis tumbuhan obat yang terdapat di sesap muda, paling banyak dibandingkan kumpai (Paspalum conjugatum Berg.), tubo seluang (Ludwigia parvifolia Ridl.) dan capo (Blumea lacera Bl.).
30 Belajar dari Bungo
Mengelola Sumberdaya Alam di Era Desentralisasi
di lahan lain. Selain itu, di sesap muda juga terdapat banyak anakan pohon yang penting untuk regenerasi tumbuhan kayu di masa mendatang.
Berbeda dengan sesap muda, dalam sesap tua atau belukar yang terbentuk setelah ladang diberakan lebih dari 3 tahun ini terdapat lebih banyak variasi jenis tumbuhan. Masyarakat kerap menggunakan sesap tua sebagai tempat pengambilan buah-buahan hasil pohon dan juga kayu untuk bahan bangunan. Dalam sesap tua juga terdapat jenis-jenis tumbuhan obat yang berbeda dengan sesap muda.
Masyarakat menilai sesap tua sebagai lahan yang cukup penting. Di lahan ini pohon karet yang ditanam umumnya telah berusia 5 hingga 6 tahun usia yang baik untuk mulai menyadap getah karet.
Hutan memiliki jenis tumbuhan penghasil kayu terbanyak dibanding lahan-lahan lain di Baru Pelepat (Novasyurahati, 2006). Sebagian di antaranya merupakan jenis yang bernilai ekonomi tinggi, seperti meranti merah (Shorea parvifolia Dyer.), medang senduk (Endospermum didenum A. Shaw.), mersawa (Anisoptera marginata Korth.), atau kawang kunyit (Shorea mulitiflora Sym.). Jenis-jenis tersebut adalah kayu komersil umum yang bernilai tinggi (Kochummen et al., 1994, America et al., 1994 dan Johns et al., 1994).
Masyarakat menilai, selain sebagai penghasil kayu, hutan juga merupakan habitat satwa dan pengatur fungsi hidrologis. Bujang pun, yang dulunya seorang pembalak, mengaku hasil kegiatan membalak sesungguhnya tidak sebanding dengan usaha yang dikeluarkan dan dampak buruk yang menimpa desa apabila hutan habis.
Menurutnya, satwa dalam hutan yang kehilangan tempat tinggal dan sumber makanan, akan menyerang ladang. Saat hujan turun deras, air Sungai Batang Pelepat meluap dan dapat menimbulkan banjir.
Selain di keempat jenis lahan tersebut, masyarakat juga memanfaatkan lahan yang ada di pekarangan rumah mereka untuk ditanami tumbuhan-tumbuhan yang bermanfaat. Karena itu, halaman rumah memegang peranan yang cukup penting untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat.
Sebagai contoh, Abdullah warga Dusun Lubuk Pekan, seringkali terlihat melewati jalan utama desa dengan motornya yang bermuatan penuh buah-buahan hasil kebunnya di halaman rumah. Di lahan seluas 25 x 35 m2 itu Abdullah menanam pisang lidi, salak, kopi, durian, duku, karet, dan beberapa jenis tumbuhan obat.
Tak jauh dari rumah Abdullah, tinggal Pak Tamim yang dikenal sebagai dukun obat tertua di desa. Halaman rumah Pak Tamim tidak seluas halaman Abdullah,
31 BAGIAN 1-1 • Novasyurahati dan Endah Sulistyawati
Kotak 2. Gambaran tumbuhan sumberdaya di beberapa tipe lahan
Empat jenis lahan di sekitar masyarakat (ladang, sesap muda, sesap tua dan hutan) memiliki variasi jenis tumbuhan yang dimanfaatkan oleh masyarakat. Karena itu, masyarakat memiliki ketergantungan yang berbeda pada tiap jenis lahan, sesuai dengan kebutuhannya (Gambar 2).
Gambar 2. Gambaran ketersediaan tumbuhan sumberdaya di empat tipe lahan sekitar permukiman
Tipe Lahan
Prosentase Jumlah Jenis
Makanan Obat Bahan bangunan