• Tidak ada hasil yang ditemukan

SeJARAh pemeRInTAhAnRIO 7

Dalam dokumen BELAJAR DARI BUNGO - Multisite ITB (Halaman 168-172)

Istilah pemerintahan Rio mengacu pada pemerintahan suatu wilayah yang disebut dusun atau setara dengan wilayah desa pada saat ini. Pimpinan dusun disebut dengan Rio, dan dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya, dibantu oleh sekretaris Rio dan stafnya.

Sebelum Pemerintahan Belanda berkuasa penuh pada 1906, daerah Muara Bungo yang sekarang disebut Kabupaten Bungo diperintah oleh seorang Pangeran yang bergelar ’Pangeran Anom‘ yang berkedudukan di Balai Panjang Tanah Periuk.

Pangeran Anom tersebut disamakan dengan Wakil Rajo atas Surat Perintah (ketetapan) dari Sultan Jambi. Karena kedudukannya, Pangeran Anom diberi sebutan sebagai ’Lantak Nan Tak Goyah‘.

Kekuasaan Pangeran Anom membawahi beberapa negeri yang disebut Bathin, seperti Bathin Batang Bungo, Bathin Jujuhan, Bathin Batang Tebo dan Bathin Batang Pelepat. Daerah Bathin membawahi beberapa dusun yang kepala pemerintahannya disebut Rio8 (Tabel 13). Di daerah Senamat dan Pelepat, penguasa kampung disebut juga dengan istilah Rio, kecuali di Dusun Candi penguasa kampung disebut dengan Temenggung Kitik dan Seri Tenuah.

Dari sejarah tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa istilah Rio lebih banyak digunakan oleh dusun pada waktu itu. Pada 1926, setelah Kesultanan Jambi dikuasai sepenuhnya oleh Belanda, wilayah yang ada di Muara Bungo dibagi lagi ke dalam wilayah-wilayah yang disebut dengan Marga. Marga ini membawahi beberapa Dusun. Jika dilihat dari struktur kekuasaannya, marga hampir sama dengan sistem pemerintahan Nagari di Sumatera Barat yang membawahi beberapa Jorong (Dusun). Pemerintahan Marga ini dikepalai oleh seorang yang disebut Pasirah (Tabel 14).

7 Berdasarkan wawancara dengan Ketua Lembaga Adat Kabupaten Bungo, Datuk Mahmud 8 Kecuali untuk Bathin Tanah Tumbuh, kepala dusunnya bergelar Patih

141 BAGIAN 2-5 Umar Hasan, Deddy Irawan dan Heru Komarudin

tabel 13. Dusun-dusun yang bergelar Rio

Rio Dusun

Rio Pamuncak Rantau Ikil

Rio Setio Buat

Rio Anom Tanah Periuk

Rio Igo dan Debalang Lubuk Mengkuang

Rio Suko Lamo Teluk Kecimbung

Rio Muko muko Tanjung Agung

Rio Kunci Dusun Rambah

Rio Ali Pedukun

Rio Songgam Tanjung

Rio Suko Brajo Sikarak

Rio Pasak Kancing Rantau Pandan

Rio Pusat Jalo Baru

Rio Indra Cayo atau Rajo Penghulu Empelu

Rio Mudo Lubuk Landai

Rio Peniti Ulu Bungo Kampung Baru

tabel 14. Pasirah di wilayah Adat Bungo dengan masing-masing ibu negerinya

Marga Ibu Negeri

Jujuhan Rantau Ikil

Bilangan V dan VII Tanah Tumbuh

Tanah Sepenggal Lubuk Landai

Bathin III Ilir Muara Bungo

Bathin II Babeko

Bathin VII Rantau Pandan

Bathin III Ulu Muara Buat

Pelepat Rantau Keloyang

Walaupun wilayah Adat Bungo terdiri dari beberapa marga, namun pemerintahan Rio masih tetap dipertahankan, karena struktur Rio berada di bawah Marga. Dusun terdiri dari kampung-kampung yang dikepalai oleh seorang kepala kampung.

Pembagian wilayah menjadi kampung didasarkan pertimbangan jumlah penduduk

142 Belajar dari Bungo

Mengelola Sumberdaya Alam di Era Desentralisasi

dan kesepakatan. Dalam menjalankan tugasnya, Rio dibantu oleh seorang Wakil Rio yang disebut ’Mangku‘ seperti di Dusun Teluk Pandak, namun ada juga yang menyebutnya Patih.

SUSUnAn pemeRInTAhAn RIO : SebUAh USUlAn

Jika dibandingkan dengan sistem pemerintahan desa yang ada saat ini, sistem pemerintahan Rio9 mempunyai nilai lebih (Tabel 15). Dalam konteks pemerintahan Rio yang diusulkan, istilah ‘desa’ yang sekarang berlaku diusulkan diubah menjadi

‘dusun’.

Sekalipun pemerintahan Rio tampak terlihat memiliki nilai-nilai lebih dibandingkan dengan pemerintahan desa, tetapi tentu saja tidak menjamin bahwa dengan kembali pada sistem pemerintahan adat akan mendorong pemerintahan lebih baik dan efektif. Apalagi jika kita lihat kondisi masyarakat desa saat ini yang sudah sangat berbeda dengan masa lalu. Dalam beberapa faktor, pemerintahan Rio juga mempunyai kelemahan. Dengan kondisi masyarakat saat ini, maka seorang pemimpin tidak cukup hanya mengandalkan segi karismatik saja, tetapi juga harus punya kemampuan teknis dan kompetensi yang diperoleh melalui pendidikan (baik formal maupun non formal). Generasi muda yang saat ini menjadi komponen masyarakat yang cukup dominan di hampir setiap desa hanya mempunyai pengetahuan yang minim tentang adat dan pemerintahan Rio. Mereka hanya mengetahui sejarah adat berdasarkan cerita saja. Muncul pertanyaan ”Sejauh mana pemerintahan tradisional dapat kembali berjalan sesuai dengan yang diharapkan jika tidak seluruh komponen masyarakat mempunyai pemahaman yang cukup?”. Selain itu, tanpa disertai mekanisme check dan balance, masa jabatan Rio yang tanpa batas dan tergantung pada keinginan masyarakat berpotensi melanggengkan kekuasaan yang cenderung otoriter.

Dengan memahami sepenuhnya bahwa globalisasi dan modernisasi adalah sebuah keniscayaan dan arus perubahan menjadi suatu yang tidak bisa dibendung, pemberlakuan kembali sistem pemerintahan Rio dianggap berperan di dalam menyaring pengaruh-pengaruh yang negatif terhadap adat dan budaya setempat.

Seiring dengan keinginan masyarakat yang menginginkan kembali berlakunya sistem Rio, pemerintah daerah perlu menyediakan payung hukum dan wadah kelembagaan yang akan mendorong berjalannya pemerintahan.

9 Berdasarkan hasil wawancara dengan berbagai pihak terkait, misalnya dengan Ketua Lembaga Adat Kabupaten Bungo, Datuk H. Mahmud dan beberapa tokoh-tokoh masyarakat seperti alim ulama, cerdik pandai di Kabupaten Bungo.

143 BAGIAN 2-5 Umar Hasan, Deddy Irawan dan Heru Komarudin

tabel 15. Perbandingan antara sistem pemerintahan desa dengan Rio

Sistem Pemerintahan Desa Sistem Pemerintahan Rio Kepala Desa dipilih berdasarkan konspirasi

politik kelompok tertentu (cenderung dilakukan secara voting)

Rio dipilih atas dasar musyawarah dan mufakat masyarakat banyak

Terikat pada pendidikan formal (minimal

SMP) Tidak terikat pada pendidikan formal

Tidak mutlak melihat asal usul keturunan

serta perilaku dalam masyarakat Mutlak melihat asal usul keturunan dan perilaku dalam masyarakat (mutlak dari keturunan baik-baik dan terhormat) Waktunya terbatas (maksimal 2 kali jabatan

dalam periode 10 tahun) Waktunya tidak terbatas (sepanjang masyarakat menghendaki)

Berbagai kasus menunjukkan adanya kelemahan dalam sistem pemerintah desa saat ini, terkait dengan sejauh mana tanggung jawab, sistem dan aparatnya memberikan pengayoman kepada masyarakat. Sistem pemerintahan Rio cenderung lebih disegani dan dihormati. Keamanan dan ketertiban masyarakat juga lebih terjamin di bawah sistem pemerintahan Rio.

Dengan berpedoman pada peraturan perundangan10, struktur organisasi Pemerintahan Rio di Kabupaten Bungo yang diusulkan terdiri dari (1) Pemimpin dengan sebutan Rio, Sekretaris Rio atau nama lain serta beberapa Kepala Urusan (Kaur) yang terdiri dari Kaur Pemerintahan, Kaur Pembangunan dan Kaur Umum (Gambar 16). Dari struktur tersebut tampak bahwa sekretaris Rio mempunyai kewenangan cukup besar membawahi beberapa kepala urusan secara langsung dibandingkan Rio. Berdasarkan sejarahnya, yang memegang posisi Rio adalah seseorang yang dihormati dan dipilih lebih karena alasan karismatik.

Sementara fungsi pengendali berada pada Sekretaris (atau disebut juga Mangku) yang mempunyai kemampuan teknis dan relatif berpendidikan. Dengan usulan struktur seperti ini, diharapkan secara bertahap akan ada keterpaduan antara Rio dan sekretaris Rio dalam hal kemampuan dan kedudukannya.

Untuk membantu Pemerintahan Rio, perlu dibentuk lembaga kemasyarakatan sesuai dengan yang dimaksud dalam pasal 21111. Lembaga tersebut berperan sebagai mitra dalam memberdayakan masyarakat desa dan bisa berbentuk Badan Permusyawaratan Dusun (BPD) dan lembaga-lembaga lainnya.

10 Pasal 202 UU No.32/2004 yang menyatakan bahwa Pemerintah desa terdiri atas kepala desa dan perangkat desa (sekretaris desa dan perangkat desa lainnya). Sekretaris desa diisi dari pegawai negeri sipil yang memenuhi persyaratan. Selain pasal tersebut, juga diacu pasal 4 Peraturan Daerah Kabupaten Bungo No.19/2000 tentang Organisasi Pemerintahan Desa.

11 Pasal 211 UU No.32/2004 menyatakan bahwa di desa dapat dibentuk lembaga kemasyarakatan yang bertugas membantu pemerintah desa dan merupakan mitra dalam memberdayakan masyarakat desa.

144 Belajar dari Bungo

Mengelola Sumberdaya Alam di Era Desentralisasi

Waktu kerja kantor juga diusulkan disesuaikan dengan kantor pemerintahan lainnya, yakni dari Senin sampai Kamis dengan jam buka dari pukul 07.15 sampai 14.00, Hari Jumat dari pukul 07.15 sampai 11.00 dan Hari Sabtu dari 07.15 sampai 13.00. Sesuai dengan yang diatur dalam pasal 202, Sekretaris Rio diangkat dari pegawai negeri dengan tujuan agar pelayanan terhadap masyarakat bisa dilakukan setiap hari kerja. Sejalan dengan arahan Menteri Dalam Negeri tentang perlunya pemberdayaan masyarakat12, sekretaris desa/dusun diangkat secara bertahap sebagai pegawai negeri. Pengalaman dari Sumatera Barat menunjukkan bahwa Sekretaris Wali Nagari yang diangkat dari pegawai negeri terbukti cukup efektif. Di Kabupaten Tanah Datar, bahkan terdapat 3 orang staf Wali Nagari yang berstatus sebagai pegawai negeri.

Dalam dokumen BELAJAR DARI BUNGO - Multisite ITB (Halaman 168-172)

Dokumen terkait