• Tidak ada hasil yang ditemukan

Praktik Jual Beli Mystery box Di E-commerce Dalam Islam

BAB IV ANALISIS JUAL BELI MYSTERY BOX DI E-COMMERCE

A. Praktik Jual Beli Mystery box Di E-commerce Dalam Islam

Dalam hukum Islam, jual beli yang dibenarkan adalah jual beli yang seluruh rukun dan syarat jual belinya terpenuhi, atau bisa dikatakan jual belinya sesuai dengan hukum syariat Islam.107

Para ulama berbeda pendapat mengenai rukun jual beli. Menurut ulama Hanafiyah, Rukun jual beli hanya ijab dan qabul. Berarti menurut mereka, yang menjadi rukun dalam jual beli itu hanyalah kerelaan kedua belah pihak untuk melakukan transaksi jual beli. Indikasi yang menunjukkan kerelaan kedua belah pihak yang melakukan transaksi, dapat tergambar dalam ijab dan qabul, atau melalui cara saling memberikan barang dan harga barang. Sedangkan menurut jumhur ulama, rukun jual beli terdiri dari:108

1. Orang yang berakad.

2. Lafaz ijab dan qabul (sighat).

3. Obyek jual beli, yang terdiri dari barang yang diperjualbelikan, dan harga barang.

4. Nilai tukar (harga barang) hendaknya merupakan harga yang disepakati kedua belah pihak.

107 Puteri Asyifa Octavia Apandy dkk, “Pentingnya Hukum Perlindungan Konsumen Dalam Jual Beli”, Jurnal Manajemen dan Bisnis, 3, 1, (Juli, 2021),. 14.

108 Ah. Azharuddin Lathif, Fiqh Muamalat, (Jakarta: UIN Jakarta Press, 2005, Cet.

Pertama), 101.

80

Syarat bagi orang yang melakukan akad adalah berakal, baligh, atas kehendak sendiri, dan tidak pemboros. Oleh karena itu, baik laki-laki maupun perempuan selama terpenuhi syarat tersebut, ia berhak melakukan jual beli tanpa ada seorangpun yang boleh menghalanginya, termasuk wali maupun suaminya.109

Dalam hasil wawancara yang dilakukan peneliti bahwa pembeli mystery box di ketiga e-commerce termasuk orang yang sudah baligh karena umur mereka diatas dari 17 tahun dan tidak memiliki gangguan kejiwaan.

Selain itu, pada sisi penjual, ketika melakukan pendaftaran toko pada e- commerce Tokopedia, Shopee, dan Bukalapak penjual harus menyertakan foto KTP (Kartu Tanda Penduduk) untuk mendapatkan verifikasi toko. Sehingga, dapat dikatakan pula bahwa penjual mystery box di Tokopedia merupakan orang yang telah berusia di atas 17 tahun Sehingga dalam hal ini tidak ditemukan masalah.

Selanjutnya dalam ijab dan qabul tidak ada keharusan untuk menggunakan kata-kata khusus, karena keten tuan hukumnya ada pada akad dengan tujuan dan makna, bukan dengan kata-kata dan bentuk kata-kata itu sendiri. Yang diperlukan adalah saling rela yang direalisasikan dalam bentuk mengambil dan memberi atau cara lain yang dapat menunjukkan keridhoan dan berdasarkan makna pemilikan dan mempermilikkan. Syarat yang terkait dengan ijab qabul : Orang yang mengucapkannya telah baligh dan berakal, Qabul sesuai dengan ijab. Ijab dan qabul dilakukan dalam satu majelis.

109 Ah. Azharuddin Lathif, Fiqh Muamalat, 101-102.

Dalam praktik jual beli mystery box ini penjual dan pembeli tidak bertemu secara langsung, namun hal ini tidak menghalangi proses s>>}ighat, sebab ijab penjual disini dinyatakan dalam bentuk deskripsi produk yang dijual, dan

qabul pembeli dinyatakan melalui kesediaan membaca deskripsi produk

tersebut dan tetap melanjutkan pembelian barang dan mengirimkan pembayaran melalui penjual. Jika pembeli paham akan ketentuan pembelian yang diberikan oleh penjual dan menyetujuinya, maka proses ijab qabul tersebut telah dilaksanakan karena telah memenuhi kesepakatan antara pihak penjual dan pembeli.

Pada ketiga toko yang ada di e-commerce memberikan informasi terkait produk yang mereka jual secara jelas, dimana pada toko tersebut tertulis bahwa mereka menjual produk mystery Box. Sehingga, pembeli dapat mengetahui dan memutuskan untuk lanjut membeli atau tidak. Jadi, apabila pembeli setuju dan memutuskan untuk membeli produk tersebut maka telah terjadi kesepakatan antara kedua belak pihak.

Kemudian barang yang diperjualbelikan disyaratkan suci (bersihnya barang), dapat dimanfaatkan dan bermanfaat bagi manusia. Oleh sebab itu, bangkai, khamr, dan benda-benda haram lainnya, tidak sah menjadi obyek jual beli, karena benda-benda tersebut tidak bermanfaat bagi manusia dalam pandangan syara'. Selanjutnya, barang tersebut milik seseorang yang

82

melakukan akad, dapat diserahkan pada saat akad berlangsung atau pada waktu yang telah disepakati bersama ketika akad berlangsung.110

Dalam transaksi online, pembeli dapat melihat barang atau jasa yang ditawarkan pada aplikasi, namun obyek tersebut tidak bisa seketika diperoleh karena harus menunggu dikirim oleh pihak penjual. Lamanya masa pengiriman tergantung dari lokasi (tempat tinggal atau kantor) pembeli dan pemilihan jasa kurir dalam pengiriman. Disamping itu pembeli tidak dapat langsung memeriksa kondisi barang yang akan ia beli, apakah sesuai dengan spesifikasi yang telah dicantumkan di toko online nya, apakah ada cacatnya atau tidak.111

Seperti yang juga telah dijelaskan sebelumnya, bahwa dalam praktik jual beli mystery box tidak memiliki kepastian terkait barang apa yang akan diterima oleh konsumen. Berdasarkan hasil observasi penulis terhadap toko yang ada di e-commerce Tokopedia, Shopee, dan Bukalapak tidak memberikan informasi secara jelas dan rinci mengenai daftar objek/barang yang mungkin diterima oleh pembeli/konsumen.

Secara operasional, kedua belah pihak dalam transaksi yang tidak memiliki kepastian terhadap barang yang menjadi objek transaksi baik terkait kualitas, kuantitas, harga dan waktu penyerahan barang sehingga pihak kedua

110 Ah. Azharuddin Lathif, Fiqh Muamalat,102

111Retno Dyah Pekerti dan Eliada Herwiyanti, “Transaksi Jual Beli Online dalam Perspektif Syariah Madzhab Asy-Syafi’i”,5

dirugikan disebut sebagai gharar.112 Gharar dalam barang yang menjadi objek transaksi meliputi hal-hal berikut:113

1. Bentuk dan jenis objek akadnya tidak diketahui dengan jelas (majhul), seperti menjual barang, tetapi tidak dijelaskan jenisnya atau seperti menjual mobil tanpa diketahui modelnya.

2. Objek akadnya tidak ditentukan ('adamu ta'yini sil'ah), seperti menjual mobil di show room tanpa ditentukan barangnya atau menjual sebidang tanah tanpa ditentukan tempat dan letaknya.

3. Sifat objek akadnya tidak diketahui (majhul) dalam barang yang memiliki sifat yang berbeda-beda, seperti menjual barang yang tidak ada di tempat tanpa dijelaskan sifat-sifatnya.

4. Jumlah barang yang menjadi objek akadnya (miqdar al-mabi') itu tidak diketahui (majhul), seperti bai' al-jazaf. Bai' al- jazaf adalah jual beli barang yang ditaksir jumlahnya tanpa diketahui secara pasti jumlahnya. Bai' al- jazaf itu hukumnya tidak sah kecuali jika memenuhi syarat-syarat berikut yaitu barang yang dijual terlihat waktu akad disepakati; barangnya tersimpan (mahruz); yang disepakati untuk dijual adalah jumlah keseluruhan bukan satu per satu.

Selain mengandung unsur gharar, jual beli mystery box juga mengandung unsur penipuan (tadli>s). Tadli>s adalah penipuan yang dilakukan

112 Adiwarman A. Karim dan Oni Sahroni, Riba, Gharar dan Kaidah-kaidah Ekonomi Syariah: Analisis Fikih dan Ekonomi, (Jakarta : Rajawali Pers, 2015, Cet. Pertama),77

113 Ibid.,109

84

dalam transaksi jual beli oleh pihak penjual terhadap barang atau objek yang dijualnya kepada pembeli.114 Karena foto produk yang ditampilkan pada toko di e-commerce juga tidak berfokus pada foto mystery box nya saja, melainkan disertai pula dengan tampilan foto hadiah/barang yang dijanjikan, hal ini tentu dapat membuat konsumen memiliki ekspektasi tinggi terhadap produk tersebut dan mudah pula membuat konsumen merasa dirugikan bila tidak mendapatkan barang yang sesuai pada foto produk tersebut.

Pelaku usaha mengambil keuntungan yang sebesar-besarnya tanpa memperdulikan apa yang akan terjadi pada pihak pembeli, penjual bisa memasukkan barang yang harga barang tersebut jauh dibawah nominal yang dipasang pada produk mystery box. Dalam Praktiknya, foto produk yang ditampilkan pada toko di e-commerce Tokopedia, Shoppe maupun Bukalapak juga tidak berfokus pada foto mystery box nya saja, melainkan disertai pula dengan tampilan foto hadiah/barang yang dijanjikan, hal ini tentu dapat membuat konsumen memiliki ekspektasi tinggi terhadap produk tersebut dan mudah pula membuat konsumen merasa dirugikan bila tidak mendapatkan barang yang sesuai pada foto produk tersebut.

114 Adiwarman A.Karim, Bank Islam, (Jakarta:PT.RajaGrafindo Persada,2006), 31

B. Analisis Perlindungan Konsumen Jual Beli Mystery box Di E-commerce