• Tidak ada hasil yang ditemukan

Praktik Pembayaran Penari (Bayah Aok) Dalam Tradisi

BAB I PENDAHULUAN

B. Praktik Pembayaran Penari (Bayah Aok) Dalam Tradisi

34

B. Praktik Pembayaran Penari (Bayah Aok) Dalam Tradisi

35

calon mempelai laki-laki, biasanya yang paling sering menjadi tempat persembunyian adalah rumah keluarga yang paling sulit ditemukan seandainya dicari oleh orangtua dan keluarga perempuan tersebut.45

Keempat, sejati atau selabar maksudnya adalah pemberitahuan kepada masyarakat sekitar, bahwa telah terjadi pelarian atau melai’ang yang telah dilakukan oleh salah satu warga dari masyarakat yang ada di desa tersebut dalam rangka merariq itu sendiri. Yang berperan dalam menyebarluaskan informasi tersebut adalah kepala dusun atau RT setempat, setelah itu baru kemudian kepala dusun tempat kediaman calon mempelai perempuan memberitahu orangtua perempuan calon pengantin, dalam hal yang jadi perantara adalah kepala dusun masing-masing dusun atau desa, kepala dusun warga dari calon mempelai laki-laki memberitahukan kepada kepala dusun tempat kediaman calon mempelai perempuan untuk diteruskan kepada orangtua si perempuan tersebut, mulai dari selabar (pemberitahuan) itu sendiri sampai dengan pembicaraan gantiran selesai.46

Kelima, gantiran maksudnya adalah pembicaraan tentang semua biaya yang timbul akibat merariq itu sendiri, termasuk juga harga atau biaya yang harus dibayarkan oleh pihak dari calon mempelai laki-laki kepada orang tua calon mempelai perempuan atau yang biasa disebut dengan pisuke. Apabila tercapai kata sepakat maka pernikahan tersebut boleh dilangsungkan, akan tetapi apabila jumlah uang pisuke belum sesuai dengan permintaan orang tua dari calon mempelai perempuan, maka pembicaraan selanjutnya akan dilakukan lagi pada hari yang lain sampai terjadinya kesepakatan atau kepastian dari kedua belah pihak. Apabila pihak calon mempelai laki-laki tidak mampu membayarkan jumlah pisuke yang diminta oleh orang tua pihak perempuan, maka acara pernikahahan dipastikan akan gagal.

Selain membicarakan jumlah uang pisuke dalam proses tersebut juga dibicarakan mengenai jumlah maskawin yang akan diberikan kepada mempelai perempuan oleh mempelai laki-laki, kemudian barang- barang dan sejumlah perhiasan yang sudah disepakati sebelumnya antara mereka berdua, dalam acara gantiran ini juga dibicarakan siapa

45 Ibid.

46 Ibid.

36

yang akan menjadi wali dari calon mempelai perempuan nanti pada acara pernikahan berlangsung.47

keenam yaitu sorong serah atau sorong doe, maksud dari sorong serah adalah upacara serah terima yang dilakukan oleh keluarga kedua belah pihak calon mempelai. Yang secara syari’at Islam atau biasa disebut ijab qobul yang merupakan penyerahan mahar dari calon suami kepada calon istri yang disaksikan oleh masyarakat sekitar, biasanya kegiatan semacam ini dilakukan di Masjid. Sedangkan sorong doe sendiri yaitu doa rangkaian dengan acara syukuran setelah terjadinya ijab qobul yang disertai zikir dan do’a serta makan bersama. Ketujuh, begawe atau nyongkolan, begawe maksudnya perayaan setelah proses ijab qabul yang biasanya dilaksanakan dengan rangkaian acara seperti makan-makan yang kemudian dibarengi dengan acara nyongkolan setelahnya. Adapun maksud daripada nyongkolan adalah mengantarkan kembali pengantin perempuan kepada pihak keluarganya dalam hal untuk berpamitan secara resmi. Biasanya dalam acara ini pasangan pengantin diajak keliling kampung dengan berjalan kaki, dan diiringi musik tradisional (gendang belek dan kecimol). Nyongkolan juga merupakan pengumuman bagi suatu masyarakat bahwa telah ada satu pasangan pengantin baru di kampung mereka.48

Kedelapan atau terakhir yaitu bales nae maksudnya adalah kunjungan keluarga pihak pengantin laki-laki bersama dengan pengantin perempuan, kepada pihak keluarga pengantin perempuan setelah acara nyongkolan. Bales nae ini bertujuan untuk memperkenalkan semua anggota keluarga terdekat dari kedua belah pihak, kegiatan ini juga disertai dengan pemberian jajan-jajan begawe yang secara khusus telah disediakan oleh pihak keluarga laki-laki untuk orang tua pihak perempuan, sebagai sebuah penghargaan suka cita pada hari itu.49

Hal yang serupa juga dikatakan oleh Bapak Surianto selaku tokoh adat di Dusun Pemantek Bat Lauk Desa Loang Maka, beliau mengatakan bahwasanya dalam tradisi perkawinan adat di Desa

47 Ibid.

48 Ibid.

49 Ibid.

37

Loang Maka ada beberapa tahapan-tahapan yang harus dilaksanakan oleh kedua calon mempelai baik sebelum ataupun setelah melangsungkan pernikahan di antaranya yaitu: midang (perkenalan), membicarakan dan menyepakati bayah penari (bayah aok), melai’ang (melarikan), besejati, beselabar, betikah, sorong serah, begawe atau nyongkolan, dan yang terakhir bales nae.50 Pendapat tersebut juga diperkuat oleh ungkapan Bapak Rois selaku tokoh adat di Dusun Pemantek Daye yang mengatakan bahwa Ketika seorang masyarakat hendak melakukan perkawinan di Desa Loang Maka Kecamatan Janapria, memang terdapat beberapa proses adat atau tahapan-tahapan yang harus dipenuhi oleh calon mempelai yang akan melangsungkan sebuah pernikahan tersebut, terutama calon mempelai pihak laki-laki.

Adapun mengenai adat atau tahapan-tahpan tersebut yaitu: midang, menyepakati bayah penari atau bayah aok, melai’ang atau memaling, nyelabar, betikah, sorong serah, begawe atau nyongkolan dan yang terakhir biasanya bales nae.51

Hasil temuan data di atas, merupakan keseluruhan upacara adat merariq pada umumnya yang dilangsungkan oleh masyarakat Desa Loang Maka Kecamatan Janapria Lombok Tengah. Jadi dapat disimpulkan bahwasanya praktik pembayaran penari atau bayah aok ini dilaksanakan sebelum proses memaling atau melai’ang. Adapun untuk lebih jelasnya penulis akan memaparkan hasil temuan data tentang tradisi pembayaran penari (bayah aok) dalam perkawinan adat masyarakat suku sasak di Desa Loang Maka.

Pertama mengenai pengertian atau maksud daripada pembayaran penari (bayah aok), seperti yang dijelaskan oleh Amaq Kanah selaku pelaku tradisi pembayaran penari, bahwasanya pembayaran penari ini merupakan bayaran berupa uang ataupun barang sesuai dengan apa yang diminta oleh calon mempelai petempuan, yang diberikan oleh calon mempelai laki-laki kepada calon mempelai perempuan sebagai tanda bahwasanya seorang perempuan tersebut siap menerima lamaran dari laki-laki yang melamarnya. Pembayaran penari ini biasa disebut juga dengan bayah aok, bayah artinya membayar, aok artinya

50 Bapak Surianto, Wawancara, Pemantek Bat Lauk, 19 Maret 2022.

51 Bapak Rois, Wawancara, Pemantek Daye, 19 Maret 2022.

38

iya.52 Hal yang demikian juga dikatakan oleh Bapak H. Abdul Majid selaku tokoh agama di Dusun Jonggek Desa Loang Maka, beliau mengatakan bahwa pembayaran penari atau bayah aok maksudnya yaitu bayaran yang diberikan kepada calon mempelai perempuan, ketika seorang laki-laki akan meminta seorang perempuan untuk menjadi istrinya maka terlebih dahulu kedua calon mempelai tersebut mendiskusikan berapa pembayaran penari atau bayah aok yang diinginkan oleh calon mempelai perempuan. Dengan kata lain bahwasanya laki-laki tersebut membayar kata iya dari perempuan yang siap menerima lamarannya.53

Jadi, dapat disimpulkan bahwa pembayaran penari atau bayah aok ini maksudnya adalah bayaran yang diberikan oleh calon mempelai laki-laki kepada calon mempelai perempuan, yang sesuai dengan permintaan calon mempelai perempuan tersebut. Ketika seorang laki-laki hendak menikahi seorang perempuan maka laki-laki tersebut akan diminta untuk membayar persetujuan dari perempuan yang akan dinikahinya dengan kata lain bahwasanya laki-laki tersebut membayar kata “iya” dari perempuan yang siap menerima lamarannya. Bayah penari ini dilakukan sebelum perempuan dibawa merariq, kemudian apabila permintaan si perempuan itu disetujui oleh laki-laki tersebut dan telah disepakati baru dilaksankannya merariq atau melai’ang.

Sejarah diberlakukannya tradisi bayah penari ini berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak H. Abdul Majid selaku tokoh adat dan tokoh agama di Dusun Jonggek Desa Loang Maka, yaitu bahwasanya Pemberlakuan tradisi pembayaran penari atau bayah aok ini memang tidak memiliki aturan secara jelas mengenai sejarah dan sejak kapan dimulainya pemberlakuan tradisi tersebut, dikarenakan memang sudah menjadi sesutau atau tradisi yang turun temurun dan terus dilaksankan oleh masyarakat setempat, yang mana menurut masyarakat setempat hal tersebut memang sudah dilaksankan lebih dulu oleh para nenek moyang mereka yang kemudian masyarakat

52 Amaq Kanah, Wawancara, Jonggek, 16 Maret 2022.

53 Bapak H. Abdul Majid, Wawancara, Loang Maka, 2 April 2022.

39

setempat terus melestarikan adat atau tradisi pembayaran penari atau bayah aok tersebut.54

Adapun mengenai praktik pembayaran penari atau bayah aok ini, berdasarkan hasil wawancara dengan tokoh masyarakat setempat yaitu amaq Kanah, selaku pelaku daripada praktik bayah penari atau bayah aok tersebut yang mengatakan bahwa “Tradisi pembayaran Penari (bayah aok) maksudnya adalah bayaran yang diberikan oleh calon mempelai laki-laki kepada calon mempelai perempuan, ketika seorang laki-laki hendak menikahi seorang perempuan maka laki-laki tersebut akan diminta untuk membayar persetujuan dari perempuan yang akan dinikahinya dengan kata lain bahwasanya laki-laki tersebut membayar kata “iya” dari perempuan yang siap menerima lamarannya.55 Kemudian Bapak H. Abdul Majid juga mengatakan bahwa Praktik pembayaran penari ini dilakukan sebelum pihak laki- laki membawa calon mempelai perempuan ke rumah atau tempat persembunyian yang sudah dipersiapkan oleh pihak laki-laki. Karena, sesuai dengan praktiknya bahwa pembayaran penari atau bayah aok ini merupakan uang lamaran yang diberikan calon mempelai laki-laki kepada calon mempelai perempuan yang siap menerima lamarannya.

Jadi, calon mempelai perempuan baru akan dibawa ke rumah pihak laki-laki apabila pihak laki-laki sudah sepakat mengenai pembayaran penari atau bayah aok yang diminta oleh calon mempelai perempuan.56

Jadi, dapat disimpulkan bahwa praktik pembayaran penari atau bayah aok ini dilakukan oleh pemuda pemudi yang sudah lama saling mengenal atau sudah lama berpacaran istilah zaman sekarang, yang mana dalam tahapan proses merariq hal tersebut dinamakan dengan midang (perkenalan), yang mana sebelum laki-laki tersebut membawa si perempuan untuk di nikahinya ke tempat persembunyian (tesebo’) terlebih dahulu laki-laki tersebut akan menanyakan berapa pembayaran penari atau bayah aok yang diinginkan oleh perempuan yang akan dinikahinya itu. Kemudian apabila kedua belah pihak atau kedua calon mempelai tersebut sudah menyepakati berapa

54 Ibid.

55 Amaq Kanah, Wawancara, Jonggek, 16 Maret 2022.

56 Bapak H. Abdul Majid, Wawancara, Loang Maka, 2 April 2022.

40

pembayaran penari-nya maka baru akan ditentukan kapan perempuan tersebut akan dibawa ke rumah pihak laki-laki ataupun ke tempat persembunyian yang telah disediakan oleh pihak laki-laki yang biasanya tempat tersebut adalah rumah dari keluarga pihak laki-laki, ada yang membawanya dengan cara melai’ang atau kawin lari, ada juga yang melakukannya dengan cara meminta langsung kepada kedua orangtua pihak perempuan atau biasa disebut lamaran, tergantung bagaimana kesepakan kedua belah pihak.

Kemudian, masyarakat setempat juga mengatakan bahwasanya praktik pembayaran penari ini dianggap tidak merepotkan mereka diakrenakan pada praktiknya pembayaran penari atau bayah aok ini merupakan kesepakatan kedua belah pihak yaitu calon mempelai laki- laki dan calon mempelai perempuan. 57 Jadi, pembayaran penari atau bayah aok ini tergantung berdasarkan atas persetujuan masing-masing kedua calon mempelai yang akan melangsungkan pernikahan. Adapun mengenai sangsi bahwasanya tidak terdapat sangsi yang diberikan kepada kedua calon mempelai yang akan melangsungkan sebuah pernikahan apabila mereka tidak melaksanakan praktik pembayaran penari atau bayah aok tersebut. Karena, pada dasarnya pemberlakuan tradisi tersebut memang sepenuhnya diserahkan langsung kepada pasangan yang akan melangsungkan pernikahan. Ada atau tidaknya bayah penari atau bayah aok tersebut tidak menjadi masalah, asalkan hal tersebut sesuai dengan kesepakatan antara kedua calon mempelai.58

Adapun mengenai ketentuan-ketentuan yang berlaku umum dalam praktik pembayaran penari atau bayah aok, seperti yang telah disampaikan oleh Bapak Kamarudin bahwa tidak ada ketentuan umum yang berlaku dalam praktik pembayaran penari atau bayah aok ini, karena seperti yang sudah dipaparkan sebelumnya bahwa praktik pembayaran penari (bayah aok) ini sudah diserahkan pelaksanaannya kepada yang bersangkutan secara langsung yaitu calon mempelai laki- laki dan calon mempelai perempuan. Seperti, mengenai berapa jumlah uang yang harus dibayar pihak laki-laki kepada calon mempelai

57 Bapak Sukarman, Wawancara, Loang Maka, 19 Maret 2022.

58 Bapak Surianto, Wawancara, Pemantek Bat Lauk, 19 Maret 2022.

41

perempuan, kemudian ada atau tidaknya bayaran penari atau bayah aok tersebut sudah menjadi keputusan mereka masing-masing.59

Tujuan diberlakukannya praktik pembayaran penari atau bayah aok ini adalah selain untuk menghormati tradisi atau budaya peninggalan dari para nenek moyang masyarakat setempat, tradisi bayah penari tersebut juga bertujuan sebagai tanda ungkapan atau membuktikan keseriusan dari seorang laki-laki kepada seorang perempuan, yang mana apabila perempuan tersebut siap menerima lamaran dari laki-laki yang melamarnya maka laki-laki tersebut juga siap membayar persetujuan dari si perempuan apabila si perempuan juga meminta bayaran atas persetujuannya tersebut, dengan kata lain laki-laki tersebut membayar kata iya dari si perempuan yang siap menerima lamarannya. Jadi, bayar yang dimaksud dalam tradisi tersebut lebih kepada artian membeli daripada ber-artikan menghargai.60

Adapun mengenai nominal daripada pembayaran penari, tidak terdapat ketentuan besar kecilnya nominal pembayaran tersebut, karena hal itu sesuai dengan kesepakatan dari kedua calon mempelai yang akan melangsungkan penikahan. Akan tetapi, dari pengalaman beberapa tokoh adat yang penulis wawancara bahwasanya nominal paling kecil dari pembayaran penari ialah 350.000.00 sedangkan nominal paling tinggi adalah 5.000.000.00 Kemudian, mengenai pelaksanaan tradisi pembayaran penari atau bayah aok, bahwasanya tradisi pembayaran penari atau bayah aok tidak hanya berlaku di Desa Loang Maka saja namun, di seluruh desa yang ada di Kecamatan Janapria, tetap saja terdapat beberapa masyarakat yang masih tetap melaksankan tradisi bayah penari tersebut.61

59 Kamarudin, Wawancara, Loang Maka, 17 Maret 2022.

60 Bapak Halim Perdana, Wawancara, Tibu Sisok, 5 April 2022.

61 H. Abdul Majid, Bapak Kamarudin dan Bapak Rois, Wawancara, Loang Maka, 14 Juni 2022.

42

Dokumen terkait