• Tidak ada hasil yang ditemukan

PANDANGAN HUKUM ISLAM TERHADAP PRAKTIK PEMBAYARAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "PANDANGAN HUKUM ISLAM TERHADAP PRAKTIK PEMBAYARAN"

Copied!
81
0
0

Teks penuh

(1)

PANDANGAN HUKUM ISLAM TERHADAP PRAKTIK PEMBAYARAN PENARI (BAYAH AOK) DALAM TRADISI PERKAWINAN ADAT MASYARAKAT SUKU SASAK DI DESA LOANG MAKA KECAMATAN JANAPRIA LOMBOK TENGAH

Oleh

Pina Wahyuni Utami NIM 180202061

PROGRAM STUDI HUKUM KELUARGA ISLAM FAKULTAS SYARIAH

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MATARAM MATARAM

2022

(2)

ii

PANDANGAN HUKUM ISLAM TERHADAP PRAKTIK PEMBAYARAN PENARI (BAYAH AOK) DALAM TRADISI

PERKAWINAN ADAT MASYARAKAT SUKU SASAK DI KECAMATAN JANAPRIA LOMBOK TENGAH

Skripsi

Diajukan kepada Universitas Islam Negeri Mataram untuk melengkapi persyaratan mencapai gelar Sarjana Hukum

Oleh

Pina Wahyuni Utami NIM 180202061

PROGRAM STUDI HUKUM KELUARGA ISLAM FAKULTAS SYARIAH

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MATARAM MATARAM

2022

(3)

iv

PERSETUJUAN PEMBIMBING

Skripsi oleh: Pina Wahyuni Utami, NIM: 180202061 dengan judul

“Pandangan Hukum Islam Terhadap Praktik Pembayaran Penari (Bayah Aok) Dalam Tradisi Perkawinan Adat Masyarakat Suku Sasak Di Desa Loang Maka Kecamatan Janapria Lombok Tengah” telah memenuhi syarat dan disetujui untuk diuji.

Disetujui pada tanggal: 16 Juni 2022

Pembimbing I,

Dr. H. Ahmad Muhasim, S.Ag., M.H.I.

NIP. 197312151998031004

Pembimbing II,

Dr. Saprudin, M.SI.

NIP. 197812312006041003

(4)

v

Mataram, 16 Juni 2022 Hal : Ujian Skripsi

Yang Terhormat

Dekan Fakultas Syariah di Mataram

Assalamu’alaikum, Wr, Wb.

Dengan hormat, setelah melakukan bimbingan, arahan, dan koreksi, kami berpendapat bahwa skripsi Saudari:

Nama Mahasiswi : Pina Wahyuni Utami

NIM : 180202061

Jurusan/Prodi : Hukum Keluarga Islam

Judul : Pandangan Hukum Islam Terhadap Praktik Pembayaran Penari (Bayah Aok) Dalam Tradisi Perkawinan Adat Masyarakat Suku Sasak Di Desa Loang Maka Kecamatan Janapria Lombok Tengah.

telah memenuhi syarat untuk diajukan dalam sidang munaqasyah skripsi Fakultas Syariah UIN Mataram. Oleh karena itu, kami berharap agar skripsi ini dapat segera di-munaqasyah-kan.

Wassalammu’alaikum, Wr. Wb.

Pembimbing I,

Dr. H. Ahmad Muhasim, S.Ag., M.H.I.

NIP. 197312151998031004

Pembimbing II,

Dr. Saprudin, M.SI.

NIP. 197812312006041003

(5)

vii

(6)

viii MOTTO

ُو هلَِّإ اًسْفان ُ هللَّٱ ُفِّ لاكُي الَ

ااهاعْس

Artinya, “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”.(QS.Al-Baqarah [02]: 286)1

1 Departemen Agama, Republik Indonesia, Al-Qur’an Hafalan, (Bandung:

Cordoba, 2020), hlm.

(7)

ix

PERSEMBAHAN

“Kupersembahkan skripsi ini untuk Ibuku tercinta Siti Aaminah dan juga teruntuk yang tersayang Bapakku Saharudin (Alm) semoga tenang di alam sana aamiin, Adik-adikku M.

Zani Wahyudi & Pira Restu Apriana, almamaterku, semua guru dan dosenku.”

(8)

x

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam dan shalawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada Nabi Muhammad, juga kepada keluarga, sahabat, dan semua pengikutnya. Aamiin.

Penulis menyadari bahwa proses penyelesaian skripsi ini tidak akan sukses tanpa bantuan dan keterlibatan berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis memberikan penghargaan setinggi-tingginya dan ucapan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu sebagai berikut.

1. Dr. H. Ahmad Muhasim, S.Ag., M.H.I. sebagai Pembimbing I dan Dr. Saprudin, M.SI. sebagai Pembimbing II yang memberikan bimbingan, motivasi, dan koreksi mendetail, terus-menerus, dan tanpa bosan di tengah kesubukannya dalam suasana keakraban menjadikan skripsi ini lebih matang dan cepat selesai;

2. Prof. Hj. Atun Wardatun, M.Ag., Ph.D. dan Nisfawati Laili Jalillah, MH. Sebagai penguji yang telah memberikan saran konstruktif bagi penyempurnaan skripsi ini;

3. Hj. Ani Wafiroh, M.Ag. sebagai ketua program studi Hukum Keluarga Islam (HKI), dan Ibu Nunung Susfita, M.Si selaku sekretaris program studi HKI yang telah memberikan banyak bantuan dan masukan kepada penulis;;

4. Dr. Moh. Asyiq Amrulloh, M.Ag. selaku Dekan Fakultas Syariah;

5. Prof. Dr. H. Masnun, M.Ag. selaku Rektor UIN Mataram yang telah memberi tempat bagi penulis untuk menuntut ilmu dan memberi bimbingan dan peringatan untuk tidak berlama-lama di kampus tanpa pernah selesai.

6. Orang tua beserta keluarga khususnya ibu saya yang tiada henti mendoakan saya dan telah mendukung penulis dalam mengerjakan skripsi ini dalam berbagai macam hal, salah satunya dalam hal materi;

7. Teman-teman seperjuangan yang telah banyak membantu penulis;

8. Masyarakat Desa Loang Maka yang telah memberikan support dan meluangkan waktunya sehingga penulis dapat segera menemukan data-data yang diperlukan dalam penyelesaian skripsi ini;

(9)

xi

Semoga amal kebaikan dari berbagai pihak tersebut mendapat pahala yang berlipat-ganda dari Allah Swt. Dan semoga skripsi ini bermanfaat bagi semesta. Aamiin.

Meski telah berusaha semaksimal mungkin dalam menyelesaikan skripsi ini, penulis menyadari bahwa terdapat banyak kekurangan dalam penyusunan skripsi ini. Oleh sebab itu, penulis mengharapkan segala kritik dan saran yang bersifat membangun sehingga penulis dapat menyempurnakan skripsi ini.

Mataram, 16 Mei 2022 Penulis,

Pina Wahyuni Utami

(10)

xii DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL ... i

HALAMAN JUDUL ... ii

HALAMAN LOGO ... iii

PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iv

NOTA DINAS PEMBIMBING ... v

PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ... vi

PENGESAHAN DEWAN PENGUJI ... vii

HALAMAN MOTO ... viii

HALAMAN PERSEMBAHAN ... ix

KATA PENGANTAR ... x

DAFTAR ISI ... xii

DAFTAR TABEL ... xiv

DAFTAR LAMPIRAN ... xv

ABSTRAK ... xvi

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Rumusan Masalah ... 3

C. Tujuan Dan Manfaat Penelitian ... 3

D. Ruang Lingkup Dan Setting Penelitian ... 4

E. Telaah Pustaka ... 5

F. Kerangka Teori ... 13

G. Metode Penelitian ... 19

H. Sistematika Pembahasan ... 25

I. Rencana Jadwal Kegiatan Penelitian ... 26

(11)

xiii

BAB II PRAKTIK PEMBAYARAN PENARI (BAYAH AOK) DALAM TRADISI PERKAWINAN ADAT MASYARAKAT SUKU SASAK DI DESA LOANG MAKA KECAMATAN JANAPRIA

LOMBOK TENGAH ... 27

A. Gambaran Umum Desa Loang Maka ... 27

B. Praktik Pembayaran Penari (Bayah Aok) Dalam Tradisi Perkawinan Adat Masyarakat Suku Sasak Di Desa Loang Maka Kecamatan Janapria Lombok Tengah ... 33

BAB III ANALISIS PRAKTIK PEMBAYARAN PENARI (BAYAH AOK) DALAM TRADISI PERKAWINAN ADAT MASYARAKAT SUKU SASAK DI DESA LOANG MAKA KECAMATAN JANAPRIA LOMBOK TENGAH ... 42

A. Analisis Praktik Pembayaran Penari (Bayah Aok) Dalam Tradisi Perkawinan Adat Masyarakat Suku Sasak Di Desa Loang Maka Kecamatan Janapria Lombok Tengah ... 42

C. Analisis Pandangan Hukum Islam Terhadap Praktik Pembayaran Penari (Bayah Aok) Dalam Tradisi Perkawinan Adat Masyarakat Suku Sasak Di Desa Loang Maka Kecamatan Janapria Lombok Tengah ... 51

BAB IV PENUTUP ... 57

A. Kesimpulan ... 57

B. Saran ... 58

DAFTAR PUSTAKA ... 59

LAMPIRAN ... 62

DAFTAR RIWAYAT HIDUP ... 69

(12)

xiv

DAFTAR TABEL

Tabel 1.1 Rencana Jadwal Kegiatan Penelitian.

Tabel 2.1 Rekapitulasi Jumlah Penduduk Di Desa Loang Maka Tahun 2021.

Tabel 2.2 Mata Pencarian Penduduk Desa Loang Maka Tahun 2016.

Tabel 2.3 Data Pendidikan Desa Loang Maka Tahun 2016.

Tabel 2.4 Data Jumlah Masyarakat Yang Melakukan Praktik Pembayaran Penari (bayah Aok) Bulan Januari-Mei 2022.

(13)

xv

DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 Pedoman Wawancara

Lampiran 2 Photo Saat Wawancara

Lampiran 3 Kartu Konsultasi Skripsi Dospem 1 Lampiran 4 Kartu Konsultasi Skripsi Dospem 2 Lampiran 5 Surat Izin Penelitian

Lampiran 6 Surat Keterangan

(14)

xvi

PANDANGAN HUKUM ISLAM TERHADAP PRAKTIK PEMBAYARAN PENARI (BAYAH AOK) DALAM TRADISI PERKAWINAN ADAT MASYARAKAT SUKU SASAK DI DESA LOANG MAKA KECAMATAN JANAPRIA LOMBOK TENGAH

Oleh:

Pina Wahyuni Utami NIM 180202061

ABSTRAK

Hukum adat merupakan serangkaian aturan yang mengikat pada suatu masyarakat tertentu, yang tidak tertulis dan bersumber dari kebiasaan yang tumbuh dan berkembang pada suatu masyarakat. Yang kemudian hal tersebut diterima menjadi hukum secara turun temurun.

Rumusan masalah dalam skripsi ini adalah bagaimana praktik pembayaran penari (bayah aok) dalam tradisi perkawinan adat masyarakat suku sasak di Desa Loang Maka Kecamatan Janapria, dan bagaimana pandangan hukum Islam terhadap praktik pembayaran penari (bayah aok) dalam tradisi perkawinan adat masyarakat suku sasak di Desa Loang Maka Kecamatan Janapria. Jenis penelitian yang digunakan oleh penulis dalam penelitian ini yaitu penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus.

Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu terdiri dari observasi, wawancara dan dokumentasi, dengan jenis data primer dan skunder.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pelaksanaan tradisi pembayaran penari (bayah aok) dilaksanakan sesuai dengan hukum adat masyarakat setempat, dan tradisi ini tidak bertentangan dengan hukum Islam. Praktik pembayaran penari (bayah aok) merupakan sebuah tradisi yang berupa bayaran dari calon mempelai laki-laki kepada calon mempelai perempuan sesuai dengan permintaan calon mempelai perempuan yang kemudian disepakati oleh calon mempelai laki-laki, dengan kata lain calon mempelai laki-laki membayar kata iya dari perempuan yang siap menerima lamarannya.

Kata kunci: Tradisi, Bayah Penari (Bayah Aok), Perkawinan Adat Sasak

(15)

1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Pernikahan merupakan sunnatullah yang sangat dianjurkan untuk melakukannya dan berlaku pada semua hambanya.2 Sebab pernikahan merupakan suatu proses atau cara yang dapat menghalalkan hubungan biologis antara laki-laki dan perempuan untuk meneruskan keturunan.

Hal ini menunjukan bahwa Allah SWT sangat menjaga kehormatan dan martabat kemuliaan manusia, sehingga hubungan laki-laki dengan perempuan telah diatur sedemikian rupa dengan upacara Ijab Qabul dari rasa ridha meridhai dan dengan disaksikan oleh beberapa saksi.3 Bahwa dengan melaksanakan perkawinan tersebut Allah akan memberi kepadanya jalan kecukupan, menghilangkan kesulitan- kesulitan dan memberi kekuatan.

Hal ini sesuai dengan Firman Allah Swt dalam al-Qur`an Surat An-Nur Ayat 32 yang berbunyi :

ابِّع ْنِّم انْي ِّحِّلّٰصلا او ْمُكْنِّم ى ٰماايا ْلَا اوُحِّكْناا او اءۤا اراقُف ا ْوُن ْوُكهي ْنِّا ْْۗمُكِٕىۤاامِّا او ْمُكِّدا

مْيِّلاع ٌعِّسا او ُ ّٰاللّٰ او ْۗ هِّلْضاف ْنِّم ُ ّٰاللّٰ ُمِّهِّنْغُي

Artinya: “Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu, dan juga orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah mahaluas (pemberian-Nya), maha mengetahui.”4

Jadi, Berdasarkan ayat tersebut diatas sangat jelas bahwasanya Agama Islam sangat menganjurkan perkawinan. Karena, banyaknya faedah dan manfaat yang terkandung di dalamnya.

2 Sayyid Shabiq, Fiqih sunnah jilid 6, terj. H. kahar Masyhur, (Jakarta: Kalam Mulia, 1990), cet. Ke-1, hlm. 9.

3 Ibid,.

4 Departemen Agama, Republik Indonesia, Al-Qur’an Hafalan, (Bandung:

Cordoba, 2020), hlm. 354.

(16)

2

Seperti yang diketahui bahwasanya Indonesia merupakan negara kepulauan, dikatakan demikian karena negara Indonesia memang terdiri dari beribu-ribu pulau, dan juga memiliki banyak ragam suku, serta adat istiadat yang berbeda. Perbedaan tempat tinggal juga membuat mereka mempunyai beberapa perbedaan, baik dari segi mata pencaharian, dan adat istiadat serta kebiasaan. Perbedaan suku dan adat istiadat juga berpengaruh pada adat istiadat suatu masyarakat tertentu, termasuk dalam masalah pernikahan antara masyarakat adat yang satu dengan masyarakat adat yang lain.5

Walaupun demikian tetap saja ada suatu hal yang mendasar yang sama dalam pelaksanaan perkawinan adat tersebut. Namun Tata cara pelaksanaan perkawinan di Indonesia memiliki banyak perbedaan antara suku yang satu dengan suku yang lain misalnya dalam pelaksanaan perkawinan adat Masyarakat Suku Sasak di Desa Loang Maka Kecamatan Janapria Lombok Tengah.

Adapun Perkawinan adat Masyarakat Suku Sasak di Desa Loang Maka Kecamatan Janapria Lombok Tengah yaitu mengenai tradisi pembayaran Penari (bayah aok), yang mana berdasarkan hasil pengamatan penulis bahwasanya pembayaran Penari (bayah aok) maksudnya adalah ketika laki-laki hendak menikahi seorang perempuan maka laki-laki tersebut akan diminta untuk membayar persetujuan dari perempuan yang akan dinikahinya dengan kata lain bahwasanya laki-laki tersebut membayar kata “iya” dari si perempuan yang siap menerima lamarannya.

Dikatakan juga bahwa, pembayaran Penari berbeda dengan pemberian Mahar atau maskawin yang diberikan dari pihak laki-laki kepada mempelai perempuan. Karena, pemberian mahar memang sudah jelas diatur dalam al-Qur’an, yang menurut masyarakat setempat, mahar tersebut bermakna bayaran untuk badan atau diri seorang perempuan yang bersedia untuk dibarengi oleh seorang laki.

sedangkan mengenai pembayaran Penari merupakan adat Masyarakat Suku Sasak di Desa Loang Maka Kecamatan Janapria Lombok

5 I Ghozali, “Pandangan Tokoh Masyarakat Terhadap Tradisi Sebambangan Dalam Perkawinan Adat Lampung Studi di desa Terbanggi Marga Kec. Sukadana Kab.

Lampung Timur”, (Skripsi, Fakultas Syariah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, 2014), hlm. 3.

(17)

3

Tengah. Yang menurut adat kebiasaan Masyarakat setempat bahwa pembayaran Penari itu merupakan bayaran untuk hati atau seorang perempuan yang bersedia menerima lamaran dari seorang laki-laki yang melamarnya.

Ketika hendak melaksanakan perkawinan pihak laki-laki juga harus membayar persetujuan dari orang tua pihak perempuan, biasanya berupa uang sesuai dengan permintaan dari orang tua pihak perempuan tersebut. Hal inilah yang biasanya mempersulit ketika seseorang hendak ingin melaksanakan perkawinan karena banyaknya biaya yang harus dikeluarkan dari pihak laki-laki.

Berdasarkan latar belakang tersebut di atas, maka menurut penulis diperlukan penelitian lebih mendalam yang berkaitan dengan tradisi membayar penari (bayah aok) tersebut, sehingga penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Pandangan Hukum Islam Terhadap Praktik Pembayaran Penari (Bayah Aok) Dalam Tradisi Perkawinan Adat Masyarakat Suku Sasak Di Desa Loang Maka Kecamatan Janapria Lombok Tengah”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, penelitian ini akan dilaksanakan dengan mengacu pada rumusan masalah sebagai berikut:

1. Bagaimana praktik pembayaran penari (bayah aok) dalam tradisi perkawinan adat masyarakat suku sasak di Desa Loang Maka Kecamatan Janapria Lombok Tengah?

2. Bagaimana pandangan hukum Islam terhadap praktik pembayaran penari (bayah aok) dalam tradisi perkawinan adat masyarakat suku sasak di Desa Loang Maka Kecamatan Janapria Lombok Tengah?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian

Sesuai dengan rumusan masalah di atas, sedikitnya terdapat dua tujuan yang harus tecapai dalam penelitian ini antara lain:

a. Untuk mengetahui praktik pembayaran penari dalam perkawinan adat masyarakat suku sasak di Desa Loang Maka Kecamatan Janapria Lombok Tengah.

(18)

4

b. Untuk mengetahui pandangan hukum Islam terhadap praktik pembayaran penari dalam perkawinan adat masyarakat suku sasak di Desa Loang Maka Kecamatan Janapria Lombok Tengah.

2. Manfaat Penelitian a. Manfaat Teoritis

Hasil penelitian tersebut bisa memberikan masukan dalam pengembangan ilmu pengetahuan khususnya yang berkaitan langsung dibidang hukum perkawinan Islam.

b. Manfaat Praktis

1) Hasil penelitian tersebut bisa memberikan informasi tentang praktik pembayaran penari (bayah aok) dalam perkawinan adat masyarakat susku sasak di Desa Loang Maka Kecamatan Janapria Lombok Tengah.

2) Hasil penelitian ini dapat dijadikan sumber informasi bagi penentu kebijakan dalam menertibkan praktik pembayaran penari (bayah aok) dalam perkawinan adat masyarakat suku sasak di Desa Loang Maka Kecamatan Janapria Lombok Tengah.

D. Ruang Lingkup dan Setting Penelitian

Pembatasan masalah dalam penulisan ini diajukan agar tidak terjadi pembahasan yang keluar dari fokus penelitian, maka dalam hal ini penulis membatasi permasalahan seputar praktik pembayaran penari dalam perkawinan adat masyarakat suku Sasak di Desa Loang Maka Kecamatan Janapria Lombok Tengah dan pandangan hukum Islam terhadap praktik pembayaran penari dalam perkawinan adat masyarakat suku sasak di Desa Loang maka Kecamatan Janapria Lombok Tengah.

Adapun mengenai setting atau Lokasi Penelitian, peneliti memilih untuk melaksanakan penelitian tersebut di Desa Loang Maka Kecamatan Janapria Lombok Tengah. Karena, peneliti tertarik untuk meneliti adat kebiasaan atau tradisi perkawinan masyarakat Sasak yang ada di desa tersebut, yang mana nilai-nilai adat yang diwariskan nenek moyang dan para leluhur adat masih dilaksanakan dengan terorganisir oleh masyarakat sekitar dengan bimbingan tetua-tetua

(19)

5

adat yang menyebakan tradisi pembayaran penari (bayah aok) ini masih berlaku sampai saat ini, hal inilah yang menjadi alasan peneliti ingin melakukan kajian terhadap tradisi pembayaran penari (bayah aok) tersebut yang ditinjau dari perspektif hukum Islam.

E. Telaah Pustaka

Telaah pustaka ini dilakukan untuk mendapatkan gambaran mengenai hubungan pembahasan dengan penelitian yang sudah pernah dilakukan peneliti sebelumnya, sehingga dengan upaya ini tidak terjadi pengulangan yang tidak perlu. Adapun untuk membedakan kajian ini dengan kajian sebelumnya, dibawah ini akan penulis sebutkan:

1. Annisa Rizky Amalia, Skripsi dengan judul “Tradisi Perkawinan Merariq Suku Sasak di Lombok: Studi Kasus Integrasi Agama dengan Budaya Masyarkat Tradisional”, yang membahas tentang pola Integrasi Agama dengan Adat suku Sasak, kemudian Format Tradisi Perkawinan Merariq di Lombok dan bagaimana Masa Depan Perkawinan Merariq di Lombok dengan Tuntutan Kehidupan Modern.

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa Terjadinya integrasi agama dengan Budaya ialah antara Wetu Telu dengan Merariq. Maksudnya yaitu hubungan Wetu Telu dengan Merariq dapat dilihat melalui praktik yang terjadi dalam Merariq tersebut adalah termasuk ketentuan dari pada Wetu Telu yang mana, telah dijelaskan juga pada pembahasan sebelumnya bahwa Wetu Telu ini merupakan perpaduan antara agama Islam dan agama Hindu.

Kemudian mengenai format dari pada Merariq di Lombok sudah sangat terlihat jelas bahwa praktik yang terjadi dalam Merariq tersebut termasuk budaya yang sangat kental di kalangan masyarakat Lombok. Dari perpaduan antara budaya Sasak dan budaya Hindu Bali, kemudian juga terdapat unsur agama Islam di dalam praktik Merariq. Jadi, sangat jelas bahwa Merariq merupakan integrasi agama dengan budaya yang menghasilkan praktik perkawinan Merariq.

(20)

6

Adapun mengenai Perkawinan Merariq yang terjadi di masa depan dengan persoalan tuntutan kehidupan yang semakin maju sungguh sangat berat karena, seperti yang telah kita ketahui bahwa hampir sebagian kebudayaan di Indonesia telah mengalami kepunahan dikarenakan jarangnya kepedulian manusia terhadap kebudayaannya sendiri. Yang telah kita ketahui bahwa dunia semakin modern, zaman semakin maju yang membuat adat tradisi hampir ditinggalkan karna pola fikir manusia yang semakin modern juga pergeseran makna yang sempit terhadap tradisi budaya menjadi luas karena ilmu yang modern.

Persamaan skripsi penelitian Annisa Rizky Amalia dengan penelitian kali ini adalah sama-sama mengambil kajian tentang tradisi masyarakat adat sasak sedangkan perbedaannya terletak pada obyek kajian yang diteliti, jenis tradisi, serta lokasi penelitian yang diambil. Yang di mana penelitian sebelumnya membahas tentang Tradisi Perkawinan Merariq Suku Sasak di Lombok: Studi Kasus Integrasi Agama dengan Budaya Masyarkat Tradisional sedangkan penelitian kali ini lebih membahas tentang “Pandangan Hukum Islam Terhadap Praktik Pembayaran Penari (Bayah Aok) Dalam Tradisi Perkawinan Adat Masyarakat Suku Sasak Di Desa Loang Maka Kecamatan Janapria Lombok Tengah”.6

2. Muhammad Hijjul Hari Akbar, Skripsi dengan judul “Tradisi Pemegat Talin Kepeng Dalam Adat Perkawinan Masyarakat Sasak Perspektif Hukum Islam (Studi Kasus Di Desa Mekar Sari Kecamatan Narmada Kabupaten Lombok Barat)”, yang membahas tentang Praktek Tradisi Pemegat Talin Kepeng dalam Adat Perkawinan Masyarakat Sasak di Desa Mekar Sari Kecamatan Narmada Kabupaten Lombok Barat dan Perspektif Hukum Islam Terhadap tradisi Pemegat Talin Kepeng Dalam Adat Perkawinan Masyarakat Sasak di Desa Mekar Sari Kecamatan Narmada Kabupaten Lombok Barat.

6 Annisa Rizky Amalia, “Tradisi Perkawinan Merariq Suku Sasak di Lombok:

Studi Kasus Integrasi Agama dengan Budaya Masyarkat Tradisional”, (Skripsi, Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta, 2017), hlm. 17.

https://repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/36117/1/ANNISA%20RIZKY

%20AMALIA%20-%20FUF.pdf.

(21)

7

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa Pelaksanaan Tradisi Pemegat Talin Kepeng Dalam Adat Perkawinan Masyarakat Sasak di Desa Mekar Sari Kecamatan Narmada Kabupaten Lombok Barat harus melalui rangkaian upacara seperti yang telah dijelaskan sebelumnya yaitu:

Salam Agame, Salam Penugrehe atau Betabek (Salam Adat), dan Salam Pengampure (Salam Permohonan Maaf).

Adapun terkait dengan pelaksanaan Tradisi Pemegat Talin Kepeng Dalam Adat Perkawinan Masyarakat Sasak di Desa Mekar Sari Kecamatan Narmada Kabupaten Lombok Barat, syari’at Islam hanya menyarankan untuk menikahi wanita yang ideal dengan 4 pilihan yaitu karena hartanya, keturunannya, parasnya, dan agamanya. Namun, Islam lebih menganjurkan untuk memilih pasangan dilihat dari agamanya.

Persamaan skripsi Muhammad Hijjul Hari Akbar dengan penelitian kali ini adalah sama-sama membahas tentang tradisi perkawinan adat sasak sedangkan perbedaannya adalah jenis tradisi yang dikaji dan lokasi penelitian yang diambil.7

3. Abdul Aziz, Skripsi dengan judul “praktik nembang dalam adat sorong serah di desa bujak kecamatan batukliang Lombok tengah (perspektif hukum islam)”, yang membahas tentang Praktik Nembang Dalam Adat Sorong Serah di Desa Bujak Kecamatan Batukliang Kabupaten Lombok Tengah dan Pandangan Hukum Islam Terhadap Praktik Nembang Dalam Adat Sorong Serah di Desa Bujak Kecamatan Batukliang Kabupaten Lombok Tengah.

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa praktik nembang dalam adat sorong serah di desa bujak memiliki tahapan-tahapan yang dilakukan oleh masyarakat yaitu: mulai dari mengumpulkan masyarakat, terutama kepala dusun dan para tokoh-tokoh adat yang ada di Desa Bujak untuk merundingkan dan menentukan siapa saja yang bisa untuk

7 Muhammad Hijjul Hari Akbar, “Tradisi Pemegat Talin Kepeng Dalam Adat Perkawinan Masyarakat Sasak Perspektif Hukum Islam (Studi Kasus Di Desa Mekar Sari Kecamatan Narmada Kabupaten Lombok Barat)”, (Skripsi, FSEI IAIN Mataram, Mataram, 2016), hlm. 88.

(22)

8

ditugaskan sebagai pembayun / pisolo dalam melaksanakan praktik nembang di Desa Bujak.

Kemudian mempersiapkan kelengkapan aji kerame yang akan dibawa ke rumah mempelai wanitanya dan mempersiapkan diri terutama orang yang bertugas sebagai pembayun dari segi pakaiannya seperti layaknya seorang pembayun, seperti memakai selayer batik dan perlengkapan yang akan dibawa ke rumah mempelai wanita. Setelah itu rombongan dari pihak mempelai laki- laki dipersilahkan masuk ke lace-lace adat oleh pihak mempelai perempuan, kemudian seorang pembayun melakukan tembangnya, lalu saling timbal-balik (Tanya jawab) menggunakan tembang dengan pembayun dari pihak mempelai perempuan hingga selesai.

Adapun mengenai pandangan hukum Islam terhadap praktik nembang di Desa Bujak Kecamatan Batukliang ini tidaklah jauh dari Syaria’at Islam, sebab mekanisme yang dilalui oleh masyarakat Desa Bujak mengenai nembang tersebut tidak ada pelanggarang terhadap hukum Islam, hukum Islam memandang hal demikian adalah mubah (boleh). Berdasarkan qaidah yang mengatakan: adat (kebiasaan) dapat menjadi hukum.

Persamaan skripsi Abdul Aziz dengan penelitian kali ini yaitu sama-sama membahas tentang tradisi perkawinan adat sasak sedangkan perbedaannya adalah penelitian yang dilakukan oleh peneliti yang sekarang lebih spesifik membahas mengenai pandangan hukum Islam terhadap praktik pembayaran penari (bayah aok) dalam tradisi perkawinan adat masyarakat suku sasak di desa Loang Maka, kecamatan Janapria Lombok Tengah.8

4. L. Ade Sukrizal Watoni, Skripsi dengan judul “Tradisi Nyongkolan Adat Sasak Dalam Perspektif Hukum Islam (Study Kasus Di Desa Mendana Raya Kecamatan Keruak Kabupaten Lombok Timur)”, yang membahas tentang pandangan tokoh agama dan tokoh masyarakat mengenai proses adat Nyongkolan di Desa Mendana Raya Kecamatan Keruak Kabupaten Lombok Timur dan

8 Abdul Aziz, “Praktik Nembang Dalam Adat Sorong Serah Di Desa Bujak Kecamatan Batukliang Lombok Tengah (Perspektif Hukum Islam)”, (Skripsi, FSEI IAIN Mataram, Mataram, 2016), hlm. 71.

(23)

9

pandangan Hukum Islam mengenai proses kegiatan tradisi Nyongkolan adat suku Sasak.

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa Nyongkolan dalam pandangan para tokoh agama dan tokoh masyarakat yang ada di desa mendana raya terkait masalah adat nyongkolan itu sendiri bahwa, pada dasarnya acara tersebut diperbolehkan karna tujuannya yang sangat mulia, yakni untuk memberitahukan kepada masyarakat bahwasanya kedua mempelai tersebut telah resmi menjadi pasangan suami istri.

Hal tersebut dapat terus dilestarikan, sehingga kebiasaan nyongkolan ini nantinya dapat dijadikan salah satu media dalam berdakwah, mensyiarkan ajaran agama dengan cara memperkenalkan sekaligus mengumumkan kedua pengantin agar tidak menimbulkah fitnah dikemudian hari.

Adapun dalam perspektif Islam, bahwasanya Islam sendiri memandang tradisi Nyongkolan tersebut pada hakikatnya dihajatkan untuk menjalankan ruh agama itu sendiri, bahkan itu merupakan tuntunan syariat agama yang disyariatkan pada umat nabi Muhammad saw, yang berlandaskan pada Al-hadits. Tradisi nyongkolan adat sasak bila dikaitkan dengan perspektif hukum Islam dapat membentuk karakter positif antara lain: Pertama, munculnya karakter untuk saling ikhlas memaafkan atas kesalahan yang telah dilakukan, terutama bagi kedua mempelai terhadap kedua orang tuanya. Kedua, mempererat tali silaturrahim antara keluarga kedua mempelai, sehingga dapat memupuk tali kekeluargaan yang semakin erat antara satu sama lain. Ketiga, menumbuhkan perasaan untuk saling membantu dalam penyelesaian prosesi adat nyongkolan. Keempat, kepedulian terhadap orang lain, nyongkolan dilaksanakan dengan cara tertib, teratur, dan rapi agar tidak mengganggu kenyamanan orang lain.

Pada dasarnya tokoh agama dan tokoh masyarakat memandang bahwa nyongkolan adalah boleh, bukan wajib. Dengan beberapa ketentuan yaitu tidak melanggar aturan agama atupun adat. Seperti meninggalkan shalat, dan tidak mengganggu aktivitas pengguna jalan yang bisa mengakibatkan kemacetan isidental.

(24)

10

Persamaan skripsi L. Ade Sukrizal Watoni dengan penelitian kali ini yaitu sama-sama membahas tentang perspektif hukum Islam terhadap tradisi perkawinan adat sasak sedangkan perbedaannya adalah penelitian yang dilakukan oleh peneliti yang sekarang lebih spesifik membahas mengenai pandangan hukum Islam terhadap praktik pembayaran penari (bayah aok) dalam tradisi perkawinan adat masyarakat suku sasak di desa Loang Maka, kecamatan Janapria Lombok Tengah.9

5. Kamiluddin, Skripsi dengan judul “Tinjauan Hukum Islam Terhadap Pelaksanaan Perkawinan (Merarik) Secara Adat sasak Di Kecamatan Gunungsari Lombok Barat”, yang membahas tentang tata cara perkawinan adat sasak, tata cara perkawinan secara hukum Islam dan tinjauan hukum Islam terhadap perkawinan secara adat Sasak. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa perkawinan secara adat Sasak pada dasarnya ditandai oleh sorong serah, nyongkol dan nyomba. Dalam masalah peminangan pada umumnya dilakukan secara belakok atau meminta sebagaimana peminangan yang dilakukan secara hukum Islam, kecuali dalam keadaan darurat baru dilakukan dengan cara diculik, adapun dalam melaksanakan perninakahan dengan cara diculik tersebut terlebih dahulu ada kesepakatan antara kedua mempelai. Adapun mengenai tinjauan hukum Islam terhadap perkawinan secara adat Sasak adalah sah karena, telah memenuhi syarat-syarat perkawinan yang telah diatur dalam hukum Islam seperti: adanya wali, adanya dua orang saksi, serta adanya ijab dan qabul.

Persamaan skripsi Kamiluddin dengan penelitian yang sekarang ini adalah sama-sama membahas tentang tinjauan hukum Islam terhadap tradisi perkawinan adat sasak sedangkan perbedaannya adalah penelitian yang dilakukan oleh peneliti yang sekarang lebih spesifik membahas mengenai pandangan hukum Islam terhadap praktik pembayaran penari (bayah aok) dalam

9 L. Ade Sukrizal Watoni, “Tradisi Nyongkolan Adat Sasak Dalam Perspektif Hukum Islam (Study Kasus Di Desa Mendana Raya Kecamatan Keruak Kabupaten Lombok Timur)”, (Skripsi, FSEI IAIN Mataram, Mataram, 2016), hlm. 80-81.

(25)

11

tradisi perkawinan adat masyarakat suku sasak di desa Loang Maka, kecamatan Janapria Lombok Tengah. 10

6. St Jumhuriatul Wardani, Skripsi dengan judul “Adat Kawin Lari

“Merariq” Pada Masyarakat Sasak (Studi Kasus Di Desa Sakra Kabupaten Lombok Timur), yang membahas tentang alasan-alasan yang melatarbelakangi masyarakat Sasak khususnya di Sakra melakukan merariq, dan perbedaan antara merariq pada golongan bangsawan dengan masyarakat biasa.

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa alasan yang melatarbelakangi masyarakat Sasak khususnya di Sakra melakukan kawin lari atau merariq yaitu karena perkawinan dengan adat merariq bagi laki-laki dan perempuan merupakan suatu bentuk kemampuan mereka dalam memegang tanggung jawab untuk mandiri menjalankan kehidupan bersama. Selain itu juga orang tua laki-laki berarti sudah siap mengambil resiko atas perbuatan anak laki-lakinya, kemudian tidak adanya persetujuan dari pihak orang tua dengan pasangan yang dipilih oleh anak mereka, dan dapat dikatakan juga bahwa pihak laki-laki tanpa sepengetahuan dan kesepakatan dari keluarga pihak perempuan, langsung membawa lari gadis yang akan dinikahinya tersebut.

Kemudian mengenai Perbedaan merariq pada kaum bangsawan dengan masyarakat biasa pada saat ini hanya terlihat dari besar kecilnya jumlah aji krame yang dibacakan saat prosesi sorong serah berlangsung, seorang bangsawan aji krame-nya sebesar 66 selakse sedangkan masyarakat biasa nilainya 33 selakse. Akan tetapi pada jaman dahulu antara bangsawan dengan masyarakat biasa terdapat beberapa perbedaan yaitu cara berpakaian mereka, dan payung agung yang digunakan saat nyongkolan. Akan tetapi pada saat ini, baik itu bangsawan maupun masyarakat biasa sama-sama menggunakan payung agung saat mereka melakukan acara nyongkolan dan dari cara berpakainya antara bangsawan dan masyarakat biasa pada saat ini adalah sama.

10 Kamiluddin, “Tinjauan Hukum Islam Terhadap Pelaksanaan Perkawinan (Merarik) Secara Adat sasak Di Kecamatan Gunungsari Lombok Barat”, (Skripsi, FS IAIN Sunan Ampel, Mataram, 1995), hlm. 89.

(26)

12

Persamaan skripsi St Jumhuriatul Wardani dengan penelitian saat ini adalah sama-sama membahas tentang proses merariq masyakat suku sasak, sedangkan perbedaannya yaitu pada penelitian saat ini lebih spesifik membahas mengenai pandangan hukum Islam terhadap praktik pembayaran penari (bayah aok) dalam tradisi perkawinan adat masyarakat suku sasak di desa Loang Maka, kecamatan Janapria Lombok Tengah.11

7. Hendra Darsah, Tesis dengan judul “Tradisi Pisuke Sebagai Syarat Pernikahan Perspektif Konstruksi Sosial Peter L. Berger (Studi Pandangan Tuan Guru Nahdlatul Ulama Dan Tuan Guru Nahdlatul Wathan Lombok Tengah)”. Yang membahas tentang praktik pemberian pisuke di Lombok Tengah, pandangan tuan guru Nahdlatul Ulama dan Nahdlatul Wathan terhadap pisuke sebagai syarat pernikahan di Lombok Tengah, dan tradisi pisuke sebagai syarat pernikahan perspektif konstruksi sosial.

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa Tradisi pisuke dimulai sejak diambilnya gadis sebagai calon istri oleh pihak laki-laki, yang kemudian selanjutnya pihak laki-laki melaporkan peristiwa itu kepada keluarga pihak perempuan dan Kepala Dusun tempat tinggal atau domisili perempuan tersebut. Hal ini biasanya disebut dengan prosesi mesejati, nyelabar, yang artinya pihak laki-laki memberikan informasi bahwa laki-laki dari wilayah dusun telah mengambil gadis dari dusun ini untuk dijadikan isteri. Kemudian di sela-sela nyelabar inilah terjadinya proses tawar menawar dan kesepakatan antara keluarga mempelai pihak laki-laki dengan keluarga mempelai pihak perempuan, mengenai berapa jumlah uang mahar dan pisuke yang diminta oleh pihak perempuan, apakah pisuke diberikan sebelum akad nikah atau setelah akad nikah pengantin.

Kemudian mengenai pandangan tuang guru NU dan tuan guru NW, dari masing-masing ormas ini mempunyai dua pandangan ketika pisuke dijadikan syarat pernikahan yaitu pertama, ada yang setuju dengan alasan pisuke itu bermakna pisoloh yaitu dengan

11 St Jumhuriatul Wardani, “Adat Kawin Lari “Merariq” Pada Masyarakat Sasak (Studi Kasus Di Desa Sakra Kabupaten Lombok Timur)”, (Skripsi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Semarang, 2009), hlm. 83-84.

(27)

13

diberikannya sejumlah uang atau barang di luar mahar tersebut akan terwujudnya rasa terima kasih dari pihak laki-laki kepada pihak perempuan yang telah mendidik dan mengasuh perempuah yang akan dinikahinya. Kemudian yang kedua ada yang tidak setuju pisuke itu disertakan dalam pernikahan dengan tujuan hanya mahar saja yang disertakan, mereka berpendapat sering kali permintaan pisuke yang terlalu besar sehingga terkadang hal tersebut dapat membatalkan pernikahan, kemudian membuat seseorang berzina, dan memberatkan pihak mempelai laki-laki.

Persamaan tesis Hendra Darsah dengan penelitian saat ini adalah sama-sama membahas tentang proses merariq masyakat suku sasak, sedangkan perbedaannya yaitu pada fokus penelitian yang mana penelitian sebelumnya lebih spesifik membahas tentang pisuke sedangkan penelitian saat ini lebih spesifik membahas mengenai pandangan hukum Islam terhadap praktik pembayaran penari (bayah aok) dalam tradisi perkawinan adat masyarakat suku sasak di desa Loang Maka, kecamatan Janapria Lombok Tengah.12 F. Kerangka Teori

1. Perkawinan atau Pernikahan

Dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI) pasal 2 dan 3 dikatakan bahwa perkawinan menururt hukum Islam adalah pernikahan, yaitu akad yang sangat kuat atau mitssaqan ghalidzan untuk mentaati perintah Allah dan melaksanakannya merupakan ibadah. Yang bertujuan untuk mewujudkan kehidupan rumah tangga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah.13

Menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Pasal 1 bahwasanya pernikahan ialah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai istri dengan tujuan untuk

12 Hendra Darsah, “Tradisi Pisuke Sebagai Syarat Pernikahan Perspektif Konstruksi Sosial Peter L. Berger (Studi Pandangan Tuan Guru Nahdlatul Ulama Dan Tuan Guru Nahdlatul Wathan Lombok Tengah)”,(Tesis, Pascasarjana, UIN Maulana Malik Ibrahim, Malang, 2019), hlm. 84-85.

13 Tim Permata Press, Kompilasi Hukum Islam (Jakarta: 2003). hlm, 2.

(28)

14

membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia, kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.14

Pernikahan atau perkawinan ialah akad yang menghalalkan pergaulan serta membatasi hak dan kewajiban antara seorang laki- laki dengan seorang perempuan yang bukan mahram-nya. Menurut Abdurrahman Al-Jaziri dikatakan bahwa perkawinan adalah suatu perjanjian suci antara seorang laki-laki dan seorang perempuan untuk membentuk keluarga bahagia.15

Definisi tersebut di atas memperjelas bahwa pengertian perkawinan adalah perjanjian. Adapun perjanjian mengandung pengertian adanya kemauan bebas antara dua pihak yang saling berjanji, berdasarkan prinsip suka sama suka. Oleh karena itu, baik pihak laki-laki ataupun pihak perempuan yang mengikat janji dalam ikatan perkawinan mempunyai kebebasan penuh unutk menyatakan, apakah mereka bersedia atau tidak. Perjanjian tersebut dinyatakan dalam bentuk ijab dan Kabul yang harus diucapkan dalam satu majelis, baik langsung oleh mereka yang bersangkutan yaitu calon suami dan calon istri, jika kedua mempelai tersebut sepenuhnya berhak atas dirinya sendiri menurut hukum atau oleh mereka yang dikuasakan untuk itu.16

Jadi, dari beberapa pengertian yang telah dipaparkan di atas dapat disimpulkan bahwa pernikahan ialah suatu ikatan lahir dan batin antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan yang bukan mahram-nya dengan tujuan untuk membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia, kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.

2. Khitbah atau peminangan

Kata peminangan berasal dari kata “pinang, meminang” (kata kerja). Meminang sinonimnya adalah melamar, yang dalam bahasa Arab disebut “khitbah”. Menurut etimologi, meminang atau melamar berarti meminta wanita untuk dijadikan istri (bagi diri

14 Undang-Undang RI Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan (Bandung:

Citra Umbara, 2012), hlm. 2.

15 Beni Ahmad Saebani, Fiqih Munakahat (buku 1), (Bandung: Pustaka Setia, 2001), hlm. 9-18.

16 Ibid., 18.

(29)

15

sendiri atau orang lain). Menurut terminologi, “peminangan merupakan kegiatan atau upaya ke arah terjadinya hubungan perjodohan antara seorang pria dengan seorang wanita. Atau seorang pria meminta kepada seorang wanita untuk menjadi istrinya dengan cara-cara yang umum berlaku di tengah-tengah masyarakat”.17

Dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI) Bab 1, Pasal 1 huruf a, dijelaskan bahwa peminangan ialah kegiatan kegiatan upaya ke arah terjadinya hubungan perjodohan antara seorang pria dengan seorang wanita. Adapun dalam bab III, pasal 11 juga dijelaskan bahwasanya peminangan dapat langsung dilakukan oleh orang yang berkehendak mencari pasangan jodoh, tapi dapat pula dilakukan oleh perantara yang dapat dipercaya.18 Pada proses peminangan atau lamaran tersebut berlangsung biasanya terdapat uang lamaran yang dibawa oleh pihak laki-laki sesuai dengan permintaan dan kesepakatannya dengan calon mempelai perempuan. Yang mana, hal tersebut tidak terdapat dalam syarat- syarat peminangan itu sendiri, akan tetapi sudah menjadi suatu kebiasaan yang dilakukan oleh masyarakat luas.

Adapun mengenai tradisi pembayaran penari atau bayah aok ini, berdasarkan hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti maksudnya adalah bayaran yang diberikan oleh calon mempelai laki-laki kepada calon mempelai perempuan, yang mana ketika seorang laki-laki hendak meminta untuk menikahi seorang perempuan maka laki-laki tersebut akan diminta untuk membayar persetujuan dari perempuan yang akan dinikahinya dengan kata lain bahwasanya laki-laki tersebut membayar kata “iya” dari perempuan yang siap menerima lamarannya.

Jadi, berdasarkan pengertian yang telah disebutkan di atas maka, dapat dikatakan bahwasanya tradisi pembayaran penari atau bayah aok ini merupakan bagian daripada proses peminangan atau

17 Abdul Rahman Ghozali, Fiqh Munakahat, Cetakan Ke-6 (Jakarta: Kencana, 2014), 73-74

18 Tim Permata Press, Kompilasi…, hlm. 1- 4.

(30)

16

khitbah yang berlaku umum di tengah-tengah masyarakat yang ada di Desa Loang Maka.

3. Jenis Pembayaran Hukum Perkawinan Islam Mahar atau Maskawin

Mahar, secara etimologi, artinya maskawin. Secara terminologi, mahar ialah pemberian wajib dari calon suami kepada calon istri sebagai ketulusan hati calon suami untuk menimbulkan rasa cinta kasih bagi seorang istri kepada calon suaminya. Atau, suatu pemberian yang diwajibkan bagi calon suami kepada calon istrinya, baik dalam bentuk benda maupun jasa (memerdekakan, mengajar, dan lain sebagainya).19

Islam sangat memerhatikan dan menghargai kedudukan seorang wanita dengan memberi hak kepadanya di antaranyaadalah hak untuk menerima mahar (maskawin). Mahar hanya diberikan oleh calon suami kepada calon istri, bukan kepada wanita lainnya atau siapa pun walaupun sangat dekat dengannya. Orang lain tidak boleh menjamah apalagi menggunakannya, meskipun oleh suaminya sendiri, kecuali dengan rida dan kerelaan si istri.20

Sebagaimana firman Allah dalam Q.S An-Nisa’ ayat 4 yang artinya “dan berikanlah maskawin (mahar) kepada perempuan yang kamu nikahi sebagai pemberian yang penuh kerelaan.

Kemudian, jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, maka terimalah dan nikmatilah pemberian itu dengan senang hati.”21

Jadi, pemberian maskawin besar kecilnya itu ditetapkan atas persetujuan kedua pihak, karena pemberian itu harus dilakukan dengan ikhlas.

Walimatul ‘Ursy

Walimah (Al-Walimah) artinya Al-jam’u= kumpul, sebab antara suami dan istri berkumpul, bahkan sanak saudara, kerabat,

19 Tihami, Fiqh Munakahat: Kajian Fiqih Nikah Lengka, (Jakarta: Rajwali pers, 2014), hlm. 36-37.

20 Tihami, Fiqh…, hlm. 37.

21 Departemen Agama, Republik Indonesia, Al-Qur’an Hafalan, (Bandung:

Cordoba, 2020), hlm. 77.

(31)

17

dan para tetangga. Walimah (Al-Walimah) berasal dari kata bahasa Arab: Al-Walima artinya makanan pengantin, maksudnya adalah makanan yang disediakan khusus dalam acara pesta perkawinan.

Bisa juga diartikan sebagai makanan untuk tamu undangan atau lainnya.22

Menurut Ibnu Atsir dalam kitabnya An-Nihayah (Juz V/226) dikutip oleh Zakiyah Darajat dkk, mengemukakan bahwa walimah adalah makanan yang dibuat untuk pesta perkawinan.23 Walimah diadakan ketika acara akad nikah berlangsung atau sesudahnya, atau dapat juga ketika hari perkawinan atau sesudahnya. Walimah bisa juga diadakan menurut adat dan kebiasaan yang berlaku dalam suatu masyarakat.

Adapun mengenai dasar hukum mengadakan walimah tersebut, jumhur ulama sepakah bahwa hukumnya sunnah mu’akkad. Hal ini sesuai dengan hadits Rasulullah Saw yang artinya “dari Buraidah, ia berkata, Ketika Ali melamar Fatimah, Rasulullah Saw, bersabda, “Sesungguhnya untuk pesta perkawinan harus ada walimahnya.” (HR Ahmad). Kemudian hadits riwayat Bukhari yang artinya “Rasulullah Saw mengadakan walimah untuk sebagian istrinya dengan dua mud gandum.” (HR Bukhari).24

Mengenai walimatul ‘ursy bahwasanya, sebagian besar masyarakat yang ada di Desa Loang Maka masih tetap mempraktikkan hal tersebut, yang mana masyarakat setempat biasanya menyebut acara tersebut dengan begawe atau resepsi.

Namun, istilah begawe lebih sering digunakan oleh masyarakat setempat.

4. Al-‘Urf atau Adat a. Pengertian al-‘Urf

Ditinjau dari segi kebahasaan (etimologi) al-‘urf berasal dari kata yang terdiri dari huruf ‘ain, dan fa’ yang berarti kenal. Dari kata ini muncul kata ma’rifah (yang dikenal), ta’rif (definisi), kata ma’ruf (yang dikenal sebagai kebaikan),

22 Tihami, Fiqh…, hlm. 131.

23 Ibid.

24 Ibid., hlm. 132-133

(32)

18

dan kata ‘urf (kebiasaan yang baik).25 Sedangkan secara terminologi, Seperti yang dikemukakan oleh Abdul Karim Zaidan, istilah ‘urf berarti sesuatu yang tidak asing lagi bagi masyarakat karena telah menjadi kebiasaan dan menyatu dengan kehidupan mereka baik berupa perbuatan ataupun perkataan.26

Dari penjelasan yang telah disebutkan di atas, dapat dipahami bahwa al-‘urf atau al-‘adah terdiri atas dua bentuk yaitu al-‘aufal al-qauli (kebiasaan dalam bentuk perkataan) dan al-‘urf al-fi’li (kebiasaan dalam bentuk perbuatan). ‘Urf dalam bentuk perbuatan misalnya seperti transaksi jual beli barang kebutuhan sehari-hari dipasar, tanpa mengucapkan lafal ijab dan qabul demikian juga membagi mahar menjadi “hantaran” dan

“maskawin”. Sedangkan contoh ‘urf dalam bentuk perkataan yaitu misalnya, kalimat yang mengatakan “engkau saya kembalikan kepada orang tuamu” dalam masyarakat Islam di Indonesia, perkataan tersebut mengandung arti talak.27

Urf adalah keadaan yang sudah melekat dalam diri manusia, yang dibenarkan oleh akal dan dapat diterima pula oleh tabiat yang sehat. Definisi ini menunjukkan bahwa perbuatan dan perkataan yang jarang dilakukan dan belum dibiasakan oleh sekelompok masyarakat, maka tidak dapat disebut sebagai ‘urf. Begitu pula hal-hal yang sudah menjadi kebiasaan, namun ia bersumber dari nafsu dan syahwat, seperti meminum khamar dan seks bebas, yang sudah menjadi sebuah kebiasaan sekelompok masyarakat, tidak juga dapat dikategorikan sebagai ‘urf. Artinya, ‘urf bukanlah suatu kebiasaan yang menyimpang dari norma dan aturan melainkan sebaliknya, yaitu sesuai dengan norma dan aturan.

b. Macam-macam ‘Urf atau Adat

Ditinjau dari segi keabsahannya, al-‘urf dapat pula dibagi menjadi dua bagian, yaitu sebagai berikut:

25 Abd. Rahman Dahlan, Ushul Fiqh, (Jakarta: Amzah, 2014), hlm. 209.

26 Satria Efendi, Ushul Fiqh, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2005), hlm. 153.

27 Abd. Rahman Dahlan, Ushul…, hlm. 210.

(33)

19

1) Al-‘Urf ash-Shahihah (‘Urf yang Absah) yaitu suatu adat kebiasaan masyarakat yang sesuai dan tidak bertentangan dengan aturan-aturan hukum Islam. Dengan kata lain ‘urf yang tidak mengubah ketentuan yang haram menjadi halal, ataupun sebaliknya. Seperti misalnya, kebiasaan yang terdapat dalam suatu masyarakat yaitu memberikan hadiah (hantaran) kepada pihak perempuan ketika peminangan, tidak dikembalikkan kepada pihak laki-laki apabila peminangan dibatalkan oleh pihak laki-laki. Sebaliknya, jika yang membatalkan peminangan adalah pihak perempuan, maka “hantaran’ yang diberikan kepada pihak perempuan yang dipinang dikembalikan dua kali lipat jumlahnya kepada pihak laki-laki yang meminang.

2) Al-‘Urf al-Fasidah (‘Urf yang Rusak/Salah) yaitu suatu adat kebiasaan masyarakat yang bertentangan dengan ketentuan dan dalil-dalil syara’. Adat kebiasaan yang salah adalah menghalalkan hal-hal atau perbuatan yang pada dasarnya dalam syariat Islam itu haram atau mengharamkan sesuatu yang pada dasarnya dalam Islam itu halal. Seperti misalnya, kebiasaan berciuman antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram dalam acara pertemuan- pertemuan pesta.

Para ulama sepakat bahwa, al-‘urf al-fasidah ini tidak dapat menjadi landasan hukum, dan kebiasaan tersebut dikatakan batal demi hukum. Oleh karena itu, dalam rangka meningkatkan permasyarakatan dan pengamalan hukum Islam pada masyarakat, maka sebaiknya dilakukan dengan cara yang baik atau ma’ruf, dan diupayakan agar mengubah adat yang bertentangan dengan ketentuan ajaran Islam tersebut, kemudian menggantikannya dengan adat kebiasaan yang sesuai dengan syariat Islam.

G. Metode Penelitian

1. Pendekatan Penelitian

Pendekatan penenlitian dalam penelitian ini menggunakan metode pendekatan kualitatif, karena data yang digali

(34)

20

menggunakan beberapa teknik yaitu wawancara, observasi, dan diolah dengan teknik pengelompokan serta konsep-konsep dengan bahasa kualitatif kemudian mencari substansinya.

Pada penelitian ini, peneliti lebih memusatkan perhatiannya pada prinsip-prinsip umum yang mendasari perwujudan satuan- satuan gejala yang ada dalam kehidupan manusia, atau pola-pola yang dianalisis gejala-gejala sosial budaya dengan menggunakan kebudayaan yang bersangkutan untuk memperoleh gambaran mengenai pola-pola yang berlaku.28

2. Kehadiran Peneliti

Dalam hal ini peneliti berperan sebagai orang yang melakukan observasi mengamati dengan cermat terhadap obyek penelitian.

Untuk memperoleh data tentang penelitian ini, maka peneliti terjun langsung ke lapangan. Dikarenakan Kehadiran peneliti dalam penelitian ini berperan sebagai instrumen kunci yang berperan sebagai pengamat non partisipan, yaitu peneliti turun ke lapangan tidak melibatkan diri secara langsung dalam kehidupan obyek penelitian. Sesuai dengan salah satu ciri pendekatan kualitatif yaitu sebagai instrumen kunci.29

Dengan itu peneliti di lapangan sangat mutlak hadir atau terjun langsung dalam melakukan penelitian. Berkenaan dengan hal tersebut, dalam mengumpulkan data, peneliti berusaha menciptakan hubungan yang baik dengan informan atau yang biasa disebut dengan narasumber yang menjadi sumber data utama agar data-data yang diperoleh betul-betul valid. Dalam pelaksanaan penelitian ini, peneliti hadir langsung di lapangan sejak diizinkannya melakukan penelitian, yaitu dengan cara mendatangi lokasi penelitian pada waktu-waktu yang telah ditentukan.

3. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di beberapa dusun yang ada di Desa Loang Maka kecamatan Janapria Lombok Tengah. Loang Maka diambil sebagai lokasi penelitian karena beberapa alasan, di

28 Burhan Ashshofa, Metode Peneletian Hukum, (Jakarta: Rineka Cipta, 2007), hlm. 20-21.

29 Sugiyono, Metode Penelitian Kualitatif Kuantitatif dan R &D, (Bandung:

Alfabeta, 2010), hlm. 223.

(35)

21

antaranya di keseluruhan desa yang ada di kecamatan Janapria, desa Loang maka sebagian masyarakatnya masih mempratikkan masalah tradisi pembayaran penari (bayah aok).

4. Sumber dan Jenis Data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu terdiri dari dua macam yaitu data primer dan data skunder. Adapun sumber data dari penelitian ini meliputi:30

a. Data Primer

Data primer merupakan data yang diperoleh langsung dari objek yang diteliti.31 Data primer ini diperoleh dari wawancara dengan masyarakat di Desa Loang Maka Kecamatan Janapria Lombok Tengah selaku pelaku praktik pembayaran penari atau bayah aok, tokoh adat setempat, dan tokoh agama.

b. Data Skunder

Data sekunder merupakan data yang diperoleh dari sumber kedua setelah data primer seperti buku, jurnal, majalah. Data sekunder sebagai data tambahan untuk menguatkan hasil penelitian dan akan dikorelasikan dengan data primer. Data skunder akan membantu peneliti dalam menemukan bukti, sehingga peneliti dapat menyelesaikan penelitian dengan baik.

Tahap pada sumber data skunder yang paling banyak dipergunakan dalam penelitian ini adalah profil desa Loang Maka.

5. Teknik Pengumpulan Data a. Observasi

Observasi yaitu pengamatan terhadap suatu objek yang diteliti baik secara langsung maupun tidak langsung untuk memperoleh data yang harus dikumpulkan dalam penelitian.

Dalam hal pengamatan secara langsung yaitu dengan cara terjun ke lapangan yang melibatkan seluruh pancaindra. Sedangkan secara tidak langsung berarti pengamatan yang dilakukan

30 Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, (Jakarta:

PT Rineka Cipta, 2014), hlm. 172.

31 Bagong Suyanto Sutinah, Metode Penelitian Sosial Berbagai Alternatif Pendekatan, (Jakarta: Kencana, 2007), hlm. 55.

(36)

22

dengan dibantu melalui media visul/audiovisual, misalnya teleskop, handycam, dll.32

Dalam hal ini penulis langsung terjun ke lapangan penelitian, hal ini sebagai upaya untuk memahami secara langsung pelaksanaan praktik pembayaran penari atau bayah aok dalam tradisi perkawinan adat masyarakat suku sasak di Kecamatan Janapria Lombok Tengah. Agar penulis dengan mudah menilai dan memahami fakta yang ada. Observasi dibagi menjadi dua macam, yaitu observasi partisipan dan non partisipan. Adapun observasi yang peneliti gunakan adalah observasi non parsitipan.

b. Wawancara

Wawancara adalah metode pengumpulan data dalam bentuk komunikasi langsung antara peneliti (pewawancara) dan responden (narasumber). Komunikasi tersebut berlangsung dalam bentuk tanya jawab sambil bertatap muka antara peneliti dan responden bisa dengan wawancara mendalam atau wawancara bertahap.33 Dalam penelitian ini penulis melakukan wawancara mendalam dari berbagai sumber yaitu pelaku tradisi pembayaran penari atau bayah aok, tokoh adat di desa Loang Maka kecamatan Janapria Lombok Tengah, dan Tokoh agama penduduk setempat. Sesuai dengan hal ini maka penulis melakukan proses wawancara secara bebas dan terstruktur dengan tujuan untuk mendapatkan informasi lebih dalam dari informan. Dalam hal ini setelah terjun langsung ke lapangan penulis hanya dapat mewawancarai beberapa tokoh adat dalam setiap dusun yang ada di Desa Loang Maka. Yaitu Dusun Jonggek, Dusun Pemantek Bat Lauk, Dusun Pemantek Daye, Dusun Tibu Sisok, dan Dusun Loang Maka.

c. Dokumentasi

Studi dokumentasi yaitu mengumpulkan dokumen dan data-data yang diperlukan dalam permasalahan penelitian kemudian ditelaah secara intens sehingga dapat mendukung dan

32 Djam’an Satori dan Aan Komariah, Metedologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: Alfabeta, 2014), hlm. 105.

33 Sugiono, Metode …, hlm. 137.

(37)

23

menambah kepercayaan dan pembuktian dalam suatu kejadian.34

Metode dokumentasi ini juga digunakan oleh peneliti untuk mendapatkan data berupa foto-foto atau dokumen-dokumen tentang praktik pembayaran penari (bayah aok) dalam tradisi perkawinan adat masyarakat suku sasak di Kecamatan Janapria Lombok Tengah dan juga menyajikan dokumen-dokumen profil desa Loang Maka Kecamatan Janapria Kabupaten Lombok Tengah serta dokumen lainnya yang berkaitan dengan tradisi pembayaran penari (bayah aok).

6. Teknik Analisa Data

Menurut pendapat Bogdan & Biklen bahwasanya analisis data kualitatif adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilah-milahnya sehingga menjadi satuan yang dapat dikelola, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari, kemudian memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain.35 Secara sistematis analisis data dapat dilakukan dengan tiga langkah secara bersamaan, yaitu:

a. Reduksi data merupakan proses merangkum hal-hal yang pokok dan memfokuskan kepada hal-hal yang penting. Dalam hal ini memfokuskan kepada hal-hal yang berhubungan dengan tradisi pembayaran penari atau bayah aok.

b. Display atau Penyajian Data yaitu sekumpulan informasi yang tersusun yang memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan yang disajikan dalam bentuk teks naratif (pengisahan suatu cerita atau kejadian).

c. Penarikan Kesimpulan atau Verifikasi, adapun kesimpulan dalam penelitian kualitatif yaitu merupakan temuan baru yang sebelumnya belum pernah ada. Temuan dapat berupa deskripsi atau gambaran suatu obyek yang sebelumnya masih belum jelas atau galap sehingga setelah diteliti menjadi jelas, dapat berupa hubungan kausal atau interaktif, hipotesis atau teori.36

34 Djam’an Satori dan Aan Komariah, Metedologi …, hlm. 148

35 Ibid., hlm. 201.

36 Ibid., hlm. 218-220.

(38)

24

Dari penjelasan di atas, dalam menganalisis data yang telah dikumpulkan, maka peneliti melengkapi dan mengklasifikasikan serta menyederhanakan data-data yang diperoleh di lapangan, baik data yang diperoleh melalui observasi atau pengamatan, wawancara maupun dokumentasi, kemudian peneliti memberikan suatu kesimpulan yang sesuai dengan data yang telah dianalisis.

7. Teknik Validitas atau Keabsahan Data

Dalam sebuah penelitian, keabsahan data sangatlah penting disamping sebagai wahana untuk penulis dalam meneliti hal tersebut. Keabsahan data ini juga sebagai alat bantu penulis untuk mempertanggung jawabkan penelitian ini, ada beberapa teknik yang digunakan oleh peneliti dalam memeriksa keabsahannya:

a. Observasi Mendalam atau Ketekunan Pengamatan

Dalam penelitian ini dibutuhkan ketekunan penulis dalam meneliti tradisi pembayaran penari atau bayah aok tesebut.

Selanjutnya di butuhkan sifat konsisten penulis dalam memaparkan data yang sesuai dengan pengamatan penulis agar tidak terpengaruh oleh suatu hal yang tidak sesuai dengan fakta yang ada di lapangan.

b. Triangulasi

Triangulasi adalah sebuah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain, baik untuk keperluan pengecekan atau sebagai perbandingan data tersebut.

Dalam hal ini peneliti akan melakukan dengan menggunakan triangulasi metode, yang mana triangulasi ini dilakukan dengan cara pengecekan derajat kepercayaan penemuan hasil penelitian beberapa teknik pengumpulan data, kemudian pengecekan beberapa sumber data dengan metode yang sama.37

c. Pembahasan dengan Teman Sejawat

Teknik ini dilakukan dengan cara yaitu peneliti dapat mendiskusikan hasil temuan sementaranya dengan teman sejawat, atau bisa dilakukan dalam suatu moment pertemuan

37 M. Burhan Bungin, Penelitian Kualitatif: Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Publik, dan Ilmu Sosial Lainnya, (Jakarta: Kencana, 2007), hlm. 256-257.

(39)

25

sumber data lalu diskusi untuk mendapatkan data yang benar- benar teruji.

d. Kecukupan Referensi

Dalam teknik pengumpulan data peneliti berusaha mengumpulkan data yang peneliti peroleh dari hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi. Refrensi yang digunakan yaitu bahan dokumentasi, rekaman wawancara, dan catatan-catatan harian di lapangan. Dengan refrensi ini hasil penelitian dapat dicek kembali data-data dan informasi yang ada di lapangan oleh peneliti.

H. Sistematika Pembahasan

Agar mempermudah dalam pembahasan, maka dari itu disusun sistematika penulisan bab per bab.

1. Bab I pendahuluan Pada Bab ini terdiri dari tujuh sub bab meliputi:

Latar belakang, Rumusan Masalah, Tujuan penelitian, Manfaat Penelitian, Ruang Lingkup dan Setting Penelitian, Telaah Pustaka, Kerangka Teori, Metode Penelitian dan Sistematika Pembahasan.

2. Bab II paparan data dan temuan Pada Bab ini penulis akan memaparkan tentang temuan data selama penelitian. Meliputi:

uraian tentang Gambaran Umum Desa Loang maka Kecamatan janapria Lombok Tengah seperti: sejarah singkat Desa Loang Maka, letak dan kondisi Geografis, kondisi Ekonomi, pendidikan, Sosial budaya dan Keagamaannya. Kemudian paparan data dan temuan mengenai praktik pembayaran penari (bayah aok) dalam tradisi perkawinan adat masyarakat suku sasak di kecamatan Janapria Lombok Tengah. Serta Pandangan Hukum Islam Terhadap Praktik Pembayaran Penari (Bayah Aok) Dalam Tradisi Perkawinan Adat Masyarakat Suku Sasak Di Desa Loang Maka Kecamatan Janapria Lombok Tengah.

3. Bab III pembahasan Pada Bab ini penulis akan menguraikan mengenai analisis praktik tradisi pembayaran penari (bayah aok) dalam perkawinan adat masyarakat suku sasak di kecamatan Janapria Lombok Tengah. Serta akan membahas tentang analisis pandangan hukum Islam terhadap praktik pembayaran penari

(40)

26

(bayah aok) dalam perkawinan adat masyarakat suku sasak di kecamatan Janapria Lombok Tengah.

4. Bab IV penutup yang terdiri dari: Kesimpulan dan Saran.

I. Rencana Jadwal Kegiatan Penelitian

Tabel 1.1 Rencana Jadwal Kegiatan Penelitian

No Kegiatan Bulan ke-

1 2 3 4

1 Penyusunan proposal 

2 Seminar proposal 

3 Pelaksanaan penelitian  

4 Tahap seleksi dan analisis 

5 Penulisan laporan hasil

penelitian 

6 Ujian Skripsi 

Gambar

Tabel 1.1 Rencana Jadwal Kegiatan Penelitian
Tabel 2.1 Rekapitulasi Jumlah Penduduk Di Desa Loang Maka   Tahun 2021. 39
Tabel 2.2 Mata Pencarian Penduduk Desa Loang Maka Tahun  2016. 40
Tabel 2.3 Data Pendidikan Desa Loang Maka Tahun 2016. 42

Referensi

Dokumen terkait

Islam Terhadap Tradisi Pasai dalam Perkawinan Adat Suku Banggai (Studi Kasus di Desa Kombutokan Kecamatan Totikum Kabupaten Banggai Kepulauan Sulawesi Tengah)

sanksi adat terhadap larangan perkawinan satu suku, dan analisa hukum Islam.. terhadap perkawinan

Skripsi ini membahas bagaimana Pandangan Hukum Islam Terhadap Adat Perkawinan Masyarakat Amparita Kecamatan Tellu Limpoe Kebupaten Sidenreng Rappang, tidak

Khoirus Solihin, 2016: Tinjauan Hukum Islam terhadap Pandangan Masyarakat Desa Gumuksari Kecamatan Kalisat Kabupaten Jember tentang Penentuan Akad Nikah. Perkawinan

Penetapan harga gelar kebangsawanan dalam tradisi perkawinan adat sasak di desa Batujai Lombok Tengah yang dilakukan ketika proses Sorong Serah Aji Kerama adalah Harga orang itu

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Penelitian yang dilaksanakan oleh peneliti dengan judul Tradisi Memaling Calon Pengantin Adat Suku Sasak Di Desa Pansor Kecamatan Kayangan Kabupaten Lombok

Nilai-Nilai dalam Perkawinan Adat Sasak Adat merariq suku sasak memiliki banyak nilai-nilai positif dan tidak semua orang tahu akan itu dikarenakan para leluhur dulu tidak akan

Kata kunci: hukum islam, sistem perkawinan perang bangkat, suku osing Banyuwangi Dalam Suku Osing Desa Kemiren terdapat tradisi perkawinan yaitu Perkawinan Perang Bangkat, yang