• Tidak ada hasil yang ditemukan

pandangan tokoh agama terhadap tradisi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "pandangan tokoh agama terhadap tradisi"

Copied!
71
0
0

Teks penuh

(1)

i

PANDANGAN TOKOH AGAMA TERHADAP TRADISI PADA PERNIKAHAN MALAM MERANGKAT SUKU SASAK

DI KELURAHAN DASAN GERES KECAMATAN GERUNG KABUPATEN LOMBOK BARAT

Oleh

Novia Diana Putri Nim 180202015

JURUSAN HUKUM KELUARGA ISLAM FAKULTAS SYARIAH

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MATARAM MATARAM

2022

(2)

ii

PANDANGAN TOKOH AGAMA TERHADAP TRADISI PADA PERNIKAHAN MALAM MERANGKAT SUKU SASAK DI KELURAHAN DASAN GERES KECAMATAN GERUNG

KABUPATEN LOMBOK BARAT Sekripsi

Diajukan kepada Universitas Islam Negeri Mataram Untuk melenggkapi persyaratan mencapai gelar

Sarjana Hukum S1

.

Oleh

Novia Diana Putri Nim 180202015

JURUSAN HUKUM KELUARGA ISLAM FAKULTAS SYARIAH

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MATARAM MATARAM

2022

(3)

iv

(4)

v

(5)

vii

(6)

viii MOTTO

Segala sesuatu yang dipandang oleh (orang-orang Islam) umum itu baik, maka baik pulalah di sisi Allah dan segala sesuatu yang di pandang oleh (orang-orang Islam) umum itu jelek, maka jelek pulalah di sisi Allah”.(HR. Ahmad).1

1 Ahmad bin Muhammad bin Hambal bin Hilal bin Asad bin Idris, Musnad Ahmad

(7)

ix

PERSEMBAHAN

Skripsi ini persembahan kecil peneliti untuk kedua orang tua ku, yang terkhusus untuk bapak ku Halim Nazmi dan ibu ku Rumilang yang sampai saat ini selalu berjuang demi mewujudkan cita-cita saya. Karena ketika dunia menutup pintunya, mereka berdualah yang selalu membuka lengannya.

Ketika semua orang menutupi telinganya, mereka berdualah yang selalu membuka hatinya. Trimaasi juga buat semua keluarga tercinta dan teman- teman yang selalu ada dalam keadaan apapun dan senantiasa memberikan dorongan.

(8)

x

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, segala puji dan syukur hanya miilik Allah swt., karena atas rahmat dan hidayah-Nya skripsi ini dapat di selesaikan. Selanjutnya shalawat serta salam penulis panjatkan kepada Nabi Muhammad saw., yang telah membimbing umatnya ke jalan yang benar dan kita bisa menikmati indahnya Islam sampai saat ini.

Skripsi ini berjudul “Pandangan Tokoh Agama Terhadap Tradisi Pada Pernikahan Malam Merangkat Suku Sasak (Studi di Kelurahan Dasan Geres Kecamatan Gerung Kabupaten Lombok Barat)”. Yang merupakan syarat untuk mendapatkan gelar Serjana Hukum (SH) pada Program Studi Hukum Keluarga Islam Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram.

Selama dalam proses penulisan ini penulis sangat menyadari bahwa dalam proses tersebut tidak lepas dari segala bantuan, bimbingan dan motivasi dari berbagai pihak. Oleh karena itu, melalui kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih yang sebesarnya kepada :

1. Bapak Prof. Dr. H. Masnun Tahir, M.Ag selaku Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram

2. Bapak Dr. Moh. Asyiq Amrulloh, M.Ag selaku Dekan Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram beserta jajarannya yang telah memberikan kemudahan dalam memberikan pelayanan akademik serta Bapa dan Ibu pegawai perpustakaan yang telah memudahkan penulis dala mendapatkan literatur dalam penyusunan proposal skripsi.

3. Bapak Drs. H. Muktamar, M.H selaku dosen pembimbing I, dan bapak Muhamad Zamroni, M.H.I selaku dosen pembimbing II, yang telah banyak meluangkan watu dan tenaganya untuk membimbing, mengarahkan, serta memberikan motivasi kepada penulis dalam menyelesaikan proposal skripsi ini.

4. Bapak dan Ibu Dosen Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram yang telah memberikan pengetahuan, sehingga penulis mapu menyelesaikan proposal skripsi ini.

5. Dan terakhir peneliti uacapkan terima kasih kepada kedua orang tua, keluarga, teman-teman, dan kepada masyarakat Kelurahan Dasan

(9)

xi

Geres yang sudah memberikan dukunga dan menerima peneliti dengan tanga terbuka untuk melakuka penelitia ini.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih bayak kekurangan dan masih jauh dari kata sempurna, oleh karenaitu penulis berharap adanya saran dan kritik yag membangun demi kesempurnaan skripsi ini. Akhir kata smoga skripsi inii bisa bermanfaat bagi semua yag membutuhkan.

Mataram,...2022 Penulis Saya yang menyatakan,

Novia Diana Putri

(10)

xii DAFTAR ISI Halaman Sampul

Halaman Judul ... i

Persetujuan Pembimbing ... ii

Pernyataan Keaslian Skripsi ... iii

Pengesahan Dewan Penguj ... iiv

Halaman Motto ... v

Halaman Persembahan ... vi

Kata Pengantar ... vii

Daftar Isi ... ix

Abstrak ... xi

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 2

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 3

D. Ruang Lingkup dan Setting Penelitan ... 3

E. Telaah Pustaka ... 4

F. Kerangka Konseptual... 8

G. Metode Penelitian ... 17

1. Jenis dan Sumber Data ... 18

2. Teknik Pengumpulan Data ... 18

3. Teknik Analisis Data ... 19

4. Uji Keabsahan Data ... 20

H. Sistem Penelitian ... 20

BAB II PAPARAN DATA DAN TEMUAN A. Gambaran Umum Kelurahan Dasan Geres Keamatan Gerung Kabupaten Lombok Barat ... 22

B. Konsep Tradisi Malam Merangkat Dalam Adat Perkawinan di Dasan Geres Kecamatan Gerung Kabupaten Lombok Barat ... 26

1. Proses Kegiatan Mangan Merangkat ... 30

(11)

xiii

2. Zikir dan Do‟a Kepada Allah SWT ... 32

3. Nilai Filosofi Dalam Mangan Merangkat ... 33

4. Sejarah Mangan Merangkat ... 34

BAB III PANDANGAN TOKOH AGAMA TERHADAP TRADISI PERNIKAHAN MALAM MERANGKAT DI KELURAHAN DASAN GERES KEACAMATAN GERUNG KABUPATEN LOMBOK BARAT A. Analisis Konsep Tradisi Malam Merangkat Dalam Adat Di Dasan Geres... 37

B. Analisis Pandangan Tokoh Agama Terhadap Tradisi Pernikahan Malam Merangkat ... 41

BAB IV PENUTUP A. Kesimpulan... ...46

B. Saran ... ...47

DAFTAR PUSTAKA ... ...48

LAMPIRAN ... 52

(12)

xiv

DAFTAR TABEL

Tabel Struktur Kelurahan Dasan Geres 2.1

(13)

xv

DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 Pedoman Wawancara

Lampiran 2 Dokumentasi Lampiran 8 Surat Penelitian Lampiran 9 Kartu Konsul Skripsi

(14)

xvi

PANDANGAN TOKOH AGAMA TERHADAP TRADISI PADA PERNIKAHAN MALAM MERANGKAT SUKU SASAK (Studi Di Kelurahan Dasan Geres Kecamatan Gerung Kabupaten

Lombok Barat) Oleh:

Novia Diana Putri 180202015 ABSTRAK

Penelitian ini dilatar belakangi oleh keinginan peeneliti untuk mengetahui pandangan tokoh agama terhadap tradisi atau upacara yang dilakukan oleh masyarakat sasak sendiri di Kelurahan Dasan Geres Kecamatan Gerung Kaabupaten Lombok Barat. Yang dimana dapat kita lihat upacara tersebut berupa bagian dari prosesi pernikahan yang sering disebut merangkat. Merangkat sendiri adalah upacara adat yang sering dilakukan oleh masyarakat salah satunya di masyarakat sasak yakni di Kelurahan Dasan Geres Kecamatan Gerung Kabupaten Lombok Barat, yang dimana ajaran tradisi ini merupakan bentuk peninggalan nenek moyang terdahulu dan masih dilakukan sampai sekarang. Dalam upacara adat tersebut banyak upacara yang mengandung filosofi yang mendasari kepatuhan masyarakat dalam melaksanakannya. Sehingga peneliti sangat tertarik untuk menggali lebih dalam tentang hal tersebut apalagi dengan pandangan tokoh agama terhadap tradisi adat.

Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang dimana peneliti gunakan dalam pengambilan data digunakan metode observasi, wawancara, dan dokumentasi. Narasumber yang peneliti gunakan sendiri yakni dari masyarakat Kelurahan Dasan Geres Kecamatan Gerung Kabupaten Lombok Barat yang lebih khususnya dibagi menjadi beberapa sampel yakni tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, kepala lingkungan, serta perangkat desa lainnya. Data yang dikumpulkan kemudian peneliti menganalisis dan mengolah data dengan beberapa tahap yakni reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tradisi pernikahan malam merangkat di Kelurahan Dasan Geres Kecamatan Gerung Kabupaten Lombok Barat dapat dilihat dari pandangan tokoh agama,menurut ulama ushul fiqh bahwa merangkat ialah merupakan adat atau „urf, yaitu suatu kebiasaan yang dilakukan oleh masyarakat secara turun temurun dan kebiasaan tersebut diperbolehkan selama tidak ada nash yang melarangnya.

Kata Kunci : Tokoh agama, tradisi atau „urf, konsep pernikahan dalam Islam.

(15)

1 BAB I A. Latar Belakang

Di lombok sendiri melakukan pernikahan dengan cara merari‟, atau melarikan calon mempelai wanita.2 Dan dari adat merari‟ ini terdapat suatu acara atau adat yang unik, yakni merangkat.

Tradisi adat sasak, ada namanya adat merariq, karena di lombok sendiri jarang ada orang yang dilamar, tetapi banyak orang tua di lombok sendiri menginginkan anaknya untuk merariq. Pada saat malam merariq ada suatu upcara yang dilakukan yaitu upacara mangan merangkat (makan bersama).

Upacara mangan merangkat pada umumnya merupakan serangkaian kegiatan makan bersama yang dilakukan pada malam hari untuk menyambut kedatangan calon pengantin perempuan ke rumah calon pengantin laki-laki sebagai bentuk rasa syukur karena akan melaksanakan pernikahan. Pada saat upacara manga merangkat keluarga dan kerabat datang membawa ayam, beras, dan telur untuk dimasak dirumah calon pengatin laki-laki dan dimakan secara bersama-sama.

Upacara mangan merangkat dilaksanakan mulai dari tahap persiapan, pelaksanaan (memasak), dan yag terakhir adalah makan bersama (begibung). Tahap pertama yang harus dipersiapkan adalah peralatan-peralatan masak dan menyiapkan bahan-bahan yang akan digunakan, baru kemudian dilanjutkan ketahap berikutnya yaitu pelaksanaan memasak. Setelah itu baru kemudia dilanjutkan ketahapan berikutnya yani acara mangan merangkat (maka bersama).3

Tradisi adat malam merangkat memiliki makna syukuran atas datangnya calon pengantin perempuan di rumah calon pengantin laki- laki dalam bentuk mangan (makan-makan). Setelah sampai di rumah mempelai laki-laki, calon mempelai perempuan tidak langsung diberikan masuk ke dalam rumah sang mempelai laki-laki, tetapi sebelum masuk ke dalam rumah sang laki-laki sang perempuan harus mencuci kakinya terlebih dahulu, yang menandakan dia telah datang dengan keadaan yang bersih ke rumah sang laki-laki.

2 Ihsan, Wawancara, Dasan Geres, 18 Desember 2021

3 Aisyah, S. 2015. Nilai-Nilai Sosial Yang Terkandung Dalam Cerita Rakyat “Ence Sulaiman” Pada Masyarakat Tomia. Jurnal Humanika. 3 (15). 1-9

(16)

2

Dan setelah sang mempelai perempuan masuk ke dalam rumah, tibalah waktunya keluarga sang mempelai laki-laki menyebarkan dan memanggil sanak keluarga dan kerabat serta secara terang-terangan untuk datang kerumah untuk mangan merangkat.

Dalam acara mangan merangkat ini, keluarga laki-laki mempersiapkan makanan untuk para tamu undangan dan khususnya sebuah aren (piring) untuk mempelai perempuan, dimana untuk tamu undangan sendiri makanan yang disajikan berupa ayam dan nasi, lalu khusus untuk mempelai perempuan selain diberikan ayam dan nasi, diberikan pula telur rebus atau terkadang pula diberikan sayur kelor dan telur.4

Namun sebelum kedua calon pengantin memulai mangan merangkat diharuskan untuk memecahkan telur ayam yang telah disiapkan secara bersamaan. Itu menuntukkan bahwa calon pengantin perempuan rela untuk dinikahkan dan tanpa ada unsur paksaan.5

Upacara manga merangkat yang ditujukkan denga adanya makan bersama, dibawakan ayam dan beras oleh keluarga dan kerabat, serta harus adanya pengganjil (orang ketiga) yag menemani calon pengantin pada saat makan bersama, hal tersebut sarat dengan nilai-nilai sosial dan kerjasama di antara masyarakat dan keluarga.

Melihat kondisi di Dasan Geres Keamatan Gerung Kabupaten Lombok Barat yang membuat peneliti tertarik untuk melaukan penelitian dengan judul “PANDANGAN TOKOH AGAMA

TERHADAP TRADISI PADA PERNIKAHAN MALAM

MERANGKAT SUKU SASAK”

A. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, maka rumusan masalah yang dapat diuraikan dalam penelitian ini adalah:

1. Bagaimana konsep tradisi mangan merangkat ini muncul dalam adat perkawinan di dasan geres?

2. Bagaimana pandangan tokoh agama terhadap tradisi mangan merangkat di dasan geres?

4 Observasi awal Muhammad Salikin dan Fajriati Oktarianingsih, wawancara Dasan Geres,18 Desember 2021

5 Mamiq Muhasim, Wawancara, Lingkungan Dasan Geres Kecamatan Gerung Kabupaten Lombok Barat, 23 Februari 2022

(17)

3 B. Tujuan dan Manfaat Penelitian

1. Tujuan Penelitian

Tujuan yang ingin di capai dalam penelitian ini adalah:

a. Supaya mengetahui bagaimana tradisi malam merangkat dalam adat perkawinan di dasan geres.

b. Supaya mengetahui bagaimana pandangan tokoh agama terhadap tradisi malam merangkat.

2. Manfaat Penelitian

Secara Teoritis, hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan acuan atau tunjangan sebagai refresi bagi akademisi yang sedang mencari refrensi. Dan dapat berguna untuk perkembangan hukum Islam khususnya dalam masalah penelitian mengenai “Pandangan Tokoh Agama Terhadap Tradisi Pada Pernikahan Malam Merangkat Suku Sasak” baik menurut tokoh agama undang-undang maupun hukum Islam di Indonesia, dapat memberikan manfaat bagi kajian hukum keluarga Islam mengenai adat istiadat.

Secara praktis, dengan adanya penelitian ini dapat memberikan manfaat bagi:

a. Bagi Masyarakat

Secara sosial, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi kepada masyarakat luas yang berkepentingan untuk memahami bagaimana “merangkat” dalam tradisi masyarakat Dasan Geres dan hal-hal umum untuk masyarakat yang ada di lombok.

b. Bagi Pembaca

Hasil penelitian ini diharapkan bisa bermanfaat untuk peneliti dan dapat dijadikan sebagai bahan acuan refrensi untuk mendapatkan penelitian yang komperhensif dalam kajian ilmu penelitian yang sama.

C. Ruang Lingkup dan Seting Penelitian.

Ruang lingkup dan seting penelitian yang akan dilakukan berbentuk “Pandangan Tokoh Agama Terhadap Tradisi Pada Pernikahan Malam Merangkat Suku Sasak”, untuk itu peneliti menyiapkan beberapa seting penelitian yang berupa keterangan lokasi penelitian, waktu penelitian, baik saran dan perasarana, kondisi atau tanggapan tokoh agama, serta gambaran umum mengenai pernikahan

(18)

4

malam merangkat. Berikut beberapa penjelasan mengenai ruang lingkup dan seting penelitian diantaranya adalah:

Lokasi penelitian di lakukan di Dusun Dasan Geres Tengah, Desa Dasan Geres, Kecamatan Gerung, Kabupaten Lombok Barat.

Ada beberapa alasan peneliti memilih Desa Dasan Geres, Kecamatan Gerung, Kabupaten Lombok Barat sebagai lokasi penelitian berdasarkan alasan yakni:

1. Karena di Desa Dasan Geres, Kecamatan Gerung, Kabupaten Lombok Barat adalah salah satu desa yang ada di lombok yang memiliki adat malam merangkat pada malam pernikahan (merari‟). Karena yang kita ketahui lombok memiliki berbagai macam adat, yang salah satunya ini adat malam merangkat.

2. Karena di tempat ini jugak layak dijadikan sasaran penelitian karena belum ada penelitian yang serupa sebelumnya yang meneliti masalah “Pandangan Tokoh Agama Terhadap Tradisi Pernikahan Malam Merangkat” dan Kondisi/tanggapan tokoh agama setempat mengenai pernikahan malam merangkat tersebut.

D. Telaah Pustaka

Dari hasil survei penelitian ini tehadap penelitian sebelumnya, penulis tidak menemukan judul penelitian yang sama. Telaah pustaka ini befungsi untuk memberikan informasi mengenai penelitian- penelitian yang akan berhubungan dengan penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti. Proses telaah pustaka ini dilakukan bertujuan untuk menghindari tejadinya kesamaan atau pengulangan dalam penelitian-penelitian tedahulu.

Masalah yang akan dikaji dalam penelitian telaah pustaka ini adalah Pandangan Tokoh Agama Terhadap Tradisi Pernikahan Malam Merangkat. Pernikahan adalah suatu ikatan antara laki-laki dan perempuan sebagai suami istri berdasarkan hukum undang- undang, hukum agama atau adat istiadat yang berlaku.

Adapun beberapa penelitian tedahulu yang memiliki kemiripan dengan penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti anatara lain adalah:

1. Skripsi yang di tulis oleh Tri Baginda Nusantara dari UIN Maulana Malik Ibrahim yang berjudul “Tradisi Merangkat Dalam Pernikahan Perspektif „Urf”. Penelitian ini menjelaskan

(19)

5

mengenai, bahwa bagaimana adat pernikahan merangkat di masyarakat pegayaman bali dalam hal pernikahan merangkat ini ada 3 pendapat, hal ini disebabkan karena kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai fiqh sepeti „urf dalam sebuah pernikahan.

Yang kedua, dalam praktiknya banyak yang tidak sepaham dalam menjalankan tradisi merangkat, baik dari segi proses pelaksanaan merangkat tersebut maupun nilai-nilai agama yang dianggap tidak pantas. Masyarakat menjadikan hal tersebut alternatif atau pilihan yang bisa dilakukan atau tidak dilakukan kepada orang yang berniat menikah seperti hal tersebut. Dan pernikahannya ini sah apaila tidak melanggar aturan syara‟ secara umum.

Persamaan penelitian ini dengan penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti adalah, berada pada objek penelitian, yaitu masih sama-sama meneliti masalah pernikahan Pernikahan Malam Merangkat.

Kemudian perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti adalah, tedapat pada persfektif yang digunakan, dan kemudian penelitian ini yang akan diteliti oleh peneliti adalah mengenai tradisi “merangkat” dalam pernikahan perspektif „urf, sedangkan dalam penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti adalah hanya meneliti pandangan tokoh agama terhadap tradisi pernikahan malam merangkat.6

2. Jurnal yang ditulis oleh Abdul Muhid dari STIBA Bumi Gora Mataram yang berjudul mengenai “Analisis Siometik Makna Idiologis Mangan Merangkat Pada Suku Sasak Lomok Tengah”. Penelitian ini juga menjelaskan mengenai, kajian siometik makna idiologis mangan merangkat pada suku sasak lomok tengah, pada acara mangan merangkat kita tidak hanya melihat nila materi yang dibawakan oleh masyarakat akan tetapi ada makna yang jauh lebih penting yaitu taat pada Allah SWT.

Disini ada dua idiologi yang terkandung dalam adat mangan merangkat. Yang pertama adanya bentuk kerjasama yang mendasar sebagai bentuk kepedulian masyarakat terhadap sesama.

Nilai yang kedua yang dapat kita ambil disini adalah calon suami

6 Tri Bagindo Nusantara,Tradisi Merangkat Dalam Pernikahan Perspektif „urf, (Skripsi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, 2020), hlm. 64-65

(20)

6

menunjukkan kesetiaanya sebagai calon suami yang siap mempertahankan nyawanya demi calon isteri.

Penelitian yang dilakukan oleh Abdul Muhid ini mempunya perbedaan dengan penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti.

Dalam penelitian ini membahas mengenai analisis siometik makna idiologis mangan merangkat pada suku sasak lomok tengah, sedangkan yang akan dibahas oleh peneliti adalah pandangan tokoh agama terhadap tradisi pernikahan malam merangkat, selain itu jugak teletak pada perspektif yang digunakan, sedangkan persamaannya adalah, sama-sama membahas mengenai mangan merangkat.7

3. Jurnal yang oleh Astiti Listia Utari, dari Universitas Mataram yang berjudul “Nilai Sosial Dalam Upaara Mangan Merangkat Pada Perkawinan Adat Sasak Di Desa Perina: Ke Arah Penguatan Suplemen Bahan Ajar Sosiologi”. Penelitian ini membahas menggenai nilai sosial yang ada pada mangan merangkat ialah terdapat lima nilai sosial yang dapat kita ambil dalam upacara pernikahan adat sasak pada malam merangkat yakni adalah: 1. Tolong menolong, 2. Kekeluargaan, 3.

Kepedulian, 4. Empati dan, 5. Kerjasama. Metode yang digunaan adalah dalam penelitian ini yakni metode Etnografi.8

Persamaan penelitian ini dengan penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti adalah sama-sama membahas mengenai pernikahan malam merangkat, sedangkan perbedaanya adalah penelitian ini hanya membahas mengenai nilai sosial dalam upacara mangan merangkat pada perkawinan adat sasak .

4. Annisa Riski Amalia dengan judul “Tradisi Perkawinan Merarik Suku Sasak di Lombok”. Skripsi Anisa membahas tentang terjadinya integrasi agama dengan budaya antara wetu telu dengan

7 Abdul Muhid , Analisis Siometik Makna Idiologis Mangan Merangkat Pada Suku Sasak Lomok Tengah, Journal on Language and Literatule, Vol.4 No.2 Juli 2018. hlm. 1

8Astiti Listia Utari , Nilai Sosial Dalam Upaara Mangan Merangkat Pada Perkawinan Adat Sasak Di Desa Perina: Ke Arah Penguatan Suplemen Bahan Ajar Sosiologi, (Jurnal Pendidikan Sosial Keberagaman, Vol. 7, No. 1, Oktober- Maret 2020, hh. 62-67.hlm. 1

(21)

7

merariq. Annisa menjelaskan bahwa wetu telu perpaduan antara Islam dan Hindu. Yang mana dalam konsep Islamnya hanya ada sholat Jum‟at, sholat idul fitri dan sholat idul adha, sedangkan dalam konsep Hindunya, wetu telu ini masih menggunakan unsur- unsur mistik seperti sesajen, dan lain-lain. Annisa juga menjelaskan bahwa merariq merupakan percampuran antara Islam dan Hindu.9

Persamaan penelitian Annisa dengan penelitian yang peneliti lakukan adalah sama-sama meneliti tentang merariq pada perkawinan suku Sasak. Perbedaannya, penelitian yang Annisa lakukan lebih fokus pada percampuran unsur Islam dan Hindu dalam praktik merariq, pandangan masyarakat tentang merariq serta kedudukannya. Sedangkan penelitian yang peneliti lakukan yakni fokus membahas tradisi pada pernikahan malam merangkat suku sasak yang ada dalam prosesi merariq di mana tradisi tersebut dilihat dari pandanga tokoh agama.

5. Skripsi oleh Eka Yuliana Ihsan, dari Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram yag berjudul “Tinjauan Hukum IslamTerhadap Praktik Merangkat Dalam Prosesi Merariq Pada Masyarakat Suku Sasak”. Penelitia ini membahas mengenai pelaksanaan merangkat yang ada dalam prosesi merariq di mana proses tersebut ditinjau dari sisi kemaslahatannya. Eka mejelaskan bagaimana ditinjau dari hukum Islam menurut para ulama ushul fiqh bahwa praktik merangkat tersebut merupakan adat atau „urf, yaitu suatu kebiasaan yang dilakukan oleh masyarakat secara turun temurun dan kebiasaan tersebut dibolehkan selama tidak ada nash yang melarangnya. Disamping itu pula dilihat dari sisi maslahah mursalah adat atau „urf yang mengandung kemaslahatan lebih banyak dari pada mudharat, maka hukumnya mubah atau boleh.

Persamaan penelitian Eka dengan penelitia yang akan dilakukan yakni sama-sama meneliti merangkat pada pernikahan suku sasak. Perbedaan penelitian yang Eka lakuka yani lebih fokus kepada merangkat yang ada dalam prosesi merariq di mana

9 Annisa Riski Amalia, “Tradisi Perkawinan Merarik Suku Sasak di Lombok”, (Skripsi, Universitas Islam Negri Syarif Hidayatullah, Jakarta, 2017).

(22)

8

proses tersebut ditinjau dari sisi kemaslahatannya. Sedangka penelitia yang akan peneliti lakukan yakni fokus membahas pandangan tokoh agama terhadap tradisi pada pernikahan malam merangkat suku sasak yang dimana penelitian ini dilakukan lebih fokus kepada bagaimana pandanga tokoh agama.10

E. Kerangka Konseptual 1. Perkawinan Dalam Islam

Nikah adalah fitrah manusia yang merupakan asal dan pembawaan manusia sebagai makhluk Allah swt. Setiap manusia yang sudah dewasa dan sehat jasmani serta rohaninya pasti membutuhkan teman hidup yang berbeda jenis kelaminnya. Nikah adalah perbuatan yang dicontohkan Nabi dan bahkan nikah merupakan salah satu ajaran yang telah dibawanya serta awal Islam sampai pada praktik penyebaran Agama Islam melalui ajaran perkawinan yang dibawa oleh wali songo.

Pernikahan adalah terjemahan dari kata nakaha dan zawaja, kedua kata ini merupakan salah satu bentuk khas percampuran antara golongan laki-laki dan perempuan, dan diartikan sebagai pasangan dengan lainnya. Az-zaujah artinya wanita yang merupakan pasangan laki-laki dan az-zauj adalah laki-laki pasangan perempuan atau ia diseebut dengan suami.

Sedangkan menurut Abu Al-Qasim az-zajjad, Imam Yahya, Ibn Hamz, dan sebagian ahli Ushul dari sahabat Abu Hanifah mengartikan gabungan antara akad dan setubuh. Ketiga, nikah menurut ulama fiqh, adalah melakukan suatu akad perjanjian untuk mengikatkan diri antara laki-laki dan perempuan serta menghalalkan hubungan kelamin antara keduanya dengan dasar sukarela dan persetujuan bersama demi terwujudnya rumah tangga bahagia yang di ridhoi oleh Allah swt.11

Dalam pasal 1 bab 1 Perkawinan No. 1 tahun 1974, perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dan

10 Eka Yuliana Ihsan, “Tinjauan Hukum Islam Terhadap Praktik Merangkat Dalam Prosesi Merariq Pada Masyarakat Suku Sasak” (Skripsi Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram 2020), hlm.1

11 Wasik Abdu, Fiqh Keluarga Antara Konsep Dan Realitas,(Yogyakarta, Grup Penerbitan CV BUDI UTAMA, 2015), hlm. 1-5

(23)

9

wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan ketuhanan Yang Maha Esa.12

Dalam KHI bab 2 pasal 2 bahwa perkawinan menurut hukum islam adalah pernikahan, yaitu akad yang sangat kuat atau”Mitssaqon Ghalidzan” untuk mentaati perintah Allah dan melasanakannya adalah ibadah.13

Seperti yang di jelaskan di dalam QS. Adz-Dzariyah: 49

ْنو ُزَّكَذَت ْمُكَّلَعَل ِهْيَج ْوَس اَىْقَلَخ ٍء ْىَش ِّلُك ْهِم َو

Artinya: “Dan segala sesuatu kami ciptakan berpasang- pasangan supaya kamu mengingatkebesaran Allah. (QS. Adz-Dzariyah:49).14

Disebutkan juga di dalam surah Yasin:36 yang berbunyi:

َنىُمَلْعَي َلْ اَّمِم َو ْمِهِسُفْوَأ ْهِمَو ُض ْرَ ْلْا ُتِبُت اَّمِم اَهّلُك َج َو ْسَ ْلْا َقَلَخ ِذَّلا َهَحْبُس

Artinya: Maha suci Allah yang Telah menciptakan pasangan- pasangan semuanya. Baik dari apa yang ditumbuhkan oelh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui. (QS. Yasin:36).15

Dalam QS. Al-Hujarot: 13

Artinya: Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku- suku supaya kamu saling kenal-mengenal.

Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS. Al-Hujarot:

13).16 a. Tujuan Perkawinan

Tujuan perkawinan menurut agama Islam untuk memenuhi petunjuk agama dalam rangka mendirikan keluarga

12 Undang-Undang No 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan Pasal 1 dan 4

13 Wasik Abdu, Fiqh Keluarga...,hlm. 1-5

14 Q.S. Adz-Dzariyah Ayat49

15 Q.S Yasin Ayat 36

16 Q. S Al-Hujarot Ayat 13

(24)

10

yang harmonis, sejahtera dan bahagia. Harmonis dalam menggunakan hak dan kewajiban anggota keluarga, sejahtera artinya terciptanya ketenangan lahir dan batin disebabkan terpenuhinya keperluan hidup lahir dan batinnya, sehingga timbullah kebahagiaan, yakni kasih sayang antara anggotaa keluarga.

Jadi aturan perkawinan menurut Islam merupakan tuntunan agama yang perlu mendapat perhatian, sehingga tujuan melangsungkan perkawinan pun hendaknya ditunjukan untuk memenuhi petunjuk agama. Sehingga kalau diringkas ada dua tujuan orang melangsungkan perkawinan ialah memenuhi nalurinya dan memenuhi petunjuk agamanya.17

Mengenai naluri manusia seperti tesebut pada ayat 14 surah Ali-Imran:

َهِّيُس اَىلِل بُح َىَهَّشل ا َه ِمِت آَسِّىلا َهْيِىَبْلا َو ِء

اَىَقْلا َو ِةَزَطْىَقُمْلا ِزْيِط َه ِم

ِبَهَّذل ا

Arinya: “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diinginkan, yaitu:

wanita-wanita, anak-anak, , harta yang banyak. (Q.S Ali-Imran : 14).18

Dari ayat ini jelas bahwa manusia mempunya kecendrungan tehadap cinta wanita, cinta anak keturunan, dan cinta harta kekayaan.

b. Larangan Dalam Perkawinan

Berduaan dengan lawan jenis dalam Islam diistilahkan dengan khalwat. Kata “khalwat” berasal dari kata “khalaa”,

yakhluu”, “khalwatan”. Mananya menyepi, menyendiri, mengasingkan diri bersama dengan seseorang tanpa kesertaan orang lain.

Secara istilah, khalwat sering digunakan untuk hubungan antara dua orang di mana mereka menyepi dari pengetahuan atau campuran tangan piha lain, kecuali hanya mereka berdua.19

17 Ibid.., hlm. 16

18 Q.S Ali-Imran ayat 14

19 Fahad Salim Bahammam, Panduan Wisatawan Muslim, (Cet. I; Pustaka al- Kautsar, 2012) hlm. 233.

(25)

11

Menurut kitab-kitab fiqh dan hadits-hadits Rasulullah saw, khalwat ialah berkedudukan di antara pasangan yang ajnabi, yaitu pasangan yang belum ada ikatan yang menghalalkan keduanya.20

Nabi Muhammad SAW bersabda yang artinya : “Janganlah salah seorang di antara kalian berkhalwat (berdua-duaan) dengan seorang wanita karena sesungguhnya setan menjadi orang ketiga di antara mereka berdua. (H.R Ahmad, Ibnu Hibban).21

Seperti yang di jelaskan di dalam Al-Qur‟an Surah Isra‟ ayat 32 yakni:

ىَو ِّشلااىُبَزْقَت َلْ َو ُهَّوِا

َناَك تَش ِح اَف آَس َو لْيِبَس َء

Artinya: Dan janganlah kamu mendekati zina, itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk. (Q.S Isra‟

ayat 32).22

Ayat diatas menunjukkan dengan jelas bahwa Allah menyuruh kita supaya jangan mendekati zina, dan menjauhi perbuatan tersebut.

2. Adat Istiadat (Al-„Urf) Dalam Hukum Islam a. Pengertian „Urf

Urf berasal dari kata arafa yang mempunyai kata al- ma‟ruf yang dikenal atau diketahui.23 Sedangkan urf menurut bahasa adalah kebiasaan yang baik. menurut fuqaha,‟urf adalah segala sesuatu yang telah menjadi kebiasaan masyarakat dan dilakukan terus-menerus, baik berupa perkataan maupun perbuatan.24

Maka dapat dipahami, urf adalah perkataan atau perbuatan baik yang telah dilakukan dan dikerjakan oleh orang

20 Ainul Bashirah, Zuliza, dan Mat Noor Mat Zain, Kesalahan Khalwat dan Perbuatan Tidak Sopan Hukumnya Menurut Islam, Jurnal Hadhari, 4 (2) (2012) hlm. 67

21 Ibnu Hibban At-Thabrani, Al-Mu’jam Al-Aushath, Al-Baihaqi. 463

22 Q.S Isra‟ ayat 32

23 Rijal Mumazziq Zionis, “Posisi al-„urf Dalam Struktur Bangunan Hukum Islam, (Jurnal Falasifa , Vol. 2 No 2, Sekolah Tinggi Agama Islam al-Falah As- Sunniyyah (STAIFAS), 2011). Hlm. 132

24 Umar Syihab, Hukum Islam dan Transfaransi Pemikiran, (Semarang, Dina Utama Semarang: Toha Putra Group, 1996). Hlm. 30

(26)

12

banyak yakni dalam masyarakat. Artinya urf merupakan kebiasaan baik yang dilakukan secara berulang-ulang oleh masyarakat. Dasar penggunaan urf adalah di dalam QS. Al- Aradf 199.

ِذُخ َىْفَعْل ُا ْزُمْأ َو ِف ْزُعْلاِب ْض ِزْعَأ َو

ِهَع َهْيِلِهَجْل ا

Artinya: Dan suruhlah orang yang mengerjakan yang ma‟ruf dan perpalinglah dari orang-orang yang bodoh.(Q.S Al-„Araf: 199).25

Ayat diatas menunjukkan dengan jelas bahwa Allah menyuruh kita supaya menggunakan urf. Kata urf dalam ayat diatas dapat dimaknai dengan suatu perkara yang dinilai baik oleh masyarakat. Ayat tersebut dapat dipahami sebagai perintah untuk mengerjakan sesuatu yang telah dianggap baik sehingga menjadi tradisi dalam suatu masyarakat. Seruan ini didasarkan pada pertimbangan kebiasaan yang baik dan dapat dinilai berguna bagi kemaslahatan mereka.

Begitu juga dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad dari Ibnu Masud bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda yang artinya: “Segala sesuatu yang dipandang oleh (orang-orang Islam) umum itu baik, maka baik pulalah di sisi Allah dan segala sesuatu yang di pandang oleh (orang-orang Islam) umum itu jelek, maka jelek pulalah di sisi Allah”.(HR.

Ahmad).26

Hadits diatas menunjukkan bahwa persepsi positif komunitas muslim pada suatu persoalan, bisa dijadikan sebagai salah satu dasar bahwa hal tersebut juga bernilai positif disisi Allah. Dengan demikian hal tersebut tidak boleh ditentang atau dihapus, akan tetapi dapat dijadikan pijakan untuk merangkai produk hukum, karena pandangan umum itu haikatnya tidak bertentangan dengan apa yang telah

25 Q.S Al-„Araf Ayat 199

26 Ahmad bin Muhammad bin Hambal bin Hilal bin Asad bin Idris, Musnad Ahmad Bin Hambal, Jilid V (Beirut: Dar al-Kutub, 1999), hlm. 323

(27)

13

dikehendaki Allah. Pada dasarnya, urf tidak mempersulit kehidupan, tetapi sangat membantu dalam mengantar tata kehidupan bermasyarakat dan juga kehidupan setiap anggota masyarakat tersebut.27

Namun demikian ulama yag lain ada pula yang membedakan antara urf dengan adat, sebagaimana yang di jelaskan oleh:

Al-Jurjaniy dalam kitabnya Al-Ta‟rifat memberika definisi sebagai berikut: “Urf adalah sesuatu (baik perbuatan maupun prkataan) dimana jiwa merasakan ketenangan dalam mengerjakannya karena sudah sejalan dengan logika dan dapat diterima oleh watak kemanusiaan.”

Imam Al-Ghazali dalam karyanya al-Mustashfa, sebagaimana dikutip oleh Ahmad Fahmi Abu Sunnah mendefinisikan urf dengan: “Urf adalah sesuatu (baik perkataan maupun perbuatan) yang telah menjadi kemantapan jiwa dari segi dapatnya diterima oleh akal yang sehat dan dapat diterima oleh watak yang sehat atau yang baik.”

Sedangkan menurut ahli ushul, Abdul Wahab Khalaf menjelaskan bahwa: “Urf ialah sesuatu yang telah diketahui oleh orang banyak dan dikerjaan oleh mereka, baik dari perkataan maupun perbuatan atau sesuatu yang ditinggalkan.

Hal ini juga dinamaka adat. Dan menurut para ahli hukum Islam tidak ada perbedaan antara al-urf dengan al-„adah.

Berdasarkan pengertian di atas, dapat dipahami bahwa urf itu mengandung tiga unsur, yaitu: pertama, adanya perbuatan atau perbuatan yang berlaku berdasarkan kemantapan jiwa: kedua, sejalan dengan pertimbagan akal

27 Fitra Rizal, Penerapan „Urf Seagai Metode Dan Submer Hukum Ekonomi Islam, (Jurnal:Al-Manhaj, Vol. 1, No. 2 Juli 2019: 155-176).hlm156-160

(28)

14

sehat: dan ketiga, dapat diterima oleh watak pembawaan manusia.28

Di samping itu, dari definisi adat dan urf sebagaimana yang dijelaskan di atas, maka dapat dipahami seara etimologis, istilah Al-„Adah terbentuk dari mashdar Al-Aud dan Al- Mu‟awadah yang artinya adalah pengulangan kembali, sedangkan kata Al-„Urf berbentuk dari kata masdar Al- Muta‟aruf, yang artinya “saling mengetahui”.

Dengan demikian proses pembentukan adat adalah akumulasi dari pengulangan ativitas yang berlangsung terus- menerus, dan ketika pengulangan tersebut bisa membuat tentram dalam hati seseorang, maka ia sudah bisa memasuki wilayah muta‟aruf, dan saat ini pula adat berubah menjadi urf, sehingga adat merupakan unsur yang muncul pertama kali dan dilakukan berulang-ulang.

Sekalipun demikian, para ahli hukum Islam menyatakan bahwa adat dan urf dilihat dari sisi terminologinya, tidak memiliki perbedaan prinsipil, artinya pengulangan istilah urf dan adat tidak mengandung sesuatu perbedaan signifikan dengan konsekuensi yang berbeda.29

b. Macam-macam „Urf

Secara umum, para ulama ushul fiqh membagi ragam urf dari tiga persfektif, yakni:

1) „Urf lafzhi, yakni kebiasaan masyarakat dalam mempergunakan lafal atau uangkapan tertentu, sehingga ada mana khusus yang terlintas dalam pikiran mereka, meskipun sebenarnya dalam kaidah bahasa ungkapan itu bisa mempunyai arti lain.

2) „Urf amali, yakni kebiasaan masyarakat yang berkaitan denga perbuatan biasa atau muamalah atau jual beli.

28 Suipto, „Urf Sebagai Metode Dan Submer Penemuan Hukum Islam, (Jurnal:ASAS, Vol. 7, No. 1, Januari 2015). Hlm26-27

29 Prof. Dr. H. Dedi Mulyasana, dkk, Khazanah Pemikiran Pendidikan Islam, (Bndung, CV ENDEKIA PRESS, Juli 2020). hlm. 25

(29)

15

a. „Urf dari segi akupannya dapat dibagi menjadi dua yakni:

1) „Urf al-„am adalah kebiasaan tertentu yang berlaku secara luas diseluruh masyarakat maupun di seluruh daerah.

2) „Urf khas adalah kebiasaan yang berlaku di daerah dan masyarakat tertentu.

b. Dari segi keabsahannya dari pandangan syara‟ „urf dapat di bagi menjadi dua yakni:

1) „Urf Sahih adalah kebiasaan yang berlaku pada masyarakat yang tidak bertentangan dengan Al- Qur‟an dan as-sunnah, tidak menghilangkan kemaslahatan mereka, dan tidak pula membawa mudarat kepada mereka.

2) „Urf Fasid adalah kebiasaan yang bertentangan dengan dalil-dalil syara‟ dan kaidah-kaidah dasar dalam syara‟.30

c. Urf Sebagai Dasar Hujjah

Para ulama sepakat bahwa „urf sahih dapat dijadikan dasar hujjah selama tidak bertentagan dengan syara‟: Ulama‟

Malikiyyah terkenal dengan pernyataan mereka bahwa amal ulama‟ Madinah dapat dijadikan hujjah. Demikian para ulama‟ Hanafiyah menyatakan bahwa pendapat ulama‟ Kuffah dapat dijadikan hujjah. Imam Syafi‟i terkenal denga qual qadim dan quual jadidnya. Ada suatu kejadia tetapi beliau memilih menetapkan hukum yang berbeda ketika beliau masih berada di Makkah (qual qadim). Ini dapat ditunjukan bahwa ketiga mazhab ini berhujjah dengan „urf. „Urf fasid mereka tidak menjadikkannya sebagai dasar hujjah.31

3. Pengertian Tokoh Agama

Pengertian tokoh agama dalam kamus besar bahasa Indonesia berarti “orang-orang yang terkemuka”32 dari definisi tersebut dapat

30 https://tasikuntan.wordpress.om/2012/11/30/pengertian -tradisi/tanggall di akses 8 september 2019

31 Sucito, Urf Sebagai Metode Penemuan Sumber Hukum Iskam”, Asas, Vol. 7, No.

1, Januari 2015. hlm. 29

32 Yowono, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. (Surabaya: Arkolis, 1999), hlm. 83

(30)

16

diartikan bahwa tokoh agama adalah orang-orang yang terkemuka, terpandang serta mempunyai peran besar terhadap pengembangan ajaran agama dalam hal ini adalah agama Islam.

Kedudukan tokoh agama yang memegang peran penting dalam masyarakat karena mereka dianggap sebagai orang yang mempunyai tingkat yang lebih dan pengetahuan tentang agama dibandingkan dengan angota masyarakat lain. Oleh karena itu, mereka pada umumnya memiliki tingkah laku yang patut di jadikan teladan dalam dalam rangka pembinaan masyarakat yang damai penuh persaudaraan dan saling menghargai maka akan tercipta manusia yang berakhlak mulia.

Dengan kata lain tokoh agama adalah orang-oarang yang terkemuka dan terpandang serta sebagai pimpinan nonformal di kalangan masyarakat, mereka inilah yang akan bergelut dan mengabdikan diri demi kepentingan di lingkungan masyarakat.

Tokoh agama bisa disebut juga sebagai pimpinan nonformal karena kemampuan dan karismatiknya, diikuti banyak orang walaupun pimpinan tersebut tidak memimpin sebagai organisasi, tetapi kehadirannya ditengah masyarakat diakui sebagai orang yang berpengaruh terhadap pengembangan agama Islam dan mau berkorban baik materi maupun jiwa mereka sendiri.

Ajaran agama mempunyai arti tersendiri bagi kehidupan individual maupun secara sosial. Seorang tokoh agama mampu menempatkan dirinya ditengah-tengah masyarakat pada umumnya, kemudian aan mengambil tugas-tugas kemasyarakatan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.

Tokoh agama adalah sejumlah sejumlah orang Islam yang karena pengaruhnya begitu luas dan besar dalam masyarakat muslim baik pengetahuannya, perjuangan menegakkan sariat Islam perilaku yang baik dan diteladani maupun karismatiknya cukup disegani masyarakat.33

Tokoh agama merupakan panutan dalam masyarakat sekitarnya dan khusus bagi umat Islam. tokoh agama harus menampakan keteladanan yang baik dalam kehidupan sehari-hari, karena ia memiliki ilmu agama Islam yang lebih luas dan lebih baik

33 Malik Bin Nabi, Membangun Dunia Baru Islam, (Bandung, mizan 1994), hlm. 36

(31)

17

pemahamannya terhadap agama Islam di bandingkan dengan sebagian masyarakat.

Tokoh agama adalah seseorang yang dianggap cakap, berilmu pengetahuan yang tinggi, berakhlak mulia, mempunyai keahlian dibidang agama baik ritual keagamaan sampai wawasan keagamaan yang dapat di jadikan panutan oleh masyarakat sekitar.34

F. Metodologie Penelitian 1. Metode Penelitian

Merode yag digunakan dalam penelitia ini, yaitu metode deskriptif kualitatif, yaitu penelitian yang memusatkan perhatiannya pada prinsip-prinsip umum yang mendasari perwujudan suatu gejala atau fenomena yang terjadi.35

Sedangkan pendekatan yang peneliti gunakan adalah pendekatan sosiologi hukum, digunakannya pendekatan sosiologi hukum karena peneliti melihat fenomena atau kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat Kelurahan Dasan Geres Kabupaten Lombok Barat adalah sebuah gejala yang timbul dari norma- norma yang berlaku aibat kebiasaan yang kemudian peneliti menganalisi kembali melalui pandangan tokoh agama.

2. pendekatan Penelitian

Pendekatan penelitian yang peneliti gunakan berupa pendekatan penelitian kualitatif, yang dimana peneliti memperoleh data data atau informasi seara langsungmenggunakan observasi, wawanara, dan dokumentasi serta menggunakan bahan- bahan refrensi lainnya.

Penelitia kualitatif adalah peneliti informan sebagai objek penelitian dalam lingkunga hidup keseharian. Untuk itu, para peneliti denga menggunakan metode kualitatif harus sedapat mungkin berinteraksi secara dekat dengan informan, mengenal secara dekat dunia kehidupan mereka.36

34 Taib Tahir Abd Muin, Membangun Islam, (Bandung, PT. Rosda Karya, 1996), hlm.

3

35 Burhan Ashshofa, Metode Penelitian Hukum, (Jakarta: Rineka cipta, 2007), hlm.

20

36 Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D, (Bandung:

Alfabeta, 2016),hlm. 21

(32)

18 3. Jenis dan Sumber Data

Jenis data di bedakan menjadi dua, yaitu data primer dan data sekunder yaitu:

a. Data primer. Data perimer merupakan data utama dan keutuhan yang paling mendasar pada penelitian. Data ini diperoleh dari sumber pertama dari individu atau perseorangan misalnya denggan wawancara dan observasi. Data yang peneliti peroleh langsung dari pengantin, tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh pemuda Desa Desa Dasan Geres, Kecamatan Gerung, Kabupaten Lombok Barat.

b. Data Sekunder. Data sekunder dapat diperoleh dari data yang tidak langsung, seperti mengumpulkan data melalui orang lain, buku, atau dokumen-dokumen lainnya. Yaitu data yang diperoleh dari Al- Qur‟an, Hadits, buku-buku Fiqh, Jurnal, Peraturan Perundang-Undang, Surat Kabar dan lain-lain yang bisa sebagai pendukung dalam penelitian yang dilakukan ini.

4. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data merupakan cara yang digunakan untuk mendapatkan dan mengumpulan data yang diperlukan dalam suatu penelitian.

a. Observasi

Observasi adalah bagian dalam pengumpulan data.

Observasi berarti mengumpulkan data langsung dari lapangan.

Observasi adalah pengamatan pencatatan secara sistematik terhadap unsur-unsur yang tampak dalam suatu gejala atau gejala-gejala dalam suatu objek penelitian.37

b. Wawancara

Wawancara adalah salah satu teknik utama yang digunakan untuk mengumpulakan data. Wawancara adalah komunikasi antara dua pihak atau lebih yang bisa dilakukan dengan tatap muka di mana salah satu piha berperan sebaga interviewer dan pihak lainnya beperan sebagai interviewe

37 Afifudin dan Beni Ahmad Saebani, Metode Penelitian Kualitatif, (Bandung, CV.

Pustaka Seti, 2012), hlm. 134.

(33)

19

dengan tujuan tertentu, misalkan untuk mendapatkan informasi atau pengumpulan data.38

c. Dokumentasi

Teknik dokumentasi adalah salah satu metode pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian sosial untuk meneliti data histori.39

Oleh karena itu teknik pengumpulan data digunakan peneliti sesuai keutuhan dari peneliti yakni dengan metode dokumentasi, peneliti dapat memperoleh informasi dari bebagai sumber baik tetulis maupun dokumen yang tekat dalam penelitian ini. Teknik penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik wawancara dan dokumentasi.

5. Teknik Analisis Data

Analisis data merupakan proses sistematis pencarian dan pengaturan transkripsi wawancara, catatan lapangan, dan materi- materi yang telah dikumpulkan sebagai bahan untuk meningkatkan pemahaman mengenai materi dan untuk memungkinkan menyajikan apa yang ditemukan disaat penelitian.

Analisis melibatkan antara pekerjaan dengan data, menyusun dan memecahkan kedalam setiap yang ditangani seperti perangkuman, pencarian, dan penemuan apa yang penting dan apa yang paling perlu untuk dipelajari.

Kemudian data yang diperoleh sangat penting untuk di analisis. Karena tanpa ada analisis, data yang diperoleh sebelumnya tidak akan berguna. Metode analisis data yang digunakan oleh peneliti adalah metode kualitatif, yakni melakukan penafsiran tehadap data primer dan data skunder.

6. Uji Keabsahan Data

Validasi atau keabsahan data adalah data yang tidak berbeda antara data yang diperoleh oleh peneliti dengan data yang tejadi pada objek penelitian, sehingga keabsahan data yang telah disajikan dapat dipertanggung jawabkan oleh peneliti.

38 Dr.R.A.Fadhillah, S.Psi.,M.Si. Wawancara, (Jakarta Timur, UNJ Press, 2020), hlm. 2

39 Imam Gunawan, Metode Penelitian Kualitatif Teori dan Praktik, (Jakarta, PT Bumi Aksa, 2015), hlm. 175.

(34)

20 a. Ketekunan

Ketekunan dalam penelitian ini dilakukan untuk ciri maupun unsur yang relevan selama penelitian ini berlangsung terhadap persoalan yang akan di teliti mengenai Pandangan Tokoh Agama Terhadap Tradisi Pernikahan Malam Merangkat Dasan Geres Gerung Lombok Barat.

b. Triangulasi

Triangulasi dalam penelitian ini adalah menggali kebenaran informasi tertentu dengan menggunakan berbagai sumber data seperti dokumen, arsip, hasil wawancara, hasil observasi atau juga dengan wawancarai lebih dari satu subjek yang dianggap memiliki sudut pandang yang berbeda.

Dengan demikian tedapat triangulasi sumber, triangulasi teknik pengumpulan data dan waktu.

c. Kecukupan Refrensi

Kecukupan refrensi sangatlah berguna sebagai bahan acuan bagi peneliti tehadap penelitian yang akan dilakukan.

Dari refrensi yang di dapat peneliti dapat mempertanggung jawabkan atas kevalidan data penelitian.

d. Pemeriksaan Sejawat dengan Diskusi

Diskusi dengan teman sejawat mengena akan dapat mengghasilkan hasil sementara maupun hasil akhir penelitian ini, diskusi ini dilakukan untuk memperbanya sudut pandang.

G. Sistematika Penelitian

Agar mempermudah penelitian ini sesuai dengan permasalahan yang ada, maka sistematika penelitian yang digunakan peneliti dalam menyusun skripsi ini adalah sistematika laporan penelitian kualitatif yang disusun menjadi minimal empat (4).

BAB I : Pendahuluan terdiri dari latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan dan manfaat, ruang lingkup dan setting penelitian, telaah pustaka, kerangka teori, metode penelitian dan sistematika pembahasan.

BAB II : Paparan data dan temuan, di bagian ini berisi tentang seluruh data, gambaran umum lokasi serta temuan penelitian.

Dalam hal ini, peneliti seberusaha mungkin menjaga jarak dan

(35)

21

menahan diri untuk mencampuri fakta terlebih dahulu. Pada bab ini peneliti juga mencari data Pandangan Tokoh Agama Terhadap Tradisi Pada Pernikahan Malam Merangkat Suku Sasak ini yang dimana adat ini adalah suatu adat yang ada di Lombok terutama yang dilaukan oleh masyarakat Sasak, dalam hal ini dengan bagaimana pandangan tokoh agama terhadap tradisi mala merangkat ini.

BAB III : Di dalam bab ini menjelaskan bagaimana hasil data temuan yang ditemukan di lapangan serta serta gambaran umum lokasi penelitian. Dimana gambaran umum yang dimaksud yaitu, sejarah berdirinya Pegadian Syariah, data temuan yang ditemukan di lapangan serta menganalisis data-data temuan tersebut seperti halnya Pandangan Tokoh Agama Terhadap Tradisi Pada Pernikahan Malam Merangkat Suku Sasak merupakan salah satu hal yang dapat bisa menambah pemahaman masyarakat terutama masyarakat Sasak mengenai malam merangkat.

BAB IV : Penutup, terdiri dari kesimpulan dan saran. Di mana pada bab ini akan dibahas mengenai strategi Pandangan Tokoh Agama Terhadap Tradisi Pada Pernikahan Malam Merangkat Suku Sasak serta bagaimana pandangan tokoh agama terhadap tradisi pada pernikahan malam merangkat.

(36)

22 BAB II

PAPARAN DATA DAN TEMUAN

A. Gambaran Umum Kelurahan Dasan Geres Kecamatan Gerung Kabupaten Lombok Barat40

1. Keadaan Wilayah Kelurahan Dasan Geres

Dasan Geres Tengah merupakan salah satu lingkungan dari Kelurahan Dasan Geres Kecamatan Gerung Kabupaten Lombok Barat Provinsi Nusa Tenggara Barat. Kelurahan Dasan Geres terletak pada ketinggian 10 meter diatas permukaan laun.

Kelurahan dasan geres memiliki luas wilayah, persawahan irigasi 153,20 ha, tegal atau ladang 23 ha, tanah rawa 3,5 ha, tanah perkebunan rakyat 8 ha, kas Lingkungan 0,40, perkantoran pemerintah 200 ha, dan tempat pemakakaman 800 ha. Adapun batas-batas wilayah kelurahan dasan geres sebagai berikut:

a. Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Dasan Tapen Kelurahan Dasan Geres.

b. Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Tempos Kecamatan Gerung.

c. Sebelah Barat berbatasan denan Lurah Gerung Utara/Selatan Kecamatan Gerung.

d. Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Babussalam Kecamatan Gerung.

Adapun jarak tempuh Kelurahan Dasan Geres dari pusat pemerintah Kabupaten/Kota ± 0,5 km, jarak tempuh kepusat pemerintahan 3 km, dan jarak dari pusat pemerintahan Provinsi 16 km. Kelurahan Dasan Geres mempunyai luas wilayah seluas 250, 298 ha.41

40 Dokumen Kelurahan Dasan Geres Kecamatan Gerung Kabupaten Lombok Barat, tahun 2021

41 Observasi, Kelurahan Dasan Geres Kecamatan Gerung Kabupaten Lombok Barat 15 Maret 2022

(37)

23

2. Keadaan penduduk masyarakat Kelurahan Dasan Geres Kecamatan Gerung.

Secara keseluruhan jumlah penduduk Kelurahan Dasan Geres menurut data terakhir berjumlah 8.437 jiwa, yang terdiri dari laki- laki 4.471 jiwa, jumlah perempuan 3.966 jiwa. Jumlah tersebut tersebar di seluruh kawasan masyarakat Kelurahan Dasan Geres dalam tingkat usia dengan jumlah Kepala Keluarga (KK) sebanyak 2.756 KK

1. Struktur Pemerintahan Dasa Geres Kecamatan Gerung Kabupaten Lombok Barat

NAMA KELURAHAN / KECAMATAN Kelurahan : Dasan Geres

Kecamatan : Gerung

Kabupaten : Lombok Barat Kelurahan : 10 Kelurahan

Struktur Pemerintahan Kelurahan Dan Tata Kerja Kelurahan Dasan Geres

Gambar

Struktur Kelurahan Dasan Geres 2.1

(38)

24

Adapun nama kelurahan dan kepala kelurahan yang terdapat di Kelurahan Dasan Geres Kelurahan dasan geres memiliki 10 (Sepuluh Lingkungan) yaitu:

a. Ling. Dasan Geres Tengan : Halawi b. Ling. Dasan Geres Selatan : H. M. Maliki c. Ling. Dasan Geres Tengah : M Pahrizal d. Ling. Dasan Geres Timur : M. Saleh e. Ling. BTN Pemba : Fathurrahman f. Ling. Cemare Karang Tengak : Sahiman g. Ling. Aik Ampat : H. Saharudin h. Ling. Bawak Gunung : Sahidir

i. Ling. Menang Timur : Khairul Ansori j. Ling. Cemare Timur : Suhadi

Situasi dan kondisi dan kehidupan masyarakat Kelurahan Dasan Geres di masa sekarang, dapat dilihat dalam berbagai bidang di antaranya:

a. Bidang Keagamaan

Kelurahan Dasan Geres sendiri masyarakatnya penganut agama yakni:

Tabel

Bidang Keagamaan 2.2 1. Islam 7.890 Jiwa 2. Kristen 10 Jiwa 3. Katolik 5 Jiwa 4. Budha -

5. Hindu 20 iwa

b. Pendidikan

Tabel Pendidikan 2.3

Belum Sekolah 365 Jiwa

Tidak Sekolah 1.241 Jiwa

Pernah Sekolah Sampai SD 543 Jiwa Tamat SD/Sederajat 1.910 Jiwa

(39)

25

Tamat SLTP 1.786 Jiwa

Tamat SLTA 1.506 Jiwa

Tamat D1 5 Jiwa

Tamat D2 35 Jiwa

Tamat D3 58 Jiwa

Tamat S1 222 Jiwa

Tamat S2 20 iwa

c. Ekonomi

Keadaan ekonomi kependudukan biasanya dipengaruhi oleh jenis mata pencarian, dari jumlah penduduk memiliki berbagai macam mata pencarian yang beragam, terlebih di kawasan pedesaan/ kelurahan. Keadaan ekonomi di kelurahan Dasan Geres sama seperti keadaan penduduk di desa / kelurahan lainnya yang mata pencariannya beragam-ragam.42

Tabel Perekonomian 2.4

Petani 700 Jiwa

Buruh Tani 1.548 Jiwa

Buruh Swasta 1.823 Jiwa

PNS 67 Jiwa

Pengrajin 526 Jiwa

Pedagang 153 Jiwa

Peterna 50 Jiwa

Nelayan -

Montir 50 Jiwa

Dokter 5 Jiwa

Para Medis 25 iwa

d. Bidang Sosial Dan Budaya

Suku sasak adalah salah satu suku yang ada di Indonesia yang terdapat di pulau Lombok, yang memiliki berbagai macam adat istiadat dan tradisi yang berbeda dengan suku lainnya. Adat istiadat tersebut merupakan harta warisan

42 Ibid

(40)

26

peninggalan nenek moyang yang ada di suku sasak, yang sampai saat ini masih dilaukan oleh mayoritas asli suku sasak.

Termasuk salah satunya yaitu di Kelurahan Dasan Geres Kecamatan Gerung Kabupaten Lombok Barat tepatnya di Dasan Geres Tengah yakni salah satu keluahan yang ada di Dasan Geres.

Dasan geres sendiri memiliki berbagai macam tradisi yang masih dilakukan sampai saat ini, adapun tradisi yang masih dilaukan sampai saat ini yani tradisi dalam pernikahan suku sasak diantaranya yani: merariq (menikah) yang diawali dengan midang (mendatangi / bertamu ke rumah perempuan), bebait merariq (melarikan calon pengantin perempuan untuk di nikahi), totok telok/meragkat (sukuran atas datangnya calon pengantin perempuan), sejati selabar (pemberitahuan kepada keluarga perempuan), nyelabar (pengiriman utusan dari piha laki-laki kepada keluarga calon pengantin perempuan dan kepala desa yang bersangkutan untuk memberikan permaluman, bahwa sudah terjadi pernikahan), ajikerame/sorong serah (acara sukurang dalam perkawinan yang disebut dengan begawe), nyongkolan (upacara iring- iringan kedua pengantin kerumah perempuan yang diiringi dengan musik gamelan atau gendang belek), bales nae (kunjungan dari pihak laki-laki ke pada pihak keluarga perempuan).43

B. Munculnya Konsep Tradisi Mangan Merangkat Dalam Adat Perkawinan di Dasan Geres Kecamatan Gerung Kabupaten Lombok Barat

Sebelum peneliti menjelaskan lebih lanjut mengenia merangkat, terlebih dahulu peneliti akan menyajikan data yang diperoleh dari hasil wawanara peneliti mengenai merangkat yang di lakukan oleh masyarakat. Berikut data-data praktik merangkat dalam konsep tradisi merangkat dalam adat perkawinan di Dasan Geres Kecamatan Gerung Kabupaten Lombok Barat.

Yang melaukan peraktik merangkat yakni:

43 Ibid

(41)

27

1. Peristiwa merangkat yang dilakukan oleh Salikin dan Fajriati Oktarianingsih pada tanggal 9 Oktober 2021.

2. Peristiwa merangkat ini terjadi pada perkawinan Lalu Diah Lukman dan Fitri pada tanggal 10 Agustus 2021

3. Peristiwa merangkat pada tanggal 20 juni 2020. Peristiwa ini terjadi pada saat pernikahan Irwan dan Eva.

Berdasarkan hasil penelitan, peneliti juga menemukan beberapa hal terkait masalah konsep tradisi malam merangkat dan filosofis yang terdapat pada malam merangkat dalam adat perkawinan tersebut, merangkat sendiri sering di artikan dengan totok telok atau angkat adat atau ada pula yang mengartikan dengan angkat sumpah/janji, yang dimana segala sesuatu memiliki awal yang menjadi gerbang atau pintu masuk dari semua proses. Begitupula dengan merangkat yang di laksanakan oleh masyarakat Dasan Geres Tengah, karna merangkat sendiri adalah awal dari proses adat dalam sebuah pernikahan atau sering di sebut dengan merariq.

Merangkat ini dimulai dengan upacara mangan merangkat yang dimana pada malam hari setelah calon mempelai perempuan diambil oleh calon mempelai laki-laki untuk di bawa kerumahnya. Sesampai di rumah mempelai laki-laki, calon mempelai perempuan tidak langsung diberikan masuk ke dalam rumah sang mempelai laki-laki, tetapi sebelum masuk ke dalam rumah sang perempuan harus mencuci kakinya terlebih dahulu, yang menandakan dia telah datang dengan keadaan yang bersih ke rumah sang laki-laki. Dan setelah sang mempelai perempuan masuk ke dalam rumah, tibalah waktunya keluarga sang mempelai laki-laki menyebarkan dan memanggil sanak keluarga dan kerabat serta secara terang-terangan untuk datang kerumah untuk mangan merangkat. Pada acara tersebut seluruh anggota banjar laki-laki yang berada dilingkungan tempat tinggal laki-laki berdatangan dengan membawa masing-masing ayam satu ekor untuk disembelih, dan dijadikan lauk, dan anggota banjar perempuan membawa beras, dan memasak ayam yang dikeluarkan oleh anggota banjar laki-laki.

(42)

28

Satu ekor ayam, kemudian di sajikan dalam satu wadah yang dinamakan dulang dan diberikan kepada calon pengantin untuk disantap bersama. Pada malam saat calon pengantin memakan hidangan merangkat. Di dasan geres sendiri Pada upacara ini, kedua mempelai makan bersama dalam satu dulang atau talam dan minumnya cukup dengan air putih yang telah direbus. Yang dimana mangan merangkat ini disajikan dalam satu wadah yang berisikan satu butir telur ayam kampung, ayam panggang, daun kelor, dan nasi.44

Peneliti menemukan bahwa merangkat ini dilakukan melalui berbagai tahap, diantaranya yaitu:

1. Merariq

Pulau lombok sebagian besar penduduknya menganut Suku Sasak, yang memiliki adat istiadat dalam perkawinan yang disebut adat merariq.

Merariq ialah apabila terjadi suatu kehendak bersama seorang laki-laki dengan seorang wanita untuk kawin dengan cara si laki-laki melarikan si wanita dari rumah orang tuanya dengan bermasud untuk kain dengan laki-laki yang melarikannya. Dan pemuda di Lombok sendiri melakukan berberapa langkah siklus hubungan sampai merariq. Yakni diawali dengan berayean (pacaran), midang (berkunjung ke rumah gadis), buah tangan (membawa sesuatu untuk si gadis), bejanji (perjanjian untuk menikah). Ketika malam merariq tiba, maka si laki-laki dan perempuan yang telah melakukan kesepakatan untuk menikah akan bertemu di suatu tempat yang telah mereka sepakati untuk kemudian si perempuan akan dibawa ke kediaman laki-laki.

Hal ini seperti yang dinyatakan oleh Salikin salah satu selaku pengantin yang melakukan praktik merariq di Kelurahan Dasan Geres Kecamatan Gerung Kabupaten Lombok Barat yang mengatakan bahwa:

44 Lalu Muhasim Wawancara, Dasan Geres Tengah Kelurahan Dasan Geres Kecamatan Gerung Kabupaten Lombok Barat, 18 Desember 2021.

(43)

29

Sebelum terjadi malem merangkat, saya pacaran dulu kurang lebih satu minggu, nah setelah itu saya membuat janji terlebih dahulu dengan istri saya dan sebelum hari yang sudah dintentukan datang istri saya ini sudah menyiapkan pakaian dan diberikan kepada saya, dan saya sendiri sudah menyiapkan tempat untuk persembunyian dan ketika malam yang ditentukan tiba saya sudah siap mental jiwa dan raga saya untuk berangkat memaling calon istri saya ke tempat yang sudah kita sepakati bersama. Dan setelah semunya selesai saya membawa calon istri saya ke tempat yang sudah di siapkan, dan di dalam persembunyian saya dan calon istri saya di berikan maan sepiring berdua pada malam itu, dengan lauk telur ayam, ayam panggang dan daun kelor, dan itu dilakukan supaya hubungan kita bertahan sampai dunia akhirat. Setelah malam kedua tiba, barulah kita di jemput oleh piha keluarga saya dan para pemuda yang ada di lingkungan saya, setelah sampai di rumah kita harus ditemani oleh pihak keluarga kita. Intinya harus ada dukungan keluarga, harus ada keyainan yang kuat, dan harus ada materi, karena berani melakukannya berarti sudah siap.45

Pernyataan yang serupa yang juga dilakukan oleh pelaku peratik merangkat yani Lalu Diah Lukman, yang mengatakan:

Saya dulu Cuma pacaran selama 5 bulan, setelah itu saya aja dia menikah lewat telpon pada malam harinya saya melarikannya pada malam hari. Setelah dia menyetujuinya saya ambil dia di rumah pamannya, lumayan lama saya menunggu karna dia taut keluar karna takut ketahuan sama pamannya, setelah pamannya pergi sholat isya ke masjid dia keluar dan lari melewati sawah dan saya pergi menjemputnya ke jalan tempat dia bersembunyi dan saya membawa dia kerumah saya, setelah sampai di sana orang tua saya agak kaget karena saya sendiri tidak memberitahu orang tua saya, setelah itu calon istri saya ini di suruh mencuci kai terlebih dahulu sebelum memasuki rumah setelah itu baru dia masuk kerumah. Dan ketika dalam persembunyian tokoh agama beserta kepala lingkungan dan RT pergi kerumah pengantin wanita untuk memberitahu kepada

45 Salikin, wawancara, Dasan Geres Tengah Lingkungan Dasan Geres Kecamatan Gerung Kabupaten Lombok Barat, 20 Maret 2022.

Gambar

Tabel Struktur Kelurahan Dasan Geres 2.1
Tabel  Perekonomian 2.4

Referensi

Dokumen terkait

Skripsi dengan judul “Analisis Hukum Islam terhadap Tradisi Sambulgana dalam Perkawinan Adat Suku Kaili (Studi Kasus di Kampung Baru Kecamatan Palu Barat Kota Palu Sulawesi

Ungkapan-ungkapan sufistik dalam tradisi kaum salikin pengamal Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah di Pondok Pesantren Darussalam Bermi Gerung Lombok Barat

Penetapan harga gelar kebangsawanan dalam tradisi perkawinan adat sasak di desa Batujai Lombok Tengah yang dilakukan ketika proses Sorong Serah Aji Kerama adalah Harga orang itu

Mayah Paserah merupakan salah satu tradisi yang terdapat di Desa adat Bayung yang berhubungan dengan adanya suatu perkawinan dimana dalam hal ini merupakan tradisi yang dilakukan

Dari hasil Focus Group Discussion dengan kelompok Perempuan (istri) dan kelompok laki-laki (suami) yang melakukan perkawinan di bawah umur di Gerung, Lombok Barat (12 September

Metode Keterlibatan Mahasiswa KKP-DR UIN Mataram pada Masa Pandemi Covid-19 dalam Program Pendidikan dan Kesehatan di Desa Dasan Tapen Gerung Lombok Barat ini dilaksanakan dengan

BAB II, menjelaskan tentang landasan teori al-‟urf sebagai gambaran dalam menjawab permasalahan tentang praktik tradisi saparan di Kecamatan Dukun Kabupaten Magelang yang berisi

suatu akad yang megandung arti mut‟ah untuk mencapai kepuasan dengan tidak mewajibkan adanya harga.126 Sedangkan dalam perumusan Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan,