SEJARAH UNIVERSITAS MALIKUSSALEH
4.2. Kampus Utama Reuleut 1. Lokasi
4.2.3. Prasarana yang tersedia
Sebagaimana halnya dengan lahan yang menjadi salah satu syarat penting pada saat upaya penegrian Unimal – keberadaan dan ketersediaan prasarana juga menjadi bagian penting yang secara terus menerus ditingkatkan oleh manajemen Unimal. Pada awal keberadaan Unimal di Reuleut tahun 1986 yang ada hanyalah bangunan Gedung Ruang Kuliah Umum (RKU). Berdasarkan informasi yang penulis dapatkan dari pihak UPT Perencanaan Unimal61 dan dokumen laporan Akhir Master Plan Unimal tahun 2003 diketahui bahwa gedung tersebut berlantai 2 (dua) dan pada tahun 2003 kondisi gedung telah mengalami penjarahan terhadap struktur atap, kosen jendela dan pintu (akibat dan terjadi pada masa konflik Aceh). Sedangkan gedung- gedung lainnya telah mengalami kerusakan berat dan tidak dapat direhab kembali. Hasil penelusuran peneliti terhadap ketersediaan dokumentasi gedung-gedung dan prasarana pada masa lalu tidak dapat ditemukan banyak photo yang bisa menggambarkan kondisi pada masa itu namun beberapa diantaranya yang masih dapat dilacak terlampir pada laporan penelitian ini.
Terkait dengan prasarana jalan penghubung (jalan masuk) dari jalan raya Medan – Banda Aceh menuju Kampus Cot Tgk Nie Reuleut juga mengalami kerusakan berat, berbolong – bolong dan becek pada saat hujan serta ditumbuhi rumput dan semak belukar. Jarak antara jalan raya menuju kampus lebih kurang 1 (satu) km. Begitu juga halnya dengan ketersediaan sarana sumber air bersih berupa sumur bor yang tidak dapat difungsikan kembali dikarenakan rusak dan sumbatan pada pipa. Fasilitas listrik tersedia dan didistribusikan dengan baik pada
61 Wawancara dengan Yulius Rief Alkhaly, Kepala UPT. Perencanaan Unimal, tanggal 31 Mei 2012 di Reuleut.
setiap gedung dan unit kerja namun fasilitas telekomunikasi jaringan telpon melalui Telkom sangat minim. Satu-satunya line telepon yang ada di KPA dan juga difungsikan untuk fasilitas faksimili. Kondisi ini tentunya jauh dari bukan hanya pengharapan – namun juga kelayakan bagi jalannya administrasi perkantoran. Jalur komunikasi melalui fasilitas telepon genggam melalui provider GSM sampai saat ini relatif baik, walaupun ada beberapa jaringan provider yang tidak dapat diakses di wilayah kampus Reuleut yang kemungkinan disebabkan oleh jarak pemancar yang tidak menjangkau wilayah sekitar.
Pembangunan kampus utama dilakukan sejak tahun 2003 dengan melaksanakan pembangunan gedung ruang kuliah dan jalan masuk kampus. Pembangunan gedung ini mendapatkan bantuan dana dari APBD Aceh Utara APBD Provinsi NAD serta APBN. Pada masa pembangunan ini terjadi sengketa kepemilikan atas tanah Unimal dengan beberapa masyarakat yang menyebabkan terhambatnya pembangunan di Unimal. Sengketa dimaksud menjadi salah satu bagian penting dalam laporan penelitian ini yang akan dieksplorasi secara lebih mendalam pada bagian berikut tulisan ini.
Kondisi saat penelitian ini dilaksanakan, pada tahun 2012 – kampus utama Reuleut telah memiliki – bukan hanya pembangunan kembali RKU yang saat ini telah menjadi Kantor Pusat Administrasi (KPA) – dimana Rektor, Pembantu Rektor serta Biro Akademik dan Biro Umum dan Keuangan berkantor – gedung ini juga telah mengalami renovasi dan pengembangan berupa tambahan Aula Cot Tgk. Nie serta Perpustakaan Induk pada bagian belakang gedung KPA. Selain itu juga terdapat 3 (tiga)62 bangunan Gedung Fakultas Teknik dengan
62 Sampai dengan tahun ajaran 2010/2011 – 2 (dua) gedung Fakultas Teknik dipinjam-pakaikan untuk Fakultas Hukum dan FISIP. Setelah Rapat Kerja Unimal pada Tahun 2010 dan dapat difungsikannya fasilitas eks Komplek Bukit Indah — yang dihibahkan oleh perusahaan ExxonMobil di Paloh, Muara Satu— diputuskan untuk memindahkan aktivitas perkuliahan pada Fakultas Ekonomi, Fakultas Hukum dan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (ketiganya merupakan bidang Ilmu Sosial) ke Kampus Bukit Indah. Selain alasan pemanfaatan hibah yang telah diberikan kepada Unimal atas komplek ini juga dilatar belakangi kebutuhan masing-masing fakultas ini terhadap akses kepada wilayah Pemerintahan terdekat – yaitu misalnya Pemko Lhokseumawe. Misalnya saja, Fakultas Hukum didalam pengembangan kurikulum dan perkuliahan mensyaratkan adanya Pelatihan
tambahan 1 (satu) gedung eks PDPK – Fakultas Ekonomi, 1 (satu) gedung utama Fakultas Pertanian sumbangan BRR Aceh - Nias dan 1 (satu) gedung tambahan Fakultas Pertanian – Eks Fakultas Ekonomi.
Selain itu juga, Unimal telah memiliki asrama mahasiswa atas bantuan Kementerian Pemuda dan olah raga yang sayangnya sampai dengan saat laporan ini disusun belum dimanfaatkan. Gedung baru yang saat ini sedang dalam proses pembangunan di wilayah kampus utama Reuleut adalah fasilitas Laboratorium untuk salah satu Prodi di lingkungan Fakultas Teknik.
Masing-masing gedung kuliah ini telah dilengkapi dengan ruangan-ruangan perkuliahan serta failitas pendukung seperti kursi perkuliahan mahasiswa, meja dan kursi dosen, papan tulis, beberapa ruangan memiliki pendingin ruangan, namun fasilitas alat pembelajaran seperti OHP maupun LCD Projector dan Komputer/Notebook/Laptop belum tersedia untuk masing-masing ruangan. Fasilitas pendukung laboratorium seperti alat peraga juga masih sangat minim.
Fasilitas jalan masuk dari jalan raya menuju kampus sudah di aspal dengan baik – walaupun dalam kurun waktu lebih kurang 3 (tiga) tahun – 2009 sampai dengan 2011 – di beberapa ruas jalan utama ini mengalami kerusakan dan becek pada saat hujan. Jalan-jalan utama di lingkar kampus dalam beberapa tahun ini sudah sangat baik, walaupun
Kemahiran Hukum berupa observasi dan praktek yang hanya memungkinkan jika dilakukan pada tempat-tempat dan instansi Kepolisian, Kejaksaan, Pengadilan Negeri, Mahkamah Syar’iyah maupun Lembaga Pemasyarakatan. Ketika Fakultas Hukum masih berada di Reuleut – ketercapaian atas tujuan instruksional khusus yang telah ditetapkan pada matakuliah kemahiran hukum sangat minim, dengan demikian pemindahan kampus ke Komplek Kampus Bukit Indah dianggap lebih baik. Namun demikian, proses pemindahan ini juga mengalami tantangan —dari internal civitas akademika Unimal sendiri maupun dari eksternal yaitu masyarakat yang tidak menginginkan Unimal terpisah-pisah, namun memperhatikan kondisi ketidak tersediaan gedung tentunya hal ini tidak dapat ditunda.
Fakultas Hukum sendiri —sampai dengan saat ini belum memiliki gedung sendiri dan dengan semakin meningkatnya jumlah mahasiswa pada Fakultas Teknik maka kebutuhan tinggi bagi Fakultas Teknik untuk menggunakan semua gedung yang dimilikinya. Wawancara dengan Prof. A. Hadi Arifin, tanggal 5 Mei 2012, di Reuleut.
sekitar tahun 2009, pada ruas jalan antara jalan kembar utama di lingkungan kampus menuju Fakultas Pertanian kondisi jalannya sangat buruk pada masa hujan dan belum di aspal. Bahkan beberapa kali, penulis sempat mencatat berlangsungnya demonstrasi mahasiswa dari Fakultas Pertanian khususnya yang menuntut pembangunan jalan.
Fasilitas ketersediaan air bersih untuk sarana sanitasi masih minim dikarenakan tidak adanya sumber air permukaan – sehingga masing-masing gedung mengandalkan pada mesin pompa untuk mencukupi kebutuhan air. Terhadap kondisi ini, pada Dokumen Laporan Akhir Master Plan Unimal pada bagian catatan kesimpulannya disampaikan bahwa dibutuhkan pembuatan reservoir alam (berupa danau buatan) untuk memenuhi kebutuhan air, mengingat tidak adanya satu sumber airpun yang terdapat pada permukaan tanah serta mengupayakan pula sumber air dari PDAM atau provita terdekat dengan lokasi kampus utama Reuleut.
Fasilitas kantin atau pusat jajanan yang dikelola oleh Unimal belum tersedia – namun terdapat beberapa kantin kecil di lingkungan gedung perkuliahan. Kantin atau warung-warung yang ada dikelola oleh masyarakat sekitar yang mengambil lokasi di wilayah lahan Unimal dan berbatasan langsung dengan jalan utama yang menuju salah satu gedung Fakultas Teknik.
Di kampus utama ini juga terdapat Tower Listrik Tegangan Tinggi milik PT. PLN (Persero) yang melintas dalam lokasi tanah kampus Unimal dan posisinya tepat di atas lahan dan pancang- pancang rencana pembagunan gedung Fakultas Hukum. Keberadaan tower ini tidak diketahui secara pasti kapan mulai dibangunnya dan diakui oleh pihak UPT. Perencanaan Unimal sama sekali tidak mendapatkan persetujuan pembangunannya, bahkan pihak Unimal tidak mendapatkan informasi apalagi koordinasi pada masa pembangunan tower dimaksud.
Terkait dengan jaringan internet sebagai salah satu prasyarat utama bagi terpenuhinya akses informasi di wilayah kampus juga menjadi cobaan besar bagi civitas akademika. Seringkali akses dan jaringan yang tersedia menyebabkan hambatan bagi kelancaran aktivitas akademik khususnya. Terhadap kondisi ini pihak manajemen terus melakukan upaya perbaikan dan peningkatan fasilitas-fasilitas pendukungnya.
Kebersihan dan keamanan atas lingkungan gedung kampus
khususnya serta prasarana perkuliahan yang tersedia sampai dengan saat ini dilakukan oleh tenaga kebersihan dan tenaga satpam kampus yang merupakan pegawai honorer. Data terakhir yang dapat diakses, terdapat 41 (empat puluh satu) orang tenaga kebersihan dan 65 (enam puluh lima) personil pengamanan satpam untuk seluruh wilayah kampus. Sebahagian besar tenaga honorer dimaksud direkrut dari masyarakat sekitar empat kampus, khususnya Reuleut dan Bukit Indah.
4.3. Kampus Bukit Indah, Lhokseumawe