• Tidak ada hasil yang ditemukan

RESOLUSI DAN ESKALASI KONFLIK

Bab 7 Penutup

7.2. Rekomendasi

konsensus atau kerja-sama, justru memberikan jalan bagi eskalasi konflik. Konflik dalam penelitian ini dilihat sebagai suatu bentuk dinamika interaksi sosial yang terjadi di antara orang kampus dengan orang kampung yang tidak bisa dihindari (inevitable conflict). Setiap hubungan atau interaksi akan menghasilkan konflik. Setiap konflik akan menghasilkan resolusi atau konsensus atau perdamaian. Proses ini semacam siklus, dan konflik akan kembali ada jika resolusi atau konsensus atau perdamaian dirasa tidak puas sehingga menimbulkan eskalasi konflik (baru).

Ketidakmampuan Unimal dalam mengatasi persoalan konflik dengan warga gampong sekitar kampus juga berasal dari masalah internal lembaga ini yang sudah berlarut-larut sejak lama, kusut masai dan centrang-prenang yang mengakibatkan manajemen tak berfungsi secara optimal. Masalah internal Unimal hanya dua yang sangat krusial: (1) masalah keuangan dimana banyak terjadinya korupsi dan kolusi; (2) masalah perencanaan yang amburadul dan tidak pernah konsisten dalam pengembangan dan pembangunan kampus. Masalah internal inilah yang kemudian mengakibatkan pihak Unimal tidak antusias dalam berkomunikasi dengan gampong-gampong di sekitarnya.

yang dilandasi pemberian rewards atas prestasi atau pencapaian keilmuan (siswa dan mahasiswa) dari kalangan masyarakat adalah hubungan yang kuat.

Kedua, proses akulturasi yang sudah terjadi semenjak kampus dipindahkan ke lokasi kampung, harusnya lebih diperdalam dan ditingkatkan kualitasnya. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi harusnya dirasakan oleh warga kampung dari pintu-pintu kampus yang senantiasa terbuka untuk memberikan mata-air ilmu pengetahuan, untuk memberikan kesejukan kultural, siraman ilmu dan cahaya kandil pengetahuan. Pihak Unimal seharusnya membuat dan merancang program-program yang lebih berdaya guna bagi masyarakat. Setiap tahunnya Unimal memiliki anggaran pengabdian yang bisa digunakan untuk mengurangi intensitas konflik dan menaikkan penerimaan masyarakat terhadap kampus. Misalnya penghijauan kampus dan sekitar kampus, akan sangat menurunkan intensitas konflik. Program pengabdian dosen —semisal menyumbangkan buku-buku untuk perpustakaan gampong, pesantren atau dayah atau meunasah- meunasah dan masjid-masjid— akan sangat berdampak positif bagi penciptaan iklim ilmiah yang kondusif sehingga kampus tidak menjadi menara gading yang —dalam bahasa Pramoedya Ananta Toer— hanya

"terlalu banyak mengurus diri sendiri dan buta terhadap yang lain- lain." Program beasiswa juga perlu diperkenalkan kepada masyarakat Aceh umumnya dan masyarakat sekitar lokasi-lokasi kampus pada khususnya supaya masyarakat sekitar merasakan peningkatan kualitas hidup secara signifikan dengan kehadiran kampus Universitas Malikussaleh di tengah-tengah kampung mereka.

Ketiga, Unimal perlu menyelesaikan masalah internalnya sendiri (kasus-kasus korupsi dan masalah manajemen perencanaan yang amburadul) agar bisa berkonsentrasi untuk menyelesaikan konflik dengan warga gampong dan mengubah konflik menjadi konsensus dan kerja-sama produktif. Misalnya potensi zakat Unimal yang cukup besar seharusnya bisa dipakai untuk memberikan sumbangan untuk perayaan hari-hari besar agama Islam, meskipun kegiatan ini tidak produktif. Konsep zakat produktif pun harus memahami bahwa ada kebutuhan-kebutuhan spiritual dan sosial yang sangat konsumtif yang tidak bisa dipaksakan untuk harus bersifat produktif selamanya.

Perencanaan Unimal selama ini tidak jelas menempatkan fakultas- fakultas dan unit-unit pendukung akademis, fasilitas dan lain-lain

secara konsisten. Jika Kampus Bukit Indah diperuntukkan untuk ilmu- ilmu sosial dan humaniora, maka seyogyanya Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Fakultas Hukum (FH) dan Fakultas Ekonomi (FE) dikonsentrasikan di lokasi tersebut. Selama ini ada beberapa gedung laboratorium Fakultas Teknik yang dibangun di Kampus Bukit Indah, padahal lahan di Kampus Reuleut masih sangat lapang dan lega.

Pembangunan beberapa gedung laboratorium Fakultas Teknik yang menimbulkan keresahan warga Reuleut. Juga di Kampus Reuleut yang selama ini diperuntukkan untuk ilmu-ilmu alam dan teknik —Fakultas teknik dan fakultas Pertanian— masih belum konsisten dalam perencanaan; ada rencana untuk membuka Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) di lokasi Kampus Reuleut yang membuat masyarakat bingung dan kecewa.

Keempat, pihak Pemda Kabupaten Aceh Utara (dalam hal ini juga Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten [DPRK] Aceh Utara) perlu memikirkan anggaran yang bisa memberikan dampak kepada kedua- belah pihak (dual-impact) seperti pembangunan jalan, penghijauan, pembuatan food-court atau food-center atau warung-warung (kiosk) kebutuhan selain makanan di sekitar atau di dalam kampus. Pihak Pemkab Aceh Utara seharusnya juga memikirkan untuk bagaimana membangun sesuatu yang berguna secara akademis (untuk kepentingan Unimal) dan sekaligus bersifat aksiologis (untuk kepentingan masyarakat sekitar). Misalnya membangun asrama mahasiswa yang dikelola oleh masyarakat gampong atau membangun pondokan-pondokan atau rumah-rumah kost di lahan warga sekitar kampus seperti yang dilakukan pihak Universitas Indonesia yang bekerja-sama dengan Yayasan Supersemar untuk membangun Rumah Pondok Tumbuh (RPT) di Desa Kukusan yang terletak di belakang Kampus UI Depok yang mengadopsi konsep pembangunan di atas lahan masyarakat dengan dibiayai oleh dana pemerintah. Masyarakat pun pada akhirnya akan merasakan dampak dari kehadiran kampus dan mahasiswa secara signifikan.

Kelima, Pemerintah Kabupaten Aceh Utara dan pihak Unimal perlu terus melanjutkan program Unimal Goes Green untuk menjadikan kampus-kampus sebagai oase-oase ilmu. Program ini bisa menjadi program berkelanjutan dengan melibatkan masyarakat dalam pemeliharaan dan penyiraman dengan memberikan uang kepada warga yang berpartisipasi dalam penanaman dan penyiraman pohon

atau semacam affirmative action untuk membuat skema cash for tree di lingkungan kampus dan gampong-gampong sekitarnya. Ekologi kampus juga berdampak pada terbentuknya karakter-karakter konfliktual di dalamnya. Kondisi kampus yang panas dan tidak teduh, tanpa pepohonan yang memadai ikut memperburuk dan menyumbang kepada semakin buruknya konflik. Kontur tanah kampus Bukit Indah dan kampus Reuleut yang berbukit sebenarnya merupakan modal untuk menciptakan setting ekologi yang nyaman, asri, teduh, hening dan ilmiah. Ilmu pengetahuan hanya dapat berkembang dari lingkungan yang aman, nyaman dan teduh serta hijau, bukan dari lingkungan yang panas, gersang dan penuh debu; bukan juga dari lingkungan yang penuh kebencian dan konflik.

Keenam, pihak Unimal harus menciptakan lapangan pekerjaan yang lebih banyak bagi warga gampong. Banyak jenis pekerjaan yang bisa diciptakan. Misalnya pekerjaan kebersihan klas-klas perkuliahan, ruang-ruang kantor, ruang-ruang publik, tempat baca, dan lain-lain tempat bisa diberikan kepada warga sekitar kampus secara lebih banyak lagi. Lebih baik banyak pekerjaan dengan sedikit honor daripada sedikit pekerjaan dengan honor yang besar. Jam kerjanya juga bisa dijadwalkan lebih sedikit. Selama ini pekerjaan membersihkan ruang kelas dan perkantoran dan unit-unit lainnya diberikan pada sedikit orang yang menangani banyak ruang. Juga pekerjaan penjagaan keamanan sebaiknya tidak dikelola oleh kantor pusat universitas atau biro-biro, melainkan seharusnya didesentralisasikan ke fakultas-fakultas atau unit-unit tertentu. Selama ini prioritas lebih diberikan kepada bidang pekerjaan keamanan (satpam/satuan pengamanan) ketimbang kepada pekerjaan untuk menciptakan kebersihan. Seharusnya penciptakaan iklim kampus yang bersih lebih menjadi prioritas ketimbang keamanan yang juga tidak pernah sepi dari pencurian dan pengrusakan meskipun sudah banyak tenaga satpam yang menjaganya. Pekerjaan teknis juga seharusnya menjadi prioritas kedua setelah kebersihan. Selama ini Unimal memang sudah memberikan pekerjaan honorer untuk masyarakat sekitar untuk bidang-bidang pekerjaan teknisi seperti teknisi listrik.

Namun bidang ini juga perlu diperluas dan diperbanyak. Unit-unit tertentu sebenarnya bisa menerima pekerja lokal dari gampong- gampong sekitar untuk menjadikan manajemen pengelolaan kampus

jadi lebih simpel dan mudah. Jarak sangat menentukan motivasi kerja seseorang.

Ketujuh, Unimal perlu membuka jurusan-jurusan ilmu budaya atau humaniora. Jurusan-jurusan ini akan memberikan pengaruh kultural kepada Aceh dan lingkungan gampong-gampong sekitarnya secara mendalam. Sebagai lembaga pendidikan tinggi yang dihormati masyarakat Aceh, Unimal selayaknya membuat terobosan (breakthrough) yang membanggakan secara ilmiah.