• Tidak ada hasil yang ditemukan

Prinsip Pengembangan Budaya Sekolah

Dalam dokumen HARIYANTO - Repository UMJ (Halaman 77-83)

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

B. Budaya Sekolah

5. Prinsip Pengembangan Budaya Sekolah

Pengembangan budaya sekolah dilakukan dalam rangka membangun iklim akademik sekolah. Tanda-tanda perubahan sebagai akibat tindakan pengembangan dapat dilihat dari indicator. Indicator yang dapat dikembangkan tergantung pada nilai-nilai budaya yang menjadi focus garapan pengembangan budaya sekolah. Melalui pengembangan budaya sekolah yang dilakukan secara dinamis serta berpijak pada nilai, norma serta filosofi yang disepakati oleh segenap stakeholder pendidikan di sekolah akan mampu menumbuh kembangkan sekolah menjadi pusat pengembangan dan pendewasaan peserta didik.

Ansar dan Masaong mengemukakan bahwa mekanisme pengembangan budaya sekolah dapat juga ditempuh melalui:

a. Perbaikan desain dan struktur organisasi sekolah b. Sistem dan prosedur kerja

61

c. Peningkatan fasilitas penunjang pembelajaran

d. Kisah-kisah, legenda, dongeng yang merupakan simbol-simbol bermakna di sekolah yang dijadikan sebagai media untuk mengkomunikasikan nilai- nilai kepada warga sekolah

e. Pernyataan formal kepala sekolah berupa nilai-nilai, falsafah dan keyakinan-keyakinan yang perlu diwujudkan.73

Terkait dengan nilai-nilai yang direkomendasikan sehubungan dengan pengembangan budaya sekolah, terungkap aspek budaya utama sebagaimana yang dikemukanan oleh Depdiknas yaitu sebagai berikut :

1. Budaya jujur

2. Budaya saling percaya 3. Budaya kerjasama 4. Budaya baca

5. Budaya disiplin dan efisien 6. Budaya bersih

7. Budaya berprestasi dan berkompetisi 8. Budaya memberi teguran dan penghargaan.

Selanjutnya terkait budaya jujur mencakup :

a. Transparansi dalam pengambilan kebijakan di sekolah, seperti : penerimaan siswa baru dan keuangan sekolah

b. Kemandirian siswa dalam mengerjakan tugas-tugas c. Kesesuaian laporan dengan kenyataan

Terkait budaya saling percaya mencakup :

a. Pendelegasian wewenang jika pimpinan sedang ada tugas tertentu dan atau berhalangan tugas

b. Penetapan peserta penataran/pelatihan c. Pembentukan tim kerja atau satuan tugas

73 Ansar dan Masaong, Manajemen Berbasis Sekolah, (Gorontalo: Sentra Media, 2011).

hlm. 195

62 Terkait budaya kerjasama mencakup : a. Keterlaksanaan pembagian tugas b. Cara pengambilan keputusan

c. Partisipasi siswa, komite sekolah, orang tua, masyarakat dan alumni d. Pelaksanaan team teaching

Terkait budaya baca mencakup :

a. Jumlah kunjungan ke perpustakaan b. Jumlah buku yang dipinjam

c. Jenis buku yang dipinjam atau dibaca.74

Terkait dengan budaya disiplin dan efisiensi mencakup a. Ketepatan waktu (jam PBM)

b. Frekuensi kehadiran c. Cara berpakaian

d. Ketepatan waktu rapat dinas disekolah e. Pemanfaatan media

Terkait dengan budaya bersih mencakup : a. Kebersihan halaman sekolah

b. Kebersihan ruang kelas/laboratorium c. Kebersihan ruang kerja

d. Kebersihan kamar mandi dan WC

Terkait budaya berprestasi dan berkompetisi mencakup a. Partisipasi dalam berbagai lomba

74 Depdiknas, Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah, (Jakarta: Direktorat PLP),

2002

63 b. Motivasi berprestasi

Adapun terkait dengan budaya memberi teguran dan penghargaan terdiri dari : a. Pemberian teguran bagi yang berbuat kesalahan

b. Pemberian penghargaan bagi yang berprestasi.75

Upaya pengembangan budaya sekolah seyogyanya mengacu kepada beberapa prinsip berikut ini:76

1. Berfokus pada Visi, Misi dan Tujuan Sekolah

Pengembangan budaya sekolah harus senantiasa sejalan dengan visi, misi dan tujuan sekolah. Fungsi visi, misi, dan tujuan sekolah adalah mengarahkan pengembangan budaya sekolah. Visi tentang keunggulan mutu misalnya, harus disertai dengan program-program yang nyata mengenai penciptaan budaya sekolah.

2. Penciptaan Komunikasi Formal dan Informal

Komunikasi merupakan dasar bagi koordinasi dalam sekolah, termasuk dalam menyampaikan pesan-pesan pentingnya budaya sekolah. Komunikasi informal sama pentingnya dengan komunikasi formal. Dengan demikian kedua jalur komunikasi tersebut perlu digunakan dalam menyampaikan pesan secara efektif dan efisien.77

3. Inovatif dan Bersedia Mengambil Resiko

75 Ibid. hlm,

76 Direktorat Tenaga Kependidikan dan Direktorat Jendral Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Pengembangan Budaya dan Iklim Pembelajaran di Sekolah, (Jakarta:

Departemen Pendidikan Nasional, 2007). hlm. 27

77 Ibid

64

Salah satu dimensi budaya organisasi adalah inovasi dan kesediaan mengambil resiko. Setiap perubahan budaya sekolah menyebabkan adanya resiko yang harus diterima khususnya bagi para pembaharu. Ketakutan akan resiko menyebabkan kurang beraninya seorang pemimpin mengambil sikap dan keputusan dalam waktu cepat.

4. Memiliki Strategi yang Jelas

Pengembangan budaya sekolah perlu ditopang oleh strategi dan program.

Startegi mencakup cara-cara yang ditempuh sedangkan program menyangkut kegiatan operasional yang perlu dilakukan. Strategi dan program merupakan dua hal yang selalu berkaitan.

5. Berorientasi Kinerja

Pengembangan budaya sekolah perlu diarahkan pada sasaran yang sedapat mungkin dapat diukur. Sasaran yang dapat diukur akan mempermudah pengukuran capaian kinerja dari suatu sekolah.

6. Sistem Evaluasi yang Jelas

Untuk mengetahui kinerja pengembangan budaya sekolah perlu dilakukan evaluasi secara rutin dan bertahap: jangka pendek, sedang, dan jangka panjang. Karena itu perlu dikembangkan sistem evaluasi terutama dalam hal:

kapan evaluasi dilakukan, siapa yang melakukan dan mekanisme tindak lanjut yang harus dilakukan.78

78 Ibid, hlm.28

65 7. Memiliki Komitmen yang Kuat

Komitmen dari pimpinan dan warga sekolah sangat menentukan implementasi program-program pengembangan budaya sekolah. Banyak bukti menunjukkan bahwa komitmen yang lemah terutama dari pimpinan menyebabkan program-program tidak terlaksana dengan baik.

8. Keputusan Berdasarkan Konsensus

Ciri budaya organisasi yang positif adalah pengembilan keputusan partisipatif yang berujung pada pengambilan keputusan secara konsensus.

Meskipun hal itu tergantung pada situasi keputusan, namun pada umumnya konsensus dapat meningkatkan komitmen anggota organisasi dalam melaksanakan keputusan tersebut.

9. Sistem Imbalan yang Jelas

Pengembangan budaya sekolah hendaknya disertai dengan sistem imbalan meskipun tidak selalu dalam bentuk barang atau uang. Bentuk lainnya adalah penghargaan atau kredit poin terutama bagi siswa yang menunjukkan perilaku positif yang sejalan dengan pengembangan budaya sekolah.

10. Evaluasi Diri

Evaluasi diri merupakan salah satu alat untuk mengetahui masalah-masalah yang dihadapi di sekolah. Evaluasi dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan curah pendapat atau menggunakan skala penilaian diri. Kepala sekolah dapat mengembangkan metode penilaian diri yang berguna bagi pengembangan budaya sekolah.79

79 Ibid, hlm.29

66

Dalam dokumen HARIYANTO - Repository UMJ (Halaman 77-83)