Terkait dengan penggunaan BMN sebagai underlying asset dalam penerbitan SBSN, UU SBSN mengatur lebih lanjut dalam Pasal 11 ayat (1) bahwa penggunaan BMN sebagai Aset SBSN oleh Menteri Keuangan dilakukan dengan cara menjual atau menyewakan Hak Manfaat atas BMN atau cara lain yang sesuai dengan akad yang digunakan dalam rangka penerbitan SBSN.
Pemindahtanganan BMN berdasarkan Pasal 11 ayat (1) UU SBSN tersebut sering dipertentangkan dengan UU Perbendaharaan Negara yang menyatakan bahwa Barang Milik Negara/Daerah (BMN/D) dilarang untuk diserahkan kepada pihak lain sebagai pembayaran atas tagihan kepada Pemerintah Pusat/Daerah (Pasal 49 ayat (4)). BMN/D dilarang digadaikan atau dijadikan jaminan untuk mendapatkan pinjaman (Pasal 49 ayat 5).
Akan tetapi mempertentangkan dua undang-undang tersebut tidaklah tepat sebab terdapat perbedaan konsep pemindahtanganan berdasarkan UU SBSN dan UU Perbedaharaan Negara. Dalam hal penggunaan BMN sebagai underlying asset penerbitan SBSN, UU SBSN merupakan lex specialist dari UU Perbendaharaan Negara. Hal tersebut secara tegas disebutkan dalam Penjelasan Pasal 11 ayat (1) paragraf UU SBSN sebagai berikut:
Pemindahtanganan BMN bersifat khusus dan berbeda dengan pemindahtanganan BMN sebagaimana diatur dalam UU No. 1 Tahun 2004 tentang Pembendaharaan Negara. Sifat pemindahtanganan dimaksud, antara lain (i) penjualan dan/atau penyewaan dilakukan hanya atas Hak Manfaat BMN; (ii) tidak terjadi pemindahtanganan hak kepemilikan (legal title) BMN; dan (iii) tidak dilakukan pengalihan fisik BMN sehingga tidak mengganggu penyelenggaraan tugas Pemerintah.
Adapun pengertian Hak Manfaat berdasarkan UU SBSN, yang merupakan pengertian yang belum pernah ada dalam ranah hukum
Bab 7 |Underlying Sukuk Negara 119 perundang-undangan yang ada di Indonesia sebelum terbitnya UU SBSN, adalah hak untuk memiliki dan mendapatkan hak penuh atas pemanfaatan suatu aset tanpa perlu dilakukan pendaftaran atas kepemilikan dan hak tersebut. Pengertian Hak Manfaat baru ada setelah DPR bersama Pemerintah mengesahkan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2008 tentang SBSN. Penggunaan BMN sebagai underlying asset juga bukan merupakan proses menggadaikan BMN kepada pihak lain oleh Pemerintah. Transaksi yang dilakukan oleh Pemerintah terhadap BMN dalam penerbitan SBSN adalah dengan menjual hak manfaat atau sewa menyewa (akad Ijarah). Sehingga tidak terjadi perpindahan kepemilikan (legal title) atas BMN tersebut.
Penggunaan BMN sebagai underlying asset SBSN tidak pernah ditujukan untuk mengalihkan secara fisik BMN kepada pihak lain (atau investor) pada saat ini atau saat yang akan datang, pada saat SBSN jatuh tempo ataupun jika terjadi gagal bayar. Telah diatur dalam ketentuan pada UU SBSN maupun tertuang dalam dokumen perikatan (akad) adanya kewajiban Pemerintah untuk membeli kembali BMN tersebut pada saat pelunasan atau jatuh tempo SBSN. Sebaliknya, SPV selaku pembeli BMN akan berjanji untuk menjual kembali BMN tersebut pada saat pelunasan atau jatuh tempo SBSN (Sale Undertaking).
Secara internasional, Hak Manfaat telah dikenal luas sebagai suatu konsep kepemilikan atas suatu aset. Di dalam konsep ekonomi syariah, kepemilikan aset dibedakan menjadi dua macam (Direktorat Pembiayaan Syariah, 2015):
a. Kepemilikan penuh/komprehensif (Milk al-Tam), yaitu kepemilikan atas suatu aset secara penuh baik aspek legalnya maupun hak manfaatnya. Pemilik aset tersebut memiliki hak penuh atas aset dan dapat melakukan berbagai transaksi aset tersebut seperti menjual, menyewakan, menghadiahkan Pemilik juga bertanggung jawab penuh apabila terjadi kerusakan atas aset tersebut.
b. Kepemilikan parsial (Milk al-Naqish), yaitu kepemilikan atas suatu aset tidak secara penuh. Dibagi menjadi tiga jenis, yaitu:
§ Kepemilikan secara hukum (Legal ownership/Milk al ‘ain), yaitu kepemilikan atas suatu aset namun sebatas legal title nya saja, sedangkan hak manfaatnya dimiliki oleh pihak lain untuk suatu periode tertentu. Kepemilikan legal title bersifat permanen
120 Sukuk: Suatu Telaah dari Variabel Makro Ekonomi
sehingga pada saat kepemilikan hak manfaat berakhir maka legal ownership akan berubah menjadi kepemilikan penuh.
§ Kepemilikan hak manfaat (Usufruct ownership/Milk manfa ‘ah), yaitu kepemilikan atas suatu aset hanya sebatas hak manfaat.
Kepemilikan hak manfaat ini terbatas hanya untuk periode tertentu saja. Kepemilikan hak manfaat ini dapt diperoleh melalui berbagai cara seperti sewa (lease), pinjaman, wakaf, izin, wasiat maupun pemberian.
§ Kepemilikan atas suatu hak (Ownership over rights/Ihuquą al irtifaq) kepemilikan atas suatu hak yang terkait dengan suatu aset yang tidak bergerak, contohnya adalah hak irigasi, hak drainase, hak bertetangga. Hak ini terkait dengan tanah dan tidak dapat dijual secara terpisah.
Pembatasan penggunaan BMN yang dapat dijadikan sebagai Aset SBSN dilakukan semata-mata untuk melindungi kepentingan Pemerintah agar BMN yang digunakan benar-benar merupakan BMN yang tidak terkait dengan simbol-simbol kenegaraan, tidak terkait dengan alat utama sistem persenjataan dan tidak ada permasalahan dari sisi hukum serta layak digunakan.
Penggunaan BMN sebagai underiying penerbitan SBSN pada dasarnya memberikan nilai tambah khususnya bagi Pemerintah dan umumnya bagi masyarakat. Hal ini dapat dijelaskan bahwa BMN yang sebelumnya hanya digunakan sebagai perkantoran dan memerlukan biaya pemeliharaan, namun dengan digunakannya BMN tersebut sebagai underlying asset penerbitan SBSN, dapat menghasilkan pendapatan yang digunakan oleh Pemerintah tidak hanya untuk pemeliharaan bangunan tersebut tetapi juga untuk memenuhi kebutuhan APBN termasuk didalamnya adalah biaya pendidikan, kesejahteraan rakyat dan pembangunan infrastruktur. Selain itu, penggunaan BMN sebagai underlying penerbitan SBSN juga dapat mendorong peningkatan tertib administrasi pengelolaan BMN, mengingat BMN yang akan digunakan sebagai underlying asset akan diverifikasi oleh konsultan hukum (due diligence) dari aspek hukum dan aspek syariahnya. Sehingga BMN tersebut harus dilengkapi oleh dokumen pendukung dibutuhkan, seperti bukti kepemilikan BMN, dokumen penatausahaan BMN, ringkasan hasil penilaian dan laporan penilaian.
Bab 7 |Underlying Sukuk Negara 121