• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tingkat Laba

Dalam dokumen Tidak Ada Kata Rugi Untuk (Halaman 77-87)

BAB III METODE PENELITIAN

E. Tingkat Laba

Laba/keuntungan merupakan salah satu tujuan perusahaan yang harus dicapai. Informasi laba merupakan komponen laporan keuangan yang disediakan dengan tujuan membantu menyediakan informasi untuk menilai kinerja manajemen, mengestimasi kemampuan laba yang representative dalam jangka panjang dan menaksir resiko dalam investasi atau kredit. Selain itu, laba juga berperan dalam hal pengambilan keputusan suatu manajemen perusahaan. Laba yang dihasilkan berasal dari selisih hasil penjualan dikurangi harga pokok penjualan dan biaya-biaya operasi perusahaan (laba bersih).

Berikut perhitungan laba bersih periode Desember tahun 2013 PT Arti Buana Lautan Indonesia, yaitu:

Tabel 5.10.

Perhitungan Laba Bersih periode Desember Tahun 2013 PT Arti Buana Lautan Indonesia Makassar

Penjualan

Penjualan Ekspor

651.180.000,00 595.550.000,00 Potongan Tunai

Penjulan (20.000.000,00)

Penjualan bersih 1.226.730.000,00

Harga Pokok

Penjualan Persediaan awal

ikan 30.000.000

Pembelian 469.180.000,00

Pembelian bersih 469.180.000,00

Ikan siap dijual 499.180.000,00

Persediaan

akhir (31/12) (31.900.000,00)

Harga pokok

Penjualan (467.280.000,00)

Laba kotor penjualan 759.450.000,00

Biaya usaha

Biaya angkut

penjualan

11.000.000,00 Biaya gaji pegawai

@2.500.000,00 x 10 = 25.000.000,00

25.000.000,00 Biaya perlengkapan 11.525.000,00 Biaya peralatan 3.200.000,00 Biaya perawatan (es

balok)

6.195.000,00 Biaya listrik 500.000,00 Biaya konsumsi 450.000,00

Jumlah biaya usaha (57.870.000,00)

laba kotor usaha 701.580.000,00

Pendapatan 90.000.000,00

Laba sebelum PPh 791.580.000,00

PPh (pajak

penghasilan)

(4.000.000,00)

Laba bersih 787.580.000,00

Sumber: Laporan Laba Bersih PT Arti Buana Lautan Indonesia Tahun 2013.

Berdasarkan tabel 5.10 Dapat dijelaskan bahwa laba bersih yang diperoleh perusahaan setelah mengurangkan pejualan bersih dengan harga pokok penjualan dan biaya usaha, kemudian ditambahkan dengan pendapatan dan dikurangkan dengan pajak penghasilan (PPh), maka laba bersihnya yaitu Rp.787.580.000,00 per bulan tahun 2013. Jadi rata-rata laba yang diperoleh perusahaan per minggu sebesar Rp.196.895.000,00

Dari penyusunan perhitungan laba diatas, dapat dilihat total penjualan dalam negeri dan penjualan hasil ekspor perusahaan yaitu Rp.1.246.730.000,00 yang dikurangkan dengan potongan tunai penjualan yaitu Rp.20.000.000,00 akan menghasilkan penjualan bersih perusahaan yaitu Rp.1.226.730.000,00 Untuk mendapatkan HPP, maka persediaan awal yaitu Rp.30.000.000,00 yang di tambahkan dengan pembelian ikan sebesar Rp.469.180.000,00 yang menghasilkan ikan yang siap dijual sebesar Rp.499.180.000,00 yang dikurangkan dengan persedian akhir yaitu Rp.31.900.000,00 yang menghasilkan HPP perusahaan. Dari hasil penambahan penjualan bersih yang dikurangkan dengan HPP maka akan mengahasilkan laba kotor penjualan yaitu Rp.759.450.000,00. Laba kotor penjualan tersebut akan dikurangkan dengan jumlah biaya yaitu Rp.57.870.000,00 yang telah dikeluarkan oleh perusahaan yang akan menjadi laba kotor usaha. Laba kotor usaha tersebut yaitu Rp.701.580.000,00 akan ditambah dengan pendapatan perusahaan sebesar Rp.90.000.000,00 yang akan menghasilkan laba sebelum pajak yaitu Rp.791.580.000,00 dan

akan dikurangkan dengan PPh (pajak penghasilan) sebesar Rp.4.000.000,00 maka akan di dapatkan laba bersih perusahaan yaitu Rp.787.580.000.

F. Perhitungan Harga Pokok Penjualan dan Laba Bersih

Harga pokok penjualan (HPP) merupakan seluruh biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh barang yang di jual atau harga perolehan dari barang yang akan dijual dengan manfaat yaitu :

1. Sebagai patokan untuk menentukan harga jual.

2. Untuk mengetahui laba yang diinginkan perusahaan, apabila harga jual lebih besar dari harga pokok penjualan maka akn diperoleh laba, dan sebaliknya apabila harga jual lebih rendah dari harga pokok penjualan maka akan diperoleh kerugian.

Adapun unsur-unsur pada harga pokok penjualan yaitu sebagai berikut:

1. Persediaan barang dagangan 2. Pembelian barang dagangan 3. Biaya angkut pembelian

4. Retur pembelian dan pengurangan harga 5. Potongan pembelian

6. Persediaan akhir barang dagangan

Berdasarkan data pada table 5.10 maka untuk memahami konsep harga pokok penjualan maka perlu diketahui bagaimana cara menghitung HPP yang diterapkan pada PT Arti Buana Lautan Indonesia Makassar. Adapun cara mengerjakan rumus HPP yaitu:

Harga Pokok Penjualan (HPP) = Persediaan Awal + PembelianPersediaan Akhir

= 30.000.000 + 469.180.000–31.900.000

= 467.280.000,00

Berdasarkan perhitungan harga pokok penjualan diatas, dapat dijelaskan bahwa harga pokok penjualan diperoleh dari persediaan awal ditambah pembelian dikurangi persediaan akhir. Jumlah persediaan awal perusahaan yaitu sebesar Rp30.000.000 dan pembelian sebesar Rp469.180.000, sedangkan persediaan akhir sebesar Rp31.900.000. Sehingga apabila dimasukkan pada rumus akan diperoleh harga pokok penjualan sebesar Rp467.280.000. Semua data diperoleh dari tabel 5.10.

Dan untuk mendapatkan laba bersih perusahaan,maka terlebih dahulu perusahaan menghitung seberapa besar laba kotor yang dihasilkan oleh perusahaan dari penjualan bersih perusahaan. Adapun cara untuk menghitung laba kotor yaitu:

Laba Kotor = Penjualan Bersih–Harga Pokok Penjualan (HPP)

= 1.226.730.000–467.280.000

= 759.450.000

Berdasarkan perhitungan laba kotor diatas, dapat dijelaskan bahwa laba kotor diperoleh dari penjualan bersih dikurangi HPP. Penjualan bersih diperoleh dari penjualan dikurangi potongan penjualan berdasarkan tabel 5.10. Jumlah penjualan bersih sebesar Rp.1.226.730.000 dan harga pokok penjualan sebesar Rp.467.280.000. sehingga laba kotor yang diperoleh berdasarkan rumus diatas sebesar Rp.759.450.

Dari hasil perhitungan laba kotor diatas, maka perusahaan juga perlu menghitung seberapa besar laba usaha yang didapat untuk mendapatkan laba bersihnya. Adapun cara untuk menghitung laba usaha yaitu:

Laba Kotor Usaha = Laba Kotor–Beban Usaha

= 759.450.000–57.870.000

= 701.580.000

Berdasarkan perhitungan laba kotor usaha diatas, dapat dijelaskan bahwa laba kotor usaha diperoleh dari laba kotor dikurangi beban usaha. Beban usaha diperoleh dari seluruh biaya yang dikeluarkan perusahaan seperti biaya angkut penjualan, biaya gaji karyawan, biaya perlengkapan, biaya peralatan, biaya perawatan, biaya listrik dan biaya konsumsi. Jumlah laba kotor sebesar Rp.759.450.000 dan beban usaha sebesar Rp.57.870.000. Sehingga laba kotor usaha yang diperoleh sebesar Rp.701.580.000.

Berdasarkan hasil perhitungan diatas maka untuk mendapatkan laba bersih perusahaan dapat dihitung dengan cara yaitu:

Laba Bersih = Laba Kotor usaha + Pendapatan–PPh

= 701.580.000 + 90.000.000–4.000.000

= 787.580.000

Berdasarkan hasil perhitungan diatas maka dapat disimpulkan bahwa laba bersih pada PT Arti Buana Lautan Indonesia Makassar yaitu Rp.787.580.000/

bulan

G. Analisis Harga Pokok Penjualan dalam Meningkatkan Laba Berdasarkan Metode Break Even Point (BEP)

Keberhasilan suatu perusahaan dapat dilihat dari laba bersih yang diperoleh. Ada hubungan yang erat mengenai volume penjualan terhadap peningkatan laba bersih perusahaan dalam hal ini dapat dilihat dari laporan laba rugi perusahaan, karena dalam hal ini laba akan timbul jika penjualan ikan lebih besar dibandingkan dengan biaya-biaya yang dikeluarkan. Faktor utama yang mempengaruhi besar kecilnya laba adalah pendapatan, pendapatan dapat diperoleh dari hasil penjualan ikan.

Berdasarkan uraian diatas menunjukkan bahwa untuk meningkatkan laba bersih, maka volume penjualan ikan harus meningkat juga. Dengan meningkatnya volume penjualan dan laba bersih yang diperoleh, maka akan memberikan keuntungan bagi perusahaan. Hal ini dapat dilihat dari tabel 5.10 dalam laporan laba bersih PT Arti Buana Lautan Indonesia tahun 2013, dengan harga pokok penjualan yang ditetapkan oleh perusahaan sudah tepat sesuai dengan perhitungan analisis perhitungan harga pokok penjualan sebagai berikut:

Persediaan awal Rp. 30.000.000,

Pembelian Rp. 469.180.000, +

Ikan yang Siap Dijual Rp.499.180.000,

Persediaan akhir (Rp.31.900.000,) -

Harga pokok penjualan (HPP) Rp.467.280.000,

Dari penyusunan perhitungan harga pokok penjualan diatas dapat disimpulkan bahwa harga pokok penjualan yang ditetapkan oleh perusahaan

sebesar Rp.467.280.000, sudah optimal dalam meningkatkan laba. Hal ini dapat dilihat dengan menggunakan metode Break Even Point (BEP).

Break Even Point adalah suatu keadaan dimana dalam suatu operasi perusahaan tidak mendapat untung maupun rugi/impas. Dengan tujuan yaitu, sebagai alat perencanaan untuk menghasilkan laba, memberikan informasi mengenai berbagai tingkat penjualan, serta hubungan dengan kemungkinan memperoleh laba menurut tingkat penjualan yang bersangkutan, dan mengevaluasi laba dari perusahaan secara keseluruhan. Untuk menghitung peningkatan dan penurunan laba pada PT Arti Buana Lautan Indonesia, dapat dihitung dengan menggunakan metode Break Even Point (BEP) dengan menggunakan rumus sebagai berikut yaitu:

1. BEP–Kg = Biaya Tetap/(Harga Per Kg–Biaya Variabel Per Kg)

= Rp.28.200.000/ (Rp.45.699–Rp.2.901)

= Rp.28.200.000/Rp.42.798

= 658 Kg

2. BEPRupiah = Biaya Tetap/Kontribusi Margin per Kg : Harga Per Kg

= Rp.28.200.000/Rp.42.789 : Rp.45.699

= Rp.28.200.000/0,93652

= Rp.30.111.477

Untuk dapat beroperasi dalam kondisi BEP yaitu laba nol PT Arti Buana Lautan Indonesia dapat menghasilkan produk sebanyak 489 Kg dengan harga Rp.

42.798, maka jumlah penjualannya menjadi Rp. 30.111.477. untuk mengetahui kapan perusahaan melewati BEP, maka pemilik perusahaan atau manager

perusahaan akan dapat menghitung berapa minimal penjualan untuk mendapatkan laba yang ditargetkan,yaitu dengan cara menambahkan laba yang ditargetkan tersebut dengan biaya tetap yang dimiliki PT Arti Buana Lautan Indonesia.

Misalnya target laba perusahaan sebulan adalah Rp. 75.000.000, maka minimal penjualan yang perusahaan capai adalah sebagai berikut:

BEP - Laba = (B.Tetap + Target Laba) / (Harga per Kg–B.Variabel per Kg) BEP - Laba = (Rp.28.200.000 + Rp. 75.000.000) / (Rp.45.699–Rp.2.901) BEP - Laba = Rp.103.200.000 / Rp.42.798

BEP - Laba = 2.411 Kg

BEP - Laba = Rp.110.180.289 (2.411 Kg x Rp.45.699)

Perhitungan diatas dapat dibuktikan, apakah benar dengan menjual sebanyak 2.411 Kg PT Arti Buana Lautan Indonesia akan mendapatkan laba sebesar Rp.75.000.000.

Penjualan 2.411 Kg x Rp.45.699 Rp.110.194.311

By.Tetap (Rp.28.200.000)

By.Variabel 2.411 Kg x Rp.2.901 (Rp. 6.994.311)-

Laba / Rugi Rp.75.000.000,

Dari penyusunan perhitungan dengan metode BEP (Break Even Point), dibuktikan jika PT Arti Buana Lautan Indonesia dapat meningkatkan laba dengan asumsi menigkatkan target penjualan sehinggah target laba di perusahaan juga dapat meningkat. Jadi laba bersih perusahaan yang diperoleh dalam satu bulan dengan menggunakan rumus perhitungan Laba bersih, maka perusahaan mendapat laba sebesar Rp.787.580.000,00 peningkatan laba perusahaan akan berpengaruh

pada pertumbuhan kinerja dan pengambilan keputusan suatu perusahaan. Laba yang diperoleh perusahaan ditahun 2013, akan dijadikan sebagai acuan untuk memprediksi laba bersih untuk tahun berikutnya.

72 A. Simpulan

Berdasarkan pembahasan hasil penelitian yang telah diuraikan pada bab terdahulu, maka penulis mengemukakan simpulan sebagai berikut:

1. Tingkat penjualan PT Arti Buana Lautan Indonesia ditahun 2013 mengalami naik turun, disebabkan karena terjadinya perubahan cuaca yang dapat mempengaruhi persediaan ikan yang berakibat pada tingkat penjualan.

2. Usaha peningkatan laba berdasarkan harga pokok penjualan ikan pada PT Arti Buana Lautan Indonesia sudah maksimal, dilihat dari penghasilan laba bersih tahun 2013 yang mencapai Rp. 787.580.000,00. Dengan menggunakan perhitungan laba bersih Sehingga rata-rata laba perbulan sebesar Rp.196.895.000,00. Dan untuk meningkatkan laba dengan menggunakan metode BEP (Break Even Point) PT. Arti Buana Lautan Indonesia dapat meningkatkatkan penjualannya sebesar 2.411 Kg per bulan dan akan mendapat laba sebesar Rp. 75.000.000, per bulan.

3. Laba bersih PT Arti Buana Lautan Indonesia yang diperoleh pada tahun 2013 akan dijadikan acuan atau panduan untuk memperkirakan laba pada tahun berikutnya.

B. Saran

Pada bagian terakhir ini, penulis mengemukakan beberapa saran yang diharapkan dapat menjadi masukan bagi pihak terkait sebagai berikut:

1. Dalam meningkatkan laba, perusahaan harus meningkatkan tingkat penjualan baik di dalam maupun diluar Negeri dengan memperluas jaringan pemasaran.

2. Bagi pemilik perusahaan, perusahaan harus menyediakan sarana dan prasana yang memadai dalam proses perawatan dan pengemasan ikan.

Ansar Muhammad. Laba Income-concept. Wondpress. Com. 2011/12/13.

Horngren dkk. 2008. Akuntansi Biaya Penekanan Manajerial edisi ke 1. Jakarta:

Penerbit PT.Indeks.

Kolter Philipdkk. 2005. Manajemen Pemasaran . Jakarta: Penerbit PT. Indeks.

Lane Kevin dkk. 2010 Manajemen Pemasaran. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Lydia. 142115. Strategi Penerapan Harga. Wondpress. Com. 2011/11/28 Mursyidi. 2008. Akuntansi Biaya. Bandung: Penerbit PT. Refika

Mursid. 2010. Manajemen Pemasaran. Jakarta: Penerbit Bumi Aksara.

Nurbaya.2005. Pengaruh Harga Ikan Terhadap Tingkat Pendapatan Nelayan Didaerah Pesisir kelurahan Barombong, Kecamatan Tamalate Kota Makassar.

Ondyx. Pegertian penjualan. Blogspot.Com. 2013/9/11

Rezki Wahyuni. 2013. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Harga Jual Dangke.

Kecamatan Cendana, Kabupaen Enrekang.

Soeharno. 2006. Teori Mikro Ekonomi. Yogyakarta: Penerbit PT. Andi.

Syafri Sofyan. 2011. Teori Akuntansi. Jakarta: Penerbit PT. Raja Grafindo.

1. Nama : Sudtri Fanty

2. Nim : 10573 01983 10

3. Jenis Kelamin : Perempuan

4. Tempat Tanggal Lahir : Ujung pandang, 31 Agustus 1989 5. Suku / Bangsa : Indonesia

6. Agama : Islam

7. Alamat : Jl. Pakjukukang, Barombong

B. Riwayat Hidup

SUDTRI FANTY, lahir pada tanggal 31 Agustus 1989 di Ujungpandang, Kecamatan Tamalate, Kota Makassar, Anak pertama dari pasangan Ayahanda Syarifuddin, dan Ibunda Srimianti. Pada tahun 2001 mampuh menyelesaikan pendidikan formal di SD Negeri Barombong, Kecamatan Tamalate, Kota Makassar.

Pada tahun 2002 penulis melanjutkan pendidikan di SMP Negeri 15 Makassar dan tamat pada tahun 2004, kemudian pada tahun 2005 penulis terdaftar sebagai siswi di SMK YPLP PGRI 1 Makassar.

Selanjutnya tamat pada tahun 2007, dan pada tahun 2010 penulis berhasil diterima menjadi Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Makassar, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Program Strata Satu (S1).

Dalam dokumen Tidak Ada Kata Rugi Untuk (Halaman 77-87)

Dokumen terkait