BAB I PENDAHULUAN
3. Putusan Pengadilan Negeri Kolaka dengan nomor perkara 93/Pid.B/2019/PN Kka
Kasus Posisi
Kasus ini terjadi pada hari minggu tanggal 03 Februari 2019, pada saat Terdakwa I, Terdakwa II dan Terdakwa III merencanakan dan bersepakat untuk melakukan penipuan. Terdakwa I merental mobil avanza warna hitam yang akan digunakan, kemudian dari Kolaka Timur para Terdakwa berangkat menuju kolaka. Mobil Avanza tersebut dikemudikan oleh Terdakwa III sementara Terdakwa II duduk disamping kiri dekat Terdakwa III, sedangkan Terdakwa II duduk dikursi tengah atau dibelakang. Terdakwa III kemudian sekira Pukul 11.00 WITA kemudian saat melintas di Jembatan Tahoa Kelurahan Tahoa, Kecamatan Kolaka Kabupaten Kolaka. Para Terdakwa melihat ada seseorang sedang berjalan yakni saksi ERNA, lalu Terdakwa II berkata “berhenti dulu ada target”. Kemudian Terdakwa II bertanya kepada saksi ERNA “bisa saya minta tolong antar saya ke mesjid untuk menyumbang” dan saksi ERNA pun naik ke dalam mobil. Mobil lalu menuju ke mesjid Nurul Falah di Kelurahan Tahoa Kecamatan Kolaka Kabupaten Kolaka. Setibanya di mesjid Terdakwa I turun dari mobil dan masuk ke mesjid, tidak lama
kemudian Terdakwa I masuk ke dalam mobil dan memperlihatkan kepada saksi ERNA sebuah batu kecil dan memberitahukan kepada saksi ERNA bahwa batu tersebut bisa memberikan berkah dan mampu membuat rejeki orang baik. Kembali Terdakwa I meminta saksi ERNA untuk mengeluarkan uang dan saksi ERNA mengeluarkan dan memperlihatkan uangnya sebesar Rp. 1.950.000,- (Satu Juta Sembilan Ratus Lima Puluh Ribu Rupiah). Terdakwa I kembali berkata kepada saksi ERNA “apakah ada perhiasan yang kamu punya”, lalu saksi ERNA membuka dan memberikan kepada Terdakwa I, 1 (Satu) Buah Kalung Emas Berat 4 (Empat) gram dan 2 (Dua) Buah Cincin Emas dengan Berat keseluruhan 3 (Tiga) gram.
Terdakwa I kemudian memasukkan uang beserta kalung dan cincin emas milik saksi ERNA ke dalam sebuah tas yang telah dipersiapkan oleh para Terdakwa untuk diserahkan kepada Terdakwa II yang duduk didepan. Terdakwa II tanpa sepengetahuan dari saksi ERNA menukar tas yang berisikan uang tunai, kalung dan cincin emas milik ERNA dengan menggunakan tas yang berisi kertas yang telah dipersiapkan sebelumnya oleh para Terdakwa. Terdakwa menyerahkan tas yang berisi kertas kepada Terdakwa I, lalu Terdakwa I menyerahkan tas tersebut kepada saksi ERNA dengan disertai syarat, bahwa tas tersebut baru bisa dibuka setelah shalat Dhuhur. Setelah itu para Terdakwa mengantar saksi ERNA ke rumahnya dan beberapa jam kemudian saksi ERNA membuka tas
yang telah ditukar oleh Terdakwa II. Setelah dibuka saksi ERNA melihat isi tas tersebut hanya berisi potongan kertas. Sedangkan para Terdakwa langsung menuju ke rumah Terdakwa I yang beralamat di Kecamatan Lambandia Kabupaten Kolaka Timur.
Selanjutnya Terdakwa II menjual 1 (satu) Buah Kalung seharga harga Rp. 300.000,- (Tiga Ratus Ribu Rupiah) dan 1 (Satu) Buah Cincin Emas seharga Rp. 750.000,- (Tujuh Ratus Lima Puluh Ribu Rupiah) ke salah satu pembeli emas keliling di Pasar Ladongi.
Sedangkan cincin yang satu milik saksi ERNA belum sempat dijual.
Para Terdakwa membagi bersama hasil penjualan tersebut beserta uang tunai sejumlah Rp. 1.950.000,- (Satu Juta Sembilan Ratus Lima Puluh Ribu Rupiah). Terdakwa I mendapatkan bagian sejumlah Rp.
2.000.000,- (Dua Juta Rupiah), Terdakwa II dan Terdakwa III masing-masing mendapatkan bagian Rp. 500.000,- (Lima Ratus Ribu Rupiah). Hasil atau keuntungan yang didapatkan para Terdakwa dipergunakan untuk kepentingan pribadi Para Terdakwa.
Pada hari Senin tanggal 18 Februari 2019, Para Terdakwa bersama dengan ASDAR dengan menggunakan Mobil Avanza dimana tujuan Para Terdakwa bersama ASDAR adalah untuk kembali melakukan Penipuan. Melintasi Jl. Baypass Kelurahan Tahoa Kecamatan kolaka Kabupaten Kolaka mobil tersebut dikemudian oleh ASDAR.
Terdakwa III duduk didepan disamping ASDAR, Terdakwa I dan Terdakwa II masing-masing duduk dikursi tengan mobil tersebut.
Para Terdakwa bersama ASDAR melihat saksi HJ. SIMING, kemudian Terdakwa II meminta kepada saksi HJ. SIMING Bin HAMMA untuk mengantarkan ke mesjid terdekat. Setelah itu saksi HJ. SIMING naik ke kursi tengah mobil tersebut. pada saat naik Terdakwa I memperlihatkan batu kecil dan memberitahu kepada saksi HJ. SIMING bahwa batu tersebut memiliki kemampuan memberkati uang atau barang berharga. Terdakwa I meminta kepada saksi HJ.
SIMING untuk mengeluarkan uangnya dan barang berharga. Saksi HJ. SIMING menyerahkan uang pecahan Rp. 50.000,- (Lima Puluh Ribu Rupiah) sebanyak 2 (Dua) Lembar dan menyerahkankan 2 (Dua) Buah Cincin Emas miliknya kepada Terdakwa I. Setelah saksi HJ.
SIMING menyerahkan uang dan cincin emas miliknya, pada saat tersebut kemudian Anggota Polres Kolaka diantaranya saksi INDRA RAMADHAN, Saksi DALLE BAGUS, dan saksi SUHARMIN Als.
ARMIN yang telah mendapatkan Informasi dari masyarakat bahwa Para Terdakwa telah berada di lokasi tersebut. Anggota Polres langsung melakukan penangkapan kepada Para Terdakwa dan mengamankan para Terdakwa serta barang bukti berupa 3 (Tiga) Buah Cincin, 2 (Dua) Lembar Uang Pecahan Rp. 50.000,- (Lima Puluh Ribu Rupiah), 2 (Dua) Buah Jilbab, 2 (Dua) Buah Tas Kecil, 6 (Enam) Buah Buku Tulis dan 1 (Satu) Unit Mobil Avanza Warna Hitam DT 1190 IB dan membawanya ke Polres Kolaka untuk
diproses lebih lanjut. Sedangkan ASDAR berhasil melarikan diri pada saat penangkapan.
Para Terdakwa tidak mempunyai hak atas keuntungan dari barang yang diserahkan oleh saksi ERNA dan saksi HJ. SIMING karena tidak dikehendaki oleh saksi ERNA dan saksi HJ. SIMING karena Para Terdakwa melakukan kebohongan bahwa bisa membuat rejeki saksi ERNA dan saksi HJ. SIMING bertambah serta melakukan tipu muslihat dengan menukar tas tempat barang-barang milik saksi ERNA dengan tas yang berisi potongan kertas yang telah dipersiapkan oleh para Terdakwa.
Akibat perbuatan Terdakwa I, Terdakwa II dan Terdakwa III yang telah melakukan tipu muslihat atau rangkaian kebohongan, menggerakkan orang lain yaitu saksi ERNA untuk menyerahkan barang berupa Uang tunai sebesar Rp. 1.950.000,- (Satu Juta Sembilan Ratus Lima Puluh Ribu Rupiah) dan 1 (Satu) Buah Kalung Emas seberat 4 (Empat) Gram dan 2 (Dua) Buah Cincin Emas dengan berat seluruhnya 3 (Tiga) Gram serta saksi HJ. SIMING menyerahkan barang berupa 2 (Dua) Lembar Uang Pecahan Rp. 50.000,- (Lima Puluh Ribu Rupiah) dan 2 (Dua) Buah Cincin Emas. Sehingga mengakibatkan saksi ERNA mengalami kerugian kurang lebih sebesar Rp. 5.000.000,- (Lima Juta Rupiah) dan saksi HJ. SIMING mengalami kerugian kurang lebih sebesar Rp. 2.000.000,- (Dua Juta Rupiah).
Pertimbangan Hukum Hakim
Hakim berpendapat bahwa yang dikehendaki oleh Pasal 378 KUHP adalah adanya kehendak untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain. Perbuatan mana dilakukan tanpa hak atau diluar kewenangan si pelaku dengan menguntungkan diartikan mendapat faedah atas suatu perbuatan ataupun kejadian. Sehingga dapat disimpulkan suatu perbutan untuk mendapat faedah dari sesuatu perbuatan dan perbuatan tersebut bukan merupakan kewenangan sang pelaku atau bertentangan dengan hukum.
Berdasarkan fakta yang terungkap dipersidangan Majelis Hakim mempertimbangkan bahwa fakta hukum tersebut jelas terlihat maksud akibat tawaran para Terdakwa untuk menjadikan berkah dan memberikan rezeki kepada saksi korban Erna. Saksi korban Erna telah menyerahkan uang sejumlah Rp. 1.950.000,- (Satu Juta Sembilan Ratus Lima Puluh Ribu Rupiah) dan perhiasan berupa 1 (Satu) Buah Kalung Emas berat 4 (Empat) Gram serta 2 (Dua) Buah Cincin Emas dengan berat keseluruhan 3 (Tiga) gram. Uang serta perhiasan tersebut para Terdakwa tukar dengan kertas hingga sampai saat ini uang dan perhiasan tersebut tidak kembali.
Oleh karena uang dan perhiasan telah di terima oleh para Terdakwa. Para Terdakwa menukar uang dan perhiasan dengan kertas hingga saat ini uang serta perhiasan tersebut tidak kembali. Maka
Majelis Hakim berkesimpulan bahwa uang dan perhiasan tersebut tidak dimanfaatkan untuk menambah rezeki saksi korban Erna, akan tetapi dimanfaatkan oleh para terdakwa. Hal ini berarti maksud para Terdakwa untuk memperoleh keuntungan masing-masing. Oleh karena itu, yang bersangkutan bukan orang yang berhak untuk itu, maka apa yang dilakukannya oleh para terdakwa adalah tanpa hak.
Dengan demikian unsur dengan maksud menguntungkan diri sendiri maupun orang lain secara tanpa hak terpenuhi.
Oleh karena para Terdakwa sesuatu yang ia sendiri tidak tahu akan kebenarannya, maka apa yang dikatakannya tersebut sudah tergolong rangkaian kata bohong dan saksi korban Erna telah menyerahkan sejumlah uang serta perhiasan. Maka Majelis Hakim berpendapat bahwa terdakwa melakukan rangkaian kebohongan. Akibat rangkaian kata bohong tersebut telah ada orang yang tertarik menyerahkan sejumlah uang serta perhiasan. Rangkaian kata-kata bohong telah menggerakan orang memberikan sejumlah uang serta perhiasan merupakan salah satu komponen dari unsur dengan memakai nama palsu ataupun keadaan palsu, baik dengan akal dan tipu muslihat, maupun dengan karangan perkataan-perkataan rangkaian bohong, membujuk orang supaya memberikan sesuatu barang, membuat hutang atau menghapuskan piutang. Maka dari itu cukup beralasan bagi Majelis Hakim untuk menyatakan unsur ini telah terpenuhi oleh perbuatan para Terdakwa.
Putusan Hakim
1. Menyatakan Terdakwa I ARJUN Bin ERWIN, Terdakwa II ASRIATI Alias RIA Binti AZIS dan Terdakwa III DIRJAM AMIR Alias DIRGA Bin AMIR MAHMUD telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana “Bersama- Sama melakukan Penipuan Yang Dilakukan Secara Berlanjut”;
2. Menjatuhkan pidana terhadap Terdakwa I ARJUN Bin ERWIN, Terdakwa II ASRIATI Alias RIA Binti AZIS dan Terdakwa III DIRJAM AMIR Alias DIRGA Bin AMIR MAHMUD dengan pidana penjara masing-masing selama 1 (Satu) Tahun;
3. Menetapkan masa penangkapan dan penahanan yang telah dijalani oleh para Terdakwa dikurangkan seluruhnya dari pidana yang dijatuhkan;
4. Memerintahkan agar para Terdakwa tetap dalam tahanan;
5. Menetapkan Barang Bukti berupa :
- 1 (Satu) Buah Jilbab Warna Merah Jambu;
- 1 (Satu) Buah Jilbab Warna Merah Cokelat;
- 1 (Satu) Buah Tas Warna Hijau Silver;
- 1 (Satu) Buah Tas Berwarna Merah;
- 1 (Satu) Buah Jilbab Warna Merah Jambu;
- 4 (Empat) Buah Buku Tulis Warna Biru;
- 2 (Dua) Buku Tulis Warna Kuning;
Dirampas untuk Dimusnahkan;
- 1 (Satu) Buah Cincin Emas;
Dikembalikan kepada saksi ERNA Binti PARAKKASI;
- 2 (Dua) Buah Cincin Emas;
- 2 (Dua) Lembar Uang Tunai Pecahan Rp. 50.000,-;
Dikembalikan kepada saksi HJ. SIMING Binti HAMMA;
- 1 (Satu) Unit Toyota Avanza Warna Hitam dengan Nomor Polisi DT 1190 IE Nomor Rangka : MHKM1BA2JDK023122 dengan Nomor Mesin : MA83634;
Dikembalikan kepada RUDI;
6. Membebankan biaya perkara kepada diri para Terdakwa masing- masing sebesar Rp. 5.000,- (Lima Ribu Rupiah);
Analisis Putusan
Berdasarkan fakta hukum atas peristiwa tersebut penulis berpendapat bahwa perbuatan yang dilakukan oleh terdakwa dalam kasus ini merupakan bentuk dari tindakan penipuan dengan menggunakan modus hipnosis walaupun secara eksplisit modus hipnosis ini tidak disebutkan oleh Majelis Hakim dalam pertimbangannya melainkan menggunakan modus rangkaian kebohongan. Hal ini dikarenakan penggunaan hipnosis baik menggunakan kata-kata bohong atau tidak menggunakan kata-kata bohong memiliki tujuan untuk mempengaruhi orang lain agar
menyerahkan barang sesuatu kepadanya, sesuai dengan unsur rangkaian kebohongan yang mempengaruhi orang lain untuk menyerahkan barang sesuatu kepadanya.
Fakta hukum yang terungkap bahwa korban berdalih bahwa korban mau menuruti perintah para terdakwa karena para terdakwa mengatakan bahwa mereka bisa memberkati uang dan barang berharga dan pada saat kejadian perasaan saksi seperti dihipnotis antara sadar dengan tidak sadar akibat pengaruh bujukan para terdakwa tersebut. Berdasarkan keterangan tersebut bahwa yang dirasakan oleh korban merupakan apa yang diakibatkan dalam penggunaan hipnosis tersebut. Antara sadar dan tidak sadar dari bujukan rayuan tersebutlah yang merupakan akibat dari penggunaan hipnosis karena terpengaruh atau terhipnosis dari bujuk rayu terdakwa yang membuat dirinya memberikan barang miliknya.
Adanya kehendak maupun tidak dalam komunikasi yang dilakukan pelaku, maka hal tersebut termasuk perbuatan telah melakukan hipnosis. Dengan teknik tersebut juga orang lain terpengaruh bahkan sampai ada yang tidak menyadari bahwa orang lain tersebut telah memberikan barang miliknya kepada pelaku. Hipnosis memiliki banyak bentuk dan teknik yang digunakan dan tidak mesti dalam posisi seperti orang tidur dengan mata terbuka pun dapat dilakukan.
Kemudian pada kegiatan merangkai suatu perbuatan bohong tersebut sehingga menjadi satu rangkaian secara tidak langsung menggunakan hipnosis. Karena dalam merangkai tersebut pelaku menggunakan teknik berkomunikasi dengan kata-kata bohong tersebut sehingga timbul suatu kepercayaan dalam diri korban yang nantinya akan menyerahkan barang yang diinginkan pelaku. Ini seusai dalam prinsip hipnosis yaitu suatu komunikasi yang berhasil disebut dengan hipnosis. Disebabkan pada dasarnya didalam unsur ini seseorang dikatakan telah melakukan perbuatan penipuan dengan rangkaian perkatan bohong jika perkataannya lebih dari satu.
Maknanya adalah tidaklah cukup satu perkataan bohong saja diperlukan kata-kata lain yang mendukung kata bohong tersebut baik itu dari satu kata. Kata bohong maupun bukan kata bohong yang terpenting lebih dari satu kata yang menjadi sebuah rangkaian perkata bohong.
Pertimbangan hukum hakim ini sama halnya dengan pertimbangan hakim dalam Putusan Pengadilan Negeri Negara dengan nomor perkara Nomor 5/Pid.B/2019/PN.Nga. Dengan kasus posisi yang serupa, Dalam pertimbang hukumnya hakim mengkualifikasi perbuatan yang dilakukan oleh pelaku yang menggunakan hipnosis yakni dengan merayu membujuk dan membohongi korbannya sehingga korbannya tertipu dan menyerahkan barang miliknya kepada pelaku merupakan sebuah tindakan penipuan, dengan kata lain
perbuatan yang dilakukan telah memenuhi unsur dalam tindak pidana penipuan.
BAB IV