• Tidak ada hasil yang ditemukan

Putusan Pengadilan Negeri Mempawah dengan nomor perkara 402/Pid.B/2017/PN Mpw

BAB I PENDAHULUAN

1. Putusan Pengadilan Negeri Mempawah dengan nomor perkara 402/Pid.B/2017/PN Mpw

Kasus Posisi

Kasus ini bermula pada hari kamis tanggal 03 Agustus 2017 sekira pukul 17.00 WIB, atau setidak-tidaknya pada waktu lain di dalam tahun 2017 bertempat Jalan Ali Anyang / Jl. Transkalimantan tepatnya di gudang Pok Han (Pakan Ayam) Desa Kapur Kec. Sungai Raya Kab. Kubu Raya atau setidak-tidaknya pada suatu tempat yang masih termasuk dalam daerah hukum Pengadilan Negeri Mempawah telah melakukan, menyuruh melakukan, dan yang turut serta melakukan perbuatan, yaitu dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum dengan memakai nama palsu atau martabat palsu, dengan tipu muslihat ataupun rangkaian kebohongan menggerakkan orang lain untuk menyerahkan barang sesuatu kepadanya atau supaya memberi hutang maupun menghapuskan piutang, berupa uang dengan total sejumlah Rp.

2.800.000,- (dua juta delapan ratus ribu rupiah ).

Perbuatan tersebut dilakukan terdakwa dengan cara pada waktu dan tempat tersebut diatas saksi korban setelah pulang dari sekolah dan di jalan oleh terdakwa bersama temannya yang bernama Anen

dan saksi korban diberhentikan dan terdakwa meminta kepada korban untuk mengantarkannya kerumah majikan terdakwa, pada awalnya saksi korban menolak karna dipaksa oleh terdakwa dan dalam keadaan tidak sadar sehingga saksi korban pada akhirnya menuruti kemauan terdakwa sehingga saksi korban bersedia menunjukkan arah jalan ke supadio kerumah majikan terdakwa. Namun sesampai di jalan Ali Anyang depan gudang Pok Han (pakan Ayam) terdakwa meminta saksi korban untuk berhenti dan saksi korban berhenti kemudian duduk diatas tumpukan karung. Selanjutnya terdakwa mengeluarkan batu warna merah dan mengambil air mineral gelas yang di sinpan diatas jok sepeda motor. Satu buah batu warna merah tersebut dimasukkan kedalam air mineral dan terdakwa menyiramkan air mineral tersebut ke wajah saksi korban sehingga menyebabkan kepala saksi korban seketika pusing. Saat kondisi tersebut, terdakwa menyuruh saksi korban pulang kerumah untuk mengambil uang yang berada di rumah dan meminta korban untuk tidak memberitahukan kepada orang lain, namun terdakwa meminta saksi korban untuk meninggalkan Hp merek Avan dan helem GM warna merah yang dikenakan oleh terdakwa.

Saksi korban pun mengikuti perintah terdakwa dengan meninggalkan Hp merek Advan serta helm GM warna merah milik saksi korban kepada terdakwa sebelum pulang kerumahnya. Sesampai di rumah, saksi korban mengambil uang sebesar Rp.1.500.000,- (satu

juta lima ratus ribu rupiah) dan setelah itu saksi korban balik untuk menemui terdakwa yang telah menunggu di depan gudang PK Han (pakan ayam). Kemudian saksi menyerahkan uang sebesar Rp.1.500.000,- tersebut kepada terdakwa. Setelah uang diserahkan kepada terdakwa saksi korban meminta saksi korban untuk pulang ke rumahnya. Sesampainya di rumah saksi korban baru menyadari bahwa telah dihipnotis oleh terdakwa. Akibat perbuatan terdakwa saksi korban mengalami kerugian sebesar Rp.2.800.000,- (dua juta delapan ratus ribu rupiah) dan saksi korban langsung melaporkan perbuatan terdakwa ke Polsek sungai raya untuk diproses lebih lanjut.

Pertimbangan Hukum Hakim

Dalam pertimbangannya, hakim menilai bahwa perbuatan terdakwa telah membohongi korban dengan menceritakan tentang keajaiban batu sehingga saksi korban terpengaruh dan menyerahkan handphone merk Advan, helm dan juga mau mengambil uang sejumlah Rp.1.500.000,- ke rumahnya. Sehingga dengan demikian hakim berpendapat bahwa unsur dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum dengan memakai nama palsu atau martabat palsu, dengan tipu muslihat ataupun rangkaian kebohongan dalam Pasal 378 KUHP telah terpenuhi oleh perbuatan terdakwa.

Hakim juga menilai bahwa perbuatan terdakwa sebagaimana tersebut diatas telah memenuhi unsur menggerakkan orang lain untuk menyerahkan barang sesuatu kepadanya atau supaya memberi hutang maupun menghapuskan piutang sebagaimana dalam Pasal 378 KUHP telah terpenuhi oleh perbuatan terdakwa.

Putusan Hakim

Berdasarkan pertimbangan hakim tersebut hakim menjatuhkan putusan sebagai berikut:

1. Menyatakan bahwa terdakwa Mahmud Bin Fadlan telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana “Turut Serta Melakukan Penipuan”;

2. Menjatuhkan pidana terhadap Terdakwa Mahmud Bin Fadlan oleh karena itu dengan pidana penjara selama 1 (satu) tahun dan 3 (tiga) bulan;

3. Menetapkan masa penangkapan dan penahanan yang telah dijalani Terdakwa dikurangkan seluruhnya dari pidana yang dijatuhkan;

4. Menetapkan Terdakwa tetap berada dalam tahanan;

5. Menetapkan barang bukti berupa :

- 4 (empat) buah potongan sikat gigi yang menyerupai batu merah delima.

- 1 (satu) potongan panjang sikat gigi.

- 3 (tiga) lembar potongan amplas halus.

- 1 (satu) lembar potongan amplas kasar Dirampas dan dimusnahkan.

6. Membebankan kepada Terdakwa untuk membayar biaya perkara sebesar Rp 2.000,- (dua ribu rupiah);

Analisis Putusan

Dalam putusannya, Majelis Hakim menggunakan Pasal 378 KUHP sebagai dasar dalam memidana terdakwa. Hakim menggunakan pasal tersebut dengan alasan sebagaimana termuat dalam pertimbangan hukum hakim bahwa terdakwa menggunakan kata-kata bohong dimana Terdakwa yang yang menceritakan tentang kebohongannya tentang keajaiban batu sehingga saksi Arman Rianto terpengaruh dan menyerahkan handphone merk Avan helm dan juga mau mengambil uang sejumlah Rp.1.500.000,- sehingga dengan demikian unsur Dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum dengan memakai nama palsu atau martabat palsu, dengan tipu muslihat ataupun rangkaian kebohongan telah terpenuhi oleh perbuatan terdakwa.

Apabila kita melihat kembali pada fakta-fakta hukum yang terbukti dipersidangan tidak ada satupun yang menyebutkan bahwa terdakwa mengatakan sesuatu yang berbohong kepada korban baik dalam dakwaan maupun keterangan saksi-saksi di persidangan. Terdakwa

hanya mengeluarkan batu yang berwarna merah dan memasukkannya kedalam wadah gelas air dan dipercikkan ke wajah korban yang menyebabkan korban seketika pusing dan mengikuti apa yang diperintah oleh terdakwa. Apa yang dilakukan oleh terdakwa ini jika dikaitkan dengan pembahasan sebelumnya dapat dikategorikan menggunakan ilmu gendam. Hal ini karena terlihat dari dampak yang dilakukan oleh terdakwa. Sebagaimana konsep ilmu gendam sendiri yaitu merupakan teknik dalam berkomunikasi yang berhubungan dengan menggunakan kekuatan lain (magis/ghaib) yang dapat memanipulasi kesadaran atau pikiran seseorang dengan tujuan untuk merampas barang milik orang lain, apabila dilihat sekilas mirip dengan proses menghipnosis seseorang.

Perbedaan disini letaknya pada akibat yang ditimbulkan dimana proses hipnotis tidak dapat memaksa korban karena korban masih bisa menyeleksi hal tersebut benar atau tidak maknanya bahwa korban setelah mendapatkan sugesti atau informasi melalui area tersebut untuk mencerna terlebih dahulu untuk masuk kedalam bawah sadarnya. Setelah dirasa benar akan dibawah ke alam bawah sadarnya dan selanjutnya akan diakhiri dengan tindakan. Berbeda dengan ilmu gendam bahwa korban tidak melalui proses seleksi informasi atau sugesti tersebut benar atau tidak melainkan langsung memasuki area bawah sadarnya dan mengikuti semua yang diperintahkan oleh orang

yang menggendam tersebut yang dimana dalam melakukan hal tersebut tidak terlepas dari unsur ghaib/mistis.

Pada pertimbangan tersebut hakim justru berpendapat bahwa terdakwa telah berbohong terhadap batu merah yang dikeluarkannya dari dalam jok motornya tersebut yang tidak sesuai dengan fakta hukum yang terbukti didalam persidangan. Hakim menilai bahwa perbuatan terdakwa telah membohongi korban tersebut yang menyebabkan barang miliknya diserahkan kepada pelaku dan telah memenuhi unsur dalam Pasal 378 KUHP. Padahal korban menyerahkan barang miliknya bukan karena ia telah dibohongi melainkan karena batu merah yang telah dipercikkan tersebut yang membuat seketika kepalanya pusing dan tidak sadar mengikuti semua yang diperintah oleh pelaku. Korban tersadar sesaat setelah korban menyerahkan barang miliknya kepada pelaku dan pelaku serta temannya segera meninggalkan korban. Hal tersebut telah sesuai sebagaimana dengan konsep dalam proses ilmu gendam yang dimana orang yang di gendam akan tidak sadar dan mengikuti semua yang perintahkan pelaku.

Disamping itu pada pertimbangan hukum hakim, hakim tidak menyebutkan secara jelas unsur mana yang telah terpenuhi apakah tipu muslihat atau rangkaian kebohongan. Hakim hanya menyebutkan bahwa pelaku telah berbohong terhadap batu merah tersebut sehingga korban menyerahkan barangnya. Jika unsur rangkaian kebohongan

yang terpenuhi, pada fakta hukum terdakwa terlihat tidak memakai rangkaian kebohongan atau tidak ada upaya membujuk dengan rangkaian kebohongan dalam melakukan aksinya. Pelaku hanya berhenti dan meminta duduk di tumpukkan karung lalu mengeluarkan batu berwarna merah dan memercikkan kewajah korban kemudian korban seketika pusing dan mengikuti perintah pelaku untuk mengambil barangnya kerumah untuk diserahkan ke pelaku. Jika unsur tipu muslihat pun dari fakta hukum pelaku tidak ada penggunaan membujuk dengan tipu muslihat. Tidak ada upaya untuk meyakinkan korban untuk menyerahkan barangnya. Barang diserahkan dengan mudahnya tanpa ada upaya yang keras dari pelaku penipuan.

Berdasarkan hal tersebut pada putusan tidak ada kesesuaian antara fakta-fakta hukum dengan pertimbangan hakim dalam menjatuhkan putusan. Menurut hemat penulis apa yang diuraikan oleh hakim dalam pertimbangan hukum di putusan tidak sesuai dengan fakta hukum baik dari dakwaan maupun dari keterangan saksi-saksi di persidangan.

2. Putusan Pengadilan Negeri Yogyakarta dengan nomor perkara 27/Pid.B/2017/PN.Yyk.

Kasus Posisi

Pada hari dan tanggal yang sudah tidak dapat diingat lagi dengan pasti dalam kurun waktu bulan Januari 2010 sampai dengan bulan

Desember 2010 atau setidak-tidaknya pada Tahun 2010, bertempat di Ring Road Timur Wonocatur No.21 A Banguntapan Bantul atau setidak-tidaknya pada suatu tempat lain yang masih termasuk dalam daerah hukum Pengadilan Negeri Sleman. Akan tetapi berdasarkan Pasal 84 ayat (2) KUHAP dimana Terdakwa ditahan di Rumah Tahanan Negara Wirogunan Yogyakarta karena tempat kediaman sebagian besar saksi yang dipanggil lebih dekat pada tempat Pengadilan Negeri Yogyakarta maka Pengadilan Negeri Yogyakarta berwenang untuk mengadili.

Terdakwa DEDY PUJATMIKO dengan maksud hendak menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum dengan memakai nama palsu atau martabat palsu, tipu muslihat ataupun rangkaian kebohongan, menggerakkan orang lain untuk menyerahkan barang sesuatu kepadanya, atau supaya memberi hutang maupun menghapuskan piutang, yang dilakukan dengan cara sebagai berikut :

1. Pada bulan Januari 2010 Terdakwa DEDY PUJATMIKO bekerja sebagai Quality Control di SURYA MAS STONE (usaha kerajinan batu) di Ring Road Timur Wonocatur No.21 A, Banguntapan, Bantul milik saksi Dra UNDARTI, Akt (selanjutnya disebut korban). Sekitar bulan Pebruari/Maret 2010 terdakwa menceritakan kepada saksi korban bahwa sebelum terdakwa kerja ditempat korban terdakwa biasa trading bersama dengan temannya

yang bernama EDI. Terdakwa mengatakan kepada korban bahwa terdakwa sehari dapat menghasilkan Rp.500.000,- (lima ratus ribu rupiah) dan jika korban berkenan terdakwa akan berjanji untuk mengajari dengan syarat korban harus menyediakan laptop yang spesifikasinya tinggi dan minimal merk Fujitsu, serta modem fren seharga Rp.900.000,- (sembilan ratus ribu rupiah);

2. Selain terdakwa menceritakan pengalamannya dalam trading

kepada saksi korban, Terdakwa juga

menunjukkan/memperlihatkan ketika bermain/melakukan trading pada jam istirahat kerja dengan menggunakan komputer kantor milik saksi korban sehingga membuat saksi korban menjadi yakin jika Terdakwa memang bisa mengoperasionalkan trading.

Akhirnya saksi korban tertarik untuk menanamkan modalnya dalam trading dengan harapan mendapatkan keuntungan;

3. Bahwa Saksi mulai percaya dengan omongan Terdakwa ketika dia mengatakan jika saksi korban ikut trading forek tersebut saksi akan mendapatkan untung setiap harinya sekitar Rp.500.000,- (lima ratus ribu rupiah);

4. Karena saksi semakin percaya akhirnya saksi korban ingin menanamkan modal dalam trading, selanjutnya Terdakwa menyuruh saksi korban untuk menyiapkan/membeli peralatan/sarana yang dipergunakan untuk melakukan trading

diantaranya : software petunjuk trading, menyewa server luar negeri, laptop, Modem smartfren, dan HP Nexian;

5. Bahwa setelah peralatan/sarana untuk trading telah siap, Terdakwa menyarankan kepada saksi korban untuk ikut trading kecil-kecilan yang akan dioperasionalkan oleh terdakwa. Saksi korban setuju dan selanjutnya menyerahkan uang kepada terdakwa sebagai modal trading yakni pertama sebesar Rp.9.652.500,- (sembilan juta enam ratus lima puluh dua ribu lima ratus rupiah); Kedua sebesar Rp.14.478.750,- (empat belas juta empat ratus tujuh puluh delapan ribu tujuh ratus lima puluh rupiah); dan yang ketiga sebesar Rp.15.000.000,- (lima belas juta rupiah) Sehingga jumlah keseluruhan modal trading yang diterima terdakwa sejumlah Rp.39.131.250,- (tiga puluh sembilan juta seratus tiga puluh satu ribu dua ratus lima puluh rupiah).

6. Bahwa setelah sekian lama berjalan, saksi korban menanyakan kepada terdakwa uang dan peralatan trading tersebut. Namun terdakwa tidak bisa mempertanggungjawabkan penggunaan uang dan peralatan trading yang telah diberikan saksi korban. Sehingga harapan saksi untuk mendapatkan keuntungan dari trading tidak terwujud danterdakwa yang mengatakan sehari dapat menghasilkan uang sebesar Rp.500.000,- (lima ratus ribu rupiah) itu tidak benar adanya, selain itu terdakwa tidak mengembalikan peralatan trading kepada saksi korban;

7. Saksi korban menyatakan uang yang telah saksi berikan kepada terdakwa tersebut memang dipakai untuk usaha Trading forek tersebut atau tidak saksi tidak tahu, saksi percaya saja sama Terdakwa waktu itu;

8. Bahwa sampai saat ini apa yang diomongkan Terdakwa tersebut sama sekali tidak ada hasilnya;

9. Ketika tahu tidak ada hasilnya saksi mengatakan bahwa ia tetap saja mengirim uang pada terdakwa katanya seperti kena hipnotis nurut saja yang terdakwa minta, pernah saksi korban ingin berhenti dan minta agar uang yang sudah di kirim agar dikembalikan, namun saat itu terdakwa justru menteror saksi korban;

10.Bahwa akibat perbuatan terdakwa, saksi korban menderita kerugian berupa uang dan peralatan/sarana yang dipergunakan untuk trading dengan total sekitar Rp.39.131.250,- (tiga puluh sembilan juta seratus tiga puluh satu ribu dua ratus lima puluh rupiah);

Pertimbangan Hukum Hakim

Hakim menimbang bahwa berdasarkan hasil pemeriksaan persidangan bahwa dari keterangan Saksi korban dan Saksi lainnya pada persidangan dihubungkan dengan keterangan dari terdakwa yang membenarkan pernah menerima uang dari korban yaitu korban pernah

menyerahkan uang kepada terdakwa dan uang itu terdakwa kirimkan ke broker, tapi terdakwa lupa kapan dan bukti transfernyapun sudah hilang;

Bahwa atas keterangan para saksi dan terdakwa diatas, dikuatkan adanya bukti surat berupa 1 (satu) lembar kwitansi penerimaan uang sebesar Rp.39.131.250, tanggal 11 Mei 2010, tanda tangan terdakwa materai Rp.6.000,-. Majelis Hakim menganalisa dengan berdalih untuk diajak main forek oleh terdakwa ternyata saksi korban tergerak untuk menyerahkan sejumlah uang kepada terdakwa dan sebagian uang yang diserahkan tersebut berasal dari suami saksi korban dengan jumlah keseluruhan tidak dapat diketahui dengan pasti namun yang tertertuang dalam bukti kwitansi tersebut berjumlah sebesar Rp.39.131.250,- (tiga puluh sembilan juta seratus tiga puluh satu ribu dua ratus lima puluh rupiah). Setelah mengetahui korban dibohongi terdakwa, maka korban berusaha meminta kembali uang dan laptop yang dibawa terdakwa namun terdakwa menghilang dan susah dihubungi oleh korban, akhirnya saksi korban menyuruh Saksi 4 (REZA MAHMUDI) dan Saksi 5 (ANTONIUS YULIANTO Als ALEX) mencari terdakwa di rumahnya di Minggiran, Yogyakarta.

Akhirnya ternyata sampai sekarang uang dan laptop milik korban tidak dikembalikan oleh terdakwa. Oleh karenanya terdakwa telah berhasil menguntungkan diri sendiri secara melawan hukum atas uang maupun barang korban.

Berdasarkan hasil pertimbangan diatas Majelis Hakim merasa yakin dan berpendapat bahwa unsur “Dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri secara melawan hukum” dengan uang sejumlah Rp.Rp.39.131.250 dan laptop milik korban dinyatakan terbukti.

Bahwa dalam melakukan aksinya dalam fakta hukum hakim menimbang dengan membuat korban percaya dan tergerak untuk ikut forek kemudian diikuti perkataan terdakwa yang menceritakan punya pengalaman dalam trading dengan menunjukkan keahliannya kepada korban. Selain itu terdakwa juga mengatakan dari pengalaman yang ia alami selama ikut trading tersebut dalam sehari terdakwa dapat mendapatkan keuntungan sebesar Rp.500.000,- (lima ratus ribu rupiah), dan saksi jadi ikut trading karena ingin mendapatkan untung, dengan pertimbangan selama ini usaha saksi sebagai suplayer kerajinan batu yang mana cara pembayarannya secara tempo, tapi kalau ikut trading hanya dengan laptop Saksi bisa mendapatkan keuntungan dalam sehari sebesar Rp.500.000,- (lima ratus ribu rupiah), tapi nyatanya apa yang dikatakan terdakwa tersebut bohong sehingga menyebabkan saksi korban menjadi rugi.

Berdasarkan hal tersebut hakim menganalisa bahwa dengan tipu muslihat terdakwa yang berusaha merayu korban agar ikut forek, dengan maksud terdakwa bisa menggerakkan korban untuk menyerahkan sejumlah uang padanya ,dan ternyata benar korban telah

melakukan penyerahan uang beberapa kali, dan dengan alasan terdakwa akan mentransfernya uang tersebut ke rekening broker forek, tapi kenyataannya uang bukan ditransfer malah terdakwa gunakan untuk kepentingannya sendiri, dan berdasarkan pengakuan terdakwa di persidangan uang tersebut digunakan untuk membayar hutangnya pada orang lain;

Bahwa karenanya dari analisa tersebut maka Majelis Hakim berkeyakinan dan menyatakan bahwa unsur “Dengan memakai nama palsu ataupun keadaan palsu, baik dengan akal dan tipu muslihat, maupun dengan karangan perkataan-perkataan rangkaian bohong, membujuk orang supaya memberikan sesuatu barang, membuat hutang atau menghapuskan piutang” dapat dibuktikan sehingga unsur tersebut dinyatakan terbukti terpenuhi oleh perbuatan Terdakwa.

Putusan Hakim

Berdasarkan hal tersebut hakim menjatuhkan putusan antara lain:

1. Menyatakan Terdakwa DEDDY PUJATMIKO telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana

“PENIPUAN”;

2. Menjatuhkan pidana terhadap Terdakwa tersebut dengan pidana penjara selama 2 (dua) tahun;

3. Menetapkan masa penangkapan dan penahanan yang telah dijalani Terdakwa dikurangkan seluruhnya dari pidana yang dijatuhkan;

4. Memerintahkan Terdakwa tetap berada dalam tahanan ; 5. Menyatakan barang bukti dikembalikan kepada saksi Dra.

UNDARTI, Akt. Alamat Jl. Turgo No. 02 Ngabean Wetan Rt.009/042, Sinduharjo, Ngaglik, Sleman

6. Membebankan kepada terdakwa untuk membayar biaya perkara sebesar Rp.2.000,- (dua ribu rupiah) ;

Analisis Putusan

Hakim dalam putusannya menggunakan Pasal 378 KUHP dengan pertimbangan hukumnya hakim menyatakan bahwa apa yang dilakukan oleh terdakwa telah memunhi unsur yakni unsur menguntungkan diri sendiri secara melawan hukum dengan menggunakan tipu muslihat menyebabkan orang lain tergerak untuk menyerahkan barang miliknya kepada terdakwa.

Jika melihat pada fakta hukum yang terjadi di persidangan, terdakwa telah membujuk rayu korban dengan menceritakan bahwa terdakwa telah bermain forek dengan temannya dan membuat korban percaya dan tergerak untuk ikut forek kemudian diikuti perkataan terdakwa yang menceritakan punya pengalaman dalam trading dengan menunjukkan keahliannya kepada korban. Selain itu terdakwa juga

mengatakan dari pengalaman yang ia alami selama ikut trading tersebut dalam sehari terdakwa dapat mendapatkan keuntungan sebesar Rp.500.000,- (lima ratus ribu rupiah), dan saksi jadi ikut trading karena ingin mendapatkan untung, dengan pertimbangan selama ini usaha saksi sebagai suplayer kerajinan batu yang mana cara pembayarannya secara tempo tapi kalau ikut trading hanya dengan laptop saksi bisa mendapatkan keuntungan dalam sehari sebesar Rp.500.000,- (lima ratus ribu rupiah), tapi nyatanya apa yang dikatakan terdakwa tersebut bohong sehingga menyebabkan saksi korban menjadi rugi.

Putusan ini merupakan putusan penipuan biasa tetapi dalam modus operandinya sama dengan teknik yang digunakan dalam hipnosis atau dengan kata lain sesuai dengan konsep hipnosis yaitu dengan membujuk rayu kepada korban dengan menunjukkan keahlian dan mengatakan bahwa perhari ia mendapatkan penghasilan sebesar Rp.

500.000,- (lima ratus ribu rupiah) akhirnya pelaku timbul rasa percaya dan mau mengikuti apa yang dikatakan oleh terdakwa. Korban tidak mengetahui apakah benar atau tidak tetapi korban percaya saja dengan pelaku. Timbul percaya itulah sesuai dalam konsep hipnosis yang dapat mempengaruhi seseorang yang dimana orang lain tersebut dapat dipengaruhi dan secara tidak sadar korban telah dihipnosis oleh terdakwa.

Hakim dalam hal ini kurang tepat dalam memasukan perbuatan korban kedalam unsur tipu muslihat, karena korban menyerahkan barang sesuatu kepada pelaku bukan karena keahlian atau tipu muslihat yang dilakukan melainkan perkataan bohong yang dirangkai sedemikian rupa sehigga korban percaya dan memberikan barang miliknya kepada pelaku. Dalam fakta hukumnya, korban menyerahkan barang miliknya karena percaya bahwa pelaku dapat menghasilkan Rp. 500.000 (lima ratus ribu perhari) tetapi hal tersebut tidak benar atau dengan kata lain merupakan perkataan bohong dari pelaku.

Terkait dengan keterangan saksi korban yang mengetahui bahwa perbuatan terdakwa dalam melakukan trading forek tersebut tidak ada hasilnya saksi mengatakan bahwa ia tetap saja mengirim uang pada terdakwa katanya seperti kena hipnotis nurut saja yang terdakwa minta, pernah saksi korban ingin berhenti dan minta agar uang yang sudah di kirim agar dikembalikan, namun saat itu terdakwa justru menteror saksi korban. Hal ini menurut penulis pelaku kemungkinan telah melakukan gendam kepada korban karena dapat membuat korban tetap melakukan apa yang diinginkan oleh pelaku meskipun korban telah mengetahui bahwa dari kegiatan tersebut tidak ada hasilnya namun ia tetap menuruti kemauan dari terdakwa dan tidak bisa menolaknya. Hal ini sesuai dengan konsep dalam ilmu gendam

Dokumen terkait