BAB I PENDAHULUAN
1.7. Sistematika Penulisan
dibahas serta dikaitkan dengan peraturan perundang-undangan dan ketentuan-ketentuan yang berlaku dan putusan pengadilan yang terkait. Bahan hukum tersebut kemudian dirumuskan pada suatu pokok bahasan yang sistematis.
1.6.5. Analisis Bahan Hukum
Pengolahan bahan hukum dilakukan dengan mengaitkan kedua bahan hukum tersebut dan dilakukan penelaahan untuk mendapatkan penjabaran yang sistematis dan selanjutnya materi-materi yang diperlukan dalam pembahasan dipisahkan agar mempermudah dan mendapatkan pemahaman terhadap bahasan yang nantinya akan menghasilkan suatu kesimpulan yang dipergunakan untuk menyelesaikan permasalahan dalam penelitian ini.
Bahan hukum yang telah terkumpul kemudian dianalisa dengan menganalisa suatu hal yang bersifat umum kemudian ditarik menjadi suatu kesimpulan secara khusus, sehingga dari bahan hukum yang telah didapatkan dapat dianalisa dan diuji dengan permasalahan yang ada sehingga dapat diperoleh suatu kesimpulan sebagai upaya pemecahan suatu masalah.
1. Bab I, dalam bab ini menjelaskan mengenai pendahuluan yang terbagi atas beberapa sub bab, yaitu berisi gambaran secara umum mengenai latar belakang, rumusan masalah, tujuan penilitian, manfaat penelitian, metode penelitian dan pertanggungjawaban sistematika.
2. Bab II, dalam bab ini menjelaskan mengenai rumusan masalah yang pertama yaitu tentang perbuatan yang dilakukan oleh pelaku tindak pidana (dalam hal ini penggunaan hipnosis) dapat dikategorikan atau tidak sebagai unsur tipu muslihat atau rangkaian kebohongan sebagaimana dalam Pasal 378 KUHP.
3. Bab III, dalam bab ini menjelaskan mengenai rumusan masalah yang kedua, yaitu membahas dan menganalisis Ratio Decidendi hakim dalam Putusan Pengadilan terkait tindak pidana penipuan dengan modus hipnosis.
4. Bab IV, di dalamnya akan mengemukakan beberapa kesimpulan yang merupakan intisari dari pembahasan semua rumusan masalah. Dan terdapat saran-saran yang dapat dilakukan di waktu yang akan datang demi tegaknya sebuah keadilan dan kepastian hukum bagi Negara
Republik Indonesia.
BAB II
HIPNOSIS SEBAGAI MODUS TINDAK PIDANA PENIPUAN 2.1. Konsep Hipnosis
Istilah hipnosis berasal dari Bahasa Yunani yaitu Hypnos yang berarti tidur. Istilah ini dipopulerkan pertama kali pada tahun 1841 oleh dokter bedah asal skotlandia yang bernama James Braid. Sebelumnya hipnosis ini dikenal dengan sebutan Mesmerism atau Magnetism.38 Hipnosis dalam perkembangannya digunakan untuk menyembuhkan orang lain dari masalah kesehatan maupun masalah psikis yang dideritanya. Metode yang digunakan dengan cara menempelkan tangan ke kepala orang tersebut bersamaan dengan pemberian sugesti untuk membantu dalam penyembuhan. Oleh karena itu, penggunaan hipnosis ini dianggap ampuh dalam hal penyembuhan dan dipercaya oleh masyarakat memiliki kekuatan magis sehingga para bangsawan dari Perancis menggunakan hipnosis ini untuk penyembuhan dari masalah kesehatan.39
Hipnosis merupakan seni dalam berkomunikasi yang dapat mengantarkan orang lain ke alam bawah sadarnya dan dapat mempengaruhi orang tersebut.
Dalam praktiknya istilah ini seringkali disamakan dengan istilah hipnotis, padahal hipnotis sendiri merupakan sebutan bagi orang yang melakukan
38 Derry Arter, Op.Cit, h. 11.
39 Ichsan Solihudin, Hypnosis for Student, Cet. Pertama, Kafia, Bandung, 2010, h. 20.
hipnosis.40 Adanya kesalahpaham dalam memahami apa yang dimaksud dengan hipnosis menjadikan istilah hipnotis lebih banyak digunakan oleh masyarakat. Padahal kedua istilah tersebut pada dasarnya memiliki makna yang berbeda. Hipnosis merupakan sebuah seni dalam berkomunikasi yang mengantarkan seseorang ke alam bawah sadarnya dan dengan mudah mempengaruhi orang tersebut atau dengan kata lain hipnosis ini merupakan rangkaian kegiatannya sedangkan hipnotis sebutan bagi pelakunya atau orang yang melakukan hipnosis tersebut.41
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mendefinisikan hipnosis sebagai keadaan seperti tidur diakibatkan karena sugesti yang pada taraf permulaan orang itu berada di bawah pengaruh orang yang memberikan sugestinya tetapi pada taraf berikutnya menjadi tidak sadar sama sekali. Sedangkan hipnotis merupakan praktisinya atau orang yang menggunakan hipnosis.
Berdasarkan hal tersebut dalam Bahasa Indonesia yang digunakan adalah hipnosis sebagai suatu rangkaian perbuatannya sedangkan hipnotis orang yang melakukan kegiatan tersebut.
Pendapat berbeda dikemukakan oleh Willy Wong dan Andri Hakim yang menyatakan bahwa kondisi hipnosis tidak menyebabkan seseorang menjadi tidak sadar sama sekali sebagaimana yang didefinisikan oleh KBBI melainkan berpindahnya keaktifan kesadaran dari pikiran sadar ke pikiran
40 Obee Delapan Setengah, Hipnosis Go, Cet. Pertama, Bintang Wahyu, Jakarta, 2016, h. 2.
41 Andi Sapran dan Chofi Qolbi NA, YES-SET Rahasia Membuat Oranglain Berkata “ya”, PT. Elex Media Komputindo, Jakarta, 2013, h. 3.
bawah sadar.42 Pikiran sadar merupakan pikiran yang menggunakan akal sehat atau logika dan akan diseleksi setiap informasi yang masuk apakah informasi yang diterima dirasa sudah benar atau sebaliknya, sedangkan pikiran bawah sadar merupakan pikiran yang siap menerima setiap informasi apapun yang dirasa benar dari pikiran sadar tanpa harus menyeleksinya.43
Berbeda halnya dengan Gendam, Gendam merupakan ilmu hitam yang digunakan oleh seseorang untuk merampas barang milik orang lain dan jika dilihat sekilas mirip dengan proses menghipnosis seseorang. Gendam menggunakan salah satu teknik dalam memanipulasi kesadaran atau pikiran seseorang. Maksudnya disini adalah suatu ilmu dalam mengolah kebatinan seseorang yang digunakan untuk memanipulasi kehendak orang lain.
Gendam dilakukan dengan beragam cara dan tergantung pada bagaimana pelaku melakukan kontak pertama kali dengan korban yang nantinya akan dibuat kesadarannya hilang. Pada umumnya mereka menggunakan cara seperti dengan membuat kaget, bengong, kagum, dan perasaan ekstrim lainnya. Gendam ini banyak digunakan dalam modus operandi kejahatan karena dapat dilakukan dengan mudah, dimanapun dan kapanpun. Orang yang terkena gendam akan mengikuti semua yang diperintahkan oleh orang yang menggendamnya. Gendam dimaknai sebagai hipnotis tradisional yang dipelajari dengan sifat tradisional dan turun menurun yang pasti sangat dekat dengan unsur mistis, magis, klenik, ritual gaib, dan sebagainya. Meskipuan
42 Willy Wong dan Andri Hakim, Dahsyatnya Hipnosis, Cet. Pertama, Visimedia, Jakarta, 2009, h. 3.
43 Andri Hakim, Dahsyatnya Pikiran Bawah Sadar, Visimedia, Jakarta, 2011, h. 4.
begitu pada prinsipnya gendam ini sama dengan ilmu hipnotis modern yakni ilmu dalam berkomunikasi yang keberhasilan komunikasi dapat memanipulasi psikologi seseorang. Sedangkan aspek mistik dan kegaiban yang menyertainya merupakan pada pengembangan potensi yang dimiliki oleh praktisinya.44 Perbedaan yang mendasar ada pada akibat yang ditimbulkan, pada keadaan hipnosis seseorang masih dapat menolak sugesti yang diberikan sedangkan pada keadaan gendam seseorang tidak dapat menolak sugesti yang diberikan karena kekuatan yang digunakan bukan hanya kekuatan komunikasi tetapi ada kekuatan lain yang berkaitan dengan unsur mistis, magis, ghaib dan sebagainya.
Untuk lebih memahami terkait perbedaan gendam dengan hipnosis akan dijelaskan dalam table berikut ini:
Hipnosis Gendam
Konsep
Teknik atau seni dalam berkomunikasi yang dapat mengantarkan seseorang ke alam bawah sadarnya sehingga dapat mempengaruhi orang tersebut.
Teknik dalam
memanipulasi kesadaran atau pikiran seseorang yang berhubungan dengan penggunaan kekuatan lain (ghaib).
Akibat yang Subjek dapat mengikuti Subjek akan mengikuti
44 Fakhri Usmita dan Rispa Sari, Ilmu Gendam : Tinjauan Etnografi dan Kejahatan di Indonesia, Jurnal Sosiologi, Vo. 20, No. 1, 2018, h. 25-26.
ditimbulkan sugesti yang diberikan sugesti yang diberikan
Pada umumnya, ada beberapa karakteristik seseorang jika berada dalam keadaan terhipnosis, antara lain: 45
a. Kelopak mata seseorang akan melebar dan pupil pada mata akan membesar. Hal ini menandai bahwa orang tersebut berada dalam keadaan nyaman atau berada dalam posisi yang nyaman;
b. Kemudian pandangan matanya terpusat hanya pada satu fokus, seperti sedang berimajinasi sesuatu;
c. Mata akan mengeluarkan air atau sejenisnya seperti terharu yang memunuhi kelopak mata disebabkan karena secara terus-menerus focus dalam satu hal;
d. Mata akan terpejam. Karena dalam berimajinasi seseorang akan menagkses memorinya pada masa lalu dan mencoba kembali untuk membayangkannya. Namun yang perlu untuk diingat bahwa respon dengan menutup mata ini bukan satu-satunya yang menunjukkan bahwa ia dalam keadaan hipnosis, dengan mata terbukapun seseorang mampu masuk kedalam keadaan hipnosis;
e. Kedipan mata akan melambat. Gerak refleks terkontrol menandai bahwa seseorang berada dalam keadaan focus terhadap satu hal;
f. Mata memerah dan terjadinya perubahan pada kulit wajah;
g. Gerakan melambat seperti halnya sedang menelan sesuatu. Seperti pada laki-laki pada jakunnya terlihat naik dan turun dan pada perempuan seperti terlihat sedang meminum air;
h. Tubuhnya terdiam terpaku seperti patung ketika memerhatikan sesuatu.
i. Tarikan nafas yang melambat. Hal ini terjadi jika seseorang menjadi lebih santai;
j. Otot tubuh terlihat lebih santai;
k. Detak jantung melambat;
l. Otot pada wajah terlihat semakin santai tidak tegang;
m. Terfokus mendengarkan sugesti yang diberikan. Hal ini dibuktikan dengan tidak terpengaruh dengan suara-suara lain hanya terfokus pada kata-kata penghipnotis.
Karakteristik diatas merupakan akibat dari keadaan hipnosis pada diri seseorang yang dilakukan melalui beberapa tahapan agar proses dalam
45 Andrie Setiawan, Komunikasi Dahsyat dengan Hipnosis, Cet. Pertama, Visimedia, Jakarta, 2010, h. 11-12.
hipnosis dapat berjalan dengan lancar. Beberapa tahapan proses hipnosis tersebut antara lain:
a. Pre-induksi
Tahap ini merupakan tahap mengkondisikan orang-orang yang akan dihipnotis dan akan mengumpulkan calon subjek hipnosis, dengan kata lain tahapan ini merupakan tahapan dalam mencari subjek yang akan di hipnosis. 46 Tahapan ini tahapan awal dalam melakukan hipnosis sebelum induksi atau sugesti diberikan kepada subjek hipnosis.
Penghipnosis akan memilih calon subjek yang sekiranya mudah untuk di lakukan induksi untuk mempermudah jalannya proses hipnosis.
b. Tes Sugestibilitas
Tahap ini merupakan tahapan menguji sugestibilitas calon subjek yang telah terpilih. Calon subjek akan diuji apakah memiliki tipe sugestibilitas
Selanjutnya melakukan uji sugestibilitas yang digunakan untuk mengetahui apakah calon subjek memiliki sugestibilitas. Subjek akan melakukan uji kepada calon subjek yang bertujuan untuk menentukkan tipe induksi yang digunakan dan teknik yang tepat.
c. Induksi
Tahapan induksi merupakan tahapan inti dalam sebuah proses hipnosis.
Pada tahap inilah subjek hipnosis dibawah menuju kea lam bawah sadarnya sehingga mengalami trance hipnosis. Trance merupakan
46 Subiyono, et.all, Afirmasi Visualisasi dan Kekuatan Pikiran Hipnosis Meta NLP, Cet.
Pertama, K-Media, Yogyakarta, 2015, h. 43.
sebuah keadaan kesadaraan subjek sangat reseptif terhadap sugesti yang diberikan oleh penghipnosis dikarenakan bagian kritis pikiran sadar tidak aktif.
d. Deepening
Kelanjutan dari tahap induksi adalah tahap deepening. Tahap deepening bertujuan untuk menjadikan subjek semakin kuat menerima sugesti yang diberikan. Kemampuan dalam menerima sugesti oleh subjek semakin ditingkatkan oleh penghipnosis, sehingga subjek semakin dalam masuk ke alam bawah sadarnya dan akan semakin mudah untuk di pengaruhi.47
e. Pemberian Sugesti
Setelah sudah dipastikan seseorang telah masuk kedalam hipnosis, maka selanjutnya pemberian berupa saran/pesan/informasi kepada subjek. Pemberian ini hanya dapat dilakukan hanya dalam kondisi subjek berada dalam kondisi hipnosis. Pada tahap inilah subjek dapat dibantu sesuai dengan tujuan dilakukan hipnosis tersebut karena subjek akan diberikan arahan atau petunjuk selama dalam keadaan hipnosis hingga subjek berada dalam keadaan terbangun dan kondisi hipnosis terhenti.48
2.2. Hipnosis sebagai Unsur Tindak Pidana Penipuan
47 Derry Arter, Op.Cit., h.9.
48 Subiyono, et.all, Op.Cit., h. 44.
2.2.1. Unsur-unsur Tindak Pidana Penipuan
Setiap pasal dalam KUHP terdiri dari beberapa unsur yang harus terpenuhi untuk menyatakan suatu perbuatan merupakan perbuatan pidana. Perbuatan pidana merupakan perbuatan yang dilarang oleh hukum dan disertai dengan ancaman sanksi pidana bagi siapapun yang melanggar ketentuan tersebut. Pemberian sanksi pidana bagi yang melanggar ketentuan tersebut harus dibuktikan terlebih dahulu bahwa perbuatan yang dilakukan telah memenuhi semua unsur dalam pasal tersebut. Apabila telah memenuhi, maka dapat dikatakan telah melakukan perbuatan pidana dan dikenakan sanksi pidana sebagaimana yang diatur dalam pasal tersebut.
Begitupun untuk menyatakan seseorang telah melakukan tindak pidana khususnya tindak pidana penipuan dalam pembahsan ini sebagaimana yang diatur dalam Pasal 378 KUHP, suatu perbuatan harus memenuhi semua unsur-unsur dalam pasal tersebut yang terdiri dari:49
a. Unsur Subjektif : dengan maksud menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum.
b. Unsur Objektif : barang siapa; menggerakkan orang lain menyerahkan sesuatu barang kepadanya baik menyerahkan sebuah benda, mengadakan suatu perikatan utang, atau
49 P.A.F. Lamintang dan Theo Lamintang, Delik-Delik Khusus Kejahatan Terhadap Harta Kekayaan, Cet. Pertama, Sinar Grafika, Jakarta, 2009, h. 151.
meniadakan suatu piutang; dengan memakai : nama palsu atau sifat palsu, tipu muslihat, rangkaian kata-kata bohong.
Dalam bukunya R. Soesilo mengungkapkan kejahatan dalam Pasal 378 KUHP merupakan tindak pidana penipuan. Tindak pidana penipuan ini memiliki unsur yang harus terpenuhi antara lain: 50
a. Membujuk orang agar memberikan barang, membuat utang atau menghapuskan piutang;
b. Maksud pembujukan itu ialah menguntungkan dirinya sendiri atau menguntungkan orang lain dengan melawan hak;
c. Membujuknya dengan memakai nama palsu atau keadaan palsu menipu, akal cerdik (tipu muslihat), atau perkataan-perkataan bohong.
Membujuk dalam hal ini memiliki makna bahwa suatu perbuatan yang dapat memberikan pengaruh kepada orang lain dengan kelicikannya sehingga menyebabkan orang lain menuruti dan berbuat sesuatu sesuai dengan kehendaknya. Jika orang yang menuruti kehendaknya tersebut mengetahui yang sebenarnya maka ia tidak akan berbuat demikian.
Berdasarkan hal tersebut penulis akan menjabarkan makna atau pengertian dari masing masing pasal tersebut dengan menggunakan pendekatan undang-undang dan doktrin-doktrin ilmu hukum.
a. Dengan maksud menguntungkan diri sendiri ataupun orang lain secara melawan hukum.
50 R. Soesilo, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Serta Komentar-
Komentarnya Lengkap Pasal Demi Pasal, Politeia, Bogor, h. 261.
Unsur dengan maksud disini maksudnya adalah si pelaku harus mempunyai maksud menguntungkan dirinya sendiri maupun orang lain secara melawan hukum dan tidak perlu perbuatan tersebut merugikan pihak lain.51 Secara sederhana, dengan maksud menguntungkan disini merupakan tujuan dari pelaku itu sendiri yakni menginginkan mendapatkan keuntungan. Seseorang oleh hukum tidak melarang seseorang mendapatkan keuntungan baik buat dirinya sendiri maupun orang lain, namun disini hukum melarang seseorang dalam mendapatkan keuntungan dengan melawan hukum yang berlaku. Dengan maksud artinya pelaku menghendaki dengan mengetahui bahwa perbuatannya dalam mendapatkan keuntungan tersebut bertentangan dengan hukum.52
b. Dengan memakai nama palsu atau martabat palsu, tipu muslihat atau rangkaian kebohongan.
Pemakaian nama palsu atau martabat palsu terjadi apabila seseorang menyebutkan nama yang bukan merupakan namanya, dengan demikian orang tersebut menerima barang yang dimana harus diserahkan kepada orang yang namanya disebutkan olehnya. Jika nama yang digunakan sama dengan dirinya tetapi ia mengetahui bahwa barang tersebut bukan
51 P.A.F Lamintang dan C. Djisman Samosir, Op.Cit, h. 162.
52 Dudung Mulyadi, Unsur-Unsur Penipuan dalam Pasal 378 KUHP dikaitkan dengan Jual Beli Tanah, Jurnal Online Universitas Galuh, Vol. 5 No. 2, September 2017, h. 212.
ditujukkan kepada dirinya namun kepada orang lain yang namanya sama dengan dirinya, hal tersebut merupakan sebuah tipu muslihat atau rangkaian kebohongan bukan kedudukan palsu dikarenakan kedudukan berhubungan dengan suatu hubungan tertentu dengan orang tersebut. Kedudukan palsu disini misalnya menyebutkan dirinya sebagai seorang pejabat tertentu yang memiliki kekuasaan, atau sebagai seorang kuasa dari orang lain, Selanjutnya Perbuatan tipu muslihat dan rangkaian kebohongan. Kedua cara ini akan dibahas bersama karena memiliki hubungan yang saling berkaitan. Seseorang dikatakan telah menggunakan rangkaian kebohongan apabila ketika ia berkata tetapi kata-kata yang digunakan tidaklah benar, sedangkan dalam tipu muslihat ia berbohong tapi tanpa menggunakkan kata-kata melainkan memperlihatkan sesuatu.
Tipu muslihat disini merupakan suatu perbuatan, sedangkan rangkaian kebohongan merupakan sedikitnya dua atau lebih pernyataan yang bohong. Pernyataan-pernyataan tersebut tidak perlu semuanya bohong, walaupun diantaranya ada yang benar tetap dianggap telah melakukan penipuan.53
Sebagaimana yang telah dibahas pada bab sebelumnya Tipu muslihat disini maksudnya tindakan yang dirangkai sedemikian rupa sehingga membuat orang lain percaya atau
53 Ibid, h. 40-41.
membuat suatu keadan berkesan seolah-olah berada dalam keadaan yang benar atau dengan kata lain suatu keadaan yang tidak benar diubah menjadi keadaan yang seolah-olah benar.
Tipu muslihat disini tidak harus dengan serangkaian perbuatan atau beberapa perbuatan, tetapi cukup dengan satu perbuatan saja maka orang tersebut dikatakan telah melakukan tipu muslihat.54 Contohnya apabila ada seseorang yang ingin membayar dengan cek namun ketika diterima ternyata cek tersebut kosong atau berupa cek palsu.55 Tipu muslihat disini merupakan terjemahan dari kata “listige kuntsgrepen” (dalam bahasa belanda) yang memiliki arti bahwa tindakan yang telah dirangkai dengan sedemikian rupa sehingga menimbulkan kepercayaan dari orang yang digerakkan atau memberi kesan seolah-olah berada pada keadaan yang sebenarnya. Tipu daya yang dilakukan merupakan suatu tindakan menipu yang digunakan untuk membuat kesan-kesan bohong dan penampilan palsu agar memperkuat kesan tersebut.56 Tipu muslihat disini oleh R. Soesilo menyebutnya dengan akal licik yang memiliki makna yaitu suatu tipuan dengan demikian licik
54 P.A.F Lamintang dan C. Djisman Samosir, Op.Cit, h. 160.
55 Wirjono Prodjodikoro, Op.Cit, h. 41.
56 P.A.F. Lamintang dan C. Djisman Samosir, Op.Cit, h. 164.
membuat orang yang berfikiran normal dapat tertipu. Suatu tipu muslihat dikatakan cukup jika cukup liciknya.57
Berbeda halnya dengan rangkaian kebohongan yang dimaksud adalah sebuah tindakan yang menggunakan susunan kata yang saling berhubungan satu sama lain dan menimbulkan kesan membenarkan antar kata tersebut sehingga seolah-olah apa yang dikatakan tersebut adalah benar. Hal ini dikarenakan Perkataan bohong disini merupakan terjemahan dari kata
“samenweefsel van verdichtsels” sehingga wujud perbuatan dalam hal ini ialah berupa pembicaraan atau dengan kata-kata bukan dengan sebuah tindakan yang susunan kata-kata tersebut saling berhubungan satu dengan yang lainnya dan menimbulkan sebuah kesan kata-kata yang satu membenarkan kata yang lainnya seolah-seolah apa yang dikatakannya tersebut adalah benar.58 Contohnya apabila ada seseorang meminjam uang kepada orang lain dengan memberitahu bahwa anaknya sedang sakit, bahwa ia harus segera membeli obat dan ia tidak memiliki uang untuk membeli obat tersebut tetapi semuanya itu tidak benar adanya atau dengan kata lain bahwa ia telah berbohong untuk mendapatkan pinjaman.
57 R. Soesilo, Loc.Cit.
58 P.A.F Lamintang dan C. Djisman Samosir, Op.Cit, h.161.
Rangkaian kebohongan ini dapat disertai dengan perbuatan tipu muslihat misalnya dengan memperlihatkan resep dokter yang palsu untuk meyakinkan orang tersebut.59 Oleh karena tingkat kecerdasan orang berbeda-beda maka mudah atau tidaknya mempengaruhi orang lain yang digerakkan dengan kata-kata bohong tersebut juga berbeda antar orang yang satu dengan orang yang lainnya maka hal tersebut mempengaruhi mudah tidaknya orang tersebut dipengaruhi.
Untuk susunan kata bohong pun berbeda setiap individu tergantung tingkat kecerdasannya, untuk itu harus mencari tau terlebih dahulu apakah orang itu mengetahui bahwa ia digerakan dan cara menggerakan bertentangan dengan kebenaran atau tidak. Jika terbukti orang itu memahami bahwa ia digerakan dengan kata bohong, maka ini tidak termasuk kedalam unsur menggunakan perkatan bohong.60 Rangkaian perkataan bohong disini memiliki makna satu kata bohong saja tidak cukup harus diikuti dengan kata-kata bohong yang lainnya yang tersusun menjadi satu rangkaian sehingga satu kebohongan dapat menutup kebohongan yang lainnya dimana seluruh rangkaian tersebut dibuat seakan-akan benar adanya.61
59 Wirjono Prodjodikoro, Loc.Cit.
60 P.A.F Lamintang dan C. Djisman Samosir, Loc.Cit.
61 R. Soesilo, Loc.Cit.
c. Menggerakkan orang lain untuk menyerahkan sesuatu barang kepadanya atau supaya memberi hutang ataupun menghapuskan piutang
Unsur menggerakkan orang lain untuk menyerahkan sesuatu barang tersebut untuk adanya suatu penyerahan diperlukan bahwa benda tersebut telah terlepas dari penguasaan pemilik barang akan tetapi tidak perlu jatuh kepada kekuasaan orang lain. Penyerahan tersebut harus memiliki hubungan sebab akibat antara upaya penipuan yang telah digunakan dengan benda yang ingin diserahkan. Perbuatan menggerakan tersebut tidak mesti harus pada orang yang menginginkan barang tersebut, penyerahan kepada pihak ketiga pun dengan maksud untuk memperoleh barang tersebut yang terpenting memiliki hubungan sebab akibat antara upaya yang dipergunakan dengan penyerahan tersebut.62
Dalam menggerakkan orang lain yang memiliki hubungan sebab akibat (hubungan kausal) dari perbuatannya, dimana orang lain tergerak atau menyerahkan barangnya akibat dari perbuatan pelaku. Penyerahan barang yang terjadi sebagai suatu akibat dari penggunaan media penggerak oleh pelaku sehingga orang lain menyerahkan barang miliknya kepada pelaku tindak pidana. Akan tetapi media penggerak yang
62 P.A.F Lamintang dan C. Djisman Samosir, Op.Cit, h. 162 -163.
digunakan tersebut harus diuraikan pengaruh yang ditimbulkan apakah dari media tersebut sehingga orang lain terpedaya karenanya lalu menyerahkan barang miliknya kepada pelaku.
Moeljatno menuturkan bahwa orang lain tergerak menyerahkan barangnya itu karena akibat dari tindakan tipu daya yang telah diatur dalam Pasal 378 KUHP.63 Mengenai barang tidak memiliki batasan bahwa barang tersebut milik orang lain, dengan membujuk orang lain untuk menyerahkan barangnya sendiri juga dapat dikatakan telah melakukan penipuan dengan syarat unsur-unsur terpenuhi.64
2.2.2. Hipnosis sebagai Unsur Rangkaian Kebohongan dalam Tindak Pidana Penipuan
Berdasarkan hasil pembahasan yang telah diuraikan sebelumnya, penulis berpendapat bahwa hipnosis ini dapat dikategorikan sebagai rangkaian perkataan bohong sebagaimana dalam Pasal 378 KUHP dengan alasan sebagai berikut :
a. Hipnosis digunakan untuk mempengaruhi orang lain.
Unsur rangkaian perkataan bohong ini merupakan suatu tindakan dalam menyusun kata yang saling berhubungan satu dengan lainya yang memberikan kesan saling membenarkan seolah-olah apa yang dikatakan tersebut benar adanya, dengan kata lain penggunaan kata-kata bohong yang dapat
63 Dudung Mulyadi, Op.Cit, h. 213-214.
64 R. Soesilo, Loc.Cit.