• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

B. Pendekatan Rational Emotive Behavior Therapy

2. Konsep Dasar Rational Emotive Behavior

Rational Emotive Behavioral Therapy (REBT) dikembangkan oleh Albert Ellis pada tahun 1950-an yang

55Gantina Komalasari, Wahyuni, and Karsih, Teori Dan Teknik Konseling, h.201.

56Achmad Mubarok, Imas Rahman Kania, and Muhyani, “Rational Emotive Behaviour Therapy (Rebt) Berbasis Islam,” Annual Conference on Islamic Education and Social Sains(ACIEDSS) 20, no. 2 (2019): 1–17.

57Bradlay T. Erford, 40 Teknik Yang Harus Diketahui Seriap Konselor, (Yogyakarta: Pustaka Belajar, 2016), h. 269.

menekankan pada pentingnya peran pikiran pada tingkah laku. Pada awalnya pendekatan ini disebut dengan Rational Therapy (RT). Kemudian Albert Ellis mengubahnya menjadi Rational-Emotive Therapy (RET) pada tahun 1961. Pada tahun 1993, dalam Newsletter yang dikeluarkan oleh the Institute for Rational-Emotive Therapy, Albert Ellis mengumumkan bahwa ia mengganti nama Rational-Emotive Therapy (RET) menjadi Rational-Emotive Behavior therapy (REBT).58

Pandangan dasar pendekatan ini tentang manusia adalah bahwa individu memiliki tendensi untuk berpikir irasional yang salah satunya didapat melalui belajar sosial. Di samping itu, individu juga memiliki kapasitas untuk belajar kembali untuk berpikir rasional. Pendekatan ini bertujuan untuk mengajak individu untuk mengubah pikiran-pikiran irasionalnya ke pikiran yang rasional melalui teori GABCDE.59

Salah satu konsep inti REBT Ellis adalah model ABCDE, yaitu Antecedent event (A), Belief (B), consequence (C), dispute (D) effects (E). Kerangka pilar ini yang kemudian dikenal dengan konsep atau teori ABCDE.60

a. Antecedent event (A) atau kejadian pengaktif yaitu segenap peristiwa luar yang dialami atau memapar individu. Peristiwa pendahulu yang berupa fakta, kejadian tingkah laku, atau sikap orang lain, yang memicu keyakinan klien ini bisa saja kejadian yang memang terjadi atau disimpulkan terjadi, internal atau eksternal, atau mengacu pada masa lalu masa kini atau masa mendatang.

b. Belief (B) yaitu keyakinan, pandangan, nilai, atau verbalisasi diri individu terhadap suatu peristiwa.

58Gantina Komalasari, Wahyuni, and Karsih, Teori Dan Teknik Konseling, h.201.

59Ibid.

60Bradley T. Erford, 40 Teknik Yang Harus Diketahui Seriap Konselor, h.270- 274.

Keyakinan seseorang ada dua macam, yaitu keyakinan yang rasional (rational belief atau rB) dan keyakinan yang tidak rasional (irrasional belief atau iB). Keyakinan yang rasional merupakan cara berpikir atau system keyakinan yang tepat, masuk akal, bijaksana, dan kerana itu menjadi prosuktif. Keyakinan yang tidak rasional merupakan keyakinan atau system berpikir seseorang yang salah, tidak masuk akal, emosional, dan karena itu tidak produktif.

c. consequence (C) merupakan konsekuensi sebagai akibat atau reaksi individu dalam bentuk perasaan senang atau hambatan emosi dalam hubungannya dengan antecendent event (A). konsekuensi seharusnya diakses setelah (A) tetapi sebelum (B) dan (C) adalah respon emosional atau perilaku klien terhadap keyakinan yang dimiliki klien tentang kejadian pengaktif, biasanya inilah yang awalnya mendorong klien untuk mencari konseling emosi-emosi negatif seperti kekhawatiran, kesedihan, penyesalan, dan kesusahan adalah respons yang sehat sementara itu kecemasan, depresi, rasa bersalah, dan merasa terluka adalah respons yang tidak sehat.

d. dispute (D) penentangan terhadap keyakinan irasional klien dengan menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang mendorong orang tersebut untuk mempertanyakan status keyakinan irasional ada tiga langkah yaitu memperdebatkan, memperbedakan, dan mendefinisikan.

e. effects (E) atau efek yaitu, Setelah menentang konselor dan klien mengevaluasi efek-efek jika (D) berhasil klien akan mengubah perasaan dan tindakan karena ia telah mengubah keyakinannya jika a terjadi klien akan mampu menarik kesimpulan yang lebih rasional.

3. Pandangan Tentang Manusia

Pendekatan Rational Emotive Behavioral Therapy (REBT) memandang manusia sebagai individu yang didominasi oleh sistem berfikir dan sistem perasaan yang berkaitan dalam sistem psikis individu. Keberfungsian individu secara psikologis ditentukan oleh pikiran, perasaan dan tingkahlaku. Tiga aspek ini saling berkaitan karna satu aspek mempengaruhi aspek lainnya secara khusus pendekatan Rational Emotive Behavioral Therapy (REBT) berasumsi bahwa individu memiliki karakteristik sebagai berikut:

a. Individu memiliki potensi yang unik untuk berpikir rasional dan irasional

b. Pemikiran irasional berasal dari proses belajar yang irasional yang didapat dari orang tua dan budayanya.

c. Manusia adalah mahluk yang verbal dan berpikir melalui symbol dan bahasa. Dengan demikian, gangguan emosi yang dialami individu disebabkan oleh verbalisasi ide dan pemikiran irasional.

d. Gangguan emosional yang disebabkan oleh verbalisasi diri (self verbalizing) yang terus menerus dan persepsi serta sikap terhadap kejadian merupakan akar permasalahan, bukan karna kejadian itu sendiri.

e. Individu memiliki potensi untuk mengubah arah hidup personal dan sosialnya.

f. Pikiran dan perasaan yang negatif dapat diserang dengan mengorganisasikan kembali persepsi dan pemikiran, sehingga menjadi logis dan rasional.61

Elis mengatakan beberapa asumsi dasar pendekatan Rational Emotive Behavioral Therapy (REBT) yang dapat dikatagorikan pada beberapa posulat antara lain;62

61Gantina Komalasari, Wahyuni, and Karsih, Teori Dan Teknik Konseling, h.

202-203.

62Ibid, 207.

a. Pikiran, perasaan, dan tingkah laku secara berkesinambungan saling berinteraksi dan mempengaruhi satu sama lain

b. Gangguan emosional disebabkan oleh faktor biologi dan lingkungan

c. Manusia dipengaruhi oleh orang lain dan lingkungan sekitar dan individu juga secara sengaja mempengaruhi orang lain di sekitarnya

d. Manusia menyakiti diri sendiri secara kognitif emosional dan tingkah laku individu sering berpikir yang menyakiti diri sendiri dan orang lain

e. Ketika hal yang tidak menyenangkan terjadi individu cenderung menciptakan keyakinan yang irasional tentang kejadian tersebut

f. Keyakinan irasional menjadi penyebab gangguan kepribadian individu

g. sebagai besar manusia memiliki kecenderungan yang besar untuk membuat dan mempertahankan gangguan emosionalnya

h. Ketika individu bertingkah laku yang menyakiti diri sendiri.

Elis juga berpendapat bahwa terdapat 6 prinsip teori Rational Emotive Behavioral Therapy (REBT) antara lain;63 a. Pikiran adalah penentu proksimal yang paling penting

terhadap emosi individu

b. Disfungsi berpikir adalah penentu utama stres emosi c. Cara terbaik untuk mengatasi stress adalah dengan

mengubah cara berpikir percaya atas berbagai faktor yaitu pengaruh genetik dan lingkungan yang menjadi penyebab pikiran yang irasional

63Ibid,h.208.

d. Menekankan pada masa sekarang daripada pengaruh masa lalu

e. Perubahan tidak terjadi dengan mudah

4. Tujuan Pendekatan Rational Emotive Behavior Therapy (REBT)

Menurut Ellis pendekatan REBT memiliki tiga tujuan diantaranya yaitu; “1) membantu klien mencapai insight (wawasan) tentang self talk-nya sendiri, 2) membantu klien mengases pikiran, perasaan, dan perilakunya, dan 3) melatih klien tentang prinsip-prinsip REBT sehingga mereka akan dapat berfungsi secara lebih efektif di masa mendatang tanpa bantuan konselor professional.”64

Sedangkan tujuan pendekatan REBT menurut Mohammad Surya sebagai berikut:65

a. Memperbaiki dan mengubah segala perilaku dan pola fikir yang irasional dan tidak logis menjadi rasional dan lebih logis agar klien dapat mengembangkan dirinya.

b. Menghilangkan gangguan emosional yang merusak.

c. Untuk membangun Self Interest, Self Direction, Tolerance, Acceptance of Uncertainty, Fleksibel, Commitment, Scientific Thinking, Risk Taking, dan Self Acceptance klien.

Dapat disimpulkan bahwa tujuan pendekatan REBT adalah untuk merupah perilaku, persepsi, dan cara berfikir yang tidak logis menjadi logis atau merubah kebiasaan negative menjadi positif.

64Ibid, h.270.

65Nova Erlina and Devi Novita Sari, “Pengaruh Pendekatan Rational Emotive Behaviour Therapy (Rebt) Terhadap Peningkatan Kecerdasan Emosional,” Jurnal Bimbingan Konseling 03, no. 2 (2019): 303–316.

Dokumen terkait